Suka

Shina terkejut. laki-laki di depannya tentu adalah orang paling terkenal di Sekolahnya, namun apakah ia menyukainya? pernyataan Kimihiro Kouji benar-benar tak bisa dipercaya. Seorang idola sekolah, paling tampan dan super di lapangan basket menyukainya?     
 
Namun Kimihiro tak menerima jawaban 'Tidak'. Shina yang kini tersudut di pojokan bangunan sekolah tak bisa berbuat apa-apa. ketampanan laki-laki itu benar-benar memikat dan membuatnya membeku di tempat.
 
"Jadi, maukah kau jadi pacarku?"
 
"Urgh...!"
 
Wajah Kimihiro semakin mendekat dan Shina bisa merasakan nafas Kimihiro di wajahnya. namun akhirnya Shina mendorong Kimihiro menjauh, dalam pikirannya yang bereaksi cepat, ia menyusun rencana bodoh.
 
"Back Off you moron!" teriaknya dalam bahasa Inggris yang fasih, "I will kill you if you touc this girl!" pura-pura kesurupan, Shina mendekati Kimihiro yang menatapnya bingung, "This girl is mine!"
 
Dengan tatapan yang bukan 'Shina yang lemah lembut', Shina menatap Kimihiro. sepertinya ia tertipu, karena kemudian ia berdiri dan membungkuk dengan mengatakan maaf dalam berbagai bahasa dan kemudian kabur.
 
"Fiuuh~" Shina mengehela nafas, "Aku meghancurkan imageku lagi," komentarnya.
 
Dan kemudian terdengar suara tawa dari sudut lain lorong itu. Shina berbalik dan menemukan sahabat kecilnya, Kazuyoshi Takumi. Shina menatap Takumi tajam dan kemudian mendekatinya dengan langkah lebar-lebar, memukul kepala Takumi dengan tangannya yang kecil dan mencubit hidungnya.
 
“Sudah berapa lama kau di sini, eh?” kata Shina ketus.
 
“Sejak kau dibawa oleh Kimihiro-sama yang tampan itu dari kelas,” Jawab Takumi, “Ah…aku kira bisa melihat kejadian yang keren, ternyata kau bisa menyelamatkan diri,” sambungnya.
 
“Tch…” Shina kemudian meninggalkan Takumi yang masih melanjutkan tawanya.
 
#
 
Shina menatap matahari musim gugur yang tertutup oleh awan. Sambil memakai mantelnya dan mengganti sepatunya ke sepatu outdoor, Shina meraih ponselnya dan menelepon Takumi.
 
“Taku! Taku!”
 
“Moshi-moshi~” suara di seberang membalas, “Ada apa?”
 
“Cowok itu masih mengikutiku,” kata Shina dengan suara yang diusahakan tenang.
 
“Kau tidak bisa memakai trik tadi?” tanya Takumi.
 
“Uh…sepertinya dia tahu kebohonganku,” Balas Shina sambil melangkah kelua dari sekolah, “Tadi dia baru saja menanyakan banyak hal ke Haruka, salah satunya mungkin soal kebiasaanku saat berbohong.”
 
“Hm…sudah kuduga suatu saat nanti itu akan jadi senjata makan tuan,” jawab Taku, “Sekarang, pergilah ke perpustakaan ‘kita’, aku akan menemuimu di sana.”
 
“Heh! Kau gila? Kalau aku ke sana…”
 
“Justru itulah rencananya,” dan dengan kalimat itu, Taku mengakhiri panggilan.
 
Shina berjalan gelisah. Ia tahu bahwa laki-laki itu, cowok paling tampan di sekolah tak akan menyerah sebelum mendapatkan cewek yang dia mau. Sialan! Shina memaki dalam hati. Ia sempat bertanya pada Taku apa yang membuat Kimihiro menyukainya, namun alih-alih menjawab, Taku malah tertawa terbahak-bahak.
 
