DREAM WORLD ONLINE : BAG 1 : Awal Memasuki Permainan

Tahun 20xx Sebuah perusahaan game online terbesar didunia mempersembahkan sebuah produk barunya yaitu “Dream World Online”. Dream World Online atau disingkat DWO adalah game berbasis Massive Multiplayer Online Role-Playing Game (MMORPG) yang memiliki fitur yang hampir sama dengan semua game MMORPG lainnya.

Tapi ada yang berbeda dari game ini karena untuk bermain game tersebut kita tidak menggunakan komputer, PDA, atau Handphone, tapi menggunakan sebuah bantal tidur yang disebut Virtual Pillow. Secara fisik Virtual Pillow tidak jauh berbeda dengan bantal-bantal empuk lainnya namun perbedaan adalah pada isinya. Didalam Virtual pillow terdapat ratusan komponen mikro yang memancarkan gelombang elektro yang sudah diatur frekwensinya untuk memasuki Dream World Online.

Cara penggunaannyapun sangat mudah dan sederhana, para pengguna hanya perlu meletakan kepalanya diatas bantal tersebut lalu pejamkan mata seperti hendak tidur. Maka secara otomatis komponen mikro yang terdapat pada bantal akan langsung memacarkan gelombang elektro dengan frekwensi tertentu dan penggunapun akan langsung masuk kedalam Dream World Online. Didalam game para pengguna bisa berpetualang menjelajahi dunia DWO yang sangat indah dan menakjubkan. Apabila pengguna ingin keluar dari game cukup mengatakan “Log Out” dan secara otomatis pengguna keluar dari game lalu bangun dari tidurnya.

Setelah melakukan berbagai tes akhirnya secara resmi perusahaan game online tersebut meluncurkan DWO keseluruh dunia. Dan penggunanyapun langsung mencapai lebih dari ratusan ribu lebih dari seluruh dunia. Dengan peluncuran DWO kini dunia terasa semakin dekat karena semua orang bisa saling berhubungan tanpa perlu repot-repot berpergian.

Sebenarnya banyak orang-orang yang bertanya bagaimana alat itu bekerja, tapi para ahli dan pemilik perusahaan merahasiakan hal itu. Karena menurutnya itu adalah aset yang paling berharga.

 

Disebuah sekolah SMA Negeri di Bandung sebagian para siswa dan siswi ramai membicarakan tentang game online terbaru tersebut.

“Eh Aldi lo tau nggak, nanti sore ada promo Virtual Pillow di Mall loh,” ucap salah seorang siswa sambil berlari mendekati seorang siswa lainnya yang sedang duduk malas dikursinya.

“Wah yang bener, To?” Tanyanya dengan nada lemah.

“Bener, nih liat posternya,” ucap siswa bernama Dito sambil menunjukan poster promosi yang dipegangnya

“Tapi harganya gimana? Mahal nggak? Lo kan tau harga di Mall entuh nggak pada masuk akal, yang harga Cepe aja bisa jadi Ceban,” ucap Aldi.

 “Tapi katanya bakal ada diskon gede, bahkan gratis bila kita bisa jawab kuis dari mereka,” Balas Dito penuh semangat.

“Ya tetep aja itu juga klo lo menang,” balas Aldi.

“Iya sih, bener juga. Tapi siapa tau dewi keberuntungan mihak gue,” ucap Dito.

“Amin... Gue doain deh biar lo menang,” kata Aldi.

KRRRRIIIIINGGGGG....

Suara bel sekolah berbunyi tanda waktu belajar sudah dimulai, para siswa-siswi segera kembali ketempat duduknya masing-masing. Tidak lama seorang gurupun masuk kedalam kelas dan sang ketua kelas segera berdiri.

“Beri salam,” teriaknya.

“ Assalamualaikum Paaaakkk..” Ucap seluruh murid serempak.

“Waalaikumsalam, baik sekarang buka buku pelajaran kalian.” Ucap Pak guru sambil berjalan menuju mejanya.

Suasana belajar dan mengajarpun berlangsung dengan tenang walaupun kadang sebagian murid ada yang bercanda atau bahkan mengantuk. Satu jam....dua jam... Tiga jam...waktupun berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah 6 jam para murid belajar dan kini saatnya untuk meninggalkan sekolah.

“Hoi Di, lo mau ikut nggak ke MALL?” Tanya Dito sambil menaiki motor bebeknya.

“Nggak ah, lo aja sendiri gue mau tidur aja dirumah,” ucap Aldi.

“Ah lo, nggak asik ah, yo ikut aja, entar gue traktir,” Kata Dito memaksa.

“Makasih To, gue balik aja, ngantuk,” Balas Aldi.

“Bener nih?, wah sayang banget ya, padahal si Nessa udah nungguin disono,” ucap Dito sambil menstarter motornya.

Aldi langsung membelalakan matanya saat mendengar itu dari Dito dan tanpa basa-basi Aldi segera berlari dan langsung naik motor Dito.

“Ah, elu klo denger nama Nessa aja, langsung loncat,” gerutu Dito.

“Udah langsung tancep aja gasnya,” ucap Aldi.

“Oke boss...” Balas Dito langsung tanjap gas.

Bagai dikejar deadline Dito mempercepat laju motornya dijalan Soekarno-Hatta yang kebetulan sedang agak lengang. Namun sial secepat-cepatnya Dito mengemudikan motornya tetap saja dia harus berhadapan dengan lampu merah dan macet di jalan Gatsu.

“Tiiiinnnn...Tiiiiinnn...Tiiiiinnnn...” Dito dengan kesal membunyikan klaksonnya berkali-kali berharap mobil angkot didepannya maju namun sepertinya sia-sia saja. Mau tidak mau, suka tidak suka Ditopun terpaksa harus berjalan pelan-pelan padahal jarak ke Mall sudah dekat.

“Di, lo kan nggak buru-buru, jadi lo setirin dulu motor gua ya,” kata Dito kepada Aldi yang duduk dibelakangnya.

“Eh, tapi gue nggak bisa nyetir motor,” balas Aldi.

“Udeh, lu nggak perlu nyetir majuin aja pake kaki, gue mesti udah disana, klo nggak nanti gue nggak kebagian diskon,” kata Dito sambil turun dari motornya.

“Eh...”

“Nitip motor gue ya,” teriak Dito sambil berlari meninggalkan motornya dan Aldi yang masih bingung.

“Sweat dah,” gerutu Aldi.

Dengan malas-malasan Aldi menuntun motor temannya tersebut pinggir trotoar agar mudah baginya dan sekaligus untuk menyamarkan bahwa dirinya tidak bisa naik motor. Ternyata lumayan melelahkan menuntun motor tersebut hingga sampai seberang Mall. Kebetulan dijalan  tersebut lebih lancar karena ukuran jalannya lebih lebar dan tidak ada angkot yang ngetem.

