Quête Pour Le Château de Phantasm - épisode 25

Sial sial sial sial sial sial sial.

Edea tidak bisa berhenti menyumpah. May kelewatan bicara, dan Edea sadar bahwa Sion mulai mencurigai mereka. Ditambah lagi, orang yang mereka panggil Setan Pohon melihatnya menyihir mereka dengan sihir penghilang ingatan.

Edea sudah menyiapkan apa yang harus dilakukan jika keadaan menjadi bertambah buruk, terutama jika kedok mereka terbongkar. Edea tahu mereka tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Edea melirik ke arah May yang sedang berjalan di depan, asyik bercanda dengan Shaman dan kawan-kawannya.

"Aku berharap dia juga tahu benar", pikir Edea... Tiba-tiba saja, Edea tanpa sadar meraih ganggang pedangnya. Dia menoleh kebelakang dengan cepat, dengan siaga. Mereka sedang berjalan di salah satu dari sekian banyak lorong di dalam Kuil Beku Regia, dan yang Edea lihat hanyalah lorong kosong yang nampak tidak berbahaya. Angin dingin berhembus, tidak cukup kencang, tapi Edea tahu benar ada yang salah.
“Edea?” May memanggil. Dia nampaknya baru saja sadar Edea berhenti. “Ada apa? Ada yang salah?”

Edea masih merasa tidak nyaman, tapi sampai ia tahu pasti apa, dia memutuskan untuk tidak memberitahu mereka. Termasuk May.
Edea mencoba bersikap santai, tapi rasanya sulit sekali. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya salah kira.”

“Benarkah?” Tanya Sion, curiga. Edea mengangguk dan menjawab dengan tegas, “Ya.”
“HEI KALIAN!” hardikan terdengar dari lingkaran hijau di tangan si Kutu Buku. “Ayo cepat! Aku tidak bisa menunggu lagi! Kalian berani membuatku menunggu?! Syahahahahah!”
Si Kutu Buku berbalik dan mulai berjalan pelan-pelan, diikuti yang lainnya. Edea melihatnya sepintas, Senri (kalau Edea tidak salah ingat, nama wanita teman Shaman itu Senri) dan Sion sempat meliriknya dengan curiga sebelum berbalik dan berjalan kembali. Edea sendiri sengaja lebih mendekatkan diri ke kelompok dibanding memisahkan diri seperti yang sebelumnya ia lakukan. Edea melihat May sengaja memperlambat jalannya, lalu dalam waktu singkat mereka sudah berjalan beriringan.

“Ada apa?” Tanya May pelan-pelan. Edea tahu ia berhati-hati dalam memilih kata-kata. "Apa kau sakit?”
Pertanyaan bodoh. Edea tak bisa menahan tawanya, May nampak malu.
“Apa aku terlihat sakit?”
“Tidak.”
Edea menganggung dan tersenyum kecil. May mendesah lega. Edea tahu senyumnya akan menenangkan May. Itu karena dia jarang tersenyum, jarang sekali. Dia hanya akan tersenyum jika keadaan sedang baik, atau ia melihat sesuatu yang melihatnya senang. May mengangguk riang lalu mempercepat langkahnya, kembali ke rombongan di depan. Tidak perlu meyakinkan mereka bahwa Edea tidak mencurigakan, mereka sudah pasti mendengar percakapan kecil mereka tadi (Terutama karena suara mereka terpantul di lorong es).

Dan lagi. Edea merasakannya lagi. Dia ingin mengenggam pedangnya dan menyiagakan diri, tapi tindakan itu akan sangat beresiko. Ia hanya bisa menoleh sambil terus berjalan, memandangi lorong di belakangnya dengan siaga dan... ketakutan. Sudah berapa lama sejak Edea merasakan sesuatu yang mampu membuatnya takut? Mungkin waktu dia pertama kali bertemu dengan Tuan Daisus dan ditantang bertempur olehnya. Nyaris saja dia mati waktu itu.
Ini terasa berbeda, atau mungkin sama. Kematian. Edea tidak dapat mendeskripsikannya, tapi Edea tahu bahwa apapun yang ia rasakan hawa keberadaannya ini sangatlah berbahaya. Edea melirik ke belakang. May sudah memperlambat jalannya, tangannya siap meraih pedang yang ia sembunyikan di pinggangnya. Dia mengucapkan sebuah kalimat tanpa suara, tapi itu sudah cukup.

Apa itu?

Read previous post:  
Read next post:  
100

kolab lama bangkit dari kubur...

aye sir~!

70

Apa. .
Bikin penasaran, lagi seru terus di putus. .

Ini karena saya kurang tahu + lupa-lupa mengenai cerita sebelumnya, apalagi entah kenapa saya tidak bisa mengakses beberapa chapter sebelumnya :/