PUNCAK SAYAP PERKASA

 

Zago, sang ayam petarung, sedang beristirahat sejenak. Dia memandangi poster film itu. Sungguh gambar poster yang aneh. Lelaki bertopeng rubah berjalan berdampingan dengan seorang gadis kecil. Dan apa itu? Kedua tangan mereka terhubung dalam satu ikatan tali?

“Kenapa film ini begitu populer, ha? Sekuel kedua dari ‘Kafe Perampas Nama’? …. Hm, nanti aku harus ke bioskop.”

Kembali Zago mengepak-ngepakkan sayapnya nyaring, sembari sedikit berkokok, sekedar peregangan tulang. Di serambinya, sendirian, dia menanti saat namanya dipanggil. Ya, ini adalah pertandingan semifinal. Sebentar lagi, dia akan mencapai puncak Sayap Perkasa. Setelah sekian lama, wakil dari bangsa ayam akhirnya bisa kembali menunjukkan taji di Sabung Sayap Perkasa.

Pesan kepala desa terngiang di benaknya.

Jadilah seperti Panjalu sang petarung legendaris ….

“Panjalu, ya? Ayam petarung terakhir yang bisa menjadi juara di ajang ini. Sudah hampir seabad, rupanya. Pantas saja ….”

Zago merenung. Terbayanglah sebesar apa kerinduan kaumnya akan gelar juara itu. Sebenarnya banyak sekali ayam petarung yang tangguh. Sayangnya, ayam tidak dianugerahi kemampuan terbang. Sayap mereka tak bisa menandingi sayap sebagian besar bangsa burung. Dan memang … juara Sayap Perkasa selalu dari bangsa langit.

“Heh, aku memang ingin menang di ajang ini. Soal kebanggaan bangsa unggas darat pun penting. Tapi, tujuan utamaku adalah ….”

Zago mengeluarkan selembar foto dari saku mantelnya. Wajah si ayam petarung itu merona, jenggernya goyang-goyang, nafasnya pun jadi lebih kencang. Hatinya cenat-cenut. Dipandanginya sosok dalam foto itu.

“Chiquena ♥! Andai harus kucabut seluruh bulu unggasku sebagai bukti cintaku padamu, pastilah akan kulakukan. Saat pertama kumelihatmu … sungguh keindahan yang sempurna. Cenderawasih dan merak pun pasti pucat di bawah pesonamu. Sejak saat itu, kau selalu bertengger di hatiku.”

Dimasukkan kembali foto Chiquena itu ke saku mantel.

“Oke! Kalau aku jadi juara, pastilah akan kulamar ayam surgawi itu! Oh, Chiquena ♥!”

 

*****

 

Babak semifinal terakhir. Dua unggas darat berhadapan. Zago, wakil dari bangsa ayam petarung, melawan Oskey, dari bangsa burung unta. Mereka memperebutkan satu hak untuk menantang Haliastur sang rajawali, di final.

“Kekekekey, jarang sekali ada dua unggas darat yang bisa mencapai babak semifinal. Senang rasanya. Tapi, bagaimana kalau kau menyerah saja dan biarkan unggas darat terkuat sepertiku yang maju ke final?” tantang Oskey, yang tubuhnya jelas dua-tiga kali lebih besar dari lawannya.

Zago mengepak-ngepakkan kedua sayapnya, “Kuuaaaak!!! Enak saja! Aku tidak takut padamu, atau pada Haliastur! Aku akan berdiri di puncak Sayap Perkasa!”

“Kekekekey! Bermimpilah!”

Panggung pertandingan semifinal ini adalah di pinggir Danau Perak, di samping istana Kerajaan L’Aves. Seluruh penonton bersorak-sorai dengan gembira, dari tempat duduk di sejumlah tribun, ataupun menyaksikan langsung dari udara.

Pertandingan dimulai.

Oskey langsung meringsek maju, mencoba melumat Zago. Oskey menghujamkan cakar raksasa miliknya. Namun, Zago berguling ke samping, mengakibatkan cakar raksasa Oskey hanya meremukkan permukaan tanah saja. Suara berdebum yang dahsyat, menunjukkan kerasnya serangan itu.

Giliran Zago menyerang balik. Memanfaatkan waktu singkat, Zago langsung melompat menerjang tubuh besar Oskey. Terkaman dua cakar bertaji dari Zago mengincar leher jenjang Oskey, si burung unta. Namun sang ayam kurang cepat. Oskey berhasil menghindari jurus tadi dengan gaya khasnya: menanamkan kepala di tanah.

