A Cup of Tea (15)

Kusangka aku sudah gila ketika meminta Lexa untuk membantuku melupakan Arvin. Maksudku, bagaimana bisa aku memindahkan hatiku begitu mudah dari Arvin kepada Lexa – kakak tirinya sendiri?

Namun ternyata, membiarkan hatiku jatuh pada Lexa adalah hal paling tepat yang rasa-rasanya tidak akan pernah membuatku merasa menyesal di sepanjang sejarah dalam hidupku. Salah satu alasan mengapa aku mempertimbangkan Lexa menjadi penambal lubang yang dibuat Arvin dalam hidupku – aku tahu istilah ini akan membuatmu mual, tapi aku akan tetap mempergunakannya – adalah Lexa sangat tampan jika dibanding penampilan Arvin yang urakan.

Haha. Aku bercanda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku merasa matahari tak pernah terbit untukku, akhirnya aku menemukan kembali selera humorku.

Memang tak bisa kupungkiri, jika kau melakukan survei mengenai mana yang lebih tampan antara Lexa dan Arvin, aku berani bertaruh dan mencukur rambutku sampai habis jika aku kalah, bahwa Lexa akan jadi pemenangnya. Tapi bukan itu yang ingin kubahas. Bagian ini tak penting. Dan aku akan mulai membicarakan inti dari apa yang ingin kubicarakan.

Bukan penampilan fisik yang membuatku akhirnya memutuskan untuk membiarkan Lexa jadi bagian dari hariku. Bukan. Tapi sebentuk ketulusan yang ditawarkan lewat semua yang dimilikinya itu.

Ketulusan yang membiusku. Yang pada awalnya kutolak mentah-mentah. Yang tak pernah berhenti dihujaninya padaku. Yang belakangan ini entah mengapa malah membuatku merasa damai. Kedamaian yang sepanjang kuingat, belum pernah kurasakan ketika aku bersama dengan Arvin.

Mungkin ini efek jatuh cinta. Mungkin aku memang sudah jatuh cinta. Dan benar-benar sedang kejatuhan cinta. Pada Lexa. Bukan lagi kepada adik tirinya yang menyebalkan itu.

Diam-diam kutarik seulas senyum di bibirku. Menyandarkan tubuhku pada jendela kamarku sambil melambai keluar sana.

Hari sudah larut. Namun Lexa tengah berdiri di luar sana, menunggu sampai aku menutup gorden jendela kamarku dan beranjak tidur, kemudian dia akan pergi. Tapi bagaimana aku bisa tertidur dengan mudah, jika otakku dengan kesadaran penuh tahu bahwa ada makhluk tampan yang sedang menungguku tertidur sebelum dia kembali ke rumahnya?

Apakah barusan aku menyebut kata tampan lagi? Oh, tolong abaikan bagian itu.

Sudah kukatakan padamu tadi, bahwa bukan ketampanan Lexa yang pada akhirnya membuatku terlena. Dan aku berjanji untuk mengontrol diriku sendiri untuk tidak lagi membahas soal itu. Aku janji. Sungguh.

Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk menutup gorden. Kemudian membalikkan tubuhku sambil bersenandung kecil. Menuju tempat tidurku. Seraya melambungkan doaku agar seminggu ini tidak akan pernah berakhir.

Sempat kulihat Fika sudah meringkuk tidur di sisi kanan ranjang. Sebelum akhirnya kedua matanya terbuka dan melirikku dengan pandangan aneh yang sarat makna.

Lo jadian sama kakak Arvin yang ganteng itu?” tanyanya. Tiba-tiba. Membuat pipiku langsung terasa hangat.

Nah, kali ini bukan salahku kalau topik ini diangkat lagi.

Gue nggak ngerti apa maksud lo,” responku. Sambil merebahkan diriku di samping Fika dan menyusupkan tubuhku di balik selimut tebal.

Pura-pura deh.” Sepertinya Fika mencibir. Karena kulihat bibirnya maju mengejekku.

