[HxH FanFict] Naivety x Nihilism - Part 1

1st Move : [The Thing That Begin Anew]
 
<01>
 
Gelap.
 
Adalah yang pertama ditangkap oleh penglihatannya - indera yang paling diandalkan oleh seorang Tobari Hideya.
 
Gelap.
 
Dalam arti sebenarnya, adalah ketiadaan cahaya, dan inilah yang dilihat Hideya saat ini - ia bahkan tidak bisa melihat bagian tubuhnya sendiri.
 
Apa yang terjadi?
 
Hideya memutar kembali ingatannya.
 
Sebelum sampai ke tempat ini, ia baru saja memperkenalkan dirinya di sebuah oasis pada sekumpulan orang yang merupakan peserta dalam pertarungan antar dimensi. Dan ingatannya terhenti sampai di situ.
 
Pertarungan antar dimensi....Battle of Realms?
 
Entah bagaimana nama itu muncul dalam benak Hideya.
 
Tak salah lagi. Battle of Realms. Itulah nama pertarungan yang melibatkan Hideya di dalamnya - yang telah merenggut kebebasan setiap mereka yang mengikutinya, seolah mereka hanyalah bidak permainan yang digerakkan oleh dua 'pemain' yang sebenarnya - dua orang yang melabeli diri mereka dengan sebutan 'panitia'.
 
Menggelikan.
 
Hideya bisa merasakan bahwa ia tidak sedang bermimpi, dan tidak pula matanya tertutup. Jadi jelas bahwa kehampaan yang terhampar di hadapannya adalah nyata.
 
Ia sudah tahu jawabannya.
 
Ia telah 'dibuang'.
 
Ya, pasti itulah yang terjadi padanya saat ini. Bidak yang tidak lagi diperlukan dalam permainan, dikeluarkan dari dunia rekaan menuju tempat pembuangan yang gelap ini.
 
Hideya tidak mengeluh. Ia sudah tahu sejak awal ada sebuah konsekuensi mengikuti sebuah pertarungan antar dimensi di mana logika dunia tidak berlaku, dan dia sudah menerima bahwa semua yang ia lalui sebelum tiba di sini hanyalah 'permainan'. Ada yang menang, ada yang kalah. Semua itu adalah sebuah kewajaran dalam sebuah permainan.
 
Hanya saja, masih ada satu hal yang tidak ia mengerti.
 
Mengapa ia masih memiliki kesadaran hingga saat ini?
 
Di dalam permainan bernama Battle of Realms tersebut, 'Tobari Hideya' yang menjadi peserta di dalamnya - orang yang sama dengan yang tengah memikirkan hal ini - adalah salinan dari 'Tobari Hideya' yang asli. Bila Hideya - 'Tobari Hideya' yang asli, yang memiliki kehidupannya sendiri entah di dunia mana dan sedang apa sekarang - disebut 'Hideya v.0', maka Hideya yang ini adalah 'Hideya v.1'. Dan 'Hideya v.1' ini sudah tidak punya fungsi lagi di dunia manapun.
 
Jadi, kenapa dirinya masih 'ada'?
 
Ia mengira berakhir di Battle of Realms berarti berakhir pula kisah hidupnya sebagai salinan, tapi ternyata tidak. Kenapa demikian?
 
Di tengah kebingungannya, samar-samar mata Hideya akhirnya menangkap sesuatu setelah sekian waktu berlalu.
 
Sesuatu itu awalnya tampak seperti titik putih, kemudian melebar ke segala arah seperti hendak melahap seluruh warna hitam di depan Hideya.
 
Gerakan warna putih tersebut terhenti tepat di depan Hideya, membuat seakan Hideya kini berada di dalam sebuah halaman buku yang berseberangan dengan warna di depan sana.
 
Hideya masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi ketika matanya kembali menangkap sosok yang mendekat dari kejauhan.
 
Sosok itu melangkah, melangkah di bagian di mana hanya ada warna putih di dalamnya, dan kelihatannya menatap lurus ke arah Hideya.
 
Pada akhirnya jarak di antara keduanya menyempit hingga Hideya dapat melihat dengan jelas rupa sosok yang berdiri di seberang.
 
