[Round 5] - Rexanne - Our Future

Sebuah bola berwarna hitam melayang keluar dari gerbang dimensi. Perlahan pecah menjadi partikel-partikel hitam dan membentuk tubuh manusia. Warna pekat itu kemudian berubah menjadi warna-warna lain, hingga akhirnya menampakkan sesosok gadis dengan rambut coklat dan pakaian serba putih.

Gadis itu tak kunjung membuka mata hingga beberapa menit. Bunyi-bunyi bising dan guncangan-guncangan membuatnya terbangun, dan ia mendapati dirinya berada di tempat asing. Penuh dengan barang dan kotak kayu dalam berbagai ukuran. Udara yang ia hirup terasa pengap, sedikit sesak dan berbagai macam bau aneh bercampur menjadi satu.

Gadis yang terbangun dalam keadaan duduk bersandar pada salah satu kotak kayu mengerang pelan dan memijit tengkuknya beberapa kali. Ia merasakan sedikit nyeri di kepala."Apa yang Si Hitam itu inginkan?"

Sesaat setelah pertarungan sebelumnya Blackz memusnahkan Haruo juga Hideya-tepatnya salinan dari entitas bernama Hideya gamer yang lolos dari permainan maut Arcanagram, dan salinan dari Haruo si pengendali api. Tampaknya Blackz sengaja tidak menghapus ingatan Rexanne yang berkaitan dengan kedua orang itu, sementara Altem dan Edward tampak melupakan mereka seakan tidak pernah ada.

"Aku sungguh tidak mengerti dengan isi otak orang-orangan hitam itu," ujarnya lirih dengan suara yang terdengar lelah."Apa ia sengaja tidak menghapus ingatanku sebagai intimidasi?" Gadis itu menyadari jika dirinya lemah dibanding Heretic maupun Hero-meski tidak mau mengakui, tetapi kenyataan telah terbentang di kedua matanya.

Rexanne bangkit, ia berpegangan pada salah satu kotak agar tidak oleng. Dari suara bising yang ia dengar dan dinding-dinding bagian dalam ruangan, gadis itu yakin jika ia berada di dalam sebuah kereta.

Di salah satu pintu tertulis dengan besar angka enam belas yang dibuat dengan cat berwarna merah darah."Jadi apa yang harus kulakukan? Menunggu Hero? Siapa targetku?" Rexanne mulai kesal dengan keadaan yang mulai penuh ketidakjelasan. Dimulai dengan teleport mendadak ketika ia sedang tidur, dan terbangun di tempat asing yang kemungkinan besar akan menjadi arena tanpa informasi jelas bagaimana peraturan dan targetnya.

Di sudut kanan atas dinding mendadak muncul penunjuk waktu digital berupa hitungan maju dalam menit dan detik. Rexanne mulai merasakan sensasi dingin menyergap tengkuk dan ulu hatinya terasa ngilu seketika saat memandangi detik waktu yang terus berjalan. Ia mendapat firasat buruk.

Gadis itu mendadak bersiaga saat muncul lengking suara lonceng yang diikuti munculnya sebuah layar biru tembus pandang di hadapannya. Deret tulisan terpampang memenuhi layar itu, Rexanne tampak mengerutkan alis. Ia membaca sebuah misi yang sedikit janggal.

'Jadilah satu-satunya orang yang bertahan di akhir.'

Keringat dingin mengaliri punggung dan kening Rexanne."Tidak ada target?" Tulisan itu kembali menjabarkan perihal waktu yang mendadak muncul yang merupakan timer untuk penghancuran gerbong. Kemudian foto-foto muncul pada tampilan layar, salah satunya adalah dirinya sendiri.

Di sana tertulis nama-nama peserta yang mengikuti pertarungan kali ini. Albiero, laki-laki mesum yang pernah ia temui di Petronas Tower. Entah bagaimana ia masih hidup meski seharusnya tidak mungkin orang itu akan selamat. Mahesa, pemanah dari Hero, adalah lawan pertama Rexanne. Selain itu muncul wajah gadis kecil berambut aqua yang tampak polos. Begitu pula foto tiga Heretic yang tersisa ikut terpampang, tanpa judul yang membawa nama Hero maupun Heretic.

"Sial!" Gadis itu memukul salah satu kotak kayu hingga berlubang."Sial! Sial! SIAL!" Kulit lengan kanannya robek akibat koyakan kayu, tetapi ia tidak peduli. Darah mengalir, merembesi ujung lengan jaketnya. "Sial! Setelah menggunakan kami, dia ingin kami saling membunuh?" Gadis itu marah. Ia berjalan menuju pintu, tidak peduli dengan tampilan yang masih memajang foto-foto mereka.

Gadis itu membuka pintu, ia melihat hamparan pasir gurun dari celah antar gerbong. Sengatan hawa panas khas gurun, terik matahari, sangat aneh dengan keberadaan rel kereta api di gurun. Rexanne menyimpulkan hanya Blackz atau Moon saja yang bisa membuat hal-hal dan perlakuan seaneh sekarang.

"Mereka pikir kami apa? Salinan? Hah! Sialan! Akan kupastikan untuk membunuh Si Hitam itu setelah keluar dari sini!" gerutu Rexanne sambil membuka pintu dengan kasar.

Gerbong yang diyakini bernomor lima belas itu juga merupakan gerbong barang, hanya saja sedikit menakutkan isi ruangan kali ini."Sial!" umpatnya lirih ketika melihat deretan kotak kayu berwarna coklat muda hingga tua yang berukuran sepanjang manusia.

Seisi gerbong itu mengangkut peti mati. Rexanne melirik salah satu peti mati yang tampak tidak wajar. Terbuat dari kotak kayu biasa, tidak diasah halus dan hanya berbentuk balok sederhana dengan tulisan R.I.P berwarna hitam dari tulisan tangan. Tetapi matanya tersita oleh peti mati lain bertuliskan nama laki-laki.

Aneh, tapi rasa ingin tahu yang lancang memaksanya untuk mengintip ke dalam peti. Perlahan ia mengintip ke dalam peti, dan mata coklatnya menangkap sosok mayat yang membuatnya nyaris menangis. Sosok pemuda dengan rambut coklat ikal, di bagian dadanya terluka, darah mengering pada kemeja putihnya.

"Ke-kenapa bisa berada di sini?" Tangan Rexanne yang gemetar terulur menyentuh wajah mayat itu. Ia ingin memastikan sosok itu nyata, bukan khayalan. Gadis itu merasa harus melakukannya.

Jari-jarinya bisa merasakan sensasi dingin dari kulit mayat yang mulai memucat itu. Apa yang disentuhnya terasa nyata, tidak mungkin kali ini ia berhalusinasi."Luke? Kenapa bisa ada di sini? Lalu saat itu? Siapakah yang menghilang?" Rexanne kembali teringat detik-detik pemusnahan entitas bernama Luke di depan matanya. Saat-saat itu terasa nyata, tapi mayat yang ada di hadapannya benar adalah Luke.

"Jadi aku terjebak pada dimensi apa? Kenapa banyak hal-hal membingungkan?"

*****

Blackz menyeringai ketika melihat ekspresi bingung dan sedih Rexanne yang tengah ditampilkan di sebuah layar tembus pandang berukuran besar."Master, kenapa ada Luke di sana?" tanya Xia yang tak kalah terkejut. Gadis itu yakin sekali jika salinan Luke telah dimusnahkan, dan seharusnya mayat itu tidak akan mungkin ada di sana.

"Xia, gurun itu memiliki 'waktu' tersendiri. Kau harus melihat apa yang akan terjadi di tiap gerbong,' ujar Blackz lengkap dengan seringai.

Link terlihat melirik sinis."Cengeng," ujarnya lirih saat melihat ekspresi Rexanne yang tampak hampir menangis.

*****

Rexanne menutup peti mati Luke."Maaf," katanya seraya berbalik pergi menuju gerbong selanjutnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, hanya saja ia bertekad untuk melanjutkan pertarungan hingga akhir meski tahu dirinya tak lebih dari sebuah salinan dari makhluk bernama Rexanne.

Kali ini bau busuk dan amis merebak bersamaan dengan dibukanya pintu gerbong empat belas. Gadis itu nyaris muntah ketika pertama kali menghirup udara tidak sedap. Tak hanya itu saja, ia melihat seisi gerbong sempit yang berisi deretan-deretan kursi dipenuhi dengan mayat-mayat busuk yang rata-rata telah mulai rusak.

Gadis itu memberanikan diri untuk melangkah di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan gerbong. Belatung dan lalat berpesta di atas mayat, darah busuk menggenang, hancuran daging berserakan di lantai. Ia bertanya-tanya dengan keadaan yang terhampar di hadapannya.

Mendadak ia mendengar lantunan lagu sedih. Suaranya terdengar parau, Rexanne hanya mengerti beberapa bagian yang menyebutkan kesedihan-ia tidak bisa menangkap seluruhnya dengan baik karena suara itu tidak lagi seperti suara gadis sebagaimana seharusnya.

Gadis berjaket itu mendekati arah suara, di kursi dekat jendela duduk seorang perempuan dengan rambut merah yang tampak kusut. Rambut panjangnya yang keriting terlihat kaku karena bercampur dengan darah yang telah mengering. Di lengannya terbaring mayat laki-laki yang ia kenali sebagai Hero bernama Ferrum-meski jasadnya telah membusuk bahkan sebagian kepala mulai memperlihatkan tengkoraknya tapi Rexanne yakin itu adalah Ferrum. Betapa tidak mungkin ia akan melupakan sosok yang pernah membunuhnya sekali, sedangkan gadis berpenampilan kacau itu tak lain adalah Belle. Gadis naif yang dibunuhnya beberapa saat yang lalu kemudian kembali hidup meski berpenampilan berantakan. Tubuh kurus kering, kulit penuh bercak darah dan belatung, kelopak mata hitam karena ia menangis terus menerus.