Tapi aku sedang tak mempan diejek. Hatiku sepertinya sedang sangat senang. Seperti ada banyak sekali burung-burung gereja kecil yang berkicau merdu di dalam sini. Yah, itu istilah berlebihannya jika aku berkeras ingin menyampaikan kepadamu seberapa baiknya suasana hatiku saat ini.

Gue liat dia selalu mampir tiap malem ke sini.” Fika mulai beraksi. Tampak sekali ingin mengintrogasi. “Tuh!” Dia menunjuk ke arah sebuah vas di samping meja televisi di kamar kami. “Malem pertama dia kasih bunga satu kuntum, malem kedua dia kasih bunga dua kuntum, malem ketiga dia kasih tiga kuntum, sekarang pasti malem keenam, dia kasih enam kuntum kan?”

Aku meringis. Sebelah bibirku terangkat naik.

Nggak biasanya lo merhatiin gitu,” kataku. Menahan takjubku karena aku bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali aku dan Fika bisa berbincang ringan seperti ini. Padahal kami saudara kembar. Sekolah di sekolah yang sama. Tidur di kamar yang sama. Di ranjang yang sama. Namun ironisnya, kami bahkan nyaris tak pernah berbicara satu sama lain jika bukan membahas hal-hal yang menurut kami penting untuk dibicarakan.

Gue lagi mikir, kalo lo orang jadian tiga bulan, dia bakal ngasih lo sembilan puluh kuntum. Kalo tiga tahun?” Fika tampak berpikir. “Gue rasa mendingan lo orang idup di taman bunga.”

Aku tertawa. Cukup keras. Mengamati Fika yang memasang tampang datar saat melontarkan kalimat-kalimat itu. Tampangnya yang biasa. Yang nyaris tak pernah berubah sekalipun aku tahu dia sedang bergurau.

Namun tawaku yang keras itu raib begitu saja tatkala Fika melanjutkan ucapannya, bahkan sebelum aku sempat membalas gurauannya itu.

Vi?” Disebutnya namaku dengan pelan. “Kapan ya Arvin akan memperlakukanku seperti kakaknya memperlakukanmu sebaik itu?”


 

'***


 

Saya telah merekomendasikan Anda untuk menemui Dokter Elisabeth.”

Aku mengamati dokter berkacamata di hadapanku itu dengan bingung.

Kenapa harus direkomendasikan ke dokter lain, Dok?” tanyaku tadi. Mencoba menerka apa yang sebenarnya tengah dimaksudkan oleh dokter yang menanganiku saat insiden pingsanku – yang teramat sangat memalukan – seminggu yang lalu itu.

Semua berkasmu sudah saya serahkan kepada Dokter Elisabeth.” Dokter Rudy tak menanggapi pertanyaanku. Seperti memang sengaja tak mau memberiku tanggapan. Aku tak tahu. Tapi hal itu membuatku tak nyaman. Seperti ada sesuatu yang sengaja dirahasiakannya dariku.

Oleh karena itu, di sinilah aku sekarang. Duduk di ruang tunggu sambil menunggu dokter yang dimaksudkan oleh Dokter Rudy tadi. Menekan-nekan tombol di handphone-ku, menempelkannya di telinga sambil mendengarkan nada tunggu di seberang sana, sampai akhirnya kudengar suara yang mendamaikanku itu menjawab teleponku.

Vi? Ada apa?” Dia bertanya. “Apa kamu sudah selesai? Apa kata Dokter? Dia tidak memintamu dirawat kan? Kenapa rumah sakit sampai menghubungimu untuk kembali? Padahal kamu cuma pingsan kan? Sebenarnya ada apa?”

Aku menelan ludah. Memaksakan diri untuk berpikir dengan sangat-sangat keras. Kemudian kuhela nafas pendek sebelum menjawab, “Semua baik-baik saja, Kak. Aku hanya perlu menebus beberapa vitamin yang diberikan.”

Kudengar Lexa menghembuskan nafas lega. Dan tiba-tiba aku merasa keputusan untuk merahasiakan bahwa Dokter Rudy merekomendasikanku ke dokter lain adalah keputusan yang tepat. Aku tak mau Lexa jadi cemas dengan keadaanku. Maksudku, pasti ada alasan seorang dokter memintaku untuk memeriksakan diri kepada dokter bagian lain. Dan biasanya alasan itu tak terlalu baik.

