Noel: For Your Happiness (1)

Noel: For Your Happiness by Rifka A.Y.

 

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku hanya berdiri di pinggir jalan, memandangi sebuah kafe kecil berjendela lebar yang tampak tak begitu ramai dari seberang jalan. Audric dan Muse mewanti-wantiku untuk tetap berdiri di sini jika salju tidak turun. Mereka akan segera kembali dari... Entahlah, mereka hanya bilang ingin mencari tahu informasi tentang insiden yang membuat kami terdampar di sini, London yang asing dan dingin. Mungkin mereka pergi ke kantor polisi, atau mencari penjaja koran untuk melihat berita terbaru tentang insiden itu... Aku tidak tahu. Pikiranku tidak fokus. London terlalu asing bagiku. Aku lelah dan kedinginan. Kafe itu menggodaku beristirahat. Tapi aku harus menunggu salju turun untuk bisa ke sana.

Rintik-rintik putih tiba-tiba berjatuhan dari langit malam. Aku menengadah dan menghela napas panjang. Terima kasih, Tuhan, salju benar-benar turun. Tanpa berpikir lagi, aku berjalan cepat menyeberangi jalan sambil memeluk diriku sendiri yang kedinginan—meskipun sudah dibaluti mantel putih tebal dan dililiti syal putih motif garis-garis. Kafe bergaya elegan yang dihiasi pernak-pernik Natal itu segera menyuguhkan kehangatan, bahkan saat aku berdiri tepat di depan pintu kacanya. Aku meragu sejenak di sana, menempelkan telapak tangan di kaca pintunya. Aku menoleh ke arah jalan, seakan-akan mewaspadai kedatangan Audric dan Muse. Salju yang turun tidak lebat, tetapi aku sudah tidak tahan lagi hanya berdiri di pinggir jalan. Mereka pasti bisa memahami keadaanku ini.

Setelah meyakinkan diri sendiri, aku membuka pintu kafe dan masuk. Harum kue dan kopi langsung menyergap, mengurungku dalam kehangatan yang membimbingku duduk di dekat jendela. Seorang gadis berapron hitam-putih menghampiriku, menawariku kue spesial mereka hari itu dan menanyakan pesananku. Gelagapan, aku membuka menu. Setelah membaca pindai nama-nama kue yang sebagian asing di mataku, aku menunjuk waffle yang bagiku paling familier. Aku juga memesan segelas cokelat panas sebagai minuman. Setelah itu, gadis berapron tadi pergi. Tak lama kemudian, dia datang lagi membawakan pesananku. Aku berterima kasih dengan canggung. Dia hanya tersenyum manis, lalu pergi lagi menghampiri pelanggan lain yang baru datang.

Aku menghela napas. Gadis tadi sangat cantik. Matanya berwarna biru kristal. Rambutnya yang dikuncir ekor kuda membentuk lingkar-lingkar ikal bertingkat. Dia terlihat sangat muda, mungkin tidak lebih dari tiga tahun lebih tua dariku. Aku belum pernah melihat gadis secantik tadi sebelumnya. Kecantikannya terasa tak terjangkau.

Aku menggenggam gelas cokelat panasku di meja. Kehangatannya membuat perasaanku jauh lebih baik. Sambil mulai menyantap waffle berhiaskan taburan gula halus putih, potongan stroberi, dan lelehan saus stroberi yang sempat membuat perutku menggerung pelan, aku memandang ke luar jendela, mengawasi jalan, mengantisipasi kedatangan Audric dan Muse.

Salju turun sedikit lebih lebat dari terakhir kali aku melihatnya tadi. Orang-orang berlalu-lalang dalam balutan jaket dan mantel tebal. Kilau-kilau lampu warna-warni dari berbagai penjuru menegaskan kedatangan Natal. Kombinasi khas musim dingin.

Aku punya cerita sendiri tentang musim dingin. Musim dingin selalu mengingatkanku pada Rumah Bellamy, tempatku tinggal dan dibesarkan bersama puluhan anak yatim piatu lainnya. Aku masih ingat betul kedatangan pertamaku ke sana, meskipun saat itu umurku mungkin belum ada lima tahun. Seseorang membawaku yang saat itu sedang berbaring di dalam sebuah keranjang ke sebuah tempat berpagar besi tinggi. Keranjangku kemudian diletakkan begitu saja di depan pagar itu. Lalu aku ditinggalkan di sana, sendirian, oleh siapa pun orang yang membawaku ke sana.

