Perempuan Itu

Perempuan itu duduk di sana. Di meja yang sama setiap malamnya. Wajahnya menghadap jendela kafe yang belakangan ini sering basah terpercik hujan. Menghiasi kaca jendela dengan bulir-bulir airnya yang cantik. Tapi bukan mengagumi indahnya hujan yang dilakukan perempuan itu. Karena ketika langit malam tampak cerah pun, perempuan itu tak pernah lekang melempar pandangannya keluar jendela.

Mungkin dia mengamati kunang-kunang yang senang sekali berpetualang di malam hari dan hinggap di teralis jendela tempat perempuan itu termenung. Atau dia sekedar menikmati gerakan dedaunan dan rerumputan di pekarangan taman di luar sana, yang menimbulkan siluet yang tampak begitu menawan tatkala tertimpa sinar lampu yang remang. Mungkin pula, perempuan itu hanya senang melahap sinar rembulan yang tampak keperakan dan terpantul di sebuah kolam kecil di tengah pekarangan kafe itu.

Sesekali perempuan itu menoleh. Melihat-lihat siapa yang masuk ketika suara pintu terbuka dan bel selamat datang berdenting.

Pengunjung pertama malam ini adalah sepasang muda-mudi. Mereka masuk ke dalam ruangan kafe sambil berpegangan tangan dan tertawa-tawa. Perempuan itu melihat cinta yang begitu besar terpancar dari mata sang gadis. Namun tidak bagi sang pemuda. Meskipun sang pemuda balas tertawa ketika gadisnya tertawa, perempuan itu tahu, bukan gadis di depannya yang sedang menari dalam pikirannya.

Pasangan muda itu mengambil tempat di seberang meja perempuan itu. Sang gadis duduk memunggungi perempuan itu. Sementara sang pemuda duduk menghadap gadisnya. Membuat perempuan itu bebas menelanjangi semua yang terpancar di wajah pias pemuda itu.

Perempuan itu lalu menghela nafas ketika dia melihat pemuda itu tiba-tiba mengangkat telepon genggamnya dan meninggalkan gadisnya sementara waktu. Dia berdiri dan menjauh. Sebelah tangannya terangkat. Memosisikan telapak tangan kanannya di antara mulut dan telepon yang digenggamnya dengan tangan kiri. Seakan berusaha menghalangi suara yang didengungkan dari pita suaranya itu sampai ke telinga gadisnya.

Lucu. Perempuan itu mengulas senyum di bibirnya. Lelaki itu tampak seperti anak kecil. Anak kecil yang tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan. Seperti sedang membungkus api dengan kertas. Lalu perempuan itu tertawa kecil. Tanpa suara. Miris.

Kemudian sang gadis yang memunggungi perempuan itu berdiri. Dia menghampiri lelakinya. Lalu menyebut sebuah nama. Tampaknya sang gadis tahu. Bahwa perasaan yang disematkannya pada pemuda itu terlampau utuh. Dan sebenarnya pemuda itu tak pantas untuk mendapatkan keutuhan itu.

Sang pemuda menutup teleponnya. Mengamati gadisnya dengan raut wajah tak senang. Lalu tanpa bicara, dia meninggalkan gadis itu. Melangkah cepat-cepat, mendorong pintu kafe dengan kasar, dan berlalu begitu saja. Sang gadis ikut berlari keluar. Dengan air mata berlinang.

Perempuan itu menghembuskan nafas yang tadi sempat dihelanya dan telah tertahan cukup lama sampai parunya terasa penuh. Kepalanya berpaling. Diamatinya cangkir tehnya dengan gamang. Cairan kecoklatan itu tak lagi mengepulkan asapnya. Hawa dingin malam ini telah membunuh kepulan asap yang bergerak indah di atas cangkirnya tadi.

