Narasi kematian: ketika Ia bosan

Part.1 Aku mati

Aku telah mati. Ya benar-benar mati. Meninggalkan dunia yang kotor ini. tengah malam itu, tubuhku dengan hebatnya beradu dengan rangkaian besi baja yang bobotnya beberapa ton dan melaju dengan kecepatan tinggi. Seperti balon air yang dilemparkan ke tembok tubuhku pecah sejadi-jadinya. Aku mengendarai sepeda motorku, bukan, lebih tepat diboncengi kawanku. Setengah sadar setelah banyak mengonsumsi cairan dosa ia mengendarai sepeda motornya. Harusnya membawaku pulang, ya.. kini aku pulang kepadaNya. Sialnya ia tak mati bersamaku, tubuhnya terhempas hebat namun tidak pecah sepertiku. Harusnya ia bertanggung jawab dengan nyawaku, apa daya aku yang menyuruhnya membawa motor itu.

 

Jangan tanya bagaimana rasanya. Sakit luar biasa, belum pernah dalam hidupku aku merasakan sakit lebih hebat dari itu, ya memang akhirnya rasa sakit itu menarik paksa nyawaku. Sesaat seluruh hidupku selama lebih dari 20 tahun ini berlalu bagai film dalam kepalaku. 20 tahun lebih yang dimampatkan menjadi sepersekian detik. Aku melihat mimpiku yang belum tercapai, dosa yang kuperbuat, orang yang kucintai dan beberapa manusia yang kubenci. Ya, siapa sangka akan ada kereta uji coba tengah malam itu. Tak pernah terpikir olehku sebelumnya, bagaimana aku bisa berpikir saat kepalaku pecah. Katakan pada temanmu untuk berhati-hati di persimpangan kereta tak berpalang jika kau mau tubuhmu utuh, atau paling tidak jasadmu utuh. Sementara jasad manusia mati lainnya digendong, dibawa, dipapah, atau paling tidak diperlakukan dengan layak, mereka menggunakan sekop untuk memasukan jasadku kedalam kantung plastik hitam besar kemudian mengangkut jasadku yang nampak seperti bubur manusia. Bahkan mereka meninggalkan bola mata kananku disana.

 

Di tengah kegelapan, kehampaan, aku tak bisa melihat apapun ataupun merasakan apapun. Wajar saja seluruh tubuhku sudah pecah berkeping-keping di pinggir rel tersebut. mungkin beberapa sisanya seperti jemariku tersangkut di depan rangkaian baja yang masih melaju agkuh itu. dimana sebenarnya aku berada? Kenapa semua gelap? Sudah? Hanya begini saja akhir semuanya? Ah aku terlalu takut untuk memikirkannya. Sangat takut bahkan untuk sekedar berpikir. Aku hanya menunggu, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. sesaat setelahnya hanya ini yang aku rasakan. Sebersit cahaya mendatangiku, bukan satu tapi dua sosok. Berdiri bersandingan denganku, dengan tubuh yang entah kenapa sudah menempel dan menyatu kembali, utuh beserta mata kananku yang tertinggal dan mungkin sudah dimakan binatang liar di tepian rel.

 

Mereka menanyaiku dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan itu tak asing, sungguh aku sering mendengarnya. Meraka, kedua orang tuaku serta yang lainnya selalu mengajarkanku. Tapi saat ini aku tetiba sama sekali tak mengetahuinya.  Dan sepertinya bibirku tak menyatu dengan  tubuhku. Mungkin pecah dan terbawa di rangkaian baja tersebut karena aku tak bisa meneriakan sesuatu. Ya aku berusaha meneriakannya karena mereka menanyaiku dengan berteriak. Sadar aku tak bisa menjawab, mereka memecut tubuhku. Pedih dan sangat sakit hingga kulit dan darah segar menempel pada pecut itu. namun apalah sakit ini dibandingkan tubuhku yang telah pecah.

