Kunang-Kunang dan serpihan bintang

Kunang-kunang dan Serpihan Bintang.

Seorang pemuda bertubuh tegap terlihat sibuk merapikan buku-buku di rak bagian buku cerita anak. Dia melihat seorang anak duduk di sudut dan menangis tersedu-sedu.”Kok nangis?” tanya pemuda itu dengan ramah.
“Terpisah dari mamamu yah?” si anak menjawab dengan gelengan pelan.
“Lalu?” pemuda itu mengambil posisi duduk di sebelah bocah laki-laki yang mungkin baru berumur tujuh tahun. “Saya ingin membeli komik yang sama seperti milik teman-temanku.” Suara anak itu pelan dengan kepala menunduk sembunyikan air matanya.
“Kamu suka membaca?” si anak menjawab dengan anggukan.
“Mamamu tidak suka kamu membaca?” gelengan pelan kembali jadi jawaban.
“Mama tidak punya uang,” jawab bocah itu.
“Karena itu kamu marah pada mamamu?” pemuda itu menyodorkan tisu.
“Iya. Saya benci mama karena mama selalu bilang dia tidak punya uang. Dan karena itu saya selalu diejek teman-teman.” Bocah kecil itu menyobek tisu menjadi serpihan kecil.
“Kamu tahu, saya punya cerita tentang seorang anak yang membenci ibunya. Dia meninggalkan ibunya dan pada akhirnya dia menyesali keputusannya itu,” pemuda itu mengambil sebuah buku cerita bergambar yang sudah lusuh.

==

Desa Batu Payung

Desa Batu Payung adalah desa kecil yang masih dikelilingi hutan belantara dan sungai besar. Penduduknya bekerja sebagai petani, kehidupan mereka serba berkecukupan dengan rumah yang bagus kecuali sebuah rumah kecil yang sudah tua.

Di rumah kecil itu Libang tinggal bersama ibunya. Mereka hidupnya serba kekurangan sejak ayah Libang meninggal dua tahun yang lalu. Libang selalu diejek teman-temannya karena pakaiannya yang jelek dan pekerjaan ibunya sebagai tukang cuci. Libang hanya memiliki kekuatan, karena itu setiap kali dia diejek dia selalu menyelesaikan dengan adu tinju. Dan setiap saat pula ibunya harus menundukkan kepala meminta maaf kepada orang tua dari anak-anak yang dipukul oleh Libang. Sebaliknya orang tua anak-anak yang mengejeknya tidak pernah menundukkan kepala dan meminta maaf kepada ibunya karena telah mencemooh dirinya.

Libang benci dengan ketidak adilan yang diterimanya. Dia menyalahkan ibunya yang miskin. “Ibu tahu mengapa saya selalu penuh luka? Kenapa saya selalu berkelahi? Semua karena Ibu tidak mampu memberikan hidup seperti anak-anak lain.”
“Syukuri apa yang kita miliki, Libang,” ucap Ibu dengan lembut.
“Apa yang saya miliki, Ibu? Hanya sepotong tubuh yang kuat. Dan saya tahu cara terbaik untuk mengunakannya. Saya akan mengikuti pelatihan untuk menjadi prajurit kerajaan.” Sahut Libang.
“Menjadi prajurit akan sangat berat, Libang.” Ibu Libang menatap anaknya dengan perasaan sayang dan sedih. Dia takut kehilangan anaknya, karena dia tahu betapa kerasnya medan yang akan dilalui anaknya nanti. Akan ada masa di mana Libang harus menghadapi medan perang, marabahaya besar.
“Saya benci menjadi miskin, Ibu. Dan dengan kekuatanku akan kubuktikan saya bisa menjadi orang yang hebat dan berkuasa. Dengan kekuatanku sendiri, bukan karena siapapun. Bukan juga karena dirimu, Ibu.” Libang mengambil beberapa lembar pakaian lusuhnya dan berjalan keluar dari rumah.
Tak berapa jauh Libang mendengar suara langkah yang mengejarnya. “Ibu membungkuskan beberapa potong singkong untuk bekalmu.” Libang meraih bungkusan yang diserahkan ibunya. Tanpa mengucapkan apapun Libang kembali berjalan menuju tepian sungai untuk menumpang kapal milik Pak Cik Syarif.