Sosok seseorang dengan masker gas dan pakaian serba hitam, dengan motif tengkorak terpampang di jaket dan topi yang ia kenakan.
 
Dan orang itu kini mengulurkan tangannya pada Hideya.
 
<02>
 
Dahulu sekali - ia tidak ingat kapan tepatnya - ia memperkenalkan dirinya pada seseorang di tempat yang sama dengan nama Sakaki Ko.
 
Dahulu sekali - ia tidak ingin mengingat kapan tepatnya - ia pernah bermimpi menjadikan dirinya sendiri seorang pencipta, bukan sekedar seseorang yang tidak tahu harus menyebut dirinya sendiri apa.
 
Dan kini, berdiri di hadapannya, salinan dari seseorang yang dalam kisah hidupnya dikenal sebagai seorang 'pencipta'.
 
"Tobari Hideya dari kisah Arcanagram," Sakaki berujar. "Senang bertemu denganmu di sini."
 
Tobari Hideya diam saja.
 
"Ah, aku lupa mengenalkan diri," Sakaki menggaruk kepalanya seraya mengulurkan tangannya yang satu lagi. "Namaku Sakaki Ko. Kau bisa memanggilku 'Sakaki-kun' kalau kau mau - aku sudah terbiasa dipanggil seperti itu sejak dulu."
 
Tobari Hideya tidak membalas uluran tangan Sakaki.
 
"Uuuh...halo?"
 
Tobari Hideya memerhatikan Sakaki dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sepasang matanya yang bulat besar bagai alat pemindai yang sedang menelanjangi apapun yang kasat mata - dalam kasus ini, Sakaki dan penampilannya. Sakaki menjadi risih sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa.
 
Baru setelah proses 'pemindaian' itu selesai, Tobari Hideya menunjuk ke arah kedua telinganya, lalu membuat tanda silang dengan kedua telunjuk tangan.
 
"Ah! Aku lupa sama sekali! Kau, tidak bisa mendengarku, ya?"
 
Kemudian Sakaki merasa bodoh karena bertanya soal 'tidak bisa mendengar' pada orang yang jelas-jelas tuli.
 
Sakaki kemudian menuliskan sesuatu di udara menggunakan jarinya, dan titik-titik hitam berkumpul di latar belakang putih tempatnya berdiri - membentuk sebuah kalimat yang dapat Hideya pahami sebagai bentuk komunikasi.
 
[Selamat datang di duniaku, Tobari Hideya. Namaku Sakaki Ko. Kuharap kau tidak keberatan aku menarik..maksudku, mengundangmu ke sini.]
 
Melihatnya, Hideya mengeluarkan sebuah memo dan menunjukkannya pada Sakaki. Di dalamnya tertera sebuah tulisan.
 
[Duniamu suram sekali. Cuma ada hitam putih. Apa kau buta warna?]
 
"......."
 
Untuk sesaat Sakaki merasa seperti tertusuk di dada. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, sulit menggambarkannya dengan kata-kata.
 
Untunglah Sakaki tidak memiliki ekspresi - lebih tepatnya, tidak ada yang tahu apakah ada wajah yang menunjukkan ekspresi di balik masker gas yang ia kenakan - sehingga Hideya tidak melihat adanya perubahan emosi pada Sakaki.
 
Sakaki bangkit dari rasa suram yang sesaat melanda dirinya, kemudian melanjutkan pembicaraan dengan kembali membentuk kata-kata di udara.
 
[Kau tidak bertanya kenapa kau kubawa ke sini, atau siapa aku sebenarnya?]
 
Balasan dari Hideya datang lebih cepat dari waktu yang diperlukan seseorang untuk mengedipkan mata.
 
[Aku sudah memikirkannya sejak melihatmu dari kejauhan. Hanya mereka yang punya kuasa setara dua orang 'panitia' itu yang bisa dengan seenaknya memanipulasi eksistensi sebuah salinan sepertiku, jadi kuasumsikan dua kemungkinan : 1) kau adalah bagian dari panitia Battle of Realms, atau 2) kau adalah pihak lain dengan kekuatan setara dua panitia itu. Soal tujuan, dugaanku juga dua : 1) kau ingin membentuk pihak ketiga untuk menghancurkan turnamen itu, atau 2) kau punya permainan lain untuk ditawarkan padaku. Meski dari caramu memperkenalkan diri dan bertanya, kurasa kau berusaha bersikap ramah karena menginginkan sesuatu dariku. Silakan koreksi kalau aku salah.]
 
