BOR N2 Match F-2: Allan Fenestra vs Link Arturo (versi wkwk penjaga makam)

 

Intro (?)

 

(p.s: ini intro iseng akibat kegalauan penulis yang ternyata ketemu Link di ronde dua—sangat gak penting, dan gak akan muncul di layar yg ditonton Sakaki Ko dan Fort. Jadi gak ada gunanya dibaca, langsung aja lompat ke hal 2)

Setelah menerima penjelasan dengan siapa dan dimana tempatnya bertarung, Allan melangkah masuk menuju portal hitam yang ditunjuk Kepala Manajer. Ia hanya menghela nafas panjang menanggapi pertandingannya kali ini. Ah, sejak awal dia memang mengikuti turnamen ini hanya untuk iseng sebenarnya, daripada lagu-lagunya hanya dipakai untuk menakut-nakuti orang setelah susah-susah dibuat, mending dia ikut turnamen aneh ini untuk menguji lagu tersebut.

Setidaknya itu yang dipikirkan penulis. Entah apa yang dipikirkan Allan.

Tapi, sepertinya dia senang-senang saja mengikuti turnamen ini. Lihat, dia bahkan berjalan memasuki portal sambil bersenandung! Sepertinya dia terlalu sering memikirkan kematian orang lain hingga tidak memikirkan kematiannya sendiri.

Dan seharusnya dia keluar di pabrik pemotongan daging setelah melewati portal itu, namun tampaknya dia sama sekali tidak terkejut ketika mendapati dirinya berada di tempat lain. Matanya yang terbiasa dalam kegelapan memberi tahu bahwa dirinya berada di ruangan segi empat kecil yang dipenuhi puluhan boneka manusia berbagai jenis dan ukuran yang berserakan. Semua boneka itu cacat dan penuh retak, potongan-potongan tubuhnya yang terpisah dibiarkan menggunung. Di tengah ruangan, ada sebuah sofa yang dilapisi kain putih dan meja kecil, dan seakan tahu dimana dirinya berada, Allan duduk di sofa itu. Ketiga pengikutnya masih bertengger di pundak dan kepalanya.

“Keluarlah, Nona kecil. Ada apa kau memanggilku?” katanya dengan mata yang berkeliaran menyapu ruangan.

“Allan, Allan!”

Tiba-tiba sebuah suara kecil melengking terdengar. Tumpukan-tumpukan boneka itu bergerak perlahan di sudut ruangan, kemudian sebuah bayangan hitam menampakkan diri.  

Allan tersenyum melihat siapa—atau mungkin apa—yang keluar dari balik tumpukan boneka itu. Sebuah boneka perempuan yang masih utuh tanpa cacat sedikit pun. Layaknya manusia, ia bergerak sesuka hati, namun layaknya pula hantu, ia menyeringai ke arah Allan sedang matanya yang hitam bulat besar tak pernah berkedip terus memperhatikan si pria kurus. Boneka itu menyalakan lilin dan meletakkannya di meja kecil, kemudian mulai mengoceh dengan suara melengking.

“Allan, Allan!” kata boneka itu, “Ronde dua sudah dimulai lho! Dan lawanmu kali ini sangat menyusahkan!”

“Aku tahu.” Allan memutar matanya, “Hanya karena itu kau memanggilku kemari, Nona kecil?”

Boneka itu mendengus, beberapa helai rambutnya yang menutupi wajah sampai ikut terbang. “Berhenti memanggilku Nona kecil!” gerutu si boneka, “Aku hanya ingin memperingatkanmu!”

“Baiklah Ann,” Allan tertawa. “Ada apa?”

“Begini, berhati-hatilah pada lawanmu kali ini! Dia mempunyai empat kepribadian yang berarti kau akan melawan empat orang dengan empat kemampuan yang berbeda-beda. Salah satu dari empat orang itu bisa memanggil pasukan iblis, kau harus berhati-hati!”

Mendengar perkataan boneka itu, Allan memutar matanya dan kembali tertawa. “Ah ya, kau benar. Profil yang dibagi-bagikan di kafe itu tampak menggelikan, dia seakan mengejekku.”

