Sajak Mitologi Arkeolog - Bab II

BAB II

Banyak yang mengatakan, kastil Basilikka seperti museum dengan labirin. Keunikannya ini membuat beberapa Arkeolog ingin meluangkan waktu untuk menjelajahi Kastil ini. Sang Raja juga telah mengijinkannya. Kelompok terpisah dua: Fyree dan Geonigmus yang tidak ikut jelajah dan rombongan Okto beserta Siuro. Dan sebagai pengantar jelajahnya adalah Riesling –yang jelas-jelas memberi kerut tak suka.

 

Riesling Dragini berjalan di depan. Langkahnya cepat dan sama sekali tidak memberi waktu bagi para Arkeolog untuk sekedar mengagumi karya bersejarah. Ia tidak berbicara saat menuruni tangga. Juga tetap tidak berbicara saat memasuki pintu bertuliskan Arkeomagtika.

“Wow! Sudah lama sekali tidak melihat tali sling-sling!” Ujar Siuro saat memasuki ruangan yang dipenuhi oleh beragam jaring-jaring tali yang menggantung potongan-potongan kayu. Dan baru kali ini Riesling menanggapi.

“Tidak ada yang bisa digunakan,” ujar Riesling. “Semua aktivitas peneliti hanya  memakan uang demi sebuah benda.”

“Oh, tapi senjatamu juga merupakan benda temuan bukan? Karya intelektual memang selalu membutuhkan aset untuk penciptaan, Kolonel Riesling,” balas Okto.

“Itu bila yang dibuat demi masa depan.”

“Pada dasarnya temuan Arkeolog membahas masa depan dari sebuah masa lalu. Kita belajar dari sejarah,” tambah Okto.

“Dan sejarah pada dasarnya tidak mengajarkan kebencian,” balas Riesling. Ia membalikkan badannya dan kembali melangkah meninggalkan Arkeolog. Kembali para Arkeolog mengejar langkah cepat Riesling.

 

Mereka masuk semakin dalam. Pintu demi pintu dilalui dan sampailah mereka di ruangan besar yang berisikan banyak kotak kayu berbagai jenis. Kotak-kotak tersebut ada yang dibungkus dan tergantung di langit-langit.

“Rasanya aku tahu kemana kau akan membawa kami,” terka Siuro.

“Kolonel Riesling,” balas Riesling.

“Kau pasti ingin membawa kita ke Kotak Kantung Jatuh, kan?” Tanya Siuro lagi.

“Haruskah kutegaskan padamu kembali, Siuro Hunchva? Dalam misi ini kau harus memanggilku Kolonel Riesling.”

“Aku tidak ikut Kotak Kantung Jatuh!” balas Siuro, kembali mengacuhkan pernyataan Riesling barusan. Gadis itu dengan enteng menarik tongkat besi dari pinggangnya. Tongkat itu dalam sekejap bertengger di kening Siuro.

“Belajar untuk hormat, Siuro Hunchva.”

“Tapi aku serius tidak ingin ikut Kotak Jatuh itu! Memangnya salahku apa sampai harus ditodong begini? Pakai diminta hormat-hormat segala pula!”

“Kupingmu bermasalah?”

“Kolonel Riesling, bolehkah kau melepaskan Siuro muda? Dia hanya ingin berpacu cepat dengan Kotak Kantung Jatuh,” Ujar Okto menengahi mereka berdua. “Bukan begitu, Siuro muda?”

“I-iya… begitu-” ujar Siuro.

“Lain Kali Ucapkan Namaku Dengan Benar!” ujar Riesling sembari menggores kening Siuro. Corak merah dan panas tertera. Siuro nyaris memaki-maki kesal andai Okto tidak menahannya.

 

Riesling terlihat tak peduli. Ia secepatnya mengantar para Arkeolog ke lokasi Kotak Kantung Jatuh.

Para Arkeolog ternganga. Sesuai namanya, Kotak Kantung Jatuh adalah alat untuk ‘Jatuh’ dengan menggunakan kotak dari kayu. Besar. Ukuran pintunya saja setinggi dua kali manusia. Sekali pandang saja terlihat ukuran kotak itu dapat memuat dua puluh orang lebih. Di dekat kotak berkumpul para ahli Arkeomagtika yang siap memasang peralatan keamanan.