Usai membeberkan isi kepalanya, Hideya mengambil sebuah permen karet, lantas mengunyahnya sambil menunggu Sakaki yang tampak termangu tanpa kata-kata.
 
La, laki-laki ini punya kecepatan berpikir setara Fort... Minus sikap sombong dan menyebalkan darinya, Tobari Hideya ini lebih seperti robot yang cuma berpikir logika!
 
Entah Sakaki harus senang atau tidak melihat keadaan ini.
 
Selepas turnamen antar dimensi yang ia adakan, dirinya sudah berjanji pada para peserta - khususnya pada sang juara Mliit dan 'wakil'nya Fort' - untuk berhenti melakukan hal bodoh seperti mencoba-coba menipu mereka yang mempunyai kehidupan berupa kisah masing-masing hanya untuk kepentingan Sakaki sendiri - yaitu menjadikan dirinya sejajar dengan gelar 'entitas penulis', sebuah gelar yang selama ini salah ia sangka sebagai identitasnya. Sakaki sama sekali tidak melupakan janji itu ataupun berniat melanggarnya - bagaimanapun juga, ia merasa sudah tersadarkan bahwa mencoba meraih apa yang bukan milikmu adalah hal yang sia-sia, dan karenanya ia tidak berpikir untuk melakukan kesalahan yang sama dua kali.
 
Lantas, kenapa ia mengundang salinan Tobari Hideya ke sini?
 
Kali ini tujuannya bisa dikatakan lebih mulia daripada saat ia menggelar Battle of Realms kedua.
 
Ia tahu kalau semua peserta yang mengikuti turnamen kali ini hanyalah salinan. Mereka tidak punya 'nilai', baik dari segi eksistensi maupun cerita, di luar turnamen yang sedang berlangsung.
 
Mengetahui hal ini, Sakaki menjadi sedikit empatik dengan keadaan para salinan. Mungkin ia merasa diingatkan kembali dengan dirinya sendiri yang sempat mengalami krisis identitas, tidak yakin di mana ia seharusnya berada.
 
Maka kali ini ia berencana.
 
Untuk membuat kisah di mana para salinan bisa hidup layaknya para karakter yang sebenarnya.
 
Sakaki memang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari nol, namun ia bisa memodifikasi sesuatu yang sudah ada. Dalam pikirannya ia berniat menampung semua tokoh salinan di satu tempat, menjadikan tempat itu sebagai dunia di mana mereka menciptakan kisah mereka, dan membuat keberadaan mereka semua memiliki kisah yang berarti untuk diceritakan, terlepas dari turnamen yang memaksa mereka menuruti keegoisan pihak yang tidak mereka kenal.
 
Setelah merangkai kata-kata yang ia rasa tepat untuk mengutarakan maksudnya, Sakaki menjabarkan beberapa kalimat pada Hideya, berharap dengannya sang pemuda mengerti kalau ia tidak memiliki niatan macam-macam selain membantu mereka semua.
 
Beberapa detik berlalu sebelum Hideya tampak melihat kalimat yang dibentuk Sakaki di udara, memandang Sakaki sekali lagi, kemudian menerawang ke sekeliling tempat mereka berdiri saat ini.
 
Balon yang dibentuk permen karet Hideya pecah.
 
Kemudian Hideya menjawab dengan menunjukkan memonya.
 
[Kedengarannya merepotkan. Tidak tertarik. Cari orang lain saja sana.]
 
 
 
THE END
 
 
(...or not?)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Jah, udah gitu aja?
Hideya suram ya? Diajak hidup lagi aja dia gak mau.. wkwkwkwkwk, twist banget itu ending na. XD
.
.

.
Eaaaaa, sepertinya Fanfiksi lainnya mulai muncul betebaran.
XD

100

Gwa jarang begini...
Cuman feel cerita gak selesai ini pantas untuk di beri kumen
.
"Hmmm..."

80

wkwkwkwk hidup fakfiksi!