Membunuh Presiden

3 tahun setelah Quin membawa lari Eirika, gadis itu meninggal dunia karena kanker. Sebelum kematiannya, Eirika menceritakan tentang cinta pertamanya. Pria itu adalah gurunya waktu kecil dan sangat baik padanya.

Suatu ketika, ada seseorang yang ingin melenyapkan pria itu karena terlalu keras mengkritik pemerintah yang memang sudah bobrok. Beberapa kali pria itu berhasil menyelamatkan rakyat miskin dari ketidakadilan pemerintah. Semua rakyat yang tertindas menyukainya, sedangkan penjahat bertopeng penjabat membencinya. Hingga suatu hari ada seseorang dari pemerintah yang merasa terancam dan menyewa jasa TETA untuk membunuh pria itu.

Eirika mengetahui semua itu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau dia memberitahu pria itu, tentu ayahnya yang akan mati. Jika dia tetap diam, pria yang dicintainya itu yang akan mati. Dalam kebimbangan, akhirnya Eirika memilih diam dan membiarkan pria itu terbunuh.

Ironisnya, setelah kematian pria yang dicintainya itu. Eirika mengetahui satu rahasia besar tentang cinta pertamanya. Pria itu sudah mempunyai istri dan istrinya adalah salah satu anggota TETA yang tak pernah mengetahui bahwa yang membunuh suaminya adalah rekannya sendiri.

Quin mendengar cerita istrinya itu dengan gelisah. Ada sesuatu yang membuat hatinya tak tenang. Sesuatu yang kemudian membuatnya kaku saat istrinya menyebut nama-nama yang dikenalnya dengan sangat baik.

"Pria yang kucintai dan tak bisa kulindungi itu adalah Fathin Yodha, dan istrinya bernama Frika Zahralas."

Kemudian dengan hati-hati Quin bertanya siapa orang yang menyewa TETA untuk membunuh Fathin. Istrinya menjawab tanpa curiga dan Quin mengenal bentul siapa dia, orang yang membunuh pamannya. Sebulan lalu, pembunuh itu diangkat sebagai presiden terpilih negara Inesia.

***

Satu bulan setelah kematian istrinya, Quin melaksanakan strateginya untuk membunuh Presiden Inesia yang baru. Hari itu Presiden Inesia mengadakan perjalanan yang akan melewati Jalan Merpati Hideung yang membelah Hutan Tangkal. Di tengah jalan itu, Quin sudah siap menghadang.

***

Dua motor polisi yang memimpin iring-iringan mobil Presiden berhenti ketika melihat seseorang berdiri agak jauh dari mereka. Salah satu petugas itu mengambil radio dan sebelum dia sempat melaporkan hal itu. Orang yang berdiri di depannya tiba-tiba langsung berada di sampingnya. Sedetik kemudian dua motor itu telah meledak bersama dua polisi yang hangus terbakar.

Empat penumpang mobil di belakang motor yang terbakar langsung keluar dan mengarahkan senjata ke depan. Sementara mobil lain yang agak jauh di belakangnya, berhenti dan keempat orang dengan katana masing-masing di tangan muncul dari mobil itu.

"Siapa di sana!" Teriak salah satu pengawal yang berlindung di pintu mobil depan dengan pistol di tangannya.

Perlahan dia melihat sebuah bayangan dari balik asap motor yang terbakar. Bayangan itu berjalan semakin mendekat dan semakin jelas bentuknya. Pertama yang terlihat adalah sepatu hitam dengan garis putih, lalu celana jeans hitam, kemudian kemeja hitam dengan jas warna senada, serta dasi putih yang diikat longgar di leher.

Keempat petugas yang menodongkan senjata itu berspekulasi bahwa orang yang menyerang itu adalah Boneka Pembunuh yang menghilang 3 tahun lalu. Dan saat bagian kepala terlihat, mereka berempat benar-benar yakin bahwa penyerangnya adalah Boneka Pembunuh yang sudah sangat dikenal di Negara Inesia.

Salah satu petugas segera masuk ke mobil dan menyalakan radio. Dia ingin memberitahukan bahwa mereka diserang oleh Boneka Pembunuh. Namun sebelum petugas itu mengucapkan satu kata, Quin telah berdiri di kap mobilnya. Tangannya perlahan diturunkan dan saat menyentuh kap mobil. Mobil itu meledak beserta empat petugas yang terbakar.