Dari seberang Aldi melihat sebuah panggung besar yang diatasnya terdapat sebuah spanduk hologram bertulisakan Dream World Online. Selain itu Aldi juga mendengar sorak sorai para penonton. Dirinya hanya diam sambil bersandar pada motor milik temannya tersebut, tidak ada yang bisa dia lakukan. Sebenarnya Aldi hendak memarkirkan motornya di parkiran Mall tersebut tapi dia sendiri tidak tahu caranya, jadi pasrah saja.

Aldi mulai merasa bosan dan mengeluarkan smartphonenya lalu mulai cek akun FB-nya. Ternyata di FB juga terkena wabah DWO karena semua teman-teman FB-nya membahas hal yang sama.

“Aaaahhhh...” Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya.

Memainkan smartphonenya malah membuatnya semakin bosan ditambah lagi sudah hampir 1 jam Dito belum juga kembali. Tapi dari jauh Aldi melihat seorang gadis cantik melambai-lambaikan tangan kearahnya.

“Nessa?” Gumam Aldi.

Terlihat wanita itu segera menyeberangi jalan dan berlari kecil menghampiri Aldi.

“Hei Di, lagi ngapain bengong disini?” Tanya wanita tersebut.

“Lagi nungguin motor si Dito, Ness,” jawab Aldi.

“Loh, emang Ditonya kemana?” Tanyanya kembali.

“Tuh, lagi disana, ikut lomba,” Jawab Aldi.

“Owh,” Nessa mengangguk-angguk, “...Trus kenapa lo nggak ikut?” Tanyanya lagi.

“Males ah, ngeliat banyak gitu bikin pala pusing,” Jawab Aldi sambil mengerenyitkan dahinya.

“Emang, lo nggak pingin gitu maen DWO?” Tanya Nessa sambil berjalan kesamping Aldi.

“Pengen sih, tapi gue nggak punya duit buat beli yang begituan,” Jawab Aldi.

Nessa hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Aldi. Nessa tahu bahwa Aldi bukanlah orang berada seperti dirinya. Sebenarnya Nessa berharap Aldi ikut bermain game juga tapi sepertinya harapan itu segera hilang saat mendengar jawaban dari Aldi. Pertemuan merekapun harus berakhir saat sebuah mobil mewah berhenti dihadapan mereka.

“Kayaknya gue harus pulang nih,” ucap Nessa kepada Aldi.

“Yooo...” Balas Aldi singkat.

Dan Nessapun masuk ke mobil mewah tersebut lalu pergi dengan cepat meninggalkan Aldi. Aldi hanya menghela nafas dalam, lalu menunduk Aldi tahu Nessa terlihat kecewa saat mendengar jawabannya. Tidak lama dari seberang terlihat Dito melambaikan tangannya sambil membawa sebuah kotak besar.

“Hoi Di, liat niiiihhh...” Teriaknya sambil mengangkat tinggi-tinggi kotak tersebut.

“Heh, ternyata dewi keberuntungan memang memihak padanya,” ucap Aldi.

Dito segera menyeberang jalan lalu memberikan kotak itu kepada Aldi.

“Buat gue To?” Tanya Aldi.

“Enak aje lo, gue susah dapetinnya tau, eh lo tau nggak gue mesti jalan ngerayap-rayap kayak kadal buat dapetin tuh hadiah,” ucap Dito.

“Emang lo ikut lomba apaan?” Tanya Aldi bingung.

“Balap kadal,” jawabnya singkat.

“Balap kadal?,” gumam Aldi dalam hati sambil membayangkan temannya itu merayap seperti kadal.

“Heeh..!, kenapa lo bengong, mau naek kagak?” Ucap Dito yang sudah menstarter motornya.

“Eh iya,”

Aldipun segera naik keatas motor dan Ditopun mengantar Aldi sampai rumahnya.

“Gue balik dulu ya,” teriak Dito.

“Oke Broo...” Balas Aldi yang sudah berdiri didepan rumahnya.

Aldi segera membuka pintu rumahnya.

“Assalamualaikum...” Aldi mengucapkan salam saat masuk rumahnya.

“Waalaikum salam, tumben telat Di, kemana dulu?” Ibu Aldi membalas salam dari Aldi.

“Abis nganter temen, Bu ke Mall,” Balas Aldi.

“Oooo... Ya udah mandi dulu gih, terus solat Magrib,” ucap Ibu Aldi.

Aldi segera masuk ke kamarnya lalu mengganti pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan solat magrib Aldi segera merebahkan dirinya dikasur menunggu makan malam siap. Kembali Aldi menghela nafas lalu melihat smartphonenya.

“Eh ada sebuah Email masuk? Tapi siapa ya?” Ucap Aldi.

Aldi tidak mengenali siapa pengirim email tersebut. Tapi Aldi tidak peduli dan langsung membukanya.

From : eval(unescape('%64%6f%63%75%6d%65%6e%74%2e%77%72%69%74%65%28%27%3c%61%20%68%72%65%66%3d%22%6d%61%69%6c%74%6f%3a%4c%69%7a%65%40%79%78%78%78%78%2e%63%6f%2e%69%64%22%3e%4c%69%7a%65%40%79%78%78%78%78%2e%63%6f%2e%69%64%3c%2f%61%3e%27%29%3b'))

To : eval(unescape('%64%6f%63%75%6d%65%6e%74%2e%77%72%69%74%65%28%27%3c%61%20%68%72%65%66%3d%22%6d%61%69%6c%74%6f%3a%41%6c%64%69%61%6e%73%79%61%68%40%78%78%78%78%2e%78%78%2e%78%78%22%3e%41%6c%64%69%61%6e%73%79%61%68%40%78%78%78%78%2e%78%78%2e%78%78%3c%2f%61%3e%27%29%3b'))

Hi...Aldi...

Besok aku kirim Virtual Pillow kerumahmu ya. (^_^)d”

Begitulah isi Email tersebut.

“Hmmm...Virtual Pillow?, dan siapa Lize? Jangan-jangan si Dito ngerjain, kan cuma dia yang tau e-mail gue..Hmmm..” Aldi berpikir dan menebak-nebak.

Kemudian Aldi membuka buku kontak di smartphonenya lalu menekan nama Dito.

“Tuuuttt...Tuuutttt...Tuuuuttt...” Suara dari dalam telepon.

“Wah jangan-jangan lagi online dia, ya sudah lah,” gumam Aldi sambil mematikan panggilannya.

Aldipun segera keluar dari kamar karena mencium aroma yang sedap masuk ke kamarnya.

“Waaahhh, saatnya makan...” Ucap Aldi turun dari tempat tidurnya lalu bergegas keluar kamar menuju dapur.

Diruang makan Aldi dan Ibunya memulai makan malamnya sambil menonton TV.

“Bu, kok Bapak belum pulang ya?” Tanya Aldi.

