[Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni

Hutan itu tak terlalu rimba, masih ada begitu banyak ruang di antara pepohonan. Membuat cahaya matahari dengan mudah menerobos menerangi tanah berlumur daun-daun kering di bawahnya. Termasuk lima orang yang berusaha berjalan di bawah bayang-bayang pepohonan agar tak terkena sinar terik yang panas dari atas sana.

Ketika pepohonan mulai jarang, tepat beberapa puluh kaki di depan mereka, sebuah bangunan kayu yang tak terlalu besar samar-samar mulai terlihat. Tak terkecuali suara-suara sibuk dari orang-orang yang berlarian yang bercampur dengan erangan lirih orang-orang sakit yang terbawa oleh angin kepada mereka. Beberapa kali mereka berpapasan dengan orang yang sedang membawa wadah air besar yang kosong—mungkin hendak mengambil air di Sungai Luminar. Orang-orang itu selalu mengangguk hormat pada Sou saat mereka berpapasan.

Tak lama, tak hanya suara sibuk yang terdengar, melainkan atmosfer berat yang menyesakkan. Tiga gadis yang mengikuti Sou mengenal betul atmosfer seperti ini. Tak ayal, mereka bergidik. Kembali mereka berhadapan dengan suasana seperti di Kota Mati. Hawa kematian memang hanya samar saja terasa, tapi tetap saja hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat jantung berdebar kencang—dalam artian buruk.

Pemandangan dua orang yang tampak kesakitan di beranda bangunan kayu dengan ditemani dua orang yang kelihatannya adalah tabib, menyambut mereka. Lan mengernyit melihat mereka. Tak ada luka luar yang terlihat sama sekali. Ia segera bisa menebak bahwa ekspresi kesakitan itu adalah berkat wilayah yang dipenuhi hawa kematian yang tadi diceritakan Sou. Lan berani bertaruh bahwa di dalam bangunan itu ada lebih banyak lagi korban seperti mereka.

“Sou!” Sebuah suara yang sangat merdu datang dari sisi bangunan. Sou yang mendengar namanya dipanggil segera bergegas ke sana. Empat orang yang semenjak tadi mengikutinya tak punya pilihan selain mengekornya.

Seorang gadis yang belum genap berusia kepala dua tengah berjalan cepat menuju Sou. Senyumnya terkembang secara manis—cukup mengherankan gadis itu masih bisa mengangkat sudut bibirnya di situasi semacam itu. Rambut cokelatnya yang panjang bergelombang, bergoyang lembut seiring dengan langkahnya. Pakaiannya serba merah muda, dengan sabuk berukirkan jajar genjang dengan tetesan air di tengahnya—lambang Keluarga Reabel. Di belakang gadis itu, seorang laki-laki belasan tahun yang mengenakan tunik putih yang dilapisi rompi hitam lebar tergopoh-gopoh mengejar gadis itu. Lelaki itu tengah memeluk mantel putih gading yang tampaknya milik gadis di depannya.

Sou refleks membungkuk sedikit begitu gadis itu berada tepat di depannya, meraih tangan gadis itu, dan mencium punggung tangannya. “Nona Regina,” katanya setelah melepaskan tangan gadis itu. Ia menegakkan tubuh kembali.

Sua langsung menyodok lengan Nulla yang berdiri di sisinya, lantas berbisik, “Menyukaiku? Kurasa dia akan tertarik pada setiap orang, asalkan perempuan.”

“Aku dan Lan tidak diliriknya.”

“Mungkin dia bisa mendeteksi aura berbahaya dari kalian berdua.”

Mendengar itu, Nulla refleks balas menyodok lengan Sua. Lebih keras.

“Seingatku, aku meminta bantuan tabib dari Kediaman Reabel.” Sou mengangkat kedua alisnya. “Nona bukannya hendak membantu para tabib, kan?”

