A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN

 

 

TWC Paket 03: Pedang-Dupa-Gerhana

Aku bukan penghuni Asgard ataupun Vanaheim. Akupun bukan salah satu tamu dari Midgard yang datang ke Valhalla. Dan yang pasti, akupun bukan mata-mata dari Jotunheim. Aku adalah salah satu mahkluk penghuni Nifleheim. Mungkin kalian mengira aku adalah Nidhogg, si ular beludak yang menggerogoti akar Yggdrasil. Bukan, aku bukan itu. Keberadaanku tidak dirasakan oleh ular berisik itu, Bahkan Dewi Hel pun tidak tahu akan keberadaanku. Di Nifleheim aku selalu mengamati si Nidhogg dan dewi Hel. Kadang aku suka mengganggu si Nidhogg sehingga dia berhenti menggerogoti Yggdrasil.

Aku juga memiliki mata yang tajam, walaupun tidak setajam Heimdall, dan juga pendengaran yang cukup tajam.  Dari Nifleheim aku senang mengamati dan mendengar penghuni-penghuni Midgard. Mereka selalu punya sesuatu yang menarik untuk ku dengarkan.  Tetapi ada salah satu penghuninya yang sanggup menarik perhatianku ini. Seorang wanita dengan rambut ikal berwarna emas. Ia punya suara yang sangat merdu, setiap sajak ataupun lagu bahkan kata yang dia lantunkan selalu mempengaruhi perasaanku. Sedih ketika ia bersenandung sedih, gembira ketika ia bersenandung senang, marah ketika ia menggeram penuh emosi. Aku sangat menginginkan wanita itu. Namun apa boleh buat, aku penghuni Nifleheim yang tak berwujud dan tak diketahui, bahkan oleh penghuni Nifleheim sendiri. Bagaimana aku bisa mendekati gadis itu dengan kondisiku seperti ini? Aku hanyalah bayangan dalam kegelapan.

***

Suatu hari,  terjadi sesuatu di Midgard. Hal itu menarik perhatianku karena ini menyangkut gadis yang ku kagumi itu. Aku menghentikan kegiatanku mengganggu Nidhogg, aku mengamati dan mendengarkan semua yang terjadi di Midgard sana.

“Matahari menghilang!!! Matahari menghilang!!” aku mendengar seorang pria berteriak-teriak.

Memang saat itu Midgard tampak gelap gulita, padahal itu merupakan waktu yang mereka sebut siang. Sepertinya terjadi gerhana matahari total.

“Gawat, sepertinya Dewa Odin marah! Apa yang harus kita lakukan?” sepertinya para penghuni midgard itu panik.

“Kita harus mempersembahkan korban untuk meredakan amarah sang dewa.” Keributan semakin menjadi-jadi.

Aku terkejut ketika melihat mereka mengikat dan menggotong gadis yang kusukai itu. Sepertinya dia yang akan mereka korbankan. Aku kemudian mendengarkan alunan lagu sedih dari bibirnya itu. Alunan lagu itu benar-benar menyayat perasaan, menusuk indraku yang peka. Sampai suara jeritannya yang langsung membuatku sakit. Dan sekarang aku melihat roh wanita itu melayang menuju ke Nifleheim. Aku menjadi sangat marah, mereka mengirimnya ke sini, ke tempat yang mengerikan ini! Mulai sekarang aku membenci yang mereka sebut Dewa Odin itu!

***

Sampai suatu hari, aku mengenal makhluk yang disebut Dewa Odin itu, ia mengunjungi Dewi Hel dalam kegelapan Nifleheim ini. Ah, andai saja aku bisa membunuhnya saat ini, aku akan mengirim rohnya ke tempat yang sama dengan gadis itu, biar dia merasakan penderitaan berada di Nifleheim ini!

Setelah berbicara beberapa saat dengan Dewi Hel, sang dewipun meninggalkan Odin Sendirian. Suasana menjadi hening.

“Hei makhluk tak berwujud! Bisakah kita berbincang-bincang?” suara Odin memecah kesunyian.

Ia menyapaku? Darimana ia bisa tahu keberadaanku?

“Heimdall sekilas melihatmu ketika ia merasakan sebuah emosi dari tempat ini. Perasaan yang bukan dari makhluk yang kami kenal di Nifleheim ini.” Odin memberikan penjelasan.

Apa maumu? Karena amarahmu, karena ulahmu menghilangkan matahari sehingga para penghuni Midgard mengirimkan roh gadis yang kusuka kesini! Entah dia bisa mendengarkan amarahku atau tidak.

