Fantasi Fiesta 2012: Buatlah Luar Biasa

 

Aku mendesah. Kumainkan pulpen di antara jari-jariku sambil menepuk-nepuk meja mengikuti alunan musik yang kudengarkan melalui headphone. Gema tepukanku menggema di seluruh penjuru ruang perpustakaan yang luas dan sepi, membuat sang penjaga perpustakaan melirik tajam ke arahku dari bilik kerjanya. Aku segera berhenti menepuk-nepuk meja. Aku bersenandung kecil dan melihat jam tanganku. Pukul dua sore, dan aku masih berada di sekolah menanti adikku selesai mengikuti kegiatan ekstrakulikulernya. Bukannya aku tak mau menunggunya, biasanya malah aku tak pernah menungguinya. Ibu memintaku untuk menemaninya pulang karena akhir-akhir ini tingkat kriminalitas menanjak tajam. Setiap hari hampir ada setidaknya satu perampokan. Bosan menunggu, aku memutuskan untuk mencoba mencari ide untuk ceritaku, tapi nihil.

Aku dengan cekatan membereskan kotak pensilku dan sebuah buku kosong yang tadi kuletakkan di atas meja, memasukkannya ke dalam tas sebelum pergi menyusuri rak-rak buku mencari buku untuk di baca… Meskipun semua buku ini sudah habis kubaca sejak pertama kali masuk ke sekolah ini untuk pertama kalinya, membuatku mendapat julukan ‘Pelanggan Tetap Perpustakaan’.

 

Aku berhenti ketika melihat sebuah buku tergeletak di bagian paling bawah rak buku untuk buku-buku alumni, hal yang sangat aneh, karena tak biasanya si petugas perpustakaan salah meletakkan seperti ini. Aku mengambil buku itu  dan memeriksanya. Judulnya “Dongeng Luar Biasa”, warna covernya hijau lumut dan berdebu. Aku membawanya ke bilik baca terdekat dan meniup debunya, yang hasilnya membuatku bersin beberapa kali karena lupa bahwa aku sendiri alergi debu. Ketika buku tersebut sudah lumayan bersih, aku menggerakkan tanganku untuk membacanya, namun suara mengelegar dan menggema ke seluruh perpustakaan menghentikanku.

“KAKAK! AKU SUDAH SELESAI! AYO PULANG!” seru adikku, yang di balas dengan tatapan tajam sang penjaga perpustakaan. Adikku tersenyum salah tingkah.

“Sebentar.” balasku. Aku segera berjalan membawa buku aneh ini menuju ke meja perpustakaan, penjaga perpustakaan menatap dengan pandangan aneh.

“Buku apa ini?” tanyanya. “Sepertinya bapak tidak pernah melihat buku ini. Dimana kau temukan?”

“Rak buku alumni.” Jawabku singkat.

“Yah, mungkin saja ini buku lama yang terselip.” Tanpa mengatakan apapun lagi sang penjaga perpustakaan menandai buku ini dan mendatanya ke arsip buku yang dipinjam. Aku mengucapkan terima kasih, lalu memasukkan buku itu ke dalam tasku sebelum keluar dari perpustakaan.

 

“Kau pinjam apa lagi sih?” tanya adikku keheranan. “Kau sendiri yang bilang semua buku di perpustakaan sudah kau baca habis.”

 

“Buku baru,” balasku. “Mungkin buku lama yang dikeluarkan dari gudang.”

 

Kami berjalan keluar dari sekolah menuju ke halte bis terdekat, yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolah. Adikku duduk di sebuah bangku tunggu di halte bus, lalu asyik sendiri bermain handphone. Aku sendiri berdiri di sebelahnya, karena tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Mataku mengenali seseorang, seorang perempuan, berseragam sekolahku, sedang berdiri menunggu dengan bosan tak jauh dari tempatku.

 

“Dik,” kataku. “Tunggu di sini ya.”

 

Tanpa menunggu jawaban, aku sudah berjalan menuju gadis itu.

 

“Eh, Ira,” panggilku. “Ngapain kamu di sini?”

