Cinta Fajar

CINTA FAJAR

 

Suasana malam di Kota metropolitan itu masih Nampak ramai meskipun di jalan-jalan sudah tidak padat seperti biasanya, sementara waktu sudah menunjukan pukul 01.00 WIB. Lampu-lampu jalan memberikan sentuhan indah malam itu, suara bising kendaraan yang berlalu lalang tidak lantas membuat orang-orang itu mengurungkan diri untuk menikmati suasana malam. Mereka seolah terhipnotis dengan kehidupan malam yang sebanarnya hanya menyuguhkan kenikmatan sesaat. Terlihat mobil-mobil mewah berjejer dengan orang-orang berpakaian rapih, layaknya orang-orang yang ingin menghadiri pesta. Club itu sudah mulai ramai, Club yang cukup terkenal di pusat kota Jakarta.

Rindu masih asik dengan dunianya sendiri. Tanpa menghiraukan bayi yang ada dalam kandungannya.

“Tumben lo jam segini masih bertahan disini? Fajar ga nyariin lo?” Tasya bertanya pada Rindu heran. Rindu hanya menggeleng. Matanya merah, bukan karna mengantuk atau iritasi mata. Namun karena pengaruh alkohol yang sedari tadi dia minum berkali-kali.

“Lo udah mabuk berat Rin, kita pulang yuk.” Ajak Kania, sambil menarik tangan Rindu. “Ayo Tasy, kita pulang. Sudah jam tiga nih.” Kania menatap Tasya, yang sama-sama ‘teler’ karena pengaruh minuman beralkohol favoritnya itu. Tanpa basa-basi Rindu dan Tasya mengikuti ajakan Kania. Dengan langkah yang tertatih-tatih mereka menuju parkiran mobil di club itu.

Sudah lebih dari satu tahun Rindu terlepas dari ketergantungannya mengkonsumsi narkoba, sudah setahun dia meninggalkan keluarganya, dan sudah satu tahun dia menetap di Indonesia. Keterpurukannya tidak lantas memberikan perubahan terhadap kehidupannya. Rindu masih seperti Rindu yang dulu, bedanya dia sudah tidak lagi menjadi pecandu narkoba. Rindu melepaskan dirinya dari jeratan obat-obatan terlarang itu karena dia takut berada di ambang kematian yang pernah dialaminya dulu.

Over dosis, Rindu sempat bergelut dengan kematian saat tubuhnya tidak sanggup lagi menerima serangan-serangan yang menyakitkan karena narkoba. Akan tetapi, karena kecintaanya akan pergaulan bebas dia enggan meninggalkan kebiasaannya bermabuk-mabukan, berfoya-foya di club.

“Rin, apa lo ga kasian sama jabang bayi lo itu? Dia lama-lama bisa mati di dalam, kalau lo mabuk-mabukan terus. Berhenti lah, udah saatnya lo mikirin masa depan lo dan calon anak lo itu.” Kania yang masih dalam kondisi sadar, tidak terpengaruh oleh minuman beralkohol menasehati Rindu yang sudah lebih dari tiga tahun menjadi sahabatnya.

“Buat apa? Bayi ini ga punya bapak. Cowok itu udah pergi nggak tahu kemana. Kalaupun bayi ini harus mati, yah mati saja. Gua ga peduli.” Dalam kondisi mabuk Rindu menanggapi perkataan sahabatnya itu. Sementara Tasya hanya terdiam, dia merasa sudah lelah menasehati Rindu.

“Sorry yah Rin, kalau menurut gua semua ini harus lo terima. Ini semua konsekuensi dari perbuatan lo. Ga adil, kalau lo harus nyakitin anak lo yang ga salah apa-apa. Bukannya dari awal gua udah pernah bilang, jangan bermain api. Radit udah punya istri. Hilangkan lah kegoisan lo itu, redam dulu amarah lo sama keluarga lo. Coba lo pikir, berapa orang yang tersiksa karena keegoisan lo? Sampai-sampai Fajar mengorbankan banyak hal demi lo. Dia melakukan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya, hanya karena ada anak kakaknya dijanin lo itu. Dan sekarang lo siksa anak lo dengan gaya hidup lo yang berantakan.”

