[SONGFIC] I Don't Want Set the World on Fire

I don't want set the world on fire

I just want to start

A flame in your heart

Sudah kukatakan pada mereka, aku tidak mau melakukan ini. Pihak pemerintah, terutama para elit militer, mendesakku untuk menciptakan senjata laknat ini. Sebuah rudal dengan hulu ledak nuklir, untuk diluncurkan ke daerah seberang yang sedang gencar-gencarnya melakukan pemberontakan. Jujur saja, aku rasa untuk melenyapkan pemberontak itu terlalu berlebihan. Aku yakin, masih ada jalan lain selain ini, salah satunya perundingan damai.

Sayangnya, aku juga harus sadar diri. Siapa aku? Hanya seorang ilmuwan nuklir dan metalurgi yang dipakai oleh republik ini untuk ambisi sang diktator. Jelas, derajatku jauh dibawah sang pemimpin republik. Jika aku protes sedikit saja kepada sang pemimpin, siap-siap kepalaku diterjang oleh timah panas... atau mungkin dilempar ke samudra yang luas dan menjadi makan siang hiu yang kelaparan. Saat itu, aku hanya bisa menjalankan komando dari sang pemimpin, serta "gonggongan" para elit militer dan politik yang terus mendesakku. Aku hanya bisa mengingatkan mereka semua akan dampak nuklir ini. Memang, jarak lokasi antara ibukota negara dengan daerah seberangan cukup berjauhan. Namun, ini rudal nuklir yang daya rusaknya setara dengan 20,000 TNT, jelas akan membumi hanguskan segalanya yang ada disana.

Bayangkan mereka yang tidak bersalah atau yang bukan bagian dari pemberontak juga ikut terkena kerusakan dari rudal nuklir ini. Mungkin, sang diktator berpikir sempit saat itu. Semua masyarakat di daerah seberang adalah pemberontak yang pantas mati, begitu pikirnya. Tidak, itu tidak semua. Stella, termasuk yang bukan bagian dari pemberontak.

"Stella, aku hanya ingin membakar hatimu... aku tidak ingin membakar dunia ini dengan peperangan..." tulisku pada secarik kertas. Saat ini aku bersembunyi di sebuah pulau yang terpencil, jauh dari jangkauan mata dan telinga orang-orang pemerintahan.

 

In my heart, I have but one desire

And that one is you

No other will do

"Dilubuk hatiku, aku hanya memiliki satu ambisi," tulisku. "Yaitu kamu, Stella..."

Teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya, di universitas yang sama. Aku, saat itu, mengambil jurusan metalurgi, dan dia mengambil jurusan pendidikan sekolah dasar. Sebuah "batas" yang sangat kental perbedaannya. Aku memiliki niat untuk menciptakan senjata yang digunakan untuk menegakkan perdamaian. Mungkin ideku itu yang membuat Stella tertarik pada saat pandangan pertamaku, di sebuah perpustakaan. Pada saat itu, aku sedang serius membaca buku mengenai senjata pemusnah massal. Mungkin gambar kover buku yang berupa ledakan nuklir itu menarik perhatian Stella, dan kemudian...

"Apa kamu akan memusnahkan umat manusia dengan itu?" begitu tanyanya secara mendadak, dan disitulah saat kami bertemu.

"Tidak..." jawabku datar. "Aku ingin menciptakan senjata untuk mendamaikan umat manusia,"

Mungkin karena jawabanku ini, ia tertarik untuk melanjutkan pembicaraan. Dari sekedar bersahabat, berbuah menjadi perasaan suka, hingga akhirnya terciptalah cinta diantara kita berdua. Cinta antara sang pembuat senjata dengan sang pendidik. Aneh, ya? Sebagian besar orang menganggapnya begitu.

 

I've lost all ambition for worldly acclaim

I just want to be the one you love

And with your admission that you feel the same

I'll have reach the goal I'm dreaming

Selepas kuliah, dimana saat itu aku kebingungan dimana aku harus bekerja, aku memutuskan untuk mencetak sebuah buku tentang opiniku terhadap sebuah senjata sebagai sarana perdamaian. Berkat bantuan saudaraku yang kebetulan seorang penerbit, aku bisa menerbitkan opiniku kepada publik. Sontak, masyarakat menanggapinya dengan positif, dan mengundang minat sang pemimpin saat itu. Aku ingat bagian ia menghampiri rumah kecilku. Ia bersama kedua pengawalnya yang bertubuh besar menghampiriku dengan ramah, menawariku sebuah pekerjaan. Ya, awal karirku adalah sebagai penasihat perancang senjata di sebuah pabrik senjata milik negara. Tentu saja, tawaran itu aku ambil karena desakan kebutuhan ekonomi.

