Menuju QPLCDP: Wendy (2)

/6/

Sang Ratu berdiri dengan bertumpu pada Jenderal Makkius, nampak nyaris tak sadarkan diri. Beberapa jam yang lalu, Alicia berhasil melumpuhkannya untuk bisa mengambil perkamen kekuatan Dewi Ahura yang tersembunyi di menara tertinggi kastil.

Aula besar istana kini dilalap api. Puing-puing berserakan, begitu juga jenazah-jenazah kehitaman. Karpet merah bersimbah darah. Alicia berdiri seorang diri di pusat ruangan menghadapi para iblis, separuh putus asa melihat apa yang tinggal dari kerajaannya, namun juga penuh harap akan kekuatan yang diam-diam disimpannya.

Irene Magorath duduk di atas tandu, tersenyum puas melihat kesusahan sang Penasihat melawan para pasukannya yang berwajah buruk dan tiada habisnya. Dia menunggu celah. Yakni ketika sang gadis menjadi terlalu sibuk untuk memperhatikan dirinya. Yang ditujunya, tentu saja bukan Alicia yang hanya Penasihat Kerajaan. Para bawahannya boleh memiliki gadis itu. Yang dia mau kepala Sang Ratu, supaya dia bisa menghancurkan kerajaan ini seutuhnya. Dan Sang Ratu, berdiri jauh di belakang Alicia, tersembunyi dalam kobaran api, bersama seorang jendralnya yang masih tersisa.

Lalu kesempatan itu datang.

Secepat kilat, sang Ratu Iblis melompat ke tengah kobaran api, disingkirkannya sang jendral—yang langsung terjatuh lalu dilalap api tanpa ampun. Magorath mengangkat Titania yang setengah sadar pada kerah lehernya, kikik tawanya memenuhi ruangan, menyadarkan Alicia akan apa yang tengah terjadi.

Tidak...!” Alicia berteriak tertahan. Meskipun selama ini mereka bertentangan, Anastasia adalah satu-satunya saudarinya. Ratunya. Separuh dari jiwanya. Tidak bisa dibiarkannya Magorath membunuh gadis itu.

Matanya berair ketika dia membacakan sederet mantera yang tadi telah dikuasainya. Lalu segalanya menjadi hening, dan tubuhnya dilingkupi cahaya panas yang meledakkan dinding kastil dan melebar hingga mengubah warna angkasa di luar. Para pasukan iblis menjerit-jerit dengan bahasa yang tidak dikenalnya.

Pergerakkan sang Ratu Iblis terhenti dengan Titania masih dicekiknya. Matanya mendelik.

“Ahura Mazda...” Dia berbisik, menatap Alicia yang mendengus mengejek sekalipun jantungnya berdebar panik.

“Makan ini, iblis! Dan kembalilah ke alam kalian!”

Suara deru angin dan roda menggetarkan seisi kastil, memencarkan para pasukan iblis yang masih tersisa. Lubang raksasa muncul dari arah sinar telah pergi. Sebuah benda berukuran sangat besar muncul dari gumpalan awan, bentuknya seperti ratusan roda yang membentuk sebuah bola raksasa. Benda yang dilikupi cahaya luar biasa itu keluar dari lubang.

“Jangan lakukan ini...” Alicia mendengar suara merintih yang bukan dari sang Ratu Iblis maupun pasukannya. Kakaknya menatapnya memelas dari sana.

“Jangan khawatir,” bisik Alicia serak, tertawa hampa. “Dengan ini, semuanya akan berakhir...”

Tubuhnya gemetaran. Sesungguhnya, dia pun ketakutan akan apa yang telah dipanggilnya keluar. Bagaimana kalau setelah ini dia akan mati sebagai harga pemanggilan? Atau bagaimana kalau setelah ini seluruh Erde akan diluluh lantakkan makhluk itu?

Tapi suaranya malah menyadarkan Magorath, yang dengan segera memutuskan bahwa menunda pembacaan mantera adalah prioritasnya—bukan sang Ratu. Dijatuhnya sang Ratu ke tanah, lalu diteriakkannya perintah kepada para anak buahnya yang masih tersisa, “Ambil kekuatan itu! Habisi dia, lalu rampas perkamen itu dari tangannya!”