Empat pengawal yang tadi mengeluarkan pedang, sudah berdiri di depan mobilnya.

"Kau melihat musuh kita?" tanya wanita yang memakai baju merah.

"Aku rasa Boneka Pembunuh yang menghilang tiga tahun lalu," jawab rekannya, pria yang berwajah dingin yang memegang katana dengan kedua tangan.

Wanita berbaju kuning yang berdiri di sampingnya membenturkan ujung katana ke aspal. "Kalau kita berhasil memenggal kepalanya, berapa uang yang kita dapat?"

"Banyak sekali," jawab pria yang satu lagi. Tubuhnya lebih besar dari pria satunya. "Itu dia tambang emas kita," katanya seraya menunjuk Quin yang berjalan mendekat dengan ujung katanya. Dia melirik ke arah pria berwajah dingin itu, lalu mengangguk. Setelahnya, kedua pria itu berlari menyerang Quin.

Kedua pria tadi menyerang Quin secara simultan, namun karena Quin memiliki kecepatan di atas kedua pria itu, dia dapat menghindarinya dengan mudah dan berdiri di belakang mereka tanpa terluka.

Pria yang berwajah dingin segera berbalik dan mengayunkan katana ke arah Quin. Quin menghindar dengan menunduk seraya mengeluarkan Yury dan berbalik untuk menyerang, tetapi pria yang bertubuh besar juga mengayunkan katanya. Terpaksa Quin menggunakan Yury untuk menahan serangan pria bertubuh besar itu. Saat kedua pedang itu berada dan menciptakan suara, pria bermuka dingin sudah kembali mengayunkan katana ke arah tubuh Quin yang tak terlindungi Yury. Terpaksa Quin harus meloncat mundur untuk menghindari serangan itu.

Celakanya, saat Quin meloncat ke belakang untuk menghindari serangan. Tanpa disangka dua wanita rekan kedua pria yang menyerangnya sudah berada di belakangannya. Sehingga saat tubuh Quin masih berada di udara, kedua katana wanita itu dengan mudah menembus punggung Quin.

Perlahan tubuh Quin yang tertusuk pedang mulai mengeluarkan asap hitam. Kemuda asap itu menyebar ke selurah tubuh Quin hingga semuanya menjadi asap dan hilang di udara.

Wanita yang memakai baju merah tercengang. "I-ini adalah Kalangkang. Kemampuan khusus yang hanya dimiliki Klan Irastrawirya."

"Masa bodoh dengan klan kriminal itu, yang penting kita harus membunuh penyerang ini sebelum dia pergi ke mobil presiden," kata pria yang tubuhnya besar. Matanya liar mencari keberadaan Quin.

Tak perlu waktu banyak karena dia langsung menemukan Quin berdiri di depan mobil mereka dan Yury sudah kembali ke bentuk semula. Pria besar tadi kembali melirik rekan prianya dan mengangguk. Kemudian mereka berdua berlari ke arah Quin yang sedang berjalan ke arah mereka.

Quin masih berjalan santai dan saat kedua pria itu semakin mendekat ke arahnya. Dia merentangkan tangan kirinya dan sebuah bayangan hitam tiba-tiba bergulung di pergelangan tangannya. Bayangan hitam itu menghilangkan gelang hitam di tangannyanya dan memunculkan Yury kembali.

Saat kedua penyerangnya berada lima meter di depannya. Bilah tajam Yury mengeluarkan sinar-sinar listrik dan dengan secepat kilat Quin sudah melewati kedua pria tadi dengan tubuh terpotong-potong dan dalam keadaan gosong.

Kedua wanita yang masih berdiri di tempatnya melihat kedua rekannya mati dengan sangat mudah dan mengenaskan. Kaki keduanya bergetar saat melihat pembunuh itu berjalan ke arahnya.

Wanita yang berbaju kuning langsung berlari ke depan untuk menyerang Quin dan seperti tadi. Quin melewatinya dengan mudah dan menyisakan potongan tubuh wanita itu dalam keadaan kosong.

