TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 2

 

BAB 2

Perasa dan Takpeka

 

Prada menatap kesal pada pintu masuk ruang kerjanya yang baru saja dilewati Rumi untuk keluar. Dia tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Bagaimana bisa tetap bersikap biasa setelah insiden ciuman mereka di depan pintu apartemen waktu itu? Apa itu kurang meninggalkan kesan pada Rumi?

Hari itu dia sengaja memberikan cuti pada Rumi—sahabat sekaligus manager restoran miliknya—agar bisa membawa gadis ini pergi keluar. Niatnya tentu saja berkencan, tapi ingin menonton film diucap sebagai alasan. Jadilah malam harinya lelaki ini memaksa Rumi untuk menemani.

Rumi sempat menolak. Gadis ini ingin memanfaatkan cuti yang sangat jarang diberikan untuk bermalas-malasan. Namun, jangan sebut dia Pradana Herman kalau tidak bisa memaksa. Jadilah, walau setengah hati Rumi tetap menuruti maunya.

Malam itu Rumi memakai t-shirt V neck abu-abu dan celana jeans biru. Sederhana, namun dimata Prada gadis ini terlihat manis. Dia jarang melihat Rumi berpakaian casual. Rumi selalu terlihat rapi dengan setelan ala wanita kantoran.

Prada memuji penampilan Rumi. Tapi, Rumi tidak percaya sama sekali. Gadis ini malah menatapnya, seakan dia berbohong.

Tatapan Rumi membuat Prada gemas. Ada keinginan untuk membawa tubuh itu ke dalam pelukan. Juga ada niat untuk memagut bibir berlumur lipgloss tipis yang berkilauan.

“Berhenti menatapku seperti itu Rumi!” pinta Prada setengah membentak sebelum akal sehat hilang termakan keinginan.

Rumi malah tersenyum misterius dan menggodanya. “Lihat! Wajahmu lucu sekali ketika tersipu.”

Rumi terus mengerjainya yang sedang menahan diri. Hingga akhirnya, rasa gemas itu tak tertahan lagi. Cepat diraihnya wajah Rumi. Dijejalkan bibirnya pada bibir lembut ber-glitter itu.

Tak ada respon maupun penolakan. Hanya mata indah itu mengerjap berkali-kali. Merasa diberi peluang, Prada tersenyum tengil. Hal ini malah membuat Rumi memejamkan mata. Lelaki ini pun semakin berani melanjutkan sesi ciuman mereka lebih dalam lagi.

Ciuman itu berlangsung cukup lama. Mereka sama-sama menikmati sensasi yang didapat. Hingga pagutan itu terlepas karena masing-masing butuh asupan oksigen. Namun, tak ada satupun dari mereka berniat menjauh.

Dahi dan hidung saling menempel. Hembusan nafas terasa menerpa wajah mereka.  Tangan Prada masih menangkup wajah Rumi. Tangan Rumi sendiri masih nyaman berada di bahu pria ini. Mereka seakan menyatu dalam euporia yang takbisa digambarkan.

Sunyi dan tenang. Semua terusik ketika Prada mengusap sisa lipgloss yang berantakan di sekitar bibir Rumi. Gadis ini langsung bergerak menjauh setelah berkata, “Aku perbaiki ini sebentar sebelum pergi.”

Setelahnya, tak ada hal romantis lain yang terjadi. Mereka pergi dari apartemen ketika Rumi telah selesai membersihkan sisa lipgloss dan mengulas kembali. Sesi nonton dan makan hanya mereka lewati dengan mengobrol apa saja terutama tentang pekerjaan.

Apa ciuman itu sungguh tak berkesan apapun bagi Rumi? Semakin memikirkan ini semakin membuat Prada kesal.

~o♥o~

 

Prada membaca laporan yang diberikan Rumi tadi. Data tentang pengeluaran dan pemasukan mereka minggu ini. Semua dikerjakan gadis ini dengan rapi. Tak ada cela sebenarnya, tapi dia butuh alasan untuk membuat Rumi datang kembali ke ruangannya.

“Ini data pengeluaran minggu lalu, ‘kan? Bukankah aku minta data minggu ini, Rumi? Apa kamu tidak mendengar yang aku katakan?” tanya Prada menuntut setelah Rumi masuk.

