Menyongsong Bayangmu di Titik Koma

 

Menyongsong Bayangmu di Titik Koma

 

            Ini seperti sebuah perjalanan panjang sayang, perjalanan yang menguras lelah tapi aku tak ingin lelah. Aku ingin mengeluh, tapi ketika aku mengeluh itu artinya aku hanya bermain-main saja. Atau bahkan berpura-pura mencarimu. Ini tahun ketujuh sayang, aku belum lupa kok bagaimana pertama kali kamu menatapku.  Teduh, menenangkan dan menenggelamkan. Iya aku tenggelam dalam telaga matamu, berharap tak pernah keluar lagi sampai kamu dan aku memejam untuk selama-lamanya.

            Kenyataan terkadang memang lebih pahit, manakala aku harus berjuang sendiri untuk sebuah rasa. Bahkan rasa itu tak pernah sama dengan kopi pahit yang setiap pagi kunikmati, masih lebih pahit sayang. Kehilanganmu. Matahari senja pun tak pernah lagi sama indahnya ketika hanya kunikmati sendiri tanpa ada kamu di sisiku. Tempat aku menyenderkan kepala dan segala kepenatan. Semua benar-benar berbeda semenjak pergimu.

            Ini semacam mengarungi samudera sayang, arus ombak yang datang begitu kencang membuatku harus berhati-hati agar biduk perahuku tak goyah. Agar aku lekas menemuimu tanpa membawa luka. Seperti perjalanan di gurun pasir. Aku berjalan hendak menemukanmu dan yang kudapati hanya aurora. Tak sampai menghilangkan dahaga pelukku, bahkan membuat dadaku kian kemarau saja.

            Jika boleh berandai, saat ini hanya pelukmu yang sanggup tenangkanku. Tak perduli engkau mencintai siapa dan sedang menjalin hubungan dengan siapa. Aku hanya benar-benar membutuhkan pelukmu. Itu saja. Akulah perempuan sephia yang tak pernah lelah untuk menunggu. Biarlah bukan untuk kau cintai, asal bersamamu aku akan baik-baik saja.

            Ini seperti menyongsong bayangmu di titik koma sayang, berhenti lalu beranjak mencari lagi. Berhenti dan beranjak lagi, hanya untuk menemukanmu. Jangan tanya sebanyak apa mataku diterpa badai hujan, tak akan pernah bisa kau hitung. Namun, kau bisa jadi penyebab berhentinya hujan itu sayang. Ya, kaulah sebab dari semuanya. Jikapun di sini aku merasakan pedih, bukan karena aku membenci. Tapi perasaan itu terlampau menyesaki dadaku hingga tak bisa lagi bernafas. Perasaan yang kebanyakan orang rasakan ketika ia jatuh cinta lalu cinta itu pergi dan seperti tak ada tanda-tanda untuk kembali. Bisa kau bayangkan?

            Ini awal Oktober, harusnya hujan sudah turun. Untung saja tidak turun lebih awal sebab aku akan semakin sesak dibuatnya. Bayanganmu bisa memburu tanpa henti, kilatan-kilatan butir hujan akan seperti kilatan masa lalu yang hendak mengiris ulu hatiku. Nyeri. Iya, hujan akan mengingatkan aku padamu. Mengingatkan awal pertemuan kita di sebuah perpustakaan, hujan yang menahan kita di sana. Hujan juga yang menahan tatapanku di matamu. Begitu juga sebaliknya.

            Kenanganmu, kenanganku, kenangan kita terlalu banyak keindahan di sana. Takkan bisa dilupa sekejap memejamkan mata, aku sudah melewatkan tahun demi tahun. Sampai hari ini semua demikian jelas, wajahmu, senyummu, tatapanmu, apalagi yang sanggup membuatku semabuk ini jika bukan kamu? Jika bukan membayangkanmu? Ingat kamu adalah candu, memabukkan, ingin lagi dan lagi. Kau bisa rasakan tidak? Nyeri? Nikmat? Ah, sudahlah....

 

            Jingga Lestari, 4 Oktober 2013

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

cukup menusuk buat hati yang punya cerita yang sama... hikss... hehhehhehehehe

iyah. km punya cerita yang sama? :D hehe salam kenal

70

tulisan gini jadi ngingetin sama tulisannya member Shin Elqi baru2 ini hehehe... tuturannya enak dibaca, ngalir, lembut, indah... tapi rasa2nya tanpa gambaran situasi yang jelas. jadi kalo saya pribadi sih nangkepnya kayak pelampiasan aja gitu, pengungkapan rasa yang lebih dari sekadar puisi... puisi esai? hahaha... #lhakoknyambungsitu atau yah sayanya aja yang kebiasaan sama bentuk cerpen konvensional hehehe...

eh iya makasih sudah mampir di lapak sy. maaf baru bisa balas komentnya :D salam kenal yak

80

mampir mbak jingga.. :D aku suka penuturannya, mengalir begitu saja. terasa ada penantian yang pahit. tp ngomong2 kenapa di tulisan yang lain waktunya selalu '7 tahun" ya? hehe. (cuma nany) :D

hai gadek salam kenal hehhe... iya 7 tahun yg penting buat saya wkwwkw

wahhh ternyata masih ada beberapa yang mampir. makasihhh :D

Writer asahan
asahan at Menyongsong Bayangmu di Titik Koma (5 years 36 weeks ago)
70

Salam jingga
Harus diakui, jarang penulis di kemudian.com, (menurut penilaian ngasalku sih. Mohon dikoreksi kalau salah), yg mau mencoba cara bertutur semacam tulisanmu ini. Ya, itukan pilihan masing2 y, dan setiap orang punya alasan sendiri.

Dan kau memilih bertutur begitu, tentu ada hal2 yg perlu dipikirin supaya menghasilkan karya yang gak cuma indah kalimatnya, enak dibacanya, juga punya kesesuaian makna antara pemisalan satu dengan pemisalan berikutnya.

Terus terang, aku udah gak menikmati pemisalan2 yang bertubi2 kau berikan, sejak di paragraf ketiga.

Tapi, bila dilatih terus, cara kayak gini bakal menjanjikan penulis hebat.

Ayo, jingga, juga semua, termasuk aku sendiri, semangat belajar nulis terus. Biar jadi penulis yang baik

trimakasih sarannya asahan.. ehehe salam kenal yak!

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Menyongsong Bayangmu di Titik Koma (5 years 36 weeks ago)
2550

Cukup bagus, namun saya merasa cerita ini kental dengan unsur sentimental.....hehehe

ahahaha iyah sentimen dan cengeng :D

Writer Shinichi
Shinichi at Menyongsong Bayangmu di Titik Koma (5 years 36 weeks ago)
70

saya agak kurang sreg pada kalimat ini Iya, hujan akan mengingatkan aku padamu. rasanya itu malah berkesan terbalik dari yang diharapkan penulis; yang mana ingin bilang bahwa hujan membuat "aku" ingat "kamu". kesannya jadi malah hujan membuat "kamu" ingat pada "aku".
kesan aja siy.
kip nulis
ahak hak hak

Writer retata
retata at Menyongsong Bayangmu di Titik Koma (5 years 36 weeks ago)

Ceritanya sederhana, trus diksinya pas dan ga berlebihan,! :)

trimakasih retata :)