Selamat Ulang Tahun, Pak Guru!

 

Dia tersenyum, mengenalkan diri, “Saya adalah murid ke-12 Pak Guru.”

Badanku merinding ketika seringai tawanya menyerangku. Siapa dia? Siapa?!

“Bukankah ini tanggal cantik? Tanggal dua belas, bulan dua belas, tahun dua ribu dua belas. Dan, yang lebih istimewa lagi, bukankah tanggal ini bertepatan dengan hari ulang tahun Pak Guru?” masih duduk di kursinya, dia terus menatapku.

Apa? Apa hubungannya dengan hari lahirku? Siapa anak yang muncul tiba-tiba ini? Dan kenapa sebelas muridku yang lain diam saja? Dan guru-guru lainnya di sampingku … mereka seperti boneka gila yang terus bergetar tak jelas, sembari meneteskan keringat dan air liur. Mata mereka melotot membuatku ngeri. Dan mereka diam saja!

Murid ke-12 itu memiringkan wajahnya, membuatku semakin jengah.

“Apa yang Anda inginkan di hari yang spesial ini?” dia bertanya padaku. Aku tak menjawab, sebab aku bisa merasakan kalau sebenarnya dia tak butuh jawabanku. “Haha, tak perlu kaku begitu, Pak Guru. Saya sudah menyiapkan 12 hadiah yang selama ini Anda idam-idamkan.”

“H-hadiah?” aku masih belum mengerti.

“Yang pertama, kedua, dan ketiga … hahaha, Anda lucu juga, Pak Guru! Apakah masa kecil Anda kurang bahagia? Masih butuh mainan seperti ini.”

Dia menjentikkan jari. Kemudian seperti mematuhi aba-aba, tiga murid dari sebelas muridku yang duduk di belakangnya langsung mengeluarkan sesuatu. Masing-masing merupakan dus dari sebuah produk. Produk yang sangat kukenal!

“PSP! NDS! Dan laptop!!” seruku, spontan. Entah mengapa mulutku tak bisa diajak kompromi untuk menjaga harga diri seorang guru. Menjerit begitu melihat handheld dan laptop baru … seperti anak kecil saja.

“Hahaha! Sudah saya duga, Pak Guru! Tepat sasaran, bukan? Penasaran dengan hadiah-hadiah yang selanjutnya?” dia menyondongkan badannya ke depan. Seringainya tetap tersungging.

Satu demi satu murid-muridku yang lain mengikuti aba-aba jentikan jari si murid ke-12. Mereka bergiliran mengeluarkan benda yang entah muncul dari mana.

Hadiah ke-4 adalah sertifikat rumah mewah. Hadiah ke-5 berupa buku tabungan yang saldonya sudah mencapai sepuluh digit! Hadiah ke-6 adalah voucher travel keliling dunia! Hadiah ke-7 adalah undangan beasiswa untuk S2 dari universitas luar negeri!

“Apa-apaan ini? Ke-kenapa kau memberiku semua ini? Siapa kau sebenarnya?” Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku meloncat-loncat gembira tak terkira. Ini semua memang impianku! Hal-hal yang selama ini masih kukejar. Tapi, aku harus menanyakan itu.

“Hahaha, siapa saya? Masih belum mengerti? Saya mengabulkan permintaan Anda, Pak Guru. Tapi, bukankah ketujuh hadiah ini masih remeh-temeh belaka? Ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, bukan? Hadiah kedelapan.”

Murid ke-8 mengangguk, setelah diberi aba-aba jentikan jari. Dia menaikkan ke atas meja, sebuah monitor yang dengan ajaibnya menyala sendiri. Sepertinya bukan monitor itu yang jadi hadiah, tapi—

Muncul gambar. Sebuah rekaman film?

Pak Wildan? Ada wajah Pak Wildan di rekaman itu. Kenapa bisa? Dan dia terlihat ketakutan …

Aku menengok kiri-kanan, tapi tetap saya guru-guru yang lain membisu dalam rasa takut. Seseorang katakan padaku, mengapa Pak Wildan, guru agama, bisa terekam di gambar itu? Apa kalian mengerjaiku …? Namun, aku tak bisa melontarkan kata-kata itu … entah mengapa, lidahku kelu.

