Amelia (4)

4

Memory is a complicated thing, a relative to truth but not it’s twin – Barbara Kingsolver

 

            Saat terbangun dari tidur, aku mendapati rumah masih kosong. Pasti ayah bekerja semalaman lagi di kantor polisi menangani kasus penemuan mayat gadis itu. Aku masih belum percaya dengan kejadian semalam, segalanya terasa sangat cepat. Setelah kami sampai di rumah, Kai memastikan apakah aku baik-baik saja di rumah sendirian. Terlepas dari rasa terkesanku atas perhatiannya, aku meyakinkannya aku akan baik-baik saja sendirian. Pekerjaan ayah sebagai polisi membuatnya selalu pergi disaat yang tak terduga sejak aku masih kecil. Keluarga Hiroaki-lah yang menjagaku selagi ayah tidak ada.

            Almarhum orang tua Chi dan Kai telah menganggapku seperti anak ketiga mereka. Mereka pernah menanyakan keberadaan ibuku, dan kujawab dia tetap tinggal di Irlandia karena pekerjaannya. Semakin aku dewasa, aku semakin tahu bagaimana kondisi keluargaku. Ayah dan ibuku tidak pernah menikah, bahkan kehadiranku di antara mereka sama sekali tidak mereka harapkan. Ibuku lebih memilih karirnya saat ayah melamarnya. Maka dari itu, ayah yang orang Jepang membawaku ke negaranya agar aku tidak ikut terluka.

            Aku keluar dari kamar dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. Di depan cermin, aku masih bisa melihat sebagian dari ibuku di diriku. Ayah berkata aku mirip sekali dengannya. Aku memiliki mata abu-abu dan rambut cokelatnya yang merupakan ciri khasku di sini. Ciri khas itulah yang membuatku berbeda daripada yang lain sehingga banyak yang mengejekku saat aku masih sekolah. Namun bagi ayah, dengan melihat diriku, membuatnya teringat bahwa dia masih sangat mencintai ibuku sampai ia tidak sanggup mencari wanita lain untuk menggantikannya.

            Selesai membasuh wajah, aku pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tumbuh sendirian tanpa ibu dan ayah yang sering berpergian membuatku mandiri. Aku menyeduh teh ke dalam teko dan membuat dua porsi pancake. Ini sudah menjadi kebiasaanku membuat dua porsi sarapan meski aku tahu terkadang ayah tidak akan pulang di pagi itu juga. Jika banyak anak yang ingin segera melepaskan diri dari orang tua mereka, aku tidak sanggup melakukan itu pada ayah. Dia membesarkanku sendirian, dia selalu tersenyum untukku meskipun terluka. Akulah satu-satunya keluarga yang dimiliki olehnya, aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja.

            Baru saja aku selesai mengangkat pancake terakhirku dari penggorengan, aku mendengar suara pintu rumah dibuka. Suara ayah yang terdengar kelelahan berkata dari pintu masuk, “Ayah pulang...”

            Aku bergegas ke ruang depan menyambut ayah. Wajahnya yang belum memiliki banyak keriput sekarang malah terlihat jauh lebih tua dari usianya karena kelelahan dan kurang tidur. Tahu dia baru saja melalui malam yang sulit, aku langsung memeluknya dengan erat, “Ayah baik-baik saja, kan?”

            Sambil menghela napas berat, ayah menjawab. “Tenang saja, ayah baik-baik saja, Hoshi-chan...”

            Aku tersenyum. Seperti biasa, ayah tidak mau kelihatan lemah di depanku.

            “Bagaimana kabar kasus Ayah?” tanyaku dengan penuh perhatian.

            “Mayat yang kalian lihat di peron stasiun semalam adalah korban pembunuhan. Hasil identifikasi menyebutkan gadis itu berasal dari Shinjuku. Kami sedang menyusuri apa yang dilakukan korban sebelum pembunuhan terjadi dan berusaha menghubungi keluarganya...”ayah menjelaskan.

            Lalu ayah meneruskan bahwa tidak ada saksi mata yang melihat saat si pelaku membuang jasadnya. Para polisi tidak habis pikir, peron stasiun itu sangat ramai dan dikunjungi ribuan lebih orang setiap harinya. Saat ini tim forensik menangani kasusnya lebih lanjut dengan menggali lebih dalam TKP dan mengautopsi korban.

            “Yang membuatku takut adalah mayat itu ditemukan di stasiun tempat kau biasa menaiki kereta untuk pulang dan pergi bekerja, Hoshi-chan.” Kata ayah.