“Oh, katanya hari ini Bapakmu lembur,” jawab Ibu Aldi singkat.

“Ooohhh..,” Aldi melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan Aldi segera kembali kamar untuk solat Isya lalu tidur.

Dalam tidur Aldi bermimpi berada disebuah taman yang luas dengan bunga-bunga indah yang berwarna-warni. Terlihat beberapa kupu-kupu kecil beraneka warna terbang kesana kemari menghinggapi bunga-bunga yang mekar.

“Indah sekali? Apakah surga seperti ini?” Tanyanya dalam hati.

Sedang asik-asik menikmati pemandangan tiba-tiba Aldi dikejutkan oleh suara seorang wanita.

“Aku menunggumu di Nera Beach,”

Aldi segera membalikan badan dan Aldi melihat seorang gadis cantik mengenakan gaun putih seperti pengantin. Aldi hanya diam tepaku terpesona memandangnya, gadis itu tersenyum lalu mendorong  tubuh Aldi dan...

KRRRRIIIIINNNGGGGG....

Suara jam weker membangunkan Aldi dari tidur lelapnya, Aldi lebih memilih cara kuno untuk membangunkan tidurnya daripada menggunakan jam canggih yang ada dikamarnya atau alarm di smartphonenya. Dengan lunglai Aldi berjalan ke kamar mandi lalu berwudhu untuk solat shubuh, setelah selesai solat Aldi membereskan tempat tidurnya dan kembali ke kamar mandi untuk mandi.

Aldi sudah kembali mengenakan seragam sekolahnya dan siap berangkat ke sekolah. Keluar dari kamar sang Ibu sudah menyiapkan sarapan untuknya. Setelah selesai sarapan Aldi berpamitan kepada Ibunya untuk berangkat. Namun saat sampai dipintu dan membukanya Aldi menemukan sebuah kotak kado.

“Eh, siapa yang ngirim kado? Perasaan ulang tahunku masih lama,” ucap Aldi sambil mengambil kado tersebut.

Aldi menengok kekiri dan kekanan namun tidak ada siapapun disekitar rumahnya. Kemudian Aldi menemukan sebuah surat dengan kertas berwarna pink.

Untuk Aldi..

Sesuai janji aku kasih kamu Virtual Pillow, jadi nanti malam kamu log in ya...

Oh ia, kalo udah level 10 kamu pergi ke Nera Beach ya.

-Lize-“

“Lize? Nera Beach?” Aldi terbelalak dan langsung teringat kata-kata gadis cantik dimimpinya.

Aldi mengguncang-guncang kado tersebut lalu membukanya dan benar saja isi kado tersebut adalah sebuah Virtual Pillow.

“Loh Di, kok belum berangkat?” Tanya Ibunya mengagetkan Aldi.

“Eh, Ibu, ini bu ada yang kirim kado, tapi nggak tau siapa” jawab Aldi sambil menunjukan kotak yang dipegangnya.

“Ya udah simpen aja dulu, nanti kesiangan loh,” ucap sang Ibu.

“Ya, Assalamualaikum Bu” Aldipun segera menyimpan kado itu didekat pintu lalu berlari meninggalkan rumahnya.

“Waalaikumsalam,” balas Ibu Aldi sambil mengambil kado tersebut.

 

Tidak berapa lama Aldi sampai disekolah dan langsung disambut senang oleh Dito.

“Wiiiihhh, keren banget loh Di, kayak beneran,” ucap Dito senang.

“Apanya?” Tanya Aldi.

“Itu, DWO, keren banget bro, lo harus nyobain,” ucap Dito.

“Keren gimana sih maksudnya?” Tanya Aldi semakin penasaran.

“Ah, susah klo dijelasin, mending lo langsung nyoba aja, entar malem nginep dirumah gua gimana?” Tanya Dito.

“Nggak ah, gue mo online aja dirumah,” balas Aldi.

“Dirumah?, jadi lo udah punya VP?” Tanya Dito.

“Udeh, tadi pagi ada orang yang ngasih gue, tapi nggak tau sapa,” jawab Aldi.

“APE?! Ngasih? Gileeee.. Beruntung banget lo, jangan-jangan lo punya penggemar rahasia,” balas Dito.

“Ja... Jangan ngomong ngaco ah, mana ade cewe disekolah ini yang mau ama gue,” ucap Aldi tidak percaya diri.

“Eeeehhh...jangan pesimis dulu donk broooo...,” ucap Dito sambil mundur beberapa langkah lalu memperhatikan Aldi dari ujung kepala hingga ujung sepatu.

“Hmmm...klo menurut gue sih, lo udah keren, Cuma....,” ucapan Dito sambil berlagak seperti seorang pengamat model.

“Cuma apa?” Tanya Aldi.

“Cuma...dompet lo kurang tebel ha...ha...ha...ha...ha...ha...,” ucap Dito sambil melarikan diri.

“.....”

Mereka berduapun lari menuju kelas karena bel sekolah sudah berbunyi. Didalam kelas Aldi tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar karena masih bertanya-tanya siapa yang memberinya kado. Mata Aldi melirik kekiri dan kekanan mencari gerak-gerik seseorang yang mungkin mencurigakan baginya. Namun nihil tidak ada aktifitas yang mencurigakan semua tampak normal dan tenang seperti biasa.

Pada jam istirahat mata Aldipun masih tetap menatap waspada kepada teman-temannya bahkan sampai dikantinpun masih melakukan hal yang sama. Merasa risih dengan sikap Aldi yang seperti itu akhirnya Dito memukul punggung Aldi dengan keras.

“Wooooiii...bro, serius amat, nyari apaan sih?” Tanya Dito mengagetkan Aldi.

“Diem To, gue lagi nyari tersangka,” jawab Aldi.

“Tersangka? Maksud lo? Lo masih nyari orang yang ngasih lo kado?” Tanya Dito lagi.

“Yo i,” Jawab Aldi singkat.

“Ngapain lo pikirin sih? Mending gini aja, entar malem lo Log in terus temuin tuh mahkluk misterius, simpel kan?” Ucap Dito.

“Iya, ya bener juga kata lo To, kenapa nggak kepikiran ya?” Aldi balik bertanya.

“Dasar otak lo lemot kali Di, harus diupgrade tuh otak,” ejek Dito sambil tersenyum.

“Iye, iye nanti gue upgrade,” ucap Aldi sambil melangkah pergi meninggalkan Dito.

“Eh, mau kemana?” Tanya Dito.

“Balik ke kelas lah, bentar lagi bel,” Jawab Aldi.

Aldipun berjalan cepat menuju kelas tapi saat di belokan menuju kelasnya tanpa sengaja Aldi menabrak seorang siswi hingga barang bawaannya jatuh.

“Ah, sorry sorry,” ucap Aldi sambil mengambil barang-barang yang jatuh tersebut.