Melihat wajah sangsi Sou, Regina hanya mencibir. Ia kemudian menghantam lengan kiri Sou dengan pelan. Jelas tidak sakit, tapi Sou tetap terlihat meringis. Mungkin sebagai salah satu bentuk sopan-santun. Sua yang melihat itu hanya mendengus geli—yang diartikannya sebagai ejekan. Dengusan yang cukup keras sampai membuat Regina berpaling padanya. “Wah, kau bawa banyak orang, Sou. Tapi aneh, aku tidak melihat tanda-tanda kesakitan dari mereka.”

“Oh, mereka adalah para pelancong tersesat. Mereka bilang ingin menuju Mevara, jadi aku memandu mereka sampai ke sini. Dan karena matahari sudah tinggi, akan lebih baik kalau sekalian menawarkan makanan.” Sou kemudian meminta mereka mengikutinya ke belakang bangunan kayu itu. Sembari berjalan ke sana, Sou berpaling lagi pada Regina. “Selain Azkan, siapa tiga orang lagi yang Nona bawa?”

“Oh, dua orang tabib muda, mereka sudah setahun ini bekerja pada ibuku. Yah, biarpun salah satunya berurusan dengan hewan. Dan yang satu lagi…,” ujarnya dengan ekspresi kesal, “hanya seseorang yang menumpang tinggal di rumahku. Tapi, dia punya kemampuan mengobati yang sangat unik. Itu yang dibilang ibuku.”

“Kenapa Nona tampak begitu kesal?”

“Karena gadis itu agak menyebalkan. Dia cuma lebih tua beberapa bulan dariku, tapi sudah berlagak seperti atasan. Dia memang cantik, tapi aku kan lebih lucu. Kenapa semua orang menjadikannya seperti anak emas? Bahkan dia merebut Kak Neera dariku.”

Sou hanya mendengus geli mendengar keluhan gadis itu. Tampaknya ia sudah terbiasa dijadikan sampah keluh-kesah Regina. Tiba-tiba Regina berhenti. Ia berbalik memandangi Sua tajam. Sua entah kenapa merasa berjengit ditatap seperti itu. “Apa … ada yang salah?” tanyanya berhati-hati.

“Tidak,” kata Regina kemudian. “Hanya saja, melihat orang lain memiliki mata kelabu sepertinya membuatku sedikit kesal. Jangan tersinggung, yang kukesali itu dia, kok, bukan kau.”

Sua membeku. Tak salah, bukan, bahwa ada orang lain yang memiliki mata kelabu sepertinya, seketika itu juga melambungkan harapan Sua? Dengan bibir bergetar, ia bertanya pada Regina, “Nona, orang yang kaukesali itu—orang itu—siapa nama orang itu?”

“Kenapa sekarang bahkan orang asing sepertimu juga tertarik padanya?”

Sua tak punya waktu untuk berdebat, tapi dia juga tak mungkin sembarangan mendesak seseorang yang baru dikenalnya. “Di mana dia?”

Regina tak menjawab. Ia hanya menunjuk pada bangunan kayu yang lebih kecil di belakang bangunan utama. Ada tiga orang berdiri di muka pintu, sedang mendiskusikan sesuatu. Salah satunya seorang gadis berpakaian biru langit, bentuk gaunnya sama seperti yang dikenakan Regina, tapi warna kulitnya lebih pucat dengan rambut panjang dikepang yang warnanya hitam pekat. Warna matanya yang kelabu gelap segera meyakinkan Sua bahwa gadis itu memang orang selatan. Tanpa menunggu lagi, Sua berlari ke arah gadis itu dan memeluknya dari samping begitu saja. Tak ayal, mata lentik yang sangat jernih itu membelalak kaget, begitu juga dua orang lelaki yang sedang bicara padanya.

Belum sempat gadis itu mencoba mendorong Sua, suara lirih—beserta isakan—yang amat dikenalnya menyentaknya kuat. “Nona, aku hanya pergi beberapa bulan, kenapa Nona hilang begitu saja begitu aku kembali ke rumah?”