Rindu terdiam, dadanya terasa sakit mendengar pernyataan Kania. Semua yang terjadi murni kesalahannya, bayi dalam janinnya tidak bersalah. Darahnya mendesir, tubuh Rindu bergetar. Hatinya tergerak. Rindu seolah tersadarkan oleh perkataan sahabanya itu. Dan tiba-tiba dia teringat dengan ibunya. Ibu. Rintihnya, menahan pedihnya karena menahan kerinduan yang teramat dalam pada ibunya.

“Kania benar, tidak seharusnya aku menyiksa banyak pihak. Termasuk anak ini. Dia tidak bersalah apa-apa. Bukan inginnya ada dirahimku. Ini salahku. Benar-benar salahku.”

***

Cahaya matahari menyelinap masuk melalui sela-sela jendela, semua orang sudah mulai beraktifitas. Namun Rindu masih bertahan di tempat tidurnya, dinginnya udara pagi semakin membuat Rindu enggan membuka matanya. Tiba-tiba handphone Rindu berdering, Rindu mengerjapkan matanya, meraih ponselnya itu. Fajar? Tanpa basa-basi Rindu menjawab panggilan masuk dari ponselnya itu. Huh ada apa lagi ni orang. Pagi-pagi sudah nelepon. Rindu menggerutu.

Hallo… Ada apa mas pagi-pagi nelepon?”

“Ya Hallo, Rin. Selamat pagi. Baru bangun yah? Maaf mas ganggu tidurmu. Hari ini jadwal cek kandunganmu kan? Aku antar yah?”

Rindu terdiam. Dia tersentak mendengar perkataan Fajar. Pagi-pagi menghubunginya hanya untuk mengingatkan jadwal cek kandungan dan menawarkan diri untuk mengantar Rindu ke dokter.

Rin…. Kamu masih disitukan?”

“Ah iya mas. Maaf___loh kok gak jadi? Bukannya mas mau mengurus pernikahan mas dengan mbak Tari?”

“Sudahlah, jangan membahas itu. Aku antar yah. Kamu siap-siap. Setengah jam lagi aku sampai. Jangan lupa sarapan dulu, atau nanti kita sarapan diluar.”

Rindu hanya terdiam, dia tak sanggup berkata apa-apa. Mengiyahkan ajakan Fajar. Seorang pria yang begitu luar biasa yang dia kenal selama ini. Bersedia menanggung beban yang bukan tanggungjawabnya. Dalam diamnya Rindu membayangkan Fajar. “Betapa beruntungnya aku bisa mengenal Fajar. Dia sangat luar biasa.”. Lirihnya.

Tiba-tiba suara Tasya menghamburkan lamunanya.

“Pagi Nona cantik___”Tasya masuk kamar Rindu dan menyapa Rindu yang baru saja menerima telpon dari Fajar. Diikuti dengan Kania yang membawakan sarapan untuk Rindu.

 “Lo jadi berangkat ke Singapur Rin?” Tanya Tasya pada Rindu, kedua sahabatnya itu melirik Rindu, tatapan mereka penuh tanya. Rindu hanya menggelengkan kepalanya. Rindu membisu, dia tak berkata-kata apapun semenjak mendengar pernyataan Kania semalam.

“Hey, lo kenapa?” Tanya Kania bingung. Lagi-lagi Rindu hanya menggeleng. Kedua sahabatnya itu saling menatap kebingungan.

“Rin, gua minta maaf, soal_____”

It’s ok dear.”

Perkataan kania terpatahkan dengan senyuman dan jawaban singkat dari Rindu. Seolah paham dengan yang ingin dikatakan sahabatnya.

“Omongan gua semalam ga ada maksud apa-apa. Gua mau yang terbaik buat lo, gua ga mau lo kaya gini terus. Apa lagi sekarang ada bayi di janin lo. Ayolah Rin, lo harus move on. Lo ga bisa terus-terusan nyiksa diri lo sendiri kayak gini. Bukannya ke Singapur itu udah jadi keputusan lo buat ketemu sama keluarga lo?” Kania seolah paham dengan diamnya Rindu. Dia merasa tak enak hati dengan perkataannya tadi malam.

