Perempuan Gila

Now it makes sense. Segalanya tampak jelas.

Apa yang ada di kepala perempuan-perempuan "gila" itu tampak jelas.

Perempuan yang dianggap gila dan sadis oleh masyarakat. Perempuan yang membakar dirinya sendiri. Perempuan, seorang istri yang memotong alat kelamin suaminya. Perempuan, seorang ibu yang rela membunuh anaknya. Semua karena sebab suami.

 

Now it makes sense. Segalanya tampak jelas.

Karena aku berada di titik itu. Kegilaan yang tidak pernah hadir ketika aku sadar, muncul di permukaan. Seperti gelembung-gelembung lava yang mendidih di gunung-gunung berapi. Meletup-letup lah cortex otakku dengan kemarahan.

Kemarahan itu.

Ketika melihat sosok pria yang selama ini telah kupersembahkan sebagian besar waktuku untuk memikirkannya, memenuhi kebutuhannya…berdiri di hadapanku, memeluk perempuan lain yang tidak pernah kuketahui keberadaannya sebelumnya.

Aku ingin membunuh perempuan itu. Menghilangkannya dari muka bumi.

Aku ingin membunuh pria itu, suamiku, yang sekarang tampak sia-sialah semua pengorbananku atasnya.

Bahkan aku ingin membunuh anakku, karena suamiku sangat mencintainya, dan kematiannya akan sangat menyaktinya…dan akan sangat menghancurkanku juga. Buah hatiku, darah daging yang menghirup udara yang sama, berbagi detakjantung senada selama sembilan bulan lamanya. Kehancuran itu akan membuatku membunuh diriku juga pada akhirnya.

Now it makes sense. Segalanya tampak jelas.

Aku berada di titik nadir itu. Lemas kakiku, mati rasa, berdiri di tepi jurang yang batu-batunya mulai berjatuhan, bergemeletak bunyi maut.

Air mataku mengalir deras, tanpa aku harus terisak. Kepalaku kosong. Pikiran-pikiran gila itu berkelebat satu persatu. Berputar-putar dalam vorteks kelam.

Tanganku dingin. Jemariku memucat….

 

Jangan sampai lupa bernafas.

Aku pun menarik nafas.

Seolah elixir kehidupan mengaliri pembuluh darahku kembali.

 

Gila,

kataku, kepada diriku sendiri.

Gila.

Itu perbuatan gila.

Tampaknya otakku kembali bekerja, oksigen telah menari-nari di antara sel-sel kelabu dan putihnya. Cahaya masuk ke dalam retina mataku, yang memandang jauh ke depan, memandang diriku sendiri, jauh ke masa depan, diriku yang tampak seperti burung phoenix, yang lahir kembali dari abu.

 

It made sense, tapi hanya untuk semenit yang lalu, semua itu tampak masuk akal. Membunuh manusia lain, seolah Alloh tidak ada. Membunuh diriku sendiri, seolah hari perhitungan itu tidak ada.

 

Namun, Alloh itu ada. Hari perhitungan itu pasti.

 

Aku tidak akan membunuh siapapun, bahkan diriku sendiri, setidaknya untuk saat ini.

Aku melewati titik terendah hidupku.

Aku telah tumbuh dewasa.

Aku akan selalu ingat untuk bernafas tiap kali sesak melanda.

Tidak ada segala sesuatu yang sia-sia. Segala pengabdianku kepada suamiku tidaklah sia-sia. Dia akan dihitung  di hadapan Rabb-ku, di hadapan seluruh umat manusia. Pengkhianatannya pun begitu. Dia akan dipermalukan di depan Rabb pemberi rizki. Dia diizinkan untuk memiliki 4 permasuiri, tapi tidak pernah dibenarkan untuk berzina.

Aku tidak merugi.

Dia lah yang akan merugi.

 

Arang bisa menjadi intan setelah mendapat tekanan.

That s what i'm gonna be.

Aku tidak akan menangis, bergulung-gulung di hadapannya dan perempuan itu. Tidak. Ibuku akan malu. Ibuku tidak pernah mengajariku begitu. Ibu mengajarkanku untuk mengangkat dagu ketika cobaan melandaku.

That s what i'm gonna do.

 

Aku akan mengambil anakku.

Aku yang mengandungnya, bersusah payah sendirian, ketika pria itu entah kemana.

Aku akan bekerja lebih giat, lebih cemerlang.

Aku akan mencukupi diriku sendiri. Pernikahan yang dipertahankan hanya karena sang perempuan tidak dpt menghidupi dirinya sendiri, bukanlah pernikahan.

Aku akan mencinta, lebih lebih dari sebelumnya, kepada cinta sejati yang tak pernah hilang, Dzat yang aku bersendirian engannya di malam gelap.

 

Pria itu tak perlu tahu apa yang aku tahu.

Aku akan pergi tanpa dia sadari.

Aku tidak mengejar keadilan di dunia ini…karena itu semu, 

aku akan menunggu saat di mana namanya dipanggil di hadapan seluruh makhluk,

dan aku berdiri tanpa gagal sebagai saksi akan pengkhianatannya.

 

 

…dan sampai saat itu,

aku akan menelan semuanya dalam diam.

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Leonyta_Camelia
Leonyta_Camelia at Perempuan Gila (5 years 33 weeks ago)
100

Amanatnya tersampaikan dengan jelas, like it so much!
.
Keep writing!

Writer Amelia Kartika
Amelia Kartika at Perempuan Gila (5 years 38 weeks ago)
80

Bagus banget kak amanatnya tersampaikan jelas ngerasain sesek yang sama saat bacanya

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perempuan Gila (5 years 38 weeks ago)
2550

salut, amanatnya tersampaikan dengan baik...

aku hanya ingin membagikan apa yang berlarian di rute neuro...
dia akan membunuh suaminya, lalu anaknya agar suami yang telah dibunuhnya merasakan sakit karena ditinggal mati anak yang sangat dicintai...(lupakan kalimat tak berharga ini, dan terus menulis)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Perempuan Gila (5 years 39 weeks ago)
70

IMO, kalau bahasanya ga campur2 akan lebih baik lagi...

Writer Rantsrants
Rantsrants at Perempuan Gila (5 years 39 weeks ago)

terimakasih :) ini sedang berusaha merapikan bahasa indonesia yang tambah kacau. Masih sering hilang kata-kata, jaadi diisi apa yg terlintas saja.

Writer Wynfrith
Wynfrith at Perempuan Gila (5 years 39 weeks ago)
70

That feeling.. ;w; cukup tersampaikan rasa sakitny
Ada beberapa typo, dan sebaiknya kata-kata bhs inggrisny dibuat miring yah... *keep writing*

Writer Rantsrants
Rantsrants at Perempuan Gila (5 years 39 weeks ago)

siap!
edited :)