“Ah, kau berkomunikasi dalam pikiran sepertinya. Baiklah, akan ku luruskan kesalahpahaman ini. Bukan aku yang melenyapkan matahari. Itu perbuatan, si serigala langit Skӧll. Ia yang menyebabkan terjadinya gerhana itu. Ia memakan matahari, dan aku harus bertarung dengannya agar ia memuntahkan matahari itu. Ketika aku kembali, Heimdall menceritakan kejadian itu. Aku sangat menyesal.” Pria perkasa itu benar-benar menyesal. Tapi aku menangkap sorot mata yang begitu menginginkan sesuatu.

Lalu? Apa yang kau inginkan sekarang? Wanita itu sudah terpenjara di sini. Aku masih kesal dengan keterlambatan si tua Odin itu.

“Aku benar-benar minta maaf padamu.” Odin kembali membuka mulutnya. Sementara aku, diam, menunggu.

“Ah, baiknya aku memperkenalkan diriku. Aku adalah Odin the All Father.  Raja semua dewa, penguasa Asgard, Dewa terkuat.” Ada nada angkuh dari suaranya tapi aku menyukainya.

“Aku berniat mengajakmu ke Asgard, aku akan memberikan raga untukmu dan kamu akan bertarung dengan serigala langit, Skӧll dan Hatii, menggantikan aku. Dengan begitu aku dapat melatih para Einherjar. Dan kamu juga akan menjadi pengganggu Nidhogg. Ketiga mahkluk itu adalah penanda dimulainya Ragnarok, Jika Skӧll mampu melahap matahari, dan Hatii melahap bulan. Atau mungkin Nidhogg berhasil menggerogoti akar Yggdrasil maka ragnarok itu akan dimulai. Aku ingin kamu bertugas untuk menghalangi ketiga mahkluk tersebut sehingga saya memiliki waktu yang cukup untuk mengumpulkan pasukan untuk perang Ragnarok nanti.”

Kamu ingin aku mengabdi kepadamu tapi yang kamu berikan hanya raga? Aku tidak butuh. Enak saja, si tua Odin itu berpikir aku bisa dimanfaatkan begitu saja? Nanti dulu.

“Dan tentu saja, wanita yang kau sukai akan ku bawa juga ke Asgard. Dia akan ku jadikan salah seorang pejuang Valkyrie-ku. Hel menyetujuinya walaupun ia tidak mengetahui akan kujadikan apa wanita itu nantinya.” Penjelasan Odin kali ini meluluhkan kekerasanku. aku ikut.

Tak lama, Hel muncul sambil membawa roh gadis itu.

“Ku berikan roh gadis ini untukmu Odin sebagai imbalan atas kesediaanmu mengantarkan apel awet muda ini.” Ia memberikan roh gadis itu kepada Odin yang langsung di terima.

“Ku terima hadiahmu dengan senang hati Lady.”  Odin membungkuk memberi hormat.

“Sesekali, berkunjunglah ke Asgard untuk mencari udara segar.” Odin melemparkan senyumnya kepada Dewi kematian itu. Odin berbalik dan melangkah, meninggalkan sang dewi kematian itu sendiri.

“Heimdall, Bifrost!” Odin berseru entah kepada siapa. Tiba-tiba sebuah portal antardimensi muncul di depan Odin.

“Silahkan.” Ia mempersilahkan roh gadis itu masuk terlebih dahulu, dan entah tergerak oleh apa, aku mengikutinya. Selanjutnya Odin ikut melangkah masuk  dan portal itu menghilang.

***

Ini pertama kali aku menginjakkan kaki di dunia selain Nifleheim. Asgard, tempat yang luar biasa indah. Penuh cahaya, aneka warna yang mempesona, belum lagi wangi yang begitu semerbaik. Sangat bertolak belakang dengan Nifleheim yang suram.

“Bagaimana dengan hasil kunjunganmu, Master?” Heimdall langsung mendapat menyapa Odin begitu dia muncul dari balik portal tersebut. Ia menghormati pria tua ini.

“Tidak ada makhluk yang kau sebutkan itu Heimdall, tapi setidaknya aku menemukan roh yang bagus.” Odin melirik kepada roh gadis yang masuk bersama dengan dia.

Kenapa Odin merahasiakan keberadaanku? Aku melihat Heimdall tidak mempercayai Odin sepenuhnya walaupun ia tidak membantah.

“Segera kabarkan padaku jika terjadi sesuatu.” Pesan Odin kepada Heimdall sambil berlalu pergi.

