Betsy! Kemarilah, Betsy!

Abigail melagukan empat nada dan sebuah bola cahaya menerangi reruntuhan rumah sakit yang baru dimasukinya. Debu berkuasa di tempat itu, menutupi semua permukaan yang rata. Aneh, saat ia tidak bisa melihat mereka, hidung Abigail tidak gatal tapi sekarang...

 

"Kita bawa masker ga?" tanyanya pada Pemuda berkacamata besar dan bermasker kimia yang bersamanya. Si Pemuda baru saja mengeluarkan senter. Berhubung bola cahaya Abigail seterang lampu neon, ia kembali menjejalkan benda silindris itu ke dalam tas kotaknya dan mengeluarkan masker kain.

 

"Bukannya kamu bisa nyanyi apa gitu buat munculin gelembung yang melindungi kepalamu dari debu?"

 

"Aku ga mau buang-buang nada," jawab Abigail setelah memasang maskernya.

 

"Lah kamu barusan pake empat nada untuk buat lampu disko ini," si Pemuda menunjuk bola cahaya yang entah bagaimana selalu memposisikan diri di tempat terbaik untuk menerangi Abigail dan dirinya.

 

"Ga usah bawel. Aktifkan pelacak dan cari si Betsy!"

 

Si Pemuda melakukan sesuatu pada kacamatanya yang besar. "Ga ada jejaknya di sini."

 

Telinga besar Abigail bergerak-gerak, ia menoleh ke semua arah. "Aku juga tidak dapat menangkap suaranya. Kok bisa si kita kehilangan yang segede itu?"

 

"Aku uda bilang ke bos tentang ini minggu lalu. Dua belas tahun sudah kita membalik keadaan sehingga kita yang jadi pemburu dan mereka yang diburu. Jelas kalau merekapun sudah mengembangkan teknik-teknik untuk bersembunyi."

 

Abigail menoleh ke si pemuda. "Jadi kita pake cara lama? Cari dengan mata?"

 

"Mereka kasat mata, jadi ya. Kita kunjungi tiap bangsal di rumah sakit tua ini dan cari Betsy," si Pemuda memberi senyum malas lalu menunjuk menggunakan jempolnya. "Monggo, kamu dulu." Abigail menurut tapi geleng-geleng.

 

Rumah sakit itu termasuk salah satu bangunan yang langsung diserang ketika Ketibaan berlangsung tiga puluh tahun yang lalu. Lorong-lorong temaram itu bercerita tentang apa yang terjadi pada hari naas itu. Alat-alat medis berserakan di lantai, memaksa Abigail dan si Pemuda untuk berhati-hati ketika melangkah. Pada kamar-kamar tertentu ada kerangka yang terjepit robohan tembok, langit-langit, ataupun peralatan berat. Tidak berhasil keluar mereka menyerahkan nyawa mereka di rumah sakit itu. Tahun-tahun yang telah lewat membuat baju yang mereka kenakan tidak lagi dapat dikenali. Abigail dan si Pemuda tidak bisa membedakan apakah mereka pasien atau pekerja rumah sakit. Kadang saat Abigail berkonsentrasi untuk menangkap suara buruannya, teriakan terakhir para korban akan terdengar olehnya. Bulu kuduknya akan merinding.

 

"Tunggu," katanya tiba-tiba. Ia menarik gagang sebuah pintu ayun yang akan menutup dengan sendirinya bila dilepas. "Coba intip ke dalem!"

 

Si Pemuda menurut. Kacamata besarnya memberitahu kalau Betsy pernah di ruangan itu. Tapi informasi lain menunjukkan langit-langit ruangan itu tidak stabil.

 

"Dia ga di sana. Uda keluar lagi. Ini kira-kira kamar apa ya?" Si Pemuda menarik kepalanya dan mengambil gambar tulisan di atas pintu ayun kamar tersebut. Tidak sampai sedetik kemudian muncul terjemahannya.

 

"Aneh," komentar si Pemuda saat informasi lain mengenai kegunaan ruang dibacanya. "Ruang ini ga punya apa-apa yang kira-kira dibutuhkan Betsy. Jangan-jangan..."

 

Gerrrrrahmb!

 

Langit-langit ruang itu runtuh, mengubur apapun yang didalamnya dengan puing beratus-ratus kilogram. Mungkin bisa sampai satu ton. Udara yang terdorong keluar menghempas kedua pintu ayun terbuka, menghantam Abigail dan si Pemuda.

