Aku Yang Dipilih Guild Itu

 

Chapter 1

Aku dan perang yang menyebalkan

Setelah ledakan keras yang tak mampu kujabarkan skalanya, tubuhku terbanting berkali-kali ke belakang. Mungkin membentur batu-batu atau malah tentara Islar lain. Yang jelas bukan hanya aku yang terlempar, tetapi semua orang dengan seragam tempur penuh senjata di sana-sini juga terlempar tak beraturan.

Yang terjadi selanjutnya adalah punggungku yang sudah sangat sakit membentur besi panas sisa-sisa airship yang tertembak jatuh. Perutku mual, kepalaku pusing, pandanganku kabur, dan yang paling parah adalah dadaku. Meski terbungkus perisai dada canggih hasil dari teknologi negeri Islar, tetap saja sakit kalau kena hantam gorila-gorila mekanik milik tentara lawan.

“Uh... akh!” aku mencoba berdiri meski kuakui lebih nyaman duduk-duduk di depan bangkai airship dan hanya melihat adu tembak yang sudah jelas ketahuan siapa pemenangnya. Bayangkan, tentara di pihakku benar-benar kacau. Maksudku kacau dalam artian siapa saja yang berada di dalamnya. Aku sendiri cuma anak laki-laki tiga belas tahun yang dulu tak tahu apa-apa dan langsung diseret untuk berperang. Selain aku, banyak sekali pemuda-pemuda amatir yang menggunakan seragam. Tentara-tentara sungguhan di negeriku masih berperang di tempat lain melawan musuh yang sama yaitu negeri Tror. Dan kupikir mereka sudah kalah karena mendadak raja di negeriku mengambil orang ingusan untuk berperang. Jangan tanya dulu alasan peperangan ini ya, karena aku sendiri tidak tahu. Yang jelas kami diserang dan kami harus berjuang. Mungkin kalau ada orang dewasa di sini, kau bisa bertanya padanya.

“Bah, beginikah pertahanan terakhir negeri Islar yang kondang kecanggihannya itu? Menyedihkan!” teriak laki-laki berpakaian jubah biru dengan kerah tinggi. Yang kuketahui dari mulut ke mulut namanya adalah Julius Reigad, algojo berambut perak lurus sebahu. Dia katanya bukan tentara Tror, atau malah bukan tentara sama sekali. Dia adalah anggota Guild Leviatan yang belakangan disewa raja Tror.

Julius berdiri di atas bukit yang dulunya hijau tapi kini sudah gersang, dan di belakangnya berbaris sepasukan tentara menunggangi singa-singa mekanik maupun gorila mekanik. Perlu kalian tahu, binatang-binatang yang kelihatan seperti robot di sana bukanlah mesin buatan atau semacamnya. Mereka memang binatang asli yang hidup di dunia Arteira sejak dulu. Mereka disebut Zhod. Dalam kasusku sekarang ini bukan cuma lawan yang memiliki Zhod. Kami juga punya. Di udara sana, selain adu tembak antara airship, ada banyak sekali Zhod semacam elang yang ada di pihak kami. Ralat. Maksudnya tadinya banyak sekali, tapi sekarang sudah tinggal sedikit karena ditembak jatuh oleh lawan. Oh ya, hanya sekedar info, tempat ini adalah hutan lebat, atau setidaknya dulunya begitu, dan kini sudah hangus seluruhnya karena adu tembakan dahsyat, dan di mana-mana asap mengepul. Sebagian karena airship yang berjatuhan atau sekedar mobil perang yang meledak di sana-sini. Setidaknya hanya itu yang bisa kugambarkan sekarang.

“Seraaaang!!!”

Tuh lihat. Kami memang amatir. Lihat saja ada tentara dari kubuku yang langsung berlari maju sambil menembakkan senapan mesin di gauntletnya membabi-buta. Parahnya lagi, ada saja yang mengikutinya. Malahan banyak. Berlarian sambil berteriak seperti orang kesurupan ke depan sana mencoba menyerang Julius dan pasukannya. Atau sebenarnya aku yang tak paham apa arti perang? Nyatanya cuma aku yang tidak berlari menyerbu.