Ini bukan hanya teknik bodoh. Sebab setelah itu, Oskey melancarkan serangan spesialnya. Bersamaan dengan ditariknya kepala dari dalam tanah, ternyata bergumpal-gumpal tanah keras juga ikut terbawa. Dengan energi yang luar biasa, bongkahan tanah itu menghantam Zago. Si ayam pertarung terlambat bereaksi. Benturan keras tak terhindarkan.

Dia tumbang.

Wasit, si burung bangau, mulai menghitung dari satu ….

 

Zago bisa melihatnya, dari balik loteng rumahnya. Sosok cantik itu yang sedang memainkan seruling bambu. Paruhnya meniup lembut, bersamaan dengan menarinya bulu-bulu sayap yang menutup-buka lubang-lubang seruling itu. Semuanya menghasilkan lantunan nada yang benar-benar menggugah hati Zago.

“Oh, Chiquena. Aku hanya bisa memandangmu dari loteng kumuh, sekumuh hati pengecutku yang bahkan tak berani untuk sekedar menyapamu. Aku takluk di hadapanmu. Seluruh latihan kerasku—penuh cucuran darah, keringat dan airmata—tak mampu membuatku jadi pejantan tangguh yang sanggup mengutarakan cintanya. Ah, andai saja dunia terbalik sehingga bukan aku yang melihatmu melainkan engkau yang melihatku ….”

 

“Delapan!! Sembilan!!”

Zago membuka mata dan melompat bangkit.

“Ooooh!!! Petarung Zago masih bisa melanjutkan pertarungan!”

Penonton pun kembali bersorak riuh. Pertandingan dilanjutkan.

Di sana, Oskey menatap Zago dengan pandangan kesal.

“Kenapa tidak kau terus terlelap saja di alam sana, Ayam?!” ledek Oskey.

“Heh! Memang sih. Dibandingkan indahnya mimpiku tadi, melihat muka jelekmu sekarang bagaikan neraka,” balas Zago.

Si ayam mengambil posisi tempur, menantang lawannya. Kepalanya condong ke depan dengan seluruh bulu leher terkembang. Gestur tubuh itu seolah berkata silahkan saja maju!

“Ayam kurang ajar!”

Oskey kembali menyerbu langsung dari depan. Karena kakinya yang panjang, langkahnya pun lebar, sehingga jarak antara dirinya dan Zago langsung memendek dalam seketika.

Satu lagi terjangan cakar raksasa, kali ini lurus ke arah muka Zago.

Namun Zago tidak lengah lagi. Dia malah melompat ke atas kaki panjang Oskey yang sedang terjulur, kemudian melangkah menitinya dengan cepat. Lalu dalam satu hempasan nafas, Zago meliuk ke belakang punggung Oskey. Menunggangi burung unta itu.

“A-apa ini?!! Turun dari punggungku!!”

Oskey meronta-ronta, tetapi Zago terus mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Dia sudah ada di sudut mati Oskey. Sayap dan kaki si burung unta tak akan mampu menjangkau Zago sekarang. Tinggal mengantisipasi sodokan paruh saja. Dan benar saja, serangan yang dinanti itu datang!

“Ayam sialan!”

Oskey mencoba mematuk Zago yang bertengger di punggung, tetapi memang itulah yang diincar oleh Zago. Serudukan paruh dengan mudah dielakkan. Sebaliknya, kepala Oskey malah menerima gebukan sayap Zago, bertubi-tubi.

Oleng. Tubuh Oskey semakin lunglai. Dia terus menggila, berlari-lari tak karuan, berusaha menjatuhkan Zago. Tapi sia-sia. Malahan, serangan Zago yang semakin bertubi menghajar kepala dan leher Oskey.

Hingga pada satu momen, unggas raksasa itu terjatuh. Berdentam kencang ke seluruh arena. Penonton berseru ramai, bergelora. Terlebih ketika wasit menghitung sampai sepuluh, si burung unta tetap membujur kaku di tanah. Tak sadarkan diri.

Zago langsung melompat ke salah satu pagar kayu pembatas arena. Dia bertengger di sana, mengepak-ngepakkan sayap dengan gagah, sembari berkokok lantang.

Dia maju ke puncak Sayap Perkasa!