“Ini aman? Mengapa kita harus memakai baju pengaman dari kulit setebal ini? Dan mengapa kita harus masuk dalam kotak kayu yang diselimuti pula oleh Kain Kayu?” sanggah Argen.

“Ini aman. Para Arkeomagtika telah memberi kepastian. Tidak seperti temuan kalian,” tegas Riesling lagi. Tidak ada yang mendebat. Mereka pasrah saja mengikuti prosedur pemasangan peralatan keamanan.

“Kami juga menggunakan Kotak ini dalam latihan Paralayang,” tambah Riesling sembari mengomando mereka satu persatu masuk dalam kotak.

Kotak ditutup. Para ahli Arkeomagtika mengeluarkan bola Levos. Bola ini adalah salah satu katalis penggunaan energi elemen di seantero benua. Mereka menekan-letupkan bola Levos. Bola tersebut mengeluarkan asap berwarna jingga. Satu persatu dari mereka menghirup asap tersebut. Warna mata mereka berubah sesuai warna asap. Kondisi ini membuat mereka dapat mengerti beberapa ‘kalimat’ alam.

Mereka mulai merapalkan kalimat-kalimat yang mereka lihat. Asap-asap warna jingga mengeras dan membungkus Kotak Kayu dan membuatnya tertutup dengan keras. Bunyi derak membuat beberapa Arkeolog di dalam bersumpah serapah atas nama dewa. Mereka menanti kalimat penenang dari Riesling.

“Sebelum turun, harus kuingatkan bahwa guncangannya bisa membuat Ensquare yang terlatih pun muntah.” Ucapnya sembari menutup pintu kayu. Gelap. Dan suara erangan mereka tak lagi terdengar dari luar saat kotak kayu besar itu terjatuh bebas.

***

“Untunglah firasatku benar,” ujar Siuro memandangi Kotak Kantung Jatuh. “Loh, mengapa pak tua Okto tidak ikut bersama mereka? Karena firasat juga?”

“Karena aku sudah tahu Kotak Kantung Jatuh. Benda itu hanya memberi pening di kepala saja,”

“Terus bagaimana cara pak tua Okto turun?” Tanya Siuro sembari memainkan asap berwarna jingga.

Okto memandang ke bawah. Jauh di bawah sana terlihat kilau-kilau asap hijau. Itupun sudah membuat pepohonan terlihat bagai semut. Okto mengusap jenggotnya. Dan  sebelum ia sempat berkata apa-apa tiba-tiba saja Siuro sudah menariknya terjun bebas –tanpa sempat dicegah para ahli Arkeomagtika.

“Dasar Siuro muda,” gumam Okto. Ia memperhatikan saja bagaimana Siuro mengambil buah Levos berwarna hijau dari saku kantungnya. Buah tersebut diremas dan dipecahkan. Asap berwarna hijau muncul. Siuro menghirup keseluruhan asap tersebut sembari terus terjun. Ia belum membuka Paragium – mantel khusus yang terbuat dari kayu besi Ara. Satu, dua, tiga baris kalimat lapat meluncur dari mulut Siuro.

 

“Meluncur!” jerit Siuro senang saat bilah-bilah pelangi keluar dari Paragium, mendorongnya lebih cepat.

 

Kecepatan jatuh mereka bertambah. Di lain sisi, Kecepatan Kotak Kayu melambat. Asap-asap hijau itu memperlambat lajunya. Siuro akan segera menyusul Kotak Kayu Jatuh.

Hidung Siuro mendahului jatuhnya Kotak Kayu Jatuh. Ia menyeringai sebelum menjengkitkan alis. Dengan cepat ia meliukkan tubuhnya keatas.

 

Udara menghembus dahsyat saat Paragium menolak tubuh Siuro dan Okto kembali ke atas. Okto mengeluarkan empat lengan dan melompat turun. Ia menjejak tanah terlebih dahulu. Diikuti oleh Kotak Kayu Jatuh yang berderak saat mendarat di landasan empuk. Siuro menjejak tanah terakhir.

“Ah, rupanya aku kalah cepat! Padahal tadi sudah tersusul.”

“Kalau kau tidak membawaku, kau pasti menang, Siuro Muda.” Pungkas Okto membuat Siuro cengengesan. Lalu bagaimana nasib Arkeolog lain?

 

Para Arkeolog yang keluar dari Kotak Kayu Jatuh. Jalan mereka gontai dan beberapa bahkan muntah-muntah.