Sekian lama Ibu Libang tidak bertemu dengan putranya. Setiap hari dia berdoa agar anaknya diberi kesehatan dan keselamatan. Dia memanjatkan doa kepada Tuhan agar Libang dapat berhasil seperti yang dicita-citakan anaknya. “Tuhan, tidak banyak pintaku. Jagalah putraku, bimbinglah dia dalam mengejar cita-citanya. Kirimlah malaikat untuk melindungi dia dari maut. Saya memohon padamu Tuhan, biarlah sayap-sayap malaikat memeluknya hangat agar tidak ada satu panah atau pedangpun yang mengores kulitnya. Biarlah semua sakit dan sedihnya, saya yang pikul.”

==
Libang awalnya hanyalah prajurit kecil. Namun dia begitu berani dan pintar dalam mengatur strategi sehingga dalam sekejap dia meraih kepercayaan dari atasannya. Setiap kali ada penyerangan Libang selalu saja lolos dari maut. Bahkan dia mampu mengalahkan pasukan raksasa yang merupakan musuh abadi kerajaan Batu Bintang. Semua orang mengatakan kalau Libang memiliki malaikat pelindung, “keberhasilanku semata-mata karena kehebatan dan kemampuan yang saya miliki.” Libang menjadi sombong dan besar kepala.

Setelah lima tahun, Ibu Libang mendengar berita dari tetangganya kalau anaknya telah menjadi seorang panglima besar. Libang begitu kuat dan pemberani. Dia maju ke garis depan pertempuran dan mempersembahkan kemenangan setiap kalinya. Libang bahkan berjasa menyelamatkan nyawa Raja Bujang Belian ketika diserang beberapa pemberontak saat dalam perjalanan ke kerajaan tetangga.

Ibu Libang begitu bangga dengan keberhasilan putranya. Dia terus mengucap syukur kepada Tuhan karena selalu melindungi dan memberikan rahmat berlimpah pada anaknya. Namun setiap tetangga sering kali bertanya kepada Ibu Libang, mengapa Libang tidak pernah menemuinya. Tidak memboyongnya ke kediaman Libang yang katanya begitu indah dan megah. Rumahnya dihiasi dengan perabotan mewah, memiliki puluhan pelayan serta makanan yang tidak akan pernah habisnya. “Saya lebih senang hidup di sini, tempat yang tenang.” Jawab Ibu Libang sambil tersenyum.
“Tapi, lihatlah betapa jauh berbeda kehidupanmu dan anakmu. Dia hidup mewah sedangkan kamu hidup serba kekurangan.” Kembali tetangganya bertanya.
“Anakmu itu anak yang tidak tahu membalas budi orang tua. Membiarkan ibunya yang tua dan sakit-sakitan hidup kesepian tanpa ada yang menjaga.”
“Bukanlah seperti itu. Sayalah yang menolak. Libang tidak pernah melupakanku seperti saya selalu mengingat dia.”

==

Istana Kerajaan Batu Bintang

Sang Raja duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap tiap bawahan yang sedang berlutut memberi hormat. Sebuah gerakan tangan memberikan isyarat agar semua boleh berdiri dan menempati tempat duduk masing-masing.

“Panglima Libang, saya akan menugaskan kamu untuk mengantar Putri Serayu ke kerajaan Kijing. Kamu harus memastikan keselamatan Putriku. Dan ingat kamu harus menemukan jalan pintas tercepat untuk sampai ke kerajaan Kijing. Bila tidak maka pernikahan Putri Serayu dan Pangeran Bayu, sebagai pengikat perjanjian damai akan batal dan kemungkinan besar dapat memicu peperangan dengan Kerajaan Kijing.”

Libang mengangguk dan menerima titah dari Sang Raja. Dia begitu bangga karena dipercaya melakukan tugas yang begitu penting. Berbagai persiapan dilakukan oleh Libang. Memilih pasukan terbaik, kuda terkuat serta berbagai peralatan. Libang menyusun rute perjalanan dan dia cukup terkejut mendapati jalan tercepat untuk mencapai Kerajaan Kijing harus melalui Desa Batu Payung, desa kelahirannya.

Libang teringat kehidupannya dulu, wajahnya tersenyum. “Ini saat yang tepat. Akan kutunjukkan kepada penduduk desa itu betapa hebat dan berkuasanya saya sekarang. Akan kupaksa mereka bersujud memberi hormat!” Libang lebih memikirkan cara untuk menunjukkan kehebatannya. Dia bahkan tidak pernah memikirkan untuk singgah dan menemui ibunya dalam perjalanan melewati Desa Batu payung.