Untuk beberapa saat aku hanya diam, meringkuk rapat-rapat dalam tumpukan selimut, kebingungan dan ketakutan. Kemudian dingin mulai menggangguku, salju turun dengan lebat dan menghujaniku tanpa ampun. Aku menangis hebat sampai seseorang tergopoh-gopoh datang dari balik pagar besi. Seorang pria usia lanjut yang kemudian aku kenal sebagai Lawrence Bellamy. Dia menyelamatkanku dari gigitan musim dingin dengan membawaku masuk ke dalam rumah besar beratap lancip yang kemudian kukenal sebagai Rumah Bellamy. Beberapa tahun kemudian, saat aku sudah bisa berpikir dengan benar, baru aku tahu kalau saat itu aku dibuang oleh keluargaku dan Lawrence memungutku. Aku tidak pernah tahu mengapa aku dibuang, tetapi Lawrence selalu memberi tahu mengapa dia memungutku.

"Saat itu adalah malam Natal yang dingin, dan seorang bayi tidak akan bisa bertahan melawannya seorang diri. Kau bukan dibuang, melainkan dikirim untuk hidup dengan lebih baik di sini. Tugasku adalah memastikan keadaan itu tidak berubah dan kau benar-benar merasa pantas hidup di sini, Noel. Memastikan kau tetap hidup dan hangat."

Karena aku ditemukan di malam Natal, Lawrence memberiku nama Noel. Tanpa sepengetahuan Lawrence, aku senang menyematkan nama akhirnya di akhir namaku, sehingga namaku menjadi Noel Bellamy. Semata-mata karena aku menyayanginya, dan nama itu terdengar lebih wajar ketimbang Noel Snowflake, nama asliku. Nama yang jelas menggambarkan bagaimana keadaan sekitar saat aku ditemukan.

Anehnya, meskipun aku bisa mengingat kedatangan pertamaku ke Rumah Bellamy, aku hampir sama sekali tidak bisa mengingat apa pun tentang orangtuaku, selain seseorang bermantel cokelat tebal berbulu yang menggendongku kemudian membaringkan aku di dalam keranjang sebelum dia membuangku. Entah itu ibuku, ayahku, atau bahkan bukan salah satu dari mereka. Ujung-ujungnya toh aku tidak mau peduli. Tidak mau peduli dan tidak mau mengingatnya lagi.

Napasku mendadak tertahan saat tiba-tiba pandanganku menangkap sosok berjaket merah di seberang jalan. Audric, batinku langsung. Tetapi kemudian kusadari bahwa laki-laki berjaket merah itu bukan orang yang kukenali, karena rambutnya terlalu rapi untuk ukuran Audric dan berwarna cokelat gelap. Audric memiliki rambut pendek berwarna cokelat kemerahan seperti daun maple di musim gugur, dan dia tidak pernah menata rambutnya yang menarik itu dengan rapi. Selalu acak-acakan ke berbagai arah. Itu adalah ciri khasnya, yang berarti orang yang kulihat bukanlah dia. Napasku relaks kembali. Kusesap cokelat panas perlahan-lahan. Dengan memejamkan mata, kehangatannya dapat terasa hingga ke udara di sekitarku.

Lalu sosok Audric dan Muse membayang di pikiran. Aku melihat mereka bertengkar di aula Rumah Bellamy, tempat kami semua biasa berkumpul untuk belajar, bermain, dan mendengarkan dongeng-dongeng klasik dari Lawrence. Mereka saling berebut mainan, lalu saling mengejek, puncaknya adalah berkelahi sampai bergulingan di lantai. Baik Audric maupun Muse tidak ada yang mau mengalah. Uniknya, meskipun sering bertengkar dan berkelahi, mereka tetap tak terpisahkan. Kami sering mendapati mereka berbagi makanan, tidur bersama, bermain bersama, belajar bersama, dan bekerja sama menjaili teman-teman. Aku menjadi akrab dengan mereka setelah mereka gagal menjailiku. Saat itu, puzzle yang telah kususun gagal mereka urai karena sudah kulem. Aku mengintip dari celah pintu kamar, melihat mereka berdiri di depan lemari kaca khusus koleksi puzzle-ku sambil mengeluhkan antisipasiku itu.

"Sudah kubilang si Noel itu lebih pintar dari yang orang-orang kira," kata Muse. "Seharusnya kita menarget sesuatu yang lebih mudah dirusak daripada puzzle-nya."

"Lebih mudah dirusak tapi tidak lebih berharga sama saja tidak seru," keluh Audric. "Kita cari tahu saja bagaimana caranya mencungkil potongan-potongan puzzle ini. Kau punya gunting?"

