Doaku : PROLOG

“ Butiran berlian jatuh di pipiku “

“ Mengingat masa lalu yang telah pergi “

“ Dimana kulihat senyuman hangat “

“ Yang selalu menyertaiku “

 

Mentari pagi menyingsing , masuk melalui celah – celah kecil jendela rumahku yang telah usang. Udara masih dingin dan embun – embun pagi menyelimuti dedaunan di luar rumahku. Air menggenang dangkal di sekitar tikar alas tidurku yang penuh tambalan. Merupakan ulah dari hujan semalam yang begitu deras. Hujan itupun hampir merobohkan dinding rumahku yang terbuat dari kardus – kardus bekas. Tapi anehnya, sebagaimanapun derasnya hujan menderai, dinding rumahku yang usang itu tetap berdiri dan tak pernah jatuh. Aku selalu bersyukur dan menyadari bahwa inilah kuasa Tuhan.

   Kucoba untuk berdiri dan bangun dari tidurku yang dipenuhi mimpi – mimpi indah, walaupun kakiku terasa sangat letih, seakan waktu semalaman tidaklah cukup untuk menyegarkanku. Ya, pekerjaanku saat ini mengharuskanku untuk bangun lebih pagi dari kebanyakan anak seusiaku. Tapi aku tak pernah menggerutu terhadap pekerjaan ataupun kondisi rumahku. Rumah yang kutinggali ini mungkin memang sangat tidak layak untuk ditempati. Hanya berupa gubuk yang terbuat dari kardus dan disangga oleh tiang tiang bambu. Atapnya terbuat dari triplek bekas dan diatasnya kuletakkan batu bata seadanya yang cukup untuk menjaga ketetapan atap gubukku. Batu itu kuperoleh dari pinggiran jembatan kota, yang memang sedang ada proyek dan biasanya ada saja bahan bangunan yang dibuang disekitarnya. Rumahku terletak di sampingnya, yaitu di pinggir jembatan yang sungainya sering meluap.

   Sebenarnya beberapa kali aku berniat untuk pindah dari pinggir jembatan itu. Alasannya adalah saat banjir, rumahku sering roboh. Tak jarang pintu rumahku terbawa hanyut oleh air sungai itu. Alasan lainnya adalah beberapa pekerja proyek menyarankan dan bahkan membentakku agar pergi dari lahan itu. Karena aku bisa dianggap seorang anak jalanan yang tinggal di lahan pemerintah tanpa pajak. Karena alasan – alasan itulah aku sering berpikir untuk pergi dari sana. Tapi mau pergi kemana lagi? Lahan di Jakarta semakin sempit hari demi hari. Aku mengetahuinya hanya dengan melihat semakin banyaknya kendaraan yang hilir mudik melewati jembatan itu untuk menyeberang dan menuju ke kota besar.

Kutabahkan hatiku untuk menetap dan terus menabung untuk tinggal di tempat yang lebih layak. Pekerjaanku saat ini sudah mulai membuahkan hasilnya. Walaupun sedikit tapi cukup untuk menghidupi hari – hariku. Aku tau di luar sana ada orang yang keadaannya lebih buruk daripada aku dan aku selalu bersyukur dan berdoa pada-Mu Tuhan. Karena aku tau, tanpa rahmat dan jalan dari-Mu, aku tak akan bisa menjejaki Bumi-Mu yang indah dan menakjubkan ini.

Namaku Kinar Pertiwi, dan saat ini aku berumur 14 tahun. Tidak berayah dan ibu. Sanak saudara pun tak kupunya. Aku hanya seorang diri dan sebatang kara dilahirkan. Dari rahim seorang perempuan yang sangat kusayangi dan nyatanya telah pergi dari sisiku menuju dunia kebahagiaan di sisi Tuhan. Tapi aku tak akan pernah melupakan ibu. Tidak untuk sehari pun dalam hidupku. Aku tak tau ayahku berada dimana. Karena seingatku, aku tak pernah melihat wajahnya ataupun mendengar namanya. Kalaupun pernah, mungkin itu saat umurku masih 1 tahun karena sejak akku bisa melihat dan menanggapi hal hal disekitarku, yang ada hanya seorang perempuan berambut hitam yang selalu ada untukku, hanya ada Ibu...

Aku dirawat oleh ibu sejak kecil hingga aku berumur 5 tahun. Tapi aku merasa telah mengenal dan memahami seluruh isi hati ibu, tentang betapa cintanya ibu padaku. Ibu meninggalkanku, saat aku berumur 6 tahun. Sebelumnya, saat aku berumur 5 tahun, ibu menitipkanku pada Nenna. Waktu itu, aku tak ingat isi percakapan mereka secara utuh, tapi aku tau, samar-samar ibu mengatakan ‘perceraian’ dan itu kemungkinan berlaku baginya dan ayah. Setelah berbicara sedemikian pada Nenna, dengan berurai air mata ibu mencium pipiku dan mengatakan bahwa ia akan datang kembali untuk menjemputku sesegera mungkin. Kemudian ibu pergi, menembus hujan yang mengguyur tubuhnya dan menghilang dari pandanganku. Seminggu kemudian, 2 hari sebelum ulang tahunku yaitu tanggal 30 Desember 1999, hal itu terjadi. Nenna yang saat itu menerima telepon dari Rumah Sakit Umum Jakarta mengumbar air mata kesedihan sambil memanggil manggil nama ibu. Aku duduk termenung melihatnya, tak mengetahui kenyataan bahwa ibu telah pergi dariku, dari Nenna, dari dunia, menuju alam kebahagiaan diatas sana.

