Kebakaran..kebakaran.. (salah satu cerita lawas)

 

Drama…….

Panggung merupakan rumah yang sedang terbakar, dipenuhi oleh orang-orang yang berperan sebagai warga sekitar. Dipenuhi oleh ember yang tidak berisi apa-apa. Panggung juga menampakkan isi rumah yang sudah berantakan oleh benda-benda yang terbakar. Benda-benda di cat merah agar nampak seperti benda yang berapi.

…….

Riuhnya warga sekitar mulai menambah ributnya kampung Suka Maju. Ternyata sedang terjadi kebakaran yang telah terjadi selama satu jam. Warga sudah bahu membahu untuk memadamkan si jago merah yang sudah melahap 5 rumah sebelumnya.

Ibu       : bagaimana ini ayah, kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi?

Ayah   : kamu jangan memikirkan itu dulu, sekarang pikirkan bagaimana kita menyelamatkan barang yang belum hangus?

Ibu       : ibu sudah pasrah pak.

Ina       : bagaiman sih ibu ini, jangan pasrah dulu. Jangan berhenti selama masih ada kesempatan. Daripada merenungi nasib, lebih baik ibu membantu kami mengangkat air.

Ibu       : baik (kata ibu dengan semangat)

Warga yang berbaris layaknya upacara, mempercepat padamnya api.

Tiba-tiba Ina masuk kedalam rumah yang belum sepenuhnya padam. Ina mau mengambil

boneka kesukaannya. Boneka hadiah temannya yang telah pergi ke luar kota. Dia berani

karena dia mengira api sudah padam.

Ibu       :aduh, nekat amat nih anak. Yah gimana nih. Takutnya si Ina kenapa-kenapa.

Ayah   :sebaiknya ibu membantu memadamkan api. Biar ayah yang masuk ke dalam.

Tiba-tiba, Doni salah satu teman Ina merelakan diri untuk masuk ke dalam.

Doni    :gak usah pak, saya saja. Saya kan masih muda lebih cepat larinya.

Ayah   :tapi kamu hati-hati ya nak.

Doni masuk ke dalam rumah yang separonya sudah hampir habis. Dia berlari ke dalam

sambil membawa air seember guna mematikan api yang ada di sekitar Ina.

Di dalam rumah..

Doni    : Ina!!! Ina!!!(teriak Doni). Dimana kamu?

Ina       :aku ada di kamarku. Di sebelah sini.

Doni    :kamu baik- baik saja?

Ina       :iya, tapi aku tidak bisa keluar. Aku dihambat kayu yang terbakar di depanku.

Doni    :sabar. Aku akan ke tempatmu.

Doni    :aku akan mematikan api ini dengan air ini. Jika belum padam kamu matikan dengan selimutmu.oke?

Ina       :baiklah.

Doni    :3..2..1  (Doni membuang air ke arah kayu itu). Apinya padam, sebaiknya kamu segera keluar dari kamar kamu.

Ina       :baik, kamu tidak apa-apa kan?

Doni    :aku baik. Sebaiknya kamu tetap membawa selimut itu. Untuk menjaga kita dari atap yang runtuh.

Sambil berjalan…

Doni    :apinya berasal dari mana?

Ina       :aku tidak tahu. Aku takut api ini mengenai gas kami yang berada di belakang.

Doni    :aku harap juga begitu.

Ina       :sepertinya api semakin kecil.

Doni    :apakah kalian sudah menghubungi pemadam kebakaran?

Ina       :sudah, tapi mereka belum datang. Aku tidak tahu apa hambatan mereka di jalan.

Doni    :aku rasa kita juga punya hambatan ke luar dari sini. Kayu-kayu ini berasal dari mana?

Ina       :ini kayu yang berasal dari ruang atas. Ruang atas terbuat dari kayu semua. Cepat kita harus segera keluar, matikan api itu dengan selimut ini. Sebelum terlambat

Doni    :aku mendengar bunyi krekk, oh my god. Sini selimutmu. (Doni menutup api itu dengan selimut)

Ina       :cepat ini tidak akan bertahan lama.

Mereka berdua loncat dan langsung berlari ke pintu depan. Mereka berhasil ke luar.

Sesampainya di luar.

Ibu       :kamu tidak apa-apa Na?

Ina       :aku baik bu. Makasih ya Don. Kamu baik.

Doni    :gak apa-apa.

Liu..liu…liu… bunyi dari mobil kebakaran yang mendekat. Semua warga menjauh dan

membiarkan para pemadam kebakaran melakukan tugasnya. Tak lebih dari 15 menit api

sudah dapat dipadamkan.

Ayah   :terima kasih ya pak. Tapi apa yang mengahambat bapak-bapak di jalan sehingga

bapak terlambat datang  kemari.

Bapak pemka  :kami terhambat pohon yang tumbang di depan Jalan Kikir.

Ayah   :oo..

Ibu       :terima kasih sekali lagi ya pak.

Ayah   :sebaiknya kita masuk dulu pak, kami masih punya ruang tengah yang belum hancur.

Bapak pmk      :tak usah pak, kami masih punya pekerjaan yang lain.

Ayah   :ya sudah, makasih ya pak.

Tak berapa lama bapak PMK sudah pergi mambawa truk yang berisi beri galon air. Ayah

dan ibu serta Ina masuk ke dalam rumah. Mereka hendak berberes.

Di rumah…

Ina       :bu, sebaiknya kita besok ke rumah nenek di desa sebelah.

Ibu       :iya, ibu juga sudah berpikir seperti itu. Ayah dan warga sekitar akan memperbaiki rumah kita. Sebelum selesai kita akan tinggal di rumah nenek.

Ayah   :mana Andi. Kok belum pulang?

Ibu       :dia belajar kelompok.

Andi masuk ke dalam rumah dengan perasaan terkejut.

Andi    :ada apa ini? Seperti habis kebakaran. Apa memang kebakaran.

Ina       :bodoh kamu. Ya habis kebakaranlah. Jadi maksud kamu habis apa? Gempa? Tsunami?

Andi    :oke, kalian ngak apa-apa kan. Sorry aku terlambat. Eh ada Doni. Ngapain? Ngapel. Gak tau kami sedang berduka? Sebaiknya kamu keluar sebelum aku mengusirmu!!

Ina       :ih, kakak. Dia malah ngebantu kita kak. Dia tadi nolong aku. Dia mau ngebahayain diri dia buat nolongin aku.

Andi    :wajar lah dia nolong kamu. Dia kan pacar kamu.

Ina       :udahlah kak, jangan sampai ibu tau. Nanti aku dimarahin lagi.

Andi    :eh, kamar ku ngak apa-apa kan. Aku naruh semua surat berharga kita di lemari aku.

Ina       :apa!! Kakak. Udah gila ya. Ayo kita kekamar kakak. Kenapa ngak ditaruh dilemari besi kita.

Doni    :untung gak punga abang saraf.

Di kamar kakak.

Ina       :di mana abang taruh.

Andi    :di dalam lemari. (Andi membuka lemari yang tinggal 10 % lagi).

Saat Andi membuka lemari. Lemari itu jatuh menimpa Ina. Untung ngak apa-apa.

Soalnya yang nimpa Cuma kerangka lemari.

Andi    :ini dia tasnya. Untung suratnya aku simpan di dalam.

Ina       :mana suratnya?

Andi    :untung aja… ha..ha..ha…

Ina menatap Doni dan mereka berdua juga tertawa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post