Aku, Kamu dan Birunya waktu (Prolog)

“ Mengapa sampai ada Veranda dalam kisah kalian?” Asyilla berusaha menegar, Saat ini ia berperan sebagai sahabat dari ketiga makhluk aneh yang teronggok di depan hidungnya, Ia berusaha menutup serapat mungkin perasaan cintanya untuk Rajatha. Bagi dia, kebahagiaan sahabat-sahabatnya itu adalah yang terpenting.
 
“Dia jatuh begitu saja di sini, sebagai laki laki Aku berusaha melindunginya agar  tetap  hidup”. Rajatha mengarahkan telunjuk ke dadanya, Ia menerawang saat waktu pertama kali bertemu Veranda. Pertama kali ada bibit bunga yang jatuh di halaman hatinya, saat jarak dengan Amaya tak teringkas, saat kepungan rindu bagai kertas-kertas yang bertumpuk, dia jatuh dari langit seperti meteor kemudian dalam sekejap menjadi kobaran api yang melahap habis kertas-kertas itu, semakin sesak dadanya menyadari kobaran api itupun kini padam ter gusur sahaja cinta yang di alirkan Amaya.     
 
“Harusnya dia dibunuh sebelum tumbuh besar”. Veranda menegaskan penyesalannya, penyesalan yang kadang mencari pembelaan sendiri, ketika ia di jatuhkan, itu tidak di sembarang tempat, Tuhan bukan sedang melempar dadu, Tuhan sudah mengatur ruang tumbuh untuknya, di hati Rajatha, di hati yang sebagian besar ruangnya sudah terisi Amaya.
 
“Waktu itu dia masih kecil, dan Raja tidak mungkin membunuh bayi”. Tempas Amaya lirih, ia hapal betul kekurangan Rajatha, laki laki aneh yang setahun terakhir melukisi hari harinya. 
 
“ Aku hanya merawatnya sampai ia dewasa dan mandiri”. Tempas Rajatha, Ia merasa tiang hatinya terlalu rapuh untuk dua mimpi bersamaan, Veranda adalah bunga yang tumbuh di pagi buta, dan itu bukan bagian dari mimpinya semalam, Amaya-lah yang menjadi pemeran utama dari setiap episode mimpi-mimpinya.
 
“Walau sudah dewasa tapi aku belum sepenuhnya mandiri”. Veranda sedikit mengiba, seakan ia menyadari, hidupnya sebentar lagi tawar. Seperti ketika belum ada rasa itu.
 
“Dan kamu mengasihani ketidakmandirian Veranda dengan cara menyakiti Amaya”. Asyilla menatap Rajatha tajam.
 
“Aku kira Veranda hanya bunga sakura, yang mekar sebentar di musim semi, setelah itu semuanya kembali seperti semula”. Rajatha menunduk, menyesali kesalahan terbodohnya, karena ia berharap bisa selamanya menikmati kemegahan sakura itu.
 
“ Buktinya dia mawar, yang karena kamu siram, kini ia menjadi mekar, bahkan mungkin tumbuh untuk waktu yang lama”. Amaya menumbukkan kekesalan pada dinding kafe yang diam.
 
“ Sebagai lelaki, kamu harus melelaki, Bunga mana yang kamu pilih?” Asyilla menarik satu per satu benang kusut itu. 
 
“Ada yang rela tumbuh di hati ini tanpa aku siram, dengan ketulusan dan kegigihannya, aku rela menghabiskan sisa waktuku untuknya”. Ia muntahkan tatapan tepat di bola mata Amaya, berharap dia yakin dengan ucapannya.
 
“Berarti aku yang harus pergi”. Veranda beranjak dengan mata berkaca, ia sadar berdiri disisi yang salah, sisi yang meretakkan sisi yang lain, walaupun ia merasa berhak untuk berdiri disana. Ia tak bisa menyalahkan Rajatha, ia juga tak rela perempuan berhati malaikat seperti Amaya harus menanggung kekusutan ini. Tapi kakinya terlalu kaku untuk melangkah, ia yakin malam itu berhak hitam, tanpa alasan apapun. Seperti halnya tidak ada alasan yang pasti mengapa ia terlalu rumit meninggalkan Rajatha.
 
