di Teras Rumah

di Teras Rumah

Sepintas, dia terlihat seperti sosok yang kurang ajar. Pernah sekali aku di tendangnya dan di teriakinya ketika kami sedang mereguk teh di depan teras rumah. Awal mula, kami hanya bercengkrama dengan normal, membicarakan tentang apa kesukaannya, apa yang saat ini sedang ia tekuni—hobinya.  Lalu ia menoleh, dengan wajah kosong, dan senyum ambigu. Aku terpaku melihatnya. Melihat gestur yang ia tunjukkan ketika itu. ia bilang, saat ini ia sedang hobi berjalan-jalan ke suatu tempat yang indah, dan terkesan ajaib.

“Ajaib?”

Aku mengernyit, heran. Ia tertawa kecil, lalu melanjutkan kata-katanya dengan antuasiasme berlebih.

“Iya, ajaib. Kamu harus mengunjungi tempat itu, sesekali. Bagus lho. Pemandangannya cantik, bukan main. Kemarin saja, aku diajaknya pergi piknik kesana.”

“Oleh…nya?” suaraku gemetar, “Oleh siapa?”

“Oleh Farida. Kamu tahu kan, siapa dia?”

Aku terdiam. Hanya anggukan kecil yang sekali saja kutunjukkan padanya. Tidak peduli dengan responku yang kurang paham—barangkali ia sudah malas memikirkan sikapku yang terkesan malas mengingat nama teman-temannya—yang jelas ia kembali bercerita, dengan nada yang terkesan kalem, dan suara yang nyaris seperti bisikkan di tengah malam.

ia mulai mendeskripsikan seperti apa tempat yang ia kunjungi itu. ia bilang, tempat itu seperti hutan. Namun cukup aman untuk dijadikan tempat wisata. Banyak pohon-pohon rimbun, dengan sesuatu yang hijau dan berjumbai-jumbai—ini kalimatnya sendiri—bergantung diantara cabang-cabang pohon raksasa.

“Hijau. Sangat hijau.”

Ia mengulang, berkali-kali. Mengatakan warna hijau di setiap deskripsinya tentang hutan yang dia maksud. Ia membicarakan liken, kemudian lumut-lumut yang melapisi tanah, lalu … topiknya berganti kepada danau dengan air berwarna pelangi. Ia bilang, danau di hutan itulah yang menjadi daya tarik utama, dimana bentuk cekungannya sangat artistik, menyerupai kuali raksasa yang nyaris menumpahkan isinya. Bebatuan di sekitar danau itu menambah nilai seni tersendiri. dan anehnya, tempat itu tidak jauh dari rumah kami. Begitulah yang dikatakannya.

“Bagaimana? Kamu tertarik?”

Aku hanya bergumam, pendek. Mengecewakannya dengan ekspresi yang tidak sesuai harapan. Antusias? Tidak samasekali.

Yang ada aku khawatir padanya.

Dengan menggunakan bahasa yang mudah di mengerti dan meminimalisir penggunaan kata yang menyinggungnya, aku memintanya agar tidak pergi ke sana lagi. lalu apa? Ia mengataiku seperti sipir penjara. Mengekangnya, mengkungkungnya di dalam sangkar emas tanpa memberikan kebebasan baginya untuk bersenang-senang.

Aku tahu, secara mental, ia suka berwisata mengunjungi tempat-tempat yang menurutnya indah hingga terasa magis, merasuk sukma. Tapi tetap, sebuah hutan bukanlah daerah yang aman dan tidak seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk berjalan-jalan. Apalagi—jika harus kukatakan bahwa hutan yang ia maksud tidaklah sedekat yang ia bilang.

Hutan itu berada di suatu tempat, yang amat jauh.

Jauh, hingga bahkan, aku tidak bisa melihatnya karena tempat itu sesungguhnya tidak ada. Tidak nyata.

“Farida lebih pengertian daripda kamu. Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu jahat, dan membenciku. Kamu terlihat seperti tidak senang jika aku bersenang-senang. Padahal kamu tahu sendiri, kalau ibuku baru saja—meninggal.“

Ah, kalimat itu.

Aku tidak tahu apa maksudnya mengulang-ulang, mengemis simpati dan perhatian. Perhatian untuk delusinya yang fatal. Aku tidak tahu.

