The Game Fantasy

 

“Hey Aldercy .. Kau terlihat begitu lucu dengan kacamata bulatmu itu haha” teriak seorang di pojok Ruang Kelas XI A1. Calvert-namanya, dia salah seorang murid yang menyebalkan dan sering mengejekku entah apa penyebabnya.Aku diam saja sambil berpura-pura membaca buku. Bagiku itu pertanyaan yang memuakkan, sejak 10 hari yang lalu aku memakai kacamata bulat ini, karena ku rasa ini sangat unik, seperti kepunyaan Harry Potter.

Bunyi ketukan sepatu terdengar mendekati kelas XI A1, ya jelas sekali itu suara sepatu khas Mrs. Jenny Wali kelas ini.Ketukan itu berhenti tepat pada mulut pintu. Seketika semua murid XI A1 mengunci mulut.

“Good morning ,students” Mrs. Jenny menyapa kami,tapi tidak biasa di belakang nya berjalan seorang murid baru-mungkin. “Good morning too , Mrs. Jenny” jawab kami (murid XI A1) dengan semangat.

“Baiklah, saya membawa teman baru untuk kalian”  Ucap Mrs.Jenny mengawali pelajaran sekaligus menjawab rasa penasaran “Kami” terhadap murid itu. Seperti biasa sebagai murid baru-dia memperkenalkan diri.

“My Full Name Royce Bryant , you can call me Roy. Enough!!!!” Ucap murid itu.

“Cukup?? Baiklah silahkan memilih tempat yang kosong, Roy” pinta Mrs. Jenny

***                         

“Hey Royce, sebaiknya kau tak dekat dengan Aldercy si Kacamata Bulat haha, dia anak yang aneh” Teriak Calvert kepada Royce yang tengah duduk di depanku. Royce hanya melihat Calvert dengan mata tajam. “Oh baiklah, terserah kau saja” Ucap Calvert kecut.

Aku keluar kelas ke “tempat biasa” ya tentu saja ini waktu istirahat. Aku berjalan ku lihat ada bayangan di lantai. Seseorang mengikutiku!!!! Ku balikkan tubuhku. Nothing??.

Aku telah berada di tempatku, membuka laptop pemberian almarhum ayahku ku buka “sesuatu” aplikasi yang tak dimiliki computer lain.

“Woww.. itu hebat, aku baru melihatnya sekali ini” ucap seseorang mengagetkanku. Bagaimana dia bisa berada disini, tempat ini adalah tempat tak “terlihat”. “Royce?? Bagaimana kau??” aku bertanya tak percaya.

“haha.. entahlah, aku melihatnya begitu saja” ucapnya santai

“Oke oke! Mau apa kau kesini?” tanyaku selidik

“Ingin melihatmu” jawab Royce dengan cepat

“ah sudahlah, aku tak gampang terayu, sebaiknya kau pergi aku sedang sibuk.” Kataku mengusir

“Waktu istirahat hampir habis, kau tak ingin kembali ke kelas?” tanyanya sok perhatian. “Sudahlah, lebih baik kau tutup aplikasi itu, kau tak dapat memainkannya kan?” lanjutnya semakin sok tau

“Kau cerewet sekali!!!” umpatku. Kenapa dia bisa tau?? Ah bodoh lebih baik aku turuti dia. Tapi kenapa aku menurutinya begitu saja?? Whatever!!!

***

Hujan pada pukul 14.20 ini begitu mengganggu, seharusnya aku telah pulang dari tadi, hujan ini menjebakku. Suasana sekolah yang telah sepi, hanya satu dua penjaga saja yang berkeliaran. Bulu kudukku berdiri.

“Aku harap hujan ini tak akan berhenti.” Suara tenang itu mengagetkanku.

“Kau lagi!! Dunia sungguh sempit ternyata” umpatku. Dia-Royce tanpa kupersilahkan telah duduk di meja sebelahku.

“Kau tak kedinginan??” Dia mengalihkan pembicaraan.

“Apa pedulimu?? Apa yang kau mau dariku” Sergahku

“Kau terlalu curiga, Aldercy” jawabnya dengan santai-lagi.

Beberapa saat kami terdiam, Bis yang sedang ku tunggu akhirnya tiba juga. Segera aku masuk lewat pintu terdekat tanpa ku pedulikan lagi dia-Royce.

“Hey kenapa kau juga disini” aku terkejut melihatnya duduk disampingku.

“Memangnya kenapa? Aku juga ingin pulang.”