==

Rombongan pasukan yang dipimpin Libang telah berjalan selama dua hari. Kemudian mereka menaiki kapal besar selama satu hari dan akhirnya tiba di desa Batu Payung. Libang sengaja menyuruh pasukannya untuk membunyikan terompet secara keras dan mengumumkan kedatangan Putri Serayu dan Panglima besar Libang. Dia juga mengharuskan semua penduduk di desa Batu payung berlutut memberi hormat. Seluruh penduduk desa berkumpul untuk melihat Putri Serayu yang kabarnya cantik serta Panglima Libang yang dulunya tinggal di desa mereka.

Libang berjalan melewati penduduk yang masih berlutut. Dia menatap sosok wanita tua. Namun segera saja Libang memalingkan muka dan menatap lurus seakan tidak pernah mengenal wanita tua itu.

“Persiapkan lagi bekal untuk perjalanan setelah itu kita akan langsung melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Kijing melalui Hutan Tak Berujung.” Penduduk yang mendengar perintah Libang mulai saling berbisik. “Mohon ampun, Panglima. Bukankah akan sangat berbahaya bila memasuki hutan tak berujung.” Ibu Libang mendekati Libang.
“Marabahaya apa yang perlu saya takuti. Segala macam peperangan dan lawan telah pernah saya kalahkan. Sepetak hutan tak berujung yang hanya merupakan cerita isapan jempol tidak dapat membuatku gentar. Dengan kemampuan dan keahlianku sendiri, akan kutaklukan hutan tak berujung!” Libang menyombong.

Para penduduk kembali berkata, “setiap orang yang masuk ke dalam hutan itu tidak pernah ada yang kembali ataupun terlihat lagi.”
“Itu karena mereka bodoh dan pengecut. Tidak mungkin panglima besar seperti saya bisa terperangkap di dalam hutan.” Libang tidak memedulikan peringatan dari Ibu dan penduduk.

Sebenarnya dia sering mendengar cerita tentang hutan tak berujung sedari kecil. Begitu banyak penduduk, prajurit bahkan peramal besar yang mencoba mencari tahu tentang hutan tak berujung, dan mereka semua tidak pernah kembali atau terlihat lagi. Tidak ada satupun yang selamat. Berdasarkan catatan dari ramalan seorang ahli nujum besar, begitu banyak mahluk gaib yang mendiami hutan tersebut. Ada Naga yang tertidur di dasar hutan. Ada pula Jejati, mahluk tanpa wujud yang akan mencuri masuk ke dalam pikiranmu kemudian menjelma menjadi sosok yang paling kamu rindukan. Belum ada yang tahu kebenaran cerita tersebut, karena tidak ada saksi hidup yang dapat membenarkan atau menyanggah cerita yang beredar. Oleh karena itu, tidak ada penduduk yang berani melewati hutan tak berujung walau jika melewati hutan tersebut maka perjalanan mereka menuju kota raja akan lebih cepat.

Rombongan Libang berderap gagah memasuki hutan tak berujung, hutan yang memeluk Desa Batu Payung. Libang tidak berhenti untuk mengucapkan salam ataupun menanyakan kabar ibunya, dia lebih memikirkan cara menyelesaikan tugas secepatnya. Karena semakin cepat mereka sampai, maka Raja Bujang Belian akan semakin mempercayainya.

Libang mengarahkan kudanya meleewati pepohonan yang tinggi dan rimbun. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Dikeluarkannya pedang dari sarung yang mengantung di pinggangnya. Libang mulai memberi tanda pada setiap batang pohon yang dilewati mereka. Sepuluh pohon ulin besar mereka lewati, kemudian kereta kuda yang berisi Putri Serayu dan pelayannya juga para pasukan berkuda serta Libang menyusuri rumpun-rumpun tanaman daun kulit kerang. Libang menyeka keringat yang menuruni dahinya. Matahari tidak terlihat di hutan tak berujung, cahaya sepertinya telah ditelan oleh rimbunnya dedaunan. Namun panas tetap menyengat, membakar kulit.