 

"Perangkap? Makhluk sial itu (uhuk-uhuk) membuat perangkap?" Abigail tidak terima. "Sihir kaumnya lebih sakti dari kaumku tapi dia membuat perangkap seperti ini?"

 

"Hehehe... Kan sudah kubilang, mereka tambah pintar. Mereka tahu ini bisa mendeteksi residu sihir mereka," si Pemuda mengetuk-ngetuk kacamatanya. Abigail membantunya berdiri.

 

"Pake ketawa lagi. Kayanya kamu mending merasa benar daripada merasa bahagia ya?"

 

"Masalahnya aku hanya bahagia kalo aku benar," si Pemuda menyeringai.

 

"Suatu saat realita bisa membunuhmu lho," sengat Abigail.

 

"Ya ngga lah. Kan kamu pasti melindungi aku."

Abigail tersenyum dan mendengus. Mereka melanjutkan pencarian mereka. Si Pemuda berteori bahwa untuk membuat perangkap tadi, si Betsy harus ke lantai atas. Jadi ke sanalah mereka pergi. Seperti di lantai dasar kacamata si Pemuda hanya bisa membantu mengidentifikasi ruang-ruang mana yang aman dimasuki. Tidak ada tanda-tanda buruan mereka.

 

"Aku tidak...," Abigail memotong si Pemuda dengan mengangkat jari telunjuknya.

 

"Betsy sempat bersin... Beberapa menit yang lalu, saat perangkapnya bekerja. Ia mengawasi!" telinga Abigail bergerak-gerak. Ia lalu menunjuk sebuah koridor dan melesat menyusurinya.

 

Betsy sepertinya tahu ia sudah ditemukan. Makhluk itu keluar dari persembunyiannya sambil berteriak... Lalu musik aneh dinyanyikannya. Kombinasi nada yang aneh seolah hasil karya seorang maestro yang sudah kehilangan akalnya keluar dengan ritmis. Bola-bola api bermunculan di udara dan melesat ke arah Abigail dan si Pemuda.

 

Abigail yang lincah melompat, meliuk, dan memelintir tubuhnya sedemikian rupa untuk menghindar. Si Pemuda membuat gestur yang dikenali komputer sarung tangannya dan mengaktifkan busa-busa anti api yang menyelimutinya. Betsy berteriak lagi, terdengar frustasi. Tentakel-tentakel pendek di wajahnya semburat mengancam.

 

Gertak sambal, pikir Abigail. Dengan pikirannya ia menembaki Betsy. Bola cahaya yang diciptakannya seolah menurut dan menyorot Betsy dengan sinar laser.

 

Meleset. Tidak satupun tepat sasaran. Betsy sangat lincah di atas keempat kakinya. Ia berlari lebih dalam menyusuri koridor, sambil sesekali berjalan di tembok atau langit-langit untuk menghindari perabotan rumah sakit yang berserakan. Yang tidak dapat dihindarinya akan dilempar ke arah Abigail menggunakan dua tangannya yang kuat.

 

Abigail mengejar makhluk itu dengan gigih. Kelincahannya luar biasa. Sesekali ia akan melagukan beberapa nada berbeda untuk menciptakan medan-medan hisap yang dapat memperlambat Betsy. Saat hampir tertangkap Betsy menghilang ke dalam sebuah ruang. Sebelum Abigail dapat menyusulnya ke dalam, jentikan jari si Pemuda menghentikannya.

 

Abigail terlatih untuk berhenti saat mendengar suara itu walaupun ia jauh dari si Pemuda. "Kenapa lagi?" protesnya saat si Pemuda muncul.

 

"Mungkin perangkap."

 

"Kau mendeteksi residu?" tanya Abigail. Si Pemuda geleng-geleng.

 

"Aku curiga aja. Dia udah melewati banyak ruang sebelum kamu ngejar dia ke sini. Kenapa ia milih masuk yang ini? Apa bedanya dengan yang lain?"

 

Abigail memahami logika itu. "Apa rencanamu?"

 

Si Pemuda mengeluarkan benda bundar pipih dari sakunya: cakram pembising. Abigail mengangguk-angguk. "Kalau dia menyiapkan perangkap dengan sihirnya, suara dari benda ini bisa menegasi rapalannya. Kalau dia menyiapkan perangkap seperti tadi... Kita ngobrol aja ruang yang tadi uda ambruk. Kalo pake ini jelas lebih heboh."

 

Abigail mundur, si Pemuda maju. Ia membuka pintu ke ruang sembunyi Betsy sedikit dan melempar cakram pembisingnya ke dalam. Ia lalu buru-buru mundur.

