Romanti[S]-Me

 

“Sou, apa kau ada waktu sabtu malam ini?” tanyaku di suatu senja di mana kau tengah mengenakan kemeja kotak-kotak yang aku pilihkan.

Aku memain-mainkan es balok kecil dalam gelasku yang masih belum mencair sepenuhnya.

“Tentu saja ada.” kau tersenyum manis menatapku. Aku tertunduk, enggan menatap matamu kala itu.

Kau menyeruput ice lemon tea yang tak kunjung kuhabiskan. Aku menatapmu dengan bibir sedikit mengerucut maju. Tapi kemudian kau menarik tanganku untuk beranjak dari sana.

“Sou, kita mau kemana?” aku bertanya keheranan.

Kau mengenakan helm tanpa memperlambat langkahmu.

“Kita harus cepat pulang, sebentar lagi turun hujan besar. Aku tidak membawa apapun untuk melindungimu.” kau menatapku lekat seolah aku sesuatu yang dapat lenyap hanya dengan tetesan hujan.

Kau membantuku mengenakan helm yang sedari tadi kutenteng dengan tangan kiriku. Aku tidak dapat berkata apa-apa, cuaca saat itu cerah. Dan aku tidak dapat menangkap maksud tindakanmu. Aku hanya diam sepanjang perjalanan itu, memelukmu erat.

Motor itu berhenti tepat di depan pagar rumahku.

“Ada apa, Re?” kau bertanya cemas ketika kautemukan tanganku tengah mencengkeram jaket yang kaukenakan.

“Tidak apa-apa, Sou.” aku melepaskan cengkeraman tanganku dengan segera. Tertunduk. Aku cepat-cepat turun dari motor dan mengucapkan terima kasih padamu, sebelum akhirnya aku masuk ke dalam.

Kau belum beranjak dari sana saat aku mengintip dari balik jendela kamarku. Kututup tirai jendela itu. Aku bingung, sou. Jangan tatap aku lagi, jangan khawatirkan aku. Jangan buat perasaanku semakin bimbang.

Terdengar deru motormu menjauh. Aku tertunduk. Pergilah, sou. Itu lebih baik. Kubenamkan kepalaku di atas bantal.

Di luar hujan mulai turun, rintiknya membentuk ritmik yang khas. Deras, tapi perlahan semakin sayup.

Aku menatap kalender yang melekat di dinding. Kulingkari angka 27 itu dengan spidol merah. Aku tersenyum membayangkannya. Aku tahu ini tak seharusnya terjadi, tapi aku tidak salah juga melakukan semua ini. Aku yakin kita akan bahagia setelah hari itu tiba, sou. Aku bergegas membawa beberapa lembar uang lima puluh ribuan di dompetku.

Siang ini mendung. Aku senang kau tidak menemaniku kali ini, sou. Kau hanya membuat jantungku berdebar semakin kencang. Aku tak kuasa menahannya.

Kuhentikan langkah di depan sebuah market yang tak jauh dari rumahku. Saat itu sedang banyak diskon, banyak pengunjung yang mengambil setumpukan barang tanpa ragu. Begitu pula denganku. Aku tersenyum kecil. Kuambil beberapa buah wortel, timun, bawang, saus, kol, paprika dan bumbu-bumbu lainnya. Ini akan menjadi sebuah kejutan besar untukmu, sou. Kau tidak akan percaya aku melakukan semua ini seorang diri.

Aku menuju ke kasir. Mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan dan menerima kembaliannya. Di luar hujan deras, sama derasnya dengan hari kemarin lalu. Aku tersenyum dan siap melangkahkan kaki ke luar sana.

“Nona, tunggu!” seorang pelayan toko di market itumemegang lenganku. Sebelah tangannya menenteng sebuah payung l;ipat kecil bertuliskan ’40 Tahun kebersamaan’.

“Selamat, Anda telah membeli produk sponsor dalam rangka ulang tahun toko kami. Dan ini souvenir dari kami untuk Anda.” perempuan itu menyodorkan payung di tangannya padaku. “Semoga hari Anda menyenangkan.” Ucapnya kemudian sebelum berlalu melanjutkan pekerjaannya di meja informasi. Seorang penjaga kasir yang tadi melayaniku tersenyum, kedua tangannya mengisyaratkan permintaan maaf.

‘Semoga hari anda menyenangkan’ haha. Aku tersenyum kecut mendengar kata-kata itu. Kutatap payung di tanganku setengah kecewa. Mau tidak mau aku harus mengenakan payung ini. Apa yang orang lain pikirkan seandainya melihat seorang perempuan kurus berjalan di tengah hujan deras sedang payung ditenteng di tangannya.