“Apa yang kalian hadapi nanti mungkin akan jauh lebih daripada sekedar mual-mual. Kalau hanya seperti ini saja kalian tidak kuat, jangan harap kalian bisa selamat,” putus Riesling yang keluar dengan tegar.

“Hey, kami juga tahu cara melawan monster atau lari kok. Jangan samakan kami dengan barbar penyuka perang dong!” sungut Siuro.

Riesling membalikkan badan. Udara disekitarnya berubah tajam. Siuro menelan ludah. Sepertinya ia menyadari telah melakukan kesalahan tolol.

“Penyuka perang?” Riesling melangkah cepat mendatangi Siuro. “Tahu apa kau soal perang?!”

Sebuah tongkat kembali mendarat diam di kening Siuro. Sekali lagi pemuda itu tak berkutik. Atau… tidak, ia sengaja tidak berkutik. Ia sudah siap membalas. Di jemarinya sudah terjepit empat pasang Penyapu Residu. Dan mata Siuro kali ini jelas-jelas menantang Riesling.

Siuro menyeringai. “Aku cukup tahu,”desisnya pendek. Dan kali ini Riesling yang kecele. Dua dari  delapan Penyapu Residu tegang menancap di tongkatnya. “Dan aku cukup tahu kalian militer sangat gemar berperang,” tambah Siuro mengulurkan nada tak suka dari lidahnya.

Suasana berubah mencekam. Siapakah yang akan menghentikan pertikaian ini?

 

“Menjauh!!”

Sontak Siuro dan Riesling tertarik paksa oleh kuasa yang luar biasa. Yang menarik mereka menjauh tak lain adalah Fyree Talle. Oh, borgol gadis itu tak lagi diaktifkan. Rantai-rantai yang menjembatani borgol sudah dihapus. Yang tersisa hanyalah Tabung Borgol saja. Dan penampilannya berubah drastis. Rambutnya masih terikat tegak tapi kali ini mereka –yang tak kenal Fyree- memandangi pada ‘ekor’ yang berayun saat Fyree berjalan mendekati Riesling. Gadis tinggi itu mendengus.

“Ling, Kau i-“

“Tak perlu kau ceramahi kami dengan dongeng-dongengmu, Talle,” potong Riesling dingin. Ia menjauh dari perdebatan. Tapi sebelum ia sempat melangkah, Okto lebih dahulu menghalangi.

“Dengan hormat, Kolonel Riesling, Arkeologi tidak sama dengan pekerjaan kalian. Kami tidak memacul atau menebang seperti kalian para prajurit, kami menyapu. Dan apa yang kami sapu selalu berakhir bersih.”

 

Okto pun menunjuk pada sebuah rajah dari Penyapu Residu yang ditancapkan di tanah. Simbol-simbol di tanah menyala ungu terang. Dalam setiap beberapa waktu muncul riak gelombang seolah tanah terubah menjadi cair.

“Kolonel telah berbaik hati memberikan kami pelajaran tentang Paralayang, sekarang sudilah Kolonel merasakan apa yang kami kerjakan. Silakan coba metode Sigma Deteksi kami agar mengerti medan yang kami hadapi.”

Riesling terdiam hening. Ia melirik Fyree sekilas.

“Maafkan ketidakdisiplinan dan ketidaktahuan saya yang masih muda ini,” ujar Riesling sembari menjura.

 

“Cih, pintar,” dengus Fyree. “Akui saja kau tidak mau dipermalukan karena gagal mendeteksi, Ling.”

Riesling tak menjawab. “Hey, Ling! Sampai kapan kau terus berlaku seperti itu, heh!” Fyree menarik tangan Riesling. Kolonel muda itu menjawab dengan menepis tangan Fyree.

“Kalian punya waktu sampai waktu Bunglon[1] tiba. Manfaatkan dengan baik untuk bersiap-siap dan mengirim kabar,” ucap Riesling.

Riesling meninggalkan mereka dengan langkah cepat. Fyree mengejarnya. Sempat terdengar beberapa teriakan keras dari gadis muda itu. Tapi entahlah apa yang Riesling balas.

“Ini akan menjadi perjalanan yang menyulitkan,” ujar Okto sembari menggeleng-geleng kepala.

“Oh, tapi firasatku mengatakan ini akan jadi perjalanan menyenangkan,” ujar Siuro dalam cengiran lebar.