Yang kudengar di depan sana, Julius tertawa keras sekali. Tak lama kemudian seluruh Zhod singa membuka mulut secara serentak, dan dari dalam mulut mereka muncul selongsong meriam besar. Sudah kuduga apa yang terjadi. Meriam-meriam berselimut api meluncur bertubi-tubi menerjang seluruh pasukan dari kubuku, membuat semua yang terkena langsung hancur berkeping-keping. Jujur kuakui aku ingin menangis meski tidak kenal tentara-tentara itu. Yang kutahu mereka juga amatiran dan ingin melindungi Islar di belakang sana. Malu juga ketika mereka semua hancur terkena tembakan dan aku cuma berdiri diam tak bisa apa-apa, dan begitu sudah sadar, tinggal aku saja yang masih bertahan.

Kini semua tatapan tentara lawan terarah padaku. Ngeri. Bayangkan saja kau dikepung tentara sungguhan yang siap membunuhmu dan kau sendiri hanya anak kecil dengan pakaian tempur besar kebesaran.

“Mau nangis, Nak?” olok salah satu tentara di atas Zhod singa, diikuti tawa teman-temannya yang menyebalkan. Di sisi lain, Julius cuma tersenyum mengejek ke arahku. Oh sungguh aku ingin sekali membunuhnya kalau saja dulu aku masuk militer dan sudah lebih besar.

“Nangis saja sendiri!!” karena sebal mulutku meneriakkan kata itu. Aku berlari sebisa mungkin ke depan sana sambil mengibaskan tangan kananku. Dari gauntlet mesin yang kukenakan, muncul sebilah pedang berkilat-kilat panjang dan mengeluarkan suara ‘SRWIING’ tepat di bawah kepalan tanganku.

Tak peduli bisa berhasil atau tidak, yang kemungkinan besar dan pastinya tidak, aku akan mencoba melawan mereka. Kudengar semua tentara lawan tambah keras tertawa melihatku, apalagi ketika ada batu kurang ajar yang tersepak kakiku dan membuat aku jatuh.

“Uh!” malu juga rasanya, tapi aku langsung berdiri. Setelah menggertak yang kupikir keren, aku berlari lagi. Tangan kananku terentang ke samping, siap kugunakan untuk menebas. Itu pun kalau aku bisa sampai ke tempat para tentara sebelum tubuhku remuk kena tembak.

“Bos, mau habisi anak itu?” kata salah satu tentara di dekat Julius.

Bah, aku harus lebih cepat kalau ingin menebas mereka semua sebelum Julius memerintahkan melumatku. Sayangnya si rambut perak panjang itu mengangguk, dan semua tentaranya tersenyum menyebalkan. Sial, jarak kami masih sangat jauh. Saat itulah semua mulut Zhod singa terbuka, menunjukkan selongsong meriam yang siap menembakkan bola besi berapi ke tubuh dagingku yang empuk.

“Haaah, payah!” satu-satunya yang terpikir olehku adalah melompat setinggi-tingginya ketika puluhan bahkan ratusan meriam berapi ditembakkan. Payah. Melompat seperti ini sama saja tidak melakukan apa-apa. Lompatanku tak cukup tinggi dan itu tetap akan membuatku hancur berantakan. Tapi tunggu, selama aku berpikir seperti barusan, tidak satu pun bola meriam panas yang menerjang tubuhku. Ketika aku jatuh lagi ke tanah dan berdiri, aku melihat bola-bola meriam yang melaju ke arahku tertahan di udara beberapa rentang di depanku. Ratusan bola yang lain malah terpental ke sana-sini, bahkan ada yang terpental balik ke si empu dan meledakkan singa-singanya.

Tatapan Julius berubah aneh ketika melihat peristiwa yang terjadi. Aku tidak tahu sama sekali apa arti tatapan itu, tapi aku juga tidak begitu peduli. Daripada ambil pusing memikirkan tatapan itu, mendingan aku memikirkan apa yang terjadi padaku. Seperti ada dinding tak terlihat dan sangat kuat yang mampu menahan seluruh tembakan maut yang harusnya bisa melumpuhkan Zhod sebesar gajah.

“Bos, apa-apaan itu?” tanya tentara di sebelah Julius.

“Lumat hancur ingusan itu!” perintah Julius masih dengan tatapan anehnya.

Mendengar perintah itu, seluruh Zhod singa langsung menggeram dan menekuk dua kaki depannya. Dari tubuh mereka langsung mengeluarkan banyak sekali senapan-senapan canggih yang langsung menyerbukan peluru panas ke arahku. Rentetan peluru melesat, membelah udara, tapi langsung terpental ke sana-sini sebelum menerjang tubuhku yang empuk.

Baru kusadari ada kilatan biru di leherku sebelah kiri, tapi itu tak begitu terlihat karena aku memakai baju pelindung yang kerahnya tinggi sampai hampir menutupi leher. Ah, untuk apa juga aku memikirkan keanehan ini? Makanya aku berlari ke depan sambil menggeram kesal. Seperti dugaanku, tentara-tentara di depan sana kaget setengah takut sampai berjatuhan dari Zhod mereka.

“Kemari!” teriakku sambil melompat tinggi-tinggi. Para Zhod singa dan gorila menyerbu ke arahku, dan aku akan melawan sebisa mungkin. Aku jatuh di antara Zhod yang mengamuk dan ingin menginjakku kuat-kuat, tapi aku juga tidak bodoh-bodoh amat. Dengan gesit aku melompat sambil menebas tubuh besi Zhod yang sangat banyak itu. Percikan api muncul di mana-mana, dan aku baru tahu ternyata pedangku sangat tajam. Sekali kibas aku bisa mengoyak hancur satu tangan gorila yang besar.

Seekor gorila besar menabrakku sampai perutku mual dan mau muntah, tapi yang lebih parah adalah aku terlempar sangat cepat sampai menerjang singa-singa di belakangku. Untungnya saat itu tangan kananku terentang dan setiap singa yang kutabrak tercabik-cabik dan meraung-raung kesakitan.

Aku jatuh telentang, tapi tak punya kesempatan istirahat. Seekor singa marah melompat ke arahku. Refleks aku bangkit sambil mengangkat tangan ke atas. Niatnya ingin menghalau, tapi bilah pedang di gauntletku malah menerjang leher si singa mekanik dan memenggalnya.

Nampaknya tindakanku membuat marah Zhod-Zhod lain. Ketika aku berjalan melewati Zhod singa yang mati itu, kulihat seekor Zhod gorila meraung keras sampai bau napasnya yang seperti knalpot busuk tercium. Tapi mendadak kedua pundak gorila itu membuka, menunjukkan meriam yang kutahu bisa menyemburkan api. Bagus ternyata aku mengingat yang satu itu dan langsung berlari menyamping ketika api berkobar seperti semburan naga dari kedua pundak si gorila.

Panas dari semburan api itu sampai membuat kulitku berdenyut-denyut sakit, padahal aku tidak tersentuh sama sekali. Maksudnya mungkin belum tersentuh. Aku masih berlari secepat mungkin menjauhi api yang membara di belakangku. Oh aku harus bersukur karena lariku memang cepat dan aku menyukainya. Aku berlari memutar sampai gorila yang menyemburkan api itu ikut berputar, dan itu mungkin membuat konsentrasinya buyar atau minyak di tubuhnya—kalau memang memakai minyak—terhambat, tiba-tiba saja kobaran api menyusut sampai akhirnya padam sama sekali. Tepat ketika itu aku sudah ada di belakangnya, lalu melompat sambil menikam punggungnya yang keras dan dari logam. Gorila itu meraung-raung mencoba menyingkirkanku, tapi jelas saja aku tak mau melepasnya. Aku mengoyak lebih dalam, lalu menyentakkan pedangku ke atas, mencabik punggungnya sampai ke leher. Hanya beberapa detik kemudian si gorila mekanik jatuh berdebum ke tanah.

Aku pasti sudah tertawa-tawa kesenangan karena bisa membunuh Zhod cukup banyak, tapi mengingat kondisiku sangat memprihatinkan, aku tidak jadi. Maksudnya, apa artinya membunuh beberapa Zhod kalau masih ada ratusan Zhod lain, ratusan tentara, ditambah puluhan airship di udara yang bisa menembakkan nuklir ke bawah kapan pun—itu hanya perumpamaan karena kita tahu nuklir sangat mematikan.

“Siapa namamu, anak kecil?”

Oh menyebalkan. Kuharap bukan Julius yang meneriakkan pertanyaan itu, tapi itu jelas-jelas suaranya. Saat aku menoleh, dia sedang berjalan di antara bangkai tank-tank yang mengepulkan asap. Kuakui dia sangat keren dengan mata sipitnya yang misterius, juga tubuhnya yang tinggi tegap. Jubahnya berkibar-kibar tertiup angin saat berjalan ke arahku. Aku pasti mengidolakannya kalau saja saat ini dia tidak sedang menginginkan nyawaku.

Lenard Marshal. Biasanya dipanggil Len. Begok. Hampir saja aku menyebutkan namaku pada Julius meski kupikir tak ada artinya sekalipun kukatakan. Tapi hey, dia mau membunuhku, dan kenapa aku harus menyebutkan namaku?

Julius membuka jubahnya, lalu melepasnya dengan keren. Mataku langsung lekat menatap sinar biru di leher sebelah kirinya. Saat kuperhatikan lebih baik, sinar itu muncul dari semacam tato yang bertuliskan ‘Leviana’ di lehernya. Eh tidak. Tulisannya ‘Leviatan’ setelah kulihat baik-baik. Nampaknya itu semacam tanda kalau dia berasal dari Guild Leviatan.

Saat itu aku baru sadar leher kiriku terasa panas sekali seperti terbakar dengan hebat. Aku memeganginya meski terhalang kerah baju pelindungku, dan itu tidak ada efeknya. Leherku masih terbakar, panas sekali. Sekilas aku juga melihat sinar biru mirip milik Julius di lehernya itu, tapi aku tidak berani berpikir apa yang sebenarnya terjadi.

“Mundur!” aku mengacungkan bilah pedangku ketika Julius sudah ada di depanku persis, tapi dia malah menatapku dengan tatapan anehnya lagi. Dan tindakanku sukses membuat semua senjata api terarah padaku.

“Boleh kulihat lehermu, Nak?” ya ampun, meski lehernya bisa kapan saja kutebas, dia malah bertanya dengan begitu entengnya.

“Nggak boleh!” jawabku ketus sambil memegangi leherku dengan tangan kiri.

“Darimana kau dapat tanda itu?”

“Mana kutahu?” aku menyentak ucapannya. “Sekarang nyawamu ada di tanganku, jadi jangan macam-macam,” benar tidak sih? Dia datang sendiri ke arahku, dan aku meletakkan pedangku di lehernya. Kupikir memang nyawanya ada di tanganku saat ini. “Jadi perintahkan semua tentaramu minggir!”

Tapi Julius malah memasang senyuman mautnya, lalu merentangkan dua tangannya ke samping. Cahaya biru yang tak tahu dari mana datangnya tiba-tiba muncul dan menyentakku dengan kuat sampai aku terlempar ke atas. Yang terjadi selanjutnya, Julius sudah ada di atasku dan mencekikku erat-erat. Dia menjatuhkanku ke tanah, menjepitku sampai tidak bisa bergerak. Jangankan bergerak. Bahkan bernapas pun aku sulit. Leherku sangat sakit, apalagi ketika sadar kerah bajaku remuk menerima cengkeraman erat-erat pria berambut panjang di atasku. Tak tahu apa yang terjadi, leher kiriku tambah panas dan menyakitkan, lalu sinar birunya juga semakin terang.

