Cari Kerja PART II. Facebri - Facenya si Sobri

Cari Kerja Part II (Lanjutan)

Setelah gue menolak tawaran di PT. MUGC bogor, gue coba masukin lamaran di beberapa website jasa Pencaker (Pencari Kerja). Beberapa hari setelah itu gue dipanggil salah satu perusahaan pialang bernama PT. MIV (nama tetap disamarkan demi menjaga privasi dan yang penting biar gue gak dituntun #ralat -> dituntut). Pas ditelepon gue ditanya-tanya dan gue juga bertanya-tanya sedikit tapi gue malah diomelin.

"Saya belum selesai bicara mas !" katanya.

Akhirnya gue terdiam melas sambil ngedengerin apa yang dia omongin dan gue cuma bisa jawab iah, iah, dan iah (karena gue orang sunda jadi pake h). Tapi terakhir gue jawab iah ternyata dia malah marah karena dia sedang menyebutkan alamat lokasi perusahaan nya, kemudian bertanya.

"Sudah dicatat belum alamatnya ? katanya dengan suara agak keras.

Dan gue jawab "Iah Bu".

"Apanya yang iah?, Sudah dicatat belum ?!!" katanya lagi dan kali ini suaranya terdengar agak kesal (mungkin emang kesal).

"Iah Bu, eh belum Bu, boleh diulang alamatnya di mana ?" kata gue memohon dan sambil lari dari tempat tidur dengan terbirit-birit mencari pulpen dan kertas.

Akhirnya gue menemukan potongan kertas kecil bekas struk belanja kalau gak salah. Gue tulis di secarik kertas tersebut alamatnya yaitu di Jl. Ayam duduk, Ayam Duduk Plaza, Menara BRI lantai 11 Jakarta-Barat (nama dan alamat tetap disamarkan demi menjaga privasi dan yang penting biar gue gak dituntun #ralat -> dituntut).

Besoknya gue berangkat kesana dengan banyak bertanya ke orang-orang di sekitar jalan dan juga di dalam bis,

- Arah nya kemana?

- Naek bis apa jurusan apa?

- Ongkosnya berapa?

- Namanya siapa?

- Mau kemana?

- Bawa uang berapa?

- Udah sarapan apa belum?

- Dan lain sebagainya (karena pertama kali ke jakarta barat, sendiri).

Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh dan berpanas-panasan di tengah kemacetan jakarta, akhirnya gue diturunin di depan  Ayam Duduk Plaza kata kondektur bisnya (walaupun masih bingung gedungnya yang mana). Gue bertanya lagi sama orang di pinggir jalan tentang alamat perusahaan yang gue tuju, dan ditunjukin gedungnya ada di seberang jalan.

Gue berjalan mencari zebra cross buat nyeberang tapi gak ketemu-ketemu akhirnya gue nyeberang lewat jembatan fly over. Setelah gue berjalan ke atas gue sadar kalau di sana ternyata emang gak ada zebra cross karena terlihat dari atas fly over, dan setelah sampai di seberang jalan gue lebih sadar lagi karena gedung di seberang jalan ini ternyata banyak dan gue malah kebingungan masuk gedung yang mana.

Setelah gue cek catetan yang gue tulis kemaren pas ditelepon tertulis menara BRI lantai II, dan karena di salah satu menara ada tulisan BRI akhirnya gue memutuskan buat masuk gedung itu.

Di dalam gedung, gue langsung naek lift ke lantai II dan ternyata bener BRI, tapi anehnya gak ada satu orang pun yang tahu nama PT. MIV di lantai II tersebut. Akhirnya gue memutuskan buat keluar gedung dan masuk ke gedung yang lain (siapa tahu salah masuk gedung). Dalam gedung itu  gue malah ngerasa aneh karena semua sisi dan juga sudut isinya ruangan yang disekat tapi semua tertutup rolling-door dan gue hanya sendiri di sana. "Ini perkantoran apa mall bangkrut" pikir gue.