Sang Penasihat membenarkan kembali posisi bertarungnya, dengan panik menebaskan pedang dan berputar—terkepung dari segala arah. Tangannya telah kebas ketika roda-roda yang menyala merah menderu, melesat di sekitarnya dan menghanguskan hampir separuh dari makhluk berwajah buruk itu.

Alicia memegang perkamen di tangannya tinggi-tinggi, suaranya melengking tinggi dan bergetar mengatasi kobaran api. Dia melepaskan sebuah tawa berderai—suara tawa yang tak bisa dia kenali sebagai suaranya sendiri.

“Pergi dari Yang Mulia Ratu, atau akan kuhabisi kalian semua menjadi serpihan!”

“Tidak, berhentilah!”

Titania mendongak bertumpu pada sebelah tangan, mengibaskan sebelah tangan lagi di udara dan melepaskan seleret sinar keperakan pada kerumunan iblis juga adiknya. Separuh mantera yang diucapkan Alicia beradu dengan sihir sang Ratu di udara, kemudian memencar ke segala penjuru. Alicia terhempas mundur ke belakang, demikian juga Magorath yang jatuh menabrak reruntuhan. Perkamen terlepas dari tangan, terbakar bersama ledakan kekuatan.

Ratu Titania tertelungkup. Tidak bergerak lagi.

Alicia menjerit, menangis memanggil saudaranya dengan penuh sesal, namun kekuatannya tak sampai untuk bangkit berdiri. Saat itu juga, pintu gerbang berderit membuka. Sepasukan pendeta bergerak memasuki istana yang terbakar dipimpin oleh Sidatta. Mereka lah yang mengalahkan sang Ratu Iblis beserta para pasukannya yang tinggal sedikit.

***

/7/

Setelah menghabiskan waktu berhari-hari dikurung dalam ruangannya, sepasukan pendeta menggiring Alicia menuju kamar pribadi sang Ratu. Bangunan kastil nampak telah diperbaiki, namun sisa-sisa perang masih terasa begitu menghantui di sepanjang lorong bangunan yang kini terasa kosong juga dingin.

Seperti melukiskan hal-hal yang tidak akan bisa diperbaiki lagi.

“Alicia?”

Alicia bergerak maju, menghampiri pembaringan saudarinya. Para pendeta menyingkap kelambu.

Apa yang dilihat Alicia selanjutnya membuatnya terkesiap. Sang Ratu telah menyusut. Ukuran tubuhnya kini hanya sebesar anak kecil, meski sama sekali tak ada keriangan khas anak-anak di ekspresinya yang kelam.

“Kuharap kau puas dengan apa yang telah kauperbuat,” katanya dingin.

“Aku tidak bermaksud melakukannya!” Alicia membela diri. “Kalau saja kau tidak mencegahku menyelesaikan mantera itu, semua ini tidak perlu terjadi dan kau tidak akan...”

“Alicia, kekuatan itu tidak hanya menyebabkan hal ini terjadi padaku!” sergah sang Ratu kasar. “Sinar yang kaulepaskan itu juga telah membelah benua ini dan membunuh seperempat dari para penduduk Erde—baik manusia maupun kaum kita yang tersisa dari pembantaian Magorath!”

Pemberitahuan itu mengguncang Alicia. Dia merosot jatuh berlutut. Wajahnya ngeri.

“Tidak... itu tidak mungkin...!”

“Kebencianmu telah membawa petaka bagi kerajaan ini dan seisi dunia!”

“Tidak...” Alicia mengulangi. Dia bangkit berdiri, dan mengejutkan Anastasia dengan lanjutan perkataannya yang menyengat. “Ini semua salahmu! Salahmu karena mempercayakan nasib bangsa kita kepada kaum manusia! Kalau saja kau menurutiku dengan menutup kerajaan kita sebelum segalanya terlambat...”

Pundak Anastasia bergetar dengan tawa pilu, mengasihani sekaligus dibuat patah hati oleh perkataan barusan. “Kau masih bersikeras mengatakan semua itu? Apakah kebencian telah begitu jauh menguasai relung hatimu?! Sudah cukup, saudariku!”

