BoR F-3 : Rafolt Dimon feat. Boru vs Link (Rafolt win...)

Pintu pun dibuka, dan seseorang pria bermasker gas, Sasaki Ko, memasuki ruangan gelap itu dan mempersilakan kedua tamunya dengan nada datar, “…silakan masuk…”

 

Kedua pria yang dipersilakan mematung. Kemudian untuk beberapa saat kedua tamu Sakaki Ko itu bertemu tatap. Ada aura saling tidak suka memancar dari kedua mata mereka. Aura persaingan, lebih tepatnya.

 

“Jadi, kali ini [karakter jagoan]ku melawan punyamu, heh?” tanya salah satu dari mereka yang mengenakan kacamata, Xentra, sambil tersenyum merendahkan.

 

“Aku tidak sabar memulai,” ujar pria berkepala bulat itu, Ivan, antusias. “Sebaiknya segera kita mulai…”

 

Ivan pun melangkah memasuki ruangan gelap itu. Sedangkan Xentra tersenyum, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, dan mengikuti lawannya memasuki ruangan.

 

“Selamat datang di kamar gelap ini. Ruangan ini diperuntukkan bagi [penulis] untuk menonton pertarungan [karakter jagoan] masing-masing,” kata Sasaki Ko dengan nada datar. Saking datarnya sampai Ivan dan Xentra tidak menganggapnya sebagai ucapan selamat datang.

 

Sakaki Ko beranjak dan menduduki sebuah sofa panjang yang empuk di tengah-tengah kamar gelap itu. Sofa panjang itu satu-satunya perabotan di ruang itu dan bisa diduduki oleh tiga orang sekaligus, karena memang sofa itu didesain untuk tiga orang.

 

“Silakan duduk, dan mari kita mulai..,” ajak Sakaki Ko dengan nada datar. Saking datarnya sampai tidak pantas disebut sebagai sebuah ajakan.

 

Xentra lantas duduk di sofa, di sebelah kiri Sakaki Ko. Dan sama patuhnya, Ivan turut duduk, di sebelah kanan Sakaki Ko. Tapi sepertinya sofa itu terlalu sempit untuk mereka bertiga sekaligus.

 

“Sempit, Ko,” ujar Ivan protes.

 

“…tambah panjang…” Sakaki Ko berujar datar, dan setelahnya sofa itu menjadi lebih panjang.

 

“Nah, begini lebih baik,” kata Ivan, lega.

 

“Siap?”

 

“Ummm… Siap!” jawab Xentra, bersemangat.

 

“…silakan saja,” susul Ivan, acuh tak acuh.

 

Sakaki Ko menjentikkan jarinya. Dan kejadian aneh pun terjadi…

 

Ruangan yang tadinya gelap, kini berubah. Benar-benar berubah. Kegelapan yang tadinya melingkupi mereka perlahan digantikan sinar matahari yang terik. Tembok yang seharusnya mengelilingi mereka, digantikan oleh pemandangan tebing batu yang dipahat menjadi bangunan-bangunan, hingga menjadi sebuah kota. Menakjubkan.

 

Udara menjadi sangat panas, tapi tidak membuat sepi pemandangan ini dari manusia. Anehnya, tidak satupun manusia yang menyadari kehadiran mereka. Padahal,  orang-orang sibuk mondar-mandir di sekitar mereka, asyik jepret sana, jepret sini dengan kamera di tangan. Tapi tidak ada yang melihat ke arah mereka.

 

Tidak melihat mereka atau  tidak bisa melihat mereka?

 

“Arena pertandingan kali ini di Kota Petra. Kota tebing batu yang terkenal,” ujar Sakaki Ko menjelaskan seraya melihat anak-anak kecil yang berlarian. “Sebentar lagi [karakter jagoan] kalian berdua akan datang,” kata Sakaki, mengakhiri.

 

Belum ada lima menit mereka bertiga menunggu, tiba-tiba langit biru cerah di atas bangunan tebing kota itu retak. Retakannya semakin luas dengan bunyi ‘kretek kretek’. Memaksa orang-orang untuk mendongakkan kepala mereka. Tatapan-tatapan heran tertuju ke langit. Tapi tidak ada sedikit keterkejutan pun yang terpancar dari tiga orang yang duduk di sofa itu. Seolah kejadian langit retak adalah kejadian yang biasa mereka jumpai.

 

*PYAAAR*

 

Langit yang telah retak itu pun runtuh dengan suara seperti kaca pecah. Pecahan langit itu mirip pecahan kaca, namun ukurannya lebih besar. Dan ternyata tajamnya melebihi pecahan kaca. Pecahan-pecahan langit itu memotong-motong tubuh orang-orang dengan mudahnya.

 

Mereka berteriak. Menjerit. Dan terdengar semakin melengking ketika nyawa mereka semakin lenyap. Ada yang kehilangan tangan, kepala, bahkan dada terbelah dua.

Darah.

 

Darah.

 

Dan darah…

 

…darah di mana-mana…

 

Darah anak kecil. Darah wanita molek. Darah gagah laki-laki… Semua sama. Merah warnanya!