 

*****

 

Bulan hampir penuh. Langit malam cukup cerah. Di serambi kamar peserta, Zago mencoba memainkan alat musik kesayangannya, yaitu sebuah seruling bambu. Akan tetapi, bagaimanapun dia mencoba, yang terdengar hanyalah kumpulan nada sumbang saja.

Paruhnya mengeluh, menghela nafas.

“Sial. Apa aku memang tidak bakat di musik?” Zago menerawang. “Pasti indah sekali. Seandainya dia mau mengajariku bermain seruling ….”

Zago tidak bisa tidur. Besok adalah pertarungan terbesar yang selama ini diidamkannya. Panggung termegah di puncak Sayap Perkasa.

Terbayang sekelebat ingatan sewaktu Zago sedang berlatih teknik tempur di bawah bimbingan gurunya, si Tua Pendek, dari jenis ayam kate.

 

Satu sapuan sayap kecil dari si Tua Pendek, tubuh Zago sudah melayang dan selanjutnya menyusruk ke tanah.

“Zago, Zago. Tebaklah mengapa aku yang tubuhnya lebih kecil darimu ini selalu bisa mempecundangimu.”

“Guru ….”

“Ayo, jawab saja.”

“Apa karena Guru sangat hebat?”

“Itu salah satunya. Tapi yang paling berperan justru dari kesalahanmu sendiri.”

“He?”

“Kalau hanya mengandalkan tenaga, kau tidak akan bisa bertengger di puncak. Menghadapi para rajawali, tenagamu tak akan banyak membantu.”

“… j-jadi gimana dong, Guru?”

“Aku hanya bisa menjelaskan dengan praktik langsung. Ayo, Zago!”

Kembali tubuh Zago terpelanting ke tanah, berguling-guling hingga membentur batu besar.

 

Zago tersenyum mengingat memori indah itu. Peluh keringat yang dicucurkannya selama berlatih tak akan dilupakannya. Namun sekejab kemudian Zago tertunduk. Setitik saja airmatanya menetes.

“Guru … sayang sekali engkau tidak bisa melihat anak didikmu berlaga di partai puncak.” Zago melihat rembulan. “Saksikanlah dari alam sana. Aku rindu dengan jurus bantinganmu. T-tapi bukan berarti aku ingin secepat itu menyusulmu ke sana. Aku harus menang! Dan … k-kalau bisa, doakanlah juga agar aku bisa mengambil hati Chiquena.”

“Terima kasih, Guru!”

Kemudian Zago melanjutkan permainan serulingnya, sekalipun tetap tidak terdengar merdu.

 

****

 

Ini adalah babak final. Arenanya adalah sebuah perahu besar yang mengambang di megahnya Danau Perak, di istana Kerajaan L’Aves sebagai penyelenggara. Di sekeliling terdapat pula perahu-perahu lain menjadi kursi penonton, posisinya agak jauh dengan perahu arena. Jumlahnya begitu banyak, sehingga Danau Perak pun penuh sesak oleh perahu.

Istana Kerajaan L’Aves pun menjelma menjadi tempat wisata. Memang. Pertandingan utama di puncak Sayap Perkasa selalu menyedot pengunjung. Terlihat berbagai jenis burung, campur aduk menjadi satu, dari jenis yang bisa terbang maupun yang tidak. Semua ingin melihat apakah Haliastur dapat mempertahankan mahkota juaranya, ataukah akan tercipta legenda baru.

Kedua finalis pun memasuki arena.

Zago melompat ke pinggir perahu, sembari menunjukkan kegagahannya dalam mengepak sayap dan berkokok, seperti biasa. Arena pertarungan final ini mungkin tidak menguntungkannya, tapi untuk saat ini yang penting adalah memamerkan nyali.

Suara kepakan sayap lain pun terdengar. Rupanya Haliastur turun dengan perlahan dari angkasa. Dia bertengger di puncak tiang perahu, memandang ke bawah, di mana lawannya sudah menanti.

Wasit pun memulai pertandingan!

Penonton menggema, luar biasa. Namun kedua finalis itu seolah tak terpengaruh. Mereka langsung saling menerjang.

Haliastur turun ke geladak.

Dengan kebanggaannya sebagai juara bertahan, rajawali itu mencoba meladeni Zago di darat, spesialisasi ayam petarung.

Ternyata terjadi baku hantam yang seru.