Haaaaaaaaaahh…..

Aku menghela nafas panjang dan mulai membuka payung itu. ‘Menyebalkan’, desahku.

Trrrrrtt…….tttttrrrrrrrrrtt…..

Handphone di saku celanaku bergetar. Kurogoh benda mungil itu dengan susah payah. Aku menatap nama di layar ponsel itu. Zassou.

“Ya, Sou?” tanyaku, menjawab panggilan darimu.

“Kau ada di rumah, kan, Re? hari ini hujan deras, aku tidak dapat menghubungimu tadi. Maaf..”

Aku memutar bola  mata secara refleks.

“Iya, Sou, aku ada di rumah. Kau tidak perlu mencemaskanku. Oke!” kutekankan nada suaraku di akhir kalimat. Memotong kata-katamu yang mengalir tanpa henti.

“Oh, oke.. kau tidak di rumah, Re? Jujur padaku, kau sedang di mana? Biar aku jemput ke tempatmu.”

Aku hanya tersenyum perih mendengar ucapanmu itu, Sou.

“Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Sou. Aku baik-baik saja. Aku  sudah bukan anak kecil lagi.” jawabku, mungkin terdengar lirih. Tapi itulah apa adanya aku, sou. Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan ini. “Nanti aku telpon balik. Dah, Sou.” aku menutup telpon itu. Menghela nafas panjang.

Aku berusaha untuk tidak menangis. Tapi kenapa kamu selalu ada dalam pandanganku, Sou! Membayangkanmu membuatku gemetar. Di satu saat kau memang membuatku tenang, dan di saat yang sama kau membuat detak jantungku kencang tak beraturan.

Hujan mulai reda ketika aku sampai di teras rumah. Kurogoh ponsel di saku celana jeans berwarna biru pucat yang tengah kupakai. Dan aku mulai memijit satu tombol warna hijau di handphoneku.

“Sou, aku sudah sampai rumah.” kuletakkan belanjaan tadi di meja dapur dengan tangan kiriku menggenggam handphone.

“Hmmm…. Syukurlah.” nada suaramu terdengar malu-malu. “Janji temu sabtu malam itu..” kau berhenti sejenak. Hembusan nafasmu terdengar jelas di telingaku.

“Ya, Sou..?” aku  bertanya setelah beberapa detik berlalu dan kita habiskan hanya untuk mendengar desah nafas masing-masing antara kita.

“Aku….Ekhmmm…. jam berapa kau siap untuk kujemput?” tanyamu gugup. Aku menghela nafas panjang.

“Aku tunggu kau jam tujuh malam di rumahku.” kata-kataku nampaknya belum begitu jelas bagimu.

“Jam tujuh? Apa tidak terlalu malam untuk kita jalan? Anginnya tidak bagus lho.”

“Tidak, Sou. Maksudku, sabtu malam ini kita makan di rumahku saja. “

Aku menyimpan wortel dan bahan-bahan lainnya ke dalam lemari es. “Aku sudah menyiapkan menu special untukmu.” lanjutku.

Aku menatap beku seonggok daging segar dalam mini freezer itu. Sebenarnya sudah dua hari ini bongkahan itu ada di sana, tapi darahnya tetap merah segar dan berbau amis.

“Oke, kalau begitu. Aku tidak sabar menunggu besok. Kau ingin kubawakan apa?” tanyamu bersemangat.

“Tidak usah, Sou. Tidak apa-apa. Cukup kamu hadir di sini aku sudah sangat berterima-kasih.” ucapku tergugup. Pintu lemari es kututup dengan segera.

“Baiklah.” nadamu terdengar mengalah. “Sampai nanti, Re..”

“Oke, Sou, sampai nanti.” Aku menutup telponnya. Tanganku gemetar. kutuangkan air dingin ke dalam gelas kaca lalu kuteguk sekali nafas.

Setelah semua belanjaan kusimpan di laci-laci kecil lemari es, aku pun bergegas ke kamar. Menghempaskan tubuhku dengan lepas.

Maafkan aku, sou..

 

Waktu berlalu begitu cepat. Dan aku hanya menghabiskan seharian ini di dapur, mempersiapkan berbagai menu makanan untuk malam nanti. Dari mulai sate hingga salad semua kubuat. Aku tidak yakin kau akan menyukai ini, sou. Kau pasti marah besar padaku. Lamunanku sampai pada irisan terakhir daging itu. Kumasukkan potongan kecil itu ke dalam kuah sup yang kental akan rempah dan kaldu.

