MEMORIES ~ Chapter 1 : I Want To Protect Those Smile

MEMORIES Chapter 1 : I Want To Protect Those Smile

P.S: Maaf. Harusnya PS itu kan adanya di bawah akhir, tapi saya pasang di awal supaya nggak ngebingungin. Ini DIARY karakter di cerita DOAKU karangan saya.

....

:: Senin, 1 Mei 2000 ::

Tuhan, terimakasih atas segala anugerah-Mu. Terimakasih atas hidup ini. Terimakasih atas air mata ini. Terimakasih atas cinta ini. Terimakasih. Hari ini Kinar sehat dan selalu sehat.

Untuk ibu di surga di sisi Tuhan, selamat pagi ibu. Kinar sangat rindu. Sangat rindu sama ibu. Kinar nggak pernah lupa sama ibu. Nggak satu hari-pun. Kinar selalu berharap agar ibu bahagia bersama Tuhan di surga.

Ibu, hari ini Kinar nggak tinggal sama Nenna maupun Mbak Rossa lagi. Tapi jangan khawatir. Kinar baik - baik saja dan akan selalu baik.
Mbak Rossa mau menikah bu. Tapi mungkin ibu nggak tau siapa itu Mbak Rossa. Dulu sekitar sebulan-dua bulan yang lalu, Nenna bilang nggak bisa ngejaga Kinar lagi. Nenna, pergi. Dan Kinar sejak saat itu bersama Mbak Rossa di rumah Mbak Rossa. Kata ibu - ibu tetangga Nenna mencuri dan dibawa ke kantor polisi. Tapi Kinar yakin semua itu nggak benar. Nenna pasti punya alasan sendiri untuk pergi dari Kinar. Jadi Kinar pikir, apapun pilihan Nenna bagi Kinar itu yang terbaik. Karena Nenna juga ibu Kinar. Kinar sayang Nenna, dan tentu saja ibu juga. Setelah itu, Mbak Rossa yang menjaga Kinar. Tapi itu, cuma sebentar.

Kata Mbak Rossa, Kinar terlalu manja. Tapi Kinar waktu itu masih belum ngerti apa-apa. Kinar masih belum mandiri. Jadi sejak saat itu, selang dua bulan itu, Mbak Rossa yang agak galak ke Kinar ngajarin Kinar supaya mandiri. Sekarang Kinar sudah bisa masak nasi goreng bu. Kinar juga udah biasa nyuci baju Kinar sendiri. Kinar nggak mau ngerepotin siapapun, termasuk Mbak Rossa dan ibu-ibu tetangga yang lain. Kinar yakin, Kinar pasti bisa mandiri.

Waktu itu ada orang yang nggak Kinar kenal datang ke rumah Mbak Rossa. Laki-laki. Dia masuk tanpa seijin Mbak Rossa dan menggebrak-gebrak pintu rumah Mbak Rossa. Kinar takut ibu. Mbak Rossa kemudian bicara dengan laki-laki itu. Samar-samar Kinar dengar tentang menikah segera dan kemudian yang Kinar ingat, wajah Mbak Rossa berubah pucat. Sejak saat itu, Mbak jadi makin dingin ke Kinar. Tapi Kinar nggak benci atau apapun pada Mbak Rossa. Malah Kinar merasa semakin bersalah. Karena Kinar tau alasan dibalik kesedihan setiap orang yang Kinar jumpai pasti berasal dari Kinar, walaupun mereka mengatakan nggak kenapa. Karena itulah sekarang, Kinar nggak akan nganggu siapapun lagi.

Sekarang Kinar ada di panti bu. Namanya Panti Asuhan Harapan Bangsa. Mbak Rossa memutuskan membawa dan menyerahkan Kinar kesini. Berhubung Nenna tak kunjung datang menjemput Kinar dan Mbak Rossa akan segera menikah. Waktu itu, beberapa hari mbak nggak bicara ke Kinar. Tapi kemarin, waktu Mbak Rossa mengantar Kinar ke sini, mbak nanya ke Kinar.
"Apa Kinar sedih?"
Kinar, ya, Kinar kuat kok bu. Kinar hanya bisa tersenyum. Karena Kinar juga ingin agar senyuman Kinar yang manis ini terukir di wajah Mbak Rossa, di wajah Nenna, di wajah semuanya. Itu juga termasuk senyuman ibu. Sampai sekarang, kinar masih ingat semuanya. Semua tentang kelembutan dan kehangatan ibu. Dan sekarang, Kinar bertemu banyak, banyak orang dengan berbagaimacam emosi yang belum pernah Kinar temui. Dengan berbagaimacam ekspresi untuk menunjukkan kebahagiaan mereka. Tapi senyuman mereka tetap satu. Kinar ingin melindungi senyuman itu bu.

....

