[Round 3] Belle Rose - Accidentally Insane

Aku memejamkan kedua mata dan menikmati dinginnya angin malam yang menderu. Bulan bersinar penuh seakan membuka lintasan lurus menuju kematian. Kakiku lepas dan tanganku merentang bebas. Kepalaku berada lebih dekat dengan bumi ketimbang telapak kaki. Aku ingin wajahku hancur ketika menghantam tanah, sehingga Amelia tidak mengambil apa pun dari jasadku.

Ngeri, tentu saja aku takut.

Pasti sakit saat kerasnya aspal  menghancurkan tubuhku, mungkin rahangku akan lepas dan wajahku berubah mengerikan. Tulang-tulang di tubuhku pastilah bergeser atau patah, dan yang bisa kulakukan hanya meratap di atas aspal dalam kubangan darah bersama organ-organ yang tercecer.

Aku meringis.

Ternyata diriku tidak yakin dan sangat takut untuk mati secepat ini. Tanganku sempat menggapai-gapai sesuatu untuk berpegangan, namun yang kutangkap hanya udara kosong.

Dan tubuhku semakin jatuh dan jatuh.

Terjun, melawan angin malam yang terus menyeru seperti suara hantu.

Aku membuka mata dan bumi terlihat semakin dekat. Makin lama makin dekat, dan bayangan tentang rasa sakit membuat nyaliku ciut.

Namun, aku kembali memejamkan mata dan berusaha tersenyum. Belum pernah aku menghirup udara sebebas ini, meskipun mungkin ini detik-detik terakhir kali paru-paruku berfungsi. Kuharap begitu, bukankah kematian adalah akhir dari perjalanan hidup manusia? Lalu berada dalam ketenangan serta kedamaian. Selamanya.

Tak ada lagi perintah, aturan, atau ancaman. Dari lantai terbawah menara ini sampai puncak keangkuhannya sudah kulalui, dan darinya aku menjatuhkan diri. Setitik air mengalir dari pelupuk mataku, namun segera terhapus sayatan angin malam. Begitu pula cairan  merah berbau anyir yang melumuri tubuhku. Tidak, aku tidak menangis karena sedih apalagi takut. Aku sangat sangat gembira.

 Jadi seperti ini rasanya kebebasan?

Semuanya berjalan mulus, hingga ada sepasang tangan yang bukan milikku menarik tubuh ini ke dalam dekapan seseorang.

Dan dia seperti tidak ingin melepasku, apakah aku juga menjadi tawanannya? Siapa? Siapa lagi yang memintaku melakukan perintahnya? Aku lupa di mana kutaruh pisauku. Oh, tanganku… tinggal sebelah…

“Belle,” dia membisikkan namaku, “hiduplah untukku!”

Tidak! Tidak! Tidak! aku terus menjerit dalam hati.

“Atau…” suara itu kembali berbisik, “aku akan mati bersamamu.”

Perlahan aku membuka mata. Pandanganku buram karena air mata yang menggenang. Bibirku bergetar mengucapkan namanya. “Fer...rum…”

Ketika itu, waktu seakan melambat dan dimensi memindahkan kami ke entah dimana. Dia berusaha melindungiku dari keanehan ini, tapi kenyataannya aku malah mendorongnya menjauh; mencoba melepaskan tangannya yang melingkar di tubuhku seolah jerat. Lantas aku bertanya dengan amarah, ‘apa yang kau lakukan?’. Namun dia malah memelukku makin erat.

Seulas senyum terukir di wajahnya, sepasang mata gelap itu memancarkan sinar yang tidak akan kulupakan. Bibirku kelu di hadapannya.

Sebelah tangannya melingkari pinggangku, sebelahnya lagi mengusap pipiku yang dingin. Dengan pancaran mata yang sendu, dia berkata, “Belle, jika takdir masih memberi kesempatan, apakah kau mau hidup untukku?”

Tubuhku kaku seperti boneka kayu, dan mungkin lidahku putus hingga tak mampu menjawab pertanyaannya. Ataukah ada yang memotong telingaku? Karena aku setengah sadar mendengarnya, setengahnya lagi masih mendengar jeritan di relung-relung hatiku. Meski aku menundukkan kepala untuk menghindari matanya yang menakutkan, lelaki itu mengangkat daguku hingga aku tak tahu harus bagaimana.

Suara lembut orang itu kembali berbisik padaku.

“Aku memang tidak bisa memahami penderitaanmu, tapi  tanpamu, aku pasti akan menderita..”

Dan kali ini aku mendengarkannya begitu jelas. Sepertinya telingaku baru saja tumbuh, atau kata-katanya mengisi setiap luka menganga di dadaku. Mengisi luka lama dengan luka baru. Aku…

“Egois kan aku? Ya, sepertinya begitu…”

Aku mencoba mengalihkan fokus pada dimensi aneh ini. Menatap gedung kembar yang dikelilingi api dan ledakan. Memperhatikan purnama ganjil dan pendar cahaya yang muram. Mendengarkan desau angin dan suara-suara ricuh di sekitar menara.

Namun, tidak bisa.

“Karena hanya saat melihatmu, aku tahu jika perasaan ini nyata. Satu-satunya hal murni yang bukan hasil karya cipta sang penyalin. Satu-satunya realita yang kumiliki, namun tidak dimiliki diriku yang asli.”

Satu-satunya yang kita miliki? Aku mempunyai sesuatu yang tidak bisa dicuri atau diambil oleh siapa pun? Bahkan oleh diriku yang asli?