Akhirnya, setelah sekian lama menimbang, perempuan itu mengangkat cangkir putihnya dengan hati-hati. Kemudian dia melihat masuk ke dalamnya. Mengamati isinya. Dan diam selama sekian menit. Malam ini, dihirupnya aroma lembut yang menguar dari dalam cangkir yang dipegangnya. Sensasi antara harum mawar, manisnya melati, dan sedikit pahit madu menggelitik penciumannya.

Tak sekali pun dia tidak melakukannya. Menikmati berbagai jenis aroma teh menjadi candu baginya setiap malam. Menerbangkannya pada potongan-potongan ingatan di kepalanya yang tak pernah bisa hilang. Dilengkapi dengan alunan nada yang selalu sama setiap malam.

Perempuan itu meletakkan cangkirnya. Tidak disesapnya cairan coklat yang sejak tadi diamatinya. Kali ini, dia memejamkan matanya. Seakan dia sudah hafal apa yang akan terjadi berikutnya. Detik berikutnya, alunan nada yang indah memancar dari sudut kafe. Menjamah perempuan itu hingga dia membayangkan sesuatu dalam benaknya.

Sebuah instrumen dengan rangkaian not balok yang bagi perempuan itu tak pernah ada tandingannya. Tanpa lirik. Tanpa untaian kata indah. Tapi perempuan itu bisa membayangkan dengan nyata apa yang sanggup tervisualisasikan dari instrumen itu.

Perempuan itu membayangkan sebuah padang rumput yang luas. Dengan aneka bunga warna-warni yang begitu indah. Mekar sempurna dengan wewangian alam yang tidak bisa dijelaskannya dengan kata-kata. Desauan angin yang berhembus perlahan. Tidak ada matahari yang menyengat. Cuma ada sinar bulan yang meremang. Menimpa bunga-bunga itu hingga tampak berkilauan di bawah cahayanya.

Mungkin itu alasannya perempuan itu jatuh hati dengan kafe ini. Sebuah kafe tua dengan konsep sederhana.

Teh pertama yang dulu dicicipinya adalah di tempat ini. Masih segar dalam ingatan perempuan itu saat cairan kecoklatan pertama itu masuk memenuhi seisi mulutnya. Perempuan itu tidak langsung menelannya. Dia merasakannya. Campuran sempurna antara aroma vanila yang lembut dengan segarnya daun teh. Sampai perempuan itu merasa mabuk. Mabuk karena ledakan rasa yang begitu membekas di hatinya.

Suara derai hujan yang menderas membuyarkan ingatannya. Disusul dengan suara dentingan bel pintu selamat datang yang berbunyi lagi. Kali ini perempuan itu hanya melirik dari sudut matanya. Pengunjung kali ini adalah seorang laki-laki dan wanita dewasa yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Perut wanita itu tampak membukit setelah dia melepaskan mantel yang membungkus tubuhnya rapat-rapat tadi.

Lelaki itu meletakkan tangannya di pinggang wanita itu. Lalu mereka melangkah. Mata mereka mencari-cari tempat duduk yang diinginkan. Sampai akhirnya keduanya melangkah mendekati perempuan itu. Lalu menarik dua buah kursi kosong dan duduk di sana. Di meja yang sama tempat di mana perempuan itu duduk.

Perempuan itu tercenung. Ingin memprotes bahwa seharusnya mereka memilih tempat duduk lain. Masih banyak tempat kosong di ruangan ini. Tapi begitu mulut perempuan itu terbuka, dia mengurungkan niatnya. Sebab pasangan itu sudah lebih dulu bangkit dari duduknya. Pindah ke tempat di mana sepasang muda-mudi duduk tadi. Sebelum mereka datang.

Vai, pelayan kafe yang perempuan itu kenal betul, datang menghampiri meja di depan perempuan itu. Menyodorkan buku menu dan melempar senyum manis. Diam beberapa saat sampai pasangan itu menyampaikan pesanan mereka.

Lelaki itu memesan secangkir kopi hitam. Sementara wanitanya memesan secangkir teh yang selalu membuat perempuan itu tergila-gila.

Ya, teh dengan aroma vanila lembut dan daun teh segar menjadi pilihan wanita itu.