Sang Ratu membuang muka, mengamati pemandangan di luar jendela setinggi ruangan yang masih berselimut cahaya kemerahan, seolah angkasa masih berduka atas apa yang telah terjadi pada Erde.

“Mulai dari saat ini, kau telah kehilangan posisimu sebagai Penasihatku, dan kau akan menghabiskan sisa hidupmu di Menara Regia sebagai hamba dari Khion, sang Dewa Kebekuan.”

“Kau akan mengasingkanku...? Kau tega melakukan ini?”

“Kenapa tidak?” tukas Sang Ratu tegas, memandang saudarinya—seseorang yang kini tidak dikenalinya, dengan muak. “Itu hukumanmu karena telah melanggar wasiat Ahura Mazda, juga karena telah mengkhianatiku!”

***

/8/

“Apakah tidak ada cara untuk menyembuhkanku?”

Pendeta Sidatta menggeleng. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Kau lebih tahu daripada lelaki tua ini tentang kekuatan yang dimiliki sang Dewi Penciptaan, dan saya yakin Yang Mulia juga sadar bahwa kekuatan itu absolut sifatnya.”

Sebelah tangan Titania mencengkeram permukaan jubah kebesarannya—yang kini sudah terlampau longgar buatnya. Saat ini dia merakan sesak yang tidak tertahankan lagi.

“Inilah akhir dari Le Chateau de Phantasm!” ujarnya putus asa. “Rakyatku nyaris tak bersisa. Sedangkan aku akan segera kehilangan kekuatanku dan menjadi seorang peri lemah yang tak berdaya!”

“Yang Mulia.” Sang Pendeta menepuk-nepuk pundaknya bersimpati. Suaranya sendu. “Kau masih punya kekuatan tak terbatas itu. Meskipun perkamen telah hilang, energinya telah berhasil disegel.”

“Jangan biarkan siapapun memiliki atau mengetahuinya!” ujar Titania segera. Sepasang matanya melebar ketakutan. “Sidatta, kita harus menyembunyikan kekuatan ini supaya kejadian serupa tidak terulang kembali!”

“Dengan berat hati Yang Mulia, pengetahuan mengenai kekuatan itu adalah satu dengan kerajaan ini.”

“Kalau begitu, sembunyikanlah keduanya!” titah Sang Ratu, meskipun hatinya hancur. “Toh dengan hampir musnahnya kaumku dan kepergian Alicia, sudah tiada lagi yang berarti di tempat ini selain kekuatan itu.”

Sang Pendeta mengangguk mengerti.

***

/9/

Berbulan-bulan kemudian, sang Ratu mulai memikirkan adiknya dan berangkat ke Menara Regia untuk menjenguk. Namun keadaan sang mantan Penasihat membuatnya kaget dan terpukul.

Alicia terbaring di sebuah sudut kurungan gelap sedingin es. Tubuhnya telah menjadi sedemikian kurusnya hingga tulang-tulangnya menonjol. Badannya hampir sama dinginnya dengan permukaan lantai. Ada bercak-bercak darah di bajunya yang tipis serta compang-camping, juga di wajahnya. Ketika Titania mendekat dan memanggilnya, pundak gadis itu sedikit bergerak, namun dia tak sanggup menggerakkan mulutnya untuk bersuara.

Sang Ratu menangis memeluknya.

“Tidak peduli apapun yang telah kaulakukan, kau tetaplah satu-satunya saudaraku,” isaknya. “Dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang telah kuperbuat padamu ini!”

Maka dia maju menghadapi sang Dewa Kebekuan. Meski wujudnya kini kecil sekali sebagai Anastasia, sang Ratu masih memiliki sedikit kekuatan untuk mengambil wujud sebagai Titania dalam waktu singkat. Itu sudah cukup untuk menghabisi dewa pengendali es tersebut.

