[U]

Apa arti sebuah nama?

Bagi manusia (dan makhluk berakal lainnya), Nama adalah identitas, sesuatu yang digunakan untuk menyebut kesatuan jasad, jiwa, dan roh dari suatu individu tertentu.

Karena itu, [Azam] tidak terlalu suka bagaimana orang-orang memanggilnya: Az, Zam, Azzam, atau Z. Karena itu bukan namanya, meski ia memiliki hampir seluruh ingatan dan pengetahuan Azam. Karena itu bukan namanya, meski sebagian besar jasad dan jiwa yang ia gunakan sebelumnya adalah milik Azam.

Karena Azam telah meninggal enam bulan empat belas setengah hari yang lalu.

Jadi siapa dia sebenarnya? Sayang sekali [Azam] juga tak benar-benar tahu. Tapi kalau asumsi Dr. Yul benar maka ia adalah sejenis "sesuatu tak dikenal" yang "entah bagaimana" menghuni jasad dan menggunakan roh Azam  setelah yang bersangkutan 'mati'.

Percayalah, hal itu sama sekali tak membantu menjelaskan siapa 'Azam' sebenarnya.

Satu hal yang jelas adalah saat ini ia tidak benar-benar hidup dan di saat yang sama terpaksa berpura-pura hidup sebagai Azam.

Percayalah, hal itu sama sekali tidak menyenangkan.

Untungnya, karena ia memiliki hampir sebagian besar ingatan dan pengetahuan Azam, ia hampir tidak mengalami kesulitan memerankan perannya tersebut.

Faktanya, satu-satunya orang, yang sebelumnya mengenal dan dikenal Azam sebelumnya, yang tampaknya sadar bahwa ia bukan Azam, adalah adik perempuan Azam yang (untungnya) pendiam. Dan hal itu, sedikit banyak membuat [Azam]' merasa seperti tokoh antagonis dalam cerita-cerita fiksi yang pernah Azam baca.

Dan seolah hal itu belum cukup, entah bagaimana ia terpaksa melakukan hal-hal yang tak pernah terbayangkan oleh Azam sebelumnya, meskipun berdasarkan ingatannya Azam sering sekali membayangkan dirinya menjadi salah satu super hero dalam cerita.

***

[Azam] menghela napas, meski ia tidak sangat-sangat membutuhkannya. Dering jam weker mebuyarkan lamunannya. Sudah jam setengah tujuh rupanya.

Tidak.

Ia tidak tidur.

Belum.

Ia juga tidak sangat-sangat membutuhkannya. Beberapa jam tiap minggu sudah lebih dari cukup, kecuali, mungkin, kalau jasad atau jiwanya rusak parah (semoga itu takkan pernah terjadi). [Valdi], di pusat perawatan, konon, katanya, sudah tiga tahun tertidur dan entah kapan terjaga, hanya Tuhan yang tahu apa ia masih 'tidak benar-benar hidup' atau sudah mati.

Tak ada bedanya. Faktanya, banyak kaumnya, yang karena tidak bisa menerima fakta bahwa ia bukan 'ia yang ia kira' akhirnya membunuh dirinya sendiri.

[Azam] tak peduli pada makhluk-makhluk lemah itu, tapi setidaknya hal itu masih lebih baik daripada ketika mereka menjadi gila lalu melakukan hal-hal yang tak bisa dibayangkan oleh orang-orang yang masih waras.

Terdengar ketukan di pintu. Itu ibunya, ibu Azam maksudnya, mungkin mengira ia masih pulas tertidur.

"Az, kau sudah bangun? Sarapan sudah siap?"

"Ya sebentar lagi aku turun." jawab [Azam].

"Kau bisa mengantarkan Elis? Ayahmu berangkat pagi-pagi sekali tadi, ada tugas keluar kota."