Perempuan itu mengernyit. Mengamati wajah wanita itu yang duduk menghadapnya. Wanita itu sedang bicara dengan lelaki di depannya, yang duduk memunggungi perempuan itu hingga dia tidak bisa membaca air mukanya.

Tapi untuk kali ini, perempuan itu bebas menyingkap jubah yang menutupi raut wajah wanita yang duduk di meja di depannya itu. Perempuan itu tak tahu, tapi dia bisa mengartikan kalau wajah wanita itu sangat letih. Seperti dia tengah memikul beban yang begitu berat sampai-sampai dia merasa kelelahan. Atau mungkin kombinasi antara rasa sedih dan sepi. Sulit terbaca, perempuan itu menyimpulkan.

Sesekali perempuan itu melihat wanita itu mengelus perutnya yang membukit. Mulutnya terkatup rapat. Samar-samar perempuan itu juga bisa mendengar suara lelakinya bicara. Dengan suara berat. Terpatah-patah. Menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak pernah ingin didengarnya. Tetapi harus dia dengar.

Lelaki itu memaksa wanita itu untuk mendengar. Sampai habis. Sampai wanita itu tak berdaya. Tak punya pilihan lain selain mengikuti permainan lelakinya.

Wanita itu tetap diam. Paras wajahnya datar. Dan tidak berubah sekali pun derai hujan yang menderas di luar sana disusul dengan pekikan-pekikan halilintar yang membahana, terdengar memekakkan telinga. Mungkin, yang tengah disampaikan lelaki itu lebih menyiksanya dibanding gemuruh halilintar di luar sana.

Nafas perempuan itu tertahan – lagi. Mendengarkan suara patah-patah dari mulut lelaki yang ditujukan kepada wanita itu membuatnya ikut merasa sesak. Perempuan itu seakan ingin mendekati wanita itu. Menepuk pundaknya dan menyampaikan bahwa dia mengerti.

Lelaki itu terus bicara. Sampai akhirnya dia sampai pada tujuan akhirnya. Cuma satu yang diinginkannya dari sekian banyak kalimat yang dimuntahkannya. Dia menginginkan perceraian. Perceraian dengan wanita itu. Wanita di hadapannya. Yang sedang menumpukan kedua tangannya di atas perutnya. Yang dapat perempuan itu pastikan, sedang mengandung benih dari lelaki itu.

Mulanya wanita itu tersenyum. Senyum yang pahit. Yang membuat perempuan itu meringis ketika melihatnya. Lalu tiba-tiba perempuan itu menyaksikan wanita itu menangis. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Agaknya terlalu kuat, sebab perempuan itu bisa melihat bibir wanita itu berdarah. Seperti dia ingin melampiaskan sakit di dadanya dengan cara itu.

Kedatangan Vai dengan dua cangkir berisi minuman yang lelaki dan wanita itu pesan tadi, tidak mampu menghentikan tangis wanita itu. Kedua bahunya berguncang. Membuat kedua alis Vai terangkat naik, namun memutuskan untuk berlalu dan tidak mempertanyakan apa-apa. Privasi tamu adalah hal penting yang harus dijunjungnya.

Wanita itu mendesah lirih. Menggumamkan kata-kata yang mengatakan bahwa betapa jahat dan betapa teganya lelaki itu. Padahal dia sudah menyerahkan semuanya untuk lelaki itu. Semuanya, perempuan itu mendengar. Semua kepercayaan dan seluruh hidupnya, wanita itu menambahkan. Yang kesemuanya tak pernah dihargai oleh lelaki di hadapannya itu.

Lelaki itu tidak mengemis maaf. Dia hanya mematung tanpa melakukan apa pun saat melihat wanita itu menangis. Derai air matanya berlomba dengan derasnya rintik hujan di luar sana. Dia hanya terus-menerus menegaskan, meyakinkan, dan memaksa wanita itu untuk menyetujui permintaannya.

Perceraian.

Cuma perceraian yang diinginkan lelaki itu dari wanita yang terguncang hebat di hadapannya.