“Jangan palingkan wajahmu dari video ini, Pak Guru!” murid ke-12 memperingatiku. “Tataplah baik-baik akhir hayat Pak Wildan. Pria brengsek yang telah merebut Bu Hanum, yang selama ini Anda puja.”

Mataku melotot mendengar ucapannya. Tapi, belum sempat kubertanya, terjadi sesuatu di video rekaman itu. Sangat cepat kejadiannya, aku tak bisa mengikuti detailnya. Bahkan aku refleks menutup mata, sebagai reaksi yang wajar. Suara jeritan Pak Wildan menggema. Terus menggema. Perih. Ngilu. Rintih. Entah apa lagi kata yang bisa kugunakan untuk menggambarkan teriakan Pak Wildan.

Kemudian semua berubah hening. Ketika kumembuka mata, tampak Pak Wildan sudah terpotong menjadi beberapa bagian—termutilasi. Potongan kepalanya sengaja di-zoom in membuatku hampir muntah.

“Brengsek!! Kau membunuh Pak Wildan!!!!” aku mencoba untuk menerjang maju dengan seluruh kemurkaanku. Tapi tubuhku tertahan. Guru-guru yang lain membekapku dari belakang.

“Hahaha! Kenapa kesal, Pak Guru? Bukankah ini adalah keinginan terpendammu?” ledek si murid ke-12.

“Bohong! A-aku tak pernah berkeinginan begitu!”

“Saya bisa mendengar keraguan dalam suara Anda lho, Pak Guru.” Dia menjentikkan jari lagi, dua kali. Murid ke-9 dan ke-10 menaikkan monitor yang lain. “Kalau begitu, bagaimana dengan lelaki yang bernama Jerry. Dia itu induk semang yang sangat menyebalkan, bukan? Selanjutnya Gino. Tetangga yang selalu memprotes ‘Berisik!!’ sewaktu Anda memainkan seruling kesayangan Anda, padahal dia setiap hari selalu menyetel keras lagu-lagu dangdut itu. Bukankah mereka berdua juga pantas mati?”

“Apa yang kau—” kata-kataku terhenti karena aku bisa menebak apa yang bakal tertampil di dua monitor itu.

Kematian keduanya … bahkan lebih mengerikan daripada Pak Wildan. Ah … entah mengapa aku merasa berdosa. Karena kuakui, setidaknya aku memang pernah menginginkan mereka bertiga mati, meskipun hanya dalam lisan makian yang bodoh. Apakah ini semua memang salahku? Sedikit kumerenung. Lagipula badanku masih terbelenggu.

“Dan sampai pada hadiah ke-11! Anda pasti sudah menanti ini, Pak Guru. Anda sudah mengidamkan wanita cantik itu, Bu Hanum, sejak masa kalian sekelas di SMP, bukan? Sudah berapa kali Anda bermimpi untuk mendapatkan hatinya?”

Murid ke-11 mengeluarkan sebuah kotak, seukuran kotak sepatu. Dia bangkit dan membawa kotak itu sampai ke dekatku.

“Silahkan nikmati, Pak Guru. Itu adalah hati Bu Hanum!” seru murid ke-12, berbarengan dengan murid ke-11 membuka kotak itu.

“BAJINGAN!!!!!” teriakku.

I-itu benar-benar hati! Organ dalam manusia! Merah kecoklatan, dibelit oleh potongan urat-urat nadi, serta darah-darah kering yang menghitam. Hanum!! A-apakah ini milik—

Aku memalingkan wajah, tapi masih bisa terbayang dalam benakku … Hanum.

“Sekarang saatnya untuk hadiah final. Hahaha, sungguh mulia impian sejati Anda, Pak Guru!” Matanya menyipit memandangku. “Sayang sekali, memang. Dengan terpenuhinya permintaan ini, hadiah ke-1 sampai ke-7 akan sia-sia saja. Sebab Anda jadi tidak punya waktu untuk menikmatinya.”