Rapat-mu sudah selesai, Kak?” tanyaku. Mencoba sesegera mungkin mengalihkan pembicaraan sebelum Lexa sempat bertanya padaku lebih banyak lagi. Sebab itu artinya, aku harus berbohong lebih banyak lagi.

Belum, Vi.” Suara Lexa bernada lelah. “Seseorang tadi menabrak mobilku. Dia berkeras mau mengganti rugi, padahal sudah kukatakan padanya bahwa aku tidak mempermasalahkannya karena aku sedang terburu-buru untuk menghadiri rapat. Alhasil, sekarang aku baru sampai di tempat parkir.” Kemudian kudengar suara pintu mobil ditutup. Sepertinya dia baru saja turun dari mobilnya. “Vi? Akan kutelepon kembali nanti ya. Aku harus segera menuju ruang rapat sebelum semua direksi bubar dan aku dilempari dengan serpihan-serpihan dokumen karena dianggap tidak bertanggung jawab. Jangan terlalu cepat kangen padaku ya.”

Baru saja aku mau membuka mulutku untuk bertanya, apa yang terjadi padanya, Lexa sudah mematikan sambungan teleponku. Membuatku cuma bisa menatap handphone-ku dengan mulut ternganga lebar. Kemudian tersenyum sendiri seperti orang gila.

Lalu kurasakan lutut kananku berdenyut sakit. Memecah konsentrasiku yang tengah terfokus pada Lexa. Dan seketika saja perasaanku jadi tak enak. Tiba-tiba saja aku sepertinya dapat mencium apa yang sedang kuhadapi saat ini.

Ketika aku mendaftar untuk memeriksakan diri kepada Dokter Elisabeth beberapa saat yang lalu, kusempatkan diri untuk bertanya kepada salah seorang suster di sana tentang bagian yang dikuasai oleh dokter itu. Dan jawaban yang diberikan oleh suster itu sempat membuat kedua alisku terangkat tinggi

Tapi sekarang, tampaknya rekomendasi Dokter Rudy tidak keliru.

Ada sesuatu yang salah padaku. Sesuatu yang kuabaikan selama beberapa minggu belakangan ini. Sudah beberapa lama ini, lutut kananku sering berdenyut sakit. Saat aku sedang mencoba untuk tidur. Saat aku sedang menunggu Arvin di tepi kolam seminggu yang lalu. Saat aku sedang berada di dalam kelas dan menyimak pelajaran. Dan saat-saat lainnya yang selalu kuanggap bukan masalah besar. Seperti ada sebuah belati yang menusuk-nusuk dari dalamnya. Membuatnya terasa teramat ngilu. Kupikir aku menderita semacam rematik. Namun setiap kali pikiran itu mampir di benakku, aku selalu berusaha mengenyahkannya. Menepisnya dengan logika bahwa mana mungkin anak seusiaku menderita rematik? Bukankah rematik hanya dialami oleh orang-orang dewasa yang sudah cukup berumur?

Memang sih, aku tak terlalu mengerti detail dari penyakit itu. Tapi tidak mungkin kan kalau aku menderita rematik di usiaku yang baru tujuh belas tahun?

Kutekan pelipisku yang terasa sakit. Entah mengapa. Sekarang rasanya aku malah memilih bahwa dokter akan memvonis bahwa aku hanya menderita penyakit rematik ringan. Bukan yang lain.

Karena setelah kureka ulang, ada sesuatu yang janggal sekarang ini. Sesuatu yang tidak bisa kukatakan biasa. Karena pagi tadi, aku tiba-tiba mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang memintaku untuk datang segera mengambil hasil pemeriksaanku minggu lalu, dan ketika aku datang menghadap dokter yang dimaksud, dokter tersebut malah tanpa berkata apa-apa menyuruhku mendaftarkan diri ke dokter spesialis lain. Spesialis tulang, tepatnya. Jika kau penasaran karena dari tadi aku belum sempat memberitahukannya kepadamu mengenai bagian apa Dokter Elisabeth bertugas.