Gadis itu mendorong Sua agar bisa melihatnya. Matanya seketika membulat saat menyadari siapa yang tadi tiba-tiba memeluknya. “Sua, sedang apa kau di sini?”

Sua tak menjawab. Dadanya terlalu sesak bahkan hanya untuk bernapas. Ia kembali memeluk gadis itu.

Masih terkejut, perlahan dibelainya kepala Sua. Senyum hangat tampak serasi di wajah cantik itu.

Melihat itu, Regina berpaling pada Lan dan Nulla. Keningnya mengerut tanda tak paham. “Mereka saling kenal?”

“Sepertinya,” jawab Nulla sambil tersenyum. “Aku pernah mendengar dari Elli bahwa Zuri Arinaz itu sangat cantik. Ternyata itu bukan bualan.”

Lan hanya mengernyit saja mendengar kata-kata Nulla. Digigitnya bibir bawah, entah untuk menyembunyikan rasa iri atau rasa kesal. Rupanya ia tak terlalu dipercaya Ellial untuk informasi tentang putri bungsu Klan Arinaz. Mengingat informasi tentang Zuri Arinaz datang dari Zerua membuatnya semakin kesal. “Kau beruntung,” katanya pada Nulla. “Tuan sama sekali tidak mau mempercayakan informasi apa-apa padaku. Kepercayaannya padamu jauh lebih besar.”

“Kau iri? Kenapa? Selama ini, kau tak pernah protes.”

Lan langsung mendengus. Itu benar. Ia tak pernah protes. Kedudukannya yang rendah tak mengizinkannya untuk protes.

Salah satu lelaki yang tadi berdiskusi dengan Zuri dan seorang lagi, berlari kecil menghampiri Regina. Lelaki itu bahkan lebih jangkung dari Sou. Rambut coklatnya sangat lebat. Ia tersenyum pada gadis itu, tak peduli meski gadis itu mengabaikan sikap ramahnya.

“Ada apa?”

“Tadi, aku dan Zuri sudah memutuskan untuk pergi ke kawasan hutan timur. Mencari penyebab dari bencana ini. Mil akan tinggal di sini merawat yang selebihnya.” Ia lalu berpaling pada Sou. “Kau menguasai jalur-jalur aman di hutan ini. Ikutlah dengan kami.”

Sou ragu sejenak, ia kemudian menoleh pada tiga orang di belakangnya. “Aku harus menyertai mereka. Kalian beristirahatlah dulu di sini.” Ia menoleh pada Regina dengan senyum yang lebih manis dari sebelumnya. “Nona, bisakah aku menitipkan mereka padamu?”

“Tentu saja.”

Tanpa menunggu lagi, Sou dan lelaki jangkung tadi segera menuju Zuri dan Sua, lantas bersiap pergi. Regina dan ketiga tamu Sou mengikuti di belakang.

“Aku akan ikut nonaku,” kata Sua sambil menghampiri Lan dan Nulla. “Kurasa ini lebih mendesak. Kita bisa menanyakan yang lainnya selepas masalah ini selesai.”

Lan mengangguk. “Hati-hati. Kau ingat kejadian di Hutan Kabut, kan?”

“Nona ada bersamaku sekarang. Tak ada lagi yang kutakuti.”

Lan masih sangsi. Ia ingat bagaimana bayangan Nulla yang mengkhianatinya hadir begitu saja di benaknya meskipun Nulla ada bersamanya waktu itu. Tapi, ia diam saja. Membuat Sua ragu sekarang, bukanlah ide bagus. Ia mengangguk kembali.     

Setelah pada Lan, Sua mengalihkan senyumnya pada Nulla. Tapi tak lama, senyumnya segera lenyap. Lan yang menyadari keanehan mimik wajah Sua, ikut-ikutan menoleh pada Nulla, demi menemukan ekspresi panik gadis yang terus mencoba makin melesakkan wajahnya ke dalam tudung mantel itu. Lan dan Sua bertukar pandang. Begitu menyadari apa yang terjadi, keduanya memalingkan wajah pada tabib muda tinggi kurus yang berdiri di samping Zuri— tatapan matanya yang terlihat curiga itu tertuju langsung pada Nulla. Mereka seketika memahami satu hal. Asisten tabib yang dulu menolong Nulla, ternyata sudah naik pangkat menjadi seorang tabib muda.

Sementara itu, Zen menatap Zuri, yang segera disadari gadis itu. Zuri hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, menandakan bahwa gadis itu tahu siapa yang sedang dihadapinya. Meski begitu, ia tak merasa terganggu dengan kehadiran lelaki itu. Zen tak membalas anggukan itu, tapi tak ada perasaan berat dan tanda bahaya dari matanya. Tatapan kosongnya tak terbaca.

 

***

 

“Aku sedikit terkejut laki-laki itu masih mengingat Nulla.”

Regina menoleh pada Lan dengan alis terangkat. “Maksudmu, Miluen?” Selepas Lan mengangguk, Regina membuang napas sejenak, lalu melanjutkan, “Justru aku yang lebih kaget karena ternyata kalian semua punya hubungan satu sama lain. Hei, tadi kaubilang, kau adalah bawahan Ellial, kan? Bisakah kau menyeretnya keluar dari rumahku? Energi kematian dalam dirinya sudah lebih dari cukup untuk merusak konsentrasi para tabib di rumahku.”

Meski mengernyit, Lan tak bisa menyangkal. Meskipun tuannya memiliki energi Api Putih, tapi energi Es Hitam—energi sejatinya—pasti jauh lebih pekat menguar darinya. Ia tak bisa begitu saja menyalahkan orang-orang yang tak menyukai Ellial. Apalagi, Keluarga Reabel punya ikatan kuat dengan Klan Arinaz. “Kami sudah ditakdirkan untuk melangkah di atas garis kematian. Apakah kalian membenci kami karena hal itu?”

Regina menggeleng pelan. “Kak Neera pernah bilang padaku … manusia pada dasarnya sama. Tak peduli berasal dari klan mana, tak peduli takdir apa yang membuat manusia berseberangan pihak, mereka tetap makhluk hidup. Bila belum saatnya maut menjemput, kita hanya bisa berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan setitik nyawa itu hingga masanya tiba. Itu, kan, tugas para tabib?”

Lan tercenung. Kata-kata itu menghujam jauh ke dalam lubuk hatinya. Sebelumnya, sebijak apa pun kata-kata semacam itu dilontarkan, takkan sedikit pun berpengaruh padanya. Lantas, apa yang membuat kali ini berbeda? Apa yang membuat hadirnya setitik penyesalan dalam dirinya kali ini? Karena kata-kata itu meluncur dari bibir tipis gadis berbaju merah muda itukah? Lan menggeleng cepat.

“Tangan kotorku ini, meski dicuci seperti apa pun, takkan pernah bisa menghilangkan bau anyir darah banyak orang. Bukankah itu seperti menorehkan tinta hitam di atas kertas putih? Meski coba dihapus sekalipun, kertas yang telah terlanjur tercoreng, takkan pernah kembali lagi seputih semula.”

Regina hanya tersenyum. “Bodoh! Kau hanya tinggal memberi warna lain pada kertas putih itu. Seperti halnya lukisan, warna-warna akan terlihat lemah tanpa adanya warna hitam. Dalam hal ini, hitam adalah penegasan.”

Lan menatap Regina dengan mata membulat. Di hadapan gadis itu, Lan merasa seperti sedang menjadi pribadi yang bukan dirinya. “Aku tak mengerti.”

Setelah puas tertawa, Regina memandang Lan penuh arti. “Apa kau percaya pengampunan? Apa kau percaya ketulusan di balik kata ‘maaf’?”

Lan tak menjawab. Mata mereka masih saling mengunci saat Regina memutuskan untuk berpaling. Mengisyaratkan dengan mengangkat dagu, Regina berkata, “Lihat mereka.”