“Benar kata Kania, Rin.” Tasya menyetujui pernyataan Kania. Tanpa disadarinya diapun berlaku sama seperti Rindu. Kania melirik Tasya dengan tatapan sinis, Tasya tertunduk, memalingkan pandangannya dari tatapan sinis Kania.

“Gua ga mau ketemu keluarga gua. Belum tentu keluarga gua mau nerima gua lagi. Gua mau tetap disini.” Kata Rindu.

“Terus____”

“Gua mau gugurin kandungan gua. Gua udah pikirin ini. Dengan gitu, nggak ada lagi yang tersiksa karena gua.” Rindu memotong perkataan Kania.

“Ah gila lo Rin.” Tasya tersentak, dia menatap Rindu. Kania menghela nafas, menggeleng-geleng kepalanya. Bingung atas niatan gila sahabatnya itu.

“Rin, Gua kenal lo dari kecil. Rindu yang gua tahu dulu ga seperti ini. Sampai akhirnya kita ketemu lagi di sini dengan kondisi lo yang kaya gini. Kenapa sih lo Rin? Lo marah sama keluarga lo, gara-gara mereka ngusir lo? Tapi apa lo pernah mikir gimana perasaan mereka sekarang? Terlebih lagi kalau mereka tahu lo hamil dan lo gugurin kandungan lo. Gua yakin mereka bakal sedih banget. Ayolah Rin, lo ga boleh kayak gini. Kalau lo belum mau ketemu keluarga lo, ok! Tapi ga berarti lo ambil keputusan itu. Gua sama Tasya sayang sama lo Rin, gua ga mau lo kenapa-kenapa.” Kania menggamit lengan Rindu, menatap lamat-lamat mata Rindu. Rindu membalas tatapan Kania. Air matanya tertumpah, dia tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Tasya menghampiri kedua sahabatnya itu, menenangkan Rindu dengan pelukannya.

Sudah lebih dari satu tahun mereka tinggal bersama di rumah Kania. Tasya, Rindu dan Kania bersahabat sejak kecil, lalu saat mereka berusia 19 tahun, mereka terpisah. Rindu pindah bersama keluarganya ke Singapur. Hingga akhirnya dua tahun kemudian mereka dipertemukan lagi dengan kondisi Rindu bermasalah dengan kehidupannya. Rindu terjerat obat-obatan terlarang, bahkan Rindu hamil diluar nikah dan laki-laki yang menghamilinya pergi entah kemana. Rindu merasa kehidupannya benar-benar hancur, terlebih lagi saat keluarganya mengusirnya.

 “Mba Rindu ada tamu.” Kata Mbo Nah. Pembantu dirumah kania.

“Maaf mas, menunggu lama.”

“Tidak apa-apa. Sudah siapkan? Berangkat sekarang yuk, biar tidak terlalu siang.” Rindu mengangguk lemah. Mengiyahkan ajakan Fajar.

Pertemuan Rindu dan Fajar merupakan anugerah dari Tuhan. Cara Tuhan mempertemukan mereka penuh dengan teka-teki. Fajar sempurna menyelamatkan Rindu dari kehidupan yang kelam. Fajar pula yang mempertemukan Rindu dengan keluarganya.

“Rin, aku ingin bertemu dengan orangtuamu. Aku sudah mengurus passport dan tiket untuk kita berangkat ke Singapur.”

“Apa? Mendadak sekali mas. Memangnya ada apa? Aku____”

“Agar kita secepatnya dapat melangsungkan pernikahan.” Jawab Fajar dengan singkat dan tegas. Rindu tersentak mendengar jawaban Fajar. Dia taidak pernah menyangka akan secepat ini dipinang dengan pria yang baru dikenalnya. Menikah dengan pria yang bukan ayah dari anak yang dikandungnya.

