[Katalis Waktu] Fragmen 7 - Pemilik Kota Mati

Lan memimpin ketiga rekannya menjelajah Hutan Kabut. Sebenarnya, selain dia, Nulla pun tahu betul rute mana yang harus ditempuh. Tapi, ketidaksukaan Nulla pada Hutan Kabut membuat Lan terpaksa menyeret Sua—dengan api melayang di atas tangan kanannya—berjalan mengiringinya. Meskipun begitu, kabut tebal di hutan tetap saja merintangi jalan mereka. Belum lagi diperburuk dengan udara tipis yang sudah direbut pepohonan—yang meskipun tumbuh jarang, tapi termasuk pepohonan tua berukuran besar—dan api di tangan Sua, membuat keempatnya bernapas dengan berat. Kesunyian di tengah-tengah mereka juga tak memperbaiki keadaan.

“Lan,” kata Sua akhirnya. “Sewaktu kau bilang tentang pengendalian waktu tadi, itu bukan candaan, kan?”

“Apa aku terlihat seperti orang yang suka bercanda?”

Wajah tegang kaku dan tatapan tajam Lan sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan Sua. Gadis itu hanya membuang napas, membuat api di atas tangan kanannya sedikit bergolak, lalu tenang kembali sesaat kemudian. “Maksudmu bukan kemampuan berpindah ke masa depan atau masa lalu, kan?”

“Mana ada yang seperti itu,” sahut Lan seketika. “Saat kubilang bahwa dia mengendalikan waktu, sebenarnya tidak benar-benar seperti itu. Lebih tepatnya, mungkin memanipulasi laju waktu. Bisa dibilang fungsi pengendalian itu sendiri mirip seperti katalis.”

“Katalis?”

“Maksudnya, mempercepat atau memperlambat laju waktu,” sahut Nulla dengan suara nyaris tak terdengar, membuat Lan seketika menoleh padanya.

“Kupikir kau tak ingin bicara sepatah kata pun.”

“Pelankan suaramu.” Nulla mencibir, tapi mimik wajahnya jelas menunjukkan adanya kecemasan. “Bicara di tempat seperti ini harus hati-hati. Kita tidak tahu pohon mana yang punya telinga. Kalian harusnya juga lebih hati-hati.”

Sua yang tidak mengerti arah pembicaraan Nulla hanya meneleng pada Lan, yang segera dibalas dengan helaan pendek. “Maksudnya, tempat ini—”

Kata-kata Lan tak pernah selesai. Dengan tatapan tajamnya, Lan segera membungkam Sua yang hendak membuka mulut. Sua mengangkat kedua alisnya, bingung. Tapi, melihat wajah pucat Nulla dan kewaspadaan di mata Lan, ia hanya bisa mengernyit. Tanpa dikehendakinya, seluruh bulu roma di tubuhnya menegak. Udara makin tipis, kabut makin tebal, dan suhu tempat itu jatuh secara drastis. Refleks, Sua memeluk dirinya sendiri. Keempat orang itu pun mulai merapat, mencoba mencari kehangatan dan rasa aman dari satu sama lain. Sia-sia.

“Terus jalan,” bisik Lan cukup pelan, namun masih bisa terdengar ketiga rekannya. “Jangan berhenti apa pun yang terjadi.”

Ketiganya tak membantah. Jarak pandang hanya dua-tiga tombak ke depan. Beruntung, api di tangan Sua sangat membantu agar mereka tak menabrak pepohonan.

“Aku selalu benci tempat ini,” desis Nulla. “Seperti ada hawa keberadaan lain di sekitar kita, mengawasi kita, dan menunggu saat yang tepat untuk menyeret kita ke hadapan para Roh Dunia Bawah.”

“Hentikan.”

Mengabaikan Lan, Nulla melanjutkan, “Kenapa dia harus memilih mengasingkan diri dari peradaban untuk mencari hidup damai di tempat terkutuk ini?”

Tanpa berhenti, Lan menoleh sembari menatap kejam Nulla. “Tidak ada gunanya mengungkapkan sebuah pertanyaan yang tak seorang pun di sini tahu jawaban—”

Kegelapan menyusul kalimat Lan yang tak selesai. Cepat, ia menoleh pada siluet Sua yang tertinggal satu-dua langkah di belakang. Api di tangannya sudah padam. Gadis itu membungkuk sambil meremas dadanya, berjalan terseok, lantas berhenti. Sebelum ia jatuh ke tanah, badannya telah ditopang Nulla yang bergegas ke arahnya. Lan membantu memaksa Sua berdiri. Sementara, Zen menyapu sekitar. Sorot mata kosongnya berubah waspada. Ia pun mengepal tanpa sadar.

