Rahasia Raisa

Tepat lima hari setelah pindahan sekolah Raisa, Mamah keluar dari pekerjaannya. Raisa kaget, tapi terus biasa saja. Raisa tahu Mamah tidak suka kerja kantoran. Dibalik bilik, seharian menatap layar komputer. Tiap hari kuping Raisa sakit mendengarkan Mamah mengomel. Hari ini nggak bisa duduk bener, lah. Hari ini nggak bisa menggaruk pantat, lah. Ya sudah, bagusnya memang Mamah keluar saja.

Tapi lalu, uang sekolah Raisa dibayar pakai apa? Daun?

"Minta Papa mu, lah."

"Papa?"

"Iya. Besok Mamah ke Semarang dulu, nagih uangnya. Udah 2 tahun si brengsek itu nggak kirim uang."

Raisa nggak tahu kalau dia punya Papa. Raisa juga nggak tahu kalau Papanya brengsek.

Setahu Raisa, Papanya sudah meninggal sewaktu Raisa masih kecil. Neneknya bilang kalau Papa meninggal karena kecelakaan pesawat. Mamahnya bilang karena kecelakaan kereta api. Tantenya bilang karena kecelakaan kapal. Raisa menunggu sampai ada yang bilang kecelakaan motor balap. Nggak ada. Padahal keren.

Raisa tidak peduli waktu itu, yang penting Papanya berstatus jelas: sudah meninggal. Tapi kok ini tiba-tiba saja ada kata-kata 'Papa' disebut-disebut? Apa Papanya bangkit dari kubur? Raisa menggeleng-gelengkan kepalanya, mengeluarkan semua pemikiran hasil hobinya menonton film horor Indonesia.

"Itu Papa yang mana, Mah?"

"Yang mana apanya?"

"Papa baru?"

Kepala Raisa ditoyor. Mamah segera pergi dengan kopernya. Mau ke Semarang 3 hari. Raisa ditinggal sendirian di kamar, menangis tersedu-sedu.

Raisa mencari bukti. Mengaduk-aduk lemari Mamah. Ketemu. Bukti bahwa Mamah bercerai dengan Papa. Dari tanggalnya, ketahuan sebulan setelah kelahiran Raisa dan empat bulan setelah pernikahan Mamahnya. Empat bulan? Raisa menangis lagi. Ternyata Raisa anak di luar nikah.

Besoknya Raisa pergi ke sekolah dengan mata bengkak. Kalau masih SD sih nggak apa-apa, paling juga cuma dikira karena nggak dibeliin mainan. Tapi Raisa sudah besar. Kelas XI SMA. Mau dikemanain muka Raisa? Ditutupin pakai selotip? Sayangnya selotip Raisa sudah habis.

"Kamu kenapa Sa? Biasanya semangat."

Raisa mendongak. Nana tersenyum lebar. Nana teman baru Raisa di sekolah baru. Teman? Mungkin karena dia satu-satunya yang doyan dekat-dekat Raisa. Tidak tahu kenapa. Padahal Raisa sudah niat nggak akan cari teman lagi seusai kasus pem-bully-annya di sekolah lama. Mungkin Nana tahu terus mau minta uang bungkam mulut?

Eh, Raisa lupa kalau nggak boleh berprasangka buruk. Kata Mamah nggak baik.

Eh, Raisa lupa kalau baru berantem sama Mamah.

Raisa melanjutkan prasangka buruknya.

"Nggak apa-apa."

"Baru ada masalah, ya? Cerita dong. Siapa tahu kamu bisa lega?"

Cewek ini memang sok tahu banget. Raisa yakin. Siapa sih yang baru ada masalah?!

Tapi Raisa nggak sekuat itu.

Jam istirahat hari itu akhirnya diisi dengan curhatan Raisa tentang Mamah dan sekolah lamanya sampai Nana batal ke kantin. Raisa bercerita panjang lebar sambil sesekali menahan tangis, melirik ekspresi Nana yang penuh iba.

Raisa suka dikasihani. Sedikit. Soalnya dengan begitu, ia nggak merasa begitu sedih lagi. Tiap orang kan punya cara sendiri-sendiri buat mengatasi sedih. Tapi cara ini bikin dia kehilangan harga diri. Raisa berdebat dengan dirinya sendiri.