“…”

“Kamu lihat sendiri bagaimana kronologinya dahulu, ketika ibuku—melindungiku.”

“…”

“Kecelakaan, yang ajaib. Dimana sebuah mobil menabrakku—dan ibuku. Tapi hanya beliau yang pergi meninggalkan dunia ini,” ia berhenti sebentar.

Tidak. Itu tidak sebentar. Jeda mengambang selama sepuluh detik. Dan—ia berhenti dengan ceritanya.

“Kenapa … berhenti?” tanyaku, takut-takut membuatnya jengkel. Dan benar saja, matanya melirikku dengan wajah yang sebal.

“Percuma. Kamu pasti bosan dengan ceritaku.”

Lalu ia terdiam, tidak bicara lagi. hanya wajah yang menatap ke depan, dan sorot mata yang hampa. Situasi ini, sangat familiar bagiku.

Jika sudah begitu, maka akulah yang akan bergantian, menceritakan sebuah kisah, dan dongeng kepadanya. Dimulai dari posisi duduk yang sedikit kuubah, condong menghadapnya, dan kursi yang sengaja kutarik mendekat. Gelas kaca bekas teh yang telah kosong kusingkirkan dari meja. Sekedar berjaga, kalau-kalau nanti ia murka dan hendak membanting gelas kaca tersebut.

Aku berdehem. Tidak ada respon pun aku tak acuh.yang aku butuhkan hanyalah sosoknya yang masih terduduk tenang, setia di sampingku.

lalu, percakapan pun dimulai. Sudah setengah tahun sejak kecelakaannya, aku selalu menanyakan hal yang sama di waktu dan kondisi yang sama pula. Setiap minggu, aku selalu menemaninya di teras rumah, mereguk secangkir teh dan menikmati senja tenggelam di pelupuk mata.

“Maya—“

Orang-orang bilang, aku sinting karena mengajukan pertanyaan yang sia-sia. Dia bilang aku menjengkelkan karena selalu membuatnya gelisah. Dan aku bilang, ini adalah terapi mujarab yang aku harap bisa membuatnya kembali ingat.

Apakah kalian tidak tahu, atau aku belum mengatakannya. Kalau dia—divonis sakit.

“Kamu tahu, kalau kita tinggal di Jakarta?”

Semilir angin terasa kental. Merasuk pori-pori kulitku. Sementara ia kukuh pada posisinya. kukuh tidak menjawabku.

“Di sebuah komplek, DPR-RI. Di tempat yang depan-belakang kanan-kirinya penuh sesak dengan kumpulan rumah yang dibangun menjulang-julang.”

“Aku tahu.”

Ia menjawabnya. Singkat, dan skeptis. Aku tak peduli, kulanjutkan cerita yang sudah dianggapnya basi. Meskipun ia pikir, kenyataanku halusinasi. Dan meskipun aku pikir, kenyataannya halusinasi.

 “Jadi, kamu paham bahwa keberadaan sebuah hutan di tempat yang berpopulasi padat penduduk ini, adalah mustahil?”

Ia menoleh tajam kepadaku, matanya berkata bahwa ia tidak suka dengan cara bicaraku yang terdengar seperti menggurui. Aku takut, tapi tetap kuteruskan. Ini juga demi kebaikannya, dan ingatannya.

“Kamu gila ya? dari sini saja, aku bisa melihat pohon tua yang menjadi simbol hutan itu ada.” Ia menunjuk sebuah tiang listrik yang penuh dengan selebaran dan poster lowongan kerja.

Ini salah.

Visualisasi matanya benar-benar sudah salah.

“Itu bukan pohon, Maya.”

Gadis itu berdiri dari kursinya, spontan. Ia menoleh padaku dengan wajah penuh urat, dan sekali lagi, tangannya menunjuk kearah tiang listrik di depan rumah.

“Itu! lantas itu APA—“ ia menoleh pada objek yang di tunjuknya, dan tiba-tiba saja, terdiam bisu. Seperti takjub, ia kembali duduk perlahan, dengan wajah yang kelihatan bingung, “I-itu … tiang listrik,” tuturnya pelan, “Tapi aku bersumpah bahwa kemarin aku melihat pohon tua itu! seharusnya kelihatan dari sini—“

“Aku mengerti. Aku percaya padamu.”

