Tas

"Apa isi tasmu?" tanya Btari suatu saat. Kepada saya, dia menyodorkan secangkir kopi-jahe dan camilan (pastry) sisa Lebaran. Secepat petir menyambar saya pun tak menyia-nyiakan waktu menyeruput kopi-jahe tersebut. Seruput... seruput.... Hangat di tenggorokan. Namun, bikin batuk gatal. Batuk-batuk, deh, saya. Belum juga sembuh.

Oya, belum saya jawab. "Payung, loose leaf, mmmmm alat tulis, mmmmm apa lagi, ya? Kayaknya enggak ada yang luar biasa, tuh!"

"Bener, nih? Kamu biasanya suka bawa buku-buku 'ajaib' di tas..."

"Siapa tahu bisa dibaca kalau lagi bengong," sambung saya.

Akan tetapi, dalam hati saya ucap, tidak ada sebuah pun buku baru yang saya beli. Lantas, buku-buku 'ajaib' mana yang dia maksud? Mungkin karena baru lihat--buku-buku itu, kan, sudah lama. Dia saja yang baru tahu.

"Enggak. Gue malas bawa-bawa buku selain diktat. Sempet dibaca juga... boro-boro. Waktunya habis dimakan pikiran!"

Btari mesem. Dia tahu benar kalau pikiran saya lebih fokus pada monolog-monolog batin yang cuma diketahui Tuhan daripada fokus pada jalan cerita.

Seringkali, saya akui, keheningan perjalanan lebih menarik daripada hal-hal lain. Makanya, saya jarang ngobrol di angkot (kalau lagi ada temannya). Jalanan, kok, hening, sih? Wong kendaraan enggak karu-karuan gitu, lalu-lalang; berisik suara mesin. Btari (pernah) heran (lalu menanyakan itu).

Wah, susah jelasinnya! Justru suara-suara itu berpadu-padan dengan ketenangan. Pernah dengar meditasi yang caranya fokus sama apa-apa yang lu lihat pas di angkot? Nanti coba. Baru, deh, ngerti.

Yaaaa.... Apa punlaaah. Ekspresi muka Btari menjelaskan segalanya. Saya tak perlu menanyakan tanggapannya.

"Jadi, tas kuliah kamu isinya itu-itu thok? Dalem tas segede gini?" ditunjuknya saya punya tas. Cokelat, kulit, memang bisa diisi muatan banyak, sih.

"Memang kenapa, sih? Kayaknya interested banget sama isi tas gue?"

Seruput... seruput...

Btari mengemut pastry salju pelan-pelan seolah memikirkan jawaban, lengkap dengan dahi kernyit. (Memang cara makannya seperti itu).

"Ndak papa. Cuma, kayaknya boros aja, gitu."

Haaaah?

"Boros gimana?" selidik saya.

"Ya boros! Muatan gede, tapi isinya enggak seimbang."

"Lah, emang, mestinya diisi apa? Batu bata bertumpuk-tumpuk? Buku selebar tas? Ah! Ginian aja dibahas," sungut saya, setengah bercanda-setengah serius. Seperempat serius sebenarnya.

"Lah, saya, kan, memang biangnya ngomongin hal-hal enggak penting? Sampe dijulukin Trivial Quiz, hahahahaha!"

Btari tertawa bahak sekali, sampai-sampai saya mangu saking herannya.

"Lama-lama enggak relevan, itu julukan," gumam saya.

"Apa?"

"Enggak...."

Walhasil, percakapan trivial itu berhenti setelah Rumer sayup-sayup mendendang "Am I forgiven?" Kopi-jahe habis 4 cangkir; pastry lenyap hampir stoples. Lagu di playlist bergeser memulai intro "Nothing Lasts Forever" (Maroon 5). Btari pamit salat Asar; saya memikirkan simpulan percakapan tadi.

...

Namun, cuma satu kalimat yang membius saya sadar-sadar: "Berlakulah efisien.... Enggak perlu macam-macam.... Jangan maunya serbamacam, terus-terusan..."

Efisien. Efisien. Apa ada hubungannya dengan obrolan tas barusan?

***

Keesokan paginya, sebuah tas kempit berbahan kulit--lebih mirip kotak pensil ukuran jumbo--menggeletak di atas meja belajar saya. Itulah benda yang akan saya ajak ke mana-mana....

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer zulaikhaamaliasrg
zulaikhaamaliasrg at Tas (7 years 23 weeks ago)
80

bagus :)

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Tas (7 years 23 weeks ago)
80

hm....saya jadi penasaran sama kerjaan orang kuliah

Writer NiNa
NiNa at Tas (7 years 23 weeks ago)
70

Nggak segitunya kalii... suka, suka :D

Writer zenocta
zenocta at Tas (7 years 23 weeks ago)
70

menarik :)

Writer H.Lind
H.Lind at Tas (7 years 23 weeks ago)
70

Cara berceritamu unik ya. Tapi saya kurang puas kalo cuma sesingkat ini. Hehe :)