Rumi mengambil berkas yang ada di tangan Prada, lalu memeriksanya. “Ini benar data minggu ini, Pak.”

“Bagaimana mungkin?” Prada mengambil berkas itu lagi. “Ini sama dengan minggu lalu.”

“Memang sama,” jawab Rumi santai.

“Mengapa bisa sama?”

“Karena tidak ada menu baru yang bisa menarik pelanggan dalam sebulan ini, Pak.”

“Bagaimana bisa? Apa saja yang kamu kerjakan?” suara Prada mulai meninggi. “Perintahkan koki kita untuk membuat menu baru.”

“Sudah saya lakukan, Pak.”

“Lalu?”

“Kepala koki memaksa untuk tetap menggunakan menu yang ada. Dia berkata kita belum butuh menu tambahan.”

“Seharusnya kamu bisa memaksanya. Kamu manajer di sini.”

“Kepala koki baru yang cantik itu tidak berminat mendengarkan perintah saya. Dia bekerja di sini atas permintaan anda, jadi dia hanya akan menambah menu baru jika anda memerintahkannya.” Tidak terdengar nada gentar sama sekali ketika Rumi menjawab. Malah, jawabannya seakan menyalahkan Prada yang mempekerjakan seorang kepala koki yang tidak tahu aturan.

“Kamu pasti berbohong! Kamu hanya sedang membuat alasana untuk menutupi ketidakbecusanmu dalam bekerja,” tuduh Prada tanpa berpikir.

Dahi Rumi berkerut. Alis matanya terangkat satu dengan mata menatap Prada penuh selidik. “Apa anda sedang dalam masalah?”

Prada bingung, dan secara otomatis bertanya, “Masalah?”

Rumi mengangguk, “Iya, masalah. Sepertinya anda terlihat tidak profesional hari ini.”

“Maksudmu?” Prada kembali kesal.

“Anda memang selalu tidak pernah puas dengan hasil kerja saya, saya sadar itu. Namun anda tidak pernah sepicik hari ini. Apa anda sedang bertengkar dengan pacar baru anda atau kembali dikecewakan oleh seseorang?”

Prada mendesis, geram. Bukan karena kalimat kurang ajar yang Rumi ucapkan, melainkan ketidakpekaan gadis ini. Apa maksud pertanyaan itu? Sedangkan Rumi tahu dia sedang tidak menjalin hubungan dengan gadis manapun. Kalau dikecewakan, mungkin juga. Apa Rumi tidak sadar kalau sudah membuatnya kecewa? Ingin sekali lelaki ini berteriak kalau Rumi lah sumber masalah hatinya sekarang. Namun, wajah polos seakan tak tahu apa-apa itu menekan suara Prada di tenggorokan. Rasa gengsi menahannya untuk tidak gegabah menghadapi Rumi.

Prada mengusap wajahnya agar lebih tenang. Matanya terpejam lama sebelum membuka kembali.

“Jadi?” tanya Rumi menggantung.

“Jadi apa?” sentak Prada.

“Apa masalahmu?” Rumi membuang formalitas diantara mereka. “Bukannya ada masalah?”

Prada mengacak rambutnya gusar, “Argg! Tidak ada. Lebih baik kamu lanjut kerja saja, sana!”

Rumi hanya menggedikkan bahu tanda “baiklah jika itu maumu”. Tanpa menunggu atau sekedar memastikan keadaan Prada yang aneh, dia langsung beranjak pergi. Sedangkan Prada hanya bisa melongo mendapati gadis ini serius meninggalkannya.

Arggg! Mengapa ada wanita seperti iniii?” teriaknya kembali mengacak rambut setelah Rumi menghilang dibalik pintu.

~o♥o~

 

Jam di dinding ruangan Rumi sudah menunjukkan pukul 11 malam. Gadis ini segera beranjak setelah memastikan semua urusan di restoran selesai.

Rumi bergegas keluar melalui pintu depan seperti biasa. Dia menyapa satpam restoran yang sedang berjaga. Satpam itu tersenyum sembari mengucap pesan agar Rumi berhati-hati. Rumi mengangguk bertepatan dengan berhentinya sebuah mobil di depannya.