“Jangan berhenti dan jangan roboh dulu, Gadis Bodoh!” seru Lan tertahan. “Kalau kau kehilangan kesadaran, kau mati.”

Lan segera menyeret Sua tanpa pikir panjang. Nulla yang menopang badan Sua di sisi yang lain pun mulai kehabisan napas. Lan yang menyadari itu, langsung saja mengerang. “Jangan kau juga.”

“Aku juga sedang berusaha bertahan, Lan.”

“Berusahalah lebih baik lagi.” Meski mengatakan itu, Lan mulai terengah-engah. Hawa dingin yang ganjil segera menyusup ke dalam diri Lan, membuat bibirnya bergetar tanpa ia kehendaki. Kekosongan menyergap hatinya, yang seketika saja terisi kilasan-kilasan kejadian buruk yang takkan pernah ia bayangkan akan menerpanya bahkan di mimpi terburuknya sekalipun. Sorot mata kejam Ellial dengan tubuh berlumuran darah orang lain, Nulla yang tersenyum licik padanya—senyum khas seorang pengkhianat—dan yang paling buruk, kematian Yue.

Kilasan-kilasan itu terangkai sedemikian rupa hingga membuat kepala Lan seolah meledak. Hatinya yang kosong, mulai membeku secara menyakitkan. Ia meremas dadanya. Ia menggeleng-geleng sebentar saat pandangannya mulai buyar. Hal terakhir yang bisa terlihat olehnya hanyalah siluet sebentuk tubuh tegap seorang lelaki yang bergegas menopangnya. Kemudian, segalanya gelap.

Satu-satunya yang masih berdiri tegak di tempat itu, hanya terpaku melihat tiga orang gadis pingsan di hadapannya. Ia memeriksa keadaan ketiganya. Meski tubuh ketiganya telah dingin, tapi nadi di balik kulit-kulit pucat itu masih berdetak. Ia menghela samar.

Hawa dingin yang benar-benar berbeda dari sebelumnya mulai terasa, membuat Zen menegakkan tubuh. Sensasinya lain. Tidak menusuk seperti tadi. Kali ini lebih lembut. Ia tahu sumbernya ada di arah belakangnya. Maka, ia berbalik.

Sesosok wanita bergaun serba putih tersenyum dingin di hadapannya. Cara berdirinya anggun. Kecantikan yang terpancar dari wajahnya tidak sama seperti wanita biasa. Rupanya seperti malam di musim dingin. Indah, tenang, tapi membahayakan siapa pun yang tidak berhati-hati. Sorot mata hitamnya sayu, bisa menenggelamkan lelaki biasa mana pun hingga ke dasar fantasi terdalamnya. Tapi, Zen bukan lelaki biasa. Bukan pada kecantikan macam itu ia akan jatuh.

“Roh Utara berkabar kepadaku.” Suaranya berdesau seperti angin kering di tengah-tengah hawa dingin di sekitarnya. “Akan datang suatu masa saat Utusan Waktu terlahir kembali. Sepertinya, penantianku tidak berakhir sia-sia.”

Zen tak bereaksi. Ia hanya menatap ketiga gadis yang tak sadarkan diri di depannya. Perlahan, ia berlutut dan mendaratkan telapak tangan kirinya di kepala Lan. Ada kelembutan yang misterius saat ia memandangi Lan.

Rambut hitam panjang wanita bergaun putih itu berayun anggun saat ia menghampiri Zen dan ikut berlutut di dekatnya. Disentuhnya dahi Lan lembut. Tak berselang lama, wajah pucat Lan menemukan warna asalnya kembali. Kehangatan pun mulai menjalar tidak saja ke seluruh wajah Lan, tapi juga ke sekujur tubuhnya, seolah dingin yang menyelubunginya baru saja dihisap oleh wanita itu.

Wanita itu mendongak pada Zen. “Lu Jin, bawa adikmu dan dua yang lain ke tempatku. Mereka akan baik-baik saja.”