“Berapa lama lagi kita harus berjalan?” teriak Putri Serayu dari dalam kereta.
“Sebentar lagi, Putri.” Sahut Libang.
“Sesaat yang lalu kamu juga menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sama. Namun lihatlah, kita masih terus memutari pepohonan yang tidak jelas ini. Bukankah kamu memperkirakan kita akan keluar dari hutan tak berujung ini sebelum habis masa satu dupa?” cecar Sang Putri.
Libang terdiam dia bukan hanya tidak bisa menjawab pertanyaan Sang Putri tapi dia juga terkejut karena ternyata mereka kembali lagi melewati jalan yang telah mereka lalui. Hal itu diketahui Libang ketika melihat tanda yang dia buat pada batang pohon ulin dan gaharu.
“Maafkan hamba, Tuan Putri. Hamba akan berusaha mencari jalan agar dapat segera keluar dari hutan ini!” Libang bersujud.
“Panglima Libang, segera temukan jalan keluar bila tidak kita akan terlambat memenuhi perjanjian dengan kerajaan Kijing. Saya tidak ingin terjadi perang antara kedua kerajaan. Tidak boleh ada korban jiwa lagi.” Putri Serayu terlihat sedih.

Libang memerintahkan pasukannya untuk menebang pohon-pohon yang menghalangi pandangan. Pikirnya, dengan cara ini pasti jalan di seberang sana akan lebih jelas terlihat. Ternyata Libang salah, dalam sekejap saja pohon-pohon yang ditebang kembali menjulang tinggi. Semakin mereka berusaha menebang batang kayu yang tidak terpeluk oleh tiga orang sekalipun, maka pohon-pohon itu akan tumbuh kian tinggi.

Libang akhirnya memilih arah barat, berharap menemukan jalan lain menuju seberang hutan. Sungguh malang, pohon-pohon ulin yang menjaga hutan tersebut sengaja menyesatkan jalan mereka. Para pohon ulin sengaja berpindah tempat, membentuk labirin. Semakin Libang dan rombongannya berjalan, semakin tersesat pula mereka. “Kau dengar suara itu?” Putri Serayu merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada suara nyanyian yang begitu pilu. Mereka sama sekali tidak menduga suara itu berasal dari Baliang, sosok yang berwujud wanita cantik dengan kulit sepucat rembulan. Suaranya nyanyiannya berupa tangisan kesedihan akan mimpinya yang tak dapat terwujud. Suara itu seakan menghipnotis mereka.

Pasukan Libang berdiri ketakutan. Mereka saling merapat, demikian halnya pula Putri Serayu. Belum lagi suara Baliang hilang, mereka kembali dikejutkan oleh kabut yang menyelimuti pandangan. Tiba-tiba saja prajurit-prajurit, para pelayan dan putri Serayu menjadi bertingkah aneh. Ada yang menangis sesengukan, ada pula yang tertawa. Mereka larut dalam mimpi yang ingin mereka lihat. Kiranya rombongan itu telah bertemu dengan Jejati. Mahluk yang menjerat mereka dengan mimpi indah sehingga mereka terlena. Terseret dalam mimpi yang semu dan akhirnya lenyap tak berbekas dari dunia nyata. Libang berusaha menghalau mimpinya. Namun akhirnya dia kalah oleh mimpi yang terlalu indah.

==

“Pasukan dari kota raja datang untuk menanyakan tentang Putri Serayu!” teriak Pak Cik Syarif.
“Ada apa yah? Bukankah lima hari yang lalu baru saja pasukan yang dipimpin Panglima Libang datang ke desa ini,” sahut penduduk yang lain.
“Dengar-dengar kabar yang beredar, Putri Serayu belum juga tiba di kerajaan Kijing. Dan utusan dari kerajaan Kijing mengirimkan surat melalui merpati pos. Mereka memberi waktu tiga hari, jika dalam tiga hari Raja Bujang Belian tidak bisa memenuhi janjinya maka pasukan dari Kerajaan Kijing akan mengepung kerajaan Batu Bintang!” sahut seorang Tetua desa.