Sekali lagi perempuan itu mendengar wanita itu mendesah. Jauh lebih lirih dari sebelumnya. Dia berkata, meminta, bahkan nyaris memohon kepada lelaki itu. Dipintanya agar lelaki itu tidak meninggalkannya. Setidaknya tidak sampai perutnya yang membukit itu menitiskan buah cinta mereka.

Lelaki itu menghadiahkan wanita itu sekotak sunyi. Sunyi yang cukup lama. Sebelum akhirnya dia mengangguk. Menyetujui permintaan wanita itu.

Jelas, perempuan itu bisa mendengar wanita itu menghembuskan nafas lega. Perempuan itu menduga, wanita itu lega bukan sepenuhnya karena lelaki itu menyetujui permohonannya demi jantung yang berdetak dalam rahimnya. Wanita itu lega. Lega karena dia berhasil menahan lelaki itu pergi, biarpun hanya untuk beberapa waktu.

Pengecut. Wanita itu pengecut, pikir perempuan itu. Seharusnya bukan itu yang dilakukan oleh wanita itu. Seharusnya wanita itu tidak memohon lelaki itu untuk tetap tinggal di sisinya, padahal bukan di sana hatinya. Seharusnya dibiarkannya lelaki itu pergi. Bersama dengan sekian banyak tulang rusuk yang berserakan menggantikannya di luar sana. Yang mungkin pula, sedang mengandung benih dari lelaki itu.

Tapi wanita itu terlalu takut, perempuan itu jelas tahu. Dia begitu takut kehilangan lelaki itu sampai-sampai dia rela hidup dalam kubah kebohongan yang dibangunnya sendiri. Kubah yang membuatnya merana, tapi dibangunnya kian tebal.

Perempuan itu merasa gemas. Gemas ketika dia melihat wanita itu menyeka air matanya dan tersenyum. Seolah menunjukkan kepada lelaki itu bahwa dia baik-baik saja. Tidak ada lagi yang lelaki dan wanita itu katakan sampai beberapa waktu kemudian ketika mereka telah menghabiskan separuh dari isi cangkir mereka, dan meletakkan beberapa lembar uang di salah satu tepi meja dan berlalu begitu saja.

Punggung perempuan itu tersandar di kursi. Matanya menerawang. Kembali ke luar jendela. Derasnya hujan mulai melemah. Kaca jendela di sisi kanan tempatnya duduk sedari tadi buram berembun. Perempuan itu menggerakkan telunjuknya. Disentuhnya permukaan kaca yang dingin itu dengan gerakan perlahan. Seolah jika dia menyentuhnya lebih kuat sedikit saja, kaca itu akan segera remuk.

Jari telunjuknya menari. Membentuk gerakan-gerakan abstrak di kaca jendela. Hidup memang abstrak, pikir perempuan itu. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Termasuk ketika wanita tadi menyerahkan hidupnya kepada lelaki itu. Disangkanya lelaki itu akan mampu menjadi pendamping terbaik hingga ajal menjemput, mungkin. Tapi sayang, kekecewaan yang harus ditelannya.

Perempuan itu masih duduk di sana. Menopangkan dagunya pada telapak tangan kirinya yang tertumpu di meja. Setiap malam. Tidak pernah terpikir olehnya untuk pindah dari tempat duduknya kini. Di sini menyenangkan, kata perempuan itu. Dalam hatinya. Dia bisa mengamati seluruh sudut kafe dari tempat duduknya saat ini. Dia bisa membaca pantulan yang terpancar dari wajah setiap pengunjung kafe yang datang.

Seperti malam-malam yang lalu, perempuan itu mengangkat cangkirnya untuk kesekian kalinya. Melongok mengamati isi cangkirnya, menghirup aroma tehnya yang membuatnya melayang, lalu meletakkannya kembali tanpa membiarkan bibirnya dibasahi oleh cairan kecoklatan yang dipujanya itu. Kemudian dia akan berhenti pada satu titik. Membiarkan matanya menatap lama pada sebuah jam dinding besar di salah satu dinding kafe.