Zen hanya mampu membelalak pada wanita itu. Sorot mata tak percaya itu sudah lebih dari cukup untuk menggantikan segala tanya di benaknya. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum.

 

***

 

Butuh beberapa kali kerjapan agar Lan bisa benar-benar membuka mata. Nulla yang sejak beberapa lama begitu cemas karena Lan tak bangun-bangun juga, segera memeluk Lan sambil memekik lega. Meski Lan punya kekuatan untuk menepis Nulla sekalipun, ia saat ini tak berminat untuk itu. Ia memang sedang butuh sedikit kehangatan, menggantikan rasa dingin yang masih meliputi hatinya.

Begitu puas, Nulla memaksa Lan untuk kembali berbaring dengan benar. “Ada apa denganmu? Kau biasanya lebih kuat dariku saat melewati Hutan Kabut menuju tempat ini.”

“Dari kata-katamu, kuasumsikan kita sudah sampai di Kota Mati.”

Nulla mengangguk cepat. “Kau belum menjawabku. Kenapa kau tadi ikut-ikutan pingsan? Apa yang kaulihat? Apakah lebih buruk dari sebelumnya?”

Lan bangkit untuk duduk, mengabaikan protes Nulla agar ia tetap berbaring. “Tentu lebih buruk. Jauh lebih buruk. Kau mengatakan itu seperti tak tahu apa yang terjadi setahun belakangan ini.”

Nulla tak bertanya lagi. Ia sudah bisa menebak kemungkinan apa saja yang mampu membuat Lan cukup ketakutan hingga pingsan. Nulla langsung mendengus getir. Kalau bukan karena tindakan bodoh Ellial, ia takkan pernah melihat Lan jatuh sampai ke titik ini. “Elli brengsek.”

“Apa? Meskipun dia sudah berada di antah berantah, tapi dia tetap tuanku. Jangan menghinanya di hadapanku.”

“Apa-apaan ini? Kau lebih peduli soal nama baiknya daripada mengetahui kondisiku dan gadis selatan itu? Apa kau ini benar-benar manusia? Kejam sekali.”

“Melihatmu masih bisa bersikap seperti ini, apa kau pikir aku perlu bertanya soal kondisimu? Jelas kepalamu masih baik-baik saja.”

Nulla hanya mencibir. Bukannya menanggapi, ia justru menoleh ke pojok ruangan. Lan mengikuti arah pandangan Nulla, demi menemukan sesosok gadis bermata kelabu duduk memeluk kaki. Rambut panjangnya tergerai hingga menutupi lengan atasnya. Ada jejak sembab dari matanya. Lan seketika menoleh bingung pada Nulla.

“Kurasa tadi dia melihat kematian.” Nulla memperhatikan Sua secara lebih seksama, lantas berpaling pada Lan. “Mungkin kematian nonanya.”

Lan tak perlu bertanya lagi. Ia pun paham betul perasaan Sua. Sebab, ia melihat hal yang sama. Tanpa ia sadari, sebuah simpati kecil muncul di hatinya untuk gadis itu. Tatapannya melembut. Ia kemudian bangkit menuju gadis itu dan berhenti tak jauh darinya. Menyadari kehadiran seseorang, Sua menengadah. Lan bisa melihat mata kelabu itu membengkak merah.

“Kita akan menemukannya tepat waktu.”

“Apa?” sahut Sua lirih, nyaris berbisik.

“Nonamu. Kita akan menemukannya tepat waktu.”

Sua tak menjawab. Ia hanya balas menatap Lan. Sebuah kesepahaman seketika terjalin di antara mereka. Tanpa bicara lagi, mereka saling mengerti. Nulla yang melihat itu langsung tersenyum lega. “Sepertinya, perang dingin di antara kalian sudah berakhir,” katanya pada dirinya sendiri.

Satu-satunya pintu ruangan itu membuka, mengacaukan atmosfer bagus yang saat itu tengah melingkupi tempat itu. Seorang wanita bergaun serba putih dengan rambut hitam panjang memasuki ruangan. Senyumnya tipis saja, tapi sudah mampu membuat Nulla balas tersenyum lebih lebar. “Fiana.” Nulla bergerak cepat. Sekejap mata saja, tangannya sudah meraih tangan Fiana. “Terima kasih sudah menemukan kami.”