 

Ira, gadis ini, adalah salah seorang temanku. Lebih tepatnya – ehem --- gadis yang kusukai. Dia menoleh ke arahku dan tertawa kecil.

 

“Oh, kamu ternyata, Dit.” Jawabnya. “Kan aku ada ekstrakulikuler hari ini? Jangan lupa kalau aku ikut klub memasak. Kamu sendiri kok baru pulang jam segini?”

 

“Oh, itu, aku disuruh Ibuku pulang bersama adikku.” Aku menggosok-gosokkan tanganku yang berkeringat ke celanaku. “Tahukan? Akhir-akhir ini kriminalitas meningkat.”

 

“Oh iya juga ya,” kata Ira. “Akhir-akhir ini memang sih menyeramkan, seolah kiamat bakal terjadi besok.”

 

Aku tertawa getir. “Jangan bicara gitu, nanti kejadian gawat loh.”

 

Ia ikut tertawa. “Amit-amit.”

 

Bis datang tak lama setelah itu. Kami menaiki bis yang sama. Ira turun satu halte sebelum halteku. Kami saling mengucapkan sampai jumpa sebelum ia turun dari bis. Selama ini, aku malu untuk menatap wajahnya, apalagi mengakui cintaku. Adikku untungnya sibuk bermain handphone, sehingga ia tidak menganggu atau bahkan menggodaku mengenai perjumpaanku dengan Ira di bis. Malamnya, sesudah belajar dan membuat pekerjaan rumah, aku segera mengambil buku ini dan menaruhnya di atas meja belajar. Aku percaya aku tak pernah melihat buku ini sebelumnya… Entahlah, aku langsung duduk di tempat duduk dan membuka sampul buku perlahan… Kertasnya… Nampak seperti baru di cetak, tidak ada yang robek atau yang menguning karena sudah tua. Semuanya nampak seperti baru saja di cetak. Perlahan aku mulai membaca ceritanya…

 

Ceritanya adalah mengenai seorang penulis sekaligus penyihir yang ingin karyanya di baca selamanya. Ia lalu memindahkan jiwanya ke cerita dongengnya. Tahun demi tahun, seorang remaja selalu mendapatkan bukunya dan selalu mengatai bukunya jelek. Demi mendapatkan apresiasi, sang buku akan selalu menyihir kondisi alam semesta sehingga sang pembaca mau tak mau akan mengatakan bahwa buku ini luar biasa. Aku membuka terus halaman demi halaman, bab demi bab, semua ceritanya hampir sama, dengan akhir yang sama. Bahwa sang buku mengubah alam semesta demi sebuah pujian. Aku melompati banyak halaman, bosan karena ceritanya, hingga sampai ke tengah buku, dimana yang ada hanyalah kertas putih kosong, yang terus kosong hingga ke akhir buku. Aku mendengus.

“Hah?! Ini luar biasa?!” seruku. “Ngehabisin waktuku aja”

Aku menutupnya dan mengambil tasku untuk memasukkannya dan bersiap mengembalikannya ke sekolah. Namun, sebuah cahaya kuning bersinar dari buku. Tiba-tiba, angin kencang datang entah dari mana dan cahaya kuning tersebut berubah menjadi pilar cahaya yang terbang menembus atap ke langit.

“Kalau begitu, buatlah jadi luar biasa” kata si buku, sebelum semuanya kembali normal dan si buku kembali tergeletak layaknya buku biasa. Aku melongo dan memerjap-merjapkan mata. Tak ada apapun yang terjadi. Aku tertawa terkekeh-kekeh sambil memasukkan tas itu kembali ke dalam tas dan segera keluar mencari obat masuk angin sebelum tertidur pulas di tempat tidur… Sama sekali tak menyangka apa yang akan terjadi padaku…

 

                                        *************************

 

Aku pamit pergi dan berjalan menyusuri jalanan menuju halte bis. Adikku? Dia sakit, padahal ia kemarin masih sehar-sehat saja. Aku percaya ia sengaja berakting sakit supaya tidak usah ke sekolah hari ini. Aku menempati sebuah bangku dan meletakkan tas sekolahku di bangku sebelahku. Saat bis berhenti di halte selanjutnya, ketika aku melihat Ira menaiku bis, kupanggil dia.