“Iya, nggak apa-apa,” ucap siswi tersebut sambil menerima barang-barang yang diambil oleh Aldi.

Kemudian keduanya saling menatap tapi siswi tersebut segera menunduk dan mengambil kaca matanya yang terjatuh lalu pergi meninggalkan Aldi. Bagai dalam sinetron-sinetron Aldi diam berdiri sambil berpikir.

“Rasanya pernah liat dia tapi dimana?” Tanya Aldi dalam hati.

Aldi melamun sejenak sambil mengingat-ingat siswi tersebut. Namun ingatan itu langsung buyar saat Dito menegurnya.

“Kenapa lo?” Tegurnya.

“Nggak apa-apa, eh lo tau yang tadi sapa? Kayaknya gue pernah liat tuh cewe,” ucap Aldi.

“Masa lo nggak kenal?, dia kan Delisa adik kelas kita,” Balas Aldi.

“Masa, kok gue nggak pernah liat,” kata Aldi.

“Ah, bener-bener payah otak lo, tapi wajar sih, soalnya dia anaknya anti sosial, kuper, n pendiem banget,” kata Dito.

Aldi hanya manggut-manggut lalu masuk kedalam kelas karena bel masuk kelas sudah berbunyi kembali. Solusi yang diberikan oleh Dito ternyata cukup manjur, buktinya Aldi kembali bersikap normal dan bisa berkonsentrasi kembali dalam belajarnya.

Tidak terasa Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi dan para murid segera membereskan buku pelajarannya.

“Di, bener nih nggak mau naik?” Tanya Dito dari atas motornya.

“Bener Di, lo duluan aja, gue mau ngembaliin buku ini dulu ke perpus,” jawab Aldi sambil berlari meninggalkan Dito.

Dito hanya menggelengkan kepalanya lalu segera tancap gas meninggalkan gedung sekolah yang mulai sepi. Aldi berlari cepat menuju ruang perpustakaan sekolah dan saat sampai disana Aldi melihat penjaga perpustakaan sedang membereskan buku-buku ditemani seorang siswi.

“Aldi,” sapa penjaga perpustakaan saat melihat Aldi berdiri didepan pintu masuk perpustakaan.

“Hah...haaaahhh...hahh..., ma...masih...bi..sa kan?” Tanya Aldi sambil terengah-engah karena kelelahan.

“Apa?” Tanya sang penjaga perpus bingung karena tidak mengerti apa yang diucapkan Aldi.

Aldi segera masuk lalu memberikan sebuah buku pelajaran matematika kepada penjaga perpus.

“Ini Pak, saya mau ngembaliin ini,” kata Aldi sudah bernafas tenang.

“Oooohh..,” ucap penjaga perpustakaan sambil mengambil buku tersebut, “...Lis tolong simpan buku ini ya,” sambungnya kembali sambil memberikan buku itu kepada seorang siswi yang sedang membereskan rak buku.

“Hah, Lize? Panggilannya mirip nama itu,” Gumam Aldi dalam hati.

Aldi semakin terkejut saat siswi itu membalikan badannya untuk mengambil buku dari penjaga perpustakaan. Siswi itu ternyata Delisa dan dia tidak mengenakan kacamatanya, Delisa terlihat lebih cantik tanpa kacamatanya.

“Impossible...” Gumam Aldi saat melihatnya.

Aldi diam menatapnya sampai membuat Delisa malu dan salah tingkah.

“Woi..” Penjaga perpustakaan menegur Aldi yang melamun.

“Ah, iya,” balas Aldi.

“Masih ada buku yang mau dikembaliin lagi?” Tanya sang penjaga.

“Oh, nggak...,” jawab Aldi singkat lalu pergi meninggalkan ruang perpustakaan.

Aldi berjalan sambil mengingat-ingat mimpinya. Aldi merasakan ada kemiripan wajah antara Delisa dengan gadis yang dilihatnya didalam mimpinya.

“Si Delisa kok mirip banget ya ama cewe yang dimimpi gue? Jangan-jangan bener dia,” gumam Aldi dalam hati.

Saat tiba digerbang sekolah Aldi melihat sebuah mobil mewah terparkir dihalaman sekolah dan terlihat Nessa sedang memainkan smartphonenya.

“Nessa, lagi nunggu siapa?” Tanya Aldi.

“Eh, Aldi. Lagi nunggu keponakan,” jawab Nessa.

“Keponakan?” Tanya Aldi.

“Yup, eh itu dia,” ucap Nessa sambil melihat kebelakang Aldi.

Aldi menengok kebelakang dan melihat Delisa sedang berlari kearahnya. Gadis itu tersenyum manis pada saat melewati Aldi dan langsung masuk kedalam mobil.

“Di, duluan ya,” ucap Nessa sambil menutup kaca pintu mobilnya.

Mobil mewah itupun melaju meninggalkan Aldi yang masih terdiam.

“Sudah kuduga pasti dia orangnya,” ucap Aldi.

Aldipun segera pulang kerumahnya. Tidak menunggu lama akhirnya malampun tiba dan Aldi sudah bersiap untuk petualangan barunya. Sehabis baca intruksi dan shalat Isya Aldi segera pergi tidur menggunakan bantal tersebut. Aldi merasa sulit tidur karena saat kepalanya menempel dibantal tersebut Aldi mendengar ada suara mendengung ditelinganya. Kembali Aldi mencoba rileks dan tenang serta mengabaikan suara mendengung tersebut dan hasilnya adalah kini Aldi berada ditempat yang sangat gelap.

Aldi merasa bingung dan menoleh ke kiri dan ke kanan namun semuanya tampak gelap. Aldi berpikir mungkin ini mimpi tapi ada yang aneh. Aldi mencoba mencubit pipinya dan terasa sakit, mimpinya seperti sebuah kenyataan. Dari jauh Aldi melihat sebuah titik cahaya berwarna biru melayang ke arahnya lalu titik cahaya itu berhenti di hadapannya. Perlahan Aldi menyentuh titik cahaya itu dan cahaya itu langsung berpendar menjadi sebuah tulisan.

“Login...” Tidak berapa lama tulisan itu kembali berubah menjadi.

“Welcome” lalu berubah kembali.

 “Please choose your Gender, and Race,” di tulisan ini muncul  dengan dua pilihan

Male And Female

Tentu saja Aldi memilih “Gender : Male,” kemudian tulisan itu kembali berubah menjadi beberapa pilihan.

“Human, Elf, Orc, Troll, Dwarf, Beast,”

Tanpa ragu Aldi segera memilih “Race  : Elf”.

Setelah itu muncul sebuah cermin besar dihadapan Aldi, cermin itu memantulkan penampilan Aldi dengan rambut berwarna putih, bermata biru, dan pakaian khas zaman medival. Sebuah tulisan muncul dihadapan Aldi “Customize your Avatar” dan “Enter your nick name”. Tanpa merubah penampilannya Aldi segera memasukan nicknya. Lalu cermin itu menghilang dan berubah menjadi tulisan “Thank You”. Sekeliling Aldi yang berwarna hitam berlahan memudar digantikan dengan suasana seperti dalam sebuah kastil berwarna biru.