“Mas yakin?” Rindu berkali-kali menanyakan niatan Fajar untuk menikahinya. Dia sadar, bahwa Fajar tidak pantas menanggung kebodohan yang dilakukannya dengan pria lain.

“Ini pertanyaan yang keseribu loh, Rin.” Gurau Fajar. Mencairkan suasana.

Kebaikan Fajar mulai membuat Rindu memiliki rasa cinta. Pria itu keajaiban untuknya. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya ada perasaan bersalah karena menjadikan Fajar korba dari semua perbuatannya. Fajar layak mendapatkan wanita baik-baik, dan itu bukan Rindu.

“Bagaimana dengan mbak Tari?” tanya Rindu. Mencoba memahami perasaan Tari. Tunangan Fajar. Fajar terdiam. Terlihat jelas ada kegundahan diraut wajahnya.

“Tari sudah ikhlas. Dia mengerti.” Fajar menatap Rindu penuh makna. Matanya sangat teduh. Penuh dengan ketulusan. Tak sadar Rindu menitikan air mata. Entah harus merasa bahagia atau sedih. Benar kata Tasya. Rindu telah menyakiti banyak pihak. Termasuk Tari.

****

“Bagaimana kondisi kandungan istri saya, dok?” Fajar menanyakan kondisi kandungan Rindu pada dokter yang memeriksa Rindu. Mengaku sebagai suaminya. Rindu hanya terdiam melihat sikap Fajar. Berakting menjadi suaminya.

“Untuk sementara ini, kandungan istri bapak baik-baik saja.”

“Sementara? Maksudnya?” Fajar bertanya dengan khawatir. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin Rindu. Fajar mulai mencintai bayi itu, sekaligus ibunya. meskipun dia sadar, dihatinya masih ditempati oleh satu nama, yaitu Tari.

“Bisa saya bicara hanya dengan bapak saja?” dokter itu seperti mengisyaratkan ada hal yang tidak beres dengan kandungan Rindu. Rindu mengangguk lemah. Keluar dari ruangan dokter.

“Maaf pak. Apakah bapak mengetahui bahwa istri bapak mengidap penyakit HIV?” Fajar terkejut mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan dokter. Rindu terjangkit virus HIV. Seketika dada Fajar terasa sesak. Fajar menggeleng lemah.

“Ibu Rindu terkena virus HIV. Besar kemungkinan anak yang dikandungnya akan terkena virus HIV pula.”

“Lalu? Apa yang harus saya lakukan dok?”

“Saya serahkan keputusan sepenuhnya pada bapak. Akan tetap membesarkan bayi itu, atau mengeluarkannya dari rahim istri bapak.”

“Saya akan tetap membesarkan bayi itu. Biarkan dia terlahir kedunia. Saya akan mengurusnya.”

****

Kandungan Rindu semakin membesar, banyak keluhan yang yang dirasakanya. Fajar dengan setia menemani Rindu. Menenangkan Rindu saat tubuhnya diserang rasa sakit yang bertubi-tubi. Berusaha melakukan apapun agar Rindu tetap bertahan dan melawan semua penyakitnya. Padahal dia tahu, penyakit Rindu tak dapat diobati. Di usia kehamilannya yang hampir mendekati waktu persalinan, Rindu dan Fajar telah resmi menikah. Kedua orangtua Rindu telah mengetahui kondisi kesehatan Rindu. Rindu terserang Virus HIV. Semua orang terkasihnya menemani Rindu disaat-saat terakhirnya. Bahkan Tari, ada disisinya. Merawat Rindu, yang pada saat itu menjadi pasienya.

“Aku sudah tidak kuat mas. Aku lelah. Sakit mas, semua tubuhku sakit.” Keluh Rindu, nampak putus asa.

“Kamu harus kuat, lawan semua rasa sakit itu. Demi anak kita.” Pinta Fajar, sedikit memohon. Agar Rindu tidak menyerah.

“Sakit mas___sakit.” Rindu merintih kesakitan.

“Lebih baik bayi itu dikeluarkan secepatnya.” Ujar Tari mencemaskan kandungan Rindu.