Keesokan harinya, tepat sehari sebelum ulang tahunku, aku dan Nenna pergi ke pemakaman yang berada di Jakarta, ke tempat pemakaman ibu. Kami naik angkot ke Jakarta dari Bogor. Karena rumah Nenna ada di Bogor, dan rumahku dulu ada di Jakarta. Begitu tiba di tempat pemakaman, kami sudah terlambat. Ibu sudah dimakamkan dan orang-orang yang hadir telah meninggalkan pemakaman. Yang ada di pemakaman luas itu, hanyalah seorang laki-laki dewasa yang menatap makam ibu dari jauh dengan wajah penuh keputus-asaan.

Sejenak kupikir itu adalah ayah, tapi Nenna menggubrisku, mengatakan ayahku telah meninggal. Kudekati dan kutatap makam ibu dengan sedih. “ Nyonya sudah meninggal Nona. Nyonya pasti bahagia di sisi Tuhan.” bisik Nenna sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk dan kemudian kami pergi meninggalkan pemakaman.

Saat melewati laki-laki dewasa tersebut, aku seakan ingin menangis. Sepertinya aku mengenalnya. Tapi Nenna buru buru menarikku dan menjauhkanku dari laki-laki itu. Laki-laki itu sepertinya merasakan hal yang sama denganku, karena aku sadar, begitu aku menjauh ia berbalik dan menatapku. Lirih, tapi aku mendengarnya. Mendengar kata “Kinar” yang ia ucapkan dengan wajah sedihnya itu, seakan sangat merindukanku.  Kemudian aku kembali ke Bogor bersama Nenna. Menulis lembaran baru, hidup baru, dan kebahagiaan yang baru.

---

 

Hari ini adalah Hari Selasa tanggal 27 Februari 2008. Aku tinggal di rumah ini, sudah selama 3 tahun dihitung sejak umurku menginjak 11 tahun. Terbiasa hidup sendiri dengan berpegang teguh pada keberanian dan kenangan indah masa laluku, aku terus berjuang untuk bertahan hidup. Walaupun kuakui sebagai anak jalanan yang tak mengenal arah dan tujuan hidup aku telah merasakan begitu banyak hal luar biasa yang takkan bisa kulupakan. Aku sudah, bisa dianggap jera untuk masuk ke panti asuhan, walaupun itu salah satu cara paling umum untuk melarikan diri dari dunia luar. Aku tak mau hidup terkekang dan terjerat seperti itu, karena kurasa suatu saat nanti, aku pasti akan bertemu lagi dengan teman baikku, Lotti dan Kak Guntur.

Kami sudah berjanji untuk bertemu lagi, saat usia kami 17 tahun di Tugu Monas pada saat Ulang Tahunku, yaitu tanggal 31 Desember tengah malam menjelang tanggal 1 Januari. Selayaknya pertemuan merayakan tahun baru. Setidaknya, itulah yang kupikirkan. Aku tak tau, apa hal itu akan terwujud atau tidak. Setelah berpisah selama bertahun tahun, aku tak tau apakah mereka masih sama atau ingat padaku. Mungkin kalian merasa heran mengapa aku berpisah dengan mereka, mengapa aku tak tinggal dengan mereka saja, mengapa aku masih ingin bertemu dengan mereka walaupun aku tak tau kondisi mereka saat ini, terlebih lagi, mengapa aku tak tinggal bersama Nenna lagi. Ya, aku telah melalui begitu banyak hal, sulit dan bahagia seperti lekukan rajutan sweater yang dirajut oleh seorang nenek buta. Hasil akhirnya akan kita dapatkan, namun tidak dengan kepuasan 100% jika dirajut oleh orang normal. Begitulah hidupku.

Kuambil sebuah buku tebal yang bermerek “SIDU” dan di sampul belakangnya tertera tulisan COVER + INNER : 72 SHEETS. Buku itu masih baru, tak bernoda setitikpun. Kemudian, kusandarkan tubuhku di dinding rumahku, dan kuambil sebuah pulpen hitam yang terlihat sangat lusuh dan tua. Wajar saja, pulpen itu dibeli sekitar 4 tahun lalu, saat aku masih berumur 8 tahun. Pulpen kesayanganku, yang merupakan pemberian dari orang yang sangat berharga bagiku, Kak Guntur. Kupegang pulpen itu erat dan kutulis di halaman pertama buku itu dengan warna biru yang merupakan warna favoritku, tulisan “MEMORIES”. Aku tau, artinya adalan Kenangan.

Beberapa hari lalu, pak pemilik warung seberang rumahku menyalakan TV yang menayangkan tentang kematian seorang opsir polisi karena tertembak oleh pelaku dan di atas peti mati polisi tersebut tertera tulisan “IN MEMORIAM”. Segera saja kutanyakan pada pak pemilik toko arti Memoriam itu, dan aku tau Memoriam diturunkan dari Memories yang artinya Kenangan.

Aku sudah memikirkannya dua kali, dan kini aku akan mecoba menuliskannya satu per satu. Menuliskan kejadian yang kualami, atau lebih tepatnya nasib yang kulalui dan takdir yang kujalani sejak perpisahanku dengan ibu di buku tebal ini. Agar nantinya, aku bisa mengingat kembali dan menikmati saat saat itu.

 

“Kerjap kerjap mataku, mencoba menatap sinar lembut”

“Yang menyapa kehadiranku, namun semuanya telah berlalu”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Sylphermizt
Sylphermizt at Doaku : PROLOG (7 years 8 weeks ago)

Arigatou!!!!!! XD

Writer mama olga
mama olga at Doaku : PROLOG (7 years 8 weeks ago)
60

bagus dan bikin aku hampir nangis

Writer Reztingguitta
Reztingguitta at Doaku : PROLOG (6 years 51 weeks ago)

Arigatou xD