"Ah, tentu saja," jawab [Azam] lagi, apapun untuk Elis. Meskipun Azam sendiri tak pernah benar-benar memperhatikan adiknya itu, [Azam] selalu berpikir sebagai seorang kakak adalah hal yang wajar untuk memperlakukan adik sebaik mungkin, apalagi jika sang adik adalah saudara satu-satunya yang dimiliki, apalgi jika sang adik adalah seorang perempuan.

Jadi setelah mandi dengan air sedingin es ([Azam] tak benar-benar merasakannya) dan berganti pakaian ia pun bergegas turun ke ruang makan lalu menghabiskan tiga porsi nasi goreng buatan ibunya (ia benar-benar membutuhkanya).

Elis sendiri sudah menyelesaikan sarapannya dan kini duduk di ruang tamu, menonton acara Magical Girl Pururin yang ditayangkan tiap selasa pagi.

Bagi yang ingin tahu, Elis sekarang sudah duduk di kelas delapan.

"Selamat pagi, El!" sapa [Azam] dengan kikuk.

Gadis berambut hitam itu cuma menoleh sedikit, lalu menganggukkan kepalanya sedikit, dan kemudian setelah membetulkan letak kaca matanya yang sedikit melorot, perhatiannya kembali terpusat pada layar televisi. Dibandingkan beberapa minggu lalu, itu adalah kemajuan yang sangat besar. [Azam] sampai merasa sedikit terharu.

Kemudian, sambil menunggu Magical Girl Pururin berakhir, [Azam] mengambil koran pagi lalu membukanya sampai pada halaman iklan.

Dibutuhkan segera pembasmi hama !!!
Bagi yang berminat silakan hubungi nomor berikut:
145-XXXXXXXX
oleh U.H.

[Azam] mengerutkan keningnya, tampaknya ia bakal bolos kuliah lagi hari ini.

Tidak. Ia mungkin akan titip absen saja.

***

Setelah mengantarkan Elis, dan berjanji untuk menjemputnya pukul lima, [Azam] segera memacu sepeda motornya menuju Rumah Sakit Jiwa Artha Guna.

Tidak. Ia masih waras.

Hanya saja, disitulah tempat dimana ia bisa bertemu dengan rekan-rekannya, terutama dengan Dr. Yul, ahli Thanatology yang bertanggung jawab atas perawatannya.

Di sana, setelah melewati sebuah lorong panjang, [Azam] menemukan sebuah elevator tua dengan tanda 'dalam perbaikan' yang sudah terpasang sejak empat tahun lalu. Dengan tenang ia masuk ke dalam lift tersebut, menekan beberapa tombol, dan sekejap kemudian bersamaan dengan suara derakan keras lift tersebut mulai bergerak turun meski saat itu ia masih berada di lantai dasar rumah sakit bertingkat tiga tersebut.

Jika ada yang ingin tahu mengapa [Azam] bisa dengan tenang keluar masuk seenaknya, itu karena cuma ada dua jenis orang yang berada di rumah sakit jiwa itu, orang-orang yang bekerja untuk U.H. dan orang-orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. [Azam] jelas masuk ke golongan pertama, meski kadang ia tidak benar-benar yakin akan hal tersebut.

Lift itu terhenti.

Pintu terbuka.

Dan tibalah [Azam] di Divisi 145 yang bertanggung jawab menangani 'masalah' di wilayah Jawa bagian timur.

Jika kau membayangkan Divisi 145 adalah sebuah ruangan mewah yang dipenuhi berbagai peralatan canggih dan orng-orang sibuk maka kau hampir betul. Setidaknya itulah yang mula-mula direncanakan sampai mereka menyadari bahwa budget yang tersedia sama sekali tak mencukupi.

Kenyataannya, Divisi 145 cuma sebuah bunker berukuran 75 kali 40 meter yang terhubung dengan jaringan gorong-gorong kota dan jalur kereta api bawah tanah yang tidak pernah dan tampaknya tidak akan terselesaikan. Seperti kebanyakan proyek pemerintah lainnya, proyek kereta api bawah tanah dihentikan karena kehabisan dana dan ketiadaan sponsor, lalu dibiarkan teronggok begitu saja.