“Dengarkan aku, saudariku,” dia berbisik ke telinga saudarinya. “Aku hanya punya sedikit sekali energi yang tersisa setelah kekuatan Dewi Ahura melumpuhkanku waktu itu, dan setelah ini, mungkin tak ada lagi yang tersisa. Tapi dengan sisa kekuatanku ini, jiwamu akan menguasai tubuh Khion. Gunakanlah tubuh dan kekuatan barumu untuk pergi ke tempat yang jauh, dan mulailah kehidupan baru sebagai seorang bernama Alcyon...”

***

/10/

Beberapa puluh tahun lagi berlalu, dan Le Chataeau de Phantasm telah sepenuhnya terisolir di ambang batas ada dan tiada. Keberadaan kastil tersebut dan kekuatan rahasia yang tinggal di dalamnya kini tinggal sebagai legenda akan sebuah utopia di antara masyarakat Erde, dengan tidak ada satupun orang yang sepertinya tahu kebenaran pastinya.

Sedangkan peri Wendy, adalah seorang Ratu dari kerajaan yang kosong melompong.

Dia terbang dari lorong ke lorong, dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya di sepanjang kastil yang gelap tak berpenghuni. Di sepanjang waktu, dia akan duduk menangis karena kesepian. Di lain waktu, dia akan menangis karena teringat masa lalu. Kadang-kadang dia juga duduk di pinggiran balkon, bicara sendiri kepada langit, bertanya-tanya akan keadaan di luar sana. Sebab dengan menghilangnya kekuatan yang dia miliki, Wendy juga kehilangan kemampuan untuk menembus tabir pembatas kerajaan dengan dunia luar.

Kadang-kadang, dia juga teringat akan tujuan sang Dewi menciptakannya.

‘Kepada kalian berdua, akan kupercayakan kekuatanku. Berdua, kalian akan memerintah sebuah kerajaan bernama Le Chateau de Phantasm, dan menjadi penguasa kaum peri. Bersama, ciptakanlah sebuah kerajaan dimana semua makhluk Erde dapat saling menerima dan hidup berdampingan.’

Tetapi sekarang tidak ada lagi kaum peri.

Tidak ada lagi Alicia di sisinya.

Juga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya.

Dan tidak ada lagi sebuah kerajaan dengan kekuatan tak terbatas dimana semua makhluk Erde dapat hidup berdampingan.

Wendy sudah tidak tahu lagi apalah tujuan dari eksistensinya sampai saat ini. Dia seorang Ratu dari kastil tak berpenghuni. Ratu yang sudah kehilangan kekuatannya menjadi seorang peri kecil tak berguna. Lalu apakah dia masih bisa dikatakan seorang Ratu?

***

/11/

“Kau melupakan satu hal, Anastasia.”

Wendy mendongak dengan mata sembab. Di hadapannya, berdiri sebuah sosok berjubah panjang bertudung kehijauan yang menutupi kepala dan sebagian matanya.

“Siapa...?” tanya si peri kecil ketakutan. Sudah lama sekali waktu berlalu semenjak terakhir kalinya ada makhluk yang bisa dia ajak bicara di kastil ini. Apakah dia sudah mulai berhalusinasi?

“Kau melupakanku, Yang Mulia? Namaku Euelle. Aku salah satu dari sekian banyak yang dulu tercipta atas kekuatan yang kaumiliki.”

“Euelle...?”

“Yang Mulia Ratu, fakta bahwa saat ini kau masih tetap ada—meskipun dengan wujud yang lemah, juga fakta bahwa aku masih bisa muncul di hadapanmu, adalah pertanda bahwa kau masih memiliki tujuan. Meskipun kerajaan ini kini kosong, kekuatan yang luar biasa masih tersimpan di dalamnya. Kekuatan yang sama juga ada di dalam dirimu.”

Wendy mengernyit pada sosok itu, meragukan.

“Kau adalah sang Ratu. Kau diciptakan untuk itu. Tidak ada yang bisa mengubahnya, termasuk keterbatasanmu saat ini.”

“Tetap saja percuma!” sergah Wendy. “Tidak ada siapapun di sini. Tidak ada yang tahu tentang kerajaan ini—tentang diriku. Untuk apa ada seorang Ratu tanpa keberadaan rakyatnya?”