 

Kebisingan yang sering digambarkan Abigail sebagai "suara yang kira-kira dibuat menara Eiffel bila diremes oleh raksasa seperti kaleng bir tua," keluar dari ruang itu. Seluruh bangunan bergetar dan langit-langit di beberapa ruang runtuh, begitu juga lantai beberapa meter di belakang Abigail. Ia hanya bisa geleng-geleng... tapi Betsy berhasil keluar.

 

"Itu dia!"

 

Makhluk itu sudah kalah langkah. Abigail dapat melihatnya. Gerakannya sekarang lebih kacau. Sesekali ia memperlambat pelariannya dengan mencoba mengirim beberapa bola api ke arahnya walaupun sihir itu sudah terbukti tidak ampuh. Abigail tidak mengeluarkan sihirnya lagi, ia sekedar memepet makhluk itu saja. Akhirnya setelah sebuah belokan, mereka tiba pada sebuah koridor buntu. Betsy melepaskan lengkingan frustasi. Di matanya tampak rasa takut.

 

"Mengapa kalian memburuku! Lepaskan aku dan biarkan aku sendiri! Aku dan generasiku bukanlah yang menghancurkan dunia kalian! Aku terlahir setelah semua kekacauan ini! Buat apa kita bertarung meneruskan kebencian orang-orang tua kita?!"

 

Si Pemuda maju. "Akupun lahir setelah semua kekacauan ini. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Kita akan bertarung dan kau akan mati," katanya percaya diri. Ketakutan di mata Betsy mulai pudar. Abigail dapat melihat api kecil yang mulai tersulut di sana. Otot-ototnya menegang siap berkelahi.

 

"Mengapa? Mengapa kau memaksakan permusuhan bodoh ini? Kami sudah tidak lagi menyerang kalian!"

 

"Aku juga tahu itu. Aku bertarung bukan karena ingin keadilan, atau balas dendam, atau uang, atau cinta. Aku seorang tentara, kawan. Seorang tentara patuh pada perintah."

 

Betsy gelap mata. Ia berteriak bengis, tentakel-tentakelnya bergerak liar. Ia mengambil satu lompatan lalu langsung menerkam si Pemuda tanpa memperhatikan Abigail. Itu kesalahan terakhirnya.

 

Abigail merunduk, memindah bola cahaya ke depan si Pemuda dengan pikirannya, lalu menembak kepala Betsy dengan laser. Satu tembakan dan nyawa makhluk itu melayang. Tubuhnya jatuh di lantai berdebu, terpantul sekali dan menembus si Pemuda. Pemuda yang asli keluar dari persembunyian dan memungut cakram pengalih perhatiannya.

 

"Waaa... Pidato yang mengagumkan," kata Abigail sambil melambai-lambai di udara dengan sarkastis. "Aku seorang tentara... Aku akan melawanmu... Kau malah sembunyi di pojokan kaya anak kecil!"

 

"Tipu dikit... Biasalah," bela si Pemuda. "Kamu yang bertugas membunuh mereka aku hanya ikut sebagai p..."

 

"Pawang?" potong Abigail sinis.

 

"Pembantu, Abigail. Sebagai pembantu," si Pemuda membungkuk sok gentleman.

 

"Sudahlah. Aku tahu aku ini apa," kata Abigail.

 

"Tapi kamu tetap sayang aku kan?"

 

Abigail tersenyum. "Enggak."

 

 

Matahari bersinar terang di luar reruntuhan. Abigail heran tidak satupun cahayanya menembus kekelaman tempat itu. Atau mungkinkah kekelaman itu muncul justru setelah matahari tidak menyentuh lorong-lorong menyedihkan itu sekian lama? Ia tidak tahu. Ia juga malas memikirkannya.

 

Si Pemuda membuat laporan pada si Bos. Seperti biasa Bos dan Wakilnya menolak untuk berbicara pada Abigail. Padahal ia bisa mendengar setiap kata yang mereka ucapkan.

 

"Kerja yang bagus. Sampaikan juga pada Biduanita 117," kata si Bos pada akhirnya.

 

"Ia bisa mendengarmu, Bos. Bilang aja langsung ke dia," protes si Pemuda. Si Bos pura-pura tuli. "Setidaknya sebutlah ia dengan namanya." Si Bos tidak mau mendengarkannya lagi dan berlalu naik heli-nya.

 

"Makhluk yang kau bunuh juga mempunyai nama, kawan," kata si Wakil sambil berlalu mengikuti si Bos. Si Pemuda hanya mendengus.

