Elegi Tentang Cinta Berjarak

Selamat pagi…

Seperti itulah kira-kira aku menyapanya dalam setiap pagiku. Masih seperti hari-hariku sebelumnya. Pagi ini tak ada yang berubah. Mentariku masih terasa menghangatkan, embun yang bergelayutan di atas dedaunan masih terlihat mengesankan, udara pagi yang membuat paru-paruku terasa segar. Pagi yang indah bukan? Apakah dia merasakan pagi yang sama di sana? Entahlah.

Aku masih menyapanya melalui pesan singkat. Berharap satelit dengan segera mengirimkan pesan balasan darinya. Ah seperti inikah rindu? Ingin selalu mendengar kabar darinya. Hanya sekedar untuk memastikan bahwa jarak masih berbaik hati pada aku dan dia. Dan memastikan bahwa dia disana baik-baik saja.

-Selamat pagi mentariku. Selamat beraktivitas sayang.- Sapanya dengan hangat.

Ternyata benar. Hanya butuh sekian detik aku mendapatkan pesan balasan darinya. Semangatku seketika terisi penuh. Begitu juga dengan rinduku. Semakin membuncah. Apakah dia merasakan hal yang sama? Apakah dia merindukanku juga?

Saat aku memutuskan untuk menerimanya dalam kehidupanku, aku tak pernah memikirkan jarak. Bagiku itu bukan penghalang, selagi aku dan dia dapat menjaga komunikasi dengan baik. Rindu? Sudah pasti. Aku anggap itu sebagai penghias kisahku dengan dia. Kesepian? Tidak usah dipertanyakan. Tapi dia bukan pergi dari hidupku, aku dan dia hanya sedang diuji oleh jarak yang terbentang. Dan tabah adalah obat yang paling tepat.

Kisahku dan dia baru hitungan bulan. Pada awalnya masih terasa baik-baik saja, meskipun kesibukan masing-masing menyita perhatian keduanya. Aku masih membiasakan diri dengan peranku dalam kehidupan dia. Terus mencoba untuk memahami sang waktu dan lagi-lagi mencoba memahami jarak. Jarak, jarak dan jarak. Bukan masalah. Namun tanpa aku sadari jarak dapat memancing timbulnya api perselisihan.

-Masih sibukkah? Sudah hampir seharian tak ada kabar. Kamu dimana?-

Lagi-lagi pesan singkat itu menjadi media perantara rasa rindu dan perasaan khawatirku. Satu jam, dua jam hingga satu hari. Aku tak juga mendapatkan kabar darinya. Pesan singkatku tak ada respon. Jarak itu semakin terlihat jelas. Dan kesunyianpun semakin terasa menguji ketabahanku. Ketabahan yang semakin melemah. Tetesan air mata terasa memilukan. Kehangatan itu terasa memudar.

-Maaf, aku kelelahan. Tadi sepulang dari kantor langsung tidur. Maaf ya sayang.-

Seperti itulah kira-kira balasan pesan singkat darinya yang aku terima keesokan harinya. Aku marah? Seharusnya tidak. Kesibukannya bukan salahnya. Namun entah mengapa aku tak sanggup menutupi kekesalanku. Aku benci menunggu lama kabar darinya. Aku benci harus merasakan kekhawatiran yang terlalu dalam terhadapnya. Aku benci merasakan kesepian di tengah keramaian.

 

Sunyi menjadi candu.

Ketika resah dan hampa bersatu padu.

Mengubah riang menjadi sendu.

 

Sunyi membuat riuh terpenjara dalam bisu.

Senandung air mata terdengar syahdu.

Melumpuhkan hati yang terlanjur membeku.

 

Sunyi menjadi penghias.

Ketika kepedihan tak kunjung pulih.

Sementara rambut semakin memutih.

Lalu ramai menjadi sepi.

Hatipun seketika mati.

 

Rindu…

Sunyi…

Bersatu padu dalam elegi tentang cinta yang berjarak.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer durronn
durronn at Elegi Tentang Cinta Berjarak (5 years 46 weeks ago)

Numpang baca ....... Bang Chris.... Apa kabar Bang?????

Writer Shinichi
Shinichi at Elegi Tentang Cinta Berjarak (5 years 46 weeks ago)

nah lho? :p
ahak hak hak

Writer Shinichi
Shinichi at Elegi Tentang Cinta Berjarak (5 years 47 weeks ago)
60

salam kenal :)

sejatinya, saya nggak bisa berkomentar (memberikan masukan berarti) untuk cerita seperti ini. saya cenderung lebih bisa "berimajinasi" dengan pertunjukkan tokoh-tokoh dalam cerita. yang ini, rasanya di luar kemampuan saya.

tapi hanya redaksi, penulisan "di" sebagai kata depan (preposisi) yang berfungsi menunjukkan suatu tempat itu ditulis terpisah dengan kata setelahnya. seperti di sini, di sana, di tengah-tengah, di antara, di rumah, dsb. penulisannya hanya akan disambung bila membentuk kata kerja pasif seperti dikangenin, dirindukan, dicintai, dicium (mauuuuu) ahak hak hak. ya seperti itulah.

kemudian, saya kurang tau, apakah elegy memang menggunakan 'y'? bukannya 'i'? tapi saya tau kalo beraktifitas itu salah menurut EyD. yang benarnya adalah aktivitas. ini punya istilah khusus, kalo gak salah, karena kata itu kan berasal dari aktif, lalu menjadi aktivitas. ehehehehe.

tulisan ini punya nilai lebih karena kalimat-kalimatnya asyik dibaca. saya pikir itu potensial sekali membangun runut cerita yang punya konflik nyata, ketimbang keaku-akuan begini. dan btw, menyoal temanya :D LDR. okesip. cuma rasanya LDR pasti akan berujung soal rindu yang tertahan, kesulitan membuat pertemuan dsb. ada hal menarik dari LDR atau rindu itu yang jarang saya jumpai, yakni kebosanan.

mohon maaf bila komentar saya kurang berkenan. salam dan kip nulis.
ahak hak hak

Writer li_moet
li_moet at Elegi Tentang Cinta Berjarak (5 years 47 weeks ago)

ok sip... thx buat masukannya.. akan diperbaiki..^_^

Writer Shinichi
Shinichi at Elegi Tentang Cinta Berjarak (5 years 47 weeks ago)

sekalian gitu, ntar kapan2 kamunya nulis cerita yg punya tokoh di dalamnya. yang mana mereka berinteraksi lewat dialog dan aksi. pasti akan saya komentarin :D
ahak hak hak