Tapi untungnya di sana (dalam mall bangkrut itu) gue mendapatkan sebuah alat yang sangat penting, berharga dan berguna buat gue saat itu (minimal untuk hari itu). Karena dengan alat itu gue bisa konfirmasi kebenaran alamat yang gue tulis. Alat apakah itu ? Ya, TELEPHONE COIN. Telepon Koin sangat berharga buat gue waktu itu, disamping pulsa masih relatif mahal buat gue saat itu  dan juga karena kalau gue mencari wartel gue gak tahu di perkantoran jakarta yang mana yang masih ada wartel.

 Dari telepon koin itu gue menelepon bokap di rumah buat memastikan alamat yang gue tulis kemaren, karena catetan yang gue bawa hari itu adalah salinan dari yang asli supaya tulisan gue terlihat lebih rapih, minimal orang yang gue tanyain alamat bisa baca (yang aslinya lebih jelek tulisannya karena gue buru-buru takut diomelin sama yang nelepon gue waktu itu). Bokap akhirnya dengan terpaksa harus nyari itu kertas kecil berisi alamat perusahaan tempat gue interview hari ini di kamar gue yang sangat rapih, rapih banget banget.

Setelah beberapa menit gue telepon lagi bokap dengan duit recehan yang ada di saku celana hasil dari kembalian naek angkot dan gue malah diomelin bokap katanya disuruh beresin tuh kamar yang lebih mirip kapal pecah (kalau sekarang mirip pesawat sukoi yang jatuh di Gn. Salak) karena bokap udah susah payah menemukan kertas kecil itu di tengah tumpukan buku-buku, baju, peralatan-peralatan menggambar dan kaligrafi gue, dan barang-barang lain yang berantakan (mirip sama istilah “menemukan jarum di tumpukan jerami”). 

Alamat yang disebutin bokap udah gue cocokin sama catetan yang gue bawa dan gue memutuskan lagi buat masuk gedung yang pertama gue masukin dan bertanya ke receptionist. Tapi gue dapet kabar duka dari receptionist itu, sampe bikin gue shock dan lemes ngedengernya.

“Disini gak ada nama PT. MIV lantai II Pak” katanya.

Gue pengen pingsan saat itu tapi gue sadar disana gak ada orang yang gue kenal, bahkan kalaupun ada yang gue kenal juga gue rasa mereka gak bakal peduli kalau gue pingsan. Akhirnya dengan  pasrah gue keluar lagi dan duduk sejenak di samping gedung (mall bangkrut) itu buat mikirin apa yang seharusnya gue lakukan saat itu.

Gue berfikir buat nelepon bokap lagi dan tanya apa yang harus gue lakuin, tapi setelah sampe di dekat alat yang seharusnya berguna itu gue malah muncul ide buat nelepon ke kantor yang kemaren nyuruh gue dateng ke tempat yang bener-bener asing buat gue ini.

Gue buka panggilan masuk di Handphone gue yang gaul, gue lupa typenya, tapi mirip ericsson T-10 cuma HP ini ada game memancing dan menembak, gaul dan jadul itu relatif (menurut gue) dan beda tipis (menurut gue juga). Untungnya yang nelepon gue kemaren memakai telepon kantor dan nomernya lokal (kalau dia telepon pake Handphone gue lebih baik pulang dari pada beli pulsa disana). 

Setelah gue telepon ke kantor dengan rasa malu karena bunyi koinnya jelas terdengar setelah telepon diangkat oleh orang kantor itu karena gue nelepon di telepon umum koin dalam gedung (mall bangkrut lagi) yang sepi itu, kira-kira bunyinya pas di angkat sama dia “Kencring” dengan jelas. Untungnya dia gak komentar itu suara apa walaupun gue yakin di dalam hati dia penasaran sama bunyi tersebut.

Setelah bicara beberapa saat, ternyata ada kesalah pahaman antara gue, bokap sama tulisan di kertas kecil yang ilang di tumpukan jerami kamar gue. Yang harusnya terbaca di sana adalah PT. MIV di Jl. Ayam Duduk, Ayam Duduk Plaza Menara BRI lantai 11 Jakarta-Barat bukan PT. MIV  lantai II/2/dua. Artinya bokap salah baca, dan tentunya gue yang lebih salah, kenapa gue nulis dengan tulisan yang gak kebaca sama bokap dan yang lebih parah gak bisa baca tulisan sendiri.