Lexa bahkan sampai mengatakan apapun yang terjadi – karena dia tak bisa mengantarku akibat rapat di perusahaan yang dipimpinnya itu sudah tertunda lebih dari dua kali –, aku harus langsung mengabarkan apa yang disampaikan dokter begitu aku selesai memeriksakan diri, sewaktu aku memberitahunya bahwa aku harus mampir ke rumah sakit setelah sekolah berakhir siang tadi. Dia bahkan menekankan kata-katanya berulang kali padaku. Harus melapor padanya. Apapun yang terjadi. Apapun. Karena tak biasanya pihak rumah sakit menelepon pasiennya jika bukan karena ada sesuatu yang mungkin dirasa sangat tak biasa, alasannya. Yang sempat membuatku tertawa senang karena mengira sebegitu besar perhatiannya padaku.

Namun sekarang kurasa kekhawatiran Lexa ada benarnya.

Rasanya belum cukup lama aku meluruskan keadaan yang kuhadapi ini, tiba-tiba saja kudengar namaku dipanggil masuk oleh seorang suster. Aku tersentak. Tak sadar berapa lama aku telah terpatung.

Kupaksakan tubuhku bangkit dari dudukku. Rasa sakit yang teramat sangat masih merangkul lutut kananku. Kemudian dengan langkah yang terasa berat, kumasuki ruangan bercat putih itu dengan perasaan tak enak yang tak bisa kugambarkan. Ungkapan berlebihan yang masih dapat kusampaikan kepadamu agar kau mengerti adalah suara kicauan burung-burung gereja yang sempat kukatakan sedang memenuhi seisi dadaku selama seminggu ini telah menghilang tanpa jejak.

Sudah pahamkah kau maksudku? Sudah mengertikah kau seberapa mengerikan rasa tak nyaman yang saat ini tengah membebatku?

Dan pada saat aku masuk ke dalam ruangan itu, bebatan itu bukan membuatku merasa lebih lega, malah menghimpitku kian kuat saat mataku bersirobok dengan sepasang mata yang pernah kutemui sebelumnya. Yang dengan sukses membuat tubuhku yang terasa dingin itu menjadi kaku.

Anda...?” Aku tak bisa memastikan apakah suaraku tidak bergetar. Yang kutahu hanya sekujur tubuhku sedang gemetar.

Oh, apa tidak ada lagi candaan lain yang lebih lucu dari hal ini?

Kamu?” Dia melihatku. Juga tampak terkejut. “Vivi Calamanda?” Sebutnya setelah sekilas dia membaca berkas di hadapannya.

Rasanya aku ingin berbalik. Boleh tidak sih kabur di tengah keadaan seperti ini? Karena rasanya tiba-tiba saja lututku jadi terasa sehat.

Duduk...,” ucapnya. Sopan. Segera setelah dia berhasil mengatasi keterkejutannya. Menyihirku untuk mengurungkan semua niat gilaku untuk tak jadi memeriksakan diri.

Aku bergerak seperti orang linglung. Duduk di hadapannya. Terpisahkan sebuah meja coklat berukuran cukup besar. Meja coklat yang entah mengapa masih membuatku merasa kurang luas untuk memisahkan kami.

Kamu – yang minggu lalu bersama dengan Lexa, kan?” Dokter berjubah putih itu mulai bertanya.

Kupejamkan mataku. Kuremas buku-buku jariku yang kaku seperti balok es. Apa yang harus kujawab? Bukan, itu kembaran saya yang bernama Fika, mungkin. Atau, iya saya bersama Lexa minggu lalu, kok Anda tahu?

Ih, aku meringis dalam hati. Jawaban konyol macam apaaa itu?

Vivi?” Dia memanggilku. Seperti ingin memastikan bahwa aku mendengar dengan sangat jelas apa yang barusan ditanyakannya.

Sepertinya aku lebih baik pura-pura tuli.