Muse duduk mengempas di tepi tempat tidurku. "Itu tidak akan ada artinya. Noel punya puluhan puzzle. Rusak satu tidak akan ada artinya," ujarnya.

"Maksudmu aku harus merusak semuanya?"

"Maksudku kita cari benda lain saja."

"Aku tidak mau," sahut Audric. "Memangnya Noel punya benda lain yang lebih berharga dari puzzle-puzzle ini? Kau tahu sendiri Lawrence selalu membelikannya puzzle-puzzle edisi spesial dan terbatas."

"Belum tentu mereka menjadi benda yang paling berharga kan? Kau tidak tahu isi lemari Noel sebenarnya. Mungkin saja dia memiliki benda berharga lain yang disembunyikan di dalam sana."

"Kalau begitu, cari saja sendiri! Itu bagianmu."

"Apa?" Muse mulai geram. "Apa, sih, sulitnya mendengarkan pendapat orang lain? Dasar keras kepala!"

"Memangnya kau tidak?"

"Turuti saja apa kataku!"

"Sudah kubilang aku tidak mau!"

Perdebatan mereka terhenti oleh suara derit pintu membuka. Mereka sontak menoleh dan membeku melihatku berdiri di ambang pintu. Aku meremas jari-jari tangan kananku dengan tangan kiri. Gugup, karena aku jarang sekali berbicara dengan mereka yang termasuk dalam golongan anak-anak percaya diri, sementara aku pemalu.

"Apa—Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku, meskipun aku sudah tahu apa yang sedang dan berusaha mereka lakukan. Ada dorongan yang memaksaku berjalan masuk mendekati mereka yang saling pandang terkejut sekaligus bingung. Aku sendiri gemetaran saking gugupnya. Namun, aku tetap berusaha menyunggingkan senyum.

Muse melompat turun dari tempat tidurku. "Noel—Kami hanya...."

"Kalian ingin bermain dengan puzzle-ku?" tanyaku menyela, dengan tatapan mengarah pada puzzle bergambar Pinocchio di tangan Audric.

Audric gelagapan. Sementara dia berusaha mencerocoskan penjelasan, aku menghampiri lemari kaca, membuka laci terbawahnya, dan mencari-cari sesuatu di antara tumpukan karton-karton pipih yang berisi puzzle-puzzle mentah. "Oh, Noel, kami hanya ingin melihat-lihat. Kau tahu sendiri kan, akhir-akhir ini Lawrence selalu menyuruh kita bertiga berteman akrab. Kami pikir kami bisa memulainya dengan mengunjungimu di kamar, tapi ternyata kau sedang tidak ada. Jadi kami meminjam—"

Cerocosan Audric terhenti saat aku memperlihatkan wadah puzzle bergambar Gundam di depan wajahnya. Audric dan Muse sama-sama terperangah. Wadah puzzle sebesar lukisan potret Lawrence yang dipajang di lorong masuk itu hampir sebesar setengah tubuhku, dan aku agak kewalahan membawanya. Karena itu, aku cepat-cepat berkata, "Kurasa kau akan sangat cocok dengan ini, Audric. Gundam berasal dari Jepang."

Puzzle Pinocchio-ku terjatuh dari tangan Audric. Dengan mulut setengah menganga, Audric berjalan mendekat, lalu dengan hati-hati menyentuh puzzle Gundam yang kubawa. Segera, kupindahkan puzzle itu ke tangannya. Audric tersentak kaget. Aku tersenyum.

"Kau boleh mengambilnya," kataku.

"Apa? Tapi, bukankah puzzle ini berharga—"

"Kurasa, pertemanan kita akan jauh lebih berharga," selaku. Aku mengambil puzzle lain—bergambar Kung-Fu Panda—dari dalam laci dan memberikannya kepada Muse. "Ini untukmu. Kung-fu berasal dari Cina kan?"

Audric dan Muse sama-sama memandangku tak mengerti sekaligus terkejut. Lalu, aku tersenyum lebar dan menggandeng tangan mereka. "Ayo, kita susun puzzle bersama-sama di aula!"

Hari itu, kami menghabiskan waktu seharian menyusun puzzle di aula. Audric dan Muse berlomba-lomba menyelesaikan lebih cepat. Mereka menunjukku sebagai wasitnya. Tetapi, mereka tidak bisa maju tanpa bantuanku. Jadi seharian itu aku membantu mereka berdua mengerjakan puzzle sampai kami bertiga ketiduran di aula.