 

“Ira!” panggilku. Ia mendengarku. Ira melambaikan tangannya dan datang mendekatiku, ku ambil tasku dan ia duduk di bangku di sebelahku tanpa perlu harus diberitahu lagi.

“Makasih sudah menjagakan tempat duduk untukku.” Katanya. Aku tertawa malu. Bis mulai berjalan, tapi tak sampai dua menit bis tiba-tiba dihantam sesuatu. Bis berguling, seluruh isi bis terlontar. Bis baru berhenti ketika menghantam sesuatu. Bunyi alarm terdengar, disusul dengan bunyi ledakan, getaran, dan bahkan raungan. Aku terbatuk-batuk., seluruh isi bis sudah berantakan. Pecahan kaca dan darah ada di mana-mana.

 

“Ira?!” panggilku panik. “IRA?!”

 

“…Adit?”

 

Aku mendengar suaranya memanggilku. Aku memanggilnya lagi, ia menjawab dengan lemah. Aku menarik sebuah tubuh seorang laki-laki yang sudah tak bergerak lagi, tewas. Ira terbaring di lantai bis, dibalik mayat laki-laki itu, matanya ditutup erat-erat dan darah mengalir dari kepalanya.

“Ira,” aku membantunya berdiri. “Kau tak apa?”

Dia membuka matanya, lalu memerjap-merjapkannya sejenak sebelum mulai menangis.

“Aku takut.” Katanya. “Ada apa?!”

Aku menyambar tasku, lalu melemparkannya keluar dari bis yang sudah terbalik, menghantam kaca yang pecah. Aku menendang serpihan-serpihan kaca yang tersisa dan melangkah keluar terlebih dahulu.

 

Buku itu tidak main-main.

 

Kelihatannya alam semesta memang diubah, mengingat kenyataan bahwa tiba-tiba ratusan naga, griffin, dan bermacam-macam hal yang di luar logika manusia muncul secara tiba-tiba. Dunia seperti di masukkan ke dalam Black Hole, atau Segitiga Bermuda, atau alam apapun yang tidak masuk akal, dimana segala macam benda yang tak mungkin di ciptakan manusia dengan teknologi masa kini muncul secara tiba-tiba. Matahari, bulan, dan bintang bersama-sama bersinar di langit hitam kelam. Ratusan benda yang tak kuketahui namanya mengambang di langit. Awan-awan menghilang tanpa jejak.

 

“Dit,” Ira memanggilku. “Handphoneku tidak ada sinyalnya.”

 

Aku merogoh telepon genggamku di kantong celanaku. Handphoneku malah sudah hancur remuk sepenuhnya, mungkin karena terbanting-banting tadi. Aku membuangnya ke tanah. “Kelihatannya semua peralatan teknologi tak berfungsi.”

 

Kami dapat melihat minimarket dan toko-toko lain di dekat kami sedang dijarah, berandalan-berandalan mencorat-coret jalanan dengan kata-kata tak senonoh menggunakan spray paint. Polisi dan tentara datang dengan tank, mobil lapis baja, dan beragam persenjataan lain yang tidak kutahu. Suara pesawat jet melintasi angkasa ataupun suara baling-baling helikopter terdengar samar-samar. Para polisi dan tentara tak menghiraukan para berandalan itu, seolah mereka tak begitu penting di keadaan saat ini. Seorang polisi menghampiri kami.

“Cepat kalian pergi, tempat ini sudah tidak aman.” Katanya. “Kalian tahu gedung walikota kan? Saat ini tempat itu dijadikan tempat evakuasi.“

“Bagaimana dengan mereka?” aku menunjuk para berandalan itu. Polisi itu hanya menggeleng.

“Perintah dari atasan, selamatkan mereka yang perlu di selamatkan.” Kata polisi itu. “Sekarang cepat kalian-“

 

Polisi itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, seekor naga mendarat dengan cepat dan tepat di atas sebuah tank dan meremukkanya. Naga itu meraung dan menyemburkan api. Baku tembak terjadi, yang suara tembakannya kelihatannya menarik monster-monster lainnya. Griffin yang berada di dekat sana mengambil kesempatan dengan menyambar orang-orang tak beruntung yang segera di bawa pergi untuk di makan di tempat yang nyaman.