“Baik Master.” Heimdall membungkuk kepada Odin.

***

Dalam ruangan itu, Odin kemudian melakukan sebuah ritual. Dia menggambarkan sebuah lingkaran sihir tepat di bawah roh gadis tersebut. Selanjutnya ia mulai mengucapkan serangkaian kalimat-kalimat aneh. Perlahan, lingkaran sihir itu mulai berpendar keemasan. Roh gadis itupun mulai dibalut dalam huruf-huruf rune yang tidak kupahami. Perlahan, roh itu mulai memadat, menjadi lebih nyata dihadapanku. Odin mengembalikan raganya!

Setelah berkas cahaya dan sekumpulan rune itu menghilang, dihadapan kami berdirilah sosok wanita cantik yang selalu ku kagumi. Yang berbeda hanyalah sekarang dia menggunakan zirah dan dipinggangnya tergantung sebilah pedang claymore bergagang emas. Selain itu, pada punggungnya nampak sepasang sayap transparan yang menambah keanggunan wanita ini.

“Mulai hari ini, kamu adalah seorang Valkyrie dan mulai hari ini juga namamu adalah Agnetha. Pergilah dan lakukan apa yang akan kamu lakukan.” Odin memberi perintah kepada gadis tersebut.

“Baik, master.” Gadis itu membungkuk dan pergi menyusuri tangga ruangan ini. Ah, suaranya masih sama seperti yang ku ingat.

Dia kemana? Aku bertanya kepada Odin.

“Dia pergi untuk menjemput para kesatria perang yang telah gugur dan membawa mereka kesini.” Odin hanya memberikan penjelasan yang sangat singkat.

“Dan sekarang giliranmu untuk dibentuk. Beritahu aku jika kamu sudah siap.”

Aku diam beberapa saat, sebelum aku memutuskan bergerak ke tengah lingkaran sihir tersebut.

Aku Siap! Pernyataanku itu bergema dalam kepala Odin. Selanjutnya ia kembali merapalkan kalimat-kalimat aneh tadi.

Sensasi aneh mulai bermunculan, aku merasakan hawa yang dingin menjalar dalam ketiadaan. Aku merasakan muncul benda berwarna putih dan keras, selanjutnya diikuti dengan aku merasakan aliran air menjalari ketiadaan tersebut.Selanjutnya, gumpalan daging bermunculan menutupi seluruh yang telah ada tadi. Sekarang aku memiliki raga, bentuknya sama seperti para manusia di Midgard tersebut. Aku hidup dan menjadi nyata! Aku bebas dari ketiadaan.

“Pakai ini. Tak enak melihatmu telanjang seperti itu.” Odin melemparkan pakaian yang langsung ku kenakan.

“tetap berada di tempatmu, aku harus mempersenjataimu terlebih dahulu.” Perintah Odin ketika melihatku hendak bergerak keluar dari lingkaran itu.

Odin mulai mengumpulkan semua perlengkapan sementara aku mulai memperhatikan sendiri. Sungguh menyenangkan memiliki ekstensi di dunia ini, memiliki tubuh yang bisa di sentuh.

“Kuberikan Verner ini kepadamu, Zirah perak terkuat yang akan melindungi tubuhmu. Tahan terhadap segala suhu dan senjata.” Odin memberikan zirah itu dan seperti sebelum-sebelumnya. Apapun yang diberikan itu aku segera gunakan.

“Pakailah Gudrun ini dikepalamu. Helm perang yang akan membuka wawasanmu akan taktik perang.” Sekali lagi aku lalu memasang helm tersebut.

“Pakai Viggo ini pada kakimu, Sepatu yang dapat membuatmu berlari secepat angin sehingga engkau bisa mengejar lawanmu.” Bagaimana mungkin baja ini bisa membuatku berlari cepat?

“Gunakan Ragnild ini pada tanganmu, yang akan membuatmu tak kenal lelah mengayunkan senjatamu.” Odin terus mempersenjatai aku.

“Untuk senjatamu, terimalah Liv, pedang yang tidak hanya melindungi dirimu, tetapi melindungi orang-orang yang engkau sayang dari kematian.” Aku mengangkat pedang claymore tersebut. Gagangnya memiliki ukiran-ukiran rune tak beraturan. Mata pedangnya berkilau menunjukan ketajamnya. Entah kenapa, aku menyukai pedang itu.

