BOR N2 Match B-1 : Demetria Wildetiere vs Redina Sungkar (Versi Demetria)

 

Portal terbuka, dan Demetria tanpa sadar langsung meloncat masuk ke sebuah rawa berlumpur.

“HYA!” serunya, lalu dengan jijik mengangkat kaki kanannya. “Ini satu-satunya sepatuku! Warnanya putih, lagi!”

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah portal terbuka. Seorang wanita berpakaian gaya punk namun mengenakan kacamata hitam layaknya artis rock ‘n roll, dengan rambut merah pendek menyala-nyala, melompat keluar dan juga memijakkan kaki ke rawa. Wanita itu melepas kacamata hitamnya dan memandang Demetria dengan cepat.

“JIJIK.” Katanya singkat. Demetria memperhatikan wanita itu memanjat salah satu diantara puluhan pohon tinggi yang ada di rawa. Wanita itu menggoyang-goyangkan kakinya satu persatu, mencoba menjatuhkan lumpur yang menempel di kaki sambil memperhatikan sekeliling.

“Ah, sebenarnya aku nggak benci-benci banget sama hutan, tapi aku nggak suka rawa. Titik!” kata wanita itu, sambil menoleh ke arah Demetria. “Di dekat sini ada daerah yang kering, daerah bukan rawa. Kita ke sana aja, yuk!”

Demetria agak sedikit bingung. Ia ingin tertawa keras-keras. Lawan macam apa yang malah mengajak musuhnya bercakap-cakap dengan ramah? Tapi ia memutuskan untuk ikut-ikut saja dengan kelakukan lawannya ini.

Kurasa aku bisa menipunya… atau semacam itu, mungkin. Pikir Demetria. Ia berjalan menembus rawa sementara wanita itu dengan gesit dan lincah melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Dia cepat dan gesit, aku sudah pasti akan kalah dalam hal kecepatan.

Demetria sampai di tempat yang dimaksud wanita berambut merah itu, sebuah hutan tropis yang rimbun. Wanita itu sendiri nampaknya sudah berhasil membersihkan lumpur di kakinya. Demetria menggoyangkan kakiknya satu-persatu. Wanita berambut merah itu memperhatikan Demetria dengan seksama.

“Kau lawanku?” tanyanya. “Kau nampak…”

“Lemah?” potong Demetria. Wanita itu terdiam sejenak.

“Nggak juga sih.” Wanita itu mengangguk kecil, lalu menepuk tangannya dengan keras. “Baik! Mari kita mulai! Namaku Redian Sungkar! Panggil saja Red!”

“Uh, aku Demetria.” Balas Demetria. “Demetria Wildetiere.”

Sebenarnya, Demetria tidak mau menggunakan nama keluarganya, Wildetiere, mengingat pada dasarnya ia tidak memiliki keluarga lagi. Tapi biarlah, tidak ada salahnya mengingat masa lalu sedikit saja. Red, wanita itu, mengangguk. Dan wanita itu lalu menerjang tanpa peringatan. Gerakannya cepat, tapi Demetria masih mampu melihat kakinya diayunkan. Demetria mundur mengelak. Tapi sesuatu yang tidak diduga terjadi. Api. Api muncul dari kakinya. Demetria dengan panik cepat-cepat memfokuskan diri dan menggunakan kemampuannya untuk melambatkan waktu. Demetria merunduk tepat pada waktunya dan mencoba menjegal Red dengan cara menendang kaki tumpuannya. Tapi Red dengan lincahnya melompat salto ke belakang. Wanita itu pengendali api. Tapi bagaimana pengedalian apinya, cara ia mengeluarkan apinya? Apakah wanita itu sudah tahu ia pengendali waktu?

“Wah wah, aku tidak menduga kau bisa menghindar dari serangan mendadakku.” Wanita itu mengangguk-angguk senang. “Bagus! Ini artinya kau cukup hebat untuk menjadi lawanku!”

“Pengendali api…” desah Demetria. “Merepotkan sekali.”

“Hei! Api itu keren, tahu! Warnanya sama dengan rambutku!” protes Red. “Dan kita memang merepotkan!”