Saya tidak tahu apa yang telah Lexa ceritakan padamu.” Dia melanjutkan. Samar-samar aku mendengarnya mendesah lirih. “Tapi tolong sampaikan sesuatu kepadanya....”

Apakah itu permohonan? Atau permintaan yang nyaris seperti mengiba?

....bahwa ada banyak hal di dunia ini yang lebih baik dia tak tahu, untuk menjaga agar segala sesuatunya tetap baik.”

Kali ini, kubuka mataku. Kuputuskan tidak lagi berpura-pura tuli. Lalu tanpa sadar, kedua mataku telah dalam menatap ke arahnya dan kubaca kesakitan yang teramat sangat telanjang di kedua bola mata itu. Kesakitan yang aku tahu dia tidak sedang berpura-pura.

Jeda beberapa detik yang rasanya amat panjang, sebelum akhirnya dia berdeham kecil, tersenyum miris – mungkin – karena mendapati aku tak memberikannya tanggapan dalam jenis apapun, kemudian membuka berkasku, terhenyak beberapa waktu lagi, dan akhirnya menatap lurus-lurus kepadaku.

Aku benci. Benci dengan suasana seperti ini.

Saya sakit apa, Dok?” tanyaku. Mendahului dia berbicara.

Dokter Elisabeth masih menatapku. Seperti enggan bicara. Atau tak sanggup bicara. Tak bisa kupastikan. Namun yang bisa kuyakini, sorot matanya itu pelan-pelan berubah seolah-olah dia kasihan padaku.

Apa kamu merasakan nyeri pada lutut kananmu selama ini, Vi?” Dia mulai bertanya.

Kuanggukkan kepalaku.

Sudah berapa lama?”

...Saya tidak ingat, Dok. Mungkin beberapa minggu terakhir ini yang paling terasa.”

Lalu dia diam.

Saya meminta orang tuamu untuk datang menemanimu pada konsultasi berikutnya, Vi. Besok. Di jam yang sama seperti hari ini. Bisa?”

Kali ini aku yang diam.

Besok,” ulangnya. Bernada penegasan. “Jangan sampai tidak, Vi.”

Kukerutkan keningku. Separuh karena tak mengerti. Separuh lagi karena sakit yang mulai menggila di kepalaku.

Saya... sakit apa sebenarnya, Dok?”

Dokter cantik yang kukenali sebagai wanita yang telah melahirkan Lexa itu mengamatiku sejenak. Kemudian kulihat dia tersenyum. Seakan berusaha menenangkanku dengan senyumannya itu. Namun sayangnya, tak berhasil.

Karena begitu kudengar untaian penjelasan singkat yang keluar dari bibir dokter di depanku itu, seketika saja aku merasa seisi otak dan tubuhku terasa kosong. Seperti ada ribuan monster yang tengah menyerbuku dari segala penjuru, mengelilingiku sampai tak ada celah lagi buatku untuk melarikan diri, dan siap menelanku dalam hitungan detik. Membuatku tidak mengerti lagi harus melakukan apa.

Ya, kalau tadi aku sempat berpikir, apakah ada candaan yang lebih lucu daripada pertemuanku yang tak disangka-sangka dengan orang yang dibenci sekaligus dicintai Lexa dalam waktu bersamaan, sekarang ini aku dihadapkan pada gurauan yang lebih konyol dari sebelumnya.

Begitu konyolnya hingga aku tak bisa lagi menemukan hasratku untuk menjelaskannya padamu supaya kau paham apa maksudku.


 

'***


 

Kubolak-balikkan buku menu di hadapanku dengan serius. Pura-pura serius, kalau kau mau tahu. Karena pikiranku sedang memusuhiku belakangan waktu ini. Sampai aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa yang sebaiknya kulakukan dalam seminggu terakhir ini. Seminggu terakhir terkutuk usai pertemuanku dengan Dokter Elisabeth yang membuat pondasi kebahagiaan yang baru saja kutancapkan di dasar hatiku itu amblas ke dasar bumi. Tanpa sisa.

Mozaru Chicken with dynamit sauce.”

