Jimmy Zombie - 4

Oke, sihir. Ini hal yang baru buatku. Entah aku harus bergembira atau merasa takut. Sekarang aku tahu rasanya saat seorang sukarelawan diminta untuk naik ke atas panggung untuk menjadi sasaran lempar pisau di acara sirkus pada saat karnaval.

“A-ku Jimmy. Jimmy Zakrzewski,” ucapku pelan. Suaraku tercekat di tenggorokan.

“Bodoh. Aku bertanya APA KAMU ITU SEBENARNYA?!” Claire memegang leherku, mendorongku hingga aku tersandar pada dinding ruangan kecil ini. Dia mengangkat tangan apinya, bersiap untuk menghajarku dengan itu.

Aku akui aku sangat takut, tapi aku juga senang. Berduaan dengan Claire di tempat yang sepi, ditemani dengan nyala api. Jika matanya tidak melotot, mungkin benar-benar akan terkesan romantis.

“Tidak ada satu makhluk bernafas pun yang bisa menangkal sihirku. Kecuali mereka yang juga mempunyai kekuatan yang sama hebatnya denganku, atau lebih hebat,” geram Claire. Meski cahaya api tidak memberikan penerangan yang cukup, aku yakin aku melihat guratan-guratan hitam di wajah Claire.

Baiklah, itu menjelaskan segalanya. Claire adalah seorang penyihir. Mungkin dia tadi memberikan semacam hocus pocus kepada Tim dan teman-temannya. Sehingga mereka melihat Ms. Anna yang menegur mereka. Sihirnya bekerja dengan baik, untuk yang bernafas. Sayangnya, aku bukan makhluk hidup lagi.

Tidak ada cara lain menjelaskan kepada gadis ini kecuali berkata jujur. Toh, aku tidak mau mati konyol dengan dibakar. Lagipula, Claire seorang penyihir. Tentu dia mengerti tentang menyembunyikan identitas diri terhadap para manusia.

“Aku adalah zombie," kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan karena aku lebih takut mati lagi, melainkan karena suatu perasaan yang membuatku sangat lega saat mengatakan rahasia ini kepada orang yang aku rasa aku punya perasaan terhadap dirinya.

“Bóg-wąż? Kamu seorang bangkai-berjalan?” Claire mengerti nama asli kaum kami. Walau aku tidak begitu suka dengan sebutan dia yang kedua.

Dia menarik lengannya yang mencengkeram leherku, bergumam berkali-kali. Aku tidak begitu mendengar begitu jelas kecuali kata ‘Sial’, ‘Pantas saja’, ‘Bodoh’. Aku hanya menunggu sampai dia selesai bergelut dengan pikirannya sendiri.

Claire menatap lekat diriku.

“Baiklah Jimmy. Kamu sekarang tahu siapa aku sebenarnya, dan begitu juga aku. Jadi aku harap kita sama-sama menjaga privasi kita ini. Oke?” nadanya setengah mengancam.

“Tidak,” kataku spontan.

“Apa maksudmu?” Claire mengira aku akan melakukan ancaman balik.

“Aku tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya,” aku mengangkat kedua alisku. Meski aku ragu Claire bisa melihat jelas wajahku di tempat yang tidak terlalu terang ini.

“Cih, aku pikir apa!” Claire mematikan apinya. Berbalik dan membuka pintu perlahan, mengintip dari celah apakah ada orang lain di koridor. Dia dengan cepat membuka pintu. Aku simpulkan tidak ada orang lain.

Claire menarikku keluar tergesa, kemudian mengajakku berjalan berdampingan.

Aku mengikuti saja. Toh, aku memerlukan dia untuk melindungiku dari kawanan Wilkar yang sekarang entah berada di mana.

“Anu, Claire atau siapapun nama kamu sebenarnya …” aku mendekatkan kepala saat berbisik. Claire mendeham.

“Kamu sekarang jadi siapa? Ms. Anna, atau Claire si gadis berambut panjang yang aku su-, eh maksudku yang sering aku lihat saat SMP?” bahkan aku sangat merasa pertanyaan ini konyol sekali.

“Kenapa kamu mementingkan hal itu?” Claire balik bertanya.

“I-itu, kalau kamu jadi Ms. Anna, tentu semua orang akan bertanya-tanya. Aku terlibat kasus apa sampai seorang Wakil Kepala Sekolah menggiringku,” aku menarik nafas sejenak. Dia tidak berkomentar. Aku melanjutkan, “Kalau kamu menjadi gadis cantik yang bernama Claire, semua orang juga akan bertanya-tanya. Kenapa si cantik mau berjalan berdampingan dengan si buruk rupa.”

Claire berhenti sejenak. Aku ikut berhenti. Sebelum dia sempat berkomentar, aku melanjutkan. “Maaf, tapi kedua-duanya bukan pilihan yang bagus buat aku. Kamu tahu kan, orang seperti aku harus berada di bawah radar semua orang. Kedua pilihan itu tentu akan membuat aku popular di sekolah ini.”

Dia tersenyum dan memegang pundakku.

“Tenang, Jim. Aku hanya seorang petugas kebersihan sekolah,” ucapnya sambil kembali berjalan. “Tentu tidak ada yang akan bertanya-tanya, kan?”

Aku mengangguk. Aku menjadi semakin tertarik saja dengan gadis ini.

Claire sengaja memperlambat langkahnya, berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain. Mungkin juga dia sedang waspada agar tidak bertemu dengan sosok petugas kebersihan asli yang dia tiru wajahnya. Aku tersenyum kecil, sepertinya dia menyadari hal itu.

Dia menoleh dan sedikit melotot, alisnya naik sebelah.

“Apa yang kamu bayangkan, Bóg-wąż?” ucapnya pelan. Hanya sedikit lebih keras dari bisikan.

