-= Bintang Belum Padam =-

Pagi itu, Bintang, gadis berusia enam belas tahun, bangun dan melangkah ke cermin. Dia melihat memar-memar pada wajah dan hampir disekujur tubuhnya. Matanya bengkak dan sembab. Tadi malam....adalah malam jahanam. Air matanya mengering sudah.

Dan masih sengan hati yang pilu, Bintang keluar dari kamar langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Di ruang makan, tiga orang lelaki
berteriak-teriak meminta sarapan segera dihidangkan. Mereka memukul-mukul piring dengan
sendok, hingga mengeluarkan suara yang amat berisik. Tetapi Bintang sudah terbiasa mendengarnya setiap kali dia terlambat bangun. Dengan perlahan diambilnya pisau dapur dari dalam laci untuk memotong
bawang. Saat yang sama, Dedi datang dari belakang.

"Hei, lama amat sih sarapannya?" tanyanya kesal. Namun Bintang tak menanggapi.

"Hei, kalo gue ngomong, lo harus lihat ke gue, pemalas!" teriak Dedi marah. Tangannya meraih bahu Bintang dengan kasar dan membalikkan tubuh gadis itu kearahnya. Beberapa detik kemudian, matanya melotot
melihat darah yang muncrat dari dadanya.

"Kau..." ucapnya memucat menyadari Bintang telah menikamkan pisau dapur tepat dijantungnya. Beberapa detik kemudian, Dedi roboh ke lantai. Bintang berjongkok dan mencabut pisau yang menancap di dada kakak pertamanya tersebut. Lalu memeriksa denyut nadinya.

Saat yang sama, suara Ubhe, kakak keduanya terdengar dari belakangnya.

"Bintang, ngapain lo? Ada apa dengan Dedi?" tanyanya
melangkah mendekat. Bintang langsung berdiri dan berbalik. Lalu secepat kilat dihunuskannya pisaunya ke perut Ubhe. Pria itu terkejut. Terlebih ketika Bintang
mencabut pisaunya dan menghunuskannya kembali sampai berkali-kali. Tanpa sempat mengatakan apapun, Ubhe roboh dengan darah yang mulai menggenangi lantai.

Lalu Bintang melangkah ke ruang makan, dimana ayahnya menunggu sarapannya. Setidaknya begitulah yang dipikirkannya. Tetapi dia salah. Laki-laki bertubuh besar itu sudah melihat semuanya dan langsung menyergap Bintang tanpa ampun. Tubuhnya yang besar menindih anaknya, lalu tangannya meninju muka gadis itu dengan ganas, dan berusaha merebut pisau dari tangan Bintang.

"Dasar kau anak iblis! Seharusnya kubunuh saja kau sejak dulu!" desis ayahnya marah. Bau minuman menyeruak dari mulutnya, membuat Bintang mual. Dan tenaganya yang besar membuat gadis itu tak mampu melakukan perlawanan. Pisau berhasil berpindah tangan. Dan ketika pria itu hendak menikam dada Bintang, mendadak Farras keluar dari kamar dan menerjang
ayah mereka hingga tersungkur kesamping. Lalu keduanya terlibat pergumulan hebat sambil memperebutkan pisau.

Farras beruntung. Keadaan ayahnya yang setengah mabuk
membuatnya berhasil menguasai pisau. Lalu dengan sekuat tenaga ditikamnya jantung ayahnya. Pria itu melolong keras, meninju Farras, merampas pisau lalu berbalik menusuk perut Farras.

Bintang menjerit marah dengan suara sumbang. Diraihnya guci besar dan dihantamkannya ke kepala ayahnya berkali-kali sampai guci itu pecah berkeping-keping. Darah mengalir deras dan akhirnya ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya.

"Bintang..."

Bintang segera memeluk Farras. Dibekapnya perut kakaknya untuk menahan darah keluar.

"Kau aman sekarang," bisik kakaknya sambil menahan sakit. Digenggamnya tangan Bintang dengan erat.

Bintang menangis. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tidak keluar. Hanya air matanya yang mengalir deras seperti sungai.

"Bintang adikku. Jangan menangis. Aku pantas mendapatkan ini." ucap Farras terbata-bata, "Kami semua
pantas mati."

Bintang menggeleng keras, menerbangkan airmatanya kemana-mana.