Asal, kusebut sejenis makanan yang kurasa tampilannya paling menarik di buku menu. Mengamati Lexa dari sudut mataku dan menunggunya ikut memesan sesuatu. Tapi tampaknya dia sedang bingung, atau cenderung gelisah. Karena sejak tadi kudapati dia cuma melihat ke arahku. Seperti ingin menyampaikan sesuatu yang tertahan dan tak bisa keluar dari tenggorokkannya. Oleh sebab itu, kubuka suaraku. Dengan sengaja.

Lo sama kan, Vin?”

Dia masih diam.

Vin...?” pancingku.

Beef spagetthi,” ujarnya akhirnya.

Pada saat itulah kuangkat kepalaku dan memindahkan mataku dari halaman buku menu menatapnya. Kemudian kutemukan betapa pilu mata itu menatapku. Seperti tak tahan lagi untuk tak mengatakan bahwa sudah cukup aku menyakitinya selama seminggu ini. Sudah cukup kusebut nama Arvin ribuan kali dalam sehari dan membuatnya nelangsa.

Sayangnya saat ini aku tak bisa berhenti. Tak mau berhenti. Tak boleh berhenti.

Kak...,” desahku pelan. Berlumur rasa bersalah.

Tak apa.... Kamu butuh penyesuaian...,” ucapnya.

Aku tahu dia tengah berpura-pura memahamiku saat itu. Aku tahu persis seperti apa rasa sakit yang merajamnya setiap kali kusebut nama Arvin. Aku tahu. Karena aku pernah merasakannya sewaktu aku menyukai Arvin dan Arvin menyukai Fika. Dadaku bahkan terasa nyaris meledak setiap kali kudengar Arvin sibuk membicarakan semua hal tentang kembaranku itu. Aku tahu sekarang ini kami tengah dilibat situasi yang nyaris serupa.

Nyaris, kataku. Bukan persis sama. Sebab dulu, Arvin tidak melakukannya dengan sengaja padaku. Dan aku – saat ini tengah melakukan kebalikan dari apa yang pernah Arvin lakukan padaku.

Setelah itu, detik-detik selanjutnya diisi dengan percakapan membosankan di antara aku dan Lexa. Sampai akhirnya, mungkin karena dia tak tahan lagi, dia pamit dan melangkahkan kakinya ke toilet selama beberapa waktu.

Tapi  seperti tak rela memberi ampun pada Lexa, sengaja kuangkat topik yang paling dihindarinya itu setelah dia selesai menelan makanan pesanannya yang cuma tersentuh tak sampai separuh. Pertanda bahwa suasana hatinya sedang sangat tak baik saat itu.

Apa aku bikin Kakak sakit...?” tanyaku. Pelan. Tajam.

Kulirik Lexa sejenak. Tampak nyaris tersedak.

Maaf, Kak.

Sakit...?” Dia balas bertanya.

Sakit hati...?”

Terus. Kuajukan pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus padanya. Seperti selongsong peluru yang tak pernah ada habisnya. Sampai dia kelelahan. Sampai aku tiba pada tujuanku.

Apa nggak lebih baik kalau kita... – berteman saja, Kak? Kalau begini terus, Kakak bakal lebih merana dari aku....”

Maafkan aku.

Apa mencoba jalan denganku, membuatmu merasa sakit, Vi...? Apa semua yang kulakukan selama ini, sama sekali tak pernah bisa menggeser sedikit saja posisi Arvin di hidupmu...?”

Rasanya, banyak sekali yang Lexa katakan padaku saat itu. Tapi aku tak bisa lagi berkonsentrasi. Kujawab saja semua yang ditanyakannya padaku sekenanya. Sekedarnya. Hanya supaya semua ini segera berakhir. Karena semuanya harus berakhir malam ini.

Melupakan Arvin, akan tetap kulakukan, Kak. Bersama dengan Kakak. Seperti yang malam itu aku katakan. Aku mau Kakak membantuku melupakan Arvin.” Kukerahkan semua tenagaku agar bibirku sanggup menarik sepotong senyum. Kemudian kututup kalimatku dan semuanya akan berhenti sampai di sini. “Aku akan menganggap Kakak sebagai kakak laki-lakiku. Yang membantu adiknya melupakan masa lalunya yang nggak menyenangkan. Sebatas itu, Kak.”