“Kamu meremehkanku.”

“Aku tidak—“

“Kamu meremehkanku!”

Ia berteriak kencang sambil menghentakkan kaki-kakinya kepada bumi dengan kasar. Aku takut ia merusak persendian pada lututnya. Lantas, kutenangkan dirinya dengan senyuman simpul, dan telunjuk yang mengacung ke sembarang arah.

“Ah, tunggu sebentar. Aku melihatnya. Pohon tua itu, disebelah sana.”

Dan setiap kali aku berkata demikian, gadis itu pasti akan terperangah, berhenti bertindak brutal dan menoleh ke arah yang sama dengan arah pandangku.

“Kamu … tidak bohong kan, bisa—melihatnya?”

“Iya, sungguh. Disana, aku melihatnya dengan jelas, walau jauh.”

ia tersenyum bangga

“Tuh kan! Apa kubilang.”

Aku mengangguk, dengan senyum ironi.

“Iya. Kamu benar. Aku yang salah.”

Tahap satu telah gagal, seperti biasa. aku menunduk lemah di kursiku, berpikir keras. Tidak berhasil mempengaruhi visualisasinya, aku pun beranjak pergi mengutak-atik sedikit memorinya. Di sini, di teras yang nyaman sementara matahari semakin merah, nyaris balik ke peraduan, kuputar sebuah lagu masa kecil yang kusimpan di dalam ponselku sebelum adzan berkumandang.

Lantunan pelan, dengan nada khas pengantar tidur, tiba-tiba saja ia bersandar di kursinya dan mengatupkan mata.

“Kamu ngantuk?”

Ia menggeleng. Hanya senyum yang lagi-lagi di sunggingkan.

“Kamu tahu, kalau kecelakaan yang menimpamu itu sudah setengah tahun yang lalu? Waktu terasa cepat ya. padahal aku merasa baru kemarin kamu kecelakaan, May.”

Dia tertawa kecil di kursinya.

“Sama. Aku juga merasa begitu. Sudah setengah tahun pula, aku tidak melihat wajah ibuku. Rasanya … sepi.”

“—Sepi?”

Dia menoleh kearahku, memberi sebuah tatapan yang bersirat. Entah apa maksudnya.

“Dosaku padanya, sudah sangat banyak, Li. Sejak kecil, aku selalu kurang ajar. Sampai saat terakhir, aku malah menyusahkannya. Padahal, aku sangat mencintainya, meskipun ia sering memarahiku. Atau mungkin—membenciku.”

“…”

“Kalau waktu itu aku tidak bertengkar dengannya, dan berlari keluar rumah, dia pasti tidak akan ikut berlari keluar, mengejarku, dan melindungiku yang tertabrak begitu saja.”

Posisi dudukku terasa mulai tidak nyaman. Keringat sebesar biji kacang, turun perlahan, melalui pelipis, hingga sampai ke pipi. Wajahku tegang.

“Semua orang bilang kecelakaan yang kualami adalah keajaiban. Hanya aku yang menganggap, bahwa ini adalah kesalahan. Dimana mungkin sesosok malaikat pencabut nyawa telah salah mengambil nyawa ibuku, dan bukannya aku.”

Cukup. Aku tidak tahan dengan racauannya.

“Kamu tahu tidak? kecelakaan itu juga—merengut salah satu yang ada di dalam dirimu.”

“…Ha?”

Kutarik napas perlahan. sementara ia menatapku dengan wajah yang terlihat aneh, tidak mengerti.

“Kamu tidak tahu cerita lengkapnya. Karena, setelah tertabrak, kamu langsung pingsan mengatupkan mata—”

“Tidak ah! Aku sempat merangkak, berusaha sekuat tenaga menghampiri tubuh ibu yang bergelimang darah. Aku juga masih ingat dengan rasa kram diujung-ujung jemariku ketika hendak menangkap sosok ibu.”

“Tidak, Maya. Yang melihat segalanya adalah aku.”

“Kamu gila!”

“Dengarkan aku.”