Pada suatu kesempatan mata merah gadis itu mendadak menatapnya tajam, membeliak seakan marah dan benci. Tubuh kurus Belle tidak bergerak, bibir yang pernah merekah indah itu tidak berucap, tapi Rexanne yakin jika gadis itu menyerapah dan mengutukinya.

Rexanne terperanjat karena tatapan penuh kebencian yang mengunci pandangannya. Paduan suara bukan manusia mulai dilagukan bersamaan dengan derak bunyi kursi yang berkarat. Bulu kuduk Rexanne meremang bersamaan dengan dingin yang menyergap tubuhnya. Gadis itu pucat pasi saat menoleh karena mayat-mayat tidak lagi berada pada tempatnya. Berdiri menenteng kepala, merayap mendekat dan beberapa berjalan gontai.

Gadis itu merasa terjebak dalam situasi horor layaknya di film yang pernah ia saksikan. Meski ia pernah berhadapan dengan alien yang lebih kejam dan menakutkan, tetapi kali ini berbeda. Mayat-mayat yang sebagian besar ia kenal sebagai Hero dan Heretic mendekat dengan tubuh hancur mereka. Rexanne berjalan mundur dengan perlahan ke arah pintu selanjutnya sambil mengamati sekeliling. Sepasang sayapnya mengembang, ekor tajam meliuk siaga dan kedua mata coklat itu mengawasi tiap gerak-gerik kawanan mayat hidup itu. Alien dengan zombie jelas dua hal yang berbeda tingkat kengeriannya.

Belle bangkit dari posisi duduk, menatap lekat gadis yang bersiaga itu. Lengan kurusnya menarik pisau daging berkarat yang telah bergerigi di bagian mata pisau. Rexanne menyadari gerakan gadis keriting itu. Saat Belle menerjang, kawanan mayat hidup turut melakukan serbuan secara bersamaan.

Gadis berpenampilan serba putih itu berdiri terpaku, tubuhnya tidak mau bereaksi. Perasaan takut yang belum pernah ia rasakan dan pemandangan layaknya neraka yang ia alami untuk pertama kali berdampak tidak baik. Sesaat sebelum pisau berkarat nyaris membelah bahu Rexanne salah satu mayat yang terlihat seperti laki-laki menahan pergelangan tangan Belle.

Ketika Rexanne mengamati mayat yang telah menolongnya ia mengenalinya sebagai Nolan. Pria berkaca mata yang baik, gadis itu pernah tidak sengaja bertemu di dalam lift Petronas Tower.

Mayat Nolan itu menatapnya lalu menyunggingkan sebuah senyuman-meski mulutnya tak lagi utuh tapi Rexanne mengenali gerakan itu sebagai senyuman. Gadis itu berlari keluar gerbong. Raungan bukan manusia dan jeritan marah Belle terdengar hingga menembus pintu di balik punggungnya.

Ia bersyukur Nolan menyelamatkannya meski tidak sekalipun mengenal atau berbicara pada pria itu. Rexanne mengumpat dalam hati melihat tangannya yang masih gemetar dan keringat dingin di sekujur tubuhnya."Aku memalukan sekali."

*****

Xia tampak bergidik jijik melihat pemandangan mayat-mayat hidup yang terlihat mengerumuni Rexanne beberapa saat lalu."Master, bagaimana itu bisa terjadi? Maksudku bukankah mereka hanya salinan, dan kemungkinan Moon juga melakukan hal yang sama seperti kita. Lalu kenapa wujud mereka seperti itu?"

"Gurun itu disebut Padang Pasir Waktu. Kereta itu mengalami berbagai kejadian di tiap-tiap masa. Jika perkiraanku benar maka masing-masing salinan akan bertemu dengan orang-orang yang pernah ia kenal atau temui dalam berbagai masa. Hanya saja masa depan bisa berubah, tidak semua hal-hal yang mereka temui akan menjadi kenyataan. Pasti ada suatu kejadian di suatu masa di mana mayat-mayat itu bergerak dengan sendirinya."

"Apakah itu tergantung bagaimana mereka mengambil keputusan?" sahut Link.

"Ya. Bagaimana mereka memilih takdirnya sendiri, dan dengan siapa mereka bertemu di masa depan. Lagipula takdir yang ditunjukkan di dalam kereta itu berhimpitan dengan takdir entitas asli mereka," gumam Blackz."Tidak semua akan menjadi masa depan salinan itu. Lagipula mereka tidak akan memiliki masa depan setelah aku mendapatkan Golden Realm."

*****

Setelah menarik napas panjang dan menguatkan diri ia melangkah ke gerbong berikutnya. Tidak jauh berbeda dari gerbong sebelumnya, hanya saja kali ini diisi oleh makhluk hidup-meski juga tampak beberapa mayat yang sepertinya masih baru.

Saat memasuki gerbong baru beberapa orang yang berkerumun di pojok-tampak berdesak-desakan dan ketakutan, memandangi ke arahnya. Bahkan seorang wanita tua berusaha mencegahnya agar tidak terus berjalan dan ikut bersembunyi bersama mereka.

"Anak muda, bersembunyilah. Di sana ada seorang perempuan gila yang tiba-tiba mengamuk," ujar wanita tua itu sambil menggenggam tangan Rexanne."Dia tiba-tiba membunuhi orang-orang dan terus tertawa, padahal beberapa saat sebelumnya ia gadis manis."

Suara tertawa cekikikan dan suara denting senjata tajam, saat Rexanne menajamkan pandangannya ke salah satu bangku di sana ada seorang gadis dengan rambut ungu yang hendak menggorok leher seorang laki-laki dengan sebilah pisau.

Sebelah mata Rexanne berubah menjadi biru layaknya langit di siang hari, jajaran tulisan dalam bahasa kuno Livia menghiasi di sebelah matanya. Tangan kanannya menembakkan rentetan peluru Desert Eagle ke arah gadis itu dengan ketepatan tertingginya, precision.

Gadis dengan rambut ungu itu menangkis dan menghindar dengan sempurna, meski tidak berhasil membunuhnya setidaknya laki-laki itu tidak jadi terbunuh. Orang gila yang mereka maksud tak lain adalah Qillya, kepribadian lain dari Hillya. Qillya melompat masuk ke dalam sebuah celah dimensi yang biasa disebut Scabbard lalu menghilang.

Rexanne menggunakan kesempatan itu untuk menghampiri laki-laki yang ia selamatkan tadi."Kenapa ada di sini?" tanyanya dengan nada tinggi."Bukankah ini arena untuk pertarungan kelima? Apa yang kau lakukan dengan Perempuan Gila itu?"

Sosok itu hanya diam dan bangkit dari bangku di mana ia tadi dibaringkan paksa untuk digorok Qillya. Laki-laki itu memungut salah satu pisau yang memiliki ukuran lebih besar daripada umumnya.

"Hei! Tidak bisakah menjawab orang yang sudah menyelamatkanmu?" bentak Rexanne kesal sambil menghampiri sosok tinggi bertopeng itu."Hei!"

Secara tiba-tiba laki-laki bertopeng dengan ornamen mata itu menarik lengan Rexanne hingga tampak seperti sedang menariknya ke dalam pelukan. Namun yang tengah dilakukannya adalah menyelamatkan gadis itu dari serangan mendadak Qillya yang muncul dari celah dimensi di belakang Rexanne.

Rexanne sadar dan segera berbalik lalu menembakkan rentetan peluru ke arah Qillya. Gadis gila itu memperpendek jarak dengan menerjang langsung ke arah Rexanne. Keduanya terlibat pertarungan jarak dekat dengan pedang.

"Topeng Mesum duduklah dengan diam saja! Dia ini bagianku! Aku akan membunuhmu jika merebut buruanku!" Gadis itu bohong mengenai akan membunuh laki-laki itu, tentu saja ia tidak akan bisa melakukannya pada orang yang selalu mengisi pikirannya.

Laki-laki itu duduk di salah satu bangku yang tampak sempit untuk ukuran tubuhnya yang tinggi. Ia diam dan hanya mengawasi, membiarkan gadis itu melakukan apa yang ingin ia lakukan.

*****

Rexanne menembaki Qilya yang terus menghindar dari serangan sambil tertawa maniak."Sial! Kenapa Bocah Gila ini lincah sekali!" umpatnya seraya menembakkan Desert Eagle ke arah gadis yang tengah melompat lincah di bangku-bangku.

Qilya bersalto di udara setelah menggunakan salah satu bangku sebagai tolakan, disusul dengan luncuran tubuhnya yang bersumber dari rantai di pergelangan tangan, terhubung dengan gagang sebelah pedang yang memang belum ia keluarkan. Kakinya berusaha menendang Rexanne dari belakang, namun gadis dengan twin tail itu menyadarinya dan segera menggunakan pedang untuk menahan tendangan.

Gadis mungil itu bersalto ke belakang dengan menjejakkan kaki pada pedang Rexanne, dan menyabetkan RAM blade yang berpendar kemerahan. Hawa panas menyelimuti pedang kemerahan di tangan Qilya. Gadis Heretic itu terdorong mundur dan menabrak salah satu bangku.

Qilya tampak menarik pedang lain dari dalam Scabbard yang merupakan dimensi di mana pedangnya tersimpan. Pedang tumpul itu berpendar dengan warna yang berbeda. Pendar kuning, diikuti dengan pergerakan mendadak yang mengejutkan. Dalam sedetik gadis rambut ungu itu telah berada di depan Rexanne.

Gadis berjaket putih itu beruntung karena refleksnya berhasil menyelamatkannya dari pedang tumpul beraura panas yang persis di depan wajahnya sekarang. Ekornya berusaha menghujam perut Qilya, sayang gadis mungil nan gila itu berhasil melompat mundur.