Ibu Libang merasa terkejut. Dia mencemaskan mengenai perang yang akan terjadi, tetapi dia lebih mencemaskan keselamatan anaknya yang tidak ada kabarnya lagi setelah memasuki hutan tak berujung. “Kita harus cari mereka!” usul Ibu Libang. Tapi penduduk desa mengeleng. Mereka terlalu takut masuk ke dalam hutan itu. Lagipula bahkan Panglima sehebat Libang pun tidak dapat keluar dari hutan tak berujung, apalagi mereka.
Ibu Libang segera berlari menuju rumahnya dan keluar dengan membawa sebuah bungkusan berisi makanan dan minuman serta sebuah obor. “Ibu Libang janganlah kau masuk ke dalam hutan tak berujung. Sia-sia.” Nasehat Tetua Desa.
“Saya harus melakukannya. Saya akan mencari putraku,” Ibu Libang. Para penduduk hanya dapat melihat punggung wanita tua itu hilang ditelan lebatnya hutan.

Ibu Libang berjalan sambil terus memanjatkan doa. “Tuhanku selamatkanlah anakku dan putri Serayu yang dikawalnya. Berikanlah dia kekuatan agar mampu melewati semua rintangan.”
Ibu Libang terus berjalan, sesekali dia berbicara pada pohon-pohon ulin serta tanaman yang ada di dalam hutan. Walau mereka tetap diam dan enggan menjawab. “Wahai roh pohon ulin, mohon bantulah wanita tua ini. Antarkanlah saya kepada anakku, Libang.”

Telah dua hari lamanya Ibu Libang mengitari hutan. Langkah wanita tua itu semakin payah. Ibu Libang terjatuh, kakinya terluka dan berdarah. Tubuhnya lemah dengan lapar yang menyerang. Namun Ibu Libang tidak mau menyentuh bekal yang dia bawa. Semua bekal itu dia persiapkan untuk putranya.

Kantuk pun mulai mengodanya. Sesaat sebelum dia hampir terlelap dia mendengar suara nyanyian Baliang. Ibu Libang mencoba membalas nyanyian tersebut.

Pada langit penuh bintang gemerlap
Saya berdoa dan meratap
Berharap dapatkan bersua dan menatap
Buah hatiku walau sekejap

Bila air mataku dapat membasuh sedihnya
Maka kan kuberikan tiap tetes yang ada padaku
Jika tubuh renta ini bayaran yang dipinta
Iklas kuserahkan untuk nafas putraku

Baliang mendengar senandung Ibu Libang. Dia mendekati wanita itu, “Putramu tidak pantas mendapatkan air matamu.”
“Air mata seorang ibu tidak untuk menilai pantas atau tidaknya putranya.” Sahut Ibu Libang lembut.
“Pergilah ke barat daya. Rumpun bunga tetes hujan akan menuntun langkahmu.” Baliang akhirnya memberikan petunjuk tanpa menuntut bayaran kepada Ibu Libang.

Ibu Libang kembali berjalan dengan obor yang mulai meredup cahayanya. Dia memaksa menyeret langkahnya, walau tubuhnya telah lelah. Dia berusaha menemukan dan menolong putranya. Namun tubuhnya yang telah renta mencapai batas. Akhirnya wanita tua itu terjatuh. Untuk bernafaspun sulit, akan tetapi Ibu Libang masih berusaha untuk bangkit. Seekor kunang-kunang mendekati cahaya obor milik Ibu Libang. “Mengapa kau bersusah payah untuk anak yang tidak menghargai dan tdak pernah membalas kebaikanmu.” tanya kunang-kunang.
“Saya tidak pernah mengharapkan balasan atas semua kasih sayang. Hanya ini yang dapat kuberikan. Doa dan cinta,” jawab Ibu Libang lirih.
“Saaya sangat ingin membantumu. Tapi apalah daya, ketahuilah saya adalah serangga yang dihukum. Tidak dapat melihat dalam gelap. Dan dilempar ke hutan ini yang selalu diliputi gelap setiap harinya.” Ucap Kunang-Kunang.
“Andai kita dapat meminjam cahaya bintang,” tambah Kunang-Kunang.

Ibu Libang tersenyum. “Kamu begitu baik hati Kunang-Kunang. Bila saya dapat meminjam cahaya bintang, maukah kamu menuntun anakku menuju jalan keluar dari hutan tak berujung?”
Kunang-kunang mengangguk.