“Bisa-bisanya kau tertawa! Dia tidak main-main, aku sudah lihat pertandingan versinya dan kau benar-benar dikalahkan telak!” Boneka itu menunjuk satu-satu burung yang hinggap pada sang majikan, “Mereka mati! Anjing gilamu mati! Dan..” jari telunjuk kecil itu mengarah pada biola yang digenggam Allan, “Biola itu hancur! Kau percaya? HANCUR!”

“Hmp,” Allan menundukkan kepala dan memejamkan mata. Kemudian ia tersenyum dan mengelus Dant yang bertengger di bahu kirinya, “Yang itu aku tidak heran. Nampaknya semua peserta ingin membunuh mereka. Oh, bahkan mereka dijadikan hadiah kontes memasak. Sebegitu menggiurkannya kah mereka?”

Emed, Hood, dan Dant memekik hampir bersamaan. Allan melanjutkan kata-katanya, “Namun biolaku? Hancur? Nona kecil, itu pasti bukan biolaku.”

Boneka berambut panjang itu hanya menggerutu, kemudian menyeringai, “Dasar! Ya sudah, aku tidak mau tahu, pokoknya aku sudah memperingatkanmu! Berhati-hatilah padanya!”

“Aku sangat berterimakasih kau memperhatikanku, Ann. Kalau aku menemukan mayatmu, aku berjanji akan mengurus pemakamanmu,” Allan tersenyum sekali lagi dan beranjak dari tempatnya semula.

Si boneka tampak malu-malu, lalu ia berkata dengan nada sengak sambil berkacak pinggang, “Benar, benar! Mau Link Alkemis, Link Naturalis, Link Mekanis, atau Link Okultis sekalipun semuanya akan bertekuk lutut pada busur biola! Oh tidak, sebelum si Alkemis memanggil si Mekanis dan Naturalis, dipastikan Link sudah tak bisa berdiri lagi! Mwahaha!!”

Mendengar ocehan tidak jelas si boneka, Allan hanya menghela nafas, “Ann, kadang omonganmu meresahkanku. Jangan berkata yang tidak-tidak tentangku.”

Si boneka kembali mendengus, “Ya sudah, semoga kau beruntung!”

Allan membalikkan badan dan melangkah menuju portal hitam yang masih aktif. Di bibirnya tersungging senyum asimetris. Si boneka menyalakan orgelnya, nada yang mengiringi kepergian dan senandung pelan si pria kurus bernuansa hitam.

***

 

Read previous post:  
Read next post:  
100

Quote:

karena sudah rusak, sekalian saja rusak semuanya~!

Sialan, w ngakak keras baca yang ini.
XD
Btw, Allan serem juga ya.. Cengar cengir sendiri, santai walau dikepung, n sopan terhadap lawan (walau sadis juga sih)
Btw, setuju dengan komeng di bawah... Tubuh ceking Allan sepertinya memiliki tingkat durability yang sangat tinggi ya... :O

awawa, makasi uda mampir kak Ichsan ^-^/
.
ia, penulisnya kelebaian kayaknya ya ._.)
hwaa, maapkan sayaa

100

darah dimana2
keren bgt kak o.o
sayang g sempat kasi nilai, mungkin bakal kasi nilai A juga (sama aja) #plok xD

makasi Red uda mampiirr >w<

100

ga nyangka Allan kenal ma monster2nya Link... benar2 dahsyat pertarungan ini.
.
awalnya mau mencari2 kekurangan karena ni di post mepet dedlen, tapi sungguh, ga ada kekurangan.
.
lagian om Glen juga uda ngasih B...
.
Jadi saya kasih A!

bukannya BANYAK kekurangannya itu kak.. hiks T.T
.
itu sbnernya penulisnya bingung gmana caranya ngalain monster segitu banyak XDD *buka aib
.
makasi kak Suun~~ >.<