 

Dan hal itu terus terjadi, mereka menanyaiku berulang kali, pertanyaan yang sama dan aku tetap diam tak menjawab. Lagi dan lagi mereka menyiksaku, tubuhku tercabik-cabik namun entah mereka selalu mendapat celah untuk rasa sakitku. “Sudah kubilang aku tak tahu!!” ingin kuteriakan itu semua. Tidakkah kalian bosan terus menyiksaku, “Cari orang lain yang bisa menjawabnya! Atau berikan jawabannya!” Entah mereka bosan atau kenapa, tapi suatu masa mereka menghentikan permainan mereka. ya, mereka memang seperti mempermainkanku. Menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang tanpa pernah memberikan jawabannya. setelah sebuah pecutan tepat mengenai mataku, aku tak sadarkan diri. Entah aku tak sadar atau memang kegelapan ini kembali mendekap ketika mereka pergi meninggalkanku.

 

Tetiba saja aku tersadar di sebuah tempat. Tempat yang sangat amat luas. Membawa sebuah buku di tangan kananku yang aku bahkan enggan membukanya. Di tempat ini berkumpul sangat banyak manusia. Mungkin jika seluruh manusia di bumi dikumpulkan dari awal kehidupan hingga akhir dari umur bumi. Semua berkumpul di tempat yang sangat luas ini. sungguh sangat luas hingga kau tak bisa melihat ujung tempat ini. jelas ini bukan bumi, mungkin bumi sudah hancur seperti tubuhku. Mereka semua nampak seumuran denganku. Berbagai macam manusia dari berbagai belahan dunia dan waktu yang jelas berbeda-beda. Beberapa diantaranya nampak sangat tinggi. Sekilas mataku terbelalak ke segala penjuru, namun entah aku tak tertarik sama sekali dengan apa yang akan kami lakukan di sini. Mereka juga nampaknya demikian. Seperti mereka, hanya kekhawatiran yang aku rasakan. Wajah mereka nampak resah.

 

Mereka memegang buku, hanya itu yang ada. Bahkan mereka semua tak memakai apapun, baik pria maupun wanita. Namun tak satu rasa penasaranpun hadir di kepalaku. Ya mungkin rasa itu sudah berhamburan beserta kepalaku ketika itu. mereka nampak seperti orang gila, bertelanjang menunggu sesuatu, memegangi buku di kedua tangan mereka. begitu pula diriku. Apakah aku gila karena aku tak berbusana? Atau busana hanya menjadi tren yang aku ingat. Entahlah, jika aku memang gila, biarlah kami gila bersama. Toh aku tak sendiri.

 

Sebuah podium hadir di tempat itu dengan singgasana yang teramat besar di puncaknya. Lalu kemudian Ia hadir. Ya Ia, sosok yang selama ini kita agung-agungkan. Sosok yang kita anggap maha dari segala maha. Sang pencipta dan 99 nama lainnya. Bersama dua sosok yang setia bersanding di sisinya. Sosok dengan sayap perak yang sungguh sangat besar. Ia mulai memanggil satu persatu. Mulai dari yang paling mulia, yang paling suci, sampai pada yang tidak suci.

 

Satu persatu manusia telanjang itu maju, menaiki podium dan menyerahkan buku yang dipegangnya. Kemudian ia ditarik oleh dua sosok yang sangat setia untuk menuju tempat selanjutnya. Kami semua menunggu giliran, mencoba menerka apa yang terjadi namun tak ada satupun pikiran yang terbersit di otak. Aku terus berdiri menunggu, entah berapa lama. Sudah sangat lama, puluhan tahun? Entah ini seperti jutaan tahun. Aku tak punya patokan waktu di tempat ini. jika satu putaran bumi dianggap satu hari, aku sudah tak berada di bumi. Entah ini dimana. Jika