Butuh menit yang cukup panjang untuk mengalihkan perhatian perempuan yang tampak laksana sedang menghitung detik-detik yang digerakkan oleh jarum panjang dalam jam dinding itu. Sampai pengunjung kafe berikutnya datang dan kembali membuat perempuan itu menelengkan kepalanya.

Seorang bocah laki-laki masuk tertatih-tatih. Diikuti dengan seorang laki-laki paruh baya di belakangnya. Bocah laki-laki itu berwajah bulat. Dengan mata sipit dan kulit putih yang pipinya tampak kemerahan. Seperti apel yang ranum, perempuan itu tanpa sadar tersenyum.

Perempuan itu menerka-nerka umur bocah kecil itu. Sekitar delapan tahun, rasanya.

Laki-laki paruh baya yang perempuan itu yakini sebagai ayah bocah itu menarik tangan putra kecilnya, berjalan melewati tempat duduk perempuan itu, dan duduk di meja di hadapannya.

Perempuan itu mengerutkan dahinya. Tempat itu selalu menjadi favorit pelanggan kafe ini, tampaknya. Dia kembali memasang telinganya, tertarik mendengarkan kedua sosok di hadapannya mulai berbagi kisah.

Bocah kecil itu mulai bicara. Menceritakan bagaimana dia diajari melipat origami di sekolah, menghabiskan sepiring mie goreng buatan ibu kantin yang luar biasa lezatnya, bermain petak umpet bersama teman-temannya, sampai belajar menggambar keluarga, katanya, sambil mengeluarkan secarik kertas dari ransel biru yang tadi dipanggulnya.

Laki-laki paruh baya yang duduk memunggungi perempuan itu mengambil kertas itu dari tangan putranya. Dia lalu bertanya, kepada bocah kecil itu, mengapa hanya ada dirinya dan diri bocah itu yang tergambar di atas kertas putih itu.

Perempuan itu memanjang-manjangkan lehernya. Berusaha ikut menyimak gambar yang dibuat bocah kecil yang menarik perhatiannya itu. Lalu dilihatnya bocah itu menunjuk sesuatu di atas kertas yang dipegang ayahnya. Sebuah gumpalan awan, perempuan itu mengintip.

Ibu ada di sana, kata bocah itu pada ayahnya. Membuat perempuan itu terhenyak dan merasa dadanya terasa tidak nyaman. Perempuan itu lalu menundukkan kepalanya, berpura-pura antusias pada isi cangkirnya yang mungkin sudah sedingin air hujan yang belum berhenti menitik.

Tidak sadar berapa lama dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, ketika dia mendongakkan kepalanya dan mencari sosok bocah kecil beserta lelaki paruh baya yang tadi duduk di meja di depannya, perempuan itu tak lagi mendapatkannya. Entah sejak kapan mereka beranjak pergi, perempuan itu tidak tahu. Yang dia sadari saat ini cuma meja dan susunan kursi di hadapannya sudah rapi kembali seperti sediakala. Seakan sejak tadi, tidak pernah ada yang mendudukinya.

Perempuan itu senantiasa duduk di sana. Tidak juga beranjak, ketika seorang lelaki bertubuh ringkih keluar dari salah satu balik pintu, yang dikenalinya adalah pemilik dari kafe ini.

Seraya menahan nafasnya yang kesekian kali, perempuan itu mengamati lelaki tua itu tampak menyeret kakinya. Seperti tampak begitu berat. Separuh limbung, dia menarik kursi di meja di hadapan perempuan itu. Lalu duduk. Perempuan itu mendapati lelaki tua itu duduk berhadapan muka dengannya.

Awalnya, dia mendengar lelaki ringkih itu menarik nafas dalam, lalu dihembuskannya dengan kuat. Kemudian hening yang lama. Sebelum akhirnya perempuan itu melihat lelaki tua itu merogoh saku celana panjang yang dikenakannya, dan mengeluarkan sesuatu yang tertangkap seperti selembar foto yang mulai menguning di mata perempuan itu.