“Brengsek! H-hentikan semua ini!! Apa yang sebenarnya kau mau, bocah!! Siapa kamu?! Dan apa yang kau lakukan dengan murid-muridku dan guru-guru yang lain??”

“Hahaha. Pertanyaan dan pertanyaan. Mengapa tidak sekalian bertanya, ‘Apa impian sejatiku?’, Pak Guru? Haha, pasti Anda sudah tahu jawabannya.”

Aku menelan ludah. Dia …. Anak ini, jangan-jangan dia adalah—

“Anda ingin masuk surga, bukan? Pak Guru, sungguh itu adalah impian sejati setiap manusia.”

Aku merinding …. Sungguh, seandainya badanku tak ditopang oleh guru-guru yang membekapku, pastinya aku sudah jatuh berlutut karena lemas. Dia adalah—

“Pertanyaan! Bagaimana proses sebelum Anda masuk surga?” dia menyengir. “Jawabannya mudah. Tentu Anda harus mati dulu!”

Dia menepuk tangan. Aba-aba terakhir. Sekarang, seluruh muridku menyingkirkan semua hadiah yang mereka keluarkan, terbanting ke lantai. Kini di tangan mereka sudah terhunus segala senjata tajam.

“Silahkan!” perintahnya.

Semua muridku yang lain melompat menerjangku. Dia berpaling, menyunggingkan senyuman terakhirnya untukku.

“Selamat ulang tahun, Pak Guru!” katanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

keren

Writer Iriani
Iriani at Selamat Ulang Tahun, Pak Guru! (7 years 10 weeks ago)
90

Tema yang luarbiasa, bagus deh.
Alurnya juga ngalir dan enak bacanya.
Saya suka ide ceritanya, itu tentang hati nurani sang guru yang jujur :)
Saya penikmat cerpen juga, biasa membaca cerpen di majalah2 wanita dan sekali-sekali di Kompas Minggu. Ada beberapa cerpen di Kkom yang saya baca, tapi kebanyakan fantasi, saya gak begitu suka. Intinya saya suka cerpen populer.
Cerpenmu ini menarik..like it :)

Writer hewan
hewan at Selamat Ulang Tahun, Pak Guru! (7 years 10 weeks ago)

S-saya juga menulis cerpen fantasi, lho.
--
Tapi, terima kasih banyak sudah membaca cerpen ini. Ya, memang di kekom tersebar banyak cerpen lain, yang mungkin ndak terdapat (jarang ada) di media-media populer.
--
Mungkin Iriani nanti bakal menemukan cerpen fantasi yang Iriani sukai. Tapi mungkin juga tidak, hehe...
--
Terima kasih, dan salam.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Selamat Ulang Tahun, Pak Guru! (7 years 10 weeks ago)
90

enggak ngerti mulanya gimana kok tiba2 situasinya bisa kayak gitu... yeah, si pak guru aja enggak ngerti hehehe. kayaknya ini semacam black comedy juga. serasa bisa menangkap beberapa hal yang lucu, yang sebetulnya mengerikan.
walau saya sebetulnya enggak suka yang sadis2... saya kira adegan pembunuhannya bisa lebih dideskripsikan kali ya, biar lebih gereget gitu. ini seperti ditulis buru2, atau mungkin kesan saya aja.
lancar dibaca :D

Writer hewan
hewan at Selamat Ulang Tahun, Pak Guru! (7 years 10 weeks ago)

Tadinya ini mau dijadikan flash fiction (yang kira-kira jumlah katanya di bawah 1000), tapi ternyata jumlah katanya lebih banyak dari yang saya pikirkan. Sehingga memang terkesan buru-buru.
--
Adegan pembunuhannya, ndak dideskripsikan dengan terlalu detail karena menyangkut psikologis si Pak Guru juga. Soalnya, dialah yang menceritakan narasinya.
--
Makasih sudah mampir dan membaca~