 matahari terbit dan terbenam dihitung satu hari, bagaimana aku harus menghitung ketika matahari tepat berada di atas kepalaku, tak bergerak bahkan satu sentipun. Entah berapa lama kami akan disini. Sudah jutaan tahun berlalu, butuh skala ukuran baru untuk menyebutkan berapa manusia yang sudah dipanggil. Kalian hitung saja jika ada 6 miliar angka kelahiran tiap tahunnya dan manusia sudah menjajah bumi selama ribuan tahun. Namun tak sedikitpun hirup pikuk di tempat ini berkurang. Tetap saja kami harus berdiri berdesakan. Berdiri jutaan tahun tidak membuatku lelah, namun mutlak membuatku bosan. Sangat – sangat lama hingga aku bosan. Bukan Cuma aku, kami bosan menunggu. Nampak Ia yang duduk di singgasanapun bosan. Ya salahnya sendiri menciptakan manusia sebanyak ini. semua di tempat ini bosan menunggu hingga jutaan tahun lamanya. Mungkin butuh satuan hitung baru untuk mengukur ini semua. Hanya dua sosok yang berjaga di samping-Nya yang masih nampak setia melihat lembar demi lembar buku dari orang yang naik ke podium itu dan kemudian menyeretnya.

 

Akhirnya aku mendengar namaku dipanggil, sangat lantang hingga memekakkan telinga. Aku berjalan lunglai, menapaki podium hingga berdiri di hadapanNya. Aku memberikan buku yang kupegang. Ia membolak balik halaman demi halaman buku tersebut. aku hanya menunduk, tak berani menatapnya. Seperti anak kecil yang memberikan rapor penuh nilai merah kepada orang tuanya. Ia melempar bukuku ke belakang singgasananya, seperti yang ia lakukan pada manusia lainnya. Kemudian dua sosok yang berdiri setia di sampingNya mengapit diriku. Mereka memegang, bukan.... mereka mencengkram tanganku. Kemudian mereka menyeret tubuhku. Aku berusaha mengikuti langkah mereka namun langkah itu terlalu cepat, sangat cepat hingga tak masuk di akal. Memang semua yang terjadi di sini tidak masuk akal logika. Aku mulai lelah mengikuti langkah mereka, dan kemudian aku hanya pasrah diseret paksa. Aku terus diseret menjauhi podium, menjauhi kerumunan manusia di sana. Ternyata tempat maha luas ini memiliki ujung. Sebuah jurang yang aku pikir luar biasa dalam. Kami berhenti di tepi jurang.

 

“Neraka adalah tempat para pendosa!”

Dengan angkuh mereka berbicara padaku, aku melongok kebawah jurang tersebut. sangat gelap, tak terlihat apapun. Aku sempatkan bertanya pada mereka, mungkin saja ada sebuah jawaban

“Berapa dalam jurang ini?”

“Entahlah, manusia pertama yang kami lempar belum menyentuh dasarnya”

 

Belum sempat aku menghela nafas karena kaget mereka sudah melemparku. aku terjatuh, mencoba menggapai udara dengan kedua tanganku, namun tak ada apapun yang bisa kupegang. Dan aku terjatuh, jauh ke dalam jurang tersebut. aku berteriak sejadinya, aku belum pernah jatuh sedalam ini. 1 jam pertama aku terus mencoba menggapai sesuatu sambil terus berteriak. Namun seminggu berlalu dan aku mulai terbiasa. Inilah yang aku takutkan sesaat sebelum aku dilempar ke jurang ini. aku menghela nafas dan kaget bukan karena dalamnya jurang, tapi waktu sebelum aku mencapai dasar jurang ini. aku sudah menunggu sangat-sangat lama. Jutaan tahun dan mereka berkata manusia pertama belum mencapai dasar jurang ini. berapa lama aku akan terhempas? Yang bisa kulakukan hanya menikmati terjun bebas ini. memang aku sudah tak punya pilihan apapun. Jurang ini terasa semakin gelap, bahkan ketika aku membalikan tubuhku hingga menghadap angkasa aku sudah tak lagi melihat setitikpun cahaya. Seratus, seribu, sejuta tahun berlalu, ya mungkin.. atau aku yang melebihkan, karena aku sendiri sangat bosan dengan hal ini. aku hanya bisa menyebutkan jutaan tahun jika aku sudah merasa sangat sangat bosan. Akhirnya aku melihat sebersit cahaya dari ujung jurang. Aku sudah kehilangan rasa penasaran pada ujung jurang ini. semua sudah berubah menjadi kebosanan. Dan sesaat kemudian tubuhku sampai pada ujung jurang ini. vertikal menghempas tanah hingga hancur berantakan. Lebih berantakan dari ketika mereka menggunakan sekop untuk membereskan tubuhku.