“Dan mulai hari ini, namamu adalah Einar Adalsteinn. Kekuatanmu akan terus kau miliki sehingga kau tidak akan terlihat oleh siapapun di Sembilan Dunia. Tugasmu adalah menunda Ragnarok selama mungkin dengan mengganggu ketiga hewan penanda tersebut. Kamu adalah Kesatria Tak Terlihat, Pemburu Bayangan, Penunda Takdir.” Odin menyelesaikan pidatonya dan mengakhiri ritual itu.

“Bagaimana dengan Agnetha?” aku langsung bertanya tentnag gadis itu kepada Odin.

“Ah, hampir saja aku lupa menjelaskan tugasmu satu lagi. Setiap 30 hari, kamu wajib membakar dupa-dupa itu.” Odin menunjukan dupa yang menyala di tengah ruangan.

“Dupa itu berasal dari ranting Yggdrasil. Dupa yang terus menyala ini untuk menjaga kekuatan dan keabadian para Valkyrie dan Einherjar. Tanpa dupa ini, mereka akan mudah terbunuh. Dan jika mereka terbunuh, maka mereka akan benar-benar hilang. Bahkan di Nifleheim-pun tidak akan kau temukan. Kurasa kau tidak ingin itu terjadi pada Agnetha kan?” aku melihat senyum licik menghiasi wajah Odin

Sejak saat itu, aku menjadi Kesatria Odin yang tak terlihat, tidak tercatat dan tidak diketahui. Ya, tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaanku, selain Odin. Bahkan Heimdall-pun yang memiliki mata tertajam dan mampu melihat segalanya tidak  bisa mengetahui keberadaanku. Ya, aku prajurit rahasia Odin. Dan tentu saja Pemasang Dupa Kehidupan.

***

Aku mulai belajar banyak, Odin mengajarkanku segala sesuatu. Kadang aku memperoleh pengetahuan dari percakapan-percakapannya dengan dewa-dewi yang lain. Aku senang mendengar dia berdebat dengan putranya Thor yang angkuh itu tentang siasat berperang.

Aku mendiami ruang rahasia di Valhalla tersebut. Menyaksikan para Valkyrie dan para Einherjar datang dan pergi, dan 30 hari sekali aku menyalakan dupa kehidupan itu untuk mempertahankan keabadian mereka. Aku senang, karena dengan sihir Odin aku mampu melihat ke atas. Tentu saja mengamati gadis pujaanku,Agnetha. Sama seperti di Nifleheim, aku hanya bisa sebagai pengamat tanpa bisa bertemu, Master Odin melarangku menampakan wujud.

Pada waktu tertentu aku meninggalkan ruang itu untuk menjalankan tugasku yang lain, bertarung dengan dua serigala udara untuk mencegah mereka memakan bulan dan matahari.  Pada waktu yang lain, Aku kadang turun ke Nifleheim untuk mengganggu Nidhogg. Penglihatanku sekarang lebih tajam dari Heimdall, kemampuan tak kasat mataku pun sangat membantu dalam tugas, dan aku tidak membutuhkan Bifrost untuk berkunjung ke 8 dunia lain.

Selama beribu-ribu tahun, aku menjalankan tugas itu sebagai seorang kesatria tak terlihat bagi Odin dan dia sibuk mengumpulkan pasukan untuk menghadapi Ragnarok. Kadang aku senang karena bisa melihat Agnetha setiap saat, tapi aku juga kesal karena tidak bisa berbicara dengan dia.

***

Di Suatu siang, aku mengamati Agnetha yang berkunjung ke Midgard sambil menunggu waktu untuk mengganti dupa kehidupan tersebut yang harus ku lakukan dua jam mendatang. Tiba-tiba, sebuah kejadian menarik perhatianku. Kedua serigala langit itu, sudah mulai melahap matahari dan bulan.

Sial! Kenapa mereka tiba-tiba menyerang bersamaan seperti ini? Aku kesal dan langsung bersiap menghadapi mereka.

Aku langsung menghunus Liv, pedang kebanggaanku. Tanpa banyak bicara aku segera melancarkan serangan kepada Skӧll. Sebuah pukulan mendarat keras pada wajah serigala itu. Ia melolong, memanggil saudaranya. Sekali lagi ku arahkan tendangan tepat pada dadanya. Serigala itu kebingungan menghadapi gangguan dari makhluk tak kasat mata. Aku lalu menyabetkan pedangku, melukai kaki Skӧll. Biasanya jika sudah terluka, serigala itu akan kabur tapi kali ini tidak. Aku heran dengan tingkah aneh kedua serigala itu.