Persamaan dan perbedaan antara 11 dan II (2 romawi) pada tulisan gue memang sulit dibedakan karena 11 dan 2 romawi terlihat hampir sama. Gue kesel, tapi gue juga seneng akhirnya gue tahu kesalahan gue itu.

Perjuangan gue hari itu belum berakhir.

 

Setelah gue dapet pencerahan dari telepon umum yang ternyata bener-bener berguna buat gue saat itu, untuk kesekian kalinya gue memutuskan untuk masuk ke Menara BRI yang pertama gue masukin tadi.

Dengan rasa percaya diri gue langsung jalan ke depan lift untuk menuju ke lantai 11. Tapi pas gue mau pencet tombol lift ke atas gue dipanggil satpam. Gue pikir dia mau minta tanda tangan karena mengira gue artis, tapi ternyata gue dipanggil dan diminta untuk laporan dulu ke receptionist dan memberikan KTP untuk di tukar dengan ID card (visitor).

Setelah gue ditanya-tanya sama receptionist dan ia membenarkan adanya PT tersebut di lantai 11 (ingat ! 11 bukan II) tetapi tetap gue salah penulisan. PT. MIF bukan PT. MIV. "Pantesan aja pada bingung" pikir gue dalam hati.

Setelah semuanya  itu selesai dan gue mendapatkan Visitor ID Card, gue kembali menuju lift dan menekan tombol atas. Tapi beberapa saat gue nunggu di depan lift tersebut, ada beberapa orang menghampiri gue dan gue berfikir "Apa mereka juga mengira gue artis ? dan berniat meminta foto dan tanda tangan gue". Tapi ternyata, mereka adalah karyawan-karyawan di perkantoran itu yang juga sama kaya gue (nunggu lift ke atas).

Setelah lift terbuka gue pencet lantai 11. Gak tahu karena gue yang norak entah grogi karena pertama kalinya masuk gedung besar sendiri tanpa didampingi orang yang gue kenal tapi pas pintu lift terbuka gue dengan PeDe nya langsung keluar dan bertanya kepada orang di lantai itu tentang PT. MIF tapi mereka semua gak ada yang tahu. Sekilas pikiran gue.

“Gue ditipu oleh interview ini dan lebih baik gue pura-pura pingsan biar dianter pulang ke rumah atau mungkin gue lagi dikerjain disalah satu acara TV”.

Tapi sebelum pingsan  dan atau melirik kanan kiri untuk mencari letak kamera, salah satu dari mereka bertanya.

“Emang bener PT nya ada di menara BRI?, lantai berapa mas PT. MIF itu?”

Dan gue langsung jawab “Bener ko mba, tadi di receptionist juga ada PT.MIF lantai 11”.

Mereka semua tertawa dan gue terdiam.

“Ada apa ini?, apa gue bener-bener dikerjain? di mana kameranya? kok belum muncul juga? ” kata gue dalam hati.

Beberapa dari mereka dengan kompak berkata.

“Ini lantai 6 mas”.

Mereka tertawa lagi dan gue tertunduk malu dan langsung berbalik tanpa berkata sepatah katapun tapi dalam hati gue tetap bilang “MAKASIH !!” dengan sinis tentunya dan untuk kesekian kalinya di hari itu gue merasa ingin pingsan.

Gue berjalan kembali menuju lift dan memperhatikan dinding di sekitar lift ada tulisan angka “6”. Ternyata bener ini lantai 6 dan gue berkata “Makasih”. Setelah gue dipermalukan oleh kesalahan gue sendiri gue sampe di depan lift lagi dan kembali menunggu lift untuk melanjutkan perjalanan ke atas (lantai 11).

Banyak  banget pertanyaan dan pernyataan yang muncul di otak gue saat itu.

-          Kenapa itu tulisan gak muncul pas gue keluar dari lift tadi?

-          Kenapa pas pertama di lantai dua tadi gue gak perhatiin? Malah setelah gue dibikin malu baru itu tulisan ada di depan mata gue.

-          Kenapa tulisan gue bagus banget?

-          Kenapa gue gak bisa bedain mana 11 dan mana II ?

-          Kenapa di jalan tadi gak ada zebra cross ?

-          Kenapa orang-orang itu menertawakan gue?

-          Kenapa mereka gak bilang aja baik-baik biar hati gue lebih tenang?

-          Kenapa, kenapa kenapaaaa ?