“Modus.” Pikirku

***

Aku telah tiba di kamarku, ku buka kembali laptop ku.

“Game yang aneh, apa sebaiknya aku hapus saja ya” Ucapku yang telah berputus asa.

Jedeerr .. Pintu jedela kamarku begitu saja terbuka. Angin menyibakkan tirai hingga keluar sosok asing. “Siapa itu” tanyaku tanpa rasa takut. Sosok itu kemudian mendekatiku, dengan jubah hitam dia begitu menyeramkan.

“Hello Aldercy” dia menyapaku.

“Kau siapa??” pertanyaan itu ku ulangi lagi.

“hahaha.. Lebih baik kau jangan menghapus game itu Aldercy” kata sosok itu.

“memangnya kenapa?? Apa urusanmu!!” sangkalku

“haha.. Jangan Tanya itu lagi, kau akan menyesal.” Setelah dia berkata demikian, sosok itu kemudian memudar.

Aku membuka mataku. “Mimpi??” tanyaku pada diriku sendiri. “Ah sudahlah biarkan game yang belum bisa kubuka ini tetap bersemayam disini. Toh tidak memakan memori. Aneh.” Ucapku pada laptopku.

“Aldercy!! Ada apa? Kenapa berisik sekali.” Tanya Mom setengah khawatir. Aku membuka pintu kamarku.

“Ada apa Mom, aku dari tadi tertidur” jawabku heran.

“Yang benar?? Apa ada yang pecah Al, sepertinya tadi ada suara pecah” Mom masih khawatir.

“Haha, Mom aku lapar.” Kataku mengalihkan pembicaraan, karena aku pun bingung dengan apa yang dibicarakan Mom.

“Oke oke baiklah, ayo turun di sana sudah ada yang menunggumu.Come on!” Perintah my Mom.

Aku mengikuti ibuku dari belakang.

“Ibu.. Kenapa dia ada disini. Hey Kau bagaimana kau tau rumahku.” Teriakku

“Mudah saja.” Kata Royce tenang, sementara ibu hanya tersenyum.

“Ibu katakan saja siapa dia” nada bicaraku seperti mengancam.

“Dia saudara dari seberang sayang, ayahnya adalah teman dari ayahmu…” Ibu menjelaskan semua tentang Royce dan aku hanya mendengarkan saja seperti tak peduli.

“Dia akan tinggal disini.” Cetus ibu.

“Whatt.. Ibu.. dia menyebalkan.” Aku mengatakan hal demikian tanpa peduli Royce tersinggung.

***

“Heyy teman2 ternyata Royce satu rumah dengan Aldercy, Oh Royce kau akan menderita.. haha” Calvert tanpa hentinya menghinaku. Oh kenapa laki2 disini begitu menyebalkan.

“Memang kenapa? Kau mau ikut munginap di rumah Aldercy.” Aku terkejut dengan pembelaan Royce. Ohh dia bisa juga dijadikan guard, batinku.

Kulirik Calvert yang juga terkejut dengan orang baru yang membuatnya malu dengan perkataan. Wajah putih Calvert merah padam. Oh aku tak bisa membiarkan Royce masuk dalam masalahku.

“Royce.. Jangan menjawab Calvert lagi. Lebih baik kau diam. Aku bisa mengatasinya.” Ucapku dengan gaya angkuh.

Wajah Calvert terang kembali mendapat kelonggaran. Dan terseyum sinis pada Royce lalu berkata, “Kau lihat, dia saja tak memperdulikan kau.”

“Kalau begitu, jangan menyebut namaku lagi.” Nada Royce seperti mengancam.

 

 

“Hey Aldercy .. Kau terlihat begitu lucu dengan kacamata bulatmu itu haha” teriak seorang di pojok Ruang Kelas XI A1. Calvert-namanya, dia salah seorang murid yang menyebalkan dan sering mengejekku entah apa penyebabnya.Aku diam saja sambil berpura-pura membaca buku. Bagiku itu pertanyaan yang memuakkan, sejak 10 hari yang lalu aku memakai kacamata bulat ini, karena ku rasa ini sangat unik, seperti kepunyaan Harry Potter.

Bunyi ketukan sepatu terdengar mendekati kelas XI A1, ya jelas sekali itu suara sepatu khas Mrs. Jenny Wali kelas ini.Ketukan itu berhenti tepat pada mulut pintu. Seketika semua murid XI A1 mengunci mulut.

“Good morning ,students” Mrs. Jenny menyapa kami,tapi tidak biasa di belakang nya berjalan seorang murid baru-mungkin. “Good morning too , Mrs. Jenny” jawab kami (murid XI A1) dengan semangat.