“Wahai bintang di langit, aku mohon pinjamkanlah sedikit cahayamu. Kutukarkan jiwa renta ini untuk serpihan cahaya yang akan dibawa Kunang-Kunang baik hati ini untuk menuntun jalan yang dilalui anakku.” Pinta Ibu Libang pada ribuan bintang yang menghiasi langit malam.
“Ibu Libang, saya melihatmu setiap harinya selalu mendoakan keselamatan anakmu. Dan kembali saya melihat cinta kasihmu yang tulus kepada putramu. Karena ketulusanmu, saya akan memberikan serpihan cahayaku kepada Kunang-Kunang agar dia bisa menolong putramu.” Jawab Peri Bintang. Sebuah serpihan bintang melesat turun dari langit dan masuk ke dalam tubuh Kunang-Kunang.

Dalam sekejap tubuh Kunang-kunang mengeluarkan cahaya yang terang. Ibu Libang tersenyum. “Terima kasih, Peri Bintang.” Ibu Libang tersenyum.
“Kunang-kunang, aku mohon bantulah putraku. Tapi jangan ceritakan padanya tentang diriku. Saya tidak ingin membebani pikirannya.” Dan Ibu Libang pun menutup mata. Tertidur dalam lelah perjalanan panjang hidupnya.

Kunang-Kunang pun melaksanakan janjinya. Mencari Libang dengan bantuan dan petunjuk penghuni hutan. Ketika Kunang-Kunang bertemu dengan Libang dan rombongan, terlihat mereka telah menjadi pucat dan lemah. Kunang-kunang membangunkan Libang dari mimpi panjangnya. “Berapa lama sudah aku terjerat mimpi?” teriak Libang.
“Sudah berhari-hari. Sekarang sudah saatnya kita keluar dari hutan ini. Saya akan menuntun kalian,” ucap Kunang-kunang.

==

Akhirnya Libang dan Putri Serayu berhasil keluar dari hutan tak berujung dengan bantuan Kunang-Kunang.

Setelah mengantar Putri Serayu ke kerajaan Kijing. Libang kembali melewati hutan tak berujung dengan bantuan Kunang-Kunang. Dia kembali dengan selamat ke rumahnya. Mendapatkan pujian dan hadiah dari Raja serta dielu-elukan rakyat.
Sifat Libang tidak juga berubah. Dia menyombongkan kehebatannya dalam menaklukan hutan tak berujung. Bahkan mengarang cerita tentang perjuangannya melawan berbagai mahluk mengerikan di dalam hutan tersebut. Dia mengelar pesta atas keberhasilannya, mengundang semua orang untuk bersuka ria.

Penduduk desa Batu Payung merasa sedih melihat Libang yang berpesta sementara Ibunya menghilang di dalam hutan tak berujung. Akhirnya Tetua desa memutuskan untuk mengabari Libang. “Hormat kepada Panglima Libang. Hamba ingin menyampaikan bahwa Ibu anda menghilang. Dia memasuki hutan tak berujung beberapa hari yang lalu,”
“Saya terlalu sibuk mengurusi hal sepele seperti itu!” sahut Libang.
“Tidakkah anda seharusnya memimpin pasukan untuk mencari ibu anda, Panglima Libang?” Tetua desa mengeleng tak percaya mendengar jawaban Libang.
“Dan membuatku repot? Saya rasa tidak perlu.” Seru Libang.
“Ibu anda menghilang di hutan karena ingin membantumu,” suara Tetua desa terdengar penuh emosi.
“Saya tidak pernah menyuruhnya masuk ke dalam hutan. Tanpa bantuannya saya bisa menaklukkan hutan tak berujung. Lihatlah akibat dari perbuatannya sekarang ini, pada akhirnya dia hanya membuatku terbebani saja!” Libang mendengus kesal.

Semua orang terdiam melihat sikap Libang yang sombong. Kunang-kunang yang saat itu mendengar ucapan Libang segera melapor kepada Peri Bintang. Peri Bintang tidak bisa menahan amarahnya. Peri Bintang turun dari langit untuk menemui Libang saat itu juga.

“Libang, kamu sungguh anak yang sombong dan durhaka. Tahukah kamu bahwa setiap harinya kamu selalu dilindungi oleh untaian doa yang dipanjatkan oleh ibumu, bukan karena keberuntungan dan keahlian berpedang yang kamu miliki. Dan tahukah kamu mengapa tiba-tiba saja ada Kunang-Kunang bercahaya yang menuntunmu keluar dari hutan tak berujung? Semua itu karena semua penghuni hutan, Kunang-Kunang dan saya begitu tersentuh oleh ketulusan kasih sayangnya kepadamu. Bahkan cinta ibumu telah mengetuk hatiku, sehingga membuat saya rela memberikan serpihan cahaya bintang kepada Kunang-Kunang.” Peri Bintang menatap Libang.