Perempuan itu mengekori gerakan lelaki tua yang hanya terdiam, lalu bibirnya bergetar, kerutan di wajahnya menegas, rahangnya mengeras, hingga akhirnya seluruh tubuhnya gemetar, dan bulir-bulir air mata berjatuhan dari kedua mata tuanya.

Memiringkan kepalanya, perempuan itu dilibat rasa penasaran yang begitu dahsyat. Entah apa yang sedang dilihat oleh lelaki tua itu sampai begitu kuatnya emosi yang terkuak dari gerakan tubuhnya ketika dia melihat selembar foto itu.

Perlahan suara desah tangis lelaki tua itu berubah menjadi isakan. Dan isakan itu berubah seperti nyanyian memilukan yang membuat perempuan itu tak tahan lagi. Untuk kali ini, dia menggerakkan tubuhnya, bangkit dari duduknya, dan menghampiri meja di hadapannya.

Lelaki tua itu tidak mendongakkan kepala menatapnya. Kepalanya terkulai dalam, susah dan payah menahan ledakan emosi yang begitu hebat dari dalam dirinya.

Perempuan itu bergerak menyamping. Diliriknya foto yang masih terpegang di tangan lelaki tua itu. Mata perempuan itu mengenali sosok yang terpampang pada selembar foto usang itu. Di dalamnya, ada seorang lelaki paruh baya dengan seorang bocah kecil berpipi semerah apel yang ranum tadi. Sekilas, foto itu nyaris serupa dengan gambar yang dilukis oleh bocah tadi di atas kertas putihnya.

Hanya bedanya, pada foto yang dipegang oleh lelaki tua ini, ada seorang wanita di dalamnya. Dia berdiri seraya memegang tangan kiri bocah kecil itu.

Perempuan itu berpikir keras. Memaksa seisi kepalanya untuk mengenali dengan lebih baik. Hingga baru disadarinya bahwa wanita dalam foto ini adalah wanita yang sama yang tadi datang dengan perut membukit ke kafe ini, juga wanita yang sama pula dengan gadis muda yang tadi berlari mengikuti pasangannya yang meninggalkannya.

Betapa pada awalnya perempuan itu tak yakin. Perasaannya diliputi dengan keraguan yang begitu pekat terasa. Sampai akhirnya ketika lelaki tua itu mengangkat kepala dan membuka matanya, perempuan itu melihat sesuatu.

Perempuan itu bisa melihat bola mata yang berwarna cokelat itu dengan sangat jelas. Warna yang sama dengan pemilik mata di foto yang sedang dipegangnya. Sama pula dengan sepasang mata milik ayah bocah lelaki tadi. Juga serupa dengan warna mata lelaki berusia tiga puluhan yang tadi memaksa istrinya untuk bercerai hanya karena dia merasa telah menemukan wanita lain yang dirasanya lebih pantas dari wanita yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Pun masih dengan keyakinan yang sama, perempuan itu tahu, dia juga adalah laki-laki yang sama dengan pemuda yang tadi meninggalkan gadisnya setelah dia mengangkat telepon dari gadis lain.

Merasa kian gamang, perempuan itu memalingkan wajahnya. Hujan telah berhenti sekarang. Udara dingin yang sedari tadi mencekam, perlahan mulai mencair. Perempuan itu bergerak lagi, kembali ke tempat duduknya. Meninggalkan lelaki ringkih itu duduk meratap sendirian.

Matanya masih terpaku pada pemandangan di luar kaca jendela. Kabut mulai menepi. Perlahan tapi pasti, kaca yang tadi sempat memburam, mulai jernih. Awalnya, perempuan itu melihat sebentuk wajah yang tercermin di kaca itu samar, lalu berubah jelas.

Dan perempuan itu bisa mengenali wajahnya sendiri di kaca yang kini tampak seperti cermin itu.