“Baiklah, saya membawa teman baru untuk kalian”  Ucap Mrs.Jenny mengawali pelajaran sekaligus menjawab rasa penasaran “Kami” terhadap murid itu. Seperti biasa sebagai murid baru-dia memperkenalkan diri.

“My Full Name Royce Bryant , you can call me Roy. Enough!!!!” Ucap murid itu.

“Cukup?? Baiklah silahkan memilih tempat yang kosong, Roy” pinta Mrs. Jenny

***                         

“Hey Royce, sebaiknya kau tak dekat dengan Aldercy si Kacamata Bulat haha, dia anak yang aneh” Teriak Calvert kepada Royce yang tengah duduk di depanku. Royce hanya melihat Calvert dengan mata tajam. “Oh baiklah, terserah kau saja” Ucap Calvert kecut.

Aku keluar kelas ke “tempat biasa” ya tentu saja ini waktu istirahat. Aku berjalan ku lihat ada bayangan di lantai. Seseorang mengikutiku!!!! Ku balikkan tubuhku. Nothing??.

Aku telah berada di tempatku, membuka laptop pemberian almarhum ayahku ku buka “sesuatu” aplikasi yang tak dimiliki computer lain.

“Woww.. itu hebat, aku baru melihatnya sekali ini” ucap seseorang mengagetkanku. Bagaimana dia bisa berada disini, tempat ini adalah tempat tak “terlihat”. “Royce?? Bagaimana kau??” aku bertanya tak percaya.

“haha.. entahlah, aku melihatnya begitu saja” ucapnya santai

“Oke oke! Mau apa kau kesini?” tanyaku selidik

“Ingin melihatmu” jawab Royce dengan cepat

“ah sudahlah, aku tak gampang terayu, sebaiknya kau pergi aku sedang sibuk.” Kataku mengusir

“Waktu istirahat hampir habis, kau tak ingin kembali ke kelas?” tanyanya sok perhatian. “Sudahlah, lebih baik kau tutup aplikasi itu, kau tak dapat memainkannya kan?” lanjutnya semakin sok tau

“Kau cerewet sekali!!!” umpatku. Kenapa dia bisa tau?? Ah bodoh lebih baik aku turuti dia. Tapi kenapa aku menurutinya begitu saja?? Whatever!!!

***

Hujan pada pukul 14.20 ini begitu mengganggu, seharusnya aku telah pulang dari tadi, hujan ini menjebakku. Suasana sekolah yang telah sepi, hanya satu dua penjaga saja yang berkeliaran. Bulu kudukku berdiri.

“Aku harap hujan ini tak akan berhenti.” Suara tenang itu mengagetkanku.

“Kau lagi!! Dunia sungguh sempit ternyata” umpatku. Dia-Royce tanpa kupersilahkan telah duduk di meja sebelahku.

“Kau tak kedinginan??” Dia mengalihkan pembicaraan.

“Apa pedulimu?? Apa yang kau mau dariku” Sergahku

“Kau terlalu curiga, Aldercy” jawabnya dengan santai-lagi.

Beberapa saat kami terdiam, Bis yang sedang ku tunggu akhirnya tiba juga. Segera aku masuk lewat pintu terdekat tanpa ku pedulikan lagi dia-Royce.

“Hey kenapa kau juga disini” aku terkejut melihatnya duduk disampingku.

“Memangnya kenapa? Aku juga ingin pulang.”

“Modus.” Pikirku

***

Aku telah tiba di kamarku, ku buka kembali laptop ku.

“Game yang aneh, apa sebaiknya aku hapus saja ya” Ucapku yang telah berputus asa.

Jedeerr .. Pintu jedela kamarku begitu saja terbuka. Angin menyibakkan tirai hingga keluar sosok asing. “Siapa itu” tanyaku tanpa rasa takut. Sosok itu kemudian mendekatiku, dengan jubah hitam dia begitu menyeramkan.

“Hello Aldercy” dia menyapaku.

“Kau siapa??” pertanyaan itu ku ulangi lagi.

“hahaha.. Lebih baik kau jangan menghapus game itu Aldercy” kata sosok itu.

“memangnya kenapa?? Apa urusanmu!!” sangkalku

“haha.. Jangan Tanya itu lagi, kau akan menyesal.” Setelah dia berkata demikian, sosok itu kemudian memudar.