 

Para teknisi yang bertugas memindah jasad Betsy membawa kotak es berisi bir. Si Pemuda mengambil dua kaling sebelum mendekati Abigail.

 

"Bos memuji kerja bagusmu," kata si Pemuda tanpa menatap mata Abigail.

 

"Aku denger..."

 

"Mereka... Aku bilang sesuatu yang membuat mereka tersinggung jadi mereka pergi sebelum..."

 

"Aku denger kok," kata Abigail lagi. Ia tersenyum tapi si Pemuda tidak melihatnya.

 

"Maaf, Abby, mereka..." Abigail menyentuh tangannya.

 

"Ga usah dijelasin, aku tau aku apa."

 

Akhirnya si Pemuda menatapnya dan keduanya tersenyum.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer anggra_t
anggra_t at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)
100

Hai, Cha :v
Keknya ini cerita sepotong dari bagian besar ya?
Baiklah, ini komentarnya. Saia agak sulit membayangkan settingnya. Kurang tergali aja. Selain itu, para tokohnya memakai bahasa prokem Indonesia tapi nama-namanya barat semua. Saia jadi membayangkan ini kaya film barat didubbing paksa.

selain itu. Saia juga kurnag bisa membayangkan si Betsy ini. Mungkin bisa dikau perjelas lagi deskripsi karakter monster ini.
.
Selebihnya yaa... karena saia anggap ini penggalan cerita besar ya, saia maafin aja bolong2nya yak.
.
kip nulis :D

NIlai: 6/10

Writer ryandachna
ryandachna at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)

Aku berharap bisa nambah tiga, empat cerita lagi mungkin dari dunia yang sama... jadi ya, ini bisa dibilang bagian dari cerita yang lebih besar.

Tokoh yang bernama asing dan ngomongnya ga baku cuma Abigail deh... Betsy tetap baku, sementara si Pemuda ya si Pemuda. for all we know his name is Bambang.

Setting memang belum dijelasin banyak. Aku kira penjelasan tentang Ketibaan yang terjadi 30 tahun sebelum kejadian di cerita uda bisa nunjukin kalo ini post exhaustive war.

Lalu si Betsy ga kubuat lebi jelas karena aku sendiri belum ada gambaran penuh tentang dia (kikikikik). di benakku dia kaya skitters di falling skies tapi dengan wajah bertentakel.

thanks for reviewing...

Writer petung
petung at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)
70

bahasanya sangat jelas dan mengalir....nice story too

Writer ryandachna
ryandachna at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)

seep, berarti temponya enak ya? makasi uda mampir.

Writer sabbath
sabbath at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)
90

Ini ada sambungannya nggak? kok kayaknya baru segigit uda habis gak kerasa di lidah, tapi di oven masih dipanggang seloyang yang belum bisa dinikmati.. ehehe.. intinya, masih banyak pertanyaan saia yang belum terjawab dari cerpen 1671 kata ini... :p

untuk hal teknik penulisan menurut saia gak ada masalah.

cuma ada beberapa typo kalau gak salah...

saia sempet ketawa ngakak waktu bagian ini

"Monggo, kamu dulu."

err... tiba-tiba ada kekacauan setting yang ditangkap oleh otak saia... xp karna bayangan saia (dari tag fantasi dan dari deskripsi di paragraf2 awal) lokasinya bukanlah real world, jadi aneh aja ada bahasa daerah yang muncul :p

Writer ryandachna
ryandachna at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)

hehehe... kata 'monggo' itu memang kupasang supaya ada hint kalo ini low fantasy. jadi si Pemuda memang orang jawa tengah/timur.

cerita ini semacam test-drive untuk jagad baru yang lagi kupertimbangkan. mudah-mudahan ada kelanjutannya.

thanks for stopping by.

Writer sabbath
sabbath at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)

hm... berarti di lanjutannya (saia harap ada) diberi tambahan sentuhan jawa... :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)
60

kayak baca anime eh manga hehe. kayaknya lebih enak kalo "ga" jadi "enggak", "uda" jadi "udah"/"sudah", "kaya" jadi "kayak"... dst. :)

Writer ryandachna
ryandachna at Betsy! Kemarilah, Betsy! (6 years 27 weeks ago)

maksudnya memang nulis action.

kalo soal dialog si memang tiap karakter ngomong begitu. kalo lagi cepat Abigail akan memakai "ga", tapi waktu dia balas si Pemuda dia pakai "enggak". aku justru kuatir sama dialog terakhir yang ga kerasa informal... kayanya kuedit aja.