“Kalau begitu, katakanlah. Apa yang sekarang kauinginkan, Yang Mulia?”

Wendy bergeming, tidak yakin apakah dia pantas mengatakan keinginannya. Tetapi Euelle tersenyum ramah, memberanikannya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Aku... aku ingin Le Chateau de Phantasm menjadi tempat dimana semua orang dapat hidup bahagia, seperti dulu!”

“Kalau begitu, kau sudah menemukan tujuanmu.”

“Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Tidak ada yang bisa menemukan kerajaan ini sekarang! Lagipula, aku tidak bisa keluar ataupun berbuat apa-apa dengan wujud seperti ini!”

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Kau adalah sang Ratu, dan tidak ada suatu apapun yang bisa mengubahnya,” pungkas Euelle lembut. “Ada orang-orang yang mencari kerajaan ini—dan mencarimu sebagai sang Ratu, lebih daripada yang kautahu.”

“...benarkah?” Sepasang mata Wendy melebar dengan pengharapan, kemudian keraguan. “Tapi... mereka hanya berniat untuk mengambil dan menyalahgunakan kekuatan penciptaan Ahura Mazda, tentunya?”

“Kekuatan yang baik saling terhubung satu dengan yang lain, Yang Mulia. Hanya hati yang murni yang akan beresonansi dengan kekuatan yang tersembunyi di dalam kastil ini... juga di dalam dirimu. Itulah inti dari sihir yang diberikan pendeta Sidatta.”

“Tapi bagaimana aku akan mengenali orang-orang ini?” Wendy menyangsikan, teringat Alicia. “Seperti apa orang-orang yang mencari kastil ini tanpa bertujuan untuk menyalahgunakan kekuatan di dalamnya...?”

“Yang Mulia Ratu, apakah tahun-tahun kesendirian telah membuatmu kehilangan kepercayaan akan kebaikan dalam diri manusia?” tanya Euelle, kali ini dengan sorot mata yang sedih. “Tetapi aku ingin kau membayangkan orang-orang ini dalam pikiranmu. Orang-orang yang ditakdirkan untuk mencari kerajaanmu, dengan alasan dan tujuan yang berbeda-beda.”

Maka Wendy memejamkan mata, berusaha menyatukan hatinya dengan gambaran yang disebutkan.

“Ada seseorang yang berusaha menaklukan segala pengetahuan demi bertemu kembali dengan satu-satunya yang pernah memberi arti bagi kehidupannya,

“Lalu ada seorang lain yang tidak bisa melihat masa depannya sendiri karena matanya tertutup kegelapan di masa lalunya,

“Seseorang bersedia membuang segalanya demi merebut orang yang dikasihinya dari tangan maut,

“Seseorang ingin melindungi orang yang berharga bagi seorang dewa yang telah menyelamatkannya,

“Dan akhirnya, seseorang ingin  membangunkan kekuatan sejati yang selama ini tidur dalam dirinya.”

“Walau mungkin itu hanyalah sebagian,” dia menambahkan, tertawa kecil.

Setelahnya, ada keheningan yang meminta Wendy membuka mata. Dia mendapati bahwa sosok Euelle sudah tidak bisa ditemukan lagi seolah melebur bersama udara kosong.

“Orang-orang ini akan mencari kerajaanku...?” tanyanya pelan, masih mengedarkan pandang.

“Berdoalah, Anastasia. Ketika keinginanmu terhubung dengan mereka yang berhati murni...”

“...mereka akan menemukanku—mereka akan menemukan Le Chateau de Phantasm,” Wendy melanjutkan dengan penuh keyakinan. Senyum penuh harap terkembang di wajah peri birunya. “Lalu mereka akan menjadi kekuatanku untuk membangkitkan kerajaan ini!”

“Benar sekali.” Terdengar suara Euelle untuk terakhir kalinya. “Sampai jumpa, Anastasia. Kita akan segera bertemu lagi...”

***

/12/

Wendy menghabiskan berhari-hari setelahnya dengan duduk di pegangan balkon, memperhatikan matahari sejak terbit sampai terbenam. Kedua tangannya menempel di dada. Batinnya menyerukan mantera yang sama, lagi dan lagi.