Jadi tugasku saat itu adalah memberi saran dan rekomendasi kepada perancang senjata. Kurasa, aku hampir mendekati tujuan hidupku. Aku kemudian menceritakannya kepada Stella, dan kurasa dia sedikit kecewa dengan pilihan profseiku.

"Kau tahu, aku rasa kamu belum membuat sesuatu untuk apa yang kau kejar..." ujarnya murung.

"Tetapi, menurutku ini sudah hampir mendekati tujuan hidupku, Stella. Menjadi seorang yang akan membuat senjata yang tidak merusak kemanusiaan. Aku akan menjadi seorang penegak perdamaian dengan profesi sekarang ini," jelasku. Namun nampaknya itu tetap membuatnya murung.

"Apa kau kecewa?" tanyaku.

"Tidak... hanya saja aku ingin kamu untuk tidak membuat senjata pemusnah massal yang dapat menghancurkan kemanusiaan..."

"Permintaanmu kukabulkan, akan kulakukan itu,"

Yah, begitulah. lambat laun, aku mulai kehilangan ambisi duniawiku. Aku mulai memikirkan Stella lebih dalam, di hatiku. aku hanya ingin menjadi sosok yang ia cintai. Entah kekuatan darimana, aku sedikit melupakan tujuanku dan berusaha menjadi orang yang dicintai Stella apa adanya.

 

Believe me

I don't want to set the world on fire

I just want to start

A flame in your heart

Seiring berjalannya waktu, karirku terus beranjak naik. Aku memutuskan untuk bertunangan dengan Stella. Hidupku yang kurasa cukup untuk memulai rumah tangga membuatku optimis dapat bertunangan dengannya.

Namun semuanya berubah saat tawaran dari sang pemimpin. Ia memintaku untuk memimpin sebuah mega proyek senjata. Ia tidak menjelaskan senjata seperti apa, namun ia hanya mengatakan bahwa senjata ini untuk kebaikan umat manusia. Aku langsung kembali teringat akan tujuan hidupku yang aku elu-elukan dihadapan Stella saat masih di bangku kuliah. Tentu, aku menerima tawaran itu. Saat itu, aku menjadi bagian dari garis komando sang pemimpin.

Lama-lama, aku menemukan sesuatu yang ganjal dengan proyek yang aku pimpin ini. Aku mulai menemukan keterikatan senjata ini dengan nuklir. Aku harus waspada, kala itu. Lalu, muncul pemberitaan bahwa pemberontakan di daerah seberang telah terjadi. Langsung saja, sang pemimpin meminta proyek ini dipercepat.

Aku mulai memberanikan diri untuk menanyakan perihal ini kepada sang pemimpin, namun ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun terhadap pertanyaanku. Aku mulai khawatir, terutama pada Stella jika ia mengetahui ini.

Terlambat, aku baru mengetahui bahwa proyek yang kugarap ini adalah senjata nuklir! Berbahaya, jelas sangat berbahaya bagi perdamaian antar umat manusia. Begitu pun Stella mengetahuinya dari media, bahwa namaku disebut oleh sang pemimpin sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab pada pelaksanaan mega proyek ini. Ia mengumumkan hal ini dengan perasaan bangga. Di saat Stella mengetahuinya, ia pun pergi meninggalkanku. Menuju daerah yang dilanda pemberontakan tadi.

"Stella, kamu yakin tidak ingin kesana, bukan? Disana sedang dilanda pemberontakan dan tidak aman bagimu untuk tinggal disana!" cegahku saat Stella sedang menanti kereta yang akan ia tumpangi.

"Kita lihat saja, apakah kamu masih mau melanjutkan proyekmu itu," cetusnya. "Aku kecewa, ternyata orang yang kucintai adalah orang yang membohongi dirinya sendiri..."

