Ikrar Hati #1

Sebenarnya, aku sama sekali tak tahu apa yang terlintas di benak manusia-manusia yang sedikit-sedikit mempertanyakan, ini ajaran apa, dari agama mana, diambil dari kitab mana.  Memang apa susahnya ngambil sisi positif suatu ajaran walaupun bukan dari ajaran agama yang dianut? Terlalu kaku.

"Kau mengakui dirimu Islam, tapi kau masuk ke Gereja," kata Dendy tanpa memalingkan matanya dari screen laptop, "tidak seharusnya, kan?"

Aku mengaduk perlahan butiran gula yang mulai larut dalam kopiku, "memang salahnya dimana?"

Akhirnya mata pria kelahiran duapuluh empat tahun lalu itu merujuk kepadaku, menatap lekat. Jari telunjuknya mengetuk meja berulang kali, "dear Dinda, ini bukan perkara salah atau benar. Ini masalah kepantasan."

"Kepantasan? Kepantasan yang seperti apa Den?"

"Ingat! Bedakan tahun-tahun hidupmu di Eropa dengan hidupmu di sini. Kita hidup dimana agama masih saklek dengan semua batas kepantasan yang ada. Batas itu ada, kau akui atau tidak."

Aku terdiam sejenak. Memang, setahun belakangan, saat menetap di salah satu negara di Eropa, aku lebih sering menyambangi Gereja-gereja ketimbang Mesjid. Bukan tanpa alasan. Aku mengagumi sepenuhnya keindahan Gereja-gereja Eropa. Dom di Milan, Köln, Birnau, Ulm, telah membuatku belajar tak hanya perihal seni, tapi juga mengenai agama, melalui khotbah keagamaan yang kerap kuikuti.

Tuhan itu sama, apapun bungkus agamanya. Hanya penamaannya yang menyesuaikan agama masing-masing. Tiap agama mengajarkan hal positif, yang tidak ada salahnya untuk diikuti. Seperti halnya Katolik yang mengajarkan "kesetian" terhadap pasangan dan membuang jauh istilah "perceraian".

"Walaupun gereja mengajarkan banyak hal positif?" Kuteguk kopiku. Pahit. Bak kehidupan yang slalu menyiratkan kepahitan, namun tetap akan dinikmati hingga akhir. "Ilmu tak hanya berasal dari satu gelas, Den. Ada ratusan gelas lainnya yang akan berefek pada peminumnya. Dan tahukah kau? Peminumnya tak harus dimabukkan oleh apa yang ada di dalam gelas. Keyakinan akan Tuhan adalah ikrar hati makhluk dengan Pencipta, bukan  ikrar dengan tempat dimana Tuhan dipuja. "

Dendy terdiam, terpatri akan kecamuk pikirannya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer murukan
murukan at Ikrar Hati #1 (7 years 4 weeks ago)

memang bagus sih, mengagumi keindahan seni gereja.
tapi maaf ya saya setuju sama Dendy ^^
karena yang saya tau meskipun cuma masuk, itu udah murtad perbuatan

soal ikrar penghambaan Makhluk kepada Tuhannya setuju deh, tempat bukan masalah dimana Tuhan itu sendiri dipuja
tapi sekiranya ada juga tempat yang tidak etis (toilet misalnya)

salam kenal ^^

Writer Shinichi
Shinichi at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)
60

sebuah pesan, yang menurut saia lebih ke arah kemanusiaan. tapi, ada yang missing jika ini adalah sejatinya penulis inginkan menjadi cerpen. pertama, pasti harus dipahami cerpen itu apa. unsur-unsurnya apa saja. dari pesan, atau amanat yang disampaikan penulis dalam cerpen ini, cukup oke. namun, ini dari sudut pandang pembaca semodel saia, penulis dan pembaca lainya. artinya, bukan semua.

jadi, saia pikir sebuah cerpen sejatinya memilih konflik atau suatu permasalahan yang dikemukakan dengan tutur peristiwa. apa yang terjadi, dimana, kapan, bagaimana, dsb. seperti apa istilahnya itu (What, Where, Who, When, Why dan How). nah... itu yang missing.
karena hal yang menurut saia hilang itu, cerpen ini kurang bisa dinikmati sebagai sebuah cerpen, literatur. ini lebih kepada semacam opini. pun pada dasarnya opini adalah lantai dasar penulis menceritakaan sesuatu kepada pembaca, opini ini kurang didukung oleh unsur2 cerpen, dimana sebagai medianya menyampaikan "pesan".

selebihnya, cerpen ini cukup bagus berdiri di titik "menyampaikan". ya, itu jika narasi yang berkesan "argumen" itu dimodifikasi atau dipotong sekalian.

bdw, ini hanya pendapat pribadi. sebatas sebuah apresiasi :)
kip nulis
ahak hak hak

Writer secret_letter
secret_letter at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)

huaaaaa,,, makasih masukannya ya! thanks a lot loh... makasih banget.

Writer odes
odes at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)
80

Cerita singkat namun ada yang bisa didapat. Good :)

Writer secret_letter
secret_letter at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)

terima kasih ya :)

Writer stukasa
stukasa at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)
80

cerita nya bagus tapi aku ingin bertaya saklek itu apa nya

Writer secret_letter
secret_letter at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)

terimakasih ya... :)
saklek itu... apa ya... *mikir*..
mungkin lebih pas disebut "Kolot"

Writer achiie
achiie at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)
90

*speechless*

hmm, apa ya, aku suka cerita ini ! :D Dan apa yang kamu sebut ikrar itu juga aku setuju.
Tapi kalo seandainya aku ada di cerita itu,mungkin aku sependapat sama Dendy hehe

Writer secret_letter
secret_letter at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)

thanks... iya, memang pada faktanya, kebanyakan demikian.

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)
80

setuju :D
manusianya aja yang selalu mengkotak-kotakkan kelompok mereka, terutama tentang masalah agama ^^

Writer secret_letter
secret_letter at Ikrar Hati #1 (7 years 26 weeks ago)

iya... manusia yg tak pernah menyadari kalo pada dasarnya mereka sama. :)
kamu, suka X-Japan ya? *just saw your ID :)