Pintu mobil terbuka. Sebuah tangan keluar, dan menarik Rumi ke dalam. Tanpa sempat mengelak, gadis ini sudah terduduk manis di kursi penumpang. Sekejap saja pintu ditutup , lalu mobil melaju dengan kencang.

Rumi memutar tubuh, berniat memberikan pukulan super pada siapapun yang berani menculiknya. Namun, kepalan itu mengambang di udara mendapati siapa si penculik. “PRADA!”

Si penculik yang ternyata Prada menoleh sekilas dengan seringaian khas. Rumi tahu maksud seringaian itu. Tanda Rumi takbisa menolak apapun yang diinginkan lelaki ini.

Rumi kembali duduk ke posisi semula sambil menggerutu, “Seharusnya aku tidak bersahabat dengan bos egois sepertimu.”

Prada tersenyum menang mendengar gerutuan Rumi. Gerutuan itu tanda Rumi tidak akan menolak.

Tak ada hal khusus sebenarnya. Prada hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan gadis ini. Tadi, sambil menunggu Rumi pulang dia sudah membeli perlengkapan barbecue. Niatnya ingin pesta barbecue bersama. Sepertinya, suasana malam mendukung untuk aktifitas romantis. Terutama karena malam ini cerah dan bintang terihat samar di atas kota penuh lampu.

~o♥o~

 

Ish, gerah!” pekik Rumi sambil melempar blazer-nya ke sandaran kursi.

Sekarang mereka sudah berada di halaman belakang rumah Prada. Rumi pun sedang sibuk memanggang potongan daging sapi yang sudah Prada siapkan. Sedangkan Prada menata sebotol minuman dingin bersoda dengan dua gelas menemani. Taklupa juga sebotol kecap, saos, dan hal lain yang diperlukan.

Tak ada wine atau minuman beralkohol lainnya. Itu aturan dasar hidup Pradana Herman. Bahkan, restoran Prada’s yang notabene merupakan restoran masakan Perancis tidak menyediakan minuman beralkohol. Hanya tersedia minuman sari buah sebagai pengganti.

“Mau ganti T-shirt?” tanya Prada tanpa niat apapun.

Lelaki ini kasihan melihat Rumi yang tampak kepanasan. Belum lagi kemeja yang dia pakai lembab karena keringat. Hal ini diperjelas dengan bayang-bayang bra Rumi yang semakin terlihat dan cukup membuat Prada menelan ludah.

“Mengapa harus barbecue tengah malam begini, sih?” omel Rumi tak menjawab tawaran Prada sama sekali. “Galau ya galau saja. Jangan bawa-bawa karyawan segala, dong!”

Omelan itu terus berlanjut dengan tangan tetap sigap mengipas-ngipas di atas panggangan. Hal ini membuat Prada tertawa lepas.

“Aku tidak sedang melawak, Prada. Berhenti tertawa!” Bibir Rumi mengerucut.

“Aku sedang bosan,” ucap Prada masih setengah tertawa.

“Kamu sedang bosan, dan aku yang harus menanggung akibat kebosananmu itu.”

“Itulah gunanya sahabat.”

“Mulai besok aku bukan sahabatmu lagi.”

Prada tersenyum geli, “Kamu tidak akan tega membiarkanku terlantar, ‘kan?”

“Memangnya selama ini kamu terlantar? Kamu tetap baik-baik saja sebelum kita bersahabat.”

Prada terdiam lama. “Dulu ada Wina.”

Rumi membeku. Tangannya yang sedang mengipas terhenti. Kali ini dia merasa telah membawa pembicaraan ke arah yang salah.

“Maaf,” ucap Rumi pelan.

Prada menggeleng, “Kamu tidak melakukan kesalahan.”

“Tapi aku mengingatkanmu pada tante-tante haus belaian itu.”

Prada mengernyit, “Tante-tante haus belaian?”

“Apa namanya wanita bersuami yang berselingkuh dengan lelaki lebih muda kalau bukan tante-tante haus belaian?”

“Dia wanita yang baik Rumi.”

Rumi memutar bola mata, “Ya, ya, ya ... kalau dia tidak baik untukmu, tidak mungkin kamu rela jadi selingkuhan begitu lama.”