Bunker itu, lebih jauh lagi di bagi menjadi beberapa ruang kecil dan satu ruang yang cukup besar, yang oleh para anggota Divisi, diberi nama 'ruang keluarga'. [Azam] kini berada di sana.

Ruangan yang nyaman sebenarnya, dengan beberapa sofa, rak-rak yang penuh terisi buku, dan tiga buah tabung kaca besar di tengah ruangan. Salah satu tabung itu berisi air dan di dalamnya seorang laki-laki muda, setengah telanjang (fakta yang tidak terlalu penting), tengah melayang diam dengan kedua mata terpejam.

Ya. Dialah Valdi yang disebut-sebut dalam beberapa paragraf sebelumnya.

Secara keseluruhan, bisa dibilang Divisi 145 cuma sedikit lebih nyaman dibandingkan markas Kura-Kura Ninja. Setidaknya di sana tidak ada tikus (baik tikus normal, maupun tikus mutan) yang berkeliaran.

Kembali ke ruang keluarga; Saat [Azam] tiba, sudah ada beberapa orang di sana. Seorang sedang mendengarkan entah apa dari walkman yang ia kenakan, Seorang sedang asik membaca manga, Seorang sedang asik memainkan HP, Lalu seorang lagi tampaknya sedang berpikir keras mengisi teka-teka silang pada majalah yang ia bawa.

Tak satupun yang mempedulikan [Azam].

Yah, bukan hal yang aneh, karena sama seperti dirinya, kebanyakan juga tidak benar-benar suka berada di sana.

[Azam] mengambil tempat duduknya di pojok ruangan, dekat dengan pria berkaca mata yang sedang serius mengisi teka teki silang.

Nama pria itu [Santana], walau sehari-hari ia lebih dikenal dengan nama [Tio]. Pekerjaannya adalah manajer, sekaligus pemilik toko buku kecil di bagian selatan kota. Untuk sesaat [Azam] berpikir apa ia harus menyapanya, tapi sesaat kemudian ia memutuskan tidak baik mengganggu ketika seseorang sedang sibuk dengan sesuatu.

"Lima kotak, huruf pertama H, huruf terakhir U, bayang-bayang, penampakan" gumam Santa.

"Hantu?" 'Azam' mencoba membantu.

"Yep, dan selesai sudah." [Santa] meletakkan majalah dan penanya. Ia lalu tersenyum dan menyapa [Azam], "Bagaimana kabarmu?"

"Seperti biasa, kelaparan," jawab [Azam] sambil tersenyum getir.

"Aku dulu juga begitu, tapi lama-lama kau akan terbiasa. Apa kau rutin meminum pil yang diberikan Doktor?"

"Ya, dua kali sehari, pagi dan malam," [Azam] menganguk sambil mengingat-ingat pil hijau yang diberikan Dr. Yul padanya, percayalah benda itu sama sekali tidak mengenyangkan.

"Kau harus belajar mengendalikan rasa laparmu, aku sendiri sudah jarang mengonsumi obat itu, yah kita beruntung memiliki pencernaan yang sangat-sangat efektif."

"Jadi... dimana Dokter?" tanya [Azam] sambil berkeliling.

"Makan siang. Sebentar lagi juga kembali, kenapa? apa kau tak sabar mendengar tugas kali ini?"

[Azam] menggelengkan kepalanya, "Aku tak bisa tinggal terlalu lama, aku sudah berjanji akan menjemput adikku jam 5 nanti."

"Yah kita semua sibuk, tapi apa boleh buat toh kita sudah menyetujui kontrak kan?"

Sekali lagi terdengar suara lift yang berderak.

Pintu terbuka dan seorang wanita berjas putih, yang bakal disangka masih kelas enam seandainya mengenakan seragam SD, melangkah santai dengan segelas susu hangat ditangan.

"Selamat Siang semuanya," bahkan suaranya terdengar seperti anak SD.

"Selamat siang Doktor," balas [Azam] dan [Santa].