Red kembali menghirup udara dalam-dalam, lalu melepaskannya dalam bentuk nafas api. Demetria menjatuhkan dirinya ke tanah. Ketika nafas api itu menghilang, Red sudah ada di dekatnya, melompat hendak menginjaknya. Demetria terpaksa kembali melambatkan waktu untuk berguling dan menghindar dari tendangan cepat Red, ia berlutut dan dipegangnya kaki Red dengan maksud untuk menjatuhkannya. Red dengan cepat mengayunkan kaki untuk menyentak dan menendang Demetria, tapi Demetria bergerak lebih cepat. Demetria melakukan jump dan muncul di tempat yang jaraknya tak begitu jauh dari letak berlutut ia tadi. Red nampak tercengang.

“Kau…” Red terdiam sejenak. “YA AMPUN! Itu tadi keren banget! Gimana caranya? Kok bisa?!”

Demetria tidak menjawab, ia memperhatikan Red dengan seksama. Ia tidak bisa dikalahkan segampang yang ia kira pertama kali. Ia harus mulai menjaga jarak dan mencari cara untuk menghentikan atau memperlambat gerakan wanita lincah ini. Demetria mengusap mukanya sejenak sebelum menoleh lagi ke Red dan melihat bahwa wanita itu sudah berubah total penampilannya. Rambutnya dikuncir ke samping kanan, pakaiannya menjadi tank top oranye dan ia memakai celana pendek berwarna biru ke abu-abuan.

“Apa-apa---“

“Ada apa, Demetria?” tanya Red, eh, siapapun wanita itu. “Ada yang salah?”

“Kau.. Kau Red?”

“Tentu saja aku Red!” seru wanita itu. “Kaukira aku siapa lagi?”

“Tapi—Penampilanmu…”

“Ah ini sudah biasa. Hm… Bagaimana cara menjelaskannya ya…”

“Lupakan saja,” kata Demetria tak perduli. “Hei, Red? Bagaimana jika kau beri tahu aku kekuatanmu, dan aku beritahu kau kekuatanku, adil?”

“Ya!” seru Red tanpa berpikir lagi. “Aku pengendali api! Segala jenis dan bentuk api bisa kukendalikan! Tapi aku jarang menggunakannya kecuali terpaksa…”

“Aku pengendali waktu.” Jawab Demetria. Sekarang ia sudah tahu apa kemampuan wanita itu. Demetria melirik ke Spa, wanita berkimono yang tadi memperkenalkan diri sebagai wasit atau sebangsanya itu. Sedari tadi, wanita itu memandang pertandingan mereka dengan raut bosan sambil mengepak-epakkan sayap hitamnya.

“Hei, Wasit!” panggil Demetria. “Kalau boleh tahu, berapa sisa waktu kami?”

“Tinggal sepuluh menit lagi.” Jawab Spa. “Jika tidak salah.”

Jika tidak salah.

“Tak bisakah salah satu dari kalian segera memenangkan pertandingan?” tanya Spa. “Aku bosan melihat pertarungan kalian, sama sekali tidak menarik atau menegangkan.”

Demetria saling berpandangan dengan Red.

“Hei, pengendali api!” panggil Demetria. “Kelihatannya kita sudah tidak bisa bermain-main lagi.”

“Sisa waktu tinggal sedikit… Dan salah satu dari kita harus kalah….” Balas Red. “Oke, mari kita—“

“Bagaimana kalau kita selesaikan dengan permainan saja?” tanya Demetria. “Sebuah permainan yang peraturannya sangat sederhana?”

Red menangguk. “Lalu?”

“Kita akan saling bersembunyi dalam waktu sepuluh detik,” jelas Demetria. “Siapapun yang berhasil menyentuh musuhnya untuk pertama kali menang. Dan tentu saja yang kalah harus mengaku kalah.”

“Cukup sederhana.” Red berpikir. “Boleh pakai cara apapun untuk mencari lawan, kan?”

“Boleh.” Jawab Demetria. “Baiklah. Sepuluh detik mulai dari… Sekarang!”

Demeteria melihat Red langsung berlari lincah masuk ke dalam hutan di sebelah utara, hanya perlu beberapa detik baginya sebelum ia menghilang di kegelapan hutan. Demetria sendiri cepat-cepat berlari masuk ke dalam rawa dan memanjat pohon terdekat. Jika semua berjalan sesuai rencananya, permainan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan dengan kemenangan di tangannya.

… Sembilan… Sepuluh!