“Terima kasih apa? Aku hanya kebetulan lewat saat kurasakan hawa kehadiranmu.” Sewaktu menangkap tatapan dua gadis lain terarah padanya, Fiana menoleh. Ia tersenyum pada Lan dan Sua, lantas mengangguk kecil. “Aku sudah menyiapkan sarapan. Mari ikut aku.”

Tanpa perlu disuruh dua kali lagi, ketiganya mengikuti Fiana keluar ruangan. Segera saja pemandangan Hutan Kabut menyambut mereka. Bedanya, kabut tak lagi setebal di hutan, bahkan bisa dibilang sangat tipis, hingga memungkinkan cahaya matahari pagi menerobos dan menyirami tanah di bawahnya.

Sejak dulu, Lan tak pernah mengerti kenapa tempat itu disebut Kota Mati. Sebab, hanya ada empat atau lima bangunan kayu di tempat itu. Meskipun begitu, hawa keberadaan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sekitar makhluk hidup cukup sesuai untuk disandingkan dengan kata “mati”.

Keempatnya berjalan menuju bangunan paling besar, yang kebetulan terletak paling dekat dengan hutan. Di sebuah bangku kecil di depan bangunan itu, Zen duduk menyandar tembok. Kepalanya didongakkan, seolah sedang menerima siraman matahari pagi. Meski matanya terpejam, entah bagaimana Lan tahu bahwa lelaki itu tidak sedang tidur.

Fiana mendekati Zen, diikuti ketiga orang di belakangnya. “Lu Jin, para gadis sudah bangun.”

Zen membuka mata, lantas menoleh pada Fiana. Matanya menyorot tajam, tampak memperingatkan wanita itu soal pemanggilan namanya. Tapi, terlambat. Ia bisa melihat di belakang Fiana, Lan tengah menatapnya syok. Zen menyatukan alis, mencoba memasang wajah poker kembali. Gagal.

“Fi, kenapa kau memanggilnya begitu?” tanya Nulla bingung.

“Karena itu namanya.” Fiana lantas berbalik menghadapi Lan. Ditatap dengan sorot mata tak percaya, Fiana hanya tersenyum. “Paling tidak, sekeping ingatannya memiliki nama itu.”

“Aku tak mengerti,” sahut Lan begitu ia menemukan suaranya kembali. “Apa maksudmu? Kakakku sudah mati.”

“Itu benar.”

“Lalu?”

“Apa kau tak penasaran kenapa Lu Jin bisa—”

“Berhenti memanggilnya dengan nama kakakku.” Lan berhenti sejenak. Senyum Fiana seketika menyadarkannya bahwa wanita itu baru saja menolongnya. Bagaimana ia bisa berteriak di depan Fiana? Lan lantas menghela pendek. “Aku mohon.”

“Maafkan aku. Aku lupa kalau namanya begitu sensitif bagimu. Bagaimana kalau kita masuk dulu? Akan kujelaskan di dalam.”

Lan tak membantah, begitu pula yang lain. Sebelum menjelaskan apa pun, Fiana memaksa keempatnya makan terlebih dahulu. Awalnya Lan menolak, tapi siapa yang bisa menolak bujukan wanita bergaun serba putih itu untuk yang kedua kalinya? Bahkan Lan pun takkan bisa.

“Zen bukanlah Lu Jin, tentu saja,” kata Fiana begitu makanan telah raib dan meja telah dibersihkan. “Secara fisik dan jiwa, mereka bukan orang yang sama. Tapi, bisa kukatakan padamu, Lan. Zen memiliki kekuatan, kesadaran, dan ingatan Lu Jin.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau tentu tahu, Klan Lu secara turun-temurun telah ditunjuk sebagai Utusan Waktu. Entah dengan cara apa, klan itu dibantai hingga hanya tersisa Lu Jin seorang. Sungguh tragis, hanya berselang beberapa tahun, ia pun harus merelakan nyawanya demi dua anak yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. Baginya, nyawanya sama sekali tak berharga jika dibandingkan dengan kedua anak itu.” Fiana menghela pelan, lantas melanjutkan, “Andai saja dia tahu, bahwa nyawanya—yang berarti juga kelangsungan Utusan Waktu—lebih berharga dari dunia dan isinya.”

“Aku masih tidak mengerti. Apa hubungannya dengan Zen?”