 

Part2. Tempat para pendosa

Setelah kembali tubuhku beradu dengan benda solid dan pecah berkeping-keping, entah kenapa tubuh ini kembali menyatu dan utuh.  Aku bangkit, melihat sekeliling tempat ini. sudah ramai rupanya manusia di sini. Di tempat para pendosa mencuci dirinya. Seperti peserta ospek aku disambut, sesosok mahkluk dengan sayap pekat yang membentang. Matanya nampak merah menyala dan suara yang sangat berat.

“Wahai para pendosa!! Takutlah kalian akan hukuman yang kalian segera hadapi!!ini adalah tempat para pendosa!!”

Ia berbicara padaku, dengan suara yang sangat lantang. Mereka menyuruhku untuk takut dan aku hanya menurut. Entah apa yang aku takutkan, hanya seperti perintah. Mereka menyuruhku takut maka aku takut. Takut tanpa alasan yang jelas. semua keadaan disini sudah sangat sering dijabarkan. Bukan hanya aku, semua penghuni tempat ini juga sepertinya dipaksa untuk ketakutan, entah oleh hal apa. memang tempat ini menakutkan, gelap namun terang, juga sangat panas. namun setelah dua kali melampaui jutaan tahun, rasa takut bahkan sudah menjadi santapan kami.

 

Kemudian mereka menyeretku, sosok lain yang memiliki penampilan seperti satu yang menyambutku. Seperti sebelumnya, tanganku dipegang (lebih tepatnya dicengkram), ditarik paksa untuk masuk lebih dalam ke tempat ini. aku melangkah melalui jalan dari lahar yang sangat panas dan duri-duri yang sungguh sangat tajam. Setiap langkah terus mengoyak daging di kakiku, darah segar terus mengalir. Sakit, sangat sakit namun setiap daging dan tulang di telapak kakiku habis terkoyak, akan tumbuh daging dan tulang baru, begitu seterusnya. Kemudian tubuhku dilempar ke cairan sangat panas hingga seluruh kulitku mencair bersama cairan tersebut. merontokan seluruh tulang belulang hingga tiada yang tersisa. Dan kemudian kembali seperti semula.

 

Berbagai macam hal kujamah di tempat ini. berbagai macam cara mereka menghancurkan tubuhku, dan tetap tubuhku kembali ke bentuk semula. Mereka membakarku, mencungkil kedua mataku, menyiramku dengan minyak panas hingga semua organku mencair, membelah kepalaku dengan gergaji yang diselimuti api, menusukan besi panas ke bokongku, memaksaku memakan gumpalan darah kotor nan kental, menghujam kepalaku dengan bola berduri dan berbagai macam lainnya.

 

Awalnya terasa amat menyakitkan. Seminggu, sebulan, setahun, seabad berlalu dan aku mulai terbiasa dengan ini semua. Bukan hanya diriku, penghuni lain juga sudah membiasakan diri dengan ini semua. Siksaan yang disajikan di tempat ini memang sangat sangat kejam, namun ratusan abad cukup membuat kami terbiasa. Mereka harusnya berinovasi membuat pola penyiksaan baru yang dapat membuat kami takut atau minimal kesakitan.

 

Mereka yang menguasai tempat ini terus menerus berteriak, berusaha membuat aku takut dengan terus menarasikan rasa sakit yang akan aku hadapi sebelum kemudian menyiksaku. Namun tiap teriakan itu perlahan terkesan lucu. Ia terus melakukan hal yang sama berulang-ulang selama ratusan abad terakhir. Seperti diriku, penghuni lain juga sudah tak mengacuhkan mahkluk-mahkluk yang mengaku seram tersebut.