Wajah Libang terkejut tak percaya. Libang berusaha terlihat tenang saat Peri Bintang kembali menghakiminya, “lihatlah apa yang dia dapatkan setelah mencurahkan seluruh jiwa raganya. Anak yang dikasihinya bahkan tidak peduli pada dia.”
“Ibu …” ucap Libang lirih.
“Saya ingin bertemu dengan Ibu.” Pinta Libang.
“Terlambat sudah. Tubuhnya telah renta serta dia terlalu lelah mencarimu tanpa beristirahat sekejap pun, dia sudah pergi selamanya. Kamu tidak perlu mencari jasad Ibumu, karena saya telah membawanya untuk menempati salah satu bintang yang bersinar paling terang.” Jawaban dari Peri Bintang membuat Libang menyesali setiap perbuatannya.

Ternyata selama ini dia selalu dilindungi oleh doa ibunya yang tulus. Sesumbarnya tentang kekuatan dan kemampuannya yang hebat, kalah jauh dari keajaiban cinta kasih Ibunya.

Namun semua telah terlambat. Dia bahkan tidak dapat bertemu Ibunya untuk terakhir kalinya. Meminta maaf atas semua kesalahannya. Menebus setiap waktu yang dia sia-siakan, menelantarkan Ibunya hanya untuk kekayaan.

“Langit menghukummu dalam keabadian. Kamu akan terus berkelana di dunia ini tanpa dapat beristirahat. Kamu harus mengabarkan cerita tentang kasih Ibu kepada anak-anak.” Peri Bintang meniupkan serbuk bintang ke tubuh Libang.
==

Pemuda itu menutup buke cerita bergambar dan memberikan senyum penuh kasih kepada anak kecil yang duduk di sampingnya. “Cari Mamamu dan minta maaflah kepadanya. Jangan pernah menyia-nyiakan kasih sayang Mamamu. Jangan pernah menjadi Panglima Libang yang baru menyesali semuanya setelah terlambat.”
“Bahagiakanlah Mamamu mulai dari sekarang, bukan nanti, besok atau setelah kamu sukses.”
Bocah laki-laki itu berdiri dan menghapus air matanya. “Terima kasih. Saya berjanji akan membahagiakan Mama dan tidak membuatnya bersedih lagi.” Janji bocah kecil itu. Sebelum keluar dari pintu toko buku, bocah kecil berbalik dan melambaikan tangannya.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas punggung miliknya. Kotak itu berpendar, cahaya kuning keemasan terlihat. “Kunang-Kunang, satu anak lagi telah mendengar kisah tentang kita.”

==

Read previous post:  
Read next post:  
Writer mizz_poe
mizz_poe at Kunang-Kunang dan serpihan bintang (6 years 16 weeks ago)
60

aiiiih, menarik cuma kerena jenis fiksi yg gak saya suka. berasa inget Dee dan akar dan entah2nya itu..

Iya iya :)

2550

ini kan yang di kastil fantasy ntu mak... pesan moralnya bagus banget...

Writer suararaa
suararaa at Kunang-Kunang dan serpihan bintang (7 years 20 weeks ago)
100

tante cat... lama tak baca ceritamu...
sungguh kali ini ceritamu sangat menyentuh...
sukaaaa..........................

100

Ceritanya keren...

GImana caranya ngirim cerita ke Kemudian.com?

Writer mizz_poe
mizz_poe at Kunang-Kunang dan serpihan bintang (6 years 16 weeks ago)

lhah, mbok dibaca peraturan2nya.. (trus br nyadar ini ud setaun lebih, ud nyadar kali y doi..)

100

muantab....

100

keren bgt... menyentuh...
jadi pingin cepet pulang truz meluk ibuk sambil bilang, " aku sayang ibuk..." huwaaaaaaa... :'(

90

huhuhuhu... ibu... T.T
inti cerita n pesan moralnya meresap banget.
cuma nggak aku kasih poin 10, karena ada typo~
hehe, salam

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Kunang-Kunang dan serpihan bintang (7 years 21 weeks ago)
90

komennya udah di YM dan FB ya mak
jadi nitip poin aje :p