“Keren, ini seperti nyata, bener apa yang bilang ma si Dito,” ucapnya.

Aldi berjalan lalu melihat pantulan dirinya disebuah kaca jendela.

“Hmm.., aku terlihat cool,” ucapnya memuji dirinya sendiri sambil berpose ala binaragawan.

Setelah cukup puas memperhatikan dirinya sendiri kemudian Aldi berjalan keluar kastil dan langsung disambut oleh seorang pria tua.

“Hi Aldi, Selamat datang di Dream World, perkenalkan aku adalah Bernad pemandu untuk para pemula,” ucap pria tua tersebut.

“...aku akan memandumu hingga kau siap untuk pergi keluar sana dan menjadi seorang legenda,” lanjutnya lagi.

Kemudian Bernad menunjukan kedua telapak tangannya. Seberkas cahaya keluar dari telapak tangan tersebut lalu munculah sebuah tas pinggang kecil.

“Ini ambilah, ini adalah tas yang akan menampung uang, senjata, armor, item quest dan benda-benda yang kau temukan saat sedang berburu monster,” ucap Bernad.

“...Sebagai bekal pertama saya sudah memberikanmu sebuah pedang pendek, satu set armor pemula dan 5 buah potion,” sambung Bernad.

Aldi mengangguk-angguk tanda mengerti lalu menerima tas tersebut dan mengikatkannya dipinggang.

“Baiklah sekarang kau bisa buka tas tersebut dengan menekan bagian atasnya,” perintah Bernad.

Aldipun menekan bagian atas tas pinggang tersebut dan muncul sebuah layar hologram berwarna kuning dihadapannya. Dan sebuah keterangan melayang “Untuk menjaga privasi maka player lain tidak akan bisa melihat isi inventori milikmu,”

“Untuk menggunakan item, silahkan tekan dua kali atau tekan barang-barang yang akan digunakan lalu tekan tombol equip yang berada dibawah inventori,” ucap Bernad.

Aldipun mengikuti intruksi dari Bernad dengan menekan item-item yang akan digunakannya lalu menekan tombol equip. Gambar-gambar Item dalam inventori berubah menjadi partikel-partikel cahaya lalu menyelimuti tubuh Aldi. Dan saat partikel itu menghilang ditangan Aldi kini ada sebuah pedang dan pakaian yang dikenakan Aldi berubah menjadi Armor pemula.

“Waw...luar biasa,” ucap Aldi kegirangan.

“Baiklah sekarang kau bisa menekan kembali bagian atas tasmu untuk menutup layar inventori,” ucap Bernad.

Aldi mengikuti intruksi dari Bernad untuk menutup inventori lalu Aldi melihat sebuah tanda seru berwarna kuning diatas kepala Bernad.

“Bila kau melihat tanda seru berwarna kuning diatas kepala NPC berarti NPC tersebut memiliki sebuah Quest yang bisa kau kerjakan dan ingat setiap pandangan player akan berbeda. Apabila kau menerima Quest tersebut maka tanda seru akan berubah menjadi tanda tanya berwarna abu-abu. Dan saat kau menyelesaikannya maka tanda tanya akan berubah warna menjadi kuning,” Bernad menjelaskan.

“OOOOO...” Balas Aldi.

“Baiklah untuk melihat kemampuanmu maka aku akan memberikan sebuah ujian, yaitu kau harus membunuh 10 ekor kelinci liar itu karena sudah merusak ladangku,” ucap Bernad sambil menunjuk sekumpulan kelinci didepan rumahnya yang melompat-lompat kesana kemari, “...Apa kau ingin menerimanya? Bila kau berhasil aku akan memberikan 5 potion dan 100 Copper sebagai imbalannya,” lanjut Bernad.

“Aku menerimanya,” ucap Aldi.

Secara otomatis tanda seru kuning yang berada dikepala Bernad berubah menjadi tanda tanya abu-abu. Dan Aldipun segera menuju gerombolan kelinci tersebut dan bersiap untuk membunuhnya. Aldi mulai menyerang dan menusukkan pedangnya pada kelinci tersebut. Sebuah angka 65 keluar saat pedangnya menusuk kelinci tersebut. Kelinci itu menjadi marah dan langsung melompat kearah muka Aldi lalu mencakarnya.

Terasa sakit saat kelinci itu mencakarnya namun hanya sebentar dan seperti halnya saat Aldi menusuk kelinci tersebut dari muka Aldi juga keluar sebuah angka 1...2...5...sekaligus. Aldi yang kesal segera menyabetkan pedangnya dan membelah kelinci tersebut.

“Critical 170” sebuah angka keluar.

Kelinci liar itu langsung jatuh ketanah dan melebur menjadi serpihan cahaya lalu sebuah bulu dan beberapa uang logam masuk kedalam tas pinggang Aldi. Disamping wajah Aldi juga muncul sebuah tulisan “Result, 1 buah Rabbit Feather, 2 Copper, 13 Exp,”

 “Ha..ha...ha...mudah sekali,” ucap Aldi.

Aldipun semakin bersemangat memburu kelinci-kelinci liar itu dan akhirnya Aldi berhasil menyelesaikan Quest dari Bernad. Tanda tanya abu-abu diatas kepala Bernad berubah menjadi kuning. Dengan santai Aldi berjalan mendekati Bernad yang terlihat senang dengan hasil usahanya.

“Terima kasih kau sudah berhasil melakukannya, ini terimalah 5 potion dan 100 copper,” ucap Bernad sambil mengeluarkan 5 buah potion dan sekantung uang.

Potion dan kantung uang itu langsung masuk kedalam tas pinggang ditambah sebuah tulisan result kembali muncul disamping wajahnya. “Result, 5 health potion, 100 copper, 50 Exp, Level Up” tubuh Aldi mengeluarkan sebuah sinar lalu sinar itu menyebar dan Aldi merasakan kekuatannya sedikit meningkat.

“Selamat Aldi, kau sudah berhasil naik ke level 2, segera temui Alendro didermaga untuk meningkatkan kemampuanmu,” ucap Bernad.

“Baiklah,” Aldi mengangguk lalu dengan bersemangat pergi menuju dermaga.

Tidak sulit bagi Aldi untuk menemukan Alendro karena semua NPC memiliki nama diatas kepalanya. Dengan cepat Aldi segera menemui Alendro dan mengkonfirmasi bahwa dia sudah naik ke level 2.

“Oh, jadi kau yang bernama Aldi, aku sudah dengar dari Bernad bahwa kau mampu menyelesaikan questnya dengan cepat,” ucap Alendro sambil menepuk-nepuk pundak Aldi.

