Terbenam

Sebagian orang mengenakan bikini atau celana renang, sebagian lagi mengenakan kaos dan celana pendek khas pantai, tapi semuanya menghadap ke arah yang sama: ke barat. Langit sudah mulai bersemu jingga ketika kami tiba di tepi pantai yang ramai itu. Tanggal merah di hari Kamis ini telah menciptakan hari libur baru selama empat hari bagi kebanyakan orang. Ayahku menyewa sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari tepi pantai menggunakan uang tabungannya. Niatnya sudah bulat sejak sebulan yang lalu: bila uangnya sudah cukup, ia akan membawa kami melihat matahari terbenam di pantai. 

Semua ini bermula dari kartu pos tua yang ia temukan saat sedang merenovasi kamar tidurnya. Kartu pos itu berisi lukisan matahari terbenam yang sepertinya dibuat menggunakan tangan. Itu adalah masa ketika semua orang belum memiliki kamera di saku mereka dan belum memiliki email untuk mengirimkan pesan bergambar. Di belakang kartu pos itu ada sebuah puisi yang Ayah tulis untuk Ibu, sebuah janji untuk melihat matahari terbenam bersama. Ia baru ingat bahwa janji itu tak pernah benar-benar terpenuhi, bahkan setelah mereka menikah dan memiliki aku dan adikku, bahkan setelah sebulan yang lalu Ibu meninggal dunia. 

"Sebentar lagi mataharinya terbenam," ucap Ayah sambil menggelar tikar dan mengajak kami duduk di sampingnya.

Adikku, Beni, sedang terpana melihat istana pasir yang dibuat seorang pengunjung. Kubujuk dia untuk merapat. "Membuat istana pasir bisa dilakukan esok hari, sekarang saatnya melihat matahari." Beni menurut. Ia duduk di antara aku dan Ayah.

Langit semakin merah. Matahari berubah menjadi seperti telur, cahayanya tak lagi menusuk mata. Perlahan-lahan, bola jingga itu turun ke bawah, hampir menyentuh cakrawala. Ayah mungkin teringat pada kartu pos itu, tapi aku sudah pasti teringat pada desktop wallpaper yang sering aku lihat di layar komputer. Intinya tetap sama, manusia selalu ingin merekam hal-hal menakjubkan dari pengalaman mereka. Matahari terbenam adalah sebuah pengalaman menakjubkan. Sebagian orang menghubungkannya dengan kesedihan dan perpisahan karena menandakan berakhirnya hari. Bagiku, matahari terbenam adalah momen retrospeksi. Ketika melihat sebagian bola jingga itu tenggelam ke dalam lautan, kami membayangkan sebagian hidup kami yang juga sudah tenggelam bersama berlalunya waktu. Aku melihat kilau di mata Ayah. Suatu saat aku akan berada dalam posisinya, Beni juga. 

Sebagian turis bertepuk tangan ketika akhirnya matahari tampak masuk seluruhnya ke dalam lautan. Beberapa pasangan berpelukan, bahkan samar-samar kulihat ada pula yang berciuman. Hari ini sudah usai, tapi semua orang percaya bahwa masih ada hari esok tempat kami akan melakukan hal-hal yang lebih baik. Bagi kami, berakhirnya hari tidak benar-benar ditandai oleh terbenamnya matahari. Ayah lebih akrab dengan suara bel pulang kantor, aku dan Beni lebih akrab dengan perubahan acara televisi menjadi azan Maghrib dan sinetron. 

Suasana di sekitar kami perlahan menjadi gelap. Tak ada lagi cahaya alami dari langit, yang tersisa hanya lampu-lampu buatan manusia yang berasal dari restoran dan hotel di belakang sana. Perlahan-lahan para pengunjung bangun dari atas pasir, menepuk-nepuk pantat mereka, dan mungkin bersiap-siap untuk kembali ke hotel dan menyantap makan malam. Kami bertiga juga bangun. Ayah melipat kembali tikarnya.

"Besok jangan lupa bangun pagi," katanya, "kita akan melihat matahari terbit."