            Aku tertawa untuk mencairkan suasana. “Ayah tidak perlu khawatir. Aku selalu pergi dengan Chi dan Kai.”

            “Aku tahu. Tapi tetap saja...” ayah mengusap wajahnya yang terlihat kelelahan. “Apalagi setelah semalam ayah menanyai teman korban, gadis malang itu selalu berpergian dengan penampilan mencolok.” Ayah menjelaskan deskripsi gadis itu saat terakhir kali sebelum ia menghilang. Berambut cokelat, memakai lensa kontak, dan berpakaian warna-warni.

            “Berpenampilan mencolok seperti gaya lolita[1], oshare[2], atau semacamnya?” tanyaku mengambil kesimpulan dari deskripsi gaya tersebut.

            “Ah, apa pun nama gayanya, aku tidak mengerti. Kusarankan kau juga tidak ikut-ikutan bergaya seperti itu.” ayah yang konservatif mengingatkanku untuk kesekian kalinya.

            “Aku terlalu aneh untuk bergaya seperti itu, Ayah. Jadi, tenang saja.” aku juga tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya aku jika berdandan seperti itu.

            “Baguslah kalau begitu.” ayah menepuk pundakku berkali-kali. “Kau membuat pancake? Bisa kucium baunya dari sini.”

            “Ya, Ayah mau?” aku menawarkan.

            “Simpan saja bagianku di kulkas. Sekarang yang ingin kulakukan hanyalah tidur...” ayah menguap selebar mungkin dan hendak berjalan ke kamarnya di lantai atas. “Kau punya rencana untuk hari ini, Hoshi-chan?”

            “Ya, aku akan pergi ke sebelah. Kai dan Chi mengajakku berkumpul.” Jawabku.

            Ayah mengangguk paham. “Baiklah. Selamat bersenang-senang.”

***

 

            “Ini dia, roti soda dan irish stew pesanan kalian. Selamat menikmati!” Kai menghidangkan kedua menu makanan yang masih sangat hangat itu di depan kami. Aku dan Chi menatap roti dan irish stew itu sambil menelan ludah kami karena kelihatan sangat lezat. Tanpa disuruh dua kali, kami mengambil sendok dan garpu lalu berlagak menjadi juri.

            “Enak sekali...” kata Chi dengan mulut penuh roti soda dan senyum kebahagiaan di wajahnya.

            Menatap dua menu makanan Irlandia di depanku aku teringat pada masa kecilku. Bau makanan lezat ini sama sekali tidak asing bagiku, aku sering menciumnya saat usiaku masih sangat kecil. Setiap akhir minggu ibuku mencoba meluangkan waktunya untuk memasak buatku. Rasanya sama persis saat aku mencicipi irish stew buatan Kai.

            “Rasanya seperti kembali ke Dundalk...” aku menyebutkan kota di Irlandia yang merupakan kampung halamanku tanpa sadar.

            Aku melihat Kai untuk tahu bagaimana ekspresinya atas pujian dari kami. Mendengar ucapanku yang dipenuhi rasa rindu, dia menjawab dengan raut bahagia di wajahnya, “Aku memang sering memasak makanan lezat yang digemari oleh banyak orang. Tetapi memasak makanan yang bisa mengobati rasa rindu orang pada kampung halamannya, aku baru melakukannya padamu, Hoshi.”

            “Oh...” Aku tersenyum terpukau dibuatnya. “Terima kasih...”

            “Ngomong-ngomong, aku melihat berita pagi ini. Kai benar, penemuan mayat di stasiun semalam menjadi berita utama.” Kata Chi. “Agak berlebihan menurutku.”

            “Jarang sekali kau menemukan mayat gadis berbalut gaun biru yang bisa kau kenakan ke pesta dansa, Chi.” Ujarku. “Ayah menjelaskan deskripsi terakhir gadis itu sebelum ia menghilang. Kurasa dia berpenampilan sepertimu.”

            “Mungkin pelakunya orang yang benci pada gaya harajuku atau sejenisnya?” Kai berpendapat. Chi langsung bereaksi tegas pada pendapat itu. “Meskipun ada pembunuh di luar sana yang membenci gaya itu, bukan berarti aku akan berhenti berekspresi.”

            “Bisa jadi pembunuhnya belum tentu membenci gaya gadis itu. Mungkin mereka memiliki masalah pelik. Uang, misalnya? Kita tidak tahu, kan?” Aku memberi opini lain.