Tiba-tiba telingaku menangkap jeritan menyayat hati yang aku kenal. Aku menengok, melihat apa yang terjadi di Midgard. Aku terkejut melihat tubuh Agnetha yang ditembus oleh pedang. Darahnya menyembur dari bekas luka itu ketika pedangnya tercabut. Dalam gerakan lambat aku melihat tubuh Agnetha terjatuh. Aku mengalihkan pandanganku ke Asgard, dupa kehidupan itu telah padam. Sepertinya pertarunganku dengan Salah satu serigala itu memakan waktu 3 jam lebih. Itu artinya, tubuh Agnetha tidak lagi abadi. Aku kembali memandang ke Midgard, perlahan tubuh agnetha mulai memudar, hilang selama-lamanya.

“TTTTTIIIDDDDDDAAAKKKKK!!!!!” aku menjerit, menangisi wanita yang ku kasihi itu mati untuk yang kedua kalinya. Ia mati karena kelalaianku, ia mati tanpa mengetahui keberadaanku.

Tiba-tiba aku merasakan gigi yang tajam menghujam bahuku, menembus zirah Verner yang kugunakan. Skӧll telah menyerangku. Rupanya aku kehilangan konsentrasi sehingga lupa mempertahankan diriku untuk tetap tidak terlihat. Hatii pun yang telah melahap bulan sampai habis segera menerjangku, kedua serigala itu mencabik-cabik tubuhku. Aku sekarat, kematian akan segera menjemputku. Apakah aku punya roh untuk kembali ke Nifleheim?

Kedua serigala itu meninggalkanku tak berdaya, mereka mulai melahap matahari. Dunia perlahan menjadi gelap.  Ini bukan hanya gerhana yang terjadi sementara, ini adalah musnahnya matahari dan bulan untuk selamanya. Bersama dengan hilangnya kedua benda langit itu, kekacauan terjadi di sembilan dunia.

Dengan sisa-sisa kesadaranku, aku mengamati.  Dua ekor ayam jantan, masing-masing milik dewa dan para Jotun berkokok, memperingati majikan masing-masing. Dan seekor ayam jantan yang lain, berkokok, membangunkan mereka yang telah mati.  Gempa bumi yang sangat besar menyebabkan lepasnya sang serigala, Fenrir.

Jormundgand, si Ular raksasa penghuni Midgard bergerak menuju daratan, menebar terror di dunia. Gelombang besar yang dibuat oleh Ular tersebut mengiring keluarnya kapal perang kaum raksasa, Naglfar. Di buritannya berdiri sang kapten, raksasa laut Hymir.

Belum lagi di Nifleheim, Sebuah kapal muncul dengan membawa semua penghuni yang paling kejam. Di sana, Loki yang telah bebas dari hukumannya sedang mengelus kepala seekor anjing  bermata empat, dengan tubuh yang luar biasa besarnya. Tubuhnya berlumuran darah. Ya, itu adalah anjing penjaga neraka, Grim

Di bagian Selatan Muspellheim pun Sang Raksasa Api Surt telah memimpin pasukannya. Ia mengangkat tangannya yang terbuat dari api, cahayanya lebih menyilaukan dari matahari.

Sementara di Asgard, Heimdall meniup terompat kebanggaannya. Memanggil semua dewa dan sekutunya. Thor tampak berdiri di samping Odin. Ia mengetuk-ngetuk Mjollnir-nya. Menciptakan percikan-percikan listrik. Sementara Odin yang menunggangi Sleipnir, tampak gagah. Di belakang mereka, berbaris dewa-dewa yang lain bersama dengan 800 Einherjar siap tempur. Sementara itu, para kaum vanir, dwarf, elf, beberapa raksasa, bahkan manusiapun ikut mengangkat senjata, berperang bersama para dewa-dewi, menghancurkan para raksasa. Semuanya, baik raksasa dan para sekutunya, ataupun dewa dan sekutunya, bergerak ke satu tempat, menuju Padang Vigrid.

Menggunakan tenaga terakhir yang tersisa, aku bergerak dengan sempoyongan mendekati kedua serigala udara yang kekeyangan setelah melahap matahari dan bulan. Kuangkat tangan kananku, ku ayunkan pedang kebanggaanku. Kepala Hatii menggelinding, terpisah dari tubuhnya. Skkӧll melolong liar, kemudian menerjangku. Aku mengangkat tangan kananku, membiarkan pedang Liv ini menyambutnya. Aku menusuk jantungnya hingga tembus, namun gigi-gigi si serigala menancap di leher dan pundakku.