 

“Belum apa-apa. Sudah ada darah…” Ivan berujar datar, seakan darah yang tertumpah adalah hal yang wajar.

 

“Bukannya ini yang menarik!?” Kedua bola mata Xentra membesar, penuh antusias. “Bertarung di atas genangan darah. Pasti mengasyikan, kan?”

 

Ivan menatap Xentra, lalu tersenyum. Seolah senyumannya menggambarkan kesepahamannya.

 

---

 

Dari lubang hitam yang ada di langit, empat sosok turun perlahan-lahan ke tanah. Seekor beruang, seorang pemuda berambut pirang, dan laki-laki berambut kuncir kuda. Mereka bertiga berdiri berhadapan dengan seorang wanita ber-eyepatch hitam yang bediri di antara mereka bertiga.

 

Saat mereka semua berhasil menapaki tanah, wanita yang memakai eyepatch hitam, DIA, berujar, “Kita sudah sampai! Dan pertarungan akan segera dimulai!”

 

“Belum apa-apa. Sudah ada darah…” Pemuda berambut pirang itu, Link, berujar datar, seakan darah yang tertumpah adalah hal yang wajar.

 

“Bukannya ini yang menarik!?” Kedua bola mata laki-laki berambut kuncir kuda itu, Rafolt, membesar, penuh antusias.

 

“Bertarung di atas genangan darah. Pasti mengasyikan.” ujar beruang berbulu coklat itu, Boru, menambahkan.

 

Link menatap Rafolt dan Boru, lalu tersenyum. Seolah senyumannya menggambarkan kesepahamannya.

 

“Baiklah! Akan kubacakan peraturannya!” Semua orang diam, berkonsentrasi pada apa yang akan diucapkan DIA, termasuk Xentra dan Ivan. “Pertama, tidak boleh membunuh...”

 

“Lalu bagaimana caranya bisa menang?” potong Rafolt, tak sabaran.

 

“BRENGSEK! BIARKAN AKU SELESAI MENJELASKAN!” DIA berteriak lalu memukul perut Rafolt dengan tonfa yang ada di tangannya. Rafolt mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.

 

“Eh? Kok [karakter jagoan]ku dipukul pemandu?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Xentra dan hanya ditanggapi datar oleh Ivan dan Sakaki. “Aku tidak terima! Pertarungan belum berlangsung dan [karakter jagoan]ku sudah terluka? Ini tidak adil!”

 

*PLETAK*

 

Sakaki menjitak kepala Xentra lalu berujar dengan nada datar, “Tidak [penulis]nya, tidak [karakter jagoan]nya…. sama-sama menyebalkan.”

 

Ivan cekikikan melihat lawannya menderita. Hihi! Ini baru yang namanya hiburan! Ujar Ivan dalam hati.

 

“Adu-du-duh! Sakit, sakit! Ukh~ Sakaki kejam!”

 

“Diam atau kujitak lagi?” ancam Sakaki Ko yang kemudian ditanggapi Xentra dengan merengut sebal.

 

“Ehem! Jadi, ada dua pilihan. Buat lawanmu tak sadarkan diri atau mengaku kalah. Mengerti?” tanya DIA kemudian.

 

“Hmm… Aku mengerti,” balas Link kemudian.

 

“Yah, aku paham,” jawab Boru singkat.

 

*DUG*

 

“HEY! Sakit, tahu! Hobi menyiksaku, ya?” protes Rafolt setelah digetok kepalanya oleh DIA.

 

“Makanya jawab, Bodoh! Kau sudah paham belum?” teriak DIA seraya mengacungkan tonfanya ke hidung Rafolt.

 

“Iya…. Iya…. Aku paham.” Rafolt mengelus-ngelus puncak kepalanya yang masih sakit sambil cemberut.

 

“Pakai ini….” DIA melempar sesuatu kea rah Rafolt, Boru dan Link, masing-masing satu buah.

 

Mereka bertiga mengerutkan kening ketika melihat apa yang dilemparkan oleh DIA. Benda itu berbentuk seperti tongkat es krim, panjangnya kira-kira 10 cm, dan terbuat dari alumunium. Tapi, benda itu sangat lentur, bisa dibengkokkan dengan mudah.

 

“Pakai di tangan…” kata Dia menginstruksi, singkat.

 

Dahi Rafolt kian berkerut, bingung. Dilihatnya benda itu dari berbagai sudut, tapi tak ditemukannya satupun cara untuk memakai benda ini.

 

Beda dengan Rafolt, Link segera melingkarkan benda itu di pergelangan tangannya. Benda itu lentur, tapi saat dua ujungnya bertemu, seperti ada magnet yang menarik satu sama lain. Seperti memakai gelang, piker Link dalam hati.

 

Setelah memakainya, tiba-tiba rambut pirang Link yang disisir perlente rontok. Satu per satu, dengan cepat. Tapi rambut-rambut yang rontok itu tidak jatuh ke tanah, melainkan beterbangan di atas kepalanya dan membentuk angka satu dan dua angka nol.

 

“Ra-Rambutku!” teriak Link sembari mengusap-usap kepalanya yang kini botak.