Rexanne mengamati lawannya dengan seksama, dan matanya tertuju pada pedang yang berpendar kuning di tangan kiri Qilya. Gadis itu merasa harus membuat lawannya menjatuhkan pedang itu, karena sejak menggunakan pedang itu kecepatan lawannya menjadi mengerikan.

Qilya terkekeh, tawanya mengeras diikuti dengan RAM blade berwarna merah yang dilemparkan ke arah Rexanne. Gadis mungil itu mengatur laju pedangnya dengan rantai yang terhubung pada gelang putih di pergelangan tangan.

Rexanne menangkis sambil menahan sengat panas dari aura pedang yang menyerangnya berkali-kali. Dalam suatu kesempatan alih-alih ia menangkis, gadis itu merunduk lalu mengubah pedang di tangannya dengan sepasang Desert Eagle. Ia menembakkannya ke bahu dan lengan Qilya hingga pedang di tangan kirinya terjatuh dan kehilangan pendaran.

Darah mengalir turun sepanjang lengan gadis mungil berambut ungu itu. Ia tertawa dan terus tertawa hingga akhirnya meneriakkan sesuatu," Flame-red!" Sebuah kepala elang berwarna merah ketika Qilya menyabetkan pedang tumpulnya.

Rexanne menggindari serangan itu dengan sempurna, ia semakin waspada ketika merasakan panas menyengat yang sempat dirasakannya selama sesaat. Gadis itu mengindar dari serangan kedua dengan menggeser tubuhnya sedikit ke samping, sambil menembakkan Desert Eagle di tangan kiri. Qilya menghindari peluru-peluru yang mengincarnya sambil melanjutkan serangan berikutnya.

Rexanne sempat melirik ke arah di mana serangan Qilya menghantam, besi-besi terlihat mengarang dan mayat-mayat menjadi gosong."Ini tidak baik," keluhnya lirih. Ia menggunakan precision, sebelah matanya berubah menjadi biru disertai dengan tulisan yang seperti simbol-simbol di samping mata.

Ia menarget bahu Qilya, namun mendadak gadis mungil itu berpindah dengan sangat cepat. Ketika muncul pedang di tangan lawannya telah berubah menjadi warna kuning, dan menghajar wajahnya dengan telak. Rexanne tersungkur dengan bibir terluka. Sekilas ia melihat sekelebat warna kuning di tempat di mana Qilya pernah berada, dan mendadak lawannya telah mengayunkan pedang tepat dari atas. Rexanne mematerialisasi sebuah pedang yang langsung beradu dengan RAM blade.

Sosok berambut ungu itu terkekeh dengan senyuman lebar namun gigi merapat, memberi kesan horor dan gila. Rexanne menendang gadis itu hingga tampak seperti terjungkal ke belakang- sebenarnya Qilya hanya terdorong ke belakang namun ia segera melesat untuk kembali menyerang.

Kekehan dan denting pedang. Rexanne hanya bisa menyerapah dalam hati, dan berharap mendapatkan saat yang tepat untuk membidik kekosongan pertahanan Qilya-tapi tidak dengan keadaan seperti sekarang.

Qilya berhasil menendang Rexanne dengan telak dan membuat kepalanya terluka akibat berbenturan dengan bangku. Gadis itu menelengkan kepala dengan tawa yang mengeras, membuat Rexanne semakin kesal.

"Sial! Kalau begini aku sudah tidak peduli dengan mereka!" Rexanne menembakkan sepasang Desert Eagle yang baru saja termaterialisasi. Tembakannya berkejaran dengan gerak hindaran Qilya yang nyaris tak terlihat. Peluru liar menyambar-nyambar di dalam gerbong. Beberapa penumpang terkena peluru nyasar, mereka hanya bisa berdoa agar pertarungan itu cepat berakhir dan demi keselamatan diri sendiri.

Rexanne menembak dengan mengandalkan intuisi dan sedikit bantuan dari precision, ia tidak berhasil mendapatkan bidikan bersih atas lawannya. Qilya bergerak terlalu cepat. Precision akan segera memasuki akhir dari efek, bahkan gadis itu tidak bisa memberikan serangan telak-ia yakin Qilya terluka, terbukti dengan adanya bercak darah di beberapa tempat yang diyakini bukan miliknya.

Gadis dengan twin tail itu mengakhiri efek precision dan menutup kedua mata. Memposisikan diri tanpa pertahanan, bahkan tidak menggenggam senjata apapun.

Qilya mengamati lawannya yang tidak bergerak dan meniadakan pertahanan. Beberapa kali terkekeh kemudian memutuskan untuk berhenti dan menyudahi aura kuning yang ia gunakan pada pedangnya."Flame-red!" serunya sambil menembakkan serangan merah menyala berbentuk kepala elang.

Rexanne membuka kedua matanya secara mendadak, ia merunduk dan membiarkan serangan itu melewati atas kepalanya sementara dua buah Desert Eagle hitam termaterialisasi di kedua tangannya. Gadis itu menembakkan kedua senjatanya sekali, peluru pertama menembus dada Qilya dan yang kedua berhasil melubangi kepalanya.

Hero itu ambruk ke belakang dengan nyawa yang telah melayang, matanya masih dalam keadaan terbelalak. Rexanne jatuh berlutut, merasa lega sekaligus lelah. Belum sempat merasa lega, is merasakan goncangan bersamaan dengan bunyi ledakan. Penumpang menjadi panik, menjerit dan menangis. Di tengah-tengah kepanikan itu ia mencari sosok bertopeng yang sudah menghilang entah sejak kapan.

Gadis itu berusaha bangkit dengan susah payah hingga akhirnya sebuah lengan membantunya. Wajah Rexanne memerah saat melihat pemilik lengan yang tengah memapahnya."A-aku bisa melakukannya sendiri!" Orang itu tidak peduli dan terus membantunya berjalan hingga keluar dari gerbong.

*****

"Papa," kata seorang gadis sambil memandangi laki-laki yang duduk di belakangnya."Kalau ini kugoyang-goyangkan apa mereka akan pusing?" tanyanya polos sambil menunjuk pada jam pasir di meja.

Laki-laki itu tertawa,"Clive, sebaiknya jangan. Bagaimana kalau nanti terjadi gempa?"

"Benarkah?" tanyanya ragu. Tatapan mata bulatnya berpindah pada salah satu LCD super besar di ruangan tempat mereka berada."Padahal di sana terlihat sangat nyata," gumamnya kemudian kembali memandangi jam pasir di dekatnya."Bagaimana bisa ya? Padahal sekecil ini." Ia memandang dengan penasaran jam pasir berpergerakan aneh itu-lazimnya pasir jam akan turun, namun kali ini pasir di dalam tampak berputar, ada arus naik juga turun sementara di tabung kaca bagian bawah tampak kereta api yang tengah berjalan.

*****

"Wah, nampaknya ada salinan yang seenaknya memasuki arena," gumam Link, sementara Blackz hanya tampak menyunggingkan seringai putihnya.

"He?" Xia tampak bingung. Ia menatap Link seakan menagih sebuah penjelasan.

"Masih belum sadar?" ledek Link."Mereka terjebak dalam ilusi waktu, di dalam kereta di mana masing-masing gerbong memiliki ilusi yang berbeda."

"Aku tidak sedang ingin bermain tebak-tebakan," kata Xia kesal karena dibuat semakin pusing.

"Dasar perempuan!" gerutu Link."Ilusi itu tidak akan bisa keluar dari gerbong. Contoh yang paling jelas adalah kumpulan mayat hidup itu, jika mereka memang nyata maka mereka seharusnya bisa menyerang Rexanne yang baru saja keluar."

"Kesimpulannya?" tanya Xia dengan nada tinggi.

"Kau buta?" balas Link dengan nada tak kalah tinggi.

"Xia, bukankah beberapa saat lalu sudah kukatakan mengenai waktu yang berbeda di tiap gerbong? Memang itu adalah orang-orang dengan keadaan dari berbagai masa dari entitas yang bersangkutan. Anggap saja itu adalah ilusi yang membentuk orang-orang dengan keadaan di berbagai masa, dan menempatkannya di dalam kereta. Dan ilusi itu tidak akan bisa meninggalkan gerbong."

"Oh." Xia hanya mengangguk meski tidak sepenuhnya jelas.

*****

Rexanne duduk bersandar di pintu sisi luar gerbong tiga belas. Mengatur napas dan berusaha menghilangkan kelelahannya. Ia mulai melirik laki-laki yang tampak mengamati gurun dari celah antar gerbong.

"Hei, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyanya memecah kebisuan di antara mereka. Orang itu hanya diam seperti biasa."Hei!" tegurnya agar orang itu berpaling.

Orang misterius itu berpaling secara mendadak dan menatap Rexanne-meski tidak terlihat ke mana arah pandangnya, tetapi gadis itu yakin ia sedang di tatap. Wajah gadis itu memerah, kemudian segera bangkit."A-aku malas berbicara denganmu! Seperti sedang berbicara dengan tembok!" ucapnya ketus lalu membuka pintu gerbong berikutnya. Wajahnya masih memerah, dan jantungnya berdegup meski sudah berusaha menenangkan diri.

Ia membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kasar."Dasar!" umpatnya lirih. Kepalanya masih mengingat sosok tinggi di sebelahnya beberapa saat lalu.

Kali ini Rexanne kembali dikejutkan dengan suara teriakan pria dan ledakan senjata api. Nampaknya di gerbang manapun ia disambut dengan kekacauan dan gelimpangan mayat. Gadis itu merutuk dalam hati. Padahal gerbong kali ini terlihat lebih mewah dan jauh lebih nyaman dari pada sebelumnya, dan melihat dari jumlah korban yang tampaknya adalah kumpulan body guard dan seorang pria penting maka orang itu pasti berprofesi semacam pembunuh bayaran atau sejenianya. Tetapi ia sedikit ragu dengan kesimpulannya melihat sosok yang begitu muda.