Bahkan nyanyian angker malaikat maut belum cukup untuk mengalihkan perhatianku dari laki-laki ini. Belum cukup untuk menyembunyikan luapan emosi kepada ksatria yang jatuh bersamaku.

 “Tanpamu aku hanyalah boneka sepi.”

Apa kau sungguh-sungguh mengatakan semua itu Ferrum?

Seperti wanita bodoh, aku lantas menangis di depan laki-laki yang seharusnya aku tak boleh memperlihatkan cacat sama sekali. Dan seperti kata Ferrum, jika ada sesuatu yang benar-benar kumiliki, maka itu adalah….

“Belle, jika takdir masih memberi kesempatan, aku ingin menghabiskan kesempatan itu bersamamu.”

Cinta.

“Tapi bila kau tetap memilih untuk lenyap dari segala realita…”

Ferrum memelukku erat dan menyandarkan dagunya di pundakku. “Aku akan lenyap bersamamu.”

“Tidak boleh,” bisikku di sela isak tangis, dan aku balas memeluknya erat-erat.

“Kau tidak boleh lenyap dari mana pun. Jika kau mati, maka aku akan menderita karena dihidupkan lagi tanpa kehadiranmu. Oh, aku minta maaf Ferrum karena telah egois hingga tak memikirkan perasaanmu. Maaf, maaf. Aku ingin kau hidup, dan bila takdir itu memang ada,” aku menatap matanya yang sembap, seraya tersenyum gembira, “aku pun ingin meminta kesempatan sekali lagi dan hidup bersamamu.”

Tatapan kami bertemu. Kemudian tersenyum dan entah kenapa kami tertawa kecil. Lantas kami saling berpelukan untuk mengakhiri kegilaan ini.

“Itu artinya kau ingin kembali ke IRSS Chekov?” tanya Ferrum kemudian.

Aku mengangguk dengan semangat.

Kebebasan? Ya, aku sudah mendapatkannya.

Ferrum memberikan kebebasan dan aku memberikan hidupku untuknya.

Kemana hatiku pergi? Tidak, aku tidak mencarinya lagi. Seorang laki-laki berambut gelap dengan pancaran mata yang penuh keberanian telah membawanya kembali.

Aku tak mudah mengaku jatuh cinta pada seseorang, namun kutahu laki-laki ini adalah segalanya bagiku. Kepadanya aku hidup, dan kepadanya pula aku rela mengorbankan apa pun.

Ini adalah hadiah yang kudapat dari pertukaran dengan dunia nyata.

 

 

Read previous post:  
70
points
(8297 words) posted by Grande_Samael 6 years 12 weeks ago
77.7778
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | Battle of Realms | HxH
Read next post:  
100

sadis buncis! adegan perkosaannya albie kayak film2 gore jepun, wkwkwkwkwk. belle ma altemnya hebat, bertahan sampe akhir. >.<
.
tapi, trus nasib belle nya gimana???

yayy, tengkiyu uda mampir kak !
.
itu adegannya ngasal bikinnya, sy jarang nonton gore jepun aa >.<
Bel nya pundung sama abang Ferrum :'D

100

wkwk.
parah nih kak ann, kapan tamatnya nih cerita.
tamat, bersambung, tamat lagi, eh nyambung lagi.... >.<
.
tapi, aku suka.
suka adegan itunya aja aja.
becanda.
.
poin lebihnya kyknya ada dibagian alat penyiksaannya.
tp ane bkn sadist/masochist ya?
battlenya oke, belle yg bodoh juga oke.
amelia yg tiba2 tiap akhir arc juga oke. dia org indonesia ya? suka terlambat terus datangnya.
.
kurangnya mungkin dibagian yg aku blg dari atas. bertele2. udh tamat, eh malah nyambung lagi.
tapi, yah, demi kepuasan authornya, ane maafin deh :haha:
.
segitu aja, +4 untuk H-scene nya.

awkwkwk duhh, maapkan penulis yg php inihh >.< #plakk
.
habisan bingung gimana ngalahinnya, jadi ngalahin satu2 aja dlu gt @.@
.
belle emg bodoh, kasian abang ferrum >.<
.
awkwk ia ya, sy bru sadar malah nenek amel suka muncul2 di akhir. XD
.
aieee ke-kenapa adegan H nyaa?? #plakk
.
makasi kk Hamdan ud mampirr, makasi jg +4 nya |||orz

90

keren keren kereeeen! Awas kau Amelia, tunggu Altem di Dunia Dalam Cermin. Buset Altem ngambil kecantikan pake Nuntak wkwkwkwk parah, matinya Altem juga sinting beraaat wakakakak +4

awkwk seneng kalo pak Po seneng ayeyy terima kasi pak ....orz
.
ditunggu Altem nyah! ohohohoo
*mengibaskan rambut dgn sengak (?)* #plakk
.
makasi poinnya, skalinya dpt +4 dr pak Po malah wo ihikss |||orz #pundung

90

Ann...

+4 dari saya dan kamu tahu kenapa <3

karena kekerenan Abang Ferrum yg terselubung?? >.< #dzigghh
terima kasih king of thriller, harusnya dirimu yg dapet stage ini nih awkwk
.
eeeia ngpain dikasi nile kan udah wo wkwk tapi makasi +4 nyah >.<"

apaan Ferrum?
-_-
.
Huehehuehehehue, sayangnya si ed dapat di awal :'
.
Gapapa dong kasih nilai, kan sampe tanggal 30 :v
.
Nyatanya ceritanya tamat