“Memang menyenangkan yang masih muda.”

***

Semua Arkeolog larut dalam persiapan. Waktu mereka tak banyak. Untunglah kerajaan memberikan mereka peralatan lebih dari yang mereka bayangkan. Beberapa dari mereka mengagumi Penyapu Residu berstempel Uoroboros buatan Smitsona kerajaan. Mereka telah merasa menjadi bagian Arkeolog kerajan hanya dengan memegang Penyapu Residu tersebut. Itu baru Penyapu Residu, belum lagi kumpulan Levos dan perkamen yang dihadiahkan sebagai persiapan.

Siuro di lain pihak lebih tertarik untuk berkeliling dan memperhatikan tingkah laku para Arkeolog. Ia memperhatikan saja beberapa Arkeolog yang juga menuliskan perkamen surat pada keluarga atau sanak saudara.

“Tidak menemukan barang yang kau cari?” tanya Okto.

“Tidak. Aku sudah siap dengan bekalku sendiri. Penyapu Residuku juga sudah siap. Pak tua Okto sendiri?”
”Sudah selesai dari kemarin. Aku menginap di sini bersama Geo. Yang kubutuhkan hanya tabung-tabung air minum saja,”ujar Okto sembari memandangi Siuro yang tak melepaskan pandangannya dari surat-surat Arkeolog lain. Ia tersenyum sumringah dan menepuk pundak Siuro.

“Tegarlah, Siuro muda, tegarlah,”

Siuro terpana sejenak mendengar ucapan Okto. Tak lama senyum cerahnya berkembang. “Tentu pak tua Okto,”

 

Para Arkeolog secara bersamaan melepaskan surat mereka ke udara. Langit terisi penuh dengan perkamen-perkamen yang mengepakkan sayap. Bias-bias penuh harap dan cemas mengisi mata mereka yang siap berangkat.

“Sejarah ya?” gumam Siuro memandangi langit yang mulai memerah. Ia sempat tersenyum kecut dan perih. “Tidak boleh lagi berakhir sedih,” pungkasnya.

***

Riesling berdiri di depan pintu besar bertuliskan “Sterros” atau ruangan dewan militer. Ia mengetuk pintu tersebut.

“Kolonel Riesling melapor pada Yang Mulia Raja,”

“Oh Ling, masuklah!”

Ling membuka pintu. Ruangan yang dimasukinya adalah ruang besar dengan latar karpet biru. Sebuah peta besar didirikan di dekat sebuah meja besar. Di sebuah kursi besar duduk sang Raja. Riesling tak melangkah. Ia melihat seseorang berdiri di samping sang Raja. Sekali lihat saja ia mengenali sosok tersebut sebagai Ensquare- prajurit elite bersenjatakan perisai.

“Mayor Jendral Al,” ujar Riesling sembari menjura pada jendral paling senior tersebut. Sang jendral balas menjura dan memerintahkan Riesling untuk meletakkan perisai wajanya di tiang gantungan persis di bawah perisai persegi sang jendral.  Tiang tersebut berderak saat perisai itu digantungkan. Sang jendral melanjutkan kembali diskusinya dengan sang Raja.

 “Yang Mulia Raja, Aku pikir kita harus memberitakan keberangkatan ini pada garda terdepan.”

 ”Tak perlu, biarkan saja berita itu disampaikan oleh para Arkeolog dan tim ekspedisi. Jaringan sosial mereka akan berkata lebih. Estimasiku dalam waktu tiga hari, berita ini akan tersebar sampai garda depan. Bila diberitakan sekarang dapat memicu perhatian para spion. Jangan sampai mereka menyadari bahwa ekspedisi ini bermakna besar. Naarr adalah raja yang mudah curiga akan tindakan targetnya.”

“Alasan bisa diterima,” ujar sang Jendral sembari mencatat di perkamennya.

“Saranku adalah menempatkan empat bagian pasukan untuk melindungi kelompok ekspedisi. Satu bagian Sirklatz, satu bagian Dearcha, dan dua bagian Ensquare. Lalu aku akan membawa Nagini untuk melindungi mereka.”

“Nagini dan dua bagian Ensquare?! Yang Mulia serius?! Bagaimana dengan proteksi bagian utara?”