Jadi, jawabannya masih menjadi misteri. Shina menghela nafas. Shina mampu merasakan keberadaan Kimihiro yang sedang bersembunyi di balik pohon dengan mantel hitam dan topi hitam. Gerakannya kelewat mencurigakan.
 
Haruskah ia melapor polisi? Saat Shina berbelok dan melewati pagar menuju perpustakaan ‘Shina dan Takumi’, Shina langsung membatalkan niatnya. Tempat ini adalah tempat berharga mereka, dimana keduanya bisa menjadi ‘Diri mereka sendiri’, jadi tentu saja polisi tak boleh tahu.
 
Melewati pagar itu, sebuah hutan kecil menyambut. Pohon-pohon di sekelilingnya sudah menggugurkan daunnya dan suhu sekitar semakin dingin. Setiap nafas Shina mengeluarkan asap putih. Saat itulah, sebuah bangunan tua terlihat di atas bukit menghadap ke laut.
 
Lebih tepatnya, sebuah Observatorium yang sudah ditinggalkan. Shina berhenti sejenak sebelum mendaki ke bukit tempat dimana Observatorium itu berada. Ia masih bisa merasakan bahwa Kimihiro berada di belakangnya. Bagaimana ini? ia belum merasakan kehadiran Taku.
 
Akhirnya Shina memberanikan diri. Ia tahu bahwa Taku melakukan hal yang terbaik untuknya. Otaknya sama encernya dengan otak ayahnya jadi tentu saja ia tahu apa yang ia lakukan.
 
Shina melangkahkan kakinya dan mendaki bukit. Tak banyak pohon di sekitar bukit sehingga Kimihiro tak bergerak dari tempat persembunyiannya sampai Shina membuka pintu Observatorium dan memasukinya.
 
Bangunan itu sangat kumuh dan kotor. Teropong bintang yang terpasang di atap sudah tak bisa dipakai lagi dengan beberapa bagian yang patah. Shina kemudian naik ke lantai dua dan memasuki ruangan lain. Sebuah perpustakaan, begitu ia memasuki ruangan itu, tubuhnya berpendar biru dan kekuatan merasuki tubuhnya.
 
Buku-buku di sekitarnya adalah buku sihir yang dikumpulkan oleh orang tua Shina dan Takumi. Dan tentu saja, keduanya mewarisi kekuatan sihir orang tua mereka. Hanya di tempat ini mereka bisa melepaskan kekuatan mereka yang selama seharian tersegel dalam tubuh mereka.
Perasaan nyaman yang tak bisa disembunyikan. Saat itulah, sebuah suara terdengar. Kimihiro berada di depan pintu perpustakaan dan menatap Shina takut.
 
“Kau…kau…”
 
“Ya…Dia penyihir,” mendadak sosok Taku muncul, melayang di belakang Kimihiro yang ketakutan, “Hoo~ kau berani mendekati Shina dan bahkan menguntitnya, kau pikir apa yang bisa kami lakukan padamu sekarang?”
 
Taku masih dengan seragam sekolahnya, namun tubuhnya berpendar merah.
 
“A…Aku akan melaporkannya pada Polisi!” Kimihiro, dengan tangan gemetar, meraih ponselnya.
 
“Kau pikir ada yang percaya?” Taku kemudian mendekati Kimihiro dan meraih kerah mantelnya, “Ayo telepon saja, kau akan jadi orang gila seumur hidupmu, mau coba?” dan ia melayang membawa Kimihiro yang ketakutan melayang di langit-langit observatorium.
 
“Cukup, Taku!” teriak Shina.
 
Shina menunjukkan jarinya pada Taku dan Kimihiro, memaksa keduanya turun dengan paksa. Ia kemudian melompat ke lantai satu dan menatap Taku marah.
 
“Kita tak boleh memakai sihir untuk mengancam orang,” kata Shina ketus.
 