“Hmmm… selesai!” aku tersenyum puas. Ketika itu pula bel berbunyi mengagetkanku. Segera kuhampiri pintu ruang tamu dan membukanya.

“Sou…”

“Hai.” sapaanmu mengaburkan keterpanaanku menatapmu. Kau terlihat begitu tampan malam ini. Aku tidak dapat memalingkan pandanganku darimu.

“Hmm.. Sou, masuklah. Aku sudah membuatkan masakan kesukaanmu.” aku menarik tanganmu masuk.

“Duduklah.” aku menggeser kursi agar kau dapat duduk dengan nyaman. Kau tersenyum padaku, aku balas tersenyum padamu.

“Kau rapi sekali, Sou.” ucapku jujur sambil kusuguhkan sate ke piringmu.

“Terima kasih. Kau juga cantik sekali malam ini, Re.” aku tertunduk malu dan mulai mengalas fruits salad untukku sendiri.

“Hmm.. ini enak. Kenapa kau tidak memakan dagingnya? Ayolah makan bersama, aku tidak enak makan sendiri.” kau mengucapkan itu sembari mengunyah daging sate yang kuberi. Aku menggeleng. Menolak ketika kau mengambil sate untukku , dengan alasan diet.

“Makan saja, tak apa. Aku khusus membuatkan ini semua untukmu, Sou.” Ucapku tersenyum memandangimu.

Kau memakannya lagi dan lagi. Sup kari, kornet, burger, daging steak, semua aneka masakan berbahan dasar daging itu kau suap dengan lahapnya. Aku tersenyum memperhatikanmu.

“Sou, ada yang ingin kubicarakan denganmu.” ucapku tanpa ragu lagi.

“Oh, ya? Apa? Aku juga ada sesuatu untukmu. Dan.. sedikit ada yang ingin kubicarakan juga.” kau mengedipkan sebelah mata padaku.

“Baiklah.” aku menunduk, menunggu makanan di mulutmu habis kautelan.

“Ngomong-ngomong, semua masakan ini.. kau yang buat?” tanyamu tiba-tiba.

“Tentu, Sou. Siapa lagi?” aku tersenyum manis menatapmu.

“Ayahmu? Dia tidak membantumu menyiapkan semua ini? Memang dia ke mana?” pertanyaanmu sedikit mengagetkanku, sou. Tapi aku berusaha untuk tenang, karena aku sudah memperhitungkannya dari awal.

Aku berusaha tersenyum meski mungkin terlihat aneh.

“Dia ada di sini ko. Dia menemaniku di dapur seharian tadi.” jawabku tenang.

“Oya? Kenapa dia tidak ikut makan bersama kita, Re? Aku malah hampir menghabiskan sajiannya.” terdengar ada sesal dalam nadamu meski kau nampak tertawa canda.

“Tidak usah terlalu dipikirkan, Sou. Dia tidak bisa makan. Dia tidak bisa apa-apa.”

“Re.. kau ada masalah lagi dengannya? Kenapa kamu tidak cerita?” tanyamu lirih.

“Aku memang membencinya, Sou. Sangat membencinya! Tapi sekarang aku lega karena aku tidak akan pernah melihatnya lagi.” aku tersenyum puas.

“Re……?” sepertinya kau sudah bisa menebak apa yang akan kubicarakan selanjutnya. Matamu spontan tertuju pada apa yang terpampang di hadapanmu.

Matamu membelalak, mengingatkanku pada orang yang amat aku benci. Aku gemetar. darah bergejolak dalam tubuhku. Aku ingin mencongkel matamu yang membelalak itu, seperti mata ayahku yang kucongkel dengan obeng dan palu. Lalu kemudian kuberikan pada anjing tetangga untuk dijadikan mainan.

Nafasku memburu.

Kau berusaha memuntahkan kembali daging ayahku yang telah kau telan dan tercerna di tubuhmu. Daging bubuk busuk sebusuk laku dan mulutnya itu seolah menari di dalam perutmu, membentuk gumpalan yang semakin besar dan semakin busuk.