Uwooogh, gak kuat untuk ngasih selain "A"! Ceritanya bikin IC saya nambah @.@ Keren, hiks @.@
Post selanjutnya di rapihin ya kak Icha, kerapatan tulisannya bikin mata saya siwer O.o

hue, kurang spasi ya? oke deh nti ronde 3 dibetulin, thx udah mampir Lazu.. :DD
.
dan makasi A-nya T.T dan sy blum mampir k battlenya Ezy >.<

100

Ini seperti yang biasanya... :v ALWAYS PERFECTO...!
Tapi gegara ternyata dikau ngepost jauuuuuh lebih telat daripada gue yang telat, jadi :
.
Score B

masa si kak Glen ? penuh cacat gini.. -_____-
.
untunglah, terhindar dari C meski sy msi ngarep kombo A #plak #gamungkin xDD
.
makasi uda mampir kak Glen >.<

100

gak mau ngasih takut Subyektif, karena rival...

tapi ini keren, mulai dari sinkronisasi Scene, sampai Entitas penulis.

masa si kak ? ooh itu cuma intro iseng aja kak, gk ada hubungannya dengan BOR xD
.
makasi kak Ivan >.<

Jadi Ann itu sudah 'mati' ? Ia kehilangan jasadnya dan harus meminjam tubuh boneka? Ckckck... kasihan sekali...
.
Adegan yang terasa dramatis: Allan terjatuh. Link terjatuh.
Nyahahahaha...
.
Darah. Penuh darah dimana mana! Huwaaaaaa..... aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk dinding kamarku. Apa Link punya ampul yang bisa menghilangkan bau amis? #abaikan
.
Wogh! Allan uda hancur hancuran begitu masi hidup jugak yak? Tubuh cekingnya ternyata punya daya tahan luar biasa.
.
Ending yang tragis. Kepala Link bisa dijadikan bola sepak tuh!
.
Skor: A++

ia, dia udah mati hehe. ada cerita ttg dy sih, tapi males aku cari link nya #plak
.
begitulah T_T diriku gak terlepas dari drama huaa T_____________T
.
Link, setelah lulus nanti buatlah ampul yang lebih banyak lagi, terus jual ke DeMet ini~ awkwk
.
sudah kubilang ini cacad.. makasi udah baca T_T
dan ++ nya itu.. hiks ;;w;; -terharu (?)-

100

A
Mengerikan

gak nyangka ada juga yg baca battle ni hiks.. T_T
.
makasih kak Yunus.. :D

80

"Kelihatannya baru pertandingan ini yang menyajikan begitu banyak darah di dalamnya."
.
"Oh? Sakaki-kun ternyata suka gore ya?"
.
"Bukan, hanya saja aku merasa pria ini benar-benar...bagaimana mengatakannya, ya? Tidak hanya ia bisa tetap tenang dan tidak kehilangan senyum -hal itu saja sudah cukup mengerikan-, tapi takdir seolah selalu berpihak kepadanya."
.
"Takdir adalah milik mereka yang menghendakinya. dan bicara soal kemampuan untuk tetap tersenyum, kau harusnya tahu kalau senyum adalah senjata terhebat dalam peradaban manusia~."
.
"...seperti dirimu, eh? Dan seingatku, kau pernah bilang kalau senjata terhebat manusia itu 'keberuntungan'."
.
"Haha~. Tapi aku setuju tentang satu hal sih. Pria ini memang kelihatannya seolah tidak terikat dengan kehidupannya sendiri, dan kadang orang seperti itu memang termasuk yang berbahaya."
.
"Aku jadi kasihan dengan lawannya di pertandingan berikutnya."
.
Score : A

T_T
.
makasih kak Sam (gak nyangka masi dapet skor A) T.T
.
kebanyakan senyum ya.. dasar cowok gak jelas, tebar pesona fail~!! #plak
.
ngomong2 maksudnya 'tidak terikat dengan kehidupannya sendiri' apa kak ?

100

CACAAAAAD, BODO AH
biarlah gak ada yang baca biar kecacatannya tersembunyikan (?) #plak
.
Link : http://www.kemudian.com/node/264334
Allan : http://id.kemudian.com/node/264309