Sesosok gadis dengan rambut berwarna kelabu baru saja membunuh pria dengan sebilah pisau di tangannya. Mata coklatnya bertemu dengan Rexanne, dan gadis Heretic itu merasakan perasaan aneh.

Perasaan yang tak dapat digambarkan itu menghilang seketika saat gadis asing itu mendadak muncul dan melancarkan tendangan langsung ke arahnya. Rexanne begitu terkejut dan hanya sempat menahan serangan itu dengan lengan.

Gadis rambut kelabu itu menatap Rexanne tajam dan jelas berniat untuk membunuh. Tiap gerakan dan serangan begitu efektif, nampak terlatih meski gadis itu terlihat begitu belia.

Rexanne merasa bahwa gadis itu mirip seseorang yang ia kenal, hanya saja ia tidak berhasil mengingatnya.

Gadis rambut coklat itu terus menghindar alih-alih menyerang balik. Dalam suatu waktu pertahanan Rexanne bercelah, gadis asing itu berjongkok dengan sebelah kaki sementara kaki lainnya melakukan sapuan. Tubuh Rexanne jatuh menghantam lantai, gadis asing itu melompat ke atas tubuh lawannya seraya mengangkat tinggi lengan kanan yang menggenggam sebilah pisau.

Alangkah terkejutnya gadis belia itu saat Rexanne menodongkan sepasang Desert Eagle secara instan. Mata coklatnya membelalak, lengan kiri berkuku tajamnya mencengkeram tangan kanan Rexanne.

Dalam beberapa detik keduanya membeku, setiap detiknya gadis itu menghamburkan banyak pertanyaan di kepalanya."Mama?" gumamnya lirih sambil mengamati dengan seksama sosok perempuan di hadapannya.

Rexanne mengerutkan alis, entah mengapa kedua telunjuknya tidak kuasa untuk menarik trigger meski kesempatan terbuka lebar. Sosok gadis yang itu memang terasa mirip dirinya, tetapi ia meragukan panggilan terhadap dirinya itu.

Gadis itu melenyapkan pisau militer berukuran besar dalam sekejap, begitu pula dengan cakar di tangan kirinya. Hal paling mengejutkan adalah ketika gadis itu merebahkan tubuhnya untuk memeluk Rexanne. Erat dan penuh kerinduan. Meski enggan akhirnya Rexanne membalas pelukan gadis itu.

*****

Setelah menceritakan tentang dirinya, gadis muda yang menyebut dirinya K (baca: Kei) kembali memeluk erat Rexanne. Gadis Heretic itu tampak bingung dan sangat amat tidak bisa mempercayai jika orang yang mendekapnya sekarang adalah anak kandungnya di masa depan. Wajahnya berubah menjadi super merah, ia hanya bisa mengira-ngira laki-laki yang pernah ada di faksi Heretic sebagai kandidat yang memungkinkan sebagai pasangannya di masa depan-karena hanya sebagai salinan ia hanya bisa mencurigai orang-orang di sekitarnya yang tak lain juga sebagai salinan.

Lima menit hingga lima belas menit, Rexanne termenung dengan wajah merah kemudian diakhiri dengan jeritan histeris. Tidak satupun Heretic yang ia kenal cocok dengan ciri-ciri fisik K, kecuali seseorang yang mulai terlupakan."TIDAK MUNGKIN DIA KAN?" gadis itu berteriak seraya melepaskan pelukan K."SIAPAPUN ASAL JANGAN DIA!" Wajah merah Rexanne tak kunjung memudar, bahkan badai rasa malu makin mengganas dalam dirinya."JANGAN KATAKAN KALAU DIA AYAHMU!" teriaknya pada K.

"Dia?" tanya gadis berumur dua belas tahun itu bingung.

Rexanne menatapi gadis itu sejenak. Menganalisa sifat dan gerak-gerik K selama beberapa saat lalu, kemudian kembali berteriak histeris tanpa sebab. K hanya mengamati kelakuan aneh mamanya yang semakin aneh dalam diam.

Gadis itu makin berdebar tiap kali memikirkan kemungkinan 'orang itu' adalah pasangannya, debar jantung membuat kepalanya makin berdenyut dan darah mengalir makin deras dari luka di kepalanya. Rexanne mulai merasa berkunang-kunang setelahnya dan pandangannya mulai memutih lalu jatuh pingsan.

*****

Link dan Xia memandangi layar dengan wajah aneh seraya berkata nyaris bersamaan,"anak?"

Blackz hanya menyeringai-kalaupun ia memajukan bibirnya agar terlihat imut saat sedang bingung, maka hal itu malah akan membuatnya makin seram, jadi biarkan dia tetap dengan seringai (agar makin pas, bagaimana dengan menambahkan sebuah sweat drop?)."Tapi tidak semua masa depan akan menjadi kenyataan. Hanya saja, ini sungguh sebuah kejutan," gumam Blackz dengan suara sok berwibawa.

Xia mengamati K lekat-lekat."Benar-benar mirip dengan Rexanne ya." Mendadak beberapa detik kemudian layar yang tengah mereka pandangi berubah menjadi kacau lalu menjelma menjadi barisan pasukan semut hitam- putih."Ada apa ini?" protes Xia.

"Gangguan koneksi," canda Link seraya terkekeh.

"Hei!" seru Xia marah.

"Kalau begitu RTO!" balas Link.

"Jangan mencemooh Master!"

"Memangnya kau tahu apa itu RTO?" Kali ini Link membuat Xia terdiam karena ia tidak mengerti apa itu RTO.

Blackz terlihat dipenuhi dengan urat yang sudah menyembul di beberapa tempat di kepalanya yang hitam-seluruh tubuhnya memang hitam kecuali seringaiannya, jika seringainya juga hitam maka tidak akan seru karena hanya akan menarasikan makhluk hitam meliuk-liuk tanpa ekspresi wajah."Mana bukanlah internet," katanya geram.

Ketegangan mengendur setelah tampilan layar kembali. Kali ini Xia menjadi kaget karena K tidak ada di manapun, begitu pula dengan situasi di dalam gerbong yang sudah berbeda."Eh? Sejak kapan?"

*****

Saat Rexanne terbangun ia mendapati situasi yang berbeda. Tidak ada mayat ataupun darah, lagipula keheningan memberikan rasa tenang dan damai. Gadis itu memandangi sebuah jaket pria berwarna hitam menyelimuti tubuhnya, saat itu matanya bertemu dengan seorang laki-laki asing yang duduk tidak jauh dari sana.

"Milikmu?" tanya Rexanne sambil menyodorkan jaket hitam yang sangat kebesaran jika ia kenakan. Orang itu mengangguk dan menerima jaket itu."Terima kasih." Rexanne bangkit, saat berjalan melewati laki-laki itu mata mereka bertemu selama beberapa detik.

Mendadak orang itu menarik Rexanne dengan sebuah tarikan kuat hingga terjatuh ke dalam pelukannya. Gadis itu meronta namun tidak menggunakan seluruh kekuatannya, ia tahu tidak boleh dan tidak bisa menyakiti orang itu.

"Lepaskan! Aku tidak mengenalmu!" teriak Rexanne.

Laki-laki itu menatapnya dalam dengan mata birunya, gadis itu terdiam. Beberapa detik dalam keheningan, saling memandang di mana pikiran mereka bernostalgia akan kenangan satu sama lain yang ada pada diri masing-masing. Sebuah ciuman mengembalikan ingatan Rexanne akan seseorang. Rasa yang sama dan dia adalah orang itu.

"Ka-kau, bagaimana bisa?" wajahnya memerah karena mengenali orang itu hanya dari sebuah ciuman.

Orang itu menarik telapak tangan Rexanne dan menuliskan sesuatu denga telunjuknya,'berjuanglah, dan jangan mati.'

"Memangnya siapa yang mau mati!" teriak Rexanne kesal bercampur malu.

Laki-laki itu mengecup kening Rexanne sekali, lalu memeluknya.'Saat semua selesai, aku akan menemuimu,' katanya melalui tulisan dengan jari di punggung gadis itu.

"Awas saja kalau kau mati sebum saat itu!" ancam Rexanne seraya melepaskan diri."Ikutlah denganku."

'Tidak sekarang, dan bukan aku melainkan dia.'

"Dia?" Rexanne bingung.

'Kau mengetahuinya.' Laki-laki itu membimbing Rexanne hingga menuju pintu.'Dia yang akan menemuimu jika saatnya tiba.' Tangannya yang besar mengusap punggung Rexanne sekali lalu menepuknya agar berjalan, seakan berkata untuk melanjutkan perjalanan.

Rexanne melangkah keluar, matanya masih terpaku pada mata biru itu. Saat lengannya membuka pintu gerbong selanjutnya, ia masih menatapi sosok itu seakan tidak rela untuk meninggalkannya.

Namun waktu berkata lain, sesuai dengan peraturan gerbong itu meledak. Gadis itu terdorong masuk ke dalam gerbong sebelas. Matanya sempat melihat sosok laki-laki itu menghilang layaknya ilusi saat ledakan terjadi. Rexanne mengerang karena tubuhnya menghantam sebuah meja yang lumayan besar. Gerbong itu adalah gerbong restoran.

Ia berlutut untuk mengumpulkan tenaga dan berusaha meredakan nyeri juga perasaan campur aduk ketika harus berpisah dengan cara seperti itu dengan laki-laki tadi. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, banyak makanan dan minuman yang tidak terselesaikan. Yang paling menyita perhatiannya adalah sebuah meja yang dipenuhi kertas berisi coretan diagram sihir."Ed?"