Aku pikir, setelah puzzle mereka selesai disusun, mereka tidak akan bermain denganku lagi. Ternyata aku salah. Kejadian puzzle itu ternyata merupakan awal dari persahabatan kami yang bertahan sampai sekarang. Aku menoleh dan melihat bayanganku di kaca kafe. Entah sejak kapan aku tersenyum, bahagia dan bersyukur masih memiliki sahabat dan masih bersama dengan mereka hingga kini. Tiba-tiba Audric dan Muse tampak nyata sekarang. Mereka berdiri di seberang jalan sambil menoleh ke segala arah seperti orang kebingungan. Aku terkesiap dan sontak berdiri. Mereka sudah kembali dan sedang mencariku.

Panik, aku mengeluarkan uang sekenanya dari saku mantel dan langsung meletakkannya di meja. Setelah itu, aku melesat keluar dari kafe tanpa menoleh ke arah para pramusaji yang mungkin menatapku aneh. Dengan berlari kecil aku menghampiri Audric dan Muse. Dadaku terasa sesak setibanya di hadapan mereka. Aku membungkuk sambil memegangi dada dan mengatur napas.

"Hei, hei, santai saja. Kenapa lari-lari?" kata Muse sambil memegangi lenganku.

"Maaf. Aku mampir ke kafe di seberang jalan itu tadi," ucapku susah payah sambil menunjuk kafe yang baru saja kusinggahi. Gadis yang tadi melayaniku tampak sedang memberesi mejaku tadi. Dia melihatku dan tersenyum. Refleks, aku memalingkan muka.

Setelah napasku membaik, aku bertanya. "Bagaimana? Kalian sudah mendapat informasi yang berguna? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Audric menunjukkan gulungan koran yang diremas tangan kanannya. Wajahnya pucat dan tampak frustrasi. "Tidak ada yang tersisa dari rumah kita."

Aku tertegun. "Apa?" Suaraku terdengar jauh. Dunia di sekitarku seakan membisu. Atau mungkin, runtuh.

"Rumah Bellamy benar-benar... lenyap. Tidak ada yang tersisa lagi, Noel."

Lututku melemas. Muse sigap menahan tubuhku sebelum jatuh. "Bagaimana dengan Lawrence—Lalu teman-teman...."

Audric menunduk, menggeleng lemah. "Sudah kubilang, tidak ada yang tersisa," katanya pelan.

"Kebakaran itu memakan semuanya, Noel. Kami mendengar beritanya di radio saat di stasiun," timpal Muse.

"Stasiun?" Suaraku mengulang kata terakhir yang diucapkan Muse. "Apa yang kalian lakukan di stasiun—"

"Kita akan melakukan apa yang Lawrence inginkan," kata Audric. "Permintaan terakhir Lawrence. Hanya itu satu-satunya yang bisa kita lakukan."

Permintaan terakhir Lawrence. Berarti perpisahan. Kami tidak akan hanya berpisah dari Lawrence dan Rumah Bellamy selamanya, tetapi juga berpisah dari satu sama lain untuk waktu yang lama. Sangat lama.

Malam itu kami bertiga berjalan hampa menyusuri trotoar jalan. Hampa dan tak saling bicara. Cahaya warna-warni dan suasana hangat menjelang Natal tidak sanggup menghibur kami. Pikiran terlalu penuh, tidak ada lagi tempat untuk sekadar menikmati Natal tahun ini. Natal terburuk kami.

Tidak ada rumah bagi kami di sini. Tidak ada lagi kerlap-kerlip pohon Natal, warna-warni tumpukan hadiah, dan Lawrence berkostum Santa di aula. Tidak akan ada Rumah Bellamy lagi. Tidak ada lagi tempat untuk pulang.

 

* * *

 

(BERSAMBUNG)

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer herjuno
herjuno at Noel: For Your Happiness (1) (6 years 8 weeks ago)
90

Ini manis. Narasi dan deskripsinya (terutama bagian salju dan natal itu) bergabung dalam satu aliran yang menyenangkan. Saya suka membacanya. :D
.
Btw, dari Jogja juga?

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Noel: For Your Happiness (1) (6 years 8 weeks ago)

makasih udah mampir-baca-komen ^^
sip, akan saya lanjutkan! (siapa yg minta, hayo....)
.
iya, dari jogja :D
sampeyan juga kah?

Writer herjuno
herjuno at Noel: For Your Happiness (1) (6 years 8 weeks ago)

iya, saya dari Jogja. :3
.
salam kenal kalau gitu. ^.^)/

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Noel: For Your Happiness (1) (6 years 8 weeks ago)

yupp, salam kenal ^^