Mau tak mau, Lan menoleh ke arah mata Regina tertuju. Tampak di hadapannya, seorang lelaki dan seorang gadis dalam kecanggungan yang tak terkatakan, tengah saling membantu satu sama lain dalam merawat pasien. Si Gadis tak lagi menutup wajahnya dengan tudung mantel hitamnya. Sementara, sorot mata si Lelaki tak lagi tajam curiga seperti tadi. Saat mata keduanya bertemu, atmosfer hangat dan lembut menerpa Lan tanpa bisa dielakkan. Saat kedua orang itu saling tersenyum, sudut bibir Lan terangkat tipis.

“Miluen bukanlah pendendam,” kata Regina begitu melihat senyum tipis Lan. “Dia itu … terlalu mudah memaafkan, apalagi pada orang yang berhasil mencuri hatinya bertahun-tahun yang lalu. Tak peduli meski orang itu sudah berbuat buruk pada kota yang sangat dicintainya.” Regina menatap Lan lembut. “Apakah kau juga bisa begitu? Jika seseorang berbuat buruk pada sesuatu yang sangat berarti bagimu, apa kau bisa memberi maaf?”

“Aku hanya manusia biasa, Nona.”

“Miluen juga manusia biasa.”

“Tapi, aku bukan Tabib Almies. Aku adalah aku. Dan pemaaf…,” kata Lan sambil menggeleng kecil, “bukanlah sifat dasarku.”

“Omong kosong. Pemaaf adalah sifat dasar semua orang. Hanya saja, kebanyakan orang tidak sadar telah menolak sifat itu, kemudian menggantinya dengan perasaan benci yang pelan tapi pasti, bertumpuk dan mengubur sifat itu. Apakah sesulit itu bagimu untuk menggalinya kembali?”

Lan diam. Dan Regina tak berusaha untuk memaksanya menjawab.

 

***

 

Sementara itu, di sisi timur hutan, tempat berkumpulnya aura kematian penyebab orang-orang mengalami kesakitan massal, empat orang yang lain tengah berjalan dengan langkah berat.

“Aku terkejut.”

Zuri menoleh pada Sua, tak terlalu menangkap apa yang dikatakan bawahannya itu. “Apa yang membuatmu terkejut?”

“Kita sudah semakin masuk ke bagian timur hutan, tapi perasaanku tidak terasa terlalu berat seperti di Hutan Kabut.” Sua kemudian menoleh pada Zuri dengan senyum terkembang. “Apakah karena aku bersama Nona?”

Zuri menggeleng pelan. Meski Sua tahu reaksi itulah yang akan didapatnya, ia tetap merasa sedikit kecewa. Dalam hatinya, ia menginginkan nonanya sedikit saja berpura-pura dan membiarkannya bersenang-senang dengan kemungkinan itu. Dan perasaan kecewa itu pun berubah menjadi kekesalan karena dengusan geli dari laki-laki yang berjalan di depannya sebagai pemandu.

Tanpa memedulikan Sou, Sua menoleh kembali pada Zuri. “Apakah Nona tahu penyebabnya?”

“Apa kau tak merasakannya, Sua? Tempat ini sedikit lebih hangat dari bagian hutan yang lain.”

Sua mengangkat kedua tangannya, meraba-raba udara. Dengan sedikit konsentrasi, ia mulai bisa membedakan suhu udara dengan suhu tubuhnya sendiri. Memang terasa hangat. Ia tak merasakannya tadi, mungkin karena tubuhnya sendiri lebih panas dari suhu tubuh kebanyakan orang.

Sua mengingat dengan pasti. Saat di Hutan Kabut, udara sangat dingin. Lebih dingin dari tempat-tempat lainnya. Menghubungkan kedua fakta itu, Sua semakin tidak mengerti.

“Aku juga tak mengerti,” sahut Zuri begitu melihat Sua hendak menanyakan sesuatu padanya. “Karena itulah, aku ingin menyelidikinya.”

Lelaki jangkung yang sejak tadi berjalan di samping Sou, tiba-tiba berhenti. Tiga yang lain hanya bisa turut berhenti, lantas memandang lelaki itu bingung.