 

Sosok mahkuk besar yang berkata bahwa ia menyeramkan berjalan menghampiriku. Aku begitu mengenalnya, ya, dia yang selama ribuan abad terakhir gemar sekali melempar tubuhku ke kuali minyak maha panas yang masih berbuih. Namun hari ini berbeda. Seperti sebelumnya ia menyeretku dengan kasar, kembali melewati jalan yang panas dan berduri hingga seluruh kakiku meleleh dan terkoyak berceceran. Masih rasa sakit yang sama, sangat sakit tapi jika kau terus mengalami ini setiap hari selama lebih dari ratusan abad tentu kau akan bosan juga dengan rasa sakitnya. Kemudian mereka melemparku, kali ini berbeda. Aku bukan mendarat di rebusan minyak mendidih, namun di sebuah tempat, di depan pagar yag menjulang sangat tinggi. Aku dilempar keluar dai liang para pendosa.

 

Part.3 Nirwana

Aku berjalan perlahan memasuki tempat ini. akhirnya aku bisa merasakan jalan setapak yang manusiawi, yang tidak mengoyak dan melelehkan daging serta tulangku. Di kanan kii kulihat pepohonan rindang yang sangat indah dan rapi. Banyak bangunan yang juga tertata apik, tempat ini adalah tempat terindah yang pernah aku lihat selama ini. ya aku hanya melihat padang luas selama jutaan tahun, kekosongan saat terjun bebas yang memakan waktu jutaan tahun, dan daging-daging manusia yang meleleh juga selama jutaan tahun. Bukan hanya itu, aku yakin tak pernah ada tempat seindah ini di dunia, baik pada masa aku hidup, sebelumnya, ataupun setelah tubuhku terhantam rangkaian besi baja itu.  

 

Sepasang bidadari menghampiriku. Wajah mereka sungguh sangat cantik, dengan sepasang sayap perak mengilat di punggung mereka. aku berani betaruh bahwa tak ada satu wanitapun di dunia yang bisa mengalahkan kecantikannya. mereka menuntunku, memegang lembut kedua lenganku.  Akhirnya ada mahkluk yang tidak menyeretku. Kami duduk di sebuah taman dengan air terjun kecil yang mengalir merdu. Mereka mengambilkan air untukku minum. Sungguh sangat segar kurasakan ketika tiap tetes air itu mengalir masuk melalui mulutku. Tak pernah ada mata air dimanapun yang bisa mengalahkan kesegaran air ini. tak hanya minum, mereka mengambil air dengan kedua telapak tangan mereka dan membasuhkannya ke wajahku. Aku kemudian membasuh seluruh tubuhku dari sisa- sisa nista neraka. Mereka melayaniku bagaikan raja, belum pernah sekalipun aku diperlakukan, diagungkan seperti ini. sebersit pertanyaan muncul dalam benakku, apa yang aku lakukan di dunia hingga aku bisa berdiam di tempat seindah ini. waktu yang terasa sangat lamapun tidak menjadi halangan untukku, segala kenikmatan aku dapatkan di sini. Semua yang aku inginkan hadir di depan mataku.

 

“Wahai bidadari yang maha cantik, kebaikan apakah yang aku lakukan hingga aku bisa menjadi salah satu penghuni surga ini?”

 

“Mungkin tuan yang mulia adalah golongan orang yang taat beribadah semasa hidupnya”

 

“Rasanya tidak, aku jarang shalat, bahkan lebih banyak maksiat”

 

“Mungkin tuan yang mulia adalah golongan orang yang rajin berpuasa”

 

“ Rasanya tidak juga...catatan puasaku cukup parah”

 

“jika begitu mungkin tuan adalah golongan orang yang pemurah dengan harta”

 

“Tidak juga. Aku memang pernah sesekali memberi uang pada pengemis, itupun hanya receh kembalian yang enggan aku kantongi”

 

“Mungkin tuan sering mengamalkan harta tuan untuk keperluan agama, di masjid misalnya”