Rexanne berubah menjadi siaga. Ia tidak ingin berhadapan dengan Edward, tapi belum tentu penyihir itu akan berpikir hal yang sama.

Ia mematerialisasi sebuah Desert Eagle dan mengecek seluruh tempat, kosong. Tidak ada seorangpun selain dirinya. Rexanne memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, hanya saja ada sesuatu yang mengganggunya di luar sana ketika keret berbelok. Ia melihat sosok laki-laki yang pernah menjadi lawannya di Petronas Tower beberapa saat lalu sedang bertarung dengan Ed.

Gadis itu menghancurkan jendela yang paling dekat dengannya dan menarik sebuah meja. Dari celah hancuran jendela ia membidik laki-laki mesum itu dengan AS50."Untukmu yang sangat mesum, kuberikan timah panas kaliber 50," gumamnya sambil meletakkan telunjuk pada trigger dan mengintip dari balik scope.

Tembakan pertama meleset, dan hanya berhasil menyerempet bahu Albiero karena menghindari serangan dari Ed."Sial! Kepala Korek itu mengganggu!" umpatnya untuk Ed.

Gadis itu kembali membidik Albiero, tetapi sekilas ia merasa diawasi seseorang. Perasaannya benar, Mahesa tengah meluncurkan panahnya dari gerbong dua."Sial!" Rexanne merunduk untuk menghindari anak panah itu, sayangnya ia tidak menyadari jika akan terjadi ledakan setelahnya.

Rexanne nyaris pingsan karena benturan di kepala, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Setelah yakin kesadarannya telah stabil ia kembali membidik, hanya saja targetnya berubah. Gadis itu mengincar saat di mana kereta akan berbelok secara tajam di beberapa meter ke depan.

"Kali ini akan kuselesaikan urusan denganmu, Bocah." Rexanne mulai mengambil posisi dan menghitung mundur. Tampaknya Manusia Awarta itu juga akan melakukan hal yang sama.

Keduanya menahan napas sejenak sesaat sebelum menembak, dan beberapa detik kemudian saling mengerang nyaris bersamaan. Panah Mahesa menggores bahunya, sementara peluru berhasil bersarang di bahu laki-laki itu.

Tidak ada kelokan rel selama sejauh mata memandang, itu berarti ia harus mendatangi orang itu. Rexanne meninggalkan gerbong sebelas dan menuju gerbong berikutnya. Kali ini tidak ada pertumpahan darah ataupun mayat, yang ada hanyalah suasana bahagia.

Dua orang gadis kecil berlarian di dalam gerbong, dan bocah terdepan menubruk Rexanne karena tidak memperhatikan jalan. Gadis itu membantu bocah yang terjatuh untuk bangun, dan ia sangat terkejut saat melihat wajahnya.

"Ka-kau...." Wajah bocah itu sangat mirip dengannya.

Keterkejutan Rexanne semakin bertambah ketika seorang wanita berjalan mendekatinya."Ren, sudah mama katakan untuk jangan berlarian kan?" tegur wanita itu pada putrinya yang sempat terjatuh."Maafkan putriku, dia sangat hiperaktif," katanya sambil tertawa.

Air mata menggenang di pelupuk mata Rexanne. Gadis kecil itu kemungkinan adalah dirinya di masa lalu, saat kecil ia biasa dipanggil sebagai Ren sementara Sherice adalah Rin. Wanita itu menjadi bingung."Mama," ujarnya lirih seraya memeluk wanita yang memiliki rambut coklat seperti dirinya."Mama, ke mana saja selama ini? Rin dan aku mencari mama."

Wanita itu awalnya merasa canggung, tetapi kemudian memeluk gadis itu."Jangan menangis. Mungkinkah kau adalah Ren di masa depan?" tanyanya seraya mengusap kepala Rexanne dengan sayang."Jika benar aku sangat bahagia karena putriku tumbuh menjadi kuat dan cantik."

"Kemana mama pergi?" Pertanyaan itulah yang selalu berputar di kepalanya selama belasan tahun. Meski ia tahu jika wanita itu bukanlah sosok nyata wanita yang melahirkannya, tetapi ia ingin setidaknya mendapatkan jawaban meski bohong.

"Kalaupun aku meninggalkan kalian berdua dan tidak kembali, pastilah ada sesuatu yang menghalangiku. Aku menyayangi kalian berdua lebih dari apapun, Ren." ucapnya sambil mengecup kening Rexanne.

"Jika memang benar seperti itu keadaannya, sepertinya aku harus memberikannya saat ini juga." Wanita itu melirik pada seorang pria yang Rexanne kenal sebagai papanya. Pria itu mengangguk."Rexanne Ilenna Nefertine, aku akan mewariskanmu sesuatu yang belum sempat kuberikan. Jika melihat keadaanmu sekarang kurasa diriku belum sempat memberikannya padamu, maka saat ini akulah yang akan melakukannya."

Rexanne terdiam. Sebuah pendar cahaya dan kristal berwarna hitam pekat perlahan muncul dari dada wanita itu. Perlahan kristal itu retak tiap kali wanita itu mengucapkan bahasa asing hingga akhirnya terbelah menjadi dua bagian.

"Ren, terimalah. Ini adalah sebagian dariku, dan akan menjagamu mewakiliku. Tetaplah hidup, putriku," ucapnya seraya mendorong kristal itu hingga menghilang di balik dada Rexanne.

Gadis kecil itu menarik lengan jaket Rexanne."Itu akan melindungimu, tetapi tidak untuk orang di sekitarmu. Gunakan dengan hati-hati, Bodoh! Atau aku akan membunuhmu!" ucap Rexanne kecil seraya mengancam dengan sebuah pisau.

Rexanne berjongkok lalu mengacak rambut gadis kecil itu."Senjata seperti itu tidak akan membunuhku, Ren," ucapnya seraya tertawa.

"Kau tidak tahu kemampuanku!" teriak Rexanne kecil marah.

Rexanne tertawa, ia geli melihat kekerasan kepala saat kecilnya."Ketahuilah kemampuanmu sendiri, sayang. Jika tidak itu akan membunuhmu, kecuali jika kau siap mati untuk sesuatu yang menurutmu berharga."

Wanita itu menyentuh bahu Rexanne."Tetap saja jangan mati, meski untuk sesuatu yang berharga. Tetapi hiduplah untuk sesuatu yang berharga itu."

Wajah Rexanne memerah, ia mengingat pesan pria di gerbong dua belas."Te-tentu saja, aku tidak akan mati. Lagipula siapa yang mau mati? Aku harus membunuh Si Hitam itu dulu."

Sebuah tepukan di kepala Rexanne, ketika gadis itu mendongan sosok pria dengan rambut hitam tengah tersenyum."Apakah anak papa masih menyukai Desert Eagle?"

Gadis itu tertawa."Ya. Sangat menyukainya." Ia mematerialisasi sebuah Desert Eagle dan memamerkannya pada pria itu.

"Like mother like daughter," katanya seraya tertawa."Kalian itu terlalu mirip, begitu pula sikap pemarah dan keras kepala." Ketiga perempuan itu menatap kesal secara bersamaan.

"Kakak Rexanne bukankah seharusnya kakak segera pergi?" ucap Sherice kecil yang mendadak mendekatinya."Kakak tidak boleh tertahan di sini, ke depan adalah tujuan kakak."

Rexanne sadar jika ia berada di masa yang berbeda dari mereka, dan tidak akan mungkin tetap berada di masa yang merupakan masa lalu. Ia tahu tetapi kerinduan yang merupakan ingatan dari Rexanne asli dan merasa diterima oleh mereka membuatnya tidak ingin berjalan ke depan. Perasaan diterima untuk sosok yang tidak bisa dikatakan eksistensinya merupakan sesuatu yang teramat berharga.

"Segera pergi, kau harus menyelesaikan urusan yang tertunda," ucap pria itu seraya menepuk bahunya.

Rexanne memeluk wanita itu dengan erat."Aku menyayangi kalian, sungguh sangat menyayangi kalian."

"Aku mengetahuinya, Ren. Yang manapun kalian adalah putriku meski bukan dari darah dan dagingku. Aku menyayangi kalian," ucap wanita itu sambil mengusap air mata Rexanne."Berjuanglah! Aku yang akan menggantikan Rin untuk melindungimu, sayang."

Rexanne mengangguk lalu berjalan pergi. Sesaat sebelum membuka pintu ia memberikan senyum perpisahan, lalu terus berlari. Gadis itu berlari menyusuri gerbong-gerbong tanpa mempedulikan penumpang yang ada di dalamnya, ia harus segera menyelesaikan pertarungan ini dan membuat perhitungan dengan Blackz.

*****

Xia menarik secarik tissue dan mengusap air matanya. Link melirik lalu berkata,"dasar cengeng! Seperti melihat drama," ucapnya sambil melengos kesal.

"Master, kenapa salinan memiliki masa lalu?" tanya Xia bingung.

"Itu bukanlah masa lalu Rexanne sebagai salinan, melainkan Rexanne yang asli. Dan apa yang diberikan oleh wanita itu melintasi waktu, saat itu ia benar-benar memberikannya pada salinan itu." Blackz menyeringai.

"Maksudnya? Aku tidak mengerti," ucap Xia bingung.

"Ilusi tidak seharusnya bisa memberikan sesuatu secara permanen pada entrant, normalnya setelah melalui gerbong barang itu akan menghilang." Link ikut memperjelas keadaan.

"Wanita itu adalah dari masa lalu Rexanne yang asli, dan ia akan terbunuh tidak lama dari waktunya saat itu. Ia seharusnya tidak memberikan kekuatannya pada sebuah salinan." Blackz memandangi layar dengan seringai yang makin melebar."Matilah!"