Rumi dapat melihat raut wajah Prada mengeras dibalik panasnya bara pemanggang. Dia mengutuki mulutnya yang kurang ajar membawa mereka dalam situasi runyam. “Sorry! Aku hampir lupa dia mantanmu yang berarti.”

“Apa kamu cemburu?” tanya Prada diluar dugaan.

Rumi melongo, “Cemburu?”

Prada mengangguk, “Cemburu karena Wina merupakan tante-tante haus belaian yang berarti untukku.”

Rumi tertawa terpingkal-pingkal. “Pikiran aneh darimana itu?”

“Siapa tahu. Kita sudah dekat cukup lama,” jawab Prada masam. Dia benci dengan respon Rumi yang terlihat. “Para karyawan bahkan sudah menganggap kita berkencan.”

“Dan kamu peduli?” cemooh Rumi. “Bagaimana bisa orang sepertimu peduli dengan gossip yang dibuat para karyawan?”

Prada berjalan mendekati Rumi. Dia berhenti tepat di samping gadis ini. Jarak mereka sengaja dibuat sangat dekat.

“Bagaimana kalau ternyata aku tertarik kepadamu? Bagaimana kalau saat ini aku ingin sekali melakukan hal-hal romantis yang sangat intim?” Pertanyaan ini dilontarkan tepat di telinga Rumi dengan nada yang sensual.

Rumi menoleh, sehingga jarak wajah mereka sangat-sangat dekat, “Benarkah?” tanya Rumi tak kalah sensual. “Jadi kamu ingin mengintimidasiku sekarang?”

“Kalau iya?” Prada balik bertanya sembari menempelkan hidungnya pada hidung Rumi. “Ciuman kemarin cukup seru untuk dilanjutkan.”

Rumi bergerak mundur diingatkan dengan kejadian sabtu malam itu. Prada tahu gadis ini merasa tidak nyaman, walau Rumi masih berusaha bersikap takpeduli.

“Sepertinya aku harus pulang. Antar aku pulang sekarang!” pinta Rumi.

“Mengapa kamu menghindar?” tanya Prada gemas tak mengindahkan permintaan Rumi.

“Menghindari apa?”

“Pembicaraan tentang ciuman waktu itu.”

“Apa yang harus dibahas?”

“Apa itu tidak berkesan sama sekali bagimu?” Prada mulai jengkel.

Rumi menghela napas. “Itu kesalahan Prada. Anggap saja tidak pernah terjadi.”

Prada terdiam mendengar jawaban Rumi. “Mengapa? Bagaimana mungkin hal itu bisa dianggap takpernah terjadi?”

“Prada!” bentak Rumi. “Kamu ingat kalau kita bersahabat, ‘kan? tidak ada hal seperti itu dalam persahabatan.”

“Mengapa tidak? Kamu hanya sedang mempersulit keadaan,” bantah Prada.

“Antar aku pulang sekarang!” pinta Rumi lagi, cenderung memohon.

Dia tidak bisa mengendarai mobil. Kalau bisa, mungkin dia sudah merampas kunci mobil Prada dan membawa mobil itu ke apartemennya. Ini juga sudah terlalu malam untuk naik angkutan umum. Dia juga tidak punya nomor taksi langganan.

See! Kamu kembali menghindar.”

“Apa yang kamu harapkan? Apa kamu ingin aku bertanya maksud dari ciuman itu? kalau iya, sekarang jelaskan padaku apa maksudmu!?”

Bohong kalau Rumi tidak memikirkan maksud ciuman Prada waktu itu. dia hanya berusaha mengontrol diri agar tidak terbebani pikiran yang membuatnya pusing sendiri. Karena itu dia bersikap biasa, seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

“Menurutmu?”

“Mengapa kamu balik bertanya?” Rumi menghempaskan tubuhnya ke atas kursi yang takjauh dari pemanggangan. Sebelah tangannya memijat kepala yang mendadak pening.

“Lebih baik kamu berisirahat di kamar tamu,” ucap Prada ketika melihat kondisi Rumi yang takbaik, melupakan pembicaraan mereka. “Menginap di sini saja. Besok kita berangkat bersama ke restoran.”