“Aku ikut saja. Lakukan yang terbaik.” Fajar menatap sendu Rindu. Berharap semua kan baik-baik saja.

“Apa kamu begitu mencintainya?” Tari bertanyadengan suara pelan. Menatap wajah pria yang beberapa tahun lalu pernah melingkarkan cincin di jari manisnya.

Fajar merengut, menatap Tari penuh tanya. “Apa maksudmu?”

“Apa kamu mencintai wanita itu? Dia benar-benar beruntung telah mendapatkan cinta dan setianya kamu yang seharusnya itu milik aku.” suara Tari semakin melemah. Terdengar sedikit serak karena menahan tangis. Bagaimana bisa wanita seperti itu mendapatkan semua perhatian Fajar. Tanyanya dalam hati.

“Pertanyaan bodoh. Jelas aku mencintai istriku. Dan berhenti mengharapkan aku lagi. Aku bukan untuk kamu.” Pekik Fajar. Berusaha mengingkari perasaanya.

Suasanapun seketika menjadi hening. Nafas Fajar dan Tari mengisyaratkan bahwa keduanya tak mampu lagi memulai perbincangan yang mulai menegang. Sementara itu dari sudut ruang yang lain terdengar suara rintih kesakitan. Suara Rindu. Rindu pendarahan. Fajar berlari menghampiri suara rintihan itu.

“ASTAGA____ Tari____ Ibu___Ayah.” teriak Fajar, panik. “cepat siapkan mobil. Cepat!” Serunya lagi, nadanya sedikit meninggi meminta Tari mengeluarkan mobil dari garasi rumah Fajar. Tari berlari menuju garasi. Mengikuti perintah pria yang dicintainya itu. Sementara orangtua Rindu hanya terpaku melihat kondisi putri semata wayangnya. Air matanya melemahkan tubuh ringkihnya. Mereka sadar hal ini cepat atau lambat akan terjadi.

“Bertahan sayang. Bertahanlah. Aku mohon.” Lirihnya, sambil menggendong tubuh Rindu yang berlumuran darah. Rindu menatap Fajar sambil tersenyum. Tatapan matanya semakin melemah, tak terdengar lagi rintihan dari bibir mungilnya itu. Entah apa yang terjadi dengan Rindu. Kondisinya benar-benar menurun.

Tari menginjak gas, kendaraan beroda empat itu melesat. Melaju melebihi batas minimum. Dikursi belakang, Fajar mendekap Rindu yang tertidur lemah di pangkuannya. Sesekali Tari melirik kearah sepion belakang, melihat raut wajah Fajar yang mencemaskan Rindu. Perasaannya campur aduk. Cemburu? Sudah pasti. Dihadapanya dia harus melihat pria yang dicintainya memeluk dan mendekap erat wanita lain.

Petugas berpakaian putih-putih mendorong Brangcart Patient dan menghampiri Fajar yang menggendong Rindu dari lobi Rumah Sakit. Wajah Rindu semakin pucat pasi, nafasnya semakin melemah, sekujur tubuhnya dingin. Fajar tak hentinya menggenggam tangan Rindu yang terbujur kaku diatas Brangcart Patient.

“Maaf pak, silahkan bapak tunggu di luar.” Seru salah satu petugas Rumah sakit.

Fajar mengangguk lemah, dilihatnya seorang wanita dari ujung lorong rumah sakit menghampiri Fajar. “Tari___ aku mohon selamatkan istri dan anakku.” Pintanya memelas. Fajar memohon menyelamatkan wanita lain pada seseorang yang mencintainya. Bagaimana bisa?. Tari hanya dapat mengangguk. Tak mampu berkata apapun. Meskipun perasaan cemburu mencabik-cabik hatinya, tapi dia harus tetap menjalankan tugasnya.

Satu jam, dua jam, tiga jam. Jarum jam terus berjalan, namun pintu ruangan itu tak juga terbuka. Bagaimana kabar Rindu dan bayinya? Perasaan cemas menyelimuti benak Fajar. Dia terus mondar-mandir, melinting-lintingkan ujung bajunya. Sesekali mengigit bibirnya.