Tubuh Zago sebenarnya tergolong besar untuk ukuran ayam petarung. Namun, Haliastur masih sedikit lebih besar. Bagaimanapun, keduanya tampak hampir seimbang. Kepakan-kepakan sayap saling menghajar, patukan paruh saling merobek, serta cengekeraman cakar yang terus mencabik.

Dalam seketika, seluruh penonton terpana. Suara riuh mereka kini hening, berganti dengan gema bunyi benturan-benturan dahsyat dari tengah perahu.

Satu terkaman cakar rajawali berhasil dielakkan oleh Zago. Dia balas menusuk dengan paruh, tapi tepisan sayap Haliastur mampu menetralkannya. Zago kesakitan, terkena sambaran sayap tadi. Sedikit kesal, dia coba menerjangkan kedua cakar kakinya. Tapi Haliastur pun membalas. Dua pasang cakar saling beradu keras.

Zago lebih beruntung, karena kakinya bertaji. Tajam taji itu sempat menggores cakar kaki Haliastur. Refleks, rajawali itu melompat mundur.

Keduanya mencoba untuk mengatur nafas kembali. Darah dan keringat terus bercucuran, bercampur, menetes dari luka cakaran kaki maupun patukan paruh.

“Krrrr! Lumayan juga kau, bocah!” seru Haliastur.

“Kuuak!! Senang sekali rasanya dipuji oleh juara bertahan. Tapi, lebih baik simpan saja pujian itu untuk nanti, sewaktu kau menyerahkan gelar juara padaku,” balas Zago.

“Krrr! Merasa sudah menang, ya? Kalau begitu aku tak akan main-main lagi!”

Benar saja. Seperti yang dikhawatirkan Zago, kini Haliastur mulai mengepakkan sayap, dan terbang.

“Ah!! D-dia beneran serius!”

Dalam waktu singkat, Haliastur sudah meninggi. Zago menengadah, tapi malah kesilauan karena posisi Haliastur yang sejajar dengan matahari. Ketika Zago berkedip, ternyata Haliastur menukik sekencang-kencangnya.

Zago tak menduga. Dia tersambar dengan cepat, kemudian Haliastur kembali terbang tinggi. Di paruh rajawali itu tersemat sejumlah bulu-bulu ayam bekas dia patuk. Disemburkannya bulu-bulu itu, seperti mengejek Zago.

“Si-sialan! Kalau sudah terbang begini, apa yang bisa kulakukan?” Zago gelisah. “Terpaksa mencoba serangan counter ….”

Akan tetapi, strategi Zago tidak berhasil. Sergapan sang rajawali begitu cepat. Sama sekali tak bisa diraih oleh serangan balasan dari si ayam. Berulang kali terjadi. Haliastur menukik tajam, menyerang dengan paruh ataupun cakar, lalu terbang tinggi lagi. Menukik, menyerang, terbang. Zago sudah mencoba sebisa mungkin menerjang balik si rajawali sewaktu dia menukik, tapi mata rajawali itu begitu tajam melihat perubahan kecil dari Zago. Tak ada yang luput dari mata Haliastur, termasuk serangan balasan dari Zago.

Ayam petarung itu kini hanya bisa jadi bulan-bulanan saja.

Terakhir, Haliastur sengaja menubrukkan tubuhnya dengan memanfaatkan momentum sewaktu menukik tajam. Hasilnya, Zago terpental jauh. Hampir saja dia tercebur ke danau di luar perahu.

“Aku tidak boleh jatuh!!” seru Zago.

Satu ayunan sayap sekuat tenaga dikepakannya. Memang, ayam itu tak mungkin terbang ke langit. Tapi satu kepakan sayap tadi sudah cukup untuk menahan laju jatuhnya, sehingga kini dia bisa mendarat kembali di pinggir perahu.

Haliastur yang berada di tengah pesrahu menatap tajam.

“Punya sayap tapi tak bisa terbang. Krrr!! Apakah kau pikir itu tidak memalukan, hai Ayam?!”

“Kuaak! Memangnya kenapa, Rajawali? Ini memang takdir kami sebagai ayam. Mungkin kami pernah bermimpi untuk bisa terbang selihai kaum rajawali. Tapi tetap saja, kami adalah ayam! Sayap kami adalah untuk pertahanan diri!! Dan menyerang!!”

Zago melesat maju dengan cepat, mumpung si rajawali masih menapak. Haliastur menyadari itu dan bergegas terbang. Tapi Zago lebih cepat mencengkeram kedua sayap si rajawali. Haliastur gagal terbang. Malahan, dia terjerembab tertindih Zago.