“Eusal, ada apa?” tanya Sou.

“Aku merasakan sesuatu.” Eusal memejam sejenak. “Beku…, panas…, bercampur jadi satu.” Ia seketika membuka mata dan menoleh ke arah sungai—dengan suara berisik air terjun terdengar samar—yang tak terlampau jauh dari mereka. Tangan Eusal terangkat. Jari telunjuknya tepat terarah pada sebuah pondok kecil berdinding kayu di seberang sungai. “Di sana.”

Tanpa menunggu lagi, Eusal segera berlari ke sana, yang segera disusul Sou. Sua hendak mengejar juga, tapi ragu-ragu begitu melihat nonanya hanya terpaku di tempat.

“Nona?”

Zuri mengangkat tangannya, mengisyaratkan Sua agar diam. Tak hanya menurut, Sua pun turut mengamati ke arah mata Zuri tertuju. Tapi, tak ada apa pun. Sua mulai ragu. “Nona?” tanyanya lagi.

Sua kembali bungkam, kali ini bukan oleh Zuri. Sekelebat bayangan disertai hawa dingin yang menusuk mau tak mau menarik perhatiannya. Ia sangat terkejut saat kemudian didapatinya bahwa kabut mulai turun. Hawa dingin yang sama seperti saat di Hutan Kabut. Bedanya, kali ini bukan kabut putih, melainkan kabut hitam. Tipis saja, memang. Tapi, Sua yakin kabut itu berwarna hitam.

Sekelebat bayangan itu muncul lagi dari kejauhan. Melompat bagaikan monyet di antara pepohonan. Saat bayangan itu berhenti bergerak, barulah Sua bisa dengan samar—karena terhalang kabut hitam—melihatnya. Orang itu memakai pakaian serba hitam. Bagian bawah wajahnya—dari hidung hingga dagu—tertutup kain hitam, sementara bagian atas tertutup poni rambut hitam pendeknya yang agak berantakan. Tapi, yang paling menarik perhatian Sua adalah tangan orang itu ternyata terarah padanya? Tidak. Saat Sua memicingkan mata, tangan itu mengarah langsung pada Zuri. Dan Sua yakin, orang itu sedang dalam posisi menyerang.

Sua teringat dengan pembunuh yang kata Lan sedang memburu nonanya. Seketika ia naik pitam. Tanpa pikir panjang, ia menjentikkan jarinya. Api muncul di antara kabut hitam, melenyapkannya dalam sekali gerak memutar Sua. Saat tangan Sua terarah pada orang itu, api dengan sangat cepat menyasar orang itu. Sasarannya luput, dan malah membakar pohon tempat orang tadi berada. Dengan cepat, api menyambar pepohonan lain, membuat hutan timur membara. Sua tak peduli, bahkan juga dengan seruan nonanya agar ia berhenti. Keselamatan Zuri jauh lebih penting daripada perintahnya.

Bayangan orang itu kembali muncul-tenggelam di antara pepohonan, kabut hitam yang masih tersisa, dan asap bekas api yang masih belum padam. Gerakannya menjauh. Dan saat itu juga, Sua sudah memutuskan. Tak ada seorang pun yang akan dibiarkannya lolos setelah melakukan percobaan pembunuhan pada nonanya.

“Akan kukejar dia. Nona pergilah ke tempat Sou dan Eusal.”

“Tunggu—Sua!” Zuri terlambat. Sua sudah terlanjur berlari dengan sangat cepat menjauhinya.

Zuri mengesah panjang, lantas bersiap mengejar bawahannya itu.

 

***

 

Seorang wanita bergaun merah dengan garis-garis hitam di tempat jahitan bertemu, hanya memandangi hutan timur yang terbakar menuju ke arahnya. Ia mengenakan jubah merah dengan tudung yang menutup sebagian besar wajahnya. Hanya tampak seringai dingin yang tepat terarah pada gadis selatan bergaun biru langit di antara kobaran api.