Beruntung saat itu Daniel datang tergopoh-gopoh, dengan membawa satu kantung makanan. Entah apa isinya, aku harap dia membawakan sesuatu buat aku.

“Hei, Jim. Kemana saja kamu?” ucapnya setelah mendekat, sesekali melihat Claire dalam rupa petugas kebersihan sekolah.

“Siapa dia?” dia bertanya padaku dengan nada sedikit tidak menghormati.

“Taman Kota. Kolam angsa. Jam 7 nanti malam.” kali ini Claire berbisik.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Claire sambil  berlalu sebelum aku mengiyakan.

Daniel melongo. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Teman, kamu kehilangan momen menarik,” kataku sambil menepuk bahu Daniel. Dia semakin bingung, ada kejadian apa antara aku dengan petugas kebersihan sekolah ini.

***

Oke, aku yakin kalian punya banyak pertanyaan tentang kami para zombie, atau Bóg-wąż seperti yang Claire katakan. Ketahuilah, tidak semua pertanyaan kalian ada jawaban. Bahkan para dziekan tidak mempunyai semua jawaban. Hei, kami tidak punya kemampuan untuk banyak mengingat. Jadi, berbaik hatilah.

Baik. Baik. Aku akan menceritakan beberapa hal yang aku ketahui saja. Lainnya mungkin aku tidak tahu atau sengaja kami rahasiakan agar kalian tidak menggunakan itu sebagai cara untuk melawan kami.

Berbicara? Hm, itu mudah. Semua indera kami bekerja dengan normal, penglihatan, pendengaran, bahkan rasa. Yah, tidak jauh berbeda dengan manusia. Walau beberapa hal jauh berbeda.

Contohnya, sakit. Kami tidak lagi mengenal rasa sakit. Tubuh kami akan lebam, tulang kami bisa patah, atau berlubang jika tertusuk, tapi kami tidak merasakan sakit. Jadi sebenarnya aku tidak perlu takut jika harus berkelahi dengan Tim. Namun yang perlu kami khawatirkan adalah kerusakan setelah itu.

Bengkel tubuh memang selalu sedia, namun tidak semua suku cadang sesuai dengan yang kita inginkan. Belum lagi proses pemasangan tubuh memakan waktu lama sampai benar-benar terhubung. Tidak segampang Plug n Play di komputer.

Ah, sudah jam enam sore. Aku harus bergegas ke Taman Kota. Tidak perlu aku ceritakan lagi kenapa aku harus bertemu dengan Claire malam ini. Mungkin hanya aku yang berpikiran kalau ini adalah kencan.

Aku pamit kepada Mom. Aku bilang aku akan main ke tempat Daniel. Beruntung Daniel mau di ajak bekerjasama. Sementara Dad baru saja berangkat ke tempat kerja. Oh iya, Dad bekerja di Dinas Pekerjaan Umum, dan dia selalu mengambil shift malam. Sehingga tidak banyak yang bertanya-tanya, dan kebanyakan kaum kami juga mengikuti jejak Dad.

Aku melangkah sedikit cepat, jarak antara rumah dengan Taman Kota lumayan jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Jadi nanti aku akan mampir ke rumah Daniel, kebetulan satu arah jika ingin menuju ke Taman Kota. Yah, paling tidak aku tidak berbohong sepenuhnya kepada Mom.

Dari sana aku akan minta antar ke Taman Kota. Itu juga kalau Daniel diperbolehkan memakai mobil ayahnya. Kadang aku merasa ayah Daniel lebih menyayangi mobil klasik itu daripada anaknya sendiri. Mungkin mobil itu cinta pertamanya.

Bingung. Aku tidak tahu harus berkata apa nanti saat bertemu dengan Claire.

Hi, kamu Nampak cantik malam ini? Sedang menjadi siapa kamu sekarang?

Claire, senang bertemu lagi denganmu tanpa cengkeraman dan bola api.

Maaf, aku tidak suka tempat terbuka. Bisa kita pergi ke cinema saja?

Kamu sudah makan Claire?

Argh, menyebalkan. Saat ini aku lebih memilih untuk berkelahi dengan Tim daripada harus merayu Claire. Huh, lagipula dia tidak mungkin tertarik dengan aku.

Dua puluh menit sudah aku berjalan, beberapa menit lagi sebelum aku sampai di rumah Daniel. Namun suara mobil yang melaju kencang dengan ban yang berdecit saat berbelok, mengagetkanku. Ya, zombie juga bisa kaget. Jangan tanya kenapa.

Kekagetanku bukan karena mobil yang dikendarai ugal-ugalan itu, melainkan karena itu adalah mobil ayah Daniel. Saat melewatiku, aku melihat dua orang pemuda yang tidak aku kenal, dan noda darah di kaca samping mobil.

Mulutku spontan bergumam,

“Daniel!”

####

Read previous post:  
47
points
(1572 words) posted by makkie 6 years 40 weeks ago
78.3333
Tags: Cerita | Novel | fantasi | vampire | werewolf | witch | zombie
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sabbath
sabbath at Jimmy Zombie - 4 (6 years 29 weeks ago)
90

lanjutannya ya makkie san... ^ ^

Writer Claraa_greyson
Claraa_greyson at Jimmy Zombie - 4 (6 years 36 weeks ago)
90

claire

Writer Alto
Alto at Jimmy Zombie - 4 (6 years 37 weeks ago)
70

Keren! kayaknya yg ini lebih bagus dari pada yg sebelumnya :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jimmy Zombie - 4 (6 years 37 weeks ago)
90

udah baca dari awal.
baru kali ini ngerasain simpati sama zombie haha.
apa dia bakal menyerang para tanaman? hehehe...
berasa baca novel fantasi terjemahan :)