            “Pendapat Hoshi ada benarnya.” Chi setuju denganku. “Bicara soal gaya, aku baru saja membeli majalah oshare edisi terbaru dan aku menemukan penampilan yang sangat cocok untukmu di sana, Hoshi.”

            “Eh... tidak usah, Chi. Karena mayat gadis semalam ayah jadi melarangku memakai pakaian mencolok.” Aku menolak dengan halus.

            “Ini sama sekali tidak mencolok, Hoshi.” Chi bersikeras. “Tunggu, kuambil dulu majalahnya di lantai atas.”

            Chi langsung bergerak dan keluar dari ruang makan. Meninggalkan aku dan Kai dalam keadaan melongo karena kehebohannya.

            “Terkadang aku masih penasaran apa dia sudah sadar dia telah melalui masa kuliahnya atau belum.” Kai tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia menuang kopi dari teko ke dalam gelas kami.

            “Chi seorangseniman, kau tidak bisa menghentikannya untuk terus berekspresi. Lagipula, Jepang terkenal di dunia karena memberikan banyak warna ke dunia yang membosankan ini.” kataku.

            Mendadak Kai diam karena ucapanku. Dia menatapku dengan pandangan aneh sehingga aku takut aku telah salah bicara. “Ngg... kenapa, Kai?”

            “Dari dulu kau selalu begitu, Hoshi.” Kai berkata kagum padaku. “Kau selalu menemukan sisi positif dari seseorang atau sesuatu.”

            Entah Kai menyadarinya atau tidak, aku menganggap pujian Kai itu sebagai sindiran. Sejak kecil aku mengalami banyak hal buruk dan banyak sekali perubahan sampai aku tidak percaya semua itu adalah kenyataan. Jika aku tidak mengambil sisi positif dari semua cobaan Tuhan itu, siapa lagi?        

            Aku hanya menanggapi pujian itu dengan senyuman dan kembali menghabiskan irish stewku. Cuma itu yang bisa kulakukan saat aku mulai merasakan rasa canggung dan berdebar di diriku ketika ternyata Chi belum juga kembali dan aku terjebak di ruang makan ini berdua saja dengan orang yang kucintai secara diam-diam.

            Namun Kai adalah orang yang ramah, dia selalu menemukan topik apa pun untuk bisa dibicarakan. “Kau merindukan Dundalk, Hoshi?”

            Aku langsung berhenti makan begitu Kai menyebutkan nama kampung halamanku itu. Aku masih ingat hawa segar khas Irlandia yang kuhirup saat keluar dari rumah setiap paginya. Atau saat pergi ke bar di mana ibuku mengenal pemilik bar itu dengan akrab sehingga aku tidak dikenai batas umur untuk memasuki bar itu.Di bar itu aku mendengar live music setiap malam, pemain biola, bodhrán[3], dan penyanyinya membawakan lagu-lagu khas Irlandia yang penuh semangat sehingga semua pengunjung menari-nari dengan riang. Ibu juga sering membawaku ke padang rumput yang sangat luas yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di sana aku berguling-guling di rumput dan bermain dengan segerombolan domba yang merumput. Hidup di Irlandia rasanya seperti hidup di negeri dongeng.

“Sejak ayah membawaku kesini saat aku masih 8 tahun, aku tidak pernah pergi ke Irlandia lagi. Jadi ya, aku merindukannya.”

            Kai menyadari kegalauanku dan meminta maaf, “Aku pasti mengingatkanmu pada kenangan buruk, ya?”

            “Tidak juga. Malah sebaliknya.” Aku tersenyum dan mencoba mengingat bagaimana rupa ibuku saat aku masih kecil. Ayah sering berpergian dari Jepang ke Irlandia dan sebaliknya hanya demi menemuiku. Dia mencoba untuk tetap menjalin hubungan dengan kami walau terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan pengasuh karena ibuku selalu bekerja sehingga hanya ada beberapa kenangan yang kuingat tentangnya. Seperti dia membacakanku cerita untuk tidur di malam yang sunyi, membawaku ke taman bermain pada hari libur, dan pergi membeli es krim bersama di kafe dekat rumah.

            Terkadang aku berpikir mungkin bukan ibu atau ayah yang bersalah atas kegagalan hubungan mereka. Tetapi karena situasi dan harapan yang tidak memungkinkan.

            Oleh karena itulah aku masih bertanya-tanya mengapa Tuhan menghadirkanku ke dunia ini seolah-olah aku adalah sebuah kesalahan.

            “Bicara soal kampung halaman, semalam aku mendapat e-mail dari teman lama kita.”Kata Kai sumringah.

            “Oh ya? Siapa?” aku penasaran.

            “Kau ingat Aoi Yamamoto? Teman sekelasku dan orang yang disukai Chi semasa SMA?” Aoi adalah sahabat terdekat Kai saat SMA. Dia termasuk siswa yang cerdas sehingga ia menerima beasiswa untuk kuliah di Amerika.

            Aku ikut sumringah begitu mengingat siapa yang Kai maksud dalam waktu singkat. “Ya! Tentu saja! Dia sudah pulang dari Amerika?”

            “Besok ia akan tiba di Jepang dan berkunjung kemari. Bagaimana kalau kita rahasiakan kedatangannya dari Chi dan kejutkan dia besok?” Kai mengusulkan sebuah ide jahil yang seru.

            Akusudah tidak sabar saja menanti melihat bagaimana Chi akan kalang kabut bila melihat orang yang sudah lama disukainya tiba-tiba muncul di hadapannya. “Ide bagus!!”

            “Ide bagus apa?” tiba-tiba suara Chi menyela pembicaraan kami. Aku dan Kai nyaris meloncat kaget dan langsung bertingkah seolah kami tidak merencanakan persekongkolan apa pun.

            “Eh, tidak. Kai baru saja menceritakan ide variasi baru masakannya. Ya kan, Kai?” aku mengedipkan mata pada Kai sebagai isyarat agar ia bekerja sama.

            “Ya, ya... Hoshi benar. Ka... kami tidak membicarakan apa pun, kok!” timpal Kai gagap dan canggung.

            “Kalian ini. Baru kutinggal sebentar kalian sudah membuat topik yang tidak kumengerti.” Komentar Chi dengan menyipitkan matanya curiga. “Ah, sudahlah. Maaf aku lama di atas sana, karena saat aku mengobrak-abrik kamarku untuk mencari majalah yang kuinginkan, aku malah menemukan ini!”

            Chi memperlihatkan sebuah buku yang terlihat usang. Buku bersampul hitam dan tampak monoton. Di sana terdapat lambang sekolah yang langsung mengingatkanku pada SMPku. Itu adalah buku tahunan kelulusan angkatanku dan Chi.

***

            Baru membuka lembar pertama buku tahunan itu saja sudah membuat kami teringat akan segalanya saat masa SMP. Betapa lucunya Chi saat ia datang pada hari pertama dengan kepangan rambut di sisi kepalanya, dan betapa anehnya aku karena selalu memakai topi untuk menutupi rambut cokelatku.

            Kami langsung menuju ke bagian kelas kami, kelas 3-3. Dari foto lama-lama itu, para siswa sudah mulai menemukan ciri khas mereka. Misalnya Chi, yang memotong rambutnya dengan gaya seperti tokoh anime yang populer saat itu.

            “Lihatlah fotomu, Hoshi! Sayang sekali... kau bisa lebih cantik daripada ini...” kata Chi kecewa. Memang, aku ingat betul aku sama sekali tidak terlalu bersemangat dalam sesi foto dan aku memaksakan senyum di fotoku itu.

            “Hebat juga ya, Chi sudah berani meninggalkan poni ratanya yang seperti boneka kokeshi.” Kai meledek Chi.

            “Oh ya!? Seperti fotomu di buku tahunan paling keren saja!” kata Chi tidak mau kalah.

            Aku tertawa dibuatnya. Namun harus kuakui, pada kenyataannya, foto Kai di buku tahunan memang paling keren menurutku. Aku melihatnya di perpustakaan sekolah dulu dimana seluruh buku tahunan dari angkatan pertama disimpan di sana. Kai tersenyum sangat manis dan memperlihatkan lesung pipinya. Seluruh adik kelas sangat menyayangkan dan kehilangan Kai ketika ia lulus, termasuk para anggota tim klub sepak bolanya. Dia sangat terkenal waktu itu dan memiliki banyak penggemar. Anehnya, dia tidak pernah menyadarinya sampai pada hari Valentine pada tahun keduanya dia menerima banyak sekali cokelat dari para gadis termasuk senior.

            Chi sendiri sangat aktif di berbagai kegiatan. Minatnya pada seni sudah terlihat saat dia memutuskan mengikuti klub komik dan melukis. Dia menjadi ketua di klub komik di tahun keduanya dan pernah membawa harum nama sekolah saat dia memenangkan lomba melukis tingkat nasional tepat sebelum kami lulus.