Aku membuka mataku. “Mimpi??” tanyaku pada diriku sendiri. “Ah sudahlah biarkan game yang belum bisa kubuka ini tetap bersemayam disini. Toh tidak memakan memori. Aneh.” Ucapku pada laptopku.

“Aldercy!! Ada apa? Kenapa berisik sekali.” Tanya Mom setengah khawatir. Aku membuka pintu kamarku.

“Ada apa Mom, aku dari tadi tertidur” jawabku heran.

“Yang benar?? Apa ada yang pecah Al, sepertinya tadi ada suara pecah” Mom masih khawatir.

“Haha, Mom aku lapar.” Kataku mengalihkan pembicaraan, karena aku pun bingung dengan apa yang dibicarakan Mom.

“Oke oke baiklah, ayo turun di sana sudah ada yang menunggumu.Come on!” Perintah my Mom.

Aku mengikuti ibuku dari belakang.

“Ibu.. Kenapa dia ada disini. Hey Kau bagaimana kau tau rumahku.” Teriakku

“Mudah saja.” Kata Royce tenang, sementara ibu hanya tersenyum.

“Ibu katakan saja siapa dia” nada bicaraku seperti mengancam.

“Dia saudara dari seberang sayang, ayahnya adalah teman dari ayahmu…” Ibu menjelaskan semua tentang Royce dan aku hanya mendengarkan saja seperti tak peduli.

“Dia akan tinggal disini.” Cetus ibu.

“Whatt.. Ibu.. dia menyebalkan.” Aku mengatakan hal demikian tanpa peduli Royce tersinggung.

***

“Heyy teman2 ternyata Royce satu rumah dengan Aldercy, Oh Royce kau akan menderita.. haha” Calvert tanpa hentinya menghinaku. Oh kenapa laki2 disini begitu menyebalkan.

“Memang kenapa? Kau mau ikut munginap di rumah Aldercy.” Aku terkejut dengan pembelaan Royce. Ohh dia bisa juga dijadikan guard, batinku.

Kulirik Calvert yang juga terkejut dengan orang baru yang membuatnya malu dengan perkataan. Wajah putih Calvert merah padam. Oh aku tak bisa membiarkan Royce masuk dalam masalahku.

“Royce.. Jangan menjawab Calvert lagi. Lebih baik kau diam. Aku bisa mengatasinya.” Ucapku dengan gaya angkuh.

Wajah Calvert terang kembali mendapat kelonggaran. Dan terseyum sinis pada Royce lalu berkata, “Kau lihat, dia saja tak memperdulikan kau.”

“Kalau begitu, jangan menyebut namaku lagi.” Nada Royce seperti mengancam.

 

***

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at The Game Fantasy (5 years 29 weeks ago)
70

kalo penulisannya rapi pasti lebih enak dibaca :)

penasaran tempat tak terlihatnya... itu tempat biasa/ bener2 ga terlihat?
>
“Kalau begitu, jangan menyebut namaku lagi.” Nada Royce seperti mengancam.
<
roy ngomong ke aldercy/calvert?

smgt meneruskan

Writer Lish
Lish at The Game Fantasy (5 years 29 weeks ago)

*Oke, akan diperbaiki kedepannya thanks :)
*hehe terimakasih sudah penasaran :)
*maaf kalo kurang jelas ya, hhe itu bicara sama Calvert

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at The Game Fantasy (5 years 29 weeks ago)
60

ceritanya keposting dobel ya...
baik dari segi penulisan maupun penyampaian tampaknya penulis perlu lebih banyak membaca. salah satu bacaan yang disarankan adl Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. dan jangan lupa diterapkan saat menulis.
tempo cerita terasa begitu cepat seperti ditulis tanpa penjiwaan. misal, kemunculan Royce baik di kelas maupun di rumah terasa begitu tiba2... selain itu game apa sebenarnya yang dibicarakan si "aku", kemunculan sosok yang melarangnya untuk menghapus game itu, lalu tahu2 Mom datang dan si "aku" bersikap seolah ga terjadi apa2. agak mengherankan... dan kenapa bahasanya mesti bercampur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? ini latar tempatnya di mana sih?
tapi ga apa2. teruslah menulis. semakin banyak menulis katanya akan melatih kita untuk menulis semakin baik.
maaf kalau kurang berkenan. moga betah meramaikan Kemudian :)

Writer Lish
Lish at The Game Fantasy (5 years 29 weeks ago)

iya keposting dobel, terimakasih ya mbak atas komentarnya:) penulisannya akan saya perbaiki lagi, dan semakin banyak belajar :)