Udah kaya daftar pertanyaan buat interview tersangka di polsek, tapi gak ada satupun yang menjawab. Untungnya gue gak kenal sama mereka yang dengan santainya menertawakan orang yang sedang terkena musibah kayak gue ini (nyasar di lantai 6), jadi gue gak terlalu peduli malu depan orang yang gak gue kenal itu. Tapi bagaimana kalau gue diterima di perusahaan ini dan gue ketemu setiap pagi sama orang-orang itu ?  

"Ah, gue bisa pake masker kalau perlu pake helm, biar mereka gak ada yang mengenali gue" pikir gue bloon. 

Setelah lift terbuka kemudian gue pencet itu tombol lantai 11, gue perhatiin bagian atas lift ternyata ada angka digital yang berubah tiap kali lantai berganti. Padahal gue tahu dan juga melihat pas pertama ke lantai dua. Sekali lagi gue bilang “Makasih” (dengan sinis lagi di dalam hati).

Setelah tiba di lantai 11 gue tahu dari angka digital yang tertera di dalam lift dan juga memastikan di dinding sekitar lift akhirnya gue yakin itu lantai 11.


Bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
60

Quote:

Besoknya gue berangkat kesana dengan banyak bertanya ke orang-orang di sekitar jalan dan juga di dalam bis, arah nya kemana?, naek bis apa jurusan apa?, ongkosnya berapa?, namanya siapa?, mau kemana?, bawa uang berapa?, dan lain sebagainya (karena pertama kali ke jakarta barat). Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh dan berpanas-panasan ditengah kemacetan jakarta, akhirnya gue diturunin di depan Gajah Ganda Plaza kata kondektur bisnya (walaupun masih bingung gedungnya yang mana). Gue bertanya lagi sama orang di pinggir jalan tentang alamat perusahaan yang gue tuju, dan ditunjukin gedungnya ada di seberang jalan. Gue berjalan mencari zebra cross buat nyeberang tapi gak ketemu-ketemu akhirnya gue nyeberang lewat jembatan fly over. Setelah gue berjalan ke atas gue sadar kalau disana ternyata emang gak ada zebra cross karena terlihat dari atas fly over, dan setelah sampai di seberang jalan gue lebih sadar lagi karena gedung di seberang jalan ini ternyata banyak dan gue malah kebingungan masuk gedung yang mana. Setelah gue cek catetan yang gue tulis kemaren pas ditelepon tertulis menara BRI lantai II, dan karena di salah satu menara ada tulisan BRI akhirnya gue memutuskan buat masuk gedung itu.

^this
lihat ini deh...
.
jujur kalau beli buku lihat satu halaman penuh tanpa spasi. Berasa nabrakin mata ke tembok beton yang penuh kata-kata.
dalam artian harafiah: sakitin mata.
.

ada baiknya kan kalau...

Quote:

Besoknya gue berangkat kesana dengan banyak bertanya ke orang-orang di sekitar jalan dan juga di dalam bis, arah nya kemana?, naek bis apa jurusan apa?, ongkosnya berapa?, namanya siapa?, mau kemana?, bawa uang berapa?, dan lain sebagainya (karena pertama kali ke jakarta barat).
.
Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh dan berpanas-panasan ditengah kemacetan jakarta, akhirnya gue diturunin di depan Gajah Ganda Plaza kata kondektur bisnya (walaupun masih bingung gedungnya yang mana). Gue bertanya lagi sama orang di pinggir jalan tentang alamat perusahaan yang gue tuju, dan ditunjukin gedungnya ada di seberang jalan.
.
Gue berjalan mencari zebra cross buat nyeberang tapi gak ketemu-ketemu akhirnya gue nyeberang lewat jembatan fly over. Setelah gue berjalan ke atas gue sadar kalau disana ternyata emang gak ada zebra cross karena terlihat dari atas fly over, dan setelah sampai di seberang jalan gue lebih sadar lagi karena gedung di seberang jalan ini ternyata banyak dan gue malah kebingungan masuk gedung yang mana.
.
Setelah gue cek catetan yang gue tulis kemaren pas ditelepon tertulis menara BRI lantai II, dan karena di salah satu menara ada tulisan BRI akhirnya gue memutuskan buat masuk gedung itu.