"Percayalah, aku tidak ingin menyalakan api di dunia ini. Aku hanya ingin menyalakan 'api' di hatimu," jelasku untuk meyakinkan Stella.

Ia tidak mengatakan apa pun saat keretanya sudah datang. Ia pergi meninggalkanku, masuk ke kereta itu tanpa kata perpisahan sama sekali. Ia kecewa, namun aku merasa 'sakit' saat kereta yang ia tumpangi pergi menjauh. Oh Stella...

 

 

I've lost all ambition for worldly acclaim

I just want to be the one you love

And with your admission that you feel the same

I'll have reach the goal I'm dreaming

 

Believe me

I don't want to set the world on fire

I just want to start

A flame in your heart

Coba saja waktu itu aku akan menolak bekerja sama dengan pemerintah. Aku akan mencari pekerjaan lain dan hidup bahagia bersama stella. Namun, nyatanya waktu tak dapat diputar. Nasi sudah menjadi bubur. Aku telah berusaha membujuk para elit pemerintahan itu untuk menghentikan proyek ini. Menghentikan proyek ini berarti menghamburkan investasi mereka tanpa hasil, begitu kata mereka. Karena proyek ini sudah hampir mencapai final. Malah, aku semakin didesak untuk melanjutkan proyek. Jika tidak, maka nyawaku akan berakhir di tangan algojo.

Aku berada di persimpangan antara keselamatan diriku atau cintaku pada Stella. Aku telah berusaha untuk menghentikan ini, namun aku tak punya kekuatan dibanding dengan sang pemimpin beserta "kaki tangannya". Disaat proyek ini selesai, dan kemudian diluncurkan ke daerah seberang tersebut, disaat itu pula aku sangat khawatir pada keselamatan Stella. Aku harus mengakhiri semua ini. Aku harus melarikan diri dari pengawasan pemerintah. Aku tak mau dunia mengetahui diriku sebagai pembuat senjata yang membunuh kemanusiaan. Aku hanya ingin menegakkan perdamaian, tak lebih tak kurang.

Aku lepas dari bayang-bayang masa laluku dan kemudian melanjutkan tulisanku.

"Stella, aku tidak ingin menyalakan api pada dunia. Aku ingin menyalakan 'api' pada hatimu. Tujuanku bukan semata pada keduniaan, namun aku hanya ingin menjadi orang yang kamu cintai. Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk mencapai tujuanku, menciptakan senjata untuk menjaga perdamaian dunia. Mungkin Tuhan sedang mengujiku. Aku percaya, aku akan mewujudkan impianku, cepat atau lambat,"

Aku menaruh pensilku disebelah kertas yang baru kutulis ini. Kertas ini adalah surat untuk Stella disana. Entah, aku tak tahu bagaimana keadaan dia pasca rudal itu melesat dan jatuh tepat didaerah seberang itu. 

Kuputuskan untuk istirahat di atas ranjangku. Aku berharap, persembunyianku di sebuah pulau, tepatnya sebuah gubuk kecil ini, tak terendus oleh jangkauan pemerintah. Aku harap semuanya aman-aman saja. Aku pun terlelap. Nyenyak, hingga sebuah ledakan kecil di pintu tempat persembunyianku dan beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan perlengkapan perang yang canggih mengerumuniku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Wah, sudah lama gak baca cerita dikau. Seperti biasa, tentang perang.
Oke menurut saya. Sudah meningkat jauh dibanding terakhir kali saya membaca punya dikau. Yah, meski konklusinya terasa kurang mantep, tapi saya suka konfliknya, haha.

Ya, aku dulu vakum dari kemudian karena fokus menghadapi UN sejak awal kelas XII. Sekarang sudah 'bebas' dan bisa nulis lagi nantinya, dan kebetulan lagunya tentang perang jadinya aku ga bisa lepas dari perang. Hahaha :D
Terima kasih sudah mampir :)

70

fokus lagu ma cerita... entahlah, mungkin lebih enak kalau cerita ini dibikin panjang

Begitu ya. Kalau panjang nanti pembaca bosen lo... :D
Makasih sudah mampir :)

80

Oke ceritanya

Terima kasih :)

Bagi yang tidak tahu ini lagu apa, ini lagu dari The Ink Spot. Grup musik tahun 40an, judulnya sama (I Don't Want to Set the World on Fire). Silahkan cari di google :)