Ketika Quin berada di depan wanita berbaju merah yang masih terpaku. Dia menghilangkan tarian cahaya listrik di tubuh Yury. Lalu pedang itu berubah menjadi bayangan hitam yang berputar di tangannya dan berakhir di pergelangan tangan. Kemudian bayangan itu memadat menjadi gelang hitam.

"Kau terlalu banyak membunuh dengan alasan salah," kata Quin seraya mengambil katana wanita berbaju merah yang masih terpaku itu. Dan menusukkannya ke pemiliknya.

Wanita berbaju merah itu jatuh dan meninggal dengan katananya sendiri.

Setelah itu, dari tubuh Quin terlihat asap hitam yang pekat dan perlahan asap itu lepas dari tubuhnya dan membentuk dirinya. Bayangan itu kemudian berlari ke arah mobil hitam yang ditumpangi keempat orang tadi. Ketika bayangan itu menyentuh kapnya. Mobil itu meledak.

Quin berbalik dan melangkah mendekati mobil yang terbakar itu. Namun ketika sudah mencapai lima langkah, dia berhenti. Tiga detik kemudian mobil yang terbakar itu terbelah menjadi dua dan terhempas ke masing-masing sisi jalan.

Di belakang bekas keberadaan mobil tadi, berdiri seorang pria dengan otot besar dan katana yang terlihat sudah diayunkan ke depan. Pria itu tersenyum lalu kembali mengayunkan katanya ke depan. Dari jalur ayunan katana itu muncul angin transparan dan menuju ke arah Quin.

Quin menghindar ke samping dan angin putih itu terus melaju hingga menebas mobil yang terbakar milik empat petugas bersenjata tadi dan membelahnya jadi dua. Lalu pria dengan otot besar itu menyerang lagi. Kali ini dia dengan membabi buta mengayunkan pedangnya di udara, sehingga beberapa angin transparan tadi kembali mengincar Quin. Dan pria itu terus melakukannya seraya berjalan mendekati Quin.

Quin menghindari angin transparan itu dengan kecepatannya, meski begitu ada beberapa yang berhasil merobek bajunya, juga menyayat kulitnya.

Saat pria itu berhenti, Quin segera berlari ke arahnya seraya mengeluarkan Yury dengan tarian listrik. Pria itu berhasil menangkis serangan Quin dengan katananya, namun dia terpental beberapa langkah ke belakang karena terkejut oleh sengatan listrik.

Quin meloncat mundur dan melihat ke arah mobil yang berada sedikit jauh di belakang pria berotot itu. Di samping mobil itu berdiri tiga orang yang tak diragukan lagi sebagai pengawal presiden.

Tanpa disangka, Presiden Inesia yang baru, target Quin, muncul dari mobil dibelakang mobil tiga pengawal itu. Di sisi lain mobil, muncul seseorang dengan rambut beruban dengan tubuh yang kekar dan wajah yang tegas membingkai matanya yang tajam. Benteng terakhir dan terkuat yang harus dikalahkan oleh Quin sebelum bisa menyentuh Presiden.

Pria berotot itu bangkit dan langsung menyerang Quin. Satu ayunan katanya berhasil Quin hindari, namun ayunan kedua Quin harus menggunakan Yury sebagai perlindungan. Saat katananya dihentikan oleh Yury, tangan kirinya secara cepat ditarik kebelakangan dan satu tinju dilayangkan ke tubuh Quin yang tak terlindungi.

Quin cepat menghindar namun tinju itu bukan tinju biasa. Ada angin yang menyertainya hingga jangkaunya lebih lebar. Quin menggunakan tangan kanannya sebagai temeng dan dia terpental cukup jauh setelah menerima serangan itu. Tubuhnya berguling-guling di aspal sebelum berhenti di tepian jalan.

Dengan tangan kirinya dan Yury yang masih tergenggam, dia bangkit. Tangan kanannya yang tadi dipakai sebagai perlindungan, sudah tak terbentuk lagi. Dari siku hingga jari hanya menyisakan daging berwarna merah dan di beberapa tempat tulangnya terlihat. Bahkan dua jari di tangan itu sudah tak ada lagi.

Pria berotot yang melihat itu mengerutkan kening. "Tubuhmu lemah sekali boneka," katanya lalu berlari untung menyerang Quin lagi.