^
This.
.
mata gwa dapat beristirihat setelah serangan kata-kata cepat seperti tanpa napas.
.
you get that bro?

Ok, tengkyu kritiknya mas bro.
mungkin nanti akan direvisi.

kayaknya emang cerita ini ga cocok jadi bahan tulisan disini. atau emang gue aja ga bakat nulis, karena ceritanya berbelit dan juga satu kalimat berisi kata-kata yang terlalu panjang.
harusnya gue dongengin langsung deh. hhu

bisa seperti it, tapi justru gw pernah dikomen, masa satu paragraf rata-rata 1 kalimat(walaupun kalimat panjang)?
kalimat 1 dengan 2 kan masih berkaitan, kenapa langsung next paragraph?
walau tetep ada yg gue paksa turunin karna emang trlalu panjang.
ada juga yang bilang, "kejar target ratusan halaman mas? sampe banyak bgt paragraph. dan lain lain deh.

tpi tengkyu sekali lagi.
salam kenal dari anak baru ini :)

kalau boleh nanya...
.
yang nyindir kayak gitu pangkatnya apa?
.
produsen buku, ataukah Pembaca buku?
.
kalau produsen... itu alasan mengapa terkadang buku indo gak bisa ngecek apa keinginan konsumen.
.
kalau pembaca, gwa cuman bisa kasih jempol sama pembaca yang mampu baca tembok text seperti itu.
.
serial kambing jantan yg paling pertama memang cara nulisnya panjang sekaaaallliii...
.
karena itu formatnya "blog" dia yg di kopi paste dan sedikit editan.
.
coba bandingkan dengan babi ngesot, lihat seperti apa raditya yang telah dan mau "belajar" sudah berubah!

oke tengkyu masukannya mas bro.

70

Salam kenal! ^^
.
Kocak banget pas bagian bangun tidur ama efek kencring-kencring... HAHAHAHAHA
.
Cuma mau tanya aja masalah EYD:(gimana sih bikin quute?)
.
arah nya kemana?, naek bis apa jurusan apa?, ongkosnya berapa?, namanya siapa?, mau kemana?, bawa uang berapa?,
.
Habis tanda '?' boleh pakai ',' ya?
Aku sih paham maksudmu, sob... Cuma rada ganjil aja...
Butuh pencerahan nih...

hhu, iya thx kritiknya.
mungkin lebih baik pake number or bullets aja ya. biar kaya list pertanyaan wartawan. hho
bisa bisa.
sekali lagi, tengkyu mas bro

kynya ga bisa dech kak..kayanya...

Oya sound effect nya luar biasa, itu bikin ketawa...wkwkwkwkwk
Lagipula ya setahu q di tahun segitu bukannya telpon koin nyaris musnah ya?dan wartel pun nyarinya setengah mati juga dech...dl pernah mau telp ke cust service bank XXX,kg bisa dr hp...nyari wartel uda kaya apa tau tuch...

hoho, ia ia emang ga bisa.
bingung mau misahin kalimatnya, apa harus pake bullets aj pertanyaannya ap cm spasi?
emang gue gada bakat nulis :(

justru it sist vill, gue jg bingung. kayaknya it emang di mall deh, tapi bangkrut. soalnya eskalatornya jg mati. tapi alat itu sungguh ada menyelamatkanku, walau tetep, akhir ceritanya disana tragis.
tapi bener ada loh, it di tower hayamwuruk plaza kalo ga salah dan kalo masih ada, belakangnya ad diskotik waktu it gw inget.
#ups, jdi nyebut alamat.
kalo wartel emang ga ada, orang di antara gedung perkantoran.
hhu sedih dah kalo ngalamin.
hhu

makanya...sedia payung sblm ujan,alias sedia pulsa sblm bepergian...wkwkwkwkwk
Kacau itu...
Pengalaman pahit itu...

justru itu vill.
waktu it pulsa masih mahal. khususnya Buat gue, tau sendiri hape nya aj kya apa.
dan kalopun ad pulsa blum tentu rela ngorbanin buat nelepon kantor.