Soalnya sebenarnya Raisa kurang nyaman kalau harus cerita soal masalah pribadinya sama orang lain, apalagi sama Nana. Nana yang masih baru di kehidupan Raisa. Dia takut ceritanya tidak menjadi rahasia lagi. Tapi melihat Nana yang seragamnya rapi, kelihatan rajin, dan punya jabatan ketua kelas membuat Raisa yakin tidak apa-apa. Rambutnya juga panjang. Soalnya kalau di sinetron, tokoh protagonis seringnya rambutnya panjang.

"Sabar ya, Sa. Semoga masalahmu sama Mamamu cepat selesai. Kalau ada yang bisa aku bantu, kamu ngomong aja."

"Iya, makasih ya, Na." Raisa memamerkan senyum termanisnya. Coba kalau Nana cowok, bisa sekalian pdkt.

"Terus sama yang temen-temen kamu itu, beneran?"

"Iya. Aku jadi ngerasa ngrepotin Mamah, bersikap kayak anak kecil, minta pindah sekolah cuma gara-gara itu.."

Nana mengelus pundak Raisa. Geli juga.

"Tapi sebel juga ya, sama temen-temen lama kamu. Segitunya. Apalagi sama cowok yang ndeketin kamu, tuh. Kok jahat banget, sih, suka pinjem-pinjem uang gitu. Dia matre kali, Sa."

"Nggak tahu juga, sih.."

Agak kejam juga cara omongnya Nana. Raisa nggak berani bilang Farras matre. Cuma mikir saja.

"Kamu deket sama cowok sehidup semati cuma dia, Sa?"

"Iya sih.. Ya nggak semati juga, Na. Kan aku belum mati.."

"Dia tipe yang nggak pantes dijadiin sahabat kali, Sa! Apalagi pacar."

Raisa manggut-manggut. Emang ada pantes enggaknya ya?

"Belajar cowok sama aku aja, Sa. Aku udah banyak pengalaman, lho."

Raisa bingung. Emang kayak gitu bisa dibanggain ya?

"Buktinya, cowokku yang sekarang baaaiiiiiik banget. Suka banget beliin aku ini itu bikinin aku ini itu. Dia juga ganteng, lho! Kita udah jadian lama banget, ini jadianku terlama. Dia.."

Tuhkan, ujung-ujungnya Nana cerita soal cowoknya. Ternyata Nana suka ngomong. Raisa nggak tahu. Padahal dia juga suka ngomong. Raisa daridulu berpikir kalau dia nggak cocok berteman dengan orang yang suka ngomong. Tapi buat Nana, nggak apa-apa lah. Udah terlanjur.

Pulang sekolah Raisa berjalan ke depan gerbang sekolah dengan Nana. Mereka mulai cocok. Raisa suka makan, Nana juga suka makan. Raisa suka bernafas, Nana juga suka bernafas. Tuh kan cocok. Sebenarnya Raisa cuma nyocok-nyocokin sih. Biar cocok. Biar Raisa punya alasan lagi untuk berteman.

Raisa pulang naik motor. Nana pulang dijemput pacarnya. Bahkan cara pulang mereka saja seharusnya nggak cocok.

"Ini pacarku, kenalin. Ini anak pindahan di kelasku, kenalin." Nana memperkenalkan cowok di sebelahnya.

Iya sih dia ganteng, iya sih dia mukanya muka orang baik, tapi...

Raisa menelan ludah.

"Raisa?"

"Farras?"

Raisa pingin gantung diri. Dia pulang memacu motornya dengan kecepatan tetap 60 km/jam. Raisa harus bunuh diri. Raisa membeli tali di warung. Tapi ternyata tali rafia tidak kuat, Raisa jatuh berkali-kali dari kursi.

Besoknya Raisa dapat hadiah. Julukan baru.

Anak Haram Perebut Pacar Orang

Raisa nggak mau temenan lagi. Raisa minta pindah sekolah lagi.

Read previous post:  
76
points
(616 words) posted by Addinta Bunga 5 years 40 weeks ago
76
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan
Read next post:  
Writer bayonet
bayonet at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)
70

ah.. ketebak. pasti farras lagi. kok lama2 ceritanya kayak pilem pepaya ya? kartun anak2 itu. isinya cuma pepaya, olip, ama brutus. haha :D

btw, yaa lumayan lah

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)
90

baku dan tidak baku tergantung isi dan penyampaiannya, kalau isinya bagus dan penyampaiannya komunikatif meski tidak baku dapat diterima...