Saat disadarinya bahwa gadis bergaun biru langit itu tengah bersiap pergi menyusul kedua bocah yang berkejaran menuju arah sungai, wanita itu mengangkat sebelah tangannya. Hawa dingin melebihi yang tadi dirasakan Sua menyebar dari tempatnya berdiri. Perlahan, tanah mulai mengeras dan licin, terkena bunga es yang kemudian mengkristal sepekat tinta hitam. Gelombang bunga es menyapu seluruh tempat yang terkena api, membekukannya dalam satu kejapan mata.

Zuri seketika berbalik. Saat itu juga, wanita itu menurunkan tangannya. Seringainya makin dingin saat dilihatnya mata kelabu lentik itu membelalak padanya.

“Tak cukup baik menyembunyikan dirimu, Adik Kecil?”

Suara merdu yang terdengar dingin itu seketika menyentak Zuri. Gadis itu mengenal betul suara itu. Suara milik seseorang yang seharusnya sudah mati.

 

Read previous post:  
41
points
(3415 words) posted by aocchi 7 years 36 weeks ago
68.3333
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
Writer Chie_chan
Chie_chan at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 33 weeks ago)
90

ALL HAIL REGINAAA!
<3
*disambar petir*

Writer ufee
ufee at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 34 weeks ago)

ikut jadi figuran. hehehe

70

Ehem...
Hutan itu tidak terlalu rimba...
Ehm, maksudnya bagaimana ya? Rimba itu kan artinya hutan lebat dan luas...
.
.
Terus banyak nama yang berlompatan muncul di bagian ini, mendadak dan seketika. Jadi bikin bingung.

Writer zenocta
zenocta at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 35 weeks ago)
70

kemunculan tokoh yang bertubi-tubi membuat saya bingung.. mungkin kalo ceritanya diperlambat sedikit akan dapat memberi tempat untuk pengenalan ala kadarnya bagi para tokoh baru ini.. yah minimal pembaca bisa menggambarkan dan membedakan si A dan si B.. :D

Writer Canak
Canak at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 35 weeks ago)

Namanya kebanyakan. @_@
.
Btw, Miluen itu ... kak Sammy kah? /uhuk!/
.
Trus itu ... itu ... Zuri sama Zen ada hubungan apaaa?? X( /cemburu gak jelas/

Writer Kurenai86
Kurenai86 at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 35 weeks ago)
80

wah... sebuan rentetan nama >.<
saya rada kesulitan nginget2 si ini yang mana, hubungannya apa sama yang diajak omong, dsb, dsb...
rasanya perlu baca ulang =_=a
.
eh, soal warna hitam yang mempertegas lukisan, dulu waktu ekskul lukis d sekolah, guru lukis saya malah sering wanti-wanti agar jangan buru2 pake warna hitam soalnya warna itu bisa ngerusak yang lain. kalo perlu warna gelap, pake aja campuran warna yang lain, tapi jangan hitam :)

Writer aocchi
aocchi at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 35 weeks ago)

gyaaaa, maaf
inilah resiko memasukkan banyak karakter di satu chapter T_T
coba deh nanti say utak-utik lagi :)

soal warna hitam adalah penegasan ... sebenernya saya tahu lebih baik pake warna gelap buat penegasan daripada hitam
saya cuma agak bingung menghubungkannya dengan dialog, coba nanti saya pikirin lagi XD

Writer Riesling
Riesling at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 35 weeks ago)
80

'kukesali' < ???
Trus si Eusal itu sempet bikin bingung. Pas dia ngomong ma Regina, dia masih gak bernama, trus tau-tau di hutan, namanya nongol. Saya sempet bengong mikirin itu siapa =3=

Writer aocchi
aocchi at [Katalis Waktu] Fragmen 10 - Reuni (7 years 35 weeks ago)

ada apa dengan 'kukesali'? err, adakah yang salah dengan kata2 itu? *lemot*
o iya, soal eusal yang tak bernama di awal ... saya lupa >_<
nanti deh saya edit lagi