100

hmmm, meniru itu baik. melanggar aturan itu baik. tapi kalau tidak ada bedanya, alias tidak unik; maka karya itu menjadi sampah. tapi sampah pun tetap bisa didaur ulang.
------------------------------------------------------
cerita/novel ANDREA HIRATA juga curhat, tapi popularitasnya (plus versi bajakan) jauh melampaui RADITYA DHIKA.
------------------------------------------------------
tantangan buatmu adalah, tulislah cerita (meskipun curhat) yang unik dan berbeda dari DHIKA dan POCONGGG.

telnyata om panda lebih pintal pilih kata" dali pada caya :3

masbro, btw sorry kalo kata-kata gw bnyak yg salah dan menyinggung.
tapi tengkyu kritiknya,
mungkin penyampaiannya yg g tepat, mungkin juga gue nya aja yg sensi.

sorry, tengkyu,
Salam damai n salam kenal :)

masbro, btw sorry kalo kata-kata gw bnyak yg salah dan menyinggung.
tapi tengkyu kritiknya,
mungkin penyampaiannya yg g tepat, mungkin juga gue nya aja yg sensi.

sorry, tengkyu,
Salam damai n salam kenal :)

Tengkyu masukannya mba KD

hihihi. mbak KD itu lanang kok, Om :D
ahak hak hak

lanang tu lelaki ya?
terimakasih buat para om ku disini kalo bgtu, hehe

yap tul x...

Tengkyu masukannya mba KD

60

ini cerpen? ato kalo bukan, ini apa?
tolong ya, itu di keyboard dikau ada tombol 'enter' dipake.
jujur saya males baca paragraf yang sejibun padetnya.
buat bold ga perlu, kalimat tunggal itu udah cukup penekanannya.

aduh, lo ni syapa si?
ngerti namanya paragraf gak? kalo g ngerti, belajar dulu mendingan. masa cerita blum kelar udah di enter.
kalo males baca ya g usah dibaca laa.
emang dsini ada paksaan buat baca?

masalah bold, it cuma judul. Udah pernah bikin laporan/skripsi? tiap judul tuh harus huruf tebal.
gw emang anak baru disini, tapi ga seharusnya sikap lo kaya gtu ke tulisan gw.
gw terima coment, kritik, saran dan lain-lain. tapi juga dengan etika dong.
sorry om moderator.

wow, yang udah belajar ya?
keren maaaaan, saya salut. :D
kalo mau enter sebelum cerita kelar, kenapa ga dijadiin satu paragraf aja semua? :v
saya cuma mengomentari estetika penulisan, kalo dikau ga terima ya bukan urusan saya, toh dikau sendiri yang nanggung akibatnya di tulisan" selanjutnya :v
. oh, jadi ini 'Perjuangan gue hari itu belum berakhir.' judul?
oke, saya emang ga pernah nulis skripsi, tapi saya juga ga segitunya kali nulis judul di akhir cerita.
. kalo dikau ngomongin etika, silahkan cari dulu definisi etika itu apa trus bagian mananya dari komentar saya yang ga sesuai 'etika' yang dikau maksud. kecuali kalau dikau pake definisi sendir&sepengetahuan dikau :v
. oh, dikau minta dimanis"in? trus yang ga kasi dikau manis=ga punya etika? what an interesting definition...

hmm, oke sorry kalo gue salah.
gw cuma berdasar dari apa yang gue dapet. coba baca theme Novel di gagas media. disana ga boleh ada spasi berlebihan, karna akan menghabiskan kertas.
walaupun ini media online, tapi gw cuma ngebiasain aja.
masalah cerita di paragraf, maksud gw itu cerita dalam paragraf.
walaupun ada beberapa yang gue paksain buat paragraf baru karna berbagai alasan.

masalah judul, gak semua judul ada di atas.
karna ada judul dan juga subjudul. kalo gue tempatin di bawah karna itu judul cerita.
kalo masih mau diperpanjang mendingan lewat email aja.
sorry kalo omongan gw ada yang salah, cuma gw ga suka aja sama komentar lo tadi.

santai aja, Om.
doi emang rada2 gtu kok kalo mau kenalan. maklumlah. member dsni, bbrpa emang main koment pedes bgt. bilang males atw gimana gtu. tp hatinya baik kok. kemudianers emang baik2 smw. apalagi saia dan mbak KD ntuh. ahak hak hak. saia malah akan lbh baik lagi kalo cerita saia dikomeng jugak. nyahahaha.