Aku gagal! Aku mengirim pesan kepada Odin.

Tidak! Kamu sudah berusaha semampumu. Sudah cukup lama kamu menahan ketiga makhluk makan. Terima kasih. Aku mendengarkan suara Odin yang menenangkan diriku.

Aku roboh bersama serigala itu, di sudut langit, bertiga kami terbaring tak bergerak.Mati. Langit menjadi kotor dengan genangan darah kami. Sementara itu, di Padang Virgid bertemu kedua pasukan terbesar dan terkuat sepanjang masa. Perang besar akan segera dimulai, Ragnarok!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (25 weeks 6 days ago)
70

ragnarok,
boleh ya bikin cerita begitu...

Writer Titikecil
Titikecil at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)
100

uuuuuuh aku mengap2 waktu beres baca ini...
selama baca aku kek nahan nafas gitu saking ga mau ketinggalan satu momenpun dari cerita ini...kereeeeeeeen!!!!
#aku jadi ngeh mitos bangsa nordik nih, keren!!makasi banyak..:)
#cuma aku nemu typo deh kekna, itu di adegan Heimdall yang nyambut odin waktu pulang dari nifleheim...Heimdall mendapat menyapa odin...

Writer AL_paper
AL_paper at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Hehehe, sampai segituny??
Wah, wah, thank you very much ya..
#err, ini baru sebagian kecil dari mitologi koq. Lagian si unknown (Einar Adalsteinn) n si cewek itu bukan bagian dari mitologi.
#eh, iya ya.. Thank you infony :)

Writer cumaYudha
cumaYudha at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

wahhahahahahahha RAGNAROK!!!! kapan-kapan buat yang POINTBLANK ya bro!!!!!!

o iya Ryan dkk dah beraksi lagi (promosi)

Writer AL_paper
AL_paper at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Ahahaha, ini bukan Ragnarok dlm game tp dlm mitologi..
.
.
Roger, segera luncuran ke TKP!

Writer cumaYudha
cumaYudha at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

wah kalau Ragnarok tu nama mitologi!! jgn-jgn POINTBLANK juga nama satuan elit (ngacau mode : on)

100

keren.. Darimana dapat istilah, nama tempat, dan nama tokoh yg begitu banyak n ribet?

Aku bahkan nggak ngerti dewa dewi yg begituan, tp aku suka ceritanya..

Pilihan n gaya bahasa mantap..

Writer AL_paper
AL_paper at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Ayo, search norse myth om ian.
Hehehe.

Writer hewan
hewan at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)
80

Deskripsinya cukup mendetail. Saya suka.
Tapi, ada satu yang mengganjal. Valhalla itu bukan Asgard, kan? Kenapa saya kok merasakan kalau di tulisan ini kedua tempat itu seolah diidentikkan. Setahu saya, Valhalla itu adalah semacam surga bagi semua makhluk, yang nantinya bahkan para dewa pun memasukinya.

CMIIW (with reference, if you could)
--
Salam kenal di sini :D
Terima kasih

Writer AL_paper
AL_paper at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Hewan. Heru Setiawan. nama unik.
hehehehe.
.
.
errr, itu Asgard itu Surga, tempat kediaman para dewa. nah, di dalam Asgard itu terdapat aula-aula yang menjadi tempat para dewa. salah satu aula itu adalah Valhalla yang menjadi milik Odin. ini berdasarkan mitologi bangsa nordik.

Ummhhhh, CMIIW itu apaan ya???

Writer Celeste la Cielo
Celeste la Cielo at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)
100

Keren~ ^ ^, ceritanya mengagumkan, ini masih ada kelanjutannya Al_paper-senpai?

Writer AL_paper
AL_paper at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Wah, makasih ya..
Err, ini udah berakhr disini. :)

Writer Celeste la Cielo
Celeste la Cielo at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

... T T, akhirnya berarti menyedihkan dong... T T, tapi ya sudahlah :D, akhir yang menyedihkan itu cukup terasa juga soalnya :D

Writer AL_paper
AL_paper at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Err, iya sich.
Tp kalau di lanjutin itu udah masuk ke ragnarok, end of the world..

Writer Celeste la Cielo
Celeste la Cielo at A TALE OF UNKNOWN GUARDIAN (7 years 7 weeks ago)

Lanjut cerita jadi Ragnarok saja :D
Bercanda :p, tapi kalau dilanjutin menurut saya bisa sih :D, tapi itu terserah AL_paper-senpai ^ ^