Tadi pagi waktu makan pagi di ruang makan panti, ada anak laki-laki sedikit lebih besar dari Kinar yang makan sendirian di pojok ruangan. Mungkin ini yang namanya perasaan perempuan ya, bu? Kinar merasa anak itu juga sedang sakit. Sakit seperti yang Kinar rasakan. Karena itu, Kinar coba untuk membujuknya agar makan bersama yang lain di meja. Dia menolak dan membentak Kinar. Kinar bingung. Tapi teman - teman yang lain menyuruh Kinar menjauhi anak itu. Katanya, dari dulu anak itu memang seperti itu. Tapi Kinar, ibu tau kan Kinar nggak suka ada yang nggak harmonis di lingkungan Kinar. Makanya waktu makan siang, Kinar ulangi lagi hal itu.

Kinar sengaja ngambilkan anak itu nasi dan lauk. Dan Kinar makan bersamanya di pojok ruangan itu. Anak itu, harusnya Kinar panggil kakak, makannya cepat sekali. Dan ia nggak menjawab satupun pertanyaan Kinar. Dia tetap makan dan mengabaikan Kinar hingga Kinar merasa jengkel. Akhirnya dia meninggalkan Kinar, dan langsung berjalan ke kamar tidur laki-laki. Kinar kesal! Masih kesal sampai sekarang. Tapi, waktu istirahat siang setelah makan siang semuanya berubah lagi.

Anak laki-laki semuanya berkeliaran di halaman panti bermain sepak bola. Kakak itu masih saja seperti itu. Merenung sendirian di bawah pohon sambil mencabut-cabut rumput disekitarnya. Lagi-lagi Kinar mendekatinya dan bicara padanya. Tapi tetap kakak itu mengabaikan Kinar. Terus dan terus dan terus. Kinar sampai diketawakan beberapa anak perempuan yang memperhatikan tingkah Kinar. Tapi mau bagaimana lagi? Pokoknya Kinar setidaknya harus tau siapa nama kakak itu. Secara langsung, nggak bertanya kepada Bu Murni atau Bu Ratih penjaga panti. Setelah beberapa menit bersama Kinar, mungkin kakak itu sudah tidak tahan terhadap ocehan Kinar. Ia bangkit dan berjalan ke tempat lain. Kebetulan bola sepak mengarah ke kakak itu dan hampir mengenainya. Tapi salah seorang anak laki-laki berteriak ke arah kakak itu dan berkata, "Guntur, awas!"
Langsung saja kakak yang dipanggil Guntur itu menghindar dan dengan cepat berjalan menjauh. Rencana Kinar gagal setelah mengetahui nama kakak itu bu. Tapi kemudian dengan cepat Kinar berteriak ke arah kakak itu, mengatakan, "Kak Guntur nanti Kinar ambilin nasi lagi! Kakak mau makan sama-sama Kinar kan?"
Mungkin itu hanya perasaan Kinar saja, tapi untuk sesaat Kinar rasa Kak Guntur menyetujuinya dengan cara berhenti sejenak setelah mendengar teriakan Kinar dan berjalan lagi. Untuk sekarang, bagi Kinar itu sudah cukup. Dan sebentar lagi makan malam, jadi Kinar harus merencanakan strategi selanjutnya untuk mengajak Kak Guntur bicara. Pokoknya Kinar harus berhasil!

Kepada Tuhan, terimakasih banyak atas segala anugerah yang telah Tuhan berikan selama ini kepada Kinar. Kinar tau, Kinar hanya sebagian kecil dari kemahakuasaan Tuhan dan kehidupan serta cerita Kinar hanya selembar dari jutaan cerita dan Kisah yang Tuhan ketahui. Untuk semua itu, terimakasih.
Kepada ayah, Kinar hanya ingin ayah tau bahwa Kinar sangat sangat mencintai ayah. Walaupun ayah kini menghilang. Walaupun Kinar tak tau ayah berada dimana sekarang, Kinar hanya ingin itu. Hanya itu saja. Semoga ayah selalu berbahagia, dimanapun, kapanpun.
Kepada ibu, Kinar masih ingat senandung lagu yang waktu itu selalu ibu nyanyikan saat menimang Kinar, saat menidurkan Kinar. Lagu yang sampai sekarang masih melekat di benak Kinar. Lagu tak berjudul yang selalu ibu senandungkan. Mungkin, itu ciptaan ibu. Karena Kinar hanya tau senandungnya dan beberapa bait saja. Kinar juga sudah tanyakan ke teman-teman Kinar. Semua mengatakan belum pernah mendengar lagu itu. Ya, anggap saja, lagu itulah seluruh cinta ibu pada Kinar. Dan akan selalu ada di hati Kinar, menemani setiap waktu setiap hari dalam hidup Kinar.
Dan mengenai lagu itu, akan Kinar nyanyikan untuk ibu. Selamat malam ibu, Kinar sangat sayang pada ibu.

Read previous post:  
6
points
(1347 words) posted by Sylphermizt 7 years 8 weeks ago
30
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | Cinta | Doaku | ibu | persahabatan
Read next post: