The Golden Apple: Undangan

“Nona terlihat murung sekali."

“Murung? Aku? Itu hanya imajinasimu saja, Mabel.”

Anastasia Appelbaum tersenyum canggung, membiarkan pelayannya melanjutkan menyisir rambutnya. Murung adalah kata yang terlalu berlebihan. Keadaannya tidak seburuk itu. Ia hanya…

…Hanya apa?

Well, Anastasia memang tidak sedang merasa seceria biasanya. Ia mendapat kabar bahwa Alyssa, sepupu jauhnya dan putri dari Baron Stafford, akan pergi ke London untuk debutnya season ini. Itu berarti Alyssa akan berada di pusat kehidupan Inggris, menghadiri pesta-pesta kalangan atas, berdansa dengan pria-pria paling terhormat, dan jika semua berjalan dengan lancar, mendapati townhouse-nya yang megah dipenuhi oleh antrean pelamar.

Bukan hanya itu. Yang paling utama, dia akan diperkenalkan kepada keluarga kerajaan di Istana Buckhingham!

Dengan kata lain, ketika semua orang menikmati kesenangan dunia di satu tempat, Anastasia terjebak di sini, di Blakemere, sampai ayahnya menikahkannya dengan pria yang ia pilih sebagai pewaris perkebunan mereka selanjutnya.

Tidak, Anastasia tahu ayahnya tidak akan memaksanya menikahi pria yang tidak ia sukai. Ayahnya bukan orang seperti itu, satu di antara sekian banyak hal yang membuat gadis itu merasa memiliki ayah terbaik di dunia. Tapi ia juga tahu, sampai kapan pun orang tuanya tidak akan mengizinkannya pergi ke London, apalagi sampai tinggal sepanjang season, berparade di depan orang-orang yang menurut mereka paling dangkal sedunia.

Memang Mr. Appelbaum tidak pernah terang-terangan melarang Anastasia untuk pergi ke London, tapi umpatan dan keluhannya setiap kali mereka harus menunjungi Alyssa cukup memberi indikasi. Lagipula, ketika sebagian besar wanita dari keluarga terhormat lainnya memulai debut di usia tujuh belas, Anastasia tidak melihat usaha apapun untuk mempersiapkan debutnya di usia delapan belas.

“Huft,”

“Kalau Nona menghela nafas seperti itu, Nona bisa cepat tua,” komentar Mabel sambil menyelipkan sebuah sirkam di rambut Anastasia.

“Biar saja. Siapa juga yang peduli aku jadi nenek-nenek di usia dua puluh?”

Anastasia merasakan Mabel berhenti menata rambutnya, “Ibu Nona akan sedih mendengar Nona bicara begitu.”

“Maaf.”

Anastasia tidak tahan untuk tidak berpikir, untuk apa ia belajar musik dan tata krama selama bertahun-tahun, menata rambut setiap pagi, memesan gaun-gaun baru, merasa sesak gara-gara korset, semua hal merepotkan itu jika selamanya ia tidak akan meninggalkan Blakemere? Kecuali membeli gaun baru—tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mencoba gaun-gaun—siapa yang akan melihat semua usahanya itu?

Oh… Seharusnya aku berhenti memikirkan London, Anastasia menegur dirinya sendiri. Kalau ia tidak terus-terusan membayangkan betapa menyenangkannya melewati season di London, ia tidak akan merasa begitu menyedihkan. Ia tidak mungkin merindukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan, bukan?

Tapi bagaimana ia bisa tahan ketika surat-surat Alyssa datang, menceritakan setiap detil kemeriahan yang ia nikmati di sana?

“Sepertinya akan cerah seharian, Nona. Bagaimana kalau pergi piknik?” Mabel menyarankan. Anastasia memang belum punya rencana apapun hari ini.

“Tidak, aku—siapa itu yang mengetuk pintu?”

“Pas sekali saya selesai menata rambut Nona. Biar saya bukakan.”

Anastasia mengangguk setuju. Mabel membuka pintu kamar Anastasia dan menemukan Bridges, kepala pelayan keluarga Appelbaum, menunggu di baliknya.

“Ada apa, Bridges?” tanya Anastasia tanpa beranjak dari tempat duduknya di depan meja rias.

“Lord Igdrasil datang berkunjung—“

“Paman Urd datang?!”

Mendengar berita dari Bridges, Anastasia langsung melonjak senang.

“Ya, Miss Anastasia. Saat ini beliau sedang menemani Tuan dan Nyonya sarapan di taman. Mereka menanti kedatangan Anda.”

“Aku akan segera ke sana!”

Urd Norn, Lord Igdrasil, adalah teman lama keluarga Appelbaum. Pria itu dikenal sebagai seorang bangsawan dari negeri asing entah di mana, namun belasan tahun yang ia habiskan bersama dua adik perempuannya di London telah menghasilkan reputasi baik di tengah masyarakat kalangan atas. Ia selalu datang dengan banyak kisah, entah itu dongeng tentang dewa-dewi yang tinggal di atas langit hingga kisah petualangan sang Lord sendiri yang selalu dipenuhi bumbu-bumbu fantastis. Anastasia tidak tahu bagian mana yang nyata dan mana yang karangan, tapi ia tetap menyukainya.