 

“Rasanya tidak juga, aku memang pernah beramal cukup besar di masjid yang kemudian aku sesali karena aku tak bisa membeli rokok dan makan siang”

 

“Nah, berarti tuan orang yang cukup dermawan, buktinya tuan yang mulia rela berlapar demi beramal di masjid tersebut”

 

“Rasanya tidak juga, toh nyatanya setelah itu aku meminta paksa juniorku untuk memberiku uang”

 

“Berarti tuan orang yang jujur, buktinya tuan yang mulia mau mengakui dosa yang tuan perbuat”

 

“Tapi aku sangat sering membohongi ibuku untuk meminta uang lebih, tiap semester atau sesuatu yang harus aku beli, pasti aku akan menambahkan harganya agar mendapat sedikit uang untuk rokok dan jajan”

 

Kedua bidadari yang tengah duduk bersanding denganku nampak bingung memikirkan alasan mengapa aku bisa memasuki tempat yang sungguh sangat mulia ini. mata mereka terpaut satu sama lainnya dengan ekspresi wajah yang cukup bingung.

 

“Tuan yang mulia, kami tahu kenapa...karena tuan yang mulia percaya, mengimani tuhan yang maha Esa, itulah dasar paling utama untuk memasuki tempat ini”

 

“mengimani? Percaya?”

 

“ya, tuan yang mulia tentu percaya dengan adanya tuhan kan? Menjalankan apa yang ia perintahkan, juga mengharapkan tuan akan kekal di tempat ini setelah kematian menjemput”

 

“Entahlah wahai bidadari yang maha cantik. Mana mungkin aku bisa memungkiri, aku hidup di bumi, tentu aku percaya ada yang menciptakan, namun tak diciptakan. Memelihara, namun tidak dipelihara. Mengatur kehidupan, namun tak perlu diatur. Mengubah, namun tak dapat diubah. Semua hal pasti memiliki sumber, pencipta. Dan seluruhnya akan mengerucut menjadi satu, Ia yang maha menciptakan”

 

“Nah, tuan yang mulia tentu paham alasan tuan berada di sini”

 

“Memang aku percaya, secara teori itu memang benar. Tapi bagaimana aku bisa mempercayai sepenuhnya sesuatu yang tak pernah kulihat”

 

“Tuan pernah melihat otak tuan sendiri? Tidak...namun tuan percaya bahwa tuan memiliki otak kan”

 

“Itu hal yang berbeda, itu diselesaikan dengan sains dan keilmuan, sedangkan ini... Bagaimana aku percaya pada sebuah buku, yang ditulis pada abad ke-6. Apakah tepat kebenarannya?”

 

“Darimana tuan yang mulia tau tentang surga? Neraka? Lebih dari itu, tuan mengetahui hingga mengimani Tuhan? Tentu buku tersebut kan”

 

“memang, tapi aku terlalu angkuh, aku tak bisa sepenuhnya mempercayai sesuatu yang aku tak tahu. Aku sangat angkuh, dan keangkuhan adalah sifat setan yang harusnya mendekam di neraka”

 

“Setan? Apakah mereka mahkluk hina? Tidak tuan”

 

“bagaimana tidak? Mereka yang membuat manusia terdampar di neraka, mereka juga yang menyiksanya”

 

“Tuan salah paham. Setan yang begitu dihina, dikutuk oleh umat manusia sebenarnya mahkuk lebih mulia dari kami, para malaikat dan bidadari”

 

“Bagaimana setan yang begitu angkuh, begitu bengis, begitu menggoda manusia bisa lebih mulia dari kalian wahai bidadari penghuni surga yang maha cantik?”

 

“Bengis, kejam, dan segala keburukan lainnya hanya sebutan kalian, representasi kalian untuk menggambarkan setan. Seperti halnya kalian menggambarkan keindahan dan ketaatan pada kami, juga kemahasempurnaan untukNya”

 

“Lalu? Hal apa yang sejatinya membuat setan lebih mulia dari kalian?”