Julius menyingkirkan tangannya dari leherku, lalu matanya yang sipit menatap sesuatu di leherku itu. Dan apa pun yang dia lihat sepertinya sangat mengejutkan karena mendadak ekspresinya berubah menjadi sangat terheran-heran.

“Bos, awas!” teriak salah satu tentara.

Terdengar suara kepakan sayap besi sekaligus deru mesin yang sangat keras dari atas, lalu ledakan dahsyat terjadi berkali-kali di langit. Kemudian berbagai macam airship berjatuhan setelah terbakar hancur.

“Apa?” Julius tersentak kaget sambil menatap ke atas. Saat itulah aku mendorongnya kuat-kuat sampai terjengkang, lalu berlari darinya.

Seperti yang kuduga, ratusan peluru panas dan meriam langsung melesat ke arahku. Dan yang terjadi setelahnya tidak seperti dugaanku lagi. Kupikir perisai tak terlihat akan muncul melindungiku, tapi nyatanya yang melindungku dari semua tembakan itu adalah sosok Zhod burung purbakala yang sangat besar. Menukik dari langit dan berdiri tepat menghalangi seluruh tembakan.

“Naik, Len!”

Teriakan itu kukenal, dan itu hal yang sangat bagus. Aku menoleh ke atas, ke arah anak laki-laki seusiaku yang berdiri di pundak Zhod burung purba itu. “Igel!?” tanpa buang-buang waktu aku langsung melompat naik dan memanjat secepat yang kubisa. Memanjat tubuh burung mekanik bukanlah hal mudah, apalagi kalau tubuhnya sebesar truk besar.

Di sisi lain kusadari tembakan beruntun mendera Zhod raksasa ini karena kurasakan tubuhnya bergetar berkali-kali. Ketika akhirnya aku sampai di sebelah Igel—anak laki-laki tinggi dengan rambut merah jabriknya itu—Zhod yang kutunggangi langsung menyambar seluruh tentara maupun tank-tank yang mendekat dengan sayapnya, dan semuanya langsung meledak ke sana-sini. Gorila-gorila juga mendekat, tapi langsung disambar dengan paruhnya yang runcing dan mematikan. Aku langsung berpegangan erat ketika kepalanya terkibas ke bawah, berusaha untuk tidak jatuh.

Si burung raksasa membuka paruhnya lebar-lebar, lalu menyemburkan tembakan cahaya merah bertenaga dan menyambar hancur seluruh Zhod yang tersisa. Ledakan dahsyat terjadi berkali-kali dan itu membuat telingaku berdenyut-denyut sakit. Gelegar keras berulang kali itu juga menggetarkan dadaku.

“Jangan terlalu asyik, Igel!” pintaku sambil berteriak keras karena saat itu Igel tertawa-tawa kesenangan melihat tentara lawan menjadi porak-poranda.

“Ayo, Duck. Pergi dari sini!”

“Duck? Kukira dia semacam peterodaktil,” keluhku, tapi biarlah. Yang penting sekarang Duck mengibaskan sayap mekaniknya, melesat jauh sekali ke angkasa sampai aku kaget dan nyaris tergelincir karena kena tekanan angin.

“Hebat bisa hidup selama ini,” komentar Igel ketika kami melesat meninggalkan hutan yang hangus. Oh, dalam kecepatan setinggi ini aku bisa kapan pun terlempar dan bilang Bye-bye pada dunia kalau saja tidak berhati-hati. Tapi nikmat juga rasanya, angin menerjang sangat kencang sampai kau sulit bicara kalau tidak mengerahkan seluruh kemampuan dan berteriak-teriak.