Yang lain masih tetap dalam ketidakpeduliannya.

Melihat hal itu Dr. Yul cuma tertawa, "Yah, sudah kukira kalian bakal marah karena terlalu lama menunggu, jadi kubawakan oleh-oleh." Lanjut Dr. Yul sambil mengangkat kantong pelastik di tangan kirinya.

"Pizza?" '[Azam] menelan ludah. Meski ia bukan Kura-Kura Ninja, ia tetap tak mampu menahan diri dari Pizza. Yah, belakangan ia memang tidak terlalu rewel soal makanan.

Dan yang lainnya pun begitu, mereka bergegas meninggalkan kesibukannya lalu mengerubungi Dr. Yul untuk memperoleh bagian. Tak lama kemudian, cuma [Valdi] yang belum merasakan nikmatnya Pizza dengan Makaroni dan Keju.

Setelah makan, atmosfir di ruang keluarga berubah menjadi sedikit menyenangkan, dan kini mereka yang hadir sudah memiliki cukup antusiasme mendengarkan 'masalah' yang muncul.

Apa sudah disebutkan ada sebuah proyektor kecil di ruang keluarga?

Seperti biasa, pada awalnya proyektor itu menunjukkan apa yang telah terjadi: potongan kepala, sebuah ruangan yang dipenuhi bercak darah, organ-organ tubuh manusia, sepiring otak orak-arik yang kelihatannya lezat, dan pada akhirnya mayat seorang gadis kecil telanjang bulat, yang telah kehilangan tangan dan kakinya, dengan perut terbelah dan usus terburai.

Tak salah lagi, itu benar-benar 'masalah'.

Gambar di layar berganti, kini muncul wajah seorang wanita muda yang kelihatannya cukup cerdas dan kaya. Wanita itu tersenyum pada kamera, sambil melambaikan tangan. Jelas foto itu diambil saat wanita itu masih hidup.

"Anastasia Dwi Putri," ujar Dr. Yul sambil menyeruput susu hangatnya, "dua minggu yang lalu ia menghilang di wilayah Bromo dan diduga meninggal dunia, mungkin karena keracunan belerang, ia kembali dua minggu lalu, dan kini kembali menghilang. Besar kemungkinan ialah yang melakukan semua ini."

Azam mengangkat tangannya.

"Mengapa ia tidak mendapat perawatan?"

"Sayang sekali kita tak memiliki cukup dana ataupun tenaga untuk memeriksa semua kasus, terutama yang terjadi di luar wilayah otoritas kita, kalian beruntung, kemunculan kalian terjadi saat kalian di rawat di rumah sakit yang memiliki afiliasi dengan Divisi." jawab Dr. Yul tenang.

Santa mengangkat tangannya.

"Dimana kini target berada?"

"Malang, sepertinya, kasus terakhir terjadi di sana. Jadi ada yang mau menjadi sukarela?"

Santa mengelus-ngelus jenggot tipisnya, "Kurasa aku bisa, 'aku' punya seorang nenek yang tinggal di sana, kurasa ia bakal senang kalau kunjungi."

"Bagus ada yang lain? Ya, [Ren]?"

"Apa kita punya restoran di sana?"

Dr. Yul membuka catatannya, "Kuharap kau tak keberatan dengan Ikan Bakar."

"Aku ikut."

"Baik. [Santa] dan [Ren] kalau begitu, tapi yang lain harus siap sedia seandainya tenaga kalian dibutuhkan. Aku berharap perubahan belum terjadi."

[Azam] menghela napas lega, bukannya ia enggan membantu, tapi minggu ini ia ada ujian di kampusnya, dan walaupun ia takkan benar-benar membutuhkan ijazahnya kelak setidaknya nilai yang bagus bakal membuat orang tua Azam senang dan bangga.

-END FOR NOW-

Post Script: Cerita lama~ Kayaknya sih belum sempat terposting, tapi entahlah...

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer 145
145 at [U] (3 years 16 weeks ago)

Test~