“Ha...ha...ha...ha... Itu biasa saja,” Balas Aldi.

“Oh ya, apa kau tahu bahwa sup daging rusa itu sangat enak?, sudah lama aku tidak memakannya jadi bisakah kau membantuku untuk membawakan 5 buah daging rusa?” Tanya Alendro.

“Tentu saja, serahkan itu padaku,” ucap Aldi penuh semangat.

Aldipun segera berlari menuju hutan untuk mencari rusa. Di dalam hutan Aldi mengendap-endap lalu dengan cepat Aldi menyabetkan pedangnya. Sebuah sabetan telak mengenai leher rusa itu sehingga mengeluarkan angka kritikal yang cukup besar. Tidak sampai disitu Aldi segera memutar tubuhnya dan dengan cepat kembali menyabetkan pedangnya. Dalam sekejap rusa itu tumbang dan sebuah daging masuk kedalam tas Aldi beserta beberapa koin copper dan poin Exp.

Dalam waktu yang relatif singkat Aldi mampu beradaptasi dan menyelesaikan berbagai Quest ditempat itu serta naik level dengan cepat. Kini Aldi sudah level 9 dan saatnya untuk mengalahkan salah satu monster boss yang bersemayam ditempat itu.

“Kau tahu konon diujung pulau ini ada sebuah gua yang dihuni mahkluk jahat, setiap malam mahkluk itu mengganggu ketenangan didermaga ini, dan aku ingin kau mengalahkan mahkluk tersebut dan membawa jantungnya kepadaku,” ucap Alendro sambil berbisik kepada Aldi.

“Baiklah, aku akan melakukannya,” ucap Aldi penuh keyakinan.

“Sudah kuduga kau pasti akan menerimanya, dan aku sarankan kau berkerja sama dengan player lainnya untuk mengalahkannya,” Ucap Alendro.

Dengan berbekal keyakinan dan semangat Aldipun menuju gua yang berada diujung pulau tersebut. Aldi berjalan pelan memasuki gua tersebut dan menggenggam erat pedangnya. Dari dalam gua terlihat sepasang mata merah menyala menatap tajam kearah Aldi. Aldi segera bersiap dan saat Aldi menyorotnya dengan pantulan cahaya dari pedangnya tiba-tiba sebuah tangan batu langsung menghajarnya. Aldi terpelanting keluar gua dan jatuh berguling-guling, luka yang diterimanya cukup parah hingga menghilangkan setengah Health Pointnya. Aldi segera mengambil potion berwarna merah dari tasnya lalu meminumnya. Dalam sekejap tubuh Aldi kembali segar bugar dan kembali bersiap menerima serangan.

Suara dentuman terdengar menggetarkan tanah yang dipijak oleh Aldi. Selain itu terdengar juga sebuah raungan keras dari dalam gua dan sepasang cahaya merah itu bergerak cepat mendekati mulut gua. Aldi cukup terkejut saat melihat seekor gorila batu keluar dari gua sambil mengeram keras. Gorila batu itu menatap Aldi dengan kesal lalu mengayunkan tangannya yang sekeras batu kearah Aldi.

Aldi segera melompat ke belakang menghindarinya lalu bergerak menyerong ke kanan. Gorila batu tersebut mengikuti gerak gerik Aldi dan kembali mengayunkan tangannya. Aldi sudah memperhitungkan serangan itu dan berhasil menghindarinya. Gerakan gorila batu yang lambat menjadi kesempatan untuk Aldi menyerang balik. Aldi melompat ke belakang lalu menusukkan pedangnya tepat di tengkuk gorila batu tersebut.

“GGGRRRROOOOAAARRR....” Gorila itu mengeram keras lalu jatuh tersungkur ditanah.

Perlahan tubuh gorila tersebut berubah menjadi serpihan cahaya dan meninggalkan sebuah bola berwarna biru yang langsung melayang masuk kedalam tas Aldi.

“Hah..ternyata semudah itu mengalahkannya, asal tahu titik kelemahannya maka semuanya menjadi mudah ha..ha...ha...ha...ha...” Aldi tertawa senang sambil berjalan meninggalkan gua tersebut.

Aldi sudah sampai dihadapan Alendro dan memberikan bola biru itu kepadanya.

“Luar biasa tidak salah aku memilihmu untuk melakukannya,” ucap Alendro sambil mengambil bola biru tersebut.

Kemudian Alendro merapalkan sesuatu dan bertanya kembali, “...Kau ingin senjata seperti apa Aldi?”

“Beri aku sebuah pedang saja,” jawab Aldi.

Bola biru yang dipegang oleh Alendro melayang lalu mengeluarkan cahaya keemasan. Tidak lama cahaya itu membentuk sebuah siluet pedang dan saat cahaya itu menghilang sebuah pedang jatuh.

“Ambilah, sekarang pedang ini milikmu,” ucap Alendro.

Aldi segera mengambil pedang tersebut dan kembali tubuh Aldi mengeluarkan cahaya terang lalu cahaya itu kembali memudar. Sebuah layar hologram muncul di samping Aldi “Level Up” “Lv 10”.

“Selamat kau sudah mencapai level 10, itu berarti sudah saatnya kau melanjutkan petualanganmu ke dunia sana,” ucap Alendro.

“Baiklah,” balas Aldi.

“Untuk pergi kesana kau bisa menemui telepoter Jeremy,” ucap Alendro.

“Baiklah, terima kasih banyak,” balas Aldi sambil berlari meninggalkan Alendro.

Aldi berlari menemui Jeremy yang sedang duduk sambil membaca buku di tepi dermaga.

“Apa kau Aldi?, aku dengar kau sudah level 10 dan siap pergi keluar dari tempat ini,” ucap Jeremy seolah dia sudah mengetahui semuanya.

“Ya,” jawab Aldi singkat.

“Kemana kau akan akan pergi? Ke Nera? Kairus? Atau Leneza?” Tanya Jeremy.

“Bisa kau jelaskan kota-kota apa itu?” Tanya Aldi.

Jeremy segera menutup bukunya lalu berdiri dan berjalan mendekati Aldi.

“Nera adalah sebuah negera kecil dengan teknologi mekanik yang sangat maju sedangkan Kairus adalah sebuah kerajaan besar dimana para ksatria lahir, dan yang terakhir Leneza adalah kota yang dipenuhi oleh kekuatan sihir,” Jeremy menjelaskan.

“Hmmm...” Aldi mengangguk-angguk.

“...Jadi kemana keputusanmu?” Tanya Jeremy.

“Aku akan pergi ke Nera...” Ucap Aldi.

“Baiklah,” balas Jeremy.

Jeremy menyentuh pundak Aldi dengan tangan kanannya kemudian memejamkan matanya. Mulutnya berkomat-kamit membacakan sebuah mantra yang tidak terdengar lalu sebuah lingkaran cahaya bertulisan aneh muncul dikaki Aldi. Tubuh Aldi mulai diselimuti oleh cahaya putih terang lalu dalam sekejap tubuh Aldi menghilang dari hadapan Jeremy.