Quin segera berlari ke arah pepohonan di sampingnya.

Pria berotot itu berhenti dan tersenyum mengejek. "Apakah Boneka Pembunuhan kabur dalam pertarungannya?"

Pria berotot itu melihat ke arah rekan-rekannya sebelum mengejar Quin yang lari ke hutan. Setelah cukup dalam memasuki hutan. Pria berotot itu berhenti, dia melihat Quin berdiri memunggunginya beberapa meter depannya.

Quin menancapkan pedangnya ke tanah dan menolehkan kepalanya ke belakang.

Pria berotot itu langsung geram. Gaya itu meremehkan dirinya. Dengan kemarahan yang meluap, pria berotot itu mengayunkan katananya ke udara dan menciptakan angin transparan menuju Quin. Setelah dirasa cukup, dia berlari di belakang angin transparan itu.

Pria berotot itu merasa heran karena musuhnya masih diam saat angin transparan miliknya hampir menyentuh tubuh Quin. Saat angin pertama menyayat tubuh Quin jadi dua, angin berikutnya terus mencincang Quin hingga akhirnya pria berotot itu mencapai Quin dan menebaskan katananya ke arah leher musuhnya.

Tubuh Quin terbelah menjadi beberapa bagian, termasuk lehernya yang lepas dari tubuhnya. Namun potongan tubuh itu masih melayang di udara dan muncul asap hitam dari setiap potongan itu. Asap itu menyebar hingga tubuh Quin berubah jadi asap hitam seutuhnya dan menghilang di udara.

Dalam keterkejutan. Pria berotot itu tidak menyadari saat benang-benang halus mengarah padanya dan mencengkeram tubuhnya dari kaki sampai kepala.

"Berengsek!" Umpatnya seraya meronta, mencoba melepaskan tubuhnya dari lilitan benang itu. Namun benang-benang yang sangat kuat itu semakin melilitnya. "Kau pikir, kau bisa menghentikanku dengan cara ini?"

Pria berotot itu berteriak dan secara bersamaan benang-benang yang melilit tubuhnya terputus. Dirinya kembali bebas. Tetapi belum satu detik berlalu, sebuah sinar putih menembus tubuhnya. Tepat mengenai jantungnya.

Pria berotot itu mencoba memegang sinar yang menembus tubuhnya. Namun jarinya segera rontok, terpotong setelah mengenai sinar putih itu. Perlahan tubuhnya jatuh dan sinar itu bergerak ke arah bahunya. Setelah sinar itu berhasil melewati bahunya, dia terjatuh ke tanah dan sudah tak bernyawa lagi.

Sinar putih itu tiba-tiba semakin memudar dan perlahan menghilang di ujung pedang Quin yang berdiri lima meter dibelakang pria berotot itu. Setelah itu Yury kembali ke bentuk gelang dan dengan tangan kirinya yang bebas, dia mengambil seutas benar dari pinggangnya dan melilitkan benang itu di tengah lengan kanannya. Lalu menghentaknya dengan keras hingga tangan yang terluka itu lepas dari tubuhnya. Darah segar bercucuran dari luka baru itu.

Quin kembali mengeluarkan Yury dan mengalirkan listrik pada pedang itu. Lalu menempelkannya pada luka di lengannya. Perlahan, luka bekas dipotong dengan benang itu mengering dan darah berhenti mengalir.

Setelah itu dia melepas dasi putihnya beserta jas hitam yang sudah tak berbentuk lagi itu. Lalu berlari ke arah jalan.

Quin muncul dari balik pepohonan dan kembali berjalan di tengah aspal menuju ke arah presiden. Dia mengembalikan Yury ke bentuk gelang dan berjalan santai seperti tak terjadi apa-apa pada lengan kanannya yang buntung.

Pengawal yang memegang dua pedang pendek di masing-masing tangannya berjalan maju. Siap bertarung dengan Quin, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Di depannya sudah berdiri pria beruban yang satu mobil dengan presiden. Pria beruban itu mengucapkan sesuatu. Setelah itu pengawal dengan dua pedang tadi mundur ke belakang.

Quin masih melangkah maju, begitu juga pria beruban itu. Jarak lima meter, keduanya berhenti dan saling menatap.