6 jam kemudian…..

Pintu itu terbuka juga. Tari membuka pintu operasi, langkahnya tertatih. Nampak keraguan dari wajahnya. Semua orang memandang Tari penuh harap. Fajar, kedua orangtua Rindu, Tasya dan Kania.

“Bagaimana kondisi Rindu?” tanya Fajar menghamburkan kesunyian.

“Maafkan aku. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Tapi___” belum sempat kata-kata itu terucap. Tangis sudah terpecah. Ayah Rindu menerobos masuk kedalam ruang operasi, tubuh Rindu sudah ditutupi kain putih. Begitu pula dengan bayi mungilnya. Cucu dan anaknya terlihat tenang. Pria tua itu meraih tubuh anaknya, menggoyang-goyangkan sekeras-kerasnya. Berharap Rindu membuka matanya.

“Ayah, sudahlah. Ikhlaskan.” Suara lemah istrinya menenangkan pria tua itu. Tasya dan Kania berpelukan, mereka tidak menyangka sahabatnya akan pergi secepat itu.

 

****

 

 “Selamat pagi.” Mentari menyapa dengan lembut para pasien pengidap HIV di Yayasan tempatnya bekerja.

“Pagi____” jawab pasien-pasien tersebut dengan semangat.

“Pagi, Dok. Maaf saya tadi habis dari luar. Saya habis menengok kuburan istri saya.” Seorang pria datang dengan tergesa-gesa. Tanpa melihat wajah mentari. Mentari pun membalikan badannya. Bermaksud melihat sosok yang tadi menyapanya dengan suara terengah-engah.

“Fajar?” Mentari terhenyak. Tubuhnya tiba-tiba melemah. Ada yang memaksa keluar dari sudut matanya. Air matanya meleleh. Dan seketika rasa sakitpun mendera.

Hembusan angin terasa sangat dingin. Menusuk-nusuk tulang, membekukan air mata yang sudah menjadi penghias hari-hari Fajar. Dua tahun berlalu. Setelah kepergian Rindu untuk selama-lamanya, dan Mentari yang menghilang entah kemana. Fajar pun akhirnya bertemu lagi dengan Mentari. Pertemuan yang tak diduga akan menimbulkan luka yang begitu dalam untuk mentari. Fajar yang menyadari bahwa dokter itu adalah mentari, dia pun tak kalah terkejut. Pada akhirnya mentari mengetahui semuanya.

“Jadi____kamu yang menularkan virus HIV itu pada Rindu?” Mentari bertanya setelah Fajar menceritakan kejadian empat tahun lalu. Tepat saat Rindu mengandung tanpa tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Mentari tak sanggup menahan kesedihannya. Air matanya terus mengalir. Suaranya melemah. Dan Fajar pun hanya mengangguk. Ada luka yang kembali menganga. Rasa sakitnya pun terasa kembali.

Rindu mengandung karena Fajar. Rindu mengidap HIV karena tertular oleh Fajar. Rindu dan anaknya pergi untuk selama-lamanya karena penyakit yang ditularkan olehnya. Namun Fajarlah yang menemani di sisa waktunya Rindu. Bahkan mencintainya dengan sepenuh hati. Hingga mereka pada akhirnya dipertemukan kembali.

Dua tahun enam bulan setelah kepergian Rindu. Fajar menyusulnya. Fajar menghebuskan nafas terakhirnya dengan cinta dan harapan yang dimilikinya untuk bertemu lagi dengan Rindu diruang waktu yang berbeda.

 

 

 

TAMAT

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dwigartikap
dwigartikap at Cinta Fajar (5 years 38 weeks ago)

so far cerita ini menarik walaupun ada keganjalan tapi bisa membawa pembaca ke ruang penulisnya. Tetap semangat menulis :D

Writer cat
cat at Cinta Fajar (5 years 46 weeks ago)
60

Masih harus diedit mengenai typo dan susunan percakapan serta paragrap.