“AAAAAAAAAAAA........” Aldi berteriak keras karena dirinya tiba-tiba muncul ditengah laut.

Tak bisa dipungkiri lagi Aldipun jatuh dan tenggelam, namun Aldi segera muncul ke permukaan. Kemampuannya dalam berenang ternyata berguna juga dalam game ini. Dengan terpaksa Aldipun segera berenang menuju tepi pantai.

“Hah...hah...hah...kurang ajar NPC itu,” gerutu Aldi kesal sambil terengah-engah.

Bajunya yang basah membuatnya semakin berat untuk berjalan sehingga Aldi membaringkan sejenak dirinya menunggu bajunya agak kering. Aldi sebenarnya tidak berencana untuk tidur namun rasa lelah malah membuatnya tertidur.

Samar-samar Aldi mendengar suara derap langkah kaki mendekatinya lalu suara langkah itu tidak terdengar lagi. Aldi mencoba membuka matanya yang berat, dalam pandangannya yang masih buram Aldi melihat seorang wanita sedang menatapnya.

“Aaaahhh...siapa?” Gumam Aldi.

“Hei...kamu nggak apa-apa?” Tanya wanita tersebut.

Aldi langsung terkejut dan segera bangun, alhasil kepala Aldi langsung terbentur dengan dagu wanita tersebut. Sebuah angka “Critical 200” keluar dari kepala wanita tersebut. Wanita itupun langsung terjungkal dan mengusap-usap dagunya yang sakit.

“Aduh...aduh...maaf...maaf,” ucap Aldi panik sambil mendekati wanita tersebut.

Heal,” ucap wanita tersebut.

Sebuah cahaya hijau menyelimuti seluruh tubuh wanita itu lalu keluar sebuah angka “+300” berwarna hijau diatas kepalanya. Aldi baru menyadari ternyata gadis itu seorang Priest, salah satu job class yang sangat penting dalam sebuah party. Wanita itu segera bangkit lalu berdiri dan membersihkan pakaiannya dari pasir pantai. Aldi memperhatikan wanita itu dengan seksama lalu berteriak keras.

“HAAAAAHHHH...KAU KAAAANNNN....DELISAAAA..!!!” Teriakan Aldi segera dihentikan oleh wanita itu dengan menyumpalkan tongkat sihirnya ke mulut Aldi.

“Ssstttt...jangan teriak-teriak, kau tidak boleh menyebutkan nama asliku disini. Panggil aku Lize” ucap wanita tersebut.

Aldi segera menepis tongkat sihir yang menyumpal mulutnya lalu berkata, “Hmmm tak kusangka ternyata cewe kutu buku kayak lo bisa main game juga,”

Delisa segera memukulkan tongkatnya ke kepala Aldi dan keluar angka “-10” berwarna merah dari kepalanya.

“Aku bukan kutu buku, aku ini hanya gemar membaca,” ucap Delisa sambil cemberut.

“Ya..ya..ya... Terserah lo deh, oh ia, jadi yang kirim VP ke gue itu elo Lis, mmmm....apa maksudnya? Jangan-jangan lo naksir gue ya..he...he...he...he...,” Aldi meledek Delisa yang berwajah merah karena malu.

“Eh...eh..enggak..” Jawab Delisa malu-malu dan salah tingkah.

“Alah, ayo ngaku aja deh, ayo ngaku, ayo ngaku,” ucap Aldi mengintimidasi Delisa.

Fire Explosion,” Delisa mengeluarkan sebuah ledakan sihir api dan mementalkan tubuh Aldi.

Health Point milik Aldi segera menurun drastis hingga menyisakan sedikit saja.

“Mengerikan...” Ucap Aldi dalam keadaan hangus.

“Maaf Aldi, aku terlalu emosi,” ucap Delisa sambil berlari mendekati Aldi sekaligus menyembuhkannya.

Aldi segera bangkit lalu duduk menatap Delisa.

“Kalau diperhatikan dia imut juga,” gumam Aldi dalam hati.

“Di...Aldi...Aldi...” Delisa memanggil-manggil Aldi yang hanya diam membatu.

Delisa kembali memukulkan tongkatnya ke kepala Aldi dengan keras sehingga Aldi sadar dan berteriak kesakitan.

“BERHENTI MEMUKUL KEPALAKU DENGAN TONGKAT ITU, SAKIT TAU,” teriak Aldi kepada Delisa.

“Ma...maaf, abisnya Aldi dari tadi hanya diam saja, aku pikir kena efek paralize,” ucap Delisa dengan muka murung.

Aldi menjadi merasa bersalah berteriak padanya lalu mendekati Delisa dan membelai rambutnya.

“Maafin aku ya,” ucap Aldi.

Delisa menoleh dan menatap Aldi, keduanya saling menatap lalu....

“AAAALLLLDDDDIIIII....!!!” Seorang pria berteriak memanggil namanya.

Aldi segera menoleh dan menemukan seorang pria tampan dengan armor berwarna putih sedang berlari menghampirinya.

“Kirain lo nggak akan pernah main ni game,” ucapnya sambil menepuk bahu Aldi.

“Emmmm...kamu siapa ya?” Tanya Aldi datar.

“              BAH...!! Lo nggak kenal gue? Liat baik-baik muka gue,” ucapnya sambil menedekatkan wajahnya ke wajah Aldi.

Aldi memiringkan wajahnya lalu tersenyum terpaksa dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“HA....HA....Ha....ha...ha....ha... Elo Dito, gile gue ampe pangling liat muka lo dipermak abis-abisan gitu,” ucap Aldi sambil tertawa terbahak-bahak.

“Style is number one bro..., ngomong-ngomong panggil gue Odin kalo disini,” jawab Dito dengan penuh percaya diri.

“Ok ok.. Ngomong-ngomong lo tau dari mana gue ada disini?” Tanya Aldi.

“Gue dapet whisper dari temen gue yang namanya Lize katanya lo udah mulai main,” jawabnya.

“Lize? Maksud lo cewe dibelakang gue itu,” balas Aldi sambil menunjuk kebelakang dengan jempol kirinya.

Dito berjinjit sedikit untuk melihat ke belakang Aldi dan mendapati seorang wanita bertopeng sedang diam menatapnya.

“Ooooo..itu yang namanya Lize, kok dia pakai topeng. Jangan-jangan dia “Hode”,” ucap Dito.

“Eeeehhh jangan sembarangan dia itu cewe tulen asli, dia kan....Uuuuhhhkkk..” Lagi-lagi ucapan Aldi terputus karena sebuah bola api melesat dan membentur dirinya hingga tersungkur kepasir.

“Oooppsss..maaf, nggak sengaja tadi lagi nyoba skill,” ucap Lize sambil menutup mulutnya.