Aku menggandeng Ira, mencoba bersembunyi ke balik bis kerika seekor Griffin terbang rendah hendak menyambarku, aku yang kaget terjatuh dan si Griffin mendarat keras di atas sebuah sedan putih di dekat kami yang langsung ringsek. Aku mendorong Ira ke belakang bis dan berlari menyusuri jalanan. Griffin itu terbang rendah dan aku menjatuhkan diri tempat pada waktunya. Aku berdiri dan berlari ke samping, menemukan sebuah senapan mesin yang dijatuhkan oleh entah siapa yang langsung kusambar. Beratnya bukan main, aku heran bagaimana cara para pemeran di film dapat dengan gampang mengangkat senjata-senjata semacam ini dan menembakkannya membabi buta. Tapi tentu saja senjata yang mereka gunakan adalah senjata mainan. Si Griffin bersoar ke arahku, lalu terbang rendah lagi ke arahku. Aku menembak membabi buta ke arah sang Griffin, yang akhirnya rebah tak bernyawa tertembak puluhan peluru di dekatku. Aku berlari kembali ke tempat Ira tadi bersembunyi, ia nampak ketakutan. Si Naga yang tadi menyerang rombongan pasukan itu masih mengamuk, semua persenjataan manusia nampaknya tidak mempan melawan makhluk-makhluk ini.

 

“Kita harus pergi dari sini.” Kataku.

“Ke mana?” tanya Ira.

“Yang paling dekat dengan tempat ini,” aku berpikir sejenak. “Sekolah?”

“Bagaimana kalau gedung walikota?” balasnya. “Bukankah polisi tadi berkata gedung itu jadi tempat evakuasi?”

“Jaraknya lumayan jauh dari sini.” Tolakku. “Perjalanan ke sana akan sangat berbahaya. Kau lihat sendiri tadi kita nyaris dibakar naga dan atau disambar seekor Griffin.”

Ira mengangguk kecil. “Baiklah.”

 

Aku menggandengnya menyusuri jalan, meninggalkan pertarungan antara naga dan pasukan militer itu menuju ke sekolah yang letaknya sekitar satu setengah jam perjalanan dengan kaki, tapi entah kenapa pada kali itu perjalanan terasa lebih lama. Ketika kami sampai di depan sekolah, semuanya nampak lebih kacau.

Naga-naga sudah berkeliaran mengejar teman-teman dan guruku, yang sudah sampai lebih dahulu daripada aku dan Ira. Kendaraan guru ataupun murid terbakar atau sudah ringsek. Bunyi alarm mobil menguing-nguing di seluruh penjuru sekolah. Aku menggandeng Ira berlari melintasi lapangan masuk ke dalam gedung seklah, menuju ke perpustakaan. Ketika aku menaiki tangga ke perpustakaan, seekor naga menerjang dan hampir saja melahap kami dalam satu gigitan. Naga merah ini ukurannya cukup besar, namun cukup kecil untuk dapat menyelinap dalam gedung sekolahan. Kami segera berpacu menaiki tangga dua anak tangga sekaligus dan sampai di lantai dua. Si naga mengerang marah tahu makan siangnya kabur dan segera mengejar, namun kaki naga tidak di sesuaikan untuk menaiki tangga. Aku mendorong Ira masuk dan segera menutup tangga pagar lantai dua dan bersama kami masuk ke perpustakaan yang (untungnya) di buka. Si naga menabrakkan kepalanya ke pagar, namun usahanya gagal. Maka ia menyemburkan api dan perlahan pagar besi itu meleleh. Aku menutup pintu kayu dan mengganjalnya dengan tongkat pel. Aku tahu satu kali serang saja pintu itu akan hancur, maka aku harus bertindak cepat.

 

Ira menangis, tapi tangisan itu terhenti tiba-tiba. “Dit, tas kamu…”

Ketika aku memeriksa tasku, aku baru sadar bahwa buku itu mengeluarkan sinar, yang saking terangnya mampu terlihat dari luar tas. Aku membuka buku itu tepat di tengah. Halaman yang kemarin masih kosong sudah terisi dengan cerita. Tak lain dan tak bukan adalah cerita mengenai hari ini dengan detail. Ira dan aku saling bertukar pandang.