 

“Ketika Adam diciptakan, kami semua mengakui kesempurnaan kaum kalian, manusia. Hanya mereka, para setan yang mengingkarinya. Dan Tuhan mengirim setan ke neraka”

 

“Nah, bukankah itu membuat kalian wahai para bidadari dan malaikat lebih mulia darinya?”

 

“Justru itulah yang membuatnya lebih mulia. Ia yang begitu taat pada Tuhan, mengemban nama keji yang kalian sematkan padanya. Pernahkah kalian percaya, bertakwa, dan terus mengagungkannya setelah mendapatkan stigma yang begitu keji?”

 

“Jika begitu, kenapa ia memungkirinya? Kenapa ia menggoda kami, sumber dari segala bencana, pembunuhan, perang, pelecehan, pemerkosaan serta segala hal lain agar kami masuk ke neraka, bahkan berhenti mempercayaiNya?”

 

“Kalianlah yang merepresentasikan Setan sebagai mahkluk yang amat hina. Kenyataanya, itu adalah bakti Setan pada Tuhan, seperti halnya shalat, puasa, serta ibadah lain kalian. Ia beribadah dengan caranya, cara yang ditunjuk oleh tuhan. Mereka bukan menggoda, mereka bahkan tak punya niat jahat. Setan beribadah pada Tuhan, membagi keimanan para manusia. Memisahkan krikil dari pasir, memisahkan yang baik dan yang jahat, memisahkan kotoran dari kesucian, memisahkan telur busuk dari keranjang, mereka beribadah dengan menguji keimanan kalian”

 

“Aku pernah mendengar bahwa manusia lebih sempurna karena diberi akal pikiran. Tapi menurutku, setan harusnya lebih pintar, ia punya lebih banyak cara untuk menggoda manusia, bahkan membuyarkan keimanan kami”

 

“Akal, budi, pikiran... sama seperti baik dan jahat, itu adalah sesuatu yang kalian kultus untuk kaum kalian dan mahkluk Tuhan lainnya. Ya hak kalian sebagai pemimpin mahlukNya. Namun, seperti kalian, kami tentu punya pikiran, punya cara untuk menjalankan ibadah kami sesuai dengan zaman kalian. Dan kami selalu berusaha mencari cara yang sesuai”

 

“lantas apa yang membuat kami, kaum manusia lebih sempurna dibanding kalian jika kita sama mempunyai akal pikiran? Apa yang kami punya sedangkan kalian tidak? Secara fisik sekalipun kami jelas lebih buruk dari kalian”

 

“Manusia, sebagai mahkluk paling sempurna, pemimpin Mahkluknya, diberi sesuatu yang tak dimiliki mahkluk lain, Manusia diberi pilihan. Walau kami punya akal, kami tak diberi pilihan. Kami, malaikat punya tugas kami sendiri, punya cara ibadah kami padaNya, dan kami tidak diberi kemampuan apapun selain menjalankan ibadah kami. Sedangkan kalian, wahai khalifah di dunia, kalian diberi pilihan, kalian bisa memimpin tubuh kalian sendiri. Kalian bebas memilih, beribadah atau tidak, percaya atau tidak, berbuat apa yang kalian pilih dan kalian yakini. Kami punya cara ibadah kami sendiri dan hanya itu yang kami lakukan, sedangkan kalian? Setiap kebaikan kalian merupakan bentuk Ibadah, bahkan kalian diberi kebebasan untuk memilih bentuk ibadah kalian”

 

“Berarti semua ini hanya sebuah permainan besar? Skenario yang sudah disusun sangat rapi?”

 

“Mungkin saja, entahlah. Tuhan yang menciptakan kita semua, suka suka Dia mau berbuat apa. toh Dia yang maha pencipta dan maha tahu”

 

“Dan kalian menikmatinya? Itu artinya semua sudah disengaja? Termasuk Adam dan Hawa yang memakan buah itu?”