Matahari terbit, simbol harapan dan permulaan dari segala kegiatan, penawar dari rasa sendu pemandangan sore ini. Tikar sudah digulung, kami pun membalik badan untuk pulang. Beni masih menoleh ke belakang. Kupanggil namanya. Ia pasti masih penasaran dengan istana pasir tadi. Kupanggil lagi, ia tak juga menyahut. Akhirnya aku kembali berbalik dan berniat menarik tangannya. Kusadari, rupanya Beni tak lagi menatap istana pasir, ia menatap langit. Di atas sana, langit yang hitam perlahan tersibak. Mengintiplah dari balik kegelapan itu, sebuah bola berwarna kuning terang. Kegelapan itu sirna, cahaya menyebar ke segala penjuru. Ada matahari lagi.

Semua orang yang telah beranjak pergi kini membalikkan badan. Tatapan-tatapan mata membisu melihat bola cahaya di hadapan kami yang tak terjelaskan. Tak terjelaskan. Langit kembali menjadi siang. Semakin siang.

 

---

Ilustrasi: http://www.scenicreflections.com/download/397170/Red_Sunset_Painting_Wallpaper/

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer testoramo
testoramo at Terbenam (6 years 9 weeks ago)
100

Terfuruk

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Terbenam (6 years 18 weeks ago)
80

menyeramkan, tetapi aku tidak berpikir itu adalah kiamat, malah kapal alien....
di alam mimpi apa pun bisa terjadi kan....hehehe

Writer Chie_chan
Chie_chan at Terbenam (6 years 19 weeks ago)
90

Jadi ceritanya, saya udah kepalang nyaman sama narasinya yang membuai dan feelnya yang agak-agak muram gitu. Terus begitu baca endingnya, muka saya berubah jadi: ="=a?
.
*cek komen*
.
Oh, ternyata hari kiamat toh. :v

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Terbenam (6 years 19 weeks ago)

Sebenarnya nggak mesti diinterpretasikan sebagai kiamat sih ... cukup sebagai sesuatu yang ganjil dan mengerikan.

Writer zizijj
zizijj at Terbenam (6 years 23 weeks ago)
80

Gak ngeh kalo maksudnya hari kiamat sampe baca komen baru ngeh maksud penulis. Keren keren :D

Writer Popy RiLvia Luchan
Popy RiLvia Luchan at Terbenam (6 years 27 weeks ago)
70

Jadi, narasi terakhir itu adalah kiamat, sepertinya kurang tersampaikan pesannya.. Apalagi pada bagian "ada matahari lagi". Yang tertangkap malah seperti anak kecil yang tidak kenal bulan dan menganggap itu matahari di malam hari.. >_<
Tapi ceritanya bagus, hanya maksud penulis ngga terlalu tersampaikan jelas..
Keep smile! Keep writing! :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Terbenam (6 years 28 weeks ago)
60

Jadi ini kiamat ya? Hampir kelewat sama saya karena ... saya baca ini skip-skip. Ah, saya aja kali ya yang gak terlalu sreg sama yang penuh narasi seperti ini :3

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Terbenam (6 years 28 weeks ago)
90

ini kedua (apa ketiga ya??) kalinya sy baca cerpen kak Vai smp kebawa mimpi.. yg pertama si Dea ituh =..=
.
sy jadi mimpi buruk kalo org2 gk boleh lihat matahari terbenam wkwkwk >.<

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Terbenam (6 years 28 weeks ago)

Mungkin kamu terlalu sensitif imajinasinya :D

Writer Miyaa
Miyaa at Terbenam (6 years 28 weeks ago)
100

Keren! XD saya suka ceritanya

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Terbenam (6 years 28 weeks ago)
90

Suasana romantik berangsur-angsur ngeri. Di akhir cerita saya menarik napas. Bola cahaya di langit hitam tempat matahari semula terbenam. Matahari tahu-tahu terbit lagi, tapi dari barat!? Kiamat? Jadi dapet gambaran bgm nanti mungkin terjadinya...

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Terbenam (6 years 28 weeks ago)

Iya, itu memang idenya dari mimpi tentang kiamat :(

Writer Yuliarti
Yuliarti at Terbenam (6 years 28 weeks ago)
70

harapan :)

Writer Yuliarti
Yuliarti at Terbenam (6 years 28 weeks ago)

harapan :)

Writer ferls
ferls at Terbenam (6 years 28 weeks ago)
80

Like this...