“Dit, apa-apaan-“

“Maaf, aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi.” Kataku. “Tapi buku ini adalah sumber dari segalanya.”

“Kalau begitu hancurkan saja!” seru Ira. Dia berdiri dan berlari menuju meja penjaga perpustakaan dan mengambil sebuah gunting. “… Biar kuhancurkan buku itu!”

Belum sempat aku mencegah, Ira sudah melompat kecil dan menghujamkan gunting itu ke buku, lalu menariknya. Seharusnya, buku itu sudah hancur sampul luarnya. Seharusnya. Pada kenyataannya, buku itu masih nampak sempurna, tidak ada satupun goresan. Ira dengan heran membuka buku itu, lalu mencoba menggunting kertas yang ada di buku. Tidak terpotong sama sekali. Ia memandangku ngeri.

 

Si Naga yang tadi mengejar kami masih belum menyerah sedari tadi. Bahkan sekarang, pintu perpustakaan yang terbuat dari kayu itu sudah mulai retak-retak hancur. Pintu itu takkan bisa bertahan lebih lama. Aku mengambil gunting yang dipegang Ira dan memberinya buku itu.

 

“Sembunyilah,” kataku. “Cari cara untuk menghentikan ini semua, atau menghancurkan buku itu. Aku akan coba menarik perhatian si naga.”

“Kau ingin menjauhkan naga itu dari sini?” tanya Ira. “Bagaimana caranya? Tak ada jalan lain dari perpustakaan ini?”

 

Aku menariknya menjauh dari pintu kayu dan mendorongnya masuk ke sebuah bilik baca. “Aku kan cepat, aku akan coba melewatinya.”

 

Kami terdiam sejenak. Keributan masih terjadi diluar dan aku bahkan sudah dapat melihat mata si naga mengintip dari retakan yang terbuat di pintu kayu. Ira dengan satu gerakan cepat menyambar gunting yang kupegang dan melemparkan buku itu padaku. Ia berlari menuju pintu. Aku mencoba mengejar, tapi ia dengan lantang berteriak “Jangan hentikan aku!”

 

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena biasanya seorang laki-laki yang mengatakan hal seperti yang kau katakan itu akhirnya tewas,” jawabnya sambil terisak. “Aku tak mau orang yang kucintai berakhir seperti itu juga, bergaya sok keren untuk menyelamatkan wanita yang ia sukai.”

 

Ia tahu aku menyukainya. Ia juga menyukaiku.

 

Pintu kayu hancur, Naga itu meraung masuk. Aku dengan segera ke bilik. Aku kembali membaca buku dari posisi terakhir aku membaca. Bab yang baru itu benar-benar menceritakan tentang kejadian yang terjadi, bahkan sampai di saat aku membaca cerita ini juga tertulis. Aku dapat mendengar si naga membakar rak-rak buku dan mulai menghancurkan perpustakaan. Aku meremas buku tersebut.

“CERITAMU LUAR BIASA!” seruku. “AKU TAK BOSAN MEMBACANYA!”

Ketika aku menoleh, aku melihat si naga entah kapan sudah mencapai bilikku, hidungnya mengeluarkan semburan-semburan api dari lubang hidungnya dan menatapku lapar. Ira meneriakkan sesuatu, aku tak dapat mendengarnya. Naga itu lalu membuka mulutnya…

 

                         ***********************************

 

“ARRRRRRGHHHHHH!!” seruku sambil berteriak. Seluruh tubuhku berkeringat, bahkan kaus yang kugunakan untuk tidur basah seperti baru saja ku gunakan untuk olahraga. Aku memeriksa buku itu, masih ada di dalam tas. Aku dengan cepat turun dari kasur, mengambil buku itu keluar dan membukanya di meja. Dengan cepat kubuka halaman itu hingga ke saat terakhir aku membacanya. Bertambah satu bab. Mirip sekali, persis sekali, dengan mimpi yang kudapat kemari… Apakah itu benar mimpi?… Dengan bergidik ngeri aku mengembalikan buku ini ke dalam tas dan segera bersiap ke sekolah. Di bus, aku bertemu dengan Ira. Ia duduk di sampingku.