"Bintang...aku minta maaf karena tidak membawamu keluar dari neraka ini sejak dulu. Kau adalah adik kandungku satu-satunya. Tetapi aku terlalu pengecut untuk membelamu. Aku...aku tahu ayah tiri kita...dan kakak-kakak tiri kita...telah memperkosamu..." Farras menatap adiknya, "Tapi sekarang kau aman, adikku. Cepat...cepat kau buka semua laci lemari, dan bongkar isinya. Berantakin. Lalu..." Farras menekan perutnya yang mulai terasa keram, "lalu bersembunyilah di kamar mandi. Kunci. Jangan keluar sebelum polisi mendobraknya. Adikku...semua akan baik-baik
saja setelah ini. Aku janji."

Bintang menggeleng. Matanya mengabur oleh air mata.

"Ayo cepat lakukan yang kubilang tadi!" Farras menolak Bintang sampai adiknya tersungkur.

*

Beberapa jam kemudian, police line sudah mengurung rumah besar tersebut. Banyak polisi dan petugas medis lalu lalang
mencari bukti-bukti perampokan yang disertai pembunuhan.

Disinyalir, para perampok berjumlah lebih dari seorang, datang dan membunuh semua
penghuni rumah tersebut, kecuali seorang gadis bisu yang selamat karena sempat mengunci diri di kamar mandi.

"Syukurlah mereka semua mati." terdengar suara seorang tetangga yang berkerumun didepan rumah. "Aku sering melihat ayah tiri serta kedua anak lelakinya memukuli gadis bisu itu sampai babak belur sejak ibunya meninggal setahun yang lalu. Sungguh gadis yang malang."

- Tamat -

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 22 weeks ago)
70

well

cerita ini sudah cukup baik, meski saia masih merasakan alurnya cepat sekali. atau, jangan-jangan ini merupakan cerber? tagsnya sendiri berupa cerpen sih. ehehehe.

so, saia cuma bisa bilang peristiwa di dalam cerita ini terjadi begitu cepat. malah terlalu cepat untuk ukuran "drama". tapi saia nggak punya dasar yg kuat sih. hanya saja peristiwa inti (pembunuhan itu) memang layak dibikin be-ritme cepat biar dapat thriller-nya. dan saia pikir, drama-nya malah kurang sreg. dilemanya nggak kentara. sedangkan "drama", saia pikir harus kuat dalam hal itu.

selebihnya, ada beberapa kalimat yg saia rasa tidak perlu di-enter. penyusunan paragraf lebih tepatnya. dan di luar itu semua, narasi cerita ini sedikit kurang padat. dan ya, tentu kurang banyak :D

mohon maaf bila kurang berkenan.
salam dan kip nulis. mari mampir jugak di tulisan saia. ahak hak hak.

Writer lindsaylov
lindsaylov at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 22 weeks ago)

Thx min ilmu dan bintang2nya. Ol nya di hape, jd ada keterbatasan kharakter...pingginnya siyh lbh panjang lagi...hehe

thx again...

Writer Rizki Adhelia
Rizki Adhelia at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 22 weeks ago)
70

bagus ,
keep write. salam kenal :)

Writer lindsaylov
lindsaylov at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 22 weeks ago)

Makasih atas dukungannya en juga bintang2nya ya...
Salam kenal kembali...8-)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 23 weeks ago)
80

Bagus.
Di akhir cerita dijelaskan latar belakang ceritanya, jadi ga bikin bingung yang baca.

Writer lindsaylov
lindsaylov at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 22 weeks ago)

Makasih...
Iya, sengaja sedikit dijelaskan di ending cerita, biar yg baca ga bertanya2...
Thx juga bintang2nya ya...

Writer shin_nirmala
shin_nirmala at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 23 weeks ago)
80

Bintang bisu? wah ...

Writer lindsaylov
lindsaylov at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 23 weeks ago)

Iya, Bintang bisu. Makanya ga bisa ngomong. Hm, makasih ya udah mampir dan ngasih bintang2... Salam kenal..

Writer shin_nirmala
shin_nirmala at -= Bintang Belum Padam =- (7 years 23 weeks ago)

salam kenal juga... well aku termasuk suka sama cerita thriller begini..., mampir2 ke lapakku yah .. :)