*****

Rexanne membuka gerbong lima dengan kasar, di hadapannya penuh dengan onggokan daging berwarna hitam. Udara dipenuhi dengan asap dan bau gosong. Edward tidak peduli dengan penumpang dan membiarkan mereka terbakar, sementara Albi tewas dalam keadaan mengenaskan. Leher patah, dada tertusuk tombak dan sebelah tubuh yang hangus.

Gadis itu segera berlari masuk, bukan untuk membunuh Ed melainkan untuk menyelamatkan seorang gadis dengan rambut merah yang menjadi sasaran kemarahan Ed. Pemuda itu terus memukulnya, saat Rexanne menghalanginya Ed tidak sengaja menamparnya.

"Kepala Korek, beraninya memukulku. Apa kau tidak sayang nyawa lagi?" tanyanya geram.

"Kau yang ikut campur! Menyingkir, Perempuan Jalang!" bentaknya sambil berusaha menyingkirkan Rexanne.

"Apa? Perempuan Jalang?" Rexanne bangkit dan mengepalkan tinju. Pukulannya melesat telak menghajar wajah Edward, tak hanya itu ia juga melanjutkan dengan sebuah tendangan yang membuat Edward terkapar di lantai."Kau menyebutku apa, Kepala Korek?" Rexanne menginjak kepala Ed dengan hak sepatunya.

"Perempuan Jalang." Edward tidak sedikitpun mengurangi kadar keras kepalanya.

"Mau mati, huh?" tanyanya seraya menodongkan AS50 persis di depan kepala Ed.

Mendadak perempuan asing tadi menggenggam tangan Rexanne. Ia terlihat memohon agar Ed tidak disakiti. Ia memandangi gadis yang terus memohon itu kemudian mengurungkan niat bertengkarnya-Rexanne sama sekali tidak berniat membunuh Edward, hanya saja ia memang sangat kesal dikatai sebagai Perempuan Jalang.

Edward menyingkirkan kaki Rexanne dan bangkit."Kalian mengganggu! Dasar perempuan!"

"Kalau kau begitu membenci perempuan, jangan pernah bercinta dengan perempuan!" teriak Rexanne kesal-meski ia tau Ed tidak akan mendengar tetapi setidaknya kekesalannya diutarakan.

Gadis asing itu tampak menahan tertawa, lalu tersenyum saat berhasil mengendalikan dirinya.'Terima kasih,' ucapnya dalam bentuk hanya gerakan bibir.

"Siapa namamu?" tanya Rexanne penasaran. Gadis itu menulis sebuah nama di udara dengan telunjuk."Melody? Bisa ceritakan apa yang terjadi?" Melody mengangguk dan mulai menulis dalam sebuah kertas yang ia temukan di sekitar sana.

Gadis itu mulai menceritakan tentang kejadian beberapa saat lalu dan hal-hal mengenai dirinya dan Ed. Rexanne tidak menyangka akan bisa bertemu dengan kembaran Si Kepala Korek.

*****

Setelah menceritakan semua ia kemudian berjalan ke balik punggung Rexanne lalu mendorongnya pelan seakan menyuruhnya pergi. Gadis itu tersenyum.

"Kau menyuruhku untuk menyusul Ed?" Melody menjawab Rexanne dengan mengangguk. Rexanne merasakan perasaan sesak, ia bukanlah orang yang baik. Lagipula kali ini mereka diharuskan untuk saling membunuh, tidak ada jaminan ia tidak akan terbunuh. Jika memang harus saling membunuh ia tetap harus membunuh Ed meski tidak ingin."Aku tidak bisa berjanji padamu jika aku tidak akan membunuh Ed, tetapi setidaknya aku akan mengusahakan agar ia tidak terbunuh."

Melody tersenyum dengan lebar, pipinya terlihat merona. Ia memberikan sedikit dorongan pada punggung Rexanne lalu melambaikan tangan. Rexanne membalas lambaian tangan itu lalu berjalan meninggalkannya.

*****

Rexanne terus berjalan hingga sampailah di gerbong dua, di sana ia menemukan Mahesa yang terkapar sekarat. Lehernya tertembus pedang. Gadis itu segera menghampirinya, meski pernah bertarung dan berada pada kubu yang berbeda ia tidak membenci orang itu.

"Mahesa!" Rexanne menggenggam tangan pemuda itu. Ia ingin berkata bahwa pemuda itu akan baik-baik saja, tetapi kata-kata bohong itu tersangkut di kerongkongannya."Mahesa, maaf." Di tangan kanannya muncul sebuah Desert Eagle, tangan kanannya menggenggam erat tangan pemuda itu."Maaf, tapi aku tidak bisa menyelamatkanmu."

Mahesa tersenyum dan menggenggam tangan gadis itu. Ia tahu apa yang akan dilakukan gadis itu.

"Maaf, sungguh maafkan aku, hanya ini yang bisa kulakukan." Ia menempelkan moncong senjata ke kening Mahesa yang memejamkan mata. Rexanne ikut memejamkan mata sambil tetap menggenggap erat tangan pemuda itu."Anggap saja ini semua adalah mimpi buruk, dan kau akan terbangun setelahnya. Selamat jalan, Pemanah." Rexanne menarik trigger, suara ledakan senjata disusul dengan tangan yang terlepas dari genggamannya.

"Maaf, maaf aku tidak bisa menyelamatkanmu. Maaf hanya ini yang bisa kulakukan, padahal tidak seharusnya kita saling membantai. Padahal tidak seharusnya kita saling membunuh demi kepentingan orang lain." Rexanne yakin jika Mahesa yang ada di hadapannya sekarang juga merupakan salinan seperti dirinya.

*****

"Lagi-lagi drama," keluh Link bosan.

"Menyenangkan bukan? Kumpulkan mereka dalam suatu wadah, biarkan mereka saling membunuh dan memupuk kebencian. Yang selamat akan menjadi prajurit terkuat dengan kebencian pekat yang dibangun dari kesedihan, putus asa dan membawa kebencian dari mereka yang sudah mati." Seringai Blackz makin terlihat mengerikan."Segeralah kalian membunuh, dan jadilah yang terkuat untukku."

*****

Ledakan disertai goncangan, ada satu gerbong lagi yang mulai meledak sementara di kejauhan terdengar suara pertarungan Ed dan Altem. Rexanne mengusap air matanya dan bangkit untuk memenuhi janjinya pada Melody.

Ia memandang sekilas pada jasad Mahesa dan menundukkan kepala sekali sebelum pergi. Setelah itu Rexanne berlari dan terus menerobos gerbong-gerbong hingga tiba pada lokomotif."Awas saja jika Ed malah menghajarku!"

*****

Rexanne memanjat tangga besi pada lokomotif, belum sempat ia menjejakkan kaki sebuah pemandangan tragis memberikan salam pembuka. Salam pembukaan untuk pertarungan lain, dihiasi amarah dan dendam.

Di depan matanya dada Edward tertembus oleh sebilah pedang besar. Bukan luka tusuk yang menarik untuk dilihat atau mengagumkan seperti di film aksi. Penyihir itu ditembus oleh pedang tumpul dengan panjang sekitar 2 meter dengan lebar kurang lebih 35cm. Dada penyihir itu dihancurkan sebelum di tembus. Pecahan tulang rusuk menganga bagaikan geligi monster, pedang itu mengoyak paru-paru dan jantungnya.

"ED!" Rexanne segera memanjat dan menjejakkan kaki di atap lokomotif.

Pemuda itu tersedak darahnya sendiri sesaat sebelum terkulai lemas dan menghembuskan napas terakhirnya. Rexanne mematerialisasi senjata di tubuhnya, sepasang sayap, tanduk, ekor dan sebilah pedang. Gadis itu melesat penuh amarah melihat kematian Edward."JANGAN PIKIR AKU AKAN MENGAMPUNIMU, GORILA!"

Altem mencabut pedang dengan kasar sembari menghempaskan jasad Edward yang hancur di bagian dada dari atap kereta. Makhluk abu-abu itu mengayunkan pedang berukiran rumit di tangannya untuk menyambut serangan pedang Rexanne.

Pedang hitam raksasa itu memercikkan bekas darah Edward ke wajah gadis Heretic itu ketika pedang keduanya bertemu. Gadis itu terdorong ke belakang saat Altem mengayunkan pedang dengan tenaganya yang besar. Rexanne memanfaatkan untuk menembakkan Desert Eagle di tangan kirinya.

Rentetan tembakan berhasil ditahan dengan sempurna oleh pedang Nuntak. Altem melompat ke udara, dalam keadaan kereta yang melaju ia tidak perlu menggunakan kekuatan untuk melesat ke arah lawannya karena Rexanne dibawa daratan logam semu di bawah kakinya untuk menerima serangan makhluk kelabu itu.

Tepat sebelum Altem menghancurkan tubuhnya dengan Nuntak, Rexanne berguling ke samping. Ia mengubah pedang di tangan kanan menjadi Desert Eagle dan menembakkan keduanya secara bergantian. Rentetan tembakan nyaris ditahan sempurna kecuali dua peluru yang berhasil menyerempet pelipis dan bersarang di lengan kiri Altem.

Makhluk kelabu itu menyapukan pedangnya ke arah tubuh Rexanne, untung saja kegesitan gadis itu tidak begitu buruk meski terluka di beberapa tempat. Ia berhasil bangkit dan bersalto menghindari pedang Altem. Rexanne berlari ke arah Si Besar, lalu melompat tinggi ke udara di saat makhluk mirip gorila itu hendak kembali mengayunkan pedang yang masih di sisi tubuhnya.