“Hahaha~ baiklah, nona!” Taku tertawa, “aku tidak akan memakai sihir kalau begitu,” Takumi kemudian menatap Kimihiro, “Berdiri!”
Kimihiro tak bergerak.
 
“Aku bilang BERDIRI!”
 
Dan Kimihiro menurut.
 
“Ini untuk membayangkan Shina sebagai objek masturbasi!” sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Kimihiro, “Ini untuk memojokkan Shina di sekolah,” dilanjutkan oleh pukulan di pipi kiri, “Dan untuk membuntuti Shina,” lalu pukulan di perut, “Dan untuk mengetahui rahasia kami!” dan diakhiri dengan pukulan di hidung, “Ups…sepertinya aku mematahkan hidungnya.”
 
“Ack!”
 
“Pergi!” kata Shina pada Kimihiro.
 
Dan tentu saja, tanpa diminta untuk kedua kalinya, Kimihiro kabur dari tempat itu.
Setelah cowok tertampan di sekolah itu kabur dengan wajah yang tidak tampan lagi, Shina jatuh di kedua lututnya. Akting sok-kuatnya yang sempurna runtuh begitu saja saat ia ada di depan Takumi.
 
“Kau tak apa?” tanya Taku khawatir.
 
“Aku tak apa,” balas Shina dengan suara yang gemetar, “kau belum menjawab pertanyaanku tadi siang,” lanjut Shina, “Apa yang membuat cowok menyukaiku?”
 
“Tidak ada,” jawab Taku sambil tersenyum, “kau kecil, berdada rata, dengan tingkah seperti cowok dan kebiasaan suka berbohong,” Shina sudah bersiap memukulkan gelombang angin pada Taku, namun Taku bergerak lebih cepat dan mendekatkan mulutnya ke telinga Shina, “Tapi meski begitu, aku menyayangimu.”
 
Dan dengan sihir teleportasi, Takumi meninggalkan Shina yang masih berusaha mencerna bisikan Takumi. Suka? Suka sebagai apa?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Suka (6 years 4 weeks ago)
50

gayanya manganime banget nih :)
penggunaan huruf kapitalnya masih belum rapi tuh.
selain itu... "nafas" atau "napas"?

Writer bayonet
bayonet at Suka (6 years 4 weeks ago)
80

wooow.. asik ceritanya
tapi tak menyangka ternyata mereka berdua penyihir. gak ada kisi2 di awal cerita soalnya. tapi tetep aja, wooow..

ayo nulis lagi kk :)

Writer w_winter
w_winter at Suka (6 years 4 weeks ago)
80

Hmm...overall ceritanya bagus. Tapi kalo mank Takumi mau revenge ke Kimihiro, harusnya Shina ga usah diajak. XD...Takumi iseng juga, ya. Keep writing!

Writer w_winter
w_winter at Suka (6 years 4 weeks ago)
80

Hmm...overall ceritanya bagus. Tapi kalo mank Takumi mau revenge ke Kimihiro, harusnya Shina ga usah diajak. XD...Takumi iseng juga, ya. Keep writing!

Writer hamdan15
hamdan15 at Suka (6 years 4 weeks ago)
80

menurutku, ceritanya masih datar.
.
kenpa takumi itu ngundang kimihiro ke observation itu? padahal, harusnya, klo dia mau ngebully kimihiro di depan shina nggak perlu kesana kan.

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Suka (6 years 4 weeks ago)

kaakna udah ada deh di situ, kedua karakter kita cuma bisa make sihirnya di tempat itu :3

emang datar, lha wong cuma iseng aja , konfliknya aja nggak ada XD makasih udah komentar yak

Writer hamdan15
hamdan15 at Suka (6 years 4 weeks ago)

tapi kan, diakhir, takumi cuman mukul doang. masak mukul, punch gt dibilang sihir sih?

Writer Wynfrith
Wynfrith at Suka (6 years 4 weeks ago)
80

Like this ^^