Hening. Tidak ada yang terjadi. Demetria menghitung detik demi detik. Ketika ia mencapai hitungan ke lima puluh delapan, Demetria mulai ragu. Apakah rencananya berhasil? Lima detik kemudian, sebuah ledakan besar nampak tak jauh dari lokasi Demetria berdiri. Api mulai berkobar membakar hutan. Sesosok manusia terbang dengan menggunakan tenaga dorong dari api di kakinya dan sibuk melontarkan beberapa bola api ke hutan tempat Demetria bersembunyi. Demetria tersenyum kecut. Rencananya berhasil, meski ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan skenarionya. Demetria turun dari pohon tempat bersembunyinya yang mulai terbakar dan berpura-pura berlari panik keluar dari hutan yang terbakar. Sosok manusia itu, Red, dengan penampilan yang berbeda lagi, dengan tersenyum melaju cepat ke arahnya.

“KETEMUUUUUU!!!” tangan Red diajukan, siap menyentuh bagian apapun dari Demetria yang kesimpulannya akan menyatakan kemenangannya. Demetria memfokuskan diri dan melompat ke sepuluh detik di masa depan, ketika Demetria sampai di masa depan, dilihatnya Red sudah melintasi tempat ia berdiri tadi. Red yang kaget tidak sempat menghentikan gerakannya atau memutar arah, dan dengan cepat Demetria menangkap kedua kakinya dan menjatuhkan diri ke tanah. Red juga ikut tertarik jatuh ke tanah.

“Aduh!” Red hendak menyelimuti seluruh tubuhnya dengan Api, tapi Demetria dengan sigap memperlambat waktu dan dengan cepat menduduki punggung Red. Dari dekat, Demetria memperhatikan penampilan Red yang baru. Rambut merahnya tergerai ke bawah, ia menggunakan baju tertutup yang rapi dan rok panjang berwarna cokelat.

“Kau kalah.” Kata Demetria dengan puas. “Itu karena kau lengah.”

“Baiklah baiklah, tolong menyingkir dahulu dari punggungku.” Pinta Red. Demetria menggeleng.

“Tidak sebelum kau menyerah.”

Red mendesah. “Aku menyerah kalah. Puas?”

Demetria berdiri dan memandang ke Spa, yang mengangguk kecil.

“Baiklah.” Katanya. “Dengan sisa tepat lima menit, Demetria Wildetiere menang!”

Demetria mendesah puas dan menoleh ke arah Red, dilihatnya wanita itu sudah berubah lagi penampilannya, seperti waktu mereka pertama kali bertemu. Tanpa basa-basi, Demetria langsung melangkah masuk ke portal yang disediakan.

****

PS: 

Red yang bisa berubah penampilan sesuka hati sempat membingungkan saya, apalagi areanya. W(‘A’W)

Saya pasrah dengan hasil akhirnya .w.b

Read previous post:  
196
points
(2926 words) posted by Sam_Riilme 7 years 11 weeks ago
93.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | lain - lain | Battle of Realms | N2
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

permainan d akhirnya lumayan membingungkan kak,
tp krn kemampuan demetria dan perubahan penampilan red lumayan dtunjukan jd kasi A deh :3

80

Humm... humm... oke...
.
Writing Structure : 7
Hook : 5
Overall Story : 6
Characterization : 5
Tension or Conflict : 3
Creativity : 5
Setting : 2
Flow : 5
.
Total : 38/80
MEANS ---> C
.
Humm, jadi Demetrianya di sini juga belom tergali dengan baik. Kok Red ngga kayak bayangan saya juga di sini... Jadi pure pengendali api yak? Justru parkournya malah ngga tergali di sini.
.
Demetria katanya ahli strategi, tapi kenapa dia ragu2 dan kayaknya ngga keliatan ahli strateginya. Tensi cerita juga kurang dan datar. Setting juga ga bisa terbayang jelas. Trus hook di awal kurang ngena. Kalo bukan karena saya butuh baca ini buat riset, kayaknya ga bakal saya baca mpe selesai... :D

100

Woooh, suka karakterisasi masing-masing OCnya, tapi sepertinya kurang berkesan, qaqaq Q__Q I want more :3 *plak*
.
Skor: B yaa :3 Gapapa, kan? xD

80

Ternyata kayak gitu sifatnya si Demi. liciknya sebatas itu toh?

pertarungannya sederhana, dan kurang panjang. (jauh dari epic)

gimana ya?... aku ngarepnya kemampuan Demi bisa lebih ditonjolkan di sini.

score B+ karena dikau tidak kabur dari turnamen ini.

sampai ketemu dengan Rune!