Sayangnya Lord Igdrasil tidak bisa berkunjung sesering yang Anastasia harapkan, padahal kedatangannya adalah sesuatu yang selalu dinanti. Anastasia juga tidak bisa pergi mengunjunginya di London. Karena itulah gadis itu membiarkan kakinya bergerak lebih cepat dari yang sepantasnya, keluar dari kamar dan menuruni tangga melingkar dan menuju taman tengah.

“Paman Urd!” Anastasia sudah berseru memanggil sang lord bahkan sebelum ia sampai di taman. Namun, begitu sampai di depan meja penuh makanan tempat Lord Igdrasil dan kedua orang tuanya menikmati brunch mereka, Anastasia teringat satu hal dan berhenti. Gadis itu menekuk kakinya, membuat pose memberi hormat paling anggun yang bisa ia lakukan.

“Lord Igdrasil,” sapa Anastasia.

“Kau makin telrihat seperti wanita dewasa, Miss Appelbaum,” sang lord bangkit dari kursinya dan mengecup punggung tangan Anastasia.

Gadis itu terpana sesaat. Lord Igdrasil tersenyum padanya, masih sama dengan ketika beliau terakhir kali datang ke rumah Appelbaum dua tahun yang lalu.

Mrs. Appelbaum tersenyum simpul melihat putrinya yang salah tingkah, lalu berkata, “Duduklah, Anastasia, kami baru saja membicarakanmu.”

“Huh? Aku?”

Anastasia melihat ayahnya membuang muka, ibunya tersenyum namun kecemasan terbaca jelas pada matanya. Dan mereka bilang mereka sedang membicarakan dirinya!

Anastasia duduk di antara ibunya dan Lord Igdrasil. Ia tahu seharusnya ia memulai dengan berbasa-basi terlebih dahulu—bagaimanapun juga Paman Urd adalah tamu dari jauh—tapi ia penasaran. Apa yang harus dibicarakan?

“Jadi… Ada apa denganku?”

Anastasia melihat ibunya menyikut ayahnya yang masih tidak mau menatapnya langsung. “Kalian saja yang mengatakannya,” kata Mr. Appelbaum, pelan, tidak lebih dari sekedar bisikan.

Akhirnya Lord Igdrasil-lah yang angkat bicara. Senyumnya masih tampak kharismatik ahkan ketika dikelilingi kerutan halus dan rambut yang warnanya mulai memudar.

“Nah, Anastasia sayang,” Lord Igdrasil memulai penjelasannya, “Apa kau ingin pergi ke London?”

Read previous post:  
47
points
(705 words) posted by Riesling 5 years 48 weeks ago
67.1429
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | historical romance | idun | mitologi | norse | Thor
Read next post:  
Writer aphrodite
aphrodite at The Golden Apple: Undangan (5 years 42 weeks ago)
70

Ceritanya memang pendek2 ya? Bacanya jadi terlalu cepat :p
Ada beberapa typo yg kelihatan: telrihat, ahkan
Bagian ini kerasa normal banget, mungkin karena ga nyebut2 tentang biji emas.
Baca lanjutannya dulu~

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 42 weeks ago)

antara iya dan tidak :p
Oke~ makasih :D

Writer addang13
addang13 at The Golden Apple: Undangan (5 years 45 weeks ago)
80

awalnya bingung juga. tapi kalau di coba baca pake bahasa inggris jadi kedengaran enak. knapa nda sekalian ditulis bahasa inggris saja? (ah... nevermind.,., ide gila itu)

contoh;
“Pas sekali saya selesai menata rambut Nona. Biar saya bukakan.”

itu kalau jadi bahasa inggris kedengarannya rada enak. tapi kalau bahasa indonesia kok rasanya agak sedikit gimana gitu...

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 44 weeks ago)

Iya, harusnya emang bahasa inggris. saya juga mikirnya pake bahasa inggris ._. tapi ini tadinya dibikin buat kompilasi dan semua orang janjian pake bahasa Indonesia ._.
Makasih udah mampir~

Writer cat
cat at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)
90

Mmanaaa lanjutannyaaa??

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)

iyaaaaaaaaa~ minggu depan yak :p

Writer alcyon
alcyon at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)
100

terlalu pendek, letnan! kenapa sukanya nanggung2 gini?

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)

biar gaul, bos

Writer kaochanisa
kaochanisa at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)
80

yang saya lihat, banyak kata-kata yang kurang sesuai dan berlebihan penempatannya.. untuk jalan cerita, menurut saya sih bagus..
ditunggu kelanjutannya ya..
;)

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)

iya, saya emang kesulitan nulis ini pake bahasa indonesia. Genre macam ini biasanya langsung saya baca versi bahasa inggrisnya oTL. Semoga bisa agak mendingan :v
makasih udah mampir~

Writer IreneFaye
IreneFaye at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)
90

Terlalu banyak typo ling ...
klo gak ada typo pasti kukasi nilai 10

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)

di mana?
gak nemu @@

Writer Illyasviel_Emiya
Illyasviel_Emiya at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)
100

Pendek >.<
Tapi saya lebih lihat dominasi ke arah Normal daripada fantasi. apa sebutan genrenya?
.
Bijinya ga disebut lagi?
.
Saya menunggu chapter berikutnya
.
Salam manis, Illya.

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Undangan (5 years 47 weeks ago)

paruh pertama emang normal :v
setelah lewat pertengahan baru lebih berasa fantasi.
di sini bijinya belum kesebut karena chapter pendek sih.
Makasih udah mampir~