Dan menurutku, isi dan penyampaiannya cerita ini sangat bagus...

Writer iman
iman at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)
80

Aku suka karakter menulis ini buat aku pengen belajar lebih teenlit lagi bravo....

Writer Addinta Bunga
Addinta Bunga at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)

ohya? padahal kurang baku hehe. ayo ayo belajar bersama xoxo makasih yaaaa :)

Writer Reborn Initial
Reborn Initial at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)
100

Hahaha.. tetep ayik meskipun bacanya kebalik, kalau bacanya ini duluan baru yang "Mimpi Buruk" rasanya bakal lebih seru. :D

Writer Addinta Bunga
Addinta Bunga at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)

wah terima kasih sudah menikmati karyaku xoxo

Writer aiyalalala
aiyalalala at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)
90

setuju dayeuh!
Sekalipun penulisan nya kurang baku, dan kurang mengikuti penulisan yang baik tapi ini bagus banget,,
Kocak! Dan gpp kok penulisan kayak gini, jadi lebih easy-to-read.. :D
Aku sih nangkep, Raisa pengen pindah sekolah tapi enggak bisa karena ga ada ijin dari orang tuanya.. Ceritanya bikin greget, jadi pembaca pengen sekali2 Raisa beruntung.
Kalo menurut gw sih, mending Raisa-nya selalu kena bencana terus, jadi makin greget yang baca XD cuma kalo keseringan kena bencana kasian juga, kasihlah Raisa ini sedikit kebahagiaan hahaha

anyway, keep the good job and your creativity!
*dua jempol*

Writer Addinta Bunga
Addinta Bunga at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)

Wah terima kasih lho, masak bagus banget? Ceritanya nggak aneh kan? Ini yang paling aku takutin >.<
Baguslah...jadi at least bisa dipahami hehe
Maunya sih gitu hehe :p
Thank you, you too!

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)
90

Kaget Raisa beneran pindah sekolah. Lagian di cerita sebelumnya saya enggak nangkep di-bully-nya sekejam apa sih, tahu2 aja Farras ngaku2 ngusir para bully dan minta duit (maaf, pembaca minim konsentrasi -_-V). Tapi saya suka gayamu loh X} Pahit-pahit menggelitik gitu. Saya tahu Raisa pedih sama hidupnya tapi kok ya pikiran2nya bikin ngakak. Ringan pula. Penulisannya memang kurang baku sih, tapi utk standar teenlit kayaknya bisa diterima. Saya juga suka sama karakter Farras, bikinlah supaya Raisa terus dan makin geregetan karenanya hehehe (sori Raisa, kkkk). Cuman saya kira Raisa enggak perlu pindah sekolah mulu lah. Daripada pindah2, gimana kalau dia coba bertahan dg situasi yang ada? Mestinya bisa dibikin seru.

Writer Addinta Bunga
Addinta Bunga at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)

Duh maaf kalau belum jelas, mungkin ntar aku terangin lagi :(
Wah makasih banyak kaaaak. Haha, aku sebenernya emang pengen bikin tokoh yang sial terus :p
Kalau boleh minta saran, kalau baku bahasanya bakal aneh nggak sih kak? Aku sempet ngobrak abrik jadi baku enggak baku enggak gitu, tapi kurang cocok. Kalau nggak baku gini bisa diterima nggak ya?
Nah itulah, tunggu next :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Rahasia Raisa (5 years 39 weeks ago)

Iya sih. Serba baku juga belum tentu enak. Kesannya malah jadi kaku. Toh ada juga novel yang bahasanya ga baku gitu tapi tetep bisa terbit. Contohnya Drop Out karangan Arry Risaf Arisandi (Gagasmedia). Bisa dipahami bahasanya gitu karena si narator ngakunya emang ga suka nulis, apalagi baca. Saya bayangin kalau bahasanya dibikin baku, jangan2 kelucuannya malah berkurang. Gayanya juga pahit2 menggelitik gitu x) Teenlit2 yang terbit juga bahasanya ga gitu baku. Asal rapi aja dan konsisten :)