“Pagi, Dit.” Sapanya. “Aku kemarin dapat mimpi aneh.”

“Oh ya?” tanyaku, pura-pura tak tahu. “Memimpikan aku ya?”

Dia tertawa, lalu berubah serius. “Iya sih, ada kamu juga di mimpiku, malah kamu beberapa kali menyelamatkanku di mimpi itu.”

“Bagus deh, aku jadi pahlawanmu.” Godaku. “Ceritakan ya, kapan-kapan.”

Ia mengangguk mantap. “Besok sabtu, jam Sembilan, di Mal. Oke?”

Aku mengangguk. Mungkin buku itu tak sepenuhnya buruk. Sesampainya di sekolah, hal pertama yang kulakukan sebelum masuk ke dalam kelas segera ke perpustakaan dan mengembalikan buku ini ke tempatnya. Semuanya kembali normal, seolah tak ada yang terjadi dan alam semesta tetap seperti apa adanya… Oke, mungkin ada sedikit perubahan hubungan antara aku dan Ira. Itu saja.

 

Seusai sekolah, aku mencari adikku yang menurut teman-temannya masih menyelesaikan sebuah tugas pelajaran di perpustakaan. Aku melihatnya berada di sana, di dalam salah satu bilik baca, sedang membaca sebuah buku. Aku berjalan mendekat, dan dengan ngeri melihat buku “Cerita Luar Biasa” dipegang Adikku, yang wajahnya sudah beraut kesal dan bosan. Dengan panik aku mempercepat langkahku ke arahnya. Dia menutup buku tersebut marah.

 

“JANGAN SEBUT KATA APAPUN!” seruku. Terlambat.

 

“Ceritanya membosankan” kata adikku. Angin berhembus dan pilar cahaya kuning menembus atap ke langit senja.

 

“Kalau begitu, buatlah jadi luar biasa”

 

*Catatan penulis: Sesudah anda membaca cerita ini, mohon jangan sebut kata apapun. Saya sarankan untuk menutup cerita ini atau membalik halaman ini terlebih dahulu sebelum berkomentar apapun. Tak ada yang tahu apa yang terjadi ketika anda menyebut kalimat “itu”.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Kakoi nee >///<

Angel-chan sankyu~ :D

60

Tema serta cerita yang diangkat sepertinya sudah banyak digunakan, ambil contoh Bedtime Story. Bukan masalah sih apabila eksekusinya bagus, dan bisa membuat cerita 'lama' ini segar kembali. But, it's like you didn't own it.

Penggunaan beberapa kata / kalimat juga terasa janggal. Contoh: Si Griffin bersoar ke arahku. Saya sampai membuka tiga kamus bahasa Indonesia dan tidak menemukan kata 'soar'. Dalam bahasa Inggris memang ada kata 'soar' yang artinya membumbung. Sepertinya agak slip ya. :D

ekh iya, baru sadar nyerempet Bedtime Story dikit
Saya dengan sangat amat jujur sekali pakai banget (?) mengakui kalo saya bingung dengan 'bersoar'nya

80

Oooooh~! Entah kenapa saya suka premis cerita ini~!
.
Uh, tapi entah kenapa saya ngerasa eksekusinya kurang gigit buat saya. Mungkin masalah gaya tulisan, ya

sankyu~ :3
Hm... Eksekusi yang gagal... hmm...

Writer 145
145 at Fantasi Fiesta 2012: Buatlah Luar Biasa (7 years 14 weeks ago)
80

Humm idenya sudah cukup bagus sebenarnya. Hanya pada bagian klimaksnya, err solusi masalahnya terkesan begitu instant...
-
Mungkin hanya masalah selera, tapi, terutama di bagian-bagian awal, membaca banyak kalimat yang diawali kata 'Aku' secara berurutan rasanya agak hmmm... mengganjal.

solusinya saya juga sejujurnya bingung mau digimanain xD