“Aku sudah membukakan pintu keluar sejak awal, sejak kamu terlihat layak menjadi bunga”. Rajatha semakin menunduk, ia sadar betul ucapannya, ia harus belajar menumpuk setiap jejak langkah Veranda dengan kaki sempurna milik Amaya. 
 
“Tapi jangan lupa untuk menutupnya kembali.” Amaya berdiri penuh, menatap tajam puing puing udara yang terlempar dari ucapan Rajatha yang baru saja didengarnya, Ia mencari kebenaran dari satu puing yang paling meyakinkan. Ia ingin percaya, hatinya ingin percaya. Ia akan abaikan puing puing keraguan yang beterbangan di kepalanya.
 
Sejenak sepi mengkafani ketegangan di kafe itu.  Langit di luar seolah di taburi arang, beringsut menghitam seiring semburan gemericik hujan yang lahap mengunyah cahaya, kemudian kilatan petir memuntahkan sisa nyala yang tak sempat tertelan.
 
Rajatha paling bertanggung jawab akan terjalnya jalan yang harus mereka bertiga lalui, kenyataan bahwa ia sudah merias tempat terindah untuk Amaya, tapi lupa menutup pintu hati untuk Veranda yang terpaksa pergi dan kapanpun bisa kembali. Amaya sudah mencoba mengunci dari sisi dalam pintu hatinya, namun Veranda juga punya kunci yang sama.
 
Kenyataan bahwa setiap malam ia meluangkan lima detik waktunya untuk menyebut nama Veranda, walau sangat teriris hatinya karena harus menyebut nama itu dalam gelap, karena dalam terang ia hanya berani melafalkan nama Amaya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Kata "ter gusur" seharusnya disambung, lalu "di alirkan" juga disambung, karena "alirkan" bukan nama tempat. Perhatikan lagi pemakaian kata depan di nya.

thank koreksinya..salam kenal hehe

Writer azizah
azizah at Aku, Kamu dan Birunya waktu (Prolog) (5 years 50 weeks ago)
80

judulnya menarik, kalimatnya bagus, tapi ceritanya kompleks..
semangat terus nulis yaaa

thank ya, salam kenal

Writer Young
Young at Aku, Kamu dan Birunya waktu (Prolog) (5 years 50 weeks ago)
70

good..

hatur nuhun ;d

'melelaki'??

ide ceritanya keren,keren.. :)

Trima kasih bu, salam kenal ;d

Thank cat,

Aku baru belajar, salam kenal ye..

Nuhun dan salam kenal,
aku ngerti jalan serumit itu gak mungkin tergambar dalam sehelai cerita, hanya sedang belajar melihat dari sisi yang lain, bahwa masalah besar jika semuanya sadar dan kembali ke iradat-Nya akan selesai bahkan hanya dengan satu kata sekalipun hehehe

70

Keliatannya bkal jadi cerita yg kompleks. Cerita ini seperti sebuah sajak dengan cakupan kata2 yang bagus. Tapi kalo menyajak di satu cerita full, rasanya yang baca bakalan capek nih kk, karna mesti baca kalimat2 tinggi berulang-ulang, hehe. Jadi saranku sh lebih disederhanakan lagi, cukup menyajak di beberapa bagian, jgn full. Hehe maaf sblmnya, dan salam kenal ^^

Writer cat
cat at Aku, Kamu dan Birunya waktu (Prolog) (5 years 51 weeks ago)
60

Oke ini prolog yang memaparkan dunia yang cukup rumit.

Ada kata menegar yang cukup jarang kulihat.

Trus typo di jatuhkan.

Practices make perfect