100

B

cukup terbayang kemampuan masing-masing perserta cuma kronokinesinya kok jarang dipake ya?

100

Skor A
.
Di ucapan Redina pertama bikin ngakak. :D
.
Tapi sikapnya begitu lagi diulang-ulang jadi bikin datar. ^^;
.
Dan yang lainnya oke kok. ;)

100

Red-nya keliatan periang ya, di sini? Atau hanya perasaan saya aja? Ah, memangnya siapa yang peduli?
.
Tentang pertarungannya, saya cukup menyukai ini karena lancar dibaca (nggak ribet dan rumit). Dan karena saya nggak bisa berkomentar yang berat-berat, jadi langsung aja, saya kasih B untuk Demetria. Ohohoho~

80

Skor B
Kenapa tiba2 berubah aturan pertarungannya?

90

Berdasarkan apa yang saya dapet waktu baca ini..
a) Kerapian teknis penulisan: OKE [3]
Sempet nemu 1-2 typo tapi kayaknya bukan masalah besar
.
b) Serunya pertandingan: Low++ [1,5]
Mungkin sebenernya seru, cuma kok entah kenapa rada susah tervisualisasi di kepala saya, agak cepat selesai pula.
.
c) Penggalian karakter: Medium: [2]
Interaksi Redina-nya agak kerasa beda sama yang di cafe, IMO, sih. Kalo Demetria karena kayaknya sebelum ini belum pernah dimunculin kayak apa dia berinteraksi, jadi saya gak bisa protes.
.
d) Sesuatu yang 'wah': Low [1]
Maaf banget, tapi saya nggak ngerasa nemu apa-apa di sini >_<
.
7,5/12, maka nilai saya untuk cerita ini adalah B

80

berasa cepet. sepertinya udah jadi komplen yang lain sih. dan konfliknya kurang, jadi eksplorasi karakternya berasa kurang. sadly gw ga tahu banyak soal Redina, jadi ga tahu soal karakternya juga.
.
gw heran aja kok si Redina nerima ya? padahal dah tahu kemampuan si Demeter ini mengendalikan waktu.
.
typo: Redian ^^
.
tapi gw rasa buru2 ini jga gara2 deadline makin mepet deh. anyhow, gw kasih SCORE:
B (karakterisasi dan flownya enak dibaca)

100

out of words,,, xD
Selama saya baca, saya seakan bisa membayangkan gerakannya,,, cuma susah ngebayangin demetria-nya,,, kalo rednya saya kira seperti madam red xD
tapi sugee,,, LANJUUT neee x3

80

Skor B

Soalnya:
1. Kurang panjang
2. Kurang dalem dialognya
3. Akhirnya tidak keren

XD saya gak pernah muncul di kafe karena gak yakin bisa online terus tiap hari kak :3
Okeh dah entar saya muncul, masuk ke toilet, cuci kaki, lalu ngilang lagi xD /EH
Hm hm... Okeh kak :D

100

B
saya senang yang saya tulis tentang demetria ternyata tidak terlalu berbeda. walaupun saya gak dapat melihat "ahli berterung tangan kosongnya!"

100

uwoo, penguasa waktu.. kenapa gak dilambatin aja waktu 30 menit nya jadi bisa santai2 ? XDD #digiles
.
ungg, skor B utk pertarungan yang idem-sama-kak-Sam 'gitu aja' atau datar dlm bahasa sy, dan kurangnya relasi antar karakter mengingat Demetria orangnya ceria dan baik hati >.<

bisa kena marah Spa entar XD
Demetria 'depannya' yang baik hati & ceria, tapi sebenarnya dia licik & arogan :D

kompor gas. Hahahaha.
.
Ga ada kekuranganya pertarungan ini. Karakterisasi OC nya juga asik. Pertarunganya ga pake lama, singkat jelas dan padat.
.
Kompor gas!
.
A!

80

Score : B
.
Seandainya ini sedikit lebih panjang dan kedua karakter bisa lebih dieksplor, mungkin saya bisa kasih A. Percakapan Red kerasa natural banget di sini, dan scene pertarungannya cukup enak buat diikutin IMO
.
Cuma emang rada kurang di konklusi sih. Masih berkesan 'gitu aja'.
.
Thanks for not walking out of the first round~! Demetria is a good character, it's such a waste if she has to drop out so soon

Hm hm~ Sankyu :D!