“Temukan aku... Temukan aku!”

Lalu setelah mengucapkannya sekitar seribu kali, Wendy merasakan sensasi yang aneh. Seolah badannya ditarik ke dalam suatu sumbat.

Apakah akhirnya seseorang menemukannya...?

Hebatnya tekanan magis membuat Wendy terpekik, secara refleks berusaha lari memberontak, tapi kemudian tentu saja tubuh peri kecilnya kalah. Teriakannya mengikuti di sepanjang perjalanan menembus dimensi, melintasi pusaran warna-warni yang membutakan, kegelapan, kemudian lurus berhadapan dengan sepasang mata cokelat tua milik pemanggilnya.

Akhirnya!

***

/13/

Dalam kegelapan, peri Wendy terpekur. Sudah lama sekali waktu berlalu semenjak masa-masa itu.

Titania.

“Maafkan aku, Dewi Ahura,” pinta Wendy dengan muram. “Aku tahu kau kecewa padaku atas apa yang terjadi. Alicia benar, mungkin semua ini memang kesalahanku. Aku terlalu lemah. Aku tidak bisa memutuskan apa yang terbaik bagi kerajaan ini, dan sekarang aku tidak berdaya...”

Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Titania.

“Tetapi Alcyon adalah kesalahanku! Karena aku tidak bisa menegaskan perasaanku sendiri, aku menanam kebencian di dalam hati saudariku, membuangnya, lalu membebaskannya... Padahal kebenciannya terhadap manusia dan diriku akan menjadi ancaman bagi dunia ini bila digabungkan dengan kekuatan Khion!”

Masa lalu tak bisa diubah, Titania.Tetapi akan datang masanya dimana sekali lagi, penduduk Erde akan hidup saling berdampingan di bawah kerajaan Le Chateau de Phantasm. Bukankah itu yang kauharapkan?

“Aku ingin percaya begitu!” sahutnya. “Aku ingin percaya begitu... tapi dengan keadaanku saat ini, dengan ancaman dari Alcyon dan Empire... keinginan itu terasa mustahil untuk terkabul.”

Titania, aku mengerti bahwa bagimu, waktu telah lama berlalu. Namun saat ini aku menunjukkan masa lalu kepadamu, supaya kau tidak lagi melupakan beberapa jawaban yang telah kautemukan sebelumnya.

 “Jawaban apa yang kaumaksud, Dewi Ahura..?”

Bahwa kau sudah bukan lagi seorang Ratu dari kekosongan. Ada orang-orang yang membutuhkanmu sekarang.

“Orang-orang yang membutuhkanku...?”

Kini ketika kau telah menemukan orang-orang itu, kau memiliki semua kekuatan yang kaubutuhkan. Ingatlah bahwa kekuatan seorang Ratu adalah rakyatnya—orang-orang yang membutuhkannya.

Tiba-tiba saja, Wendy teringat akan percakapannya dengan Euelle, mengenai orang-orang yang akan mencari kerajaannya. Ingatan demi ingatan membentuk sebuah kesatuan dalam benaknya, merupa sebuah jawaban.

“Orang-orang yang membutuhkanku... untuk menuntun jalan mereka menuju Le Chateau de Phantasm!” katanya berbinar. “Bagaimana bisa tak terpikir olehku bahwa aku sudah menemukan mereka...?”

Maka itulah kekuatanmu, Titania. Kekuatan itu sudah kembali kepadamu.

Pendar-pendar bundar keemasan muncul dari setiap sudut kegelapan, mengerubungi Wendy dan terserap masuk ke dalam tubuhnya.

“Dewi Ahura!”

Kembalilah, Titania, kepada mereka yang membutuhkanmu. Kau adalah Ratu dari Le Chateau de Phantasm. Tidak ada yang berubah. Ingatlah itu.

***

(MARI LANJUTKAN KOLAB INIIIII~~~ YUHUUU!)

Read previous post:  
Read next post:  
Penulis Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Menuju QPLCDP: Wendy (2) (5 years 27 weeks ago)
100

Ini cara ngeles yang bagus~ :v
Great story though~