            Dimana masa SMP adalah masa kejayaan bagi Kai dan Chi, bagiku justru sebaliknya. Karena bahasa Jepangku dulu masih belum terlalu lancar, aku tidak banyak berbicara dan tidak bergaul dengan banyak orang. Mereka malah menganggapku bule aneh bisu dan memiliki bahasa lain seperti alien. Cukup sering para senior menggangguku dan mengejek aksenku. Chi selalu membelaku ketika teman-teman sekelas kami menjahili dan menindasku.

            Selain itu masa SMP juga merupakan awal aku menyukai Kai. Namun aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menyatakannya seperti gadis lain di sekolah. Satu, karena dia senior. Dua, anak-anak di sekolah pasti akan menindasku lebih jauh kalau mereka tahu dan itu pasti akan sangat menyusahkan Kai. Tiga, aku mungkin akan membawa dampak buruk bagi persahabatanku dengan Chi. Empat, karena aku memiliki seorang teman lain yang harus kujaga.

            “Lho, siapa anak ini?” kata Chi heran saat ia membuka halaman selanjutnya. Dia melihat nama yang tertera di bawahnya. Shou Nakamura.

            “Siapa ya, Shou Nakamura...?” Chi berusaha mengingat dengan susah payah. “Oh ya! Dia teman dekatmu, bukan, Hoshi? Kalau tidak salah kalian juga dari Irlandia, aku masih ingat rambut kalian yang sama warnanya!”

            Aku mengambil buku tahunan itu dari Chi dan mengenang kembali persahabatanku dengan sosok Shou yang bisa dikatakan sangat singkat. Dia senasib denganku, bahkan dia mendapat siksaan yang lebih parah dari senior daripada aku. Dia pergi begitu saja setelah upacara kelulusan. Kehadiran dan kepergiannya sama sekali tidak dikenang seolah dia tidak pernah ada.

            Tetapi bagiku, yang telah berusaha keras untuk melupakan rasa pedih dan kehilangan yang mendalam karena kepergiannya yang begitu cepat, dia meninggalkan banyak sekali kenangan yang berisi suka dan duka yang kami lalui bersama.

            “Kudengar kalau tidak salah dia pindah ke Irlandia, ya?” Chi memecahkan lamunanku.

            Aku mengangguk pelan sambil memutar kembali ingatan saat perjumpaan terakhir kami. Dia mengucapkan selamat tinggalnya di bawah derasnya air hujan dan menorehkan sesuatu di diriku yang tidak akan bisa kulupakan.

            “Shou siapa? Orang aneh itu?” Kai menimpali dengan nada tidak suka.

            “Apa yang kau ingat darinya, Kai?” tanya Chi.

            “Selain cara bicaranya yang sering gagap dan selalu pasrah setiap kali dijahili? Kurasa tidak ada...” ujar Kai meremehkan.

            “Tetapi prestasi akademinya sama sekali tidak gagap.” Chi membela Shou. “Aku kaget sekali nilai matematikanya mendapat nilai sempurna saat ujian akhir semester. Maksudku, dalam sejarah sekolah, hampir tidak ada yang bisa meraih sempurnadi pelajaran matematika. Dia juga berdiri di sampingku saat aku menerima penghargaan lomba melukis karena dia juga memenangkan lomba debat berbahasa Inggris.”

          “Nilai pelajaran bahasa Jepangnya juga sangat bagus meskipun dia jarang sekali berbicara dengan orang lain...” sahutku. Aku tertawa kecil saat ia membanggakan nilainya itu di depanku dan dirinya yang dengan sigap menenangkan diriku yang panik saat kami membedah katak saat mata pelajaran biologi.

            “Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia pernah sekalipun mencoba menghubungimu, Hoshi?” tanya Kai.

            Aku terpaksa menggelengkan kepala atas jawaban itu.

            “Sudah kuduga. Lalu, apakah itu sikap yang baik sebagai seorang sahabat?” Kai menuding.

            “Kai, jangan berkata seperti itu.” Chi menegurnya.

            Kai ada benarnya. Sedikit pun Shou tidak pernah menghubungiku sejak kepergiannya. Aku hanya berpikir positif mungkin dia tidak ingin melukai diri kami dengan surat, e-mail atau pembicaraan singkat di telepon. Itu hanya akan memperbesar luka yang sudah ada. Aku tidak memiliki fotonya, kartu pos, atau barang lain tentangnya yang bisa membantuku mengingat sosoknya.