“Tidak, aku mau pulang,” bantah Rumi.

“Rumi....”

“Aku mau pulang,” potong Rumi tidak terbantah.

Prada menghembuskan napas berat, mengontrol emosi. “Baiklah, ayo!”

Barbecue tengah malam yang gagal total. Selama perjalanan menuju apartemen Rumi tidak ada satupun dari mereka berusaha membuka pembicaraan. Masing-masing memilih fokus dengan pikiran sendiri.

“Prada!” panggil Rumi setelah mobil berhenti di halaman apartemen.

Prada menoleh dengan malas. Belum sempat lelaki ini berkata sebuah kecupan kilat mendarat di pipinya.

“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Rumi.

“Apa kamu sedang merayu sahabatmu sendiri?” goda Prada setelah sadar dari rasa kaget yang mendera.

Rumi menggeleng cepat. “Aku merasa telah menghancurkan acara barbecue kita. Jadi, itu tanda permintaan maaf.”

Senyum lebar terlihat di wajah Prada. “Permintaan maaf yang manis,” kata lelaki ini sembari mengacak rambut Rumi. “Sekarang masuk dan beristirahat.”

Rumi mengangguk patuh, langsung melangkah keluar dari mobil. “Hati-hati di jalan!”

Prada mengacungkan jempol tanda “oke” sebelum melambaikan tangan. Kemudian mengendarai mobil menjauh dari apartemen. Senyum bahagia tidak lepas dari wajahnya. Ada perasaan yakin tumbuh di dalam hati lelaki ini. Keyakinan untuk mendapatkan Rumi menjadi miliknya.

~o♥o~

 

Read previous post:  
32
points
(2367 words) posted by MumuRahadi 5 years 50 weeks ago
64
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | mumu | romance | sederhana
Read next post:  
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 2 (5 years 50 weeks ago)
60

Seingat saya, dari bagian pertama, kmd bagian ini, sepertinya yang diulas perseteruan antara Prada dg Rumi melulu. Pasangan yang berantem bisa jadi menarik utk diamati, tapi bisa pula bikin risi, atau apapunlah yang membuat kita ga ingin lama2 di situ lagi. Kalau boleh usul, Mbak Mumu, gimana kalau dipaparkan lagi deskripsi tokoh2nya, yang membuat kita merasa akrab dg mereka terlepas dari interaksi mereka pd satu sama lain, jadi ga melulu ngikutin mereka marahan atau saling menggoda. Lagian kalau romance, saya kira, formulanya cenderung itu2 aja kan, dua orang lawan jenis, mulanya marah2, tapi lama2 diam2 saling suka, jadian deh atau nikah. Tapi kalau pembaca bisa dibikin simpati sama tokohnya, bgmpun alurnya, ada kemungkinan mereka bkl terus ngikutin cerita sampai akhir.
.
Ini teori aja sih, Mbak Mumu, saya juga belum tentu jago mempraktikkannya hahaha. Maafkan atas kesoktahuan saya... hehe.

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 2 (5 years 50 weeks ago)

he em mb memang hanya seputar prada rumi ... bahkan sampe ending kaya nya ....

hanya sedikit umbu gangguang org sekitar dr kluarga maupun tmn .... selebihnya hanay merka.

untuk deskripsi ... hmm, dipapar bertahap setiap part nya insha Allah ... hehehe....

Writer L. Filan
L. Filan at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 2 (5 years 50 weeks ago)
70

Adegan awal bab ini kan sama dg bagian akhir bab sebelumnya. Keheranan saya masih sama. Bagaimana Prada tersenyum tengil sambil ciuman? Atau, gmn Rumi bisa melihat prada tersenyum tengil sambil ciuman? wkwkwk... xD
-
Cerita ini memang sederhana dan mudah diikuti tapi terus terang belum ada hal yang menarik di dalamnya.

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 2 (5 years 50 weeks ago)

akakakaka ... iya ya baru kepikiran ... berarti d situ nanti d perjelas lagi seharusnya....

hahahaha makanya judulnya Terlihat Sederhana ... krn memang begitu .... gx ada yg bener2 menarik tapi entah mengapa saya minat melanjutkan ... itu sedikit membingungkan .