Kedua tangan Rexanne menggenggam sebuah sabit hitam yang siap memenggal kepala Si Kelabu. Dengan segenap kekuatan, amarah dan dendamnya pada Blackz ia mengarahkan kebencian itu pada Altem. Berharap semua selesai, tidak ada lagi yang tersisa darinya. Sebuah salinan yang hanya merupakan entitas semu. Keberadaan yang diragukan kehidupannya, tidak memiliki sesuatu atau seorangpun yang bisa membuktikan bahwa seorang Rexanne yang sekarang pernah hidup selain teman Heretic-nya. Semua salinan yang ia kenal baik telah musnah, hanya tertinggal sebuah salinan yang membunuh salinan yang ia kenal sebagai 'teman'. Rexanne tidak lagi peduli jika Altem pernah berada dalam satu faksi, tidak lagi menyayangkan makhluk itu sebagai satu-satunya salinan yang akan mengingat keberadaan dirinya. Ia tidak lagi peduli. Gadis itu hanya ingin membunuh Si Kelabu. Ia ingin mengoyak dada itu seperti yang dilakukan pada Ed. Memenggal kepalanya dan memamerkannya pada Blackz bahwa prajurit yang ia banggakan mati.

Sebelum kebencian Rexanne membunuhnya, Altem mengorbankan lengan kirinya. Potongan lengan melayang di udara dan jatuh dengan suara debuman di atap logam di mana mereka berpijak. Makhluk kelabu itu meraung layaknya hewan buas, dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga untuk menghalau Rexanne.

Gadis itu menahan serangan balasan Altem dengan pegangan scythe, ia terhempas hingga ke atap gerbong satu. Senjatanya pecah menjadi serpihan kristal hitam yang beberapa detik kemudian menghilang. Rexanne mengerang ketika tubuhnya terhantam, ia merasakan sesak setelah benturan keras tadi.

Belum sempat merencanakan serangan berikutnya, Altem berlari mendekat. Mata hitamnya berkilat buas, Rexanne bangkit dan mematerialisasi pedang. Dalam jarak beberapa meter gadis itu ikut melesat, menyambut serangan. Sesaat mereka terlihat hendak beradu pedang, tetapi pada detik-detik terakhir Rexanne memutar tubuh ke sisi kiri Altem. Membenamkan pedang ke pinggang Si Kelabu. Tidak hanya sampai di situ, dengan Desert Eagle di tangan kiri Rexanne melumpuhkan pergelangan tangan Altem.

Raung kemarahan, makhluk besar itu mengubah senjatanya menjadi sebuah palu besar. Ia mengayunkan senjata yang kemungkinan berbobot sekitar satu ton. Gadis itu segera mencabut senjata dari pinggang Altem dan menahan serangan godam itu dengan pedang. Terlempar di udara sejauh beberapa meter, Rexanne mematerialisasi AS50, dan dalam waktu yang sempit ia berhasil menyarangkan sebuah peluru kaliber lima puluh ke bahu Altem.

Rexanne mendarat di atap lokomotif dengan mulus setelah sekali melakukan salto. Ia tetap dalam posisi berlutut dengan sebelah kaki, sementara kaki yang lain menekuk menjejak atap. Matanya membidik Altem yang berlari ke arahnya. Beberapa muntahan peluru meleset karena kegesitan Si Kelabu.

Melihat lawannya makin mendekat gadis itu segera bangkit, hanya saja sebelum benar-benar siap lengan besar kelabu itu mendorongnya hingga terbanting. Lengan itu terus menekannya. Sesak dan rasanya nyaris hancur, gadis itu menggunakan kedua sayap dan ekornya untuk melukai lengan Altem.

Si Besar meraung dan menggigit sayap yang menancap di lengannya hingga terlepas. Beruntung jaringan syaraf nyeri tidak terhubung ke sayap itu sehingga tidak ada luka yang ditimbulkan dari kerusakan itu. Ekor Rexanne melilit erat, mencabik daging Altem. Dengan lengan kiri yang telah hilang sebagian, ia menekan leher gadis itu dengan sisa lengan bawahnya. Tangan kanannya menarik kuat ekor tajam itu hingga terlepas dari Rexanne.

Rexanne berusaha menembak Altem dengan Desert Eagle di tangan kirinya, sayang makhluk kelabu itu menyadarinya dan mencengkeram lengan gadis itu hingga remuk. Gadis itu menjerit tercekik, tenaganya melemah. Pandangannya mulai kabur.

*****

"Ia sudah tamat," gumam Blackz yang memandangi pertarungan Altem dan Rexanne di atap.

Xia sedikit merasakan iba. Ia merasa ngilu melihat mereka yang pernah tertawa dan berjuang bersama harus saling membunuh. Tetapi keputusan Masternya adalah mutlak dan benar. Ia tidak berhak meragukannya. Gadis itu bungkam dan mengalihkan pandangan, tetapi Link menyadarinya.

*****

Geraman buas Altem terasa menjauh dengan pasti, pandangannya mulai memutih. Di saat semua menjadi putih dan menyilaukan gadis itu bertemu dengan seorang laki-laki yang ia temui beberapa saat lalu di salah satu gerbong.

"Kenapa ada di sini?"

Laki-laki dengan rambut berwarna kelabu itu menghampirinya. Ia menyibakkan rambut coklat Rexanne yang sedikit berantakan. Mata birunya menatap dalam seraya menggenggam tangan gadis itu. Perlahan ia menuliskan sesuatu di telapak tangan Rexanne.'Jangan mati.'

Jantung gadis itu berdegup saat membaca gerakan di telapak tangannya."Kenapa?"

'Karena kau tidak kuizinkan mati.'

Rexanne memandangi laki-laki itu dengan seksama. Ia adalah laki-laki yang pernah bersama dengan Rexanne dari dimensi lain. Gadis itu memperhatikan penampilan orang itu sedetail-detailnya."Kau adalah...," kata-katanya dihentikan dengan telunjuk pemuda asing itu.

Pemuda itu mengusap pipi Rexanne sekali, sebelum ada sesuatu yang kuat terasa menariknya untuk kembali sadar dan menyelesaikan pertarungan.

*****

Rexanne bangkit, hanya saja kali ini ia tampak berbeda. Dua pasang sayap hitam pekat merobek punggungnya, sayap serupa dengan miliknya yang lalu hanya saja berbeda kepadatan dan ketajaman. Tangannya yang remuk terbungkus kristal bening berwarna hitam membentuk cakar. Ekornya berubah menjadi hitam dan bercabang dua, berbentuk seperti ruas tulang belakang yang memiliki sisi tajam di keempat sisinya dan memiliki ujung setajam pedang. Tanduk di kepalanya berwarna hitam dengan ujung meruncing dengan kilatan hitam bagai logam. Tubuhnya dipenuhi dengan tulisan huruf kuno bangsa Livia yang berpusat dari sebuah kristal hitam yang mendadak muncul di dadanya.

Altem meraung seraya terbentuknya senjata baru Nuntak. Makhluk itu membentuk Nuntak menjadi sebuah lengan dari besi, menggantikan lengan kirinya yang hilang. Ledakan di gerbong belakang mengguncang lokomotif bersamaan dengan ketika Si Kelabu menghantamkan lengan Nuntaknya.

Altem meraung seakan melemparkan tantangan. Rexanne mematerialisasi pedang yang berubah bentuk menjadi sebilah katana. Bilah pedang itu berwarna hitam pekat dengan kilau tajam yang sangat jauh berbeda dengan senjata sebelumnya.

Keduanya berhantaman, katana melawan lengan Nuntak. Kedua mata Rexanne yang berubah menjadi biru menatap seksama Altem, mencari sisi lemah dari makhluk besar itu. Lengan kiri gadis itu menembus kulit, mencabik otot di tangan kanan lawannya.

"Aku tidak peduli dengan jati diri atau keberadaanku, asalkan orang itu menyuruhku tetap hidup," gumam Rexanne. Dia menghujamkan kedua ekor dan sayap sisi kiri ke lengan kanan Altem. Lengan Nuntak itu berusaha menghalau Rexanne, tetapi dengan sigap Rexanne menancapkan katana ke persendian siku kanan Altem. Di saat makhluk itu meraung kesakitan dan marah, ia menarik lengan kanan di cengkeramannya, mengoyak daging dengan ekor dan sayapnya. Tulang Altem diremukkan dengan sebuah tendangan telak.

Rexanne mencampakkan lengan kanan Altem ke gurun. Dengan lengan kiri yang terluka makhluk kelabu itu berusaha meremukkan kepala gadis itu. Sayangnya sebelum proses itu terjadi Rexanne menghindar, ia menjadikan sisa lengan bawah kanan Altem menjadi pijakan untuk melompat seraya mencabut katana yang masih menancap di pergelangan kiri.

Ia melompat ke udara dan menebas kedua mata Altem hingga buta. Raungan pilu hewan yang kalah namun tidak bisa menerima kekalahannya menggema. Rexanne menancapkan katana di ulu hati Altem dan merobeknya vertikal ke arah atas. Ia sengaja tidak membunuhnya dengan melukai organ vital. Dengan kedua tangannya Rexanne merobek jaringan otot di dada Si Kelabu.

Darah melumuri kedua tangannya, gadis itu hanya menatap datar seakan kekejaman yang ia lakukan bukanlah apa-apa."Kau melakukan hal yang buruk pada Ed." Rexanne melilitkan kedua ekornya pada salah satu rusuk sisi kiri dan kanan Altem kemudian menariknya hingga patah. Ia melakukannya berkali-kali hingga rongga dadanya terbuka lebar.

Dengan tangan kanan ia meraih salah satu sisi paru-paru dan mengoreknya dengan kuku. Kemudian menghancurkan dan membuangnya ke arah gurun. Raungan berubah menjadi rintihan sekarat, tubuh besar itu roboh. Terlentang sekarat menantang matahari. Rexanne menatapi Si Kelabu tanpa ekspresi.

"Apakah kematianmu menyakitkan? Aku akan membawamu kembali pada penciptamu. Pencipta kita, seluruh Heretic." Gadis itu membungkuk untuk meraih jantung Altem yang berdetak lemah.