Pria beruban itu berusaha melihat mata Quin, karena itu satu-satunya yang tak tertutup oleh topeng. Namun Quin memalingkan muka ke samping, membuat pria beruban itu tidak bisa melihatnya.

"Siapa namamu, nak?" Tanya pria beruban itu.

"Quin Sigra El-Fathin," jawab Quin tanpa keraguan.

"Apa nama itu pemberian orangtuamu?"

Quin dari Bibiku, Sigra dari Ibuku, dan El-Fathin dari diriku sendiri. "Quin dari Ibuku, Sigra dari Bibiku dan El-Fathin dari ayahku."

"Apa ayahmu Fathin Yodha yang memperjuangkan rakyat miskin itu?"

Quin bergeming. Tak ada yang bisa membaca ekspresi wajahnya karena dia memakai topeng.

"Kau tahu, berkat ulahmu nama Fathin Yodha tercemar. Ada gosip mengatakan bahwa setelah dirinya meninggal, dia mengendalikan jasadnya dari akhirat dan menggunakannya untuk membunuh penjahat. Padahal orang yang melakukan pembunuhan itu hanyalah anak labil yang menyalahgunakan kekuatan yang dimilikinya."

"Fathin Yodha dibunuh, bukan meninggal secara wajar."

"Itu hanya spekulasi tak berdasar."

"Tapi kau percaya itu, kan?"

Pria beruban itu terdiam. Dia mulai berpikir bahwa Boneka Pembunuhan di hadapannya bisa membaca pikiran orang.

"Kau merasa ganjil dengan kematian Fathin Yodha, tapi tak ada petunjuk sama sekali yang mengarah pada pembunuhan."

Quin mengeluarkan Yury, lalu melemparnya ke arah pria beruban itu. Setelah ditangkap, Quin mulai bicara. "Namamu adalah Bhantra Zahralas, mantan panglima tertinggi yang pensiun dua puluh tahun lalu dan menghilang setelah itu. Kau memutuskan hubungan dengan anak bungsumu karena dia menikahi klan kriminal, lalu menikahkan anak sulungmu dengan murid pertama dan yang paling kau sayang, Fathin Yodha."

Bhantra menggenggam erat gagang Yury, dengan kecepatannya kilat dia menusuk dada Quin dengan pedang itu.

Quin mundur ke belakang. "Kau pasti mengenali pedang ini sebagai Yury," ujarnya seraya menarik pedang yang menusuk dadanya. "Pedang yang tak akan melukai orang yang telah dipilih olehnya. Dan kau pun pasti sudah mengetahui bahwa hanya Fathin Yodha yang dipilih oleh Yury."

Setelah pedang itu lepas, dada Quin yang tadi tertusuk tak ada bekas darah atau pun luka. "Kau bisa menjelaskan kenapa Yury tidak bisa melukai tubuhku?" Quin mengarahkan ujung pedangnya ke arah Bhantra. "Hanya satu, yaitu tubuh ini adalah milik Fathin Yodha!"

Setelah Quin meneriakkan kalimat itu, dia menguatkan genggamannya pada Yury dan berlari untung menyerang. Namun Bhantra tetap berdiri diam di tempatnya, baru saat Quin mengayunkan pedangnya untuk menebas, Bhantra bereaksi. Cincin emas di jari kanan Bhantra langsung berubah menjadi sebuah pedang dan menghentikan serangan Quin.

Quin meloncat mundur. Lalu mengalirkan listrik pada tubuh Yury dan menyerang lagi dengan kecepatan luar biasa. Namun lagi-lagi, Bhantra tetap berdiri tenang di tempatnya. Satu sabetan Yury dengan listrik yang mengalir di tubuhnya dengan mudah dihadang pedang Bhantra. Karena serangannya dapat ditahan, Quin mundur dan kembali menyerang.

Pengawal yang dihentikan oleh Bhantra tadi hanya melihat atasan berdiri dengan pedang yang berubah-ubah setiap waktu. Dia juga beberapa kali melihat Quin berdiri dengan kuda-kuda menyerang dan itu hanya sekejap, seperti kelebat bayangan dan mengelilingi tubuh atasannya. Dengan suara pedang beradu tanpa henti, tanpa jeda bagaikan nada abadi, dia dapat mengira-ngira apa yang terjadi di depannya.