Lalu kok bisa tahu hiv tanpa pemeriksaan. Tentunya akan diadakan tes pada suami dsb. Itu yang biasa kulihat di tivi.

Practices makes perfect.

Writer Shinichi
Shinichi at Cinta Fajar (5 years 47 weeks ago)
50

yah...
menurut saya kurang banget. beberapa ada typo. dan btw, club itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. jadinya klub. saya pikir dibikin begitu aja setiap kata asing yang memang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia.

dan menyoal dialog, gimana ya? saya ngerasa dialog mereka itu terlalu dibuat-buat. apalagi dialog temannya Rindu itu. kasus hamil di luar nikah ini (apalagi akibat pergaulan bebas) saya pikir cukup peka, apalagi teman Rindu itu juga perempuan. perasaan semacam bimbang, takut menyinggung, dsb minimal dirasakan mereka dong ya saat berdialog dengan Rindu. daripada dialog yg menasehati begitu, saya pikir akan lebih ngena banget kalo mereka cuma ngomong pendek2, lebih banyak menunjukkan kegelisahaan. nasihat yg mereka ucapkan cenderung menggurui. akibatnya cerita semacam tendensius gitu dengan nilai-nilai yg menurut saya nggak harus dipedulikan dalam hal ini.

rasanya cerpen ini kurang fokus. menilik bahwa cerita ini sampai pada bagian tokoh Fajar yg ternyata menularkan HIV pada Rindu, saya pikir konflik utama adalah masalah hamil di luar nikah. bukan HIV-nya. ini menurut saya ya. ehehehehe. pasalnya, tokoh Rindu berada dalam situasi dirinya hamil tanpa suami. ini kan sudah konflik. jadi cerita akan berjalan bagaimana Rindu menyelesaikan konflik tsb. menyoal HIV, saya pikir cuma sebatas pelengkap saja (karena pada akhirnya penulis memilih mematikan tokoh utama).

dan sedikit soal HIV. saya pikir kasus penyakit yg ditimbulkan virus ini adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. tubuh jadi nggak bisa sembuh kalo sakit, bener nggak siy? :D belum sempat googling pulak sayanya. dan kasus ibu hamil yang mengandung dan positif mengidap HIV, saya pikir akan lebih kompleks lagi masalahnya. muncul dilema di sana. anak itu positif HIV. hal ini menurut saya potensial digarap (mungkin di cerita berbeda) karena bagaimana coba perasaan seorang perempuan yg mengetahui dirinya mengidap penyakit mematikan di tubuhnya yang akan menurun pada bayi di dalam perutnya. ini mencakup seberapa tega siy seseorang membiarkan anaknya lahir dalam keadaan sakit? dilema-dilema semacam itu kan oke, selain hamil di luar nikah itu dan kaitannya dengan lingkungan sosial di mana cerita ini bersetting.

jadi, ya saya cuma bilang cerita ini kurang greget, kurang fokus, dan butuh riset jugak sepertinya. menurut saya, penuturan juga perlu dibenahi. dialog-dialog semacam menasehati yang seperti itu rasanya nggak alami. terlalu dibuat-buat. reaksi para tokoh terhadap sekitarnya juga belum dapet :)

itu aja deh. semoga bisa lebih baik lagi.
salam

Writer li_moet
li_moet at Cinta Fajar (5 years 47 weeks ago)

hmmmm,, awalnya sih saya mau menciptakan kesan penasaran dr pembaca. dgn ga terlalu memunculkan tokoh fajar. (tapi tenyata susah).

wah banyak bgt masukannya. nanti coba buat lagi.. ^_^
thx ya

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Cinta Fajar (5 years 46 weeks ago)

bang shinichi kalo ngasih komen emang super lengkap, Salut ane
:D

Writer primara
primara at Cinta Fajar (5 years 47 weeks ago)
80

rasa bersalah yang menjadi ketulusan

Writer li_moet
li_moet at Cinta Fajar (5 years 47 weeks ago)

huum, tapi sepertinya masih kurang terlihat rasa bersalahnya. (komentarin tulisan sendiri) :p