 

“Hummm…. Seratus?” tanya Boru, bingung.

 

“Hey! Kenapa jadi botak, Ko?” Ivan yang sedari tadi tidak banyak komentar, akhirnya protes juga.

 

“Yah, cuma tersisa alat ini untuk menentukan life bar. Alat lain yang lebih canggih sudah dipakai oleh peserta lain.” Sakaki Ko menerangkan dengan singkat dan dengan nada yang datar.

 

“Lalu bagaimana dengan Boru? Kau mau menelanjangi seekor beruang, ha?” Xentra ikut-ikutan protes.

 

*PLETAK*

 

“Jangan ikut-ikutan…” ujar Sakaki dengan nada yang sama datarnya dengan tadi, setelah menjitak kepala Xentra untuk kedua kalinya. Xentra mengaduh sambil merutuki Sakaki dalam hati.

 

“Cepat pakai dan kita mulai!” teriak DIA kepada mereka bertiga.

 

Tanpa ada banyak protes lagi dari Xentra dan Boru, akhirnya mereka terpaksa menuruti instruksi DIA. Dan seperti yang sudah terjadi dengan Link, hal yang sama terjadi pada Rafolt. Sedangkan Boru, semua bulunya rontok hanya demi membentuk angka seratus di atas kepalanya. Akibatnya, angka seratus Boru lebih besar ketimbang milik Link dan Rafolt.

 

“Hihihi… untunglah aku tidak harus memakai life bar stick itu. Tentu aku akan terlihat sangat memalukan,” ujar DIA seraya cekikikan. “Ukh. Ehem! Jadi, rambut kalian yang membentuk angka seratus adalah poin yang menentukan kekalahan atau kemenangan kalian. Siapa yang rambutnya membentuk angka nol, dia telah kalah. Gampang, bukan? Baiklah!

 

BoR F-3 : Rafolt Dimon feat. Boru vs Link….. DIMULAI!!!”

 

“Akhirnya…” ucap Ivan dan Xentra bersamaan, lega.

---

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

awkwk, ini kocak, FABULOUS!! XDDD
.
tapi endingnya kurang gereget ahh.. jadi Rafolt sama Boru lebih kuat Boru?? Rafolt lebih pinter dong! >.<
.
setuju sma yg lain, inovasi2 (?) nya bagus, apalagi yg nonton bareng itu.. kocak banget! awkwk XDD
.
Skor A krn pertandingannya bagus n sy blm perna ngasi A #plak

100

nyooo, cuma kak gie yg boleh bikin sakaki OOC kak #pletak xD
ni lucu bgt kak, penulis nonton pertandingan OC, hp pake rambut, tonfa yg bs bicara, link ada 2, rafolt maling ampul, seru bgt kak xDD
tp endingnya kerasa agak kurang kak, sakakiko jg mirip pesulap gitu, cling2 kursi jadi panjang dan muncul salmon bakar x3
poin B

80

Minus keberadaan Sakaki yang seharusnya saat ini ga ada di tempat selama ronde 3 berlangsung, battle-nya cukup apik. Selain Link keliatan fleksibel, makin ke sini tulisanmu makin keliatan ada perkembangan jadi beneran nyaman buat dibaca kalau dibandingin penyisihan dan ronde 1.
Keliatannya saya bisa puas ngeliat peserta BoR kali ini banyak yang mendapat pelajaran dan pengalaman baru dengan cara mereka sendiri-sendiri.
.
Btw, ternyata selain Mliit, ada juga yang make cara menang dengan terbunuh...

80

membentuk tangan-tangan yang solid dari listik.

mungkin ya?

oke, ini battle paling keren yang pernah saya baca. kayaknya ini kebiasaan dikau bikin ending yang ambigu :3 and Btw Btw. saya mau ngasih A bukan karena Rafolt favorit saya tapi karena Link di sini keliatan masuk akal daripada punya aslinya. heheheh~

100

Sakaki Ko harusnya lagi cabut loh... Tapi terlepas dari itu, plot battle ini sangat menarik! Sakaki Ko, Xentra, dan Ivan nonton bareng pertarungan OC2 mereka? N komentar2 yang dilayangkan itu seringkali bikin ngakak!
.
Trus gelang yang bikin botak, Link jadi 2, tonfanya Dia bisa ngomong, bener2 banyak hal baru yang ditampilin dalam battle ini.
.
Battle awalnya keren! Sayangnya, emg agak keliatan nih klo penulisan endingnya terasa seret. Menjelang akhir saya agak loss baca pertarungannya. Dan menangnya Rafolt terlalu sekedar lalu, kurang didramatisir.
.
So, untuk Rafolt, terlepas dari battle ini melanggar peraturan atau ngga karena make Sakaki Ko, kuberi nilai A !

100

Hohoho...
Ini batlle yang complicated. Sebab, saya harus mikirin karakter Sakaki Ko, Xentra, Ivan, DIA, tonfa milik DIA, Rafolt, Boru, Link Naturalist, dan Link Alchemist...

Seharusnya lebih panjang lagi...
Ini aja udah disingkat-singkat...
Malahan kalau menurutku narasinya membosankan ._.

hehehe