Setelah hampir tiga menit tidak bisa menembus pertahanan Bhantra, Quin mundur ke belakang. Tarian listrik di tubuh Yury perlahan-lahan mengecil dan hilang.

"Kau memiliki kecepatan setara klan Zahralas. Siapa kau sebenarnya?" Tanya Bhantra dengan tenang, namun telapak tangannya yang memegang pedang, terlihat terbakar dan berasap.

"Di depan sudah aku jawab pertanyaan itu."

"Kau pikir aku percaya? Meski Fathin bisa mengendalikan jasadnya dari akherat, dia tidak akan menggunakannya untuk membunuh. Dan Fathin muridku, tidak pernah mampu mencapai kecepatan klan Zahralas."

"Dasar tua bangka, kau sudah terlalu tua untuk berpikir rupanya. Jika kau ingin tahu," Quin berbicara dengan nada pongah seraya menunjuk topengnya dengan ibu jari, "hancurkan topeng ini."

Bhantra diam tanpa ekspresi, hanya tangannya yang bergerak melepaskan jasnya. Saat jas di tangannya terlepas dan menyentuh aspal. Tubuhnya telah menghilang dari pandangan. Suara pedang beradu pun kembali terdengar, lebih keras dari tadi.

Ketika Bhantra terlihat berdiri di tempat Quin tadi berdiri, ada tubuh yang terpental ke udara dan berguling-guling di aspal sebelum berhenti di tepi jalan. Dan itu adalah Quin.

Tubuh Quin tergeletak menghadap matahari. Sebelum dia sempat berdiri, bayangan gelap menghalangi sinar matahari itu. Quin cepat menghindar dan ledakan dahsyat terjadi.

Lubang besar tercipta dari ledakan itu dan saat asapnya perlahan hilang terbawa angin, tubuh Bhantra dengan pedangnya berdiri di tengah lubang itu.

Quin berdiri di depan salah satu pohon dan kaki kirinya sudah tak ada lagi. Darah segar mengalir deras dari bagian kaki kirinya yang terluka. Seperti yang pernah dilakukannya, Quin menggunakan Yury yang dialiri listrik untuk menghentikan darah itu. Setelah itu dia memeriksa topengnya. Bagian pipi kanan yang bercorak 9 bintang sudah tak ada lagi. Sekarang pipi putih mulusnya terlihat dengan jelas dan itu sama sekali berbeda dengan pipi Fathin Yodha yang penuh bulu.

Bhantra yang melihat itu hanya tersenyum, lalu naik dari lubangnya dan berdiri di tengah jalan. Sementara itu Quin telah mengembalikan Yury ke bentuk gelang dan mengambil paku serta benang dari pinggangnya. Paku-paku yang sudah terlilit benang itu kemudian di lempar ke arah pepohonan di belakang Bhantra.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Bhantra, tetapi Quin tidak menjawabnya.

Setelah paku-paku itu menancap kuat dan benangnya kencang. Dengan satu tangan kirinya yang masih dimiliki Quin, dia menarik cepat benang-benang itu.

Secara bersamaan, benang-benang yang berada di kanan-kiri Bhantra mendekat cepat ke arahnya. Bhantra menggunakan pedangnya itu memotong benang-benang itu sebelum sampai ke tubuhnya. Saat dia sibuk melakukan hal itu, sebuah sinar putih menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung Bhantra dapat menghindar dari sinar itu dengan melompat ke kiri. Untung itu, dia harus merelakan kedua kakinya dijerat benang-benang Quin. Sebelum dia sempat memotong benang di kakinya, benang-benang yang lain masih mengincar tubuh atasnya. Terpaksa Bhantra membiarkan benang di kakinya dan kembali fokus memotong benah yang mengincarnya.

Quin yang berdiri dengan satu kaki di samping pepohonan masih terus menarik-narik benangnya. Saat semua benang telah ditarik dan terus mengincar musuhnya. Dia meloncat bersama Yury yang kembali menari dengan cahaya listrik.

"Percuma," kata Bhantra yang melihat serangan Quin itu. Setelah pria beruban itu memotong benang terakhir yang mengincarnya, Quin telah mengayunkan pedang ke arahnya.