“Serahkan pada Shivra dan letakkan 4 bagian dari Sirklatz disana. Mereka lebih dari cukup untuk menjaga empat elemen Shivra. Kita serahkan bagian timur dan barat pada mekanisme diplomasi. Bila perlu, sewa tentara bayaran.

“Tapi-“ sela Mayor Jendral Al. yang kembali disela oleh sang Raja.

“Ya, aku mengerti Mayor Jendral. Biaya ekspedisi kali ini akan membengkak. Tapi anda sendiri juga berprinsip bila biaya menghalangi kemenangan maka hancurkanlah beban tersebut.”

Ketidaksenangan Mayor Jendral Al diutarakan oleh

“Mohon maaf Yang Mulia Raja, tapi hamba tak setuju sampai harus mengerahkan Ensquare untuk melindungi kelompok ekspedisi ini. Apalagi sampai harus membawa Nagini,” sela Riesling.

“Apa kau ingin berkata bahwa divisimu sendiri cukup untuk mengawal mereka?”

“Ya.”

“Sayangnya aku tak bisa menerima usulan tersebut.”

“Apa itu perintah?”

“Ling, Bukankah kita sudah setuju? Kau dibutuhkan untuk mengawal mereka sampai kami melindungi daerah itu. Aku yakin mereka akan sadar adanya kelompok ekspedisi. Dan kami akan berada di lokasi ini,” tunjuk sang Raja daerah sejauh tiga jengkal dari peta dataran Qadarathea. “Sebagai pengalih perhatian. Kami akan melemparkan beberapa panah dari Dearcha sebagai salam. Setidaknya cukup untuk menyela waktu untuk membawa arus diplomasi ringan.”

“Saya masih tak mengerti mengapa harus hamba? Yang Mulia Raja bisa memilih Kolonel Riilme yang menyukai situs bersejarah atau bisa memilih Letnan Skar-”

“Aku sudah pernah menjelaskannya, haruskah kujelaskan lagi padamu?” sela sang Raja.

“Mohon maaf Yang Mulia Raja, sampai saat ini hamba masih berpikir bahwa opsi militer adalah yang terbaik. Hari ini, keinginan tersebut bahkan menguat setelah melihat para undangan,”

“Tapi tak ada yang bisa menggantikanmu, Ling,” ujar sang Raja dengan lembut.

“Bila memang itu yang diinginkan Yang Mulia Raja,” ujar Riesling.

“Aku senang kau mau mengerti. Nah, sedari kemarin aku sudah memintamu untuk menarik Sirklatz sebagai ahli penyembuh luka. Bawalah sejumlah yang kau butuhkan.”

 

Riesling menarik napas “Aku tidak bu-“ dan suaranya terhenti oleh gedoran pintu keras.

“Hey, ada Ling di dalam sana?!”

Suara tinggi tersebut jelas berasal dari Fyree. Ia kembali menggedor pintu dengan kencang karena tak mendapat tanggapan. Sang Raja melempar pandangan pada Riesling “Dan kurasa, kita juga sudah dapat Sirklatz petarung terbaik, selain sebagai Arkeolog tentunya. Ada nama lain yang kau pilih?”

“Cukup Fyree,” Ujar Riesling tegas. Ia pun membalikkan badannya.  Tak ada yang tahu bahwa saat itu Riesling menggigit bibirnya dengan keras.


[1] Kira-kira saat matahari terbenam sampai awal malam tiba. Ditetapkan berdasarkan fitur warna bunglon yang berubah mengikuti alam.

Read previous post:  
15
points
(2947 kata) dikirim Rendi 7 years 35 weeks yg lalu
50
Tags: Cerita | Novel | fanfic | arkeologi | diskusi | Perkenalan | Proposal Vandaria
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis asahan
asahan at Sajak Mitologi Arkeolog - Bab II (7 years 26 weeks ago)
70

Amazin' imajinasinya....
Aku yakin plot2nya dah dibikin tuntas
tp aku blm bc bab 1, mana y?

Penulis Sam_Riilme
Sam_Riilme at Sajak Mitologi Arkeolog - Bab II (7 years 27 weeks ago)
80

/dansayatewas
.
Hands up. Saya meminta pada diri sendiri untuk membaca ini sampe akhir dan setidaknya mengikuti alurnya...tapi saya tersesat sendiri di tengah-tengah
.
Mungkin saya masih belum cukup level untuk membaca tulisan kaya istilah dan karakter macam gini. Keburu banyakan 'hah?'nya selama baca