Terbakar

 

Berbasah-basah menyeberang sungai demi menyingkat waktu, ironinya, setelah itu, malah mengambil jalur jauh sekali memutari bukit gersang, kemudian menyusuri turun kelok-kelok aspal yang dikawal beberapa kaktus bolong-bolong yang ketika angin berpasir menyetubuhinya, akan menimbulkan nada-nada setan yang membuat orang-orang menjadi gatal. Dan dalam unit tentara yang terdiri dari beberapa pria setengah mampus dan setengah gila itu, ada kamu di sana, berusaha keras untuk tidak tertinggal dalam barisan yang dipaksa bergerak secepat-cepatnya, tak peduli pada letih yang telah membuatmu dan rekan-rekanmu merintih tertatih-tatih. Kamu benar-benar mempertanyakan hal ini, manuver pintar atau sekedar asal-asalan? Unit-unit militer dirombak susunannya dengan tidak adil, bahkan unit terlemah itu diberi tugas yang nyaris seperti bunuh diri, oh apa kamu rela? Bukannya lebih baik melarikan diri saja?

 

“Kita pasti menang Kak!”

 

Kelantangan suaranya yang seperti pelepas dahagalah yang membuatmu terus bertahan. Dalam segala perjuangan ini, tak pernah kamu lupa untuk mengamati wajahnya yang berseri-seri penuh percaya diri, seakan-akan ia adalah makhluk abadi yang tak akan mati. Adikmu tercinta yang patriotismenya sudah terbukti mampu membuat ayah bertekuk lutut, bahkan ia rela mengarungi berpuluh-puluh kilometer dari rumah terpencil keluargamu yang aman hanya untuk memaksakan dirinya yang masih di bawah umur untuk mendaftarkan diri sebagai suka relawan. Sebagai seorang kakak yang sangat mencintainya, menemani dia melalui cobaan-cobaan maut, merupakan hal yang seharusnya bukan? Apalagi, ternyata bukan hanya kamu yang terpesona oleh patriotismenya, entah kebetulan atau kesengajaan, unit ini terdiri dari orang-orang yang benar-benar juga terpesona adikmu, dekat, juga tahu betul bagaimana bergeloranya kharisma adikmu itu. Sebuah pikiran terlintas dibenakmu, mungkin jika bukan terdiri dari kalian, maka sudah dari tadi unit ini bubar melarikan diri?

 

 

Di depan sana sudah terlihat persimpangan, yang jika dilanjutkan menanjak ke utara, akan membawamu ke markas musuh berada, di sebuah bukit setelah gunung penjepit, di mana di sisi lain gunung, akan ada rekan-rekanmu yang siap menyerbu, setelah tugas unitmu selesai di laksanakan. Tugas yang membuatmu, juga beberapa rekanmu  menanggalkan seluruh pakaian. Kemudian rekan-rekan yang tidak menanggalkan pakaiannya, mulai menghajar kalian hingga babak belur dan darah mengucur, bahkan memberikan beberapa tembakan di bahu dan lengan,  lalu kalian lari di atas aspal panas dengan tanpa alas kaki. Tapi itu semua terjadi setelah sebelumnya kalian berhasil merakit senjata yang disembunyikan pada kaktus menyanyi yang ada di jalan-jalan.

 

*

 

Perlahan melayu turun, kekokohan bangunan yang seakan sudah bosan berdiri tegak, kini bersujud mesra memeluk tanah sembari api secantik mati menari di punggungnya, membisikkan puisi keabadian pada jiwa-jiwa yang dengan tentramnya melambaikan tangan kepada dunia ini.

 

*

 

“Konfederasi memang biadab.”

“Selain tidak mau menghapus sistem perbudakan, mereka memperbudak tahanan!”

“Secara objektif unit, memang tujuan kita mempertahankan supply ini, namun secara garis besar, perang ini adalah untuk menumpas perbudakkan, oleh karena itu, sesungguhnya kita juga biadab jika membiarkan perilaku busuk seperti itu merajalela di dekat kita, jumlah mereka sedikit, aku rasa setengah orang dari kita cukup untuk membebaskan para budak itu, bagaimana?”

“Setuju.”

“Biarkan aku yang memimpin pembebasan itu!”

 

*

 

Informan sebelumnya menyatakan, jumlah musuh hanya tiga unit dengan masing-masing terdiri dari lima puluh tentara, sama persis dengan jumlah kalian.

 

*

 

Bukan sebuah serangan artileri, itu hanya suara kembang api di langit, di siang bolong. Yang menjadi tanda untuk dua unit dari timur dan barat, yang masing-masing berjumlah tiga puluh tentara, untuk menyerbu serentak. Dan setelah suara baku tembak mulai ramai, giliran unit dari utara, unit utama yang terdiri dari tujuh puluh tentara, mendobrak, menerobos, menggilas dengan peluru-pelurunya disiplin dalam membunuh.

 

*

 

Terbakar semuanya dalam kebijaksanaan yang lupa logika. Kecuali Adikmu yang sedang menyanyikan lagu kemenangan. Sendirian, tanpa teman, dan tanpa lengan.

 

 

 

 

 

 

 

  

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis anggra_t
anggra_t at Terbakar (7 years 22 weeks ago)
70

1. Suka dengan permainan katanya, tetapi...
.
2. ga gitu ngerti jalan ceritanya. setuju ama chie. Abstrak. keknya sih...
.
3. Lebih baik perjelas dikit lagi dan...
.
4. pisahkan kalimat-kalimat yang beranak cucu sampai bercicit itu jadi kalimat2 utuh. Supaya jadi lebih enak dibaca dan efeknya lebih terasa. Akhir kata...
.
5. Semangat, mit! >:)

Penulis AndravaMagnus
AndravaMagnus at Terbakar (7 years 22 weeks ago)
60

:v

Penulis smith61
smith61 at Terbakar (7 years 22 weeks ago)

gw bingung seng, sori akakakakakka

Penulis Chie_chan
Chie_chan at Terbakar (7 years 22 weeks ago)
80

Mit, ini oke. Beneran. Walau rada ngabstrak (as usual), saya ngerasa ngerti maksudnya dan dapat penggambarannya. Cuma apa ya, kalo seandainya dikau ngebagi paragraf-paragraf yang super tebel itu dengan lebih teratur, ini kayaknya bakalan lebih enak dibaca. Jauh.
.

Dan HAHAHAHAHA ada tag "jangseng gatel" di sana! =))

Penulis smith61
smith61 at Terbakar (7 years 22 weeks ago)

ngebagi paragraf tebel itu jadi teratur gimana caranya?

Penulis smith61
smith61 at Terbakar (7 years 22 weeks ago)

ah tinkyu~

Penulis Rea_sekar
Rea_sekar at Terbakar (7 years 22 weeks ago)
100

Enggak mau kasih poin.

Penulis smith61
smith61 at Terbakar (7 years 22 weeks ago)

lol

Penulis smith61
smith61 at Terbakar (7 years 22 weeks ago)
100

moin diri sendiri terlebih dahulu itu dianjurkan hag hag hag hag