Secepat kilat Bhantra menempatkan pedangnya untuk menghentikan tebasan Quin. Namun sebelum itu terjadi, benang di kakinya menariknya ke depan sehingga tubuhnya goyah ke belakang. Posisi pedangnya pun ikut berubah dan tak lagi berada di jalur tebasan Quin.

Dalam waktu kurang dari satu detik, sebuah pedang telah menembus baju, kulit, daging, bahkan tulang seseorang. Bilah tajam pedang itu menyesap darah segar dan melayangkan sebuah nyawa.

Dalam keheningan, wajah Bhantra melukiskan keheranan bercampur kekagetan. Sementara itu topeng putih Quin perlahan retak dan terbelah jadi dua sebelum kemudian jatuh ke aspal. Menyebabkan wajah cantiknya disiram sinar matahari.

Pedang di tangan kanan Bhantra masih berada di atas kepalanya karena tarikan benang tadi, sementara pedang Quin terjatuh hampir bersamaan dengan topengnya. Satu pedang lagi, yang tiba-tiba berada di tangan kiri Bhantra, menusuk dada Quin hingga tembus ke punggung.

Jemari Quin yang sedikit terciprat darah, berusaha menyentuh pipi Bhantra. Dari mulutnya yang merah beserta darah, mengalir kata-kata pilu.

"Ka-kakek...," matanya yang indah, mulai basah oleh air mata, "apakah... aku salah untuk... membunuh orang yang... te-telah membunuh a-ayahku?"

Bhantra terperangah. Kata-kata yang didengarnya, wajah muda di depannya yang mengingatkannya pada kedua anak gadisnya, pedang Yury yang tidak bisa melukai pemilik yang terpilih, semua itu terus berpacu dalam kepalanya dan hanya menuju pada satu kenyataan yang menyedihkan.

Tubuh Quin yang lemas, perlahan jatuh. Pedang yang menusuk dadanya tiba-tiba berubah menjadi bayangan merah dan berubah menjadi cincin di jari kiri Bhantra. Begitu juga pedang yang berada di tangan kirinya.

Waktu seperti lambat sekali bagi Bhantra saat melihat Quin jatuh ke aspal. Kelebat bayangan saat putri sulungnya menikah dengan Fathin Yodha berputar-putar di kepalanya. Setelah melihat anak kesayangannya dan murid kebanggaannya tersenyum bahagia di pelaminan, dirinya mulai menarik diri dan bersembunyi dari dunia. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, dia berniat akan menemui mereka kembali. Pasti saat itu cucu-cucunya sudah besar dan akan memanggilnya dengan kakek. Impian terakhir Bhantra sebelum bertemu istrinya di surga.

Saat Bhantra masih berdiri terpaku dengan air mata yang memenuhi pelupuk matanya, Presiden Inesia sudah berdiri di sampingnya beserta para pengawal.

Presiden itu mengambil Yury yang tergeletak di aspal dan menggunakan untuk memotong leher Quin. Namun seberapa keras dia berusaha, dia tidak bisa melukai tubuh Quin. Dengan frustasi dia membuang Yury ke samping kaki Bhantra. Lalu mengambil pedang dari pengawal dibelakangnya. Sekarang dengan dua kali percobaannya, kepala Quin sudah lepas dari tubuhnya.

"Inikah kepala Boneka Pembunuh itu?" tanya presiden itu setelah mengambil kepala Quin dari tanah dengan senyum meremehkan. "Apakah dia perempuan?" Dia menggunakan ujung pedang di tangannya untuk membuka baju Quin dan menemukan dada yang rata. "Dia banci."

"Bukan," kata Bhantra yang sudah bisa kembali bersuara, meski suaranya kaku dan matanya masih terpaku pada tubuh Quin. "Dia anak Fathin Yodha."

"Oh, orang itu." Dari kalimatnya, bisa dipastikan presiden itu tidak mengetahui hubungan kepala pengawalnya dengan Fathin Yodha. Dengan santai dia berjalan melewati pengawalnya untuk kembali ke mobilnya. "Tak kusangka, ayah dan anak sama-sama mati di depan mataku."