Mula-mula dada perempuan itu berdegup kencang. Otaknya berusaha mencerna dengan sekeras-kerasnya. Hingga akhirnya, ketika potongan demi potongan yang raib dalam kepalanya itu kembali pada susunan yang benar, perempuan itu merasakan debar jantungnya mereda. Nafasnya mulai teratur dan dia bisa kembali fokus pada apa yang selama ini dilakukannya.

Perempuan itu akan tetap duduk di sana. Setiap hari. Setiap malam. Di meja dan kursi yang selalu sama. Menikmati pemandangan di luar jendela, sambil menghirup aroma yang disajikan dari dalam cangkir tehnya, memanjakan telinganya dengan alunan nada yang dipujanya, mengamati orang-orang yang masuk ke dalam kafe, melayangkan pikirannya pada masa silam yang nyaris setiap hari selalu dilupakannya, dan setiap kali pula akan perempuan itu ingat pada akhirnya.

Tidak ada yang perempuan itu lakukan. Dia hanya duduk diam. Di sana. Di tempat di mana lelaki itu mengenangnya. Dan di tempat di mana perempuan itu akan selalu terkenang.

Dikiranya, itu akan berlangsung sampai kapan pun.

Namun malam ini berbeda. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, lelaki ringkih itu tidak hanya menangis dan kembali menjejalkan foto usang itu ke dalam sakunya.

Malam ini, dipandanginya foto itu lama. Lama.

Kemudian lamat-lamat, perempuan itu bisa mendengar suara laki-laki itu. Bibirnya yang pucat bergerak, menggumamkan patahan-patahan kata yang lirih.

Ma-af....

Perempuan itu mengerjapkan matanya. Menyaksikan betapa linangan air mata lelaki ringkih itu menghebat. Sebelum akhirnya telinganya menangkap kalimat susulan yang meruamkan dadanya.

Aku – mencintaimu....

Seketika saja, perempuan itu merasa matanya memanas. Debar jantungnya yang tadi telah mereda, berdetak jauh lebih keras dari sebelumnya. Berdentum-dentum. Seperti palu yang dipukulkan kuat-kuat dan tak berhenti.

Perempuan itu merasa pedih. Sekaligus lega dalam waktu yang bersamaan. Hingga akhirnya, dia tak menyadari sejak kapan sinar rembulan telah berganti dengan hangatnya cahaya mentari yang menelusup dari celah-celah jendela kafe di sampingnya.

Tiba-tiba perempuan itu tersenyum. Bukan lagi senyum pedih yang biasa melengkung di wajahnya. Tapi senyum haru yang membuat sekujur tubuhnya terasa damai. Kemudian kehangatan yang menjalar itu merangkulnya. Begitu kuat, dan perempuan itu merasakan tubuhnya pecah, memencar menjadi serpihan cahaya berkilauan.

Tidak banyak lagi yang sempat terpikirkan oleh perempuan itu. Di benaknya, hanya ada satu hal yang terlintas.

Mungkin, mulai detik ini, perempuan itu tidak akan lagi duduk di kafe itu.


 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer SirupLavender
SirupLavender at Perempuan Itu (1 year 41 weeks ago)
90

Wkt ada dua org duduk disamping perempuan itu tp msh byk bangku kosong. Gw pikir, ini dia! Ternyata....

Writer fachrunnisa eva
fachrunnisa eva at Perempuan Itu (6 years 45 weeks ago)
100

jd dia semacam arwah g tenang gtu kak?

Writer alifdanya
alifdanya at Perempuan Itu (6 years 45 weeks ago)
100

kata opa mario teguh, SUPER!
sampe merinding bacanya...
salam,

Writer dede
dede at Perempuan Itu (6 years 45 weeks ago)
100

kak sun akhirnya kembali lagiii.... Horee!!
Welcome home :)

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Perempuan Itu (6 years 45 weeks ago)
100

alurnya mengalir, benar-benar buat terharu. dan bagian akhirnya juga menyayat hati, benar-benar pilu...
.
.
salam kenal~