“Ya. Aku cuma sembunyi di balik batu besar sampai akhirnya ketahuan. Omong-omong, ke mana saja kau?” omong-omong juga, Igel adalah satu-satunya tentara dadakan yang benar-benar seperti tentara sungguhan. Dia memang bercita-cita masuk militer dari dulu dan sangat berbakat. Dia juga bersahabat dengan Zhod-Zhod penerbang yang keren dan selalu membuatku iri. Satu lagi. Matanya. Mata Igel sangat aneh karena kadang seperti mata buatan mirip lensa kamera. Bisa meledakkan apa saja yang dia tatap dengan tajam, dan kalau sedang seperti itu, kau jangan macam-macam padanya.

“Mencari Duck, sekaligus mencari jalan ke sana,”

“Ke sana??” sebenarnya aku tahu makna ‘ke sana’ yang dia maksud itu ke mana. Hanya saja aku masih ragu kalau dia, maksudku dia dengan aku alias kami, akan ke tempat itu. Omong-omong, sampai sekarang aku tak tahu di mana ‘ke sana’ itu.

“Iya, Len. Kita harus ke sana. Bukan tanpa alasan kakek menyuruh kita. Apalagi kau lihat sendiri, Leviatan ada di pihak Tror kan?”

“Mereka dibayar,” keluhku. Omong-omong lagi, kami sudah terbang jauh sekali dari hutan yang hangus dan kini meluncur ke arah pantai luas di depan sana. Dan aku benar-benar yakin Igel tidak bercanda soal pergi ‘ke sana’.

“Aku juga tahu. Guild memang meminta bayaran, apalagi sekelas Leviatan yang terkenal,”

“Dan kita mau bayar pakai apa?” kalau kau bingung apa yang kami bicarakan, ini mengenai melawan Guild dengan Guild lain. Dan Guild yang kami bicarakan ini sangat terkenal dan misterius sampai-sampai tidak pernah ada yang tahu di mana tempatnya.

“Mereka nggak perlu bayaran,” kata Igel. Masak iya? Yang kutahu selama ini semua Guild mirip seperti bandit-bandit bayaran yang dengan kejam melaksanakan misi apa pun untuk tujuan jahat. Eh tidak juga, ada beberapa yang jelas-jelas menolak tugas jahat, tapi mereka biasanya tidak terkenal dan lemah. “Kita temuin mereka, dan mereka akan bantu kita. Mungkin,”

Oh dasar. Ucapan ‘mungkin’ dari Igel sangat sukses membuat semuanya jadi abu-abu. Maksudnya bukan warna abu-abu, tapi jadi buyar tentang kebenarannya. “Tapi, Igel. Kalau kita nemuin mereka, apa mungkin bisa melawan Tror yang sudah didukung Leviatan sedangkan Islar sendiri kupikir runtuh beberapa saat lagi,”

“Mikir positif saja!” kata Igel, dan itu membuatku benar-benar berpikir keras meski sulit memikirkan yang positif.

*-*-*-*

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer marowati
marowati at Aku Yang Dipilih Guild Itu (5 years 32 weeks ago)
80

Keren, cerita yang seru. Ada saran novel apa yang bisa dijadikan asupan bacaan untuk penulis pemula yang ingin menulis selincah tulisanmu itu? :)

Writer Inas
Inas at Aku Yang Dipilih Guild Itu (5 years 43 weeks ago)
70

Ada beberapa kata yang belum baku. Kayak sekadar yang ditulis sekedar, bersyukur yang ditulis bersukur; dan satu lagi. Dialog yang udah selesai mending dikasih titik alih-alih koma. Coba buka http://kamusbahasaindonesia.org/ buat referensi.
Overall, plotnya bagus kok. Maaf kalo banyak omong :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Aku Yang Dipilih Guild Itu (5 years 43 weeks ago)

Ini "Cerita" kan? Kok enggak dikasih tag? Enggak muncul di halaman depan lo...

Kazzak at Aku Yang Dipilih Guild Itu (5 years 43 weeks ago)

niatnya cuman mau buat copas ke note fb sih :v