Rexanne mencabutnya tanpa keraguan, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi."Hei Blackz! Aku berhasil mengalahkan petarung terkuatmu! Puaskah setelah membuat kami saling bunuh?" teriaknya lantang. Kemudian gadis itu berteriak, meneriakkan kemenangan sambil menghancurkan jantung di tangannya. Lalu ia tertawa, terus tertawa lantang tanpa mengerti hal yang ia tertawakan hingga sebuah tangan menutup kedua mata dan memeluknya dari arah belakang.

Ia mengenali aroma dan kekuatan tangan yang memeluknya. Seluruh senjata seperti tanduk, ekor, dan sayapnya menghilang. Tenaganya perlahan menghilang dan euforia kemenangan menguap dari dirinya digantikan tetesan air mata hingga akhirnya ia terkulai tidak sadarkan diri di lengan seseorang yang sangat ia kenal bersamaan dengan menghilangnya kristal hitam di dada.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ann Raruine
Ann Raruine at [Round 5] - Rexanne - Our Future (5 years 41 weeks ago)
80

wogghh.. sayang Altem gak ngeluarin kata2 bijaknya yg berfilosofi wkwkwk
.
rame inihh, kereta kenangan ~~ #eaaa
sy rasa itu Anon jadi bayangannya Rexie ya kak, sbnernya entitas dia gk bener2 ada di kereta itu kan ? O.o
.
btw saya gak ngerti kak, Edward itu gimana bisa pindah2 gerbong ?? o.o
.
cerita ini berisi antara kenangan dan dendam.. tapi sebenernya Rexie nggak pernah benar2 memikirkan masa depan.. itu yg saya tangkep kak, apa dia takut?? >.< #dziggh
.
coba saya telaah (?) momen2 penting di cerita ini
1. adanya mayat Luke
2. munculnya mayat2 hero
3. pertarungan dengan Qilya
4. pertemuan dengan keluarga Rexie
5. pertemuan dengan anak Rexie
6. terbunuhnya Albi dan drama dgn Maechan
7. janji dgn Melody yg gk bisa ditepati
8. pembunuhan Altem utk membuktikan bhwa prajurit salinan Blackz yg terkuat mati
.
krn cerpen bor ini gk berdiri sendiri, mudah2an poin2 di atas nggak sekedar lalu saja, setidaknya berhubungan dengan tujuan (canon) Rexie,...
soalnya terbunuhnya (mantan) pacar Rexie di episode sebelumnya berasa hanya sekedar ngasi tau (bahasa kasar saya: pamer) kalo si mantan udh mati terus nggak diungkit2 lagi... dan di episode sekarang tau2 Rexie punya anak dari masa depan..
...duh, maapkan saya yg sotoy, cmiiw >.<
.
tp sy suka dgn konsep Rexie gak punya apa2 dan siapa2 selain teman2 Heretic nya tapi mereka malah saling bunuh.. dan battle seksi ala kak Vii yg mudah divisualkan #ajari saya bikin battle >w<
endingnya yg saya tangkep, semuanya ok meskipun si Rexie lagi kacau.. krn ada seseorang yg memeluknya dg penuh kasih sayangg #ea
.
sbnernya pgn kasi +3.. krn yg berkesan di battle ini seharusnya ketika para salinan saling bunuh, yang byk berpengaruh pada pembuktian Rexanne dan sedemikian bencinya dia sama Blackz di ending.. tapi somehow itu kebanting dengan sesuatu yg lain... tapi kasi +4!! karena sy pengen tau kelanjutan nasipnya Rexie >.<
.
oia, brlawanan dgn kak Sam, sy seneng dng komentar2 panitia heretic.. menjelaskan situasi pertandingan dgn kocak xD n betapa liciknya Bos Heretic >.<
btw mayatnya abang Ferrum kok nggak bangun ?? T.T

biarkan anon menjadi bayang2 dalam hatiku~
<3
*digaplok
.
.
ituuu...sbnrnya yg jd canon adalah momen masa lalu yg ketemu nyokapnya...sementara yang ketemu anak dan si cowo *ehem* ganteng....itu...ada cerita after BoR(kalo mmg ga males buat...tergantung situasi lah....
.
itu yang ada canon cm momen ketemu keluarga, bunuh altem, sama ed....(itu kalo saya nggak males dan masih lanjut-kayanya ga mgkn deh)...
.
.
biarkan abang ferrum beristirahat dg tenang nak belle...
.
.
ba-battle seksi? perasaan ga pake striptease....LOL
.
.
makasih dah mampir~

Writer panglimaub
panglimaub at [Round 5] - Rexanne - Our Future (5 years 42 weeks ago)
90

+3
.
Secara plot ini lumayan bagus. Kehadiran anaknya Rexanne juga nambah kekocakan. Tapi ... Nuntak Altem kalah sama senjatanya Rexanne? O_O

kan cuman tangan kak~

lagipula perasaan dia ga bisa materialisasi nuntak lbh dr 1 senjata kan?
.
.
whwhhwhhwhwhwhhwh
.
.
makasih mampir~

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at [Round 5] - Rexanne - Our Future (5 years 42 weeks ago)
80

Uwah, di mana-mana jadi ada reuni keluarga begini...
.
Pertarungannya asik, tapi beneran banyak banget karakter yang muncul...dan kebanyakan outsider, jadi kadang mesti nginget kalo ini canon rexanne dan yang muncul semua punya hubungan sama dia. Btw, dari sini keliatan banget (entah saya pernah ngomong gini atau belum) kalau rexanne ini cerewet #plak - soalnya rasanya apapun dia komentarin dalam dialog "..". Tapi ini juga berarti dia orangnya vokal banget sih, apapun yang dipikirin langsung keluar ya
.
Oya satu lagi. Segmen komentator dari heretic yang jadi selingan sepanjang pertandingan kadang bikin saya jadi ga ngerasain suasana seriusnya karena sikap link sama blackz yang ga acuh
.
+3

LOL.... panitia nya di OOC in...lol
habis kalo ga minjem mereka buat ngejelasin apa yang terjadi itu...aneh...hahhahahahhaa
.
.
iya...itu dari masa lalu semua...dan...reuni keluargaaaa karena mereka hanya salinan..dan berharap punya keluarga...*plakkk
#alasan saja kau ini!!
ya...itu...perasaan orang asingnya ya bo-nyok rexie...sementara 1 cowo misterius itu adalah makhluk sopiler...LOL
.
.
tidak akan dikuak siapa itu sebenernya sampai setelah BoR...LOL
.
.
iya...dia orangnya langasung diomongin...dan...suka buat julukan buat orang lain~
.
.
.
dan...makasih sammy uda mampiirrrr~

90

I--- Ini panjang sekali
D:

.
ngakak abis gw waktu baca reaksi Rexane soal anak di masa depannya itu
XD

Quote:
"Kalau kau begitu membenci perempuan, jangan pernah bercinta dengan perempuan!"

ini kalimat terhebat yang pernah aku baca.
XD **ngakak mules**

.
Altem mati-nya kasihan sekali, gorilaku tewas dengan cara mengenaskan
:(

+4
:D

wkwkkwkwkwkwk
kalimat terhebat...wkkwkwkwkkwkwkwkwk
.
.
reaksi berlebih....padahal anaknya kalem...whwhhwhwhwhhw.
.
.
.
itu...nggak kepikiran bikin gore...mengalir begitu saja...dan...entah napa berakhir gore...
whwhhwhwhwh
ciyus ga niatan gore awalnya...
.
.
makasih dah mampir dan poinnya~
>.<

Writer dismyname
dismyname at [Round 5] - Rexanne - Our Future (5 years 42 weeks ago)
80

WOW.
JUST WOW.
.
Kenapa hereticnya ini keren aaa--- #minderdadakan
.
Kepala korek pfft.---
.
Btw,
"Xia, gurun itu memiliki 'waktu' tersendiri. Kau harus melihat apa yang akan terjadi di tiap gerbong,' << typo. petik mestinya 2.
.
"Awas saja kalau kau mati sebum saat itu!" << typo.
.
Sebuah tepukan di kepala Rexanne, ketika gadis itu mendongan sosok pria dengan rambut hitam tengah tersenyum."Apakah anak papa masih menyukai Desert Eagle?" << typo.
.
Xia menarik secarik tissue dan mengusap air matanya. Link melirik lalu berkata,"dasar cengeng! Seperti melihat drama," ucapnya sambil melengos kesal.<< pemborosan kata
.
"JANGAN PIKIR AKU AKAN MENGAMPUNIMU, GORILA!" << EAAAAAA
.
.
+4

banyak typo yang lolos...wkwkkwkwkwkwkwkkwkk
.
.
dee...kau baca seakan 8k itu tidak ada artinya...yang nulis aja mau baca udah eneg lho...
#itu menjelaskan banyak yang lewat....*plakkk
.
.
.
muucihhhh deeee~
huhuhuhuhu.... TT A TT

terharu akuuuu~
.
.
masalah caps, jg udah diomelin ann koq...tapi...saya bandel...ea~
.
.
sekali lagi makasiihhh~
#daripada dijitak bilang muucih...

Writer dismyname
dismyname at [Round 5] - Rexanne - Our Future (5 years 42 weeks ago)

Saya ngga masalahin capsnya, saya masalahin Emosinya. Kenapa Rexanne peduli sama Edward? A_A

karena ia simpati ama anak kembar...dan krn udah janji ama mel...
#tidak kuat alasannya *digaplok
.
.
.
rexanne mau bikin hareeeeemmmm~
*digaplok DE

karena ia simpati ama anak kembar...dan krn udah janji ama mel...
#tidak kuat alasannya *digaplok
.
.
.
rexanne mau bikin hareeeeemmmm~
*digaplok DE