yg pasti jgn sampe berantem yak :D

okay om..
oia, panggil saja sobri atau di facebook saya biasa dipangggil CS3 :)

saya mengerti kalo maksud saran dan kritik itu tujuannya membangun agar lebih baik, tapi akan lebih baik disampaikan dengan cara yang baik pula kan?

tulisan saya sudah banyak dibaca orang, tapi baru x ini komentarnya ga ngenakin, tapi justru saya senang, karna dengan itu saya jadi tau, kalau tulisan saya benar-benar dibaca.
:)
salam buat para penulis dan pembaca semua

masalah komentar,
tunggu saatnya saya berkomentar tulisan-tulisan anda,
bukan sekarang, tapi pasti akan tiba saatnya buat para komentator dsini, haha
#so sibuk

*nyembul entah dr mana dan lsg angkat tangan* baca jg cerita villy...wkwkwkkwwk
:p

dasar dah :p
baca cerpen saia ajah

ahak hak hak
#lebihparah

om shinichi kan udah terkenal(ati2 om,pegangan tar kepalanya jatuh karena keberatan :p ),kan villy baru-ummm lupa- bulan...gimana kl om shinichi g comment in cerita villy aja??wkwkwkkwkwkwk *plaqq*
Kata om shinichi,"Anak tak tahu diri."
Wkwkkwwkkwkwkwkwk

(ini villy seneng bener yak menuh2in comment di cerita orang....wkwkwkwk...maaph kalo q bawel,ya tapi itulah villy...wkwkwkwkwk)

yee...
emang kenapa dgn terkenal?
kalo terkenal gak boleh dibaca yak ceritanya?
ahak hak hak
saia gak mau terkenal dah
=))

kebalik om...justru kl terkenal jd banyak yg baca... :p

ahak hak hak.
ngapain sorry ke moderatornya nih? gpp kok kalo debat atw apa gtu. kan saia jd punya tontonan. hihihi.

saia mantau aja dulu :D
lanjut.

ew...om shinichi demen kayanya liat orang debat...bantu kipasin lah om biar g panas...bawain kipas angin atau ac gitu...hehehehe...

ahak hak hak
kan cuma mantau siy
:D

ah,om shinichi pemalu...anggap lomba debat aja... :p
Villy jd cheerleader...(kompor...)
Wkwkwkwkwkwk
Canda... XD jgn2 besok villy mau log in ternyata uda kaga bisa account nya...ampunn om...wkwkwkwkwk *plaqq*

wakakkaka, abang bisa aja.
XD

60

okay,jujur sebenernya ceritanya ga terlalu lucu tapi bisa membuat villy ketawa...kenapa?karena villy membayangkan wajah melas kakak(yg ada di profil) waktu perjuangan mencari tuch PT...wkwkwkwkwk
Duh duh...dan soal kamar kapal pecah itu,kasih acungan jempol deh buat ortu nya kakak yang berhasil mencari secarik kertas di antara tumpukan barang yang villy yakin pada ga jelas(pengalaman pribadi)(maaph jgn marah ya xD)...wkwkwkwkwk

Salam kenal kakak sobri... ^^

haha. iah bener.
kalo orang yang baca apalagi bukan hobi membaca mungkin ini biasa aja, tapi buat gue yang ngalamin, hari itu derita buat gue. tapi sekarang diinget inget di bayangin waktu itu jadi ketawa sendiri ngebayanginnya.

Kalo kapal pecah, ya emg kapal pecah kayakya, nyari satu barang yg harusnya terkumpul aja bisa utara dan selatan letaknya. hho
salam kenal jg mba villy
:)

duh,jgn pake mba...agak geli di mata...wkwkwkwkwk (krn ini media tulis,jd yg gatel mata bukan kuping)...villy saja...
Trus ada pertanyaan yg amat sangaaat mengganjal...di situ ditulis part 2,part 1 nya?? @_@

okay villy :)

masalah it,
sebenernya cuma trik aja.
lagipula part I nya saya rasa kurang menarik, walaupun tetap mengandung sesuatu dibalik sesuatu.
karna sebisa mungkin saya menulis pengalaman dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut..

