Dia Kirana, Gadisku (2)

 

.2.

Aku minep di rumah Beni, terpaksa. Sudah 3 bulan aku tak bayar uang kost. Ibu kost yang ‘maaf’ gendut itu tadi pagi datang ke kamar, menggedor pintu kamar sampai mau roboh. Aku yang tidur sudah pasti kaget, sarungku yang agak melorot kunaikkan dan menggulung ujung atasnya di pinggang. Hendak marah tapi melihat siapa yang kini berdiri di depanku, aku malah menelan ludah. Ini kedatangannya yang ketiga kali, aku pasti diusir.

Benar saja, aku diusir setelah Bu Kenes menumpahkan kekesalannya di depanku karena tak bayar kost selama tiga bulan. Bahkan air liurnya sampai muncrat di wajahku karena ia terlalu dekat bicaranya. Bu Kenes sampai melempar celana dalamku yang entah sudah berapa lama belum dicuci, juga beberapa lembar pakaian yang memang hanya itu milikku. Ah, aku agak kesal sama Bu Kenes yang juga melempar beberapa buah buku milikku. Itu pelanggaran.

Wajahku muram sepanjang hari itu, kuputuskan ke rumah Beni karena hanya dia yang mau menampungku. Hanya dia juga sahabat yang kupunyai. Kali ini aku merasa sangat berhutang padanya.

“Akhirnya Bu Kenes mengusir kau juga Jan. Hahaha...” Tawa Beni berderai di kamar yang tak seberapa luas itu. Nampak puas.

“Iyah, setelah 3 bulan tidur gratis di kamar kostnya.” Jawabku senyum meringis.

“Kau mau kerja?” Beni tanya.

“Maulah, kondisi sudah seperti ini masa mau bermalas-malasan lagi. Dimana?”

“Di penyewaan kaset, toko itu milik kawanku. Dia butuh pegawai, pegawainya minggat katanya.”

“Kebetulan sekali, aku juga habis diusir. Hahaha... bolehlah. Kapan kita ke sana?”

“Besok pagi.”

Karena diusir, aku merasa ada baiknya juga. Kalau tidak diusir Bu Kenes mana bisa aku ditawarkan Beni sebuah pekerjaan. Jadi bisa kusimpulkan, di balik sebuah kemalangan selalu ada kesenangan yang menunggu. Ah aku senang sekali malam itu, akhirnya aku tidur nyenyak di kasur Beni.

***

Ternyata toko yang dimaksud Beni terletak di sebuah gang di dalam gang, jadi di gang itu ada gang lagi dan gang itu sangatlah sepi dan jauh. Aku jadi berpikir, toko macam apa yang letaknya sejauh ini. Memang ada gitu pembeli yang mampir? Aku nyaman saja di boncengan Beni, kudengar Beni sedang melantunkan sebuah lagu. Beni ternyata suka dangdut. Aku juga kadang-kadang.

Akhirnya mesin motor dimatikan oleh Beni, berhenti di sebuah ruko. Aku tak melihat adanya tanda-tanda toko di sana, tapi aku ikut saja langkah Beni. Beni menggedor sebuah pintu dan muncullah seseorang dengan badan gempal dari pintu yang terkuak itu. Tak hanya gempal, rambutnya kusut masai, matanya merah dan wajahnya juga merah merona. Seperti habis... ah sudahlah, lupakan saja apa yang sedang kupikirkan kala itu.

Aku dan Beni masuk.

“Bos, ini temanku Januar. Dia ingin bekerja padamu.”

“Baiklah. Hari ini juga dia mulai bekerja, ayo ku antar ke tempat kerjamu.”

Aku bahkan belum tahu namanya, sudah langsung diajak pergi lagi. Tapi aku senang karena aku langsung diterima tanpa ada embel-embel syarat ini dan itu. Tak perlu ijazah, KTP, dan lain-lain. Mudah sekali bukan?

Sampailah aku di sebuah toko yang sekiranya membuat aku tercengang.

“Ini tokonya, kamu bisa bekerja mulai sekarang. Itu meja kerjamu, sekaligus meja kasir. Bekerjalah yang benar, gajimu tiga ratus ribu sebulannya.”

Bapak gempal itu menjelaskan dengan cepat, seperti Bu Kenes, bapak satu ini juga muncrat bukan main.

“Mm---

“Jangan banyak tanya, mulailah bekerja.”

Belum sempat aku mengatakan apa-apa, bapak itu sudah main pergi saja. Beni juga ikut-ikutan dungu dan malah meninggalkanku sendirian di toko ini.

“Ya Tuhan...! Benarkah aku bekerja di toko seperti ini? Memang sepintas seperti tak ada yang salah, tapi aku merasa sangat tidak enak. Perasaanku benar-benar tidak enak.” Setengah stress aku mengatakan semua itu.