Kesempatan! Zago bertubi-tubi mematuki badan dan wajah Haliastur sambil mengunci kedua sayap rajawali itu ke permukaan geladak perahu.

Tentu saja Haliastur semakin berang. Satu hempasan sayap sekuat tenaga berhasil membuka kuncian Zago, dan membuat ayam petarung itu terdorong ke belakang sedikit. Langsung saja Haliastur terbang.

“Sial! Terbang lagi? Dasar rajawali pengecut!”

“Krrr! Kau hanya iri, Ayam! Iri pada kemampuan terbang kaum kami!”

“Kuaak! Kalau aku jadi juara di puncak Sayap Perkasa ini, rasanya aku tak perlu iri lagi pada sayapmu. Kau tahu, ‘kan? Terakhir kaum kami menjadi juara adalah seabad yang lalu. Wajar ‘kan kalau kami merindukan kejayaan masa lalu itu?”

“Juara?! Jangan mimpi!”

“Aku tidak mimpi. Jalan kemenangan itu sudah tergambar jelas di benakku. Mau coba?”

“Kurang ajar! Akan kubangunkan kau dari impian kosong!”

Haliastur kembali menukik tajam, menerjang ke arah Zago.

“Huh. Justru karena kosong, jadi aku bisa mengisinya dengan apapun!” seru Zago.

Zago mencoba teknik yang selalu digunakan gurunya. Dia menantikan momen yang pas untuk menjatuhkan rajawali itu.

Dekat.

Dekat!

Dan semakin mendekat!

Inilah saatnya!

Ketika Haliastur hampir menubrukkan kembali badannya ke arah Zago, ayam petarung itu melompat tinggi untuk mengincar punggung si rajawali. Niatnya begitu. Tapi ternyata mata rajawali masih belum bisa tertipu. Satu lompatan itu tak dilewatkannya. Dia mengubah jalur terbangnya dan kini kembali meluncur ke arah Zago.

“Ah, gagal lagi!” keluh Zago.

Benturan keras terjadi kembali. Zago lagi-lagi terpental. Kali ini menabrak tiang utama perahu dengan sangat kencang. Zago jatuh, meluncur ke bawah tiang. Sekujur badan Zago nyeri kesakitan.

Namun, Haliastur masih belum puas. Dia mencengkeram tubuh Zago yang masih tersungkur.

“A-apa yang mau kau lakukan??”

“Bukankah kau ingin sekali terbang, Ayam? Akan kubawa kau terbang!”

Cengkeraman Haliastur begitu kuat. Dia langsung terbang tinggi, sambil menarik badan Zago yang tak berdaya. Kuku-kuku rajawali menancap begitu kokoh. Zago berontak tapi tak ada hasil.

Tinggi.

Dibawanya semakin tinggi.

“Turunkan aku, Rajawali!!” jerit Zago.

“Kau mau turun? Oke!” balas Haliastur. “Maka mari kita turun! Tujuannya adalah danau itu!!!”

Haliastur menukik tajam. Hampir tegak lurus. Kini si ayam petarung tak berkutik di bawah cengkeraman dahsyat sang rajawali. Bukan hanya itu, wajah Zago semakin terlihat putus asa. Wajar saja, kini dia hanya bisa menerima takdir.

Dia akan kalah.

Mata Zago pun terpejam ….

 

Terdengar lantunan nada-nada indah seperti biasa. Dari balik jendela loteng rumah, Zago terus mencuri pandang, menatap pujaan hatinya.

“Aku iri pada seruling itu. Setiap hari engkau cium. Dan setiap hari merasakan kelembutan bulu-bulu cantikmu ….”

Jantung Zago hampir berhenti berdetak ketika hal itu terjadi. Si cantik Chiquena menengadah dan melihat balik ke arah loteng. Dan ayam surgawi itu tersenyum manis!

 

Mata Zago membuka.

“Aku belum kalah! Aku memang rindu gelar juara, seperti halnya seluruh bangsaku! Tapi … aku lebih rindu pada senyuman manisnya!”

“A-apa yang kau katakan?”

“Kau tak akan mengerti, Rajawali. Terakhir kali aku melihatnya, dia melihat balik. Aku harus pulang dengan kabar gembira! Sebuah kemenangan!”

“Kau akan pulang dengan kekalahan!!”