 

“Sudah kami katakan kami tak punya kebebasan untuk memilih seperti kalian. Jika tanpa unsur kesengajaan, kalian hanya mengenal satu tempat, Surga. Tentu akan lebih membosankan jika kalian terus kekal hidup di sini. Semua sudah tersusun dengan sangat rapi dan detil, Tuhan menciptakan ekosistem kalian jauh sebelum manusia pertama Ia ciptakan”

 

“Rupanya Ia suka bermain dengan mahkluknya ya”

 

“Bukankah akan lebih menarik ketika kalian hidup di Bumi? Bisa melakukan ibadah, bisa juga berbuat dosa, dan takut akan kematian. Bahkan pikiran yang semakin beraneka ragam untuk menerka ini semua. Bukankah sebuah game petualangan akan lebih seru jika awalnya kalian tak punya apa-apa? mencari item dan senjata, melawan bos, hingga akhirnya menemukan tujuan kalian. Bagaimana jika dari awal kalian diberi semua kemudahan?”

 

“Tentu tidak menarik. Jangankan kemudahan dan keindahan, siksaan selama ribuan abad saja membuatku bosan”

 

“Maka dari itu tuan yang mulia, bagaimana kau nikmati saja semua keindahan dan kenikmatan yang disuguhkan untuk mahkluk paling sempurna, khalifah di dunia, dibandingkan terus mempertanyakannya”

 

“Wahai bidadari yang maha cantik, kalian yang berkata aku memiliki kemampuan memilih, aku yang paling sempurna diantara mahkuk lainnya, apa aku tak bisa mempertanyakan alasan manusia diciptakan? alasan dari semua bentuk kehidupan ini?”

 

“Ketika kau memulai sebuah permainan, apa kau bertanya bagaimana sang ratu yang harus kau selamatkan bisa diculik? Bagaimana batu bertuah atau pedang legenda bisa tersimpan di tempat yang begitu jauh? Tak ada alasan untuk itu semua, yang pasti kalian punya tujuan”

 

Aku berhenti mengajukan pertanyaan. Mulai saat itu aku hidup dalam kenikmatan. Segala bentuk kenikmatan dan keindahan yang dapat aku bayangkan tersaji jauh lebih indah. Wanita yang ada jauh lebih cantik dari segala bentuk kecantikan yang bisa kubayangkan, serta makanan yang disajikan jauh lebih enak dibanding segala makanan yang bisa kau cicipi.

 

Ribuan abad aku tinggal di sini. Aku memang akan hidup kekal di tempat ini. menikmati semua kedamaian, mereguk tiap kesegaran. Semua damai, tanpa ada dosa, tanpa ada dusta, tanpa perkelahian ataupun perang. Namun ribuan abad tanpa adanya hal yang dicap negatif tentu akan membuat bosan. Bukan hanya aku, bidadari-bidadari penghuni surga bosan melayani para manusia penghuni surga, setan sudah bosan memecut manusia yang mendekam di neraka. Mereka yang kekal di nerakapun bosan dengan penyiksaan yang tiada akhir. Setelah semua tercapai, bahkan Tuhan bosan ketika tak ada lagi yang bisa Ia perbuat. Kami semua bosan.... Kekal adalah harga ketika mencapai level tertinggi keimanan manusia. dan tiap mahkluknya akan merasa bosan jika sudah tak ada apapun yang bisa mereka lakukan. mahkluknya bosan, Tuhanpun bosan.

 

Rewrite story from: саром махди

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer neko-man
neko-man at Narasi kematian: ketika Ia bosan (6 years 11 weeks ago)
70

Ini bagus, walau ada sedikit masalah. Terlalu banyak penjabaran mengenai dunia akhir sedikit membuatku bosan. Penjabarannya indah dan menarik, tapi tidak semenarik itu. Terutama karena topiknya pengetahuan umum. Building yang terlalu lama untuk sampai pada pencerahan di terakhir. Kurang "foreshadowing" menurutku, untuk membangun suasana ke twist di akhir.

60

imajinasi yang menarik. walau agak janggal ketika terasa kesimpulan kalau kehidupan di akhirat itu membosankan... tapi wallahualam.