Aku duduk di meja kasir, sejak lima belas menit lalu aku duduk di sini, belum ada tanda-tanda pembeli yang datang. Bosan.

Aku tak berani menduga soal ini dan tak membayangkan bahwa setengah jam kemudian tepat pukul sepuluh pagi, ada beberapa orang yang mampir ke toko ini. Mula-mula hanya satu dua orang, lalu datang lagi, lagi dan lagi. Aku sampai bertanya dalam hati, dari mana mereka mengetahui toko ini? Letaknya saja terpencil dan sangat jauh dari keramaian. Sudah kuperkirakan, bahwa ini berkat promosi dari mulut ke mulut.

Aku sedikit kikuk menghadapi pelanggan, ini hari pertamaku bekerja dan tempat kerjanya juga luar biasa mendebarkan. Aku sampai keringat dingin dibuatnya. Orang-orang yang datang membeli terkadang cengengesan sendiri atau bahkan ada yang setelah membayar langsung melipir pergi lalu hilang di ujung lorong. Kalau itu sudah kupastikan, orangnya pasti tidak tahan lagi. Haha. Aku ketawa dalam hati.

“Mas tolong bungkus yang ini, ini juga dan ini. Jadi tiga ya.” Seorang pembeli sedang menyuruhku.

“Baik mas. Ada lagi?”

“Orang baru ya? Kaku gitu.”

“Iya mas.”

“O pantas. Ya sudah jadi berapa semuanya?

“Seratus ribu pas.”

Akhirnya toko kembali sepi dan hanya ada aku di sini. Kudekati sebuah etalase yang mempertontonkan pemandangan erotis. Aku menarik nafas dalam-dalam memikirkan semua ini, memikirkan kenapa aku sampai mau bekerja di toko seperti ini. Tak menduga sebelumnya. Kalau toko tempatku bekerja ini adalah toko penyewaan kaset ‘maaf’ porno. Apa yang harus kulakukan?

Lama sekali aku berpikir, sampai tak sadar kalau Bapak Gempal pemilik toko itu kini sedang melotot ke arahku.

“Kau kenapa?”

“Eh Bapak, maaf pak aku cuma istirahat sebentar.”

“Panggil Pak Jalil. Januar kau bekerja dari jam sembilan pagi sampai lima sore. Kau keberatan?”

“Aku minta berhenti pak.”

“Apa?”

“Aku minta berhenti saja.”

“Berani sekali kau.”

“Sudah kupikirkan dan aku sebaiknya berhenti.”

“Ya sudah pergi sanah!” Pak Jalil membentakku dengan suara keras tapi agak sengau. Bayangkan saja bunyinya.

Aku putuskan berhenti, aku memang pengecut. Pekerjaan begitu saja tak bisa kuhadapi, tapi apa mau dikata aku tak nyaman bekerja di tempat seperti itu. Aku harus buat perhitungan dengan Beni.

Sorenya di kampus.

“Woi Beni...!” Kupanggil Beni yang sedang berkumpul dengan beberapa kawannya.

“Hei bro, bukannya kau kerja?”

“Ah sial kau Ben, masa nyuruh aku kerja di tempat begituan.”

“Haha... Jan, Jan! Memangnya kenapa?”

“Pakai tanya lagi. Ya kenapa-kenapa lah.”

“Ah kau ini memang belum sunat? Payah kau Jan.”

“Biarinlah, tak usah lagi tawarkan pekerjaan seperti itu.” Menatap kesal ke arah Beni.

“Nih!” Beni menawarkan aku sebatang rokok.

Rokok itu kubakar lalu kuhisap dalam-dalam. Rokok memang sangat nikmat, apalagi di tengah pikiran sedang kacau begini. Andai saja ada Kirana. Khayalanku melambung tinggi. Memikirkan Kirana.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 13 weeks ago)
70

keketawaan bacanya. lucu si januar ini ya tipe cowok slengean tapi "sopan" juga. mana kelanjutannya dong?

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 13 weeks ago)

hehee alhamdulillah jika bisa ketawa, mohon kritikannya yah. lanjutannya pasti dipost.

Writer ansitorini
ansitorini at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 14 weeks ago)
90

keren sekali kak. btw pas Januar di ajak ke toko yang berada di gang sebuah gang -entah berapa gang yang harus dilalui untuk menuju gang itu hehe- udah mulai bisa ditebak kalau destinasi pekerjaannya 'yang begitu'. nine star nih :D

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 13 weeks ago)

wkwkwkkw ketemu juga akhirnya yak. xixiixi makasih poinnya. mohon kritikannya.

Writer Agyasaziya
Agyasaziya at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 23 weeks ago)
50

Hmm..minep itu maksudnya menginap?

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 23 weeks ago)

ah iya hehhee :)

Writer citapraaa
citapraaa at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 25 weeks ago)
80

kasihan Januar..

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (2) (5 years 25 weeks ago)

wkwkwk makasih sudah mampir di mari