“Apa kau ingat bagaimana Lu Jin kehilangan nyawanya?”

“Tentu saja. Waktu itu Kakak—aku—” Lan berpikir keras, hanya untuk menyadari bahwa tak sedikit pun jejak tentang waktu itu terekam dalam memorinya. “Aku—aku tidak ingat.”

Dalam kekalutan, Lan menengadah pada Fiana. “Bagaimana aku bisa melupakan semuanya?”

Fiana tak menjawab. Ia hanya tersenyum sayu.

Mendengar pembicaraan yang sama sekali tidak ia mengerti, Sua menatap Nulla cemas. Ia kemudian menyela, “Tunggu. Kupikir kita ke sini untuk bertanya tentang Nona Zuri.”

Bukannya menjawab, Nulla justru memalingkan wajahnya pada Fiana dengan pandangan bertanya. “Fi.”

“Untuk apa kau menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya, Nulla? Untuk menyusuri jejak-jejak pemilik Api Putih, sisa-sisa sejarah masa lalu harus dikorek. Itulah salah satu alasan kenapa Utusan Waktu ada di dunia ini, bukan?”

Fiana menoleh kepada Zen yang tengah berdiri bersandar di dinding dengan tangan terlipat. Sorot mata yang tak lagi hampa itu sedang sibuk menekuni lantai. Ketiga gadis yang lain hanya bisa mengikuti arah pandangan itu. Tak lama, Zen menegakkan tubuh, lalu berjalan keluar dengan langkah berat.

Fiana menyentuh lengan Lan yang duduk di sampingnya. Saat mata mereka bertemu, Fiana tersenyum lembut. “Ingatan tentang hari itu, mungkin terbawa bersama lenyapnya kesadaran Lu Jin. Kau bisa mendapatkannya kembali, kalau kau tahu maksudku.”

Lan tak perlu bertanya untuk mengetahui jawabannya. Ia segera berdiri, lantas bergegas menyusul lelaki pemilik kesadaran kakaknya itu.

Read previous post:  
70
points
(1703 words) posted by aocchi 7 years 29 weeks ago
77.7778
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
80

Ga ngerti percakapan akhirnya. Aaaah kemampuan logikaku memang fail banget! Semoga makin jauh kubaca, nanti aku ngerti sendiri. (w'A')w

Quote:
Mengabaikan Lan, Nulla melanjutkan, “Kenapa dia harus memilih mengasingkan diri dari peradaban untuk mencari hidup damai di tempat terkutuk ini?”

Tanpa berhenti, Lan menoleh sembari menatap kejam Nulla. “Tidak ada gunanya mengungkapkan sebuah pertanyaan yang tak seorang pun di sini tahu jawaban—”

^
Hampir breaking the fourth wall kah? XD

Eniwei kak Dya, "poker face" itu hypernym. Sebaiknya jangan ditranslate begitu aja ke dalam bahasa Indonesia. -__-

60

Kecepatannya rasanya kok terlalu cepat ya?
Deskripsi juga rada kedodoran, jadinya suasananya kurang dapet... ^^

Hutan kabut itu kok masih memungkinkan api dinyalakan? Kabutnya dari apa? Bukan uap air? Kenapa mereka ga milih bernafas enak? Malah menyalakan api?

Aih ... Zen~
.
Btw, kok Bos Meong tau saya itu agak gimana gitu sama sosok seorang kakak. Bos Meong nyadap otak saya ya?? Ayo ngaku!
.
Lama-lama jati diri saya yang sesungguhnya terungkap nih dari cerita ini. :/
.
Sebenarnya mengenai Lan dan kesamaannya dengan saya, sebagian besar benar sih. Salut sama Bos. :)

kyaaaan~
ternyata tebakan saya soal karakterisasimu gak melenceng XD *nari pompom sambil koprol*

bukan hanya karakterisasi, Bos. Masalah 'kakak' itu juga... :'(

80

seruuu... lanjuuttt...

80

aku tunggu kelanjutannya :)

90

Xiao Long Nu muncuuuul! *digeplak karena teriak2*
lanjuuut <3

itu bukan XLN, itu saya #narsistingkatdewa #ditendangkejurang
.
Tapitapitapi ... Saya emang udah lamaaa banget pengen bikin karakter macam Fiana XD

80

Lanjuuuuuut

sippo! <3