Kumohon maafkan aku.

Menit-menit berikutnya, aku merasa separuh tak sadarkan diri. Sekonyong-konyong suara di sekelilingku tak bisa lagi kudengar. Seperti ada yang mencabut nyawaku dengan tak sempurna di dalam sini. Sampai-sampai aku merasa ini lebih buruk dari seluruh hal buruk yang pernah ada di muka bumi ini.

Dengan secuil kesadaranku yang masih tersisa ketika Lexa beranjak pergi meninggalkanku, kuketikkan sebuah pesan singkat dam kukirimkan pada sederet nomor yang ada di telepon genggamku.

Kemudian untuk alasan yang tak bisa kupahami, mataku terasa perih.

Aku tak mengerti. Sungguh tak bisa mengerti. Meskipun dari dulu aku tahu, bahwa tidak ada suatu hal apapun yang kekal di dunia ini, tapi tetap saja aku merasa ini tidak adil buatku.

Bagaimana bisa. Coba katakan padaku bagaimana bisa. Bagaimana bisa pada saat yang sama ketika aku merasa pada akhirnya aku menemukan apa yang kucari selama ini dalam diri Lexa, pada saat itu pula kenyataan lain menamparku dan membuatku tersadar, ada begitu banyak hal lain yang membuatku harus melepaskan Lexa jika memang perasaanku kepadanya adalah benar. Bukan lagi bisa atau tidak bisa. Bukan pula mau atau tidak mau. Tapi harus.

Sekali lagi, kulirik sederet kata-kata pada pesan singkat yang tadi kuketikkan.

Kak Lexa keluar sekarang, Sy....

Lalu rasa perih di mataku menggila. Turun menjadi hujan deras yang tak bisa berhenti meskipun aku sudah nyaris segila perihku yang menggila.


 

'***


 

(to be continued)


 

Read previous post:  
155
points
(2829 words) posted by Sun_Flowers 8 years 18 weeks ago
91.1765
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | a cup of tea
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vitalatifa
vitalatifa at A Cup of Tea (15) (4 years 45 weeks ago)
100

aku bahkan udah nungguin sampe berabad-abad nih mana lanjutannya...??? kak sun flower kemana... ??? addicted bgt sama nih cerita, tapi kagak ada lanjutannya. hikssss :-(

Writer redbee
redbee at A Cup of Tea (15) (5 years 1 week ago)
100

hai hai.. aku selalu nungguin lanjutannya.. sempet terhenti hampir 3 tahun buat baca bab 15 nya.. karena baru skr internet dikantor bisa dibuka.. :( tp koq ga ada lanjutannya :(

Writer Amalia Ekasari
Amalia Ekasari at A Cup of Tea (15) (5 years 42 weeks ago)
30

Wow...great!

Writer Xander_X
Xander_X at A Cup of Tea (15) (7 years 8 hours ago)
100

Please please please banget, ini dibikin novel nyaaa! Pingin banget baca dalem bentuk bukuu T ^ T

Writer suararaa
suararaa at A Cup of Tea (15) (7 years 5 weeks ago)
100

wwaaaaaahh akhirnya berlanjut.. sunflowerrrr.... love u....
btw,,, jangan buat vivi sakit parah dan mati yaaaa.. plissssss

Writer suasti_was
suasti_was at A Cup of Tea (15) (7 years 18 weeks ago)
100

point poll, penasaran sama kelanjutannya...

Writer fachrunnisa eva
fachrunnisa eva at A Cup of Tea (15) (7 years 18 weeks ago)
100

kak suuuunnn mengapa si vivi selalu di buat menderitaaaaa???

Writer cat
cat at A Cup of Tea (15) (7 years 27 weeks ago)

I'm Sun Flower lover.

( ~ _ ~ ) ◦°◦° ♓îНiнiнiнi♓î
(")(")

Lanjuuut.