Para pengawal seketika berhenti karena mereka merasakan kelebat angin dari arah belakang. Saat menyadari apa itu, semua sudah terlambat. Bhantra sudah berdiri di depan mereka, di belakang tubuh presiden yang perlahan jatuh ke tanah. Di tubuh orang yang harus mereka lindungi, sudah tertanam pedang dengan gagang berbentuk pipih. Yury.

"Aku telah membunuh presiden," ujar Bhantra dengan nada kaku. "Jika kalian ingin menangkapku, atau bahkan membunuhku, silahkan saja. Aku tidak akan melawan."

Semua pengawal diam karena masih terkejut. Kemudian salah satu pengawal mengucapkan satu kata yang membuat lainnya mengikutinya.

"Kudeta!"

Di atas, Quin tersenyum. Rencananya berhasil dengan baik. Dia tahu bahwa dirinya tak mungkin bisa membunuh orang yang telah membunuh suami Bibinya itu tanpa melawan beberapa pengawal, juga mantan panglima militer tertinggi yang tak mungkin bisa dikalahkannya. Untuk itu dia membuat skenario sederhana, berpura-pura menjadi anak dari Frika Zahralas anak kesayangan jenderal itu dan Fathin Yodha murid kebanggaannya.

Dengan status dirinya yang adalah anak dari Frila Zahralas, lalu diasuh oleh Frika Zahralas istri Fathin Yodha, ditambah perbuatannya yang melahirkan enigma Boneka Pembunuh, sangat mudah bagi Quin untuk mengelabui Bhantra dan membuat kakeknya itu membunuh Presiden Inesia untuk dirinya.

Di tengah keberhasilannya, Quin merasakan sesuatu di belakangnya. Dengan cepat dia berbalik dan menemukan makhluk tinggi besar dengan sayap berwarna hitam. Makhluk itu berkulit merah dengan garis-garis hitam berpola aneh di tubuh. Mata hitam dengan kornea putih memancarkan sesuatu yang sangat dikenal oleh Quin.

Makhluk itu menginginkan dirinya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ilhammulia
ilhammulia at Membunuh Presiden (3 years 29 weeks ago)
80

njir,ketipu ane.padahal tadi udah ampe nangis juga bacanya

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Membunuh Presiden (4 years 33 weeks ago)
2550

Banyak istilah yang agak bikin bingung di awal, saia punya beberapa pertanyaan:
1."sebuah bayangan hitam tiba-tiba bergulung di pergelangan tangannya. Bayangan hitam itu menghilangkan gelang hitam di tangannyanya dan memunculkan Yury kembali." saia bingung kok tiba-tiba muncul gelang hitam, itu darimana?
2.Saia masih bingung dengan wujud Yury itu kayak apa. Apakah dy semacam shield atau asap yang bisa berubah-ubah bentuk sesuai dengan keinginan si pengguna?

Ceritany keren, aksiny juga kece, saia jadi minder karena engga bisa bikin scene pertarungan sedetil ini. Apakah cerita ini mau dilanjutin lagi?

Writer Black Angel
Black Angel at Membunuh Presiden (5 years 29 weeks ago)
90

Bo-Boneka trap mengerikan OAO"

Writer marowati
marowati at Membunuh Presiden (5 years 30 weeks ago)
80

Boneka pembunuh yang tangguh. (^_^)b

Writer ampas
ampas at Membunuh Presiden (5 years 30 weeks ago)
90

Panjangnya.. Hehehe, bagus tetapi saya suka bagian akhirnya. Saran sedikit buat OC-nya, hehe, di cerita yang sudah bagus ini, bagian akhirnya bagus, tetapi sayang bagian depannya kurang gereget. Mungkin bisa dibuat gereget di depannya?

Writer ahde safir
ahde safir at Membunuh Presiden (5 years 30 weeks ago)
80

dari judulnya gue kira tokoh antagonisnya ialah teroris atau penjahat lainnya. tapi kemudian aku baca bahwa genrenya fantasi, anda berhasil menjebakku. cerita fantasi namun dengan latar yang seperti kehidupan nyata. "boneka pembunuh" itu cuma ungkapan untuk Quin ?

Writer madingpost
madingpost at Membunuh Presiden (5 years 30 weeks ago)
80

Dari judulnya aja udah bikinkebelet pengen baca