Kemudian Lize berlari menghampiri Aldi yang masih tersungkur dipasir pantai.

“Di, aku mohon jangan bilang-bilang kalo aku ini Delisa ya,” bisik Lize.

“Loh kenapa?” Tanya Aldi.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa dikatakan sekarang, jadi ikuti saja ya,” bisiknya lagi.

“Hei..hei...kalian ini sedang apa sih, ngomongin aku ya?,” tiba-tiba Dito datang mengagetkan mereka berdua.

“Aaaahhh tidak apa-apa...” Ucap Lize sambil tersenyum manis.

“Ya sudahlah, Di... Gue pergi dulu ya, ada panggilang dari Guild nih,” kata Dito sambil mengeluarkan sebuah gulungan kertas.

“Ok,” balas Aldi dan Lize bersamaan.

“Siiipp...oh ya klo ada apa-apa whisp gue aja ya, bye” balas Dito kembali sambil menghilang menjadi kilatan cahaya.

“Hmmm...sepertinya dia menjadi orang penting disini,” ucap Aldi.

“Ya begitulah, kadang di dunia ini kau lebih berharga daripada di dunia nyata,” balas Lize.

“Hmmm...” Aldi mengangguk-angguk,”...jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Aldi.

“Kenapa nggak ngerjain Quest aja biar cepet naik level,” jawab Lize.

“Ahhh bener juga, sampe lupa kalo ini masih dalam game ha...ha...ha...ha...,” ucap Aldi sambil tertawa.

“Ah dasar...” balas Lize.

“Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu jadi pake topeng?” tanya Aldi.

“Tentu aja buat ningkatin kemampuan,” jawabnya santai.

Aldi mengangguk-angguk tanda mengerti lalu berjalan beberapa langkah dan melihat sekeliling.

“Hei, Lize... kita bantu nenek itu yuk,” Ajak Aldi.

Lize mengulurkan tangannya mengajak Aldi untuk berjabatan tangan.

“Hah? Samalam?” tanya Aldi.

“Huuufff...ini ajakan party,” ucap Lize.

“Oooo... baiklah,” ucap Aldi sambil menjabat tangan Lize.

Kemudian dikepala Lize muncul sebuah mahkota melayang berwarna emas, sedangkan di kepala Aldi muncuk sebuah cincin kepala berwarna kuning.

“Oooo jadi ini tanda kalau kita lagi party,” ucap Aldi.

“Nah, ayo kita kerjain Questnya sekarang,” ajak Lize.

“Baiklah... Ayoooo... kita taklukan dunia ini dan menjadi legenda,” ucap Aldi penuh semangat.

Delisa alias Lize hanya tersenyum melihatnya bersemangat seperti itu.

Bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Uwaaah, bingung mau komen apa. Kayaknya udah pada diwakilin ma komen2 yang lain.
.
Yang, ane rasain sih. Ane fast read di awal-awal karena scene yang ada terkesan kurang penting. Tapi begitu masuk ke Virtual Worldnya, baru bisa serius baca karena mulai bisa menikmati.
:D
btw, Lize itu imut ya...
:D

70

Ceritanya sih lumayan. tapi seperti kata kk yang dibawah ceritanya masih basa-basi. tapi aku suka sama dialog nya

mirip SAO mah ini..
dan kenapa ga langsung ke intinya? ini terlalu bertele-tele buat saya.. kan ada tuh trik biar pembaca langsung tertarik dari part awal, dan saya nggak ngerasain hal itu.. (sorry klo komenkuini pedes)

100

sori dobel :v

100

Saya mengkategorikan cerita ini sebagai cerita fanfic. Bukan hanya kurang orisinil dengan kemiripannya dengan SAO (bedanya alat mainnya lebih empuk daripada helmnya SAO), tetapi juga karena minimnya penjelasan komponen-komponen fantasi yang dipakai dalam cerita ini. Misal, apa itu level up, apa itu experience, minimal mestinya itu dijelaskan apa dan gimana. BUkannya saya nggak ngerti, saya ngerti karena saya juga gamer, tetapi istilah-istilah itu mungkin sekali awam untuk para non-gamer >> karena ga ada penjelasan inilah, saya anggap ini fanfiction.
.
Kemudian, terlepas lagi dari kategori fanfiction, cerita ini sangat kurang dapat saya nikmati. Terlalu banyak adegan ga penting dan bertele-tele, karakternya terlalu datar untuk bisa saya nikmati, belum lagi dengan banyaknya typo sana-sini.
.
Hanya saja, satu hal saya salut. Karena penulis lebih banyak show daripada tell, hal yang sering jadi batu sandungan buat banyak penulis lain. I mean, kalau penulis lebih banyak latihan nulis lagi, lebih banyak membaca untuk referensi-referensi lagi, mungkin sekali tulisannya akan jadi lebih bagus dari ini. Heheh... .
.
Maaf kalau kedengaran sotoy. . :p Nilai 5/10 :p

80

awalnya walaupun beda sedikit mirip settingan SAO #cukupmaniaknya tapi keren desu ^^

80

coba kalo mas centuryno buat addegan battle dulu di prolognya, jangan menjelaskan kerumitan hal2 itu, itu bisa dijelaskan di bab selanjutnya. ini supaya pembaca mudah tertarik dengan cerita sampeyan.

wah ko g bisa buka part 2nya

80

aku pengen punyak bantalnya :). Hm tapi iya sih pembukaannya rada bosenin kaya baca manual book. eh atau emang gitu modelnya? maaf-maaf saya jg baru belajar

klo kk pernah main game online jenis MMORPG pasti bakal ada penjelasan yang ngebosenin gitu

60

lil~
story'a ringan,, tp belum ditemukan adanya WOWfaktor untuk menikmati ki-sho-ten-ketsu di mari~
#ampoooni saia guruuu~
jempool buat komedi selama perkenalan sampe lv 10

60

ndak bisa klik "next" buat baca lebih lanjut, ,
saya nggk suka n ndak tertarik nonton SAO~
cuma liat eps 1 na langsung "drop"~
tp dr 1 episode itu,, di prolog cerita ini malah jd kentara SAO-nya
hunn~
#ampooooni saia master guruuu~

80

idem dengan arai, model cerita ini sudah sangat banyak dan kalo gak pandai2 membuat konflik akan terasa membosankan...
btw, aku kq gak bisa baca page 2 ya? tolong jangan dipilah2 gt lah, terusin aja sampe ke bawah

ok ok untuk bag 2 nanti saya nggak break

70

Bau-bau SAO :3
maaf yak, model game online gini emang bakal langsung disamaain sama itu LN/Anime.

Btw, Itu pembukaannya mbosenin, terlalu banyak karakter yang bikin saya sendiri susah nginget semuanya. Narasi berasa ada yang kurang.

poin plusnya, obrolan antar karakter enak dibaca :3