“Kamu sakit, Li. Dengan kisah dongeng dan delusi—”

Kutangkap pergelangan tangannya dengan cengkeraman jemari yang kuat. Perkataannya terputus. Ia merintih kesakitan, berontak dengan tindakanku yang terlihat rusuh. Kuguncangkan tubuhnya hingga membuat gadis itu diam, menatap heran.

Lalu kutelan ludah. Berusaha untuk mendinginkan kepala.

“Kamu tahu, kenapa orang-orang bilang kecelakaanmu itu keajaiban? Karena ia tidak memakan korban. Karena tidak ada yang meninggal saat kecelakaan itu terjadi.”

Lagi, tatapan dingin yang merendahkanku. Ia tidak percaya padaku. Tentu saja, karena memori di kepalanya merekam sesuatu yang sangat kontradiksi dengan kenyataan. Dan sialnya lagi, rekaman itu tertanam sangat kuat di ingatannya. Membuat Maya sangat yakin, dengan apa yang menjadi kepercayaannya. Hingga delusi pun tercipta.

“Kalau kamu bilang seperti itu, lalu bagaimana dengan ibuku! Kamu kemanakan sosoknya? Apa kamu yang menyimpannya diam-diam setelah kecelakaan itu terjadi dan sengaja membuatku sengsara? Begitu yang ingin kamu sampaikan?”

“Tidak. Yang kamu katakan itu terlalu mengada-ada.”

Kali ini ia benar-benar mengamuk, melepas cengkeraman tanganku dengan sekali hentakan keras, dan menendangku hingga terjatuh.

“Sejak awal pembicaraanmulah yang mengada-ada! Kenapa kamu senang sekali membuatku emosi!”

Kuusap perutku yang nyeri karena tendangannya. Masih dengan sorot mata yang tenang, kupandangi kedua bola matanya yang cantik, lekat-lekat.

Lalu—tersenyum.

“Kamu tahu, siapa aku? Kenapa aku bisa berada di tempat kejadian dan melihatmu yang kecelakaan itu?”

Hening di seberang sana.

“Karena aku—ibumu.”

“BUKAN!”

“Karena aku yang mengejarmu, terlambat menyelamatkanmu. Dan memelukmu yang terkapar di jalanan. Lalu menangisimu, karena kupikir, kamu akan meninggal.”

“TIDAKK! HENTIKAAN! KAMU BOHONG!”

Ia bergelintingan di lantai teras, mengamuk sejadi-jadinya. Lutut keringku gemetar, dan akhirnya—terjatuh, menusuk lantai. Air mata tidak bisa kutahan lagi. Kali ini, semuanya tumpah di depan Maya. Jeritannya, dan tangis keputusasaanku. Semuanya bercampur menjadi satu.

Hingga matahari senja tenggelam dengan sempurna. Disusul semayup suara adzan yang terdengar jauh dari komplek tetangga. Kumatikan lantunan lagu yang berdesing di ponselku. Kembali dengan kegiatan rutinku, menenangkan sosok Maya yang saat ini tengah menjerit-jerit seperti orang frustasi di teras rumah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer neysa
neysa at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)
70

eh iya lupa pointnyaaa (-__-")

Writer neysa
neysa at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)

Ikutan meramaikan komen aja deh... :) salam kenal ya!

Writer muhammad_hafizh
muhammad_hafizh at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)
80

ceritanya lumayan seru, tp awal-awalnya sedikit susah untuk dimngerti

oya, salam kenal :)

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)
80

gue kira ni cerpen bakal lu jadiin stok :3
hee belon diedit lagi yak? penempatan 'di' di paragraph pertama ada yang salah tuh, satu :D
and I found typo! xD
komennya udah kan, simple. 8 cukup kan? :D

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)

udah gue duga, kalo ada komen cepet dan pertama di cerpen ini. pasti elo =)) belom nih. bentar deh, OTW ngedit :v
-
ga jadi stok. kayaknya jarang deh ada lomba cerpen yang temanya dark gini. 8 cukup? agy dumnz... =)) sankyu ya, udah mampir.

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)

gue cuman baca nye-scan doang :D sapa tau nemu kesalahan and ternyata bener. lagipula gue udah baca pan. wkwkwk xD

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at di Teras Rumah (6 years 38 weeks ago)

Iya. gue tau :3