Rahangku bergemeretakan. Jantungku berdetak semakin kencang, lebih kencang dari saat kita bertemu pertama kali. Adrenalinku terpicu seolah memerintahku untuk mencabik dan mencincang perutmu. Mengeluarkan usus serta organ-organ yang ada dalam dan teramat lunak. Seperti saat aku mengeluarkan usus-usus ayahku dengan sangat antusias, menggulungnya menjadi bola-bola usus yang lalu kugelindingkan ke lautan tinja. Melumuri kursi-kursi kayu lapuk yang ditumpuk di pinggir pekarangan dengan darah. Aku menghitung berapa banyak liter tetes darah yang tumpah ruah dari tubuhnya.

Jari-jarimu yang bersih tak berkerut membangkitkan kembali gairahku untuk memisahkannya dari telapak tanganmu. Lalu kupajang indah di dinding kamarku seperti jari-jari ayah yang berkerut keriput coklat tua.

“BAJINGAN!!”

Aku berteriak. Kau mundur satu langkah ketika tanganku dengan refleks menggapai pisau buah yang ada di meja. Tanganku siap menghunuskan pisau itu tepat ke matamu. Kau diam. Bibirmu bergetar, matamu berkaca. Dan aku tak bicara.

“Rrr….re, kau tidak sungguh-sungguh melakukan ini, kan?” nadamu terdengar bergetar.

Aku tersenyum. Ada rasa puas yang tidak dapat kulukiskan.

“Kau pikir ini apa, Sou?! Kau pun sama saja dengan bajingan yang mengaku ayahku itu! Apa kau pikir aku akan percaya setelah sekian lama aku melihat dan mengalami SEMUANYA?!”

“Tenangkan dirimu, Re. Kau tidak mengerti…” kau menyelaku bicara.

“Diam! Jelas aku mengerti! Aku mengalaminya berulang-ulang,SOU!” kataku tajam.

 

“Ree…………………………………” desahmu lemah.

 

Darah mengucur perlahan. Makin lama makin deras dari dahimu, matamu, bibirmu, juga dada kananmu yang menjadi track laju pisauku. Aku tak ingat bagian itu. Aku tak ingat bagaimana aku membuat luka itu padamu. Tapi ada bunyi ‘kraak’ yang tidak terlalu jelas. Dan aku yakin suara itu berasal darimu.

Beberapa saat kemudian ada yang jatuh ke bawah. Gumpal rambutmu dan…

lempengan sebesar 1 cm, disertai darah dan cairan-cairan putih bening.

Kau rebah jatuh tersandar, ketika itu pula ada benda lain yang menggelinding ke arahku. Dari genggaman tanganmu yang terbuka.

Aku terduduk lemas, menatap hampa benda itu.

 

Sebuah cincin..

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer souLYncher
souLYncher at Romanti[S]-Me (7 years 5 weeks ago)

waaa...... baru di buka nih situs. :O ternyata banyak sekali typo..... o>.

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Romanti[S]-Me (7 years 6 weeks ago)
70

Ada banyak typo dan kesalahan EYD, tapi itu mungkin karena tulisannya belum diedit ya? Tokoh utamanya psycho tuh kayanya. Deskripsi adegannya cukup menjijikan juga :o

Writer Emaura Wachs
Emaura Wachs at Romanti[S]-Me (7 years 6 weeks ago)
60

Endingnya ... >_> *untung nggak lagi makan*

Btw, masih ada typo kecil, seperti:
"Tidak usah terlallu dipikirkan, Sou. Dia tidak bias makan. Dia tidak bias apa-apa.”
“Rrr….re, kau tiodak sungguh-sungguh melakukan ini, kan?”

Ada beberapa yang mungkin karena autocorrect dari Microsoft Word. Jangan lupa cek-ricek sebelum publish, kk ^^d

Writer ianz_doank
ianz_doank at Romanti[S]-Me (7 years 6 weeks ago)
90

Wow!! Benar-benar romantis.. Apalagi adegan pembunuhannya, so sweet..

Aku suka kisah romantis yg seperti ini..
*psikopat* :D

Writer renypayus
renypayus at Romanti[S]-Me (7 years 6 weeks ago)
40

please, sering sering bikin kayak gini, ya? :))

Writer renypayus
renypayus at Romanti[S]-Me (7 years 6 weeks ago)

damn!! :))

Writer phantom27
phantom27 at Romanti[S]-Me (7 years 6 weeks ago)
90

Ieeehh?? ƪ(°͡▿▿▿▿▿▿°")͡ƪ. Ternyata Gore, huff..

Adegan pembunuhannya kasi jempol 2 deh, tp kok.. Akhirnya tragis.. (⌣́_⌣̀) kasihan cowoknya