Haliastur melepas cengkeraman cakarnya sewaktu jarak dengan air sudah sekitar 5-6 meter. Dia bermaksud membiarkan momentum gerakannya menghempaskan si ayam ke danau.

Tapi—

Sekejab setelah Haliastur melepaskan cengkeraman cakarnya, ternyata Zago berusaha meraih tubuh si rajawali dengan paruh ayamnya. Dan berhasil! Paruh Zago mencapit kaki kanan Haliastur. Kini, Zago terhindar dari tubrukan dengan danau.

Sebaliknya, dalam satu hempasan, Zago meliuk lincah. Dia menarik kaki Haliastur dengan paruh sehingga si rajawali terseret turun. Kemudian Zago memanfaatkan badan Haliastur sebagai tumpuan untuk melompat.

Situasi berbalik. Kini Zago yang ada di atas angin.

Tak perlu menunggu lama, langsung dihajarnya punggung terbuka Haliastur dengan sekuat tenaga. Satu dorongan cakar ganda membentur dahsyat. Sehingga, giliran si rajawali lah yang terpental.

Jatuh.

Tanpa sempat membentangkan ataupun mengepakkan sayap.

Dan …

… tercebur ke danau!

Sorak-sorai suara penonton pun meledak.

 

*****

 

“Jadi, kita akan menonton film apa?”

“S-sulit untuk menceritakannya padamu. Ini adalah cerita tentang sebuah kafe tempat seseorang bisa menggadaikan eksistensinya dengan menyerahkan nama mereka. Kira-kira begitu ….”

“Duh, membingungkan. Lebih baik kutonton saja langsung ya, Zago?”

“B-benar.”

Zago melihat sekeliling. Sebuah kompleks wisata yang apik, di mana para turis bersenang-senang menikmati wahana-wahana yang ada.

“Pasti enak ya bisa mengelola tempat rekreasi seperti ini, Zago?”

“I-iya. Benar s-sekali. A-akan sangat menyenangkan.”

Zago bertingkah aneh. Sekalipun dia berusaha menahannya, tapi kegugupan itu tetap tak bisa ditutupi. Wajar. Di sisinya kini adalah ….

“Oh iya, Zago. Aku belum mengucapkan selamat padamu secara langsung.”

“Selamat u-untuk apa?”

“Karena telah menjadi juara.”

Muka Zago merah padam. Lebih merah daripada jenggernya. “T-terima kasih, Chiquena. T-tapi aku pun hampir saja kalah. I-itu benar-benar pertarungan yang berat.”

“Bukan soal pertandingan itu, Zago. Aku memberimu selamat karena telah jadi juara yang lain.”

Zago memiringkan kepala, “Eh?? Juara apa?”

Chiquena tersenyum, “Selamat karena sudah jadi juara pertama di hatiku. Selamanya ♥”

Zago pun pingsan.

Ternyata malah dirinya yang digombali.

 

 

 

Heru Setiawan, 22 Desember 2012

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
makkie at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 8 weeks ago)
80

haduh,,,,bagian akhirnya...hahahaha...

Writer hewan
hewan at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 7 weeks ago)

makasih sudah mampir
maaf euy saya belum sempat berkunjung lagi ke Zombie... belakangan ini lagi jarang OL,
--
nanti akan saya sempatkan~

Writer Yafeth
Yafeth at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 8 weeks ago)
70

LOL! Keju dan gula kebanyakan :v
Semua tag di TWC kayaknya dipake semua di sini :v

Writer hewan
hewan at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 8 weeks ago)

Hati-hati overdosis >.<
--
Iyak, ini memang niatannya borong-borong. Mumpung diskon akhir tahun~
-
Tengkyu sudah mampir :*

Writer luna.love
luna.love at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 9 weeks ago)
90

Zago kalah dasyat sama Chiquena ngegombalnya

sumpah sadist banget ceritanya bikin aku ngakak.

Fabel kak Heru manis plus kental dengan Gombalisme

^-^/ ~*~*~*

*lempar bintang~bintang lagi.

Writer hewan
hewan at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 9 weeks ago)

Itu twist-nya memang diniatkan begitu. Akhirnya Zagolah yang kalah, oleh cinta~
--
Matur nuwun

Writer luna.love
luna.love at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 9 weeks ago)

Nggih sami-sami mas.

Writer luna.love
luna.love at PUNCAK SAYAP PERKASA (7 years 9 weeks ago)

Nggih sami-sami mas.