70

Lucu, serasa kayak stand up comedy.. Hahaha...
Saran: tulisannya mending jangan dibold, effect penekanannya udah kelihatan kok *menurutku ya :D

Tengkyu,
terimakasih masukannya..
salam kenal dari anakbaru ini :)

70

sebenernya, saia mau nyaranin sejak awal (dengan ketus) bahwa cerita begini terkesan belum cukup layak posting di kemudian.com. kenapa? alesannya ya ini lebih mirip postingan yg cocok dipost di blog pribadi. no offense. saia hanya mencoba memberikan arahan (sebagai moderator). namun apa daya, ceritanya bikin saia ngakak. ahak hak hak. apalagi soal karakternya orang Sunda. dan, plis, jangan bilang ini kisah nyata. ahak hak hak.

yah, itu sisi baiknya. cerita ini, atau pengalaman siapapun ini, punya potensi menjadi sebuah cerita yg baik dan layak posting/ sebut sebagai cerita. jadi bukan asal postingan. nilainya adalah cerita yg nggak dianggap cuma curcol belaka. bagaimana? ya, tentunya penjelasan tentang apa itu cerpen, cerber, banyak tersebar di internet ini. penokohan, alur, dan bagaimana cerita disajikan lebih baik.

saia bilang potensial, sebab ini bisa jadi cerita komedi ala Lupus. pernah baca kan? dan sebelum itu, saia hanya menghimbau untuk tidak terlalu menekankan sebuah kalimat dengan cetak tebal seperti itu. sebab, kita sepakat: penekanan akan lebih berhasil bila memang kalimatnya tepat. jadi bukan apakah kalimat itu dibuat mencolok. kenapa gak sekalian warna merah aja yak :D
ahak hak hak.

selanjutnya, saia pikir pantes cerita ini dibuat dengan tujuan awal menulis karya, bukan berbagi pengalaman hidup. anyway: cerita seperti apa? ada banyak cerpen yg layak dijadikan pedoman di situs ini. semoga berhasil dan mohon maaf bila kurang berkenan.

kip nulis :)

Jujur ajja, ini pengalaman pribadi saya di tahun 2008..
dan cerita ini juga sudah dituliskan di Blog dan juga wattpad..
sebenernya inspirasi menulis saya ini ada setelah membaca buku-buku raditya dika dan kawan-kawannya, apa mungkin moderator kemudian ini belum pernah membaca buku-bukunya?
(maaf)
kalo masalah cetak tebal, memang sebenarnya itu sebenarnya harus langsung dibawakan oleh suara, bukan tulisan, jadi bingung juga nulisnya gimana biar ada intonasi yang pas, hhe.
kalo masalah tata bahasa, memang karya-karya nya bang radit, dan kawan" sesama novelis komedy yah begitu adanya,
karna ada beberapa masukan, kalo nulis cerita humor itu gak usah pake bahasa yang kaku, yang ada malah garing candaannya.
jadi, terima kasih moderator, mohon bimbingannya kalo masih banyak kesalahan..
terimakasih, salam kenal. :)

:)
wattpad ya? ehehehe. saia tau situs itu karena beberapa membernya punya akun di kemudian.com, atau sebaliknya. dan... menyoal karya radit, jujur saia belum baca. saia bukan di genre seperti itu sih -___-"

dan sebenarnya fokus saia bukan ke tata bahasa atau bahasa seperti apa yg digunakan, lho :) saia lebih ke bagaimana idenya diceritakan. ummm... tapi saia dengar emang karya Radit emang seperti ini, cerita dituturkan langsung ke pembaca tanpa usaha menciptakan setting, penokohan, klimaks konflik, dsb yg saia tau muncul di cerpen pada umumnya. dan humor/ komedi adalah genre, nggak berdasarkan bahasa yg digunakan untuk membangunnya. saia pikir komedi situasi (drama komedi) jauh lebih sulit tapi sangat menghibur. tapi jujur, cerita kamu ini bikin saia ketawa ngebacanya. makanya saia bilang potensial. lalu kritik/ saran nggak bisa saya berikan. selain ya, sambutan di situs kemudian.com

kip nulis :)

Terimakasih moderator :)

80

Salam kenal dari penulis baru di kemudian :)
Semoga cerita ini ada yang baca