            Namun yang mungkin Shou tidak tahu, meskipun dia berusaha untuk menghilang secara seutuhnya dari hati dan pikiranku, aku akan selalu ingat dia pernah menjadi bagian dari hidup dan diriku. Selamanya.


[1]Lolita: nama genre mode yang berasal dari Jepang yang khas dengan penampilan ala victorian dan kostum dari jaman rococo.

[2]Oshare: nama genre mode dari Jepang yang identik dengan penampilan warna-warni dan unik

[3]Bodhrán: nama alat musik khas Irlandia berbentuk bulat seperti drum dan dimainkan dengan cara dipukul di dalam dekapan tangan.

Read previous post:  
18
points
(1232 words) posted by Mhysa 5 years 37 weeks ago
60
Tags: Cerita | Novel | thriller | Cinta | jepang | misteri | pembunuhan
Read next post:  
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)
70

saya yang suka dengan cerita detektif, pembunuhan, penyelidikan, dan yang berunsur misteri, akan menuliskan asumsi-asumsi hasil observasi...

*peron stasiun, apalagi di Jepang, tak perlu saksi mata untuk mengetahui siapa saja yang berada di sana, karena ada kamera CCTV...meskipun saya belum pernah ke sana atau mencari informasi tentang stasiun di sana, saya tahu dari Anine Death Note saat Ray Pamber terkena serangan jantung tepat setelah dia keluar dari kereta api. Dan adegan kematian itu direkam oleh kamera CCTV, saat itulah L sadar bahwa Kira berada di antara orang-orang yang diselidiki agen FBI itu..
*"Saat ini tim forensik menangani kasusnya lebih lanjut dengan menggali lebih dalam TKP dan mengautopsi korban." kalimat "menggali lebih dalam" terasa janggal, entah kenapa saya ingin merubahnya jadi kata "observasi" (mungkin ini hanya masalah selera saja, jadi tidak terlalu penting), juga setahu saya, forensik itu hanya menangani mayat, karena forensik adalah cabang ilmu kedokteran...
*terus ada pemakaian kata "galau" yang penggunaannya tidak tepat
*dan ada beberapa kalimat yang kurang logis

hanya itu yang bisa aku catat...maaf kalau kurang berkenan di hati...saya juga masih belum bisa menulis cerita pembunuhan yang baik, mohon bantuannya juga

masalah nervous atau grogi, kenapa merasa seperti itu, ini bukan panggung loh.... bayangkan saja(lebih baik yakinkan diri anda) bahwa ini bukan panggung, tetapi ruang latihan, jadi jangan tertekan untuk tampil baik, tetapi tampillah dengan kemampuan anda dan rasa percaya diri yang tinggi...kalau pun tampil buruk tidak akan disoraki, malah akan dibimbing agar tampil baik, lalu lebih baik, dan pada akhirnya sangat bagus...dan saat tampil di panggung yang sesungguhnya, penonton akan berteriak menyanjungmu, memberimu tepukan tangan untuk mengapresiasi kehebatanmu, dan saat itu dunia akan mengenalmu....

...terima kasih

Writer Mhysa
Mhysa at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)

iya, terima kasih editannya.. ^^

Writer MATROKHIM
MATROKHIM at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)

bagus aku sangat terhibur

Writer pandaku
pandaku at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)
100

bagus kak tapi nyrempet-nyrempet komx yg pernah aku baca apa y waktu itu aku lupa judulnya.. mungkin kebetulan aj kali y... heeem gk bosen kok aku bacanya.justru aku seneng baca krya-karya orang kan aku juga bisa mndpat pljran baru.

Writer Mhysa
Mhysa at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)

oh ya? komik apa judulnya? ^^

aih, terima kasih banyak, ya!! :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)
70

hm... suasananya kembali jeglek. dalam artian ga ada hawa2 pembunuhannya lagi, kecuali selintas kabar dari ayahnya itu. jadinya saya penasaran nantinya apa hubungannya antara si pembunuh sadis dengan persahabatan hoshi-chi-kai, terus gimana proporsinya antara bagian yang slice-of-life ini dengan bagian sadisnya itu. sepertinya ini masalah membangun suasana cerita. (sebetulnya kalau novel itu enaknya dibaca sekalian sih, biar feel-nya nyambung terus gitu, ga keputus2, hehehe...)

Writer Mhysa
Mhysa at Amelia (4) (5 years 36 weeks